HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

SELEKSI DAYA HASIL CABAI (Capsicum annuum L.) POPULASI F2 HASIL PERSILANGAN IPB C110 DENGAN IPB C5 HENDI FERDIANSYAH A

Pendugaan Komponen Ragam, Heritabilitas dan Korelasi untuk Menentukan Kriteria Seleksi Cabai (Capsicum annuum L.) Populasi F5

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDUGAAN VARIABILITAS DAN HERITABILITAS 18 FAMILI F5 CABAI MERAH BESAR (Capsicum annuum L.)

TINJAUAN PUSTAKA Morfologi Tanaman Cabai

6. Panjang helaian daun. Daun diukur mulai dari pangkal hingga ujung daun. Notasi : 3. Pendek 5.Sedang 7. Panjang 7. Bentuk daun

TINJAUAN PUSTAKA Sejarah Tanaman Cabai Botani Tanaman Cabai

Evaluasi Karakter Hortikultura Galur Cabai Hias IPB di Kebun Percobaan Leuwikopo

3. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. fenotipe yang diamati menunjukkan kriteria keragaman yang luas hampir pada

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kedelai (Glycine max [L.] Merrill) merupakan salah satu tanaman

Makalah Seminar Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian

BAHAN DAN METODE. Galur Cabai Besar. Pembentukan Populasi F1, F1R, F2, BCP1 dan BCP2 (Hibridisasi / Persilangan Biparental) Analisis Data

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tanaman kacang panjang diklasifikasikan sebagai berikut :

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu

PELAKSANAAN PENELITIAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai telah dibudidayakan sejak abad ke-17 dan telah ditanam di berbagai daerah di

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak. Kedelai

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA Botani Cabai

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Agroekologi Tanaman Kacang Panjang. Kacang panjang merupakan tanaman sayuran polong yang hasilnya dipanen

Lampiran 1. Deskripsi Tanaman Kedelai Varietas Argomulyo VARIETAS ARGOMULYO

BAHAN DAN METODE. 1. Studi Radiosensitivitas Buru Hotong terhadap Irradiasi Sinar Gamma. 3. Keragaan Karakter Agronomi dari Populasi M3 Hasil Seleksi

Lampiran 1. Analisis Ragam Peubah Tinggi Tanaman Tebu Sumber Keragaman. db JK KT F Hitung Pr > F

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Deskripsi Varietas TM 999 F1. mulai panen 90 hari

KERAGAMAN KARAKTER TANAMAN

PENDUGAAN NILAI GENETIK DAN SELEKSI UNTUK KARAKTER DAYA HASIL POPULASI F2 CABAI (Capsicum annuum L.) HASIL PERSILANGAN IPB C120 DENGAN IPB C5

Lampiran 1. Hasil Analisis Tanah di Kebun Percobaan Leuwikopo IPB

II. TINJAUAN PUSTAKA. spesies. Klasifikasi tanaman ubikayu adalah sebagai berikut:

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Sumatera Utara, Medan, dengan ketinggian tempat

Lampiran 1. Gambar Bagan Lahan Penelitian

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai merupakan tanaman pangan berupa semak yang tumbuh tegak, berasal

HASIL. memindahkan kecambah ke larutan hara tanpa Al.

HERITABILITAS DAN KEMAJUAN GENETIK TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum Annuum L.) Generasi F2

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

Lampiran 4. Deskripsi Varietas TM 999 F1. mulai panen 90 HST

Lampiran 1. Deskripsi Tanaman Kedelai Varietas Argomulyo VARIETAS ARGOMULYO

Lampiran 2 Pengaruh kombinasi varietas, aplikasi mulsa, serta aplikasi PGPR terhadap insidensi penyakit busuk pangkal

I. PENDAHULUAN. padi karena banyak dibutuhkan untuk bahan pangan, pakan ternak, dan industri.

I. PENDAHULUAN. Kedelai (Glycine max L. Merrill) merupakan tanaman pangan yang sangat dibutuhkan

4. HASIL PENELITIAN 4.1. Pengamatan Selintas Serangan Hama dan Penyakit Tanaman Keadaan Cuaca Selama Penelitian

UJI DAYA HASIL 14 GALUR CABAI IPB DI KABUPATEN KUANTAN SINGINGI, RIAU OLEH FEBRI FARHANNY A

HASIL DAN PEMBAHASAN

gabah bernas. Ketinggian tempat berkorelasi negatif dengan karakter jumlah gabah bernas. Karakter panjang daun bendera sangat dipengaruhi oleh

Lampiran 1. Bagan Lahan Penelitian. Ulangan I. a V1P2 V3P1 V2P3. Ulangan II. Ulangan III. Keterangan: a = jarak antar ulangan 50 cm.

