Abdominal Compartment Syndrome

dokumen-dokumen yang mirip
Abdominal Compartment Syndrome

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. multiorgan, ini disebut septic shock. Sepsis merupakan SIRS (Systemic. tempat infeksi, maka ini disebut dengan sepsis berat.

BAB I PENDAHULUAN. Sepsis didefinisikan sebagai adanya infeksi bersama dengan manifestasi

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN. Setiawan, S.Kp., MNS

PENDAHULUAN ETIOLOGI EPIDEMIOLOGI

Rescucitation in Trauma Patient REZA WIDIANTO SUDJUD,DR.,SPAN.,KAKV.,KIC.,M.KES

BAB I PENDAHULUAN. tubuh yang berlebihan terhadap infeksi. Sepsis sering terjadi di rumah sakit

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya komplikasi yang lebih berbahaya. diakibatkan oleh sepsis > jiwa pertahun. Hal ini tentu menjadi

EARLY DETECTION AND TREATMENT OF SEPSIS. dr. Eko Setijanto, Sp.An,KIC Intensive Care Unit, DR Moewardi Hospital

Profesi _Keperawatan Medikal Bedah_cempaka

BAB 2. TINJAUAN KEPUSTAKAAN. ALI/ARDS adalah suatu keadaan yang menggambarkan reaksi inflamasi

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Gangguan ginjal akut (GnGA), dahulu disebut dengan gagal ginjal akut,

BAB I PENDAHULUAN. sebagai trauma mayor karena tulang femur merupakan tulang yang sangat kuat, sehingga

Syok Syok Hipovolemik A. Definisi B. Etiologi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LATAR BELAKANG Kejadian mengancam nyawa sering disebabkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. denyut/menit; 3. Respirasi >20/menit atau pa CO 2 <32 mmhg; 4. Hitung leukosit

BAB I LATAR BELAKANG. A. Latar Belakang Masalah. Analisis Gas Darah merupakan salah satu alat. diagnosis dan penatalaksanaan penting bagi pasien untuk

MONITORING HEMODINAMIK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Mortalitas pascaoperasi (postoperative mortality) adalah kematian yang

BAB I PENDAHULUAN. khususnya trias kematian (hipotermia, asidosis dan koagulopati) yang kini

BAB I PENDAHULUAN. Sindrom klinik ini terjadi karena adanya respon tubuh terhadap infeksi, dimana

B. Kriteria Sepsis ( ada 2 atau lebih ):

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. klinis cedera kepala akibat trauma adalah Glasgow Coma Scale (GCS), skala klinis yang

BAB I PENDAHULUAN. diikuti oleh kompensasi anti-inflamasi atau fenotip imunosupresif yang

BAB I PENDAHULUAN. Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm

BAB III PEMBAHASAN. Dari 2 artikel tentang syok traumatik diatas membahas tentang syok traumatik yaitu syok

I. PENDAHULUAN. Air merupakan komponen terbesar dari tubuh sekitar 60% dari berat badan

RESPIRATORY FAILURE. PRESENTATION by Dr. Fachrul Jamal Sp.An(KIC)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Pendahuluan. Cedera kepala penyebab utama morbiditas dan mortalitas Adanya berbagai program pencegahan

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) MONITORING HEMODINAMIK RUMAH SAKIT

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu tempat terjadinya inflamasi primer akut. 3. yang akhirnya dapat menyebabkan apendisitis. 1

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sepsis adalah suatu kumpulan gejala inflamasi sistemik (Systemic Inflammatory

VENTRICULO PERITONEAL SHUNTING (VPS) : PERBANDINGAN ANTARA VPS TERPANDU LAPAROSKOPI & VPS DENGAN TEKNIK BEDAH TERBUKA KONVENSIONAL

BAB 1 PENDAHULUAN. kemajuan kesehatan suatu negara. Menurunkan angka kematian bayi dari 34

BAB I PENDAHULUAN. kematian yang tertinggi seluruh dunia. Sepsis merupakan. penyebab kematian yang ke-10 terbesar di Amerika Serikat,

2. POKOK BAHASAN / SUB POKOK BAHASAN

disebabkan internal atau eksternal trauma, penyakit atau cedera. 1 tergantung bagian neurogenik yang terkena. Spincter urinarius mungkin terpengaruhi,

ABSTRAK. Perdarahan Subarakhnoid yang Disebabkan Ruptur Aneurisma Intrakranial

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. yang tinggi dan seringkali tidak terdiagnosis, padahal dengan menggunakan

Rencana Program Kegiatan Pembelajaran Semester Keperawatan Gawat Darurat Fakultas Kedokteran

ANGKA KEJADIAN SINDROMA KORONER AKUT DAN HUBUNGANNYA DENGAN HIPERTENSI DI RSUP H. ADAM MALIK, MEDAN PADA TAHUN 2011 KARYA TULIS ILMIAH

BAB I PENDAHULUAN. dapat menyebabkan perubahan hemodinamik yang signifikan.

HUBUNGAN SKOR SOFA DENGAN LAMA RAWAT INAP PASIEN CEDERA KEPALA BERAT DI ICU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU PERIODE JUNI OKTOBER 2013

Pathway. Paksaan : Jatuh, benda tumpul, kompresi, dll. Benda tajam : Pisau, peluru, ledakan, dll

Dr. Ade Susanti, SpAn Bagian anestesiologi RSD Raden Mattaher JAMBI

BAB I PENDAHULUAN. Trauma toraks merupakan trauma yang mengenai dinding toraks atau

BAB I PENDAHULUAN. bentuk nodul-nodul yang abnormal. (Sulaiman, 2007) Penyakit hati kronik dan sirosis menyebabkan kematian 4% sampai 5% dari

BAB I PENDAHULUAN. melalui suatu defek pada fasia dan muskuloaponeuretik dinding perut, secara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Peritonitis didefinisikan suatu proses inflamasi membran serosa yang

BAB I PENDAHULUAN. memfokuskan diri dalam bidang life support atau organ support pada pasienpasien

KELAINAN PADA DIAPHRAGMA

LAPORAN PEDAHULUAN ABDOMINAL PAIN

Curriculum vitae. Pudjiastuti, dr., Sp. A(K) Pendidikan : S 1 : FK UNS Surakarta, lulus tahun 1986

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dari sekian banyak kasus penyakit jantung, Congestive Heart Failure

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan komplikasi pada organ lainnya (Tabrani, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya malnutrisi pada pasien dan meningkatkan angka infeksi, atrofi otot,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. pasien tersebut. Pasien dengan kondisi semacam ini sering kita jumpai di Intensive

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN PACITAN NOMOR 188/ /KEP/408.49/2015 TENTANG

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infeksi virus dengue maupun demam berdarah dengue (DBD) merupakan

BAB I PENDAHULUAN. dengan imunitas pejamu, respon inflamasi, dan respon koagulasi (Hack CE,

Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Emboli Cairan

BAB 1 PENDAHULUAN. Gagal jantung (heart failure) adalah sindrom klinis yang ditandai oleh sesak

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I KONSEP DASAR. saluran usus (Price, 1997 : 502). Obserfasi usus aiau illeus adalah obstruksi

BAB I PENDAHULUAN. didalamnya dimana kerusakan disebabkan gaya mekanik dari luar sehingga timbul gangguan

Atonia Uteri. Perdarahan post partum dpt dikendalikan melalui kontraksi & retraksi serat-serat miometrium

Etiologi penyebab edema dapat dikelompokan menjadi empat kategori umum:

BAB I PENDAHULUAN. lokasinya dan kapsulnya yang tipis Glisson capsule. Cedera organ hepar

SAKIT PERUT PADA ANAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perlengkapan yang khusus dengan tujuan untuk terapi pasien - pasien yang

MODUL GAGAL JANTUNG AKUT

BAB I PENDAHULUAN. Unit perawatan intensif atau yang sering disebut Intensive Care Unit

PREVALENSI FAKTOR RESIKO MAYOR PADA PASIEN SINDROMA KORONER AKUT PERIODE JANUARI HINGGA DESEMBER 2013 YANG RAWAT INAP DI RSUP.

mekanisme penyebab hipoksemia dan hiperkapnia akan dibicarakan lebih lanjut.

BAB I PENDAHULUAN. morbiditas dan mortalitas pada bayi dan anak-anak. Infeksi mikroba. intrinsik untuk memerangi faktor virulensi mikroorganisme.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Management of Severe Sepsis and Septic Shock: 2012, sepsis didefinisikan

POLA PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DAN KESESUAIANNYA PADA PASIEN GERIATRI RAWAT JALAN DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE APRIL

PROPORSI PENGGUNAAN TEKNIK BEDAH DAN MORTALITAS PENYAKIT GASTROSCHISIS DI RSUP SANGLAH PADA TAHUN

FAAL PERNAPASAN. Prof. DR. dr. Suradi Sp.P (K), MARS, FISR, Kresentia Anita R., Lydia Arista. Bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi

ABSTRAK PREVALENSI DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN HIPERTENSI DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. Pasien yang masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit tentunya

LAPORAN PENDAHULUAN HEPATOMEGALI

BAB 1 PENDAHULUAN. di negara berkembang. Di negara miskin, sekitar 25-50% kematian wanita subur

BAB 1 PENDAHULUAN. urutan kedua pada usia diatas 60 tahun dan urutan kelima pada usia 15-59

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-EST) merupakan suatu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. karena adanya penurunan absorbsi cairan. Efusi dapat ditimbulkan oleh berbagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Konstipasi berasal dari bahasa Latin constipare yang berarti ramai bersama. 18

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Operasi adalah semua tindakan pengobatan yang mengunakan cara

BAB I PENDAHULUAN. kurang lebih 21 hari. Albumin mengisi 50% protein dalam darah dan menentukan

BAB I. PENDAHULUAN. terhentinya migrasi kraniokaudal sel krista neuralis di daerah kolon distal pada

Transkripsi:

Abdominal Compartment Syndrome Muhammad Jalaluddin Assuyuthi Chalil 1 TINJAUAN PUSTAKA 1 Departemen Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Jl. Gedung Arca No.53 Medan Abstrak: Insiden dan penyebab Intra-abdominal Hypertension (IAH) dan Abdominal Compartment Syndrome (ACS) adalah penyakit-penyakit yang berkaitan dengan penyakit kritis. Dilaporkan bahwa insiden IAH dan ACS pada populasi yang dirawat pada Intensive Care Unit (ICU) gabungan masing-masing sekitar 32,1% dan 4,2%. Laju kejadian IAH juga telah dilaporkan pada pasienpasien dengan luka bakar berat yaitu 36,7-70%, 2%-50% pada pasien trauma berat, dan 31,5%-40,7% pada pasien yang menjalani operasi abdominal mayor. ACS meningkatkan risiko terjadinya Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dan Multiple Organ Failure (MOF) sebesar 40%, dengan laju mortalitas 63-72%. ACS didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana Intra-Abdominal Pressure (IAP) yang bertahan> 20 mmhg (dengan atau tanpa Abdominal Perfusion Pressure (APP) < 60 mmhg) yang dikaitkan dengan terjadinya disfungsi atau kegagalan organ. ACS primer terjadi akibat adanya cedera langsung pada regio abdomen dan pelvik, sedangkan ACS sekunder terjadi tanpa adanya cedera atau kelainan langsung pada abdomen sepertipada syok berat, pemberian cairan yang masif akibat perdarahan, sepsis, capillary leak, atau luka bakar hebat. Metode pengukuran tekanan bladder dikatakan sebagai baku emas dan merupakan pengukuran yang paling dapat dipercaya. Dengan menggunakan sebuah manometer atau transduser tekanan dan monitor, maka tekanan intravesikal dapat diukur dan dapat digunakan sebagai refleksi IAP. Kata kunci: Abdominal Compartment Syndrome, Intra Abdominal Pressure Abdominal Compartment Syndrome Abstract:Incidence and cause IAH and ACS are diseases related to critical illness. The reported incidence of IAH and ACS is about 32.1% and 4.2%, respectively, in the mixed intensive care unit (ICU) population. Rates of IAH have also been reported for patients with severe burns (36.7% 70%) and traumatic injuries (2% 50%), and for patients who had major abdominal procedures (31.5% 40.7%). ACS increases the risk of acuterespiratory distress syndrome/multiorgan failure by 40%, mortalityassociated with abdominal compartment syndromeis 63 72%. ACS is defined as a sustained IAP > 20 mmhg 27

(with or without an APP < 60 mmhg) that is associated with new organ dysfunction/ failure. Primary ACS results from direct injury within the abdomen and pelvic region. Secondary ACS develops without direct abdominalinjuries or conditions.secondary ACS can be seenin patients with severe shock and who have requiredmassive fluid loading due to haemorrhage, sepsis,capillary leak, or major burns.the bladder pressure method is described as the gold standard and is the most reliable measurementof IAP via indirect means.with the use of a manometer or monitoring equipmenta pressure measurement can be achieved toestablish a reflection of IAP. Keyword: Abdominal Compartment Syndrome, Intra Abdominal Pressure PENDAHULUAN Abdominal Compartment Syndrome (ACS) didiagnosis apabila dijumpai Intra-abdominal Hypertension (IAH) > 20 mmhg secara terus menerus dengan disfungsi organ tunggal atau multipel yang sebelumnya tidak ada. Laju mortalitas dan morbiditas akan meningkat dengan nyata ketika kondisi pasien berkembang menjadi ACS, oleh karenanya, pengenalan dan penanganan ACS merupakan waktu kritis. 1 DEFINISI Beberapa definisi terpenting menurut World Society on Abdominal Compartment Syndrome (WSACS) dalam kaitannya dengan ACS 2 : Tekanan intra abdomen (IAP) adalah suatu steady-state pressure yang tersembunyi di dalam rongga abdomen. Tekanan ini akan meningkat ketika diafragma berkontraksi (inspirasi) dan menurun pada saat diafragma relaksasi (ekspirasi). IAP dipengaruhi oleh volume organ-organ solid dan intestinal (yang dapat terisi oleh udara, cairan, ataupun feses), space-occupying lesions (asites, darah, tumor), dan ekstensibilitas dinding abdomen. 2 Tekanan perfusi abdomen dihitung sebagai perbedaan antara tekanan arteri rata-rata dan tekanan intra abdomen ( APP = MAP IAP). 2 Refrensi standar pengukuran IAP intermiten adalah melalui blader dengan instilasi maksimal menggunakan 25 ml salin steril. Tehnik blader ini telah dapat diterima secara luas karena mudah dan bersifat non invasif. 2 IAP normal berkisar antara 5-7 mmhg pada pasien-pasien kritis. IAH didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terjadi kenaikan tekanan patologik yang menetap atau berulang pada IAP > 12 mmhg. 2 IAH digolongkan menjadi 4 grade: o Grade I : IAP 12 sampai 15 mmhg o Grade II : IAP 16 sampai 20 mmhg o Grade III : IAP 21 sampai 25 mmhg

o Grade IV : IAP > 25 mmhg 2 ACS didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana IAP yang menetap > 20 mmhg (dengan atau tanpa tekanan perfusi abdomen < 60 mmhg) yang dikaitkan dengan terjadinya disfungsi ataupun kegagalan organ. 2 Gambar 1. Hubunganantaratekanan abdominal normal, hipertensi intra abdomen, abdominal compartment syndrome,danpenyebabdaridisfungsi organ 3 INSIDENSI Insiden dan penyebab Intraabdominal Hypertension (IAH) dan Abdominal Compartment Syndrome (ACS) adalah penyakit-penyakit yang berkaitan dengan penyakit kritis. Dilaporkan bahwa insiden IAH dan ACS pada populasi yang dirawat pada Intensive Care Unit (ICU) gabungan masing-masing sekitar 32,1% dan 4,2%. Laju kejadian IAH juga telah dilaporkan pada pasien-pasien dengan luka bakar berat yaitu 36,7-70%, 2%-50% pada pasien trauma berat, dan 31,5%-40,7% pada pasien yang menjalani operasi abdominal mayor. 4 ACS meningkatkan risiko terjadinya Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dan Multiple Organ Failure (MOF) sebesar 40%, dengan laju mortalitas 63-72%. 5 ETIOLOGI ACS primer ACS primer dapat terjadi akibat adanya cedera langsung pada regio abdomen dan pelvik (mis. trauma tumpul atau tembus, ruptur aneurisma aorta abdominalis atau laparatomi).suatu trauma langsung pada daerah abdomen memungkinkan untuk terjadinya suatu perdarahan dan cedera pada jaringan. Perdarahan awalnya menyebabkan terjadinya hipo-perfusi ke jaringan dan pengumpulan bekuan-bekuan darah di dalam rongga abdomen akan memicu terjadinya IAH. Akan terjadi hipoksia selular, dan karena terjadi reperfusi akibat resusitasi aktif, cedera jaringan akan mendorong terbentuknya edema jaringan. Keadaan ini dikenal sebagai sindroma reperfusi, dan hal ini akan meningkatkan volume dan tekanan di dalam rongga abdomen, yang pada akhirnya akan menambah meningkatnya IAP. 1 Strategi yang dapat dilakukan untuk mengendalikan perdarahan intra abdomen adalah laparatomi damage control. Tindakan ini mencakup penggunaan tekanan langsung dengan packing pada rongga abdomen pasien. Namun, tindakan ini sebenarnya membawa pasien kepada risiko terjadinya ACS primer.pack sendiri merupakan space occupying dan menciptakan suatu kenaikan IAP. Usus juga memiliki potensial untuk menjadi

edematous akibat manipulasi yang luas atau akibat cedera, sehingga memperburuk IAH. Jika abdomen ditutup dalam keadaan tension, maka risiko terjadinya ACS akan meningkat karena compliance dinding abdomen akan berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali. 1 Penyebab ACS primer yang lain adalah pankreatitis atau peritonitis dimana respon inflamasi membuat capillary leakage yang berakibat timbulnya pembengkakan jaringan dan meningkatkan IAP. Selain itu, setiap pembedahan atau trauma abdomen dapat berkontribusi untuk terjadinya IAH dan ACS. 1 ACS sekunder ACS sekunder terjadi tanpa adanya cedera atau kelainan langsung pada abdomen. ACS sekunder dapat dilihat pada pasienpasien dengan syok berat dan pada mereka yang harus mendapatkan pemberian cairan yang masif akibat perdarahan, sepsis, capillary leak, atau luka bakar hebat. Tekanan abdomen meningkat akibat perpindahan cairan dari rongga vaskular ke dalam rongga interstisial, yang berakibat timbulnya masalah di jaringan dan edema pada usus serta akumulasi cairan di dalam dan disekitar rongga abdomen. 1 FAKTOR RISIKO Faktor-faktor risiko untuk terjadinya IAH dan ACS dapat dilihat pada tabel 1. 6 Tabel 1. Faktor risiko IAH/ACS 6 Faktor Risiko Terjadinya IAH/ACS 1. Berkurangnya compliancei dinding abdomen - Gagal nafas akut, terutama bila disertai kenaikan tekanan intra torakal - Pembedahan pada abdomen dengan penutupan primer fasia - Trauma hebat atau luka bakar mayor - Posisi prone 2. Peningkatan konten intraluminal usus - Gastroparesis - Ileus - Pseudo obstruksi pada kolon 3. Peningkatan konten intra abdomen - Hemoperitoneum - Pneumoperitoneum - Asites - disfungsi hati 4. Kebocoran kapiler/resusitasi cairan - Pankreatitis - Asidosis (ph< 7,2) - Hipotensi - Hipotermi (temperatur inti < 33 o C) - Politransfusi ( > 10 Unit darah per 24 jam) - Koagulopati (jumlah platelet < 55000/mm 3 atau aptt > 2 kali normal atau PTT < 50% atau INR > 1,5) - Resusitasi cairan yang masif ( > 5L/24 jam) - Oliguria - Sepsis - Trauma berat atau luka bakar mayor - Laparatomi damage control PATOFISIOLOGI Peningkatan IAP tidak hanya membahayakan aliran darah regional di dalam rongga peritoneum, akan tetapi juga mengakibatkan efek yang merugikan pada organ dan sistem organ di luar rongga abdomen, seperti sistem kardiovaskular, paruparu, urinaria, gastrointestinal, hepatobiliari, dinding abdomen, dan bahkan sampai melibatkan sistem saraf. 7 Ringkasan patofisiologi ACS dapat dilihat pada gambar 2 dan 3. GEJALA KLINIS Adapungejalaklinisdari ACS adalah:

- Distensi abdomen - Peningkatan IAP - Oliguria yang refraktersetelahpemberiancairan - Peningkatan PIP (Peak Inspiratory Pressure) - Hiperkarbia - Hipoksemia yang refraktersetelahpeningkatan FiO2 dan PEEP - Metabolikasidosis yang refrakter - Peningkatantekanan intrakranial 8 Burch dkk, membagi ACS ke dalam 4 grade menurut tingkat kenaikan IAP dan gejala klinis yang mengikutinya. Hal ini terlihat tabel 2. 9 DIAGNOSIS Pengukuran Tekanan Intra Abdomen Tekanan intra abdomen dapat diukur dengan metode langsung atau tidak langsung. Pengukuran langsung meliputi penggunaan kanul intra peritoneal, atau pengukuran tekanan vena kava inferior melalui jalur vena femoralis. Terdapat korelasi yang dekat antara IAP dengan tekanan vena kava inferior. Sedangkan pengukuran secara tidak langsung meliputi metode pengukuran tekanan intra gaster, rektal dan intravesikal. 1,3 Dengan menggunakan selang intra gasterik, air dimasukkan ke dalam lambung dan tekanan di dalam kompartemen abdomen akan terukur di dalam lambung yang kemudian akan dibaca melalui sebuah manometer atau transduser tekanan dan monitor. Pengukuran tekanan rektal dapat diperoleh dengan menggunakan selang yang diletakkan 10 cm diatas batas anal, kemudian selang disambungkan pada sebuah manometer atau transduser tekanan dan monitor. Namun dikarenakan pertimbangan kesulitan dalam mengaksesnya, kesulitan untuk mengulangnya, serta risiko iatrogenik, maka metode ini tidak lagi digunakan. 1 Tabel 2. Klasifikasi ACS berdasarkantingkatkenaikan IAP 9 Klasifikasi BurchtentangACS berdasarkannilai IAP Grade IAP cmh 2 O mmhg Tanda Klinis I 10-15 7,4-11 No signs of abdominal compartment syndrome II 16-25 11,8-18,4 III 26-35 19,1-25,7 May be associated with oliguria and/or raised peak airway pressure Anuria, raised peak airway pressure and/or decreased cardiac output IV >35 >25,7 Anuria, raised peak airway pressure and/or decreased cardiac output

Gambar 2. Skema patofisiologi ACS 3 Metode pengukuran tekanan blader dikatakan sebagai baku emas dan merupakan pengukuran yang paling dapat dipercaya. Dengan menggunakan sebuah manometer atau transduser tekanan dan monitor, maka tekanan intravesikal dapat diukur dan dapat digunakan sebagai refleksi IAP. Blader dianggap sebagai sarana terbaik untuk merefleksikan IAP oleh karena blader dapat berperan sebagai reservoir pasif ketika volumenya kurang dari 100 ml. 1 Cara melakukan pengukuran IAP dengan tehnik blader: Pasien dalam posisi datar (supine) Gunakanlah Foley kateter dan bag drainase standar Diukur pada akhir ekspirasi Pastikan bahwa otot abdomen tidak berkontrkasi Titik nol (zero reference point ) setentang garis mid aksilaris pada krista iliaka. Isi blader dengan salin steril 25 ml Pengukuran dilakukan 30-60 detik setelah pengisian salin untuk agar otot detrusor blader relaksasi Satuan dinyatakan dalam mmhg 1 Posisi ideal untuk meletakkan tranduser selama pengukuran dapat dilakukan baik pada simfisis pubis maupun garis mid aksilaris setentang krista iliaka. Namun posisi pada garis mid aksilaris lebih disukai. Hal ini dikarenakan apbila menggunakan simfisis pubis, maka dapat menimbulkan masalah dalam menentukan titik nol pada saat pengukuran akibat pembesaran perut yang hebat. 1 32

Gambar 3. Dampak peningkatan tekanan intra abdomen pada fungsi end-organ 2 Pemeriksaan CT scan 9 PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan IAH dan ACS didasarkan pada 4 prinsip: a. Monitoring serial terhadap IAP b. Optimalisasi perfusi sistemik dan fungsi organ pada pasienpasien dengan kenaikan IAP c. Menetapkan tindakan medik yang spesifik untuk mengurangi IAP dan mencegah disfungsi end-organ akibat IAH atau ACS d. Menganjurkan tindakan pembedahan dekompresi untuk IAH yang refrakter. 6,8 Penatalaksanaan Non-bedah Sebelum diputuskan untuk tindakan pembedahan dekompresi, pengobatan medik yang kurang invasif sebaiknya dioptimalisasikan. Hubungan antara isi abdomen dengan IAP bukan suatu hubungan 33

linear, akan tetapi eksponensial, yang artinya bahwa kurva ini akan bergeser ke kiri dan ke atas ketika compliance dinding abdomen sudah berkurang. Berikut ini adalah pilihan-pilihan yang dapat dilakukan sebagai penatalaksanaan medik untuk ACS 8 : - Memperbaiki compliance dinding abdomen - Evakuasi konten intralumen usus - Evakuasi cairan peri-intestinal dan abdominal - Koreksi kebocoran cairan - Koreksi balans cairan yang positif 8 Penatalaksanaan Pembedahan Laparatomi dekompresi adalah pengobatan definitif untuk ACS. Tehniknya dapat bersifat invasif (laparatomi midline) atau minimal invasif (dengan tehnik endoskopik yang berbasis pada fasiotomi subkutaneus anterior abdomen. Intervensi ini menghasilkan sebuah laparostomi atau abdomen terbuka, sehingga dengan demikian diperlukan peutupan abdomen sementara (dengan kain kasa basah, handuk (towel clip closure), bogota bag, Wittman patch atau zipper, atau dengan vacuum-assisted closure). 8 Gambar 4. Algoritma tatalaksana IAH atau ACS 6 34

KESIMPULAN Berbagai macam gangguan fisiologis yang berat dapat disebabkan oleh IAH atau ACS, baik yang terjadi di dalam atau di luar rongga abdomen, dengan angka mortalitas yang cukup tinggi. Pengenalan dini terhadap peningkatan IAP merupakan hal terpenting dalam penatalaksanaan kasus ini. Oleh karena itu, pemantauan IAP baik secara intermiten ataupun kontinyu sangat perlu dilaksanakan pada semua pasien yang memiliki risiko tinggi untuk terjadinya ACS. Sebagai tambahan, pengetahuan dan pemahaman yang baik terhadap patofisiologi IAH/ACS merupakan hal yang sangat penting untuk menerapkan berbagai metode penatalaksanaan pada pasien. Keputusan untuk melakukan intervensi bedah harus dapat diambil secara rasional tanpa harus menunggu munculnya tanda-tanda ACS. DAFTAR PUSTAKA 1. Spencer P, Kinsman L, Fuzzard K. A Critical Care Nurse's Guide to Intra Abdominal Hypertension and Abdominal Compartment Syndrome. Australian Critical Care. 2008;21:18-28. 2. Malbrain ML, Cheatham ML. Definition and Pathophysiological Implications of Intra-abdominal Hypertension and Abdominal Compartment Syndrome. The American Sergeon. 2011; 77: S6- S11. 3. Scheppach W. Abdominal Compartment Syndrome. Best Practice & Research Clinical Gastroenterology. 2009; 23:25-33. 4. Ball CG, Kirkpatrick AW, McBeth P. The secondary abdominal compartment syndrome: not just another posttraumatic complication.can J Surg. 2008;51:399-405. 5. Basu NN, Cottam S. Abdominal compartment syndrome. Surgery; 2006(24): 260-2. 6. Malbrain ML, Cheatham ML, Kirkpatrick A, Sugrue M, Parr M, De Waele J, et al. Results from the International Conference of Experts on Intra-abdominal Hypertension and Abdominal Compartment Syndrome. II. Recommendations. Intensive Care Med. 2007;33: 951-62. 7. Papavramidis TS, Marinis AD, Pliakos I, Kesisoglou I, Papavramidou N. Abdominal compartment syndrome Intraabdominal hypertension: Defining, diagnosing, and managing. J Emerg Trauma Shock. 2011; 4: 279-91. 8. Cheatham ML. Abdominal Compartment Syndrome: pathophysiology and definitions. Scandinavian Journal of Trauma. 2009; 17: 10. 9. Al-Bahrani AZ, Abid GH, Sahgal E, O'Shea S, Lee S, Ammori BJ. A Prospective evaluation of CT features predictive of intraabdominal hypertension and abdominal compartment syndrome in critically ill surgical patients. Clinical Radiology. 2006; 62: 676-82 35

36