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan Kebun Percobaan BPTP Natar,

Vol 1 No. 3 Juli September 2012 ISSN:

Lampiran 2. Daftar Sidik Ragam Tinggi Tanaman 2 MST

Universitas Sumatera Utara

PEUBAH PERTUMBUHAN KUALITATIF. Bentuk Ujung Daun Pertama, Bentuk Batang, dan Warna Batang

melakukan inokulasi langsung pada buah pepaya selanjutnya mengamati karakter yang berhubungan dengan ketahanan, diantaranya masa inkubasi, diameter

I. PENDAHULUAN. Kacang panjang (Vigna sinensis L.) merupakan tanaman semusim yang menjalar

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2012 Februari Penanaman

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai Lingkungan Tumbuh

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan dan Alat

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Percobaan

EVALUASI DAYA HASIL EMPAT HIBRIDA CABAI

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 1. Data Iklim Lahan Penelitian, Kelembaban Udara (%)

HASIL DAN PEMBAHASAN

KARAKTER VEGETATIF DAN GENERATIF BEBERAPA VARIETAS CABAI RAWIT (Capsicum frutescens L.) DI LAHAN GAMBUT

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Parameter. (cm) (hari) 1 6 0, , , Jumlah = 27 0, Rata-rata = 9 0,

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Percobaan

TINJAUAN PUSTAKA. Kedelai telah dibudidayakan sejak abad ke-17 dan telah ditanam di berbagai

II. TINJAUAN PUSTAKA. Secara morfologi tanaman jagung manis merupakan tanaman berumah satu

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi Cabai

G3K2 G1K1 G2K3 G2K2. 20cm. Ulangan 2 20cm G3K3 G3K1 G3K2. Ulangan 3 20cm. 20cm G1K1 G1K3 G1K2

menunjukkan karakter tersebut dikendalikan aksi gen dominan sempurna dan jika hp < -1 atau hp > 1 menunjukkan karakter tersebut dikendalikan aksi gen

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

TINJAUAN PUSTAKA. kelas : Monocotyledoneae, ordo : poales, famili : poaceae, genus : Zea, dan

TATA CARA PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum

HERITABILITAS DAN KEMAJUAN GENETIK HARAPAN POPULASI F2 PADA TANAMAN CABAI BESAR (Capsicum annuum L.)

HASIL DAN PEMBAHASAN

EVALUASI KARAKTER HORTIKULTURA GALUR CABAI HIAS IPB DI KEBUN PERCOBAAN LEUWIKOPO ALVIANTI YAUFA DESITA

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakterisasi secara morfologi beberapa kultivar cabai di Yogyakarta

BAHAN DAN METODE. Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: cangkul, parang, ajir,

EVALUASI DAYA HASIL 11 HIBRIDA CABAI BESAR IPB DI BOYOLALI. Oleh Wahyu Kaharjanti A

2 TINJAUAN PUSTAKA Perkembangan dan Biologi Tanaman Kedelai

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. menunjukkan bahwa penggunaan jenis mulsa dan jarak

TINJAUAN PUSTAKA Botani dan Morfologi

TINJAUAN PUSTAKA. Morfologi dan Fisiologi Tanaman Jagung (Zea mays L.)

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA Taksonomi dan Botani Cabai

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kondisi Umum

Transkripsi:

16 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Lokasi penelitian terletak di Kebun Percobaan Leuwikopo. Lahan yang digunakan merupakan lahan yang biasa untuk penanaman cabai, sehingga sebelum dilakukan penanaman, lahan diberakan. Penanaman di lapangan dilakukan pada akhir bulan Desember 2009, saat terjadi hujan (Gambar 8). Pertumbuhan tanaman cabai di lapangan cukup baik sampai tanaman cabai berumur 3 minggu setelah tanam (MST). Pada umur ini belum ada serangan hama dan penyakit. Sebagian besar tanaman cabai mengalami pertumbuhan yang cepat, hal ini ditandai dengan umur berbunga tanaman cabai pada umur 18 hari setelah tanam (HST) atau kurang lebih 2 MST (Gambar 9). Menurut Hilmayanti (2006) umur berbunga tanaman cabai adalah 45 HST.. Gambar 8. Penanaman Cabai di Lapangan Gambar 9. Tanaman Cabai 2 MST Sudah Berbunga Selama penelitian berlangsung, data curah hujan berada pada interval 42.9 mm sampai dengan 460.7 mm. Curah hujan tertinggi tejadi pada saat bulan Februari 2010 (460.7 mm), sedangkan curah hujan terendah terjadi pada saat bulan April 2010 (42.9 mm). Suhu tertinggi terjadi pada bulan April (27.1 oc) dan terendah pada bulan Januari (25.3 oc) (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, 2010)

17 Serangan penyakit tanaman antara lain antraknosa (Colletotricum capsici), layu fusarium (Fusarium oxysporum), layu bakteri (Pseudomonas solanacearum), rebah kecambah (Phytium debaryanum), daun keriting kuning (virus Geminiviridae). Tanaman yang terserang penyakit keriting 18.06 %. Penyakit ini banyak menyerang tanaman cabai IPB C2. Tanaman mati karena serangan layu bakteri 4.44 %. Buah cabai yang merah juga banyak yang terserang penyakit antraknosa. Hama yang menyerang tanaman di lapangan adalah kutu daun persik (Myzus persicae), belalang (Valanga nigricornis), bekicot (Achatina fulica), ulat grayak (Spodoptera litura), lalat buah (Bactrocera dorsalis), thrips (Thrips parvispinus). Hama yang paling banyak ditemukan adalah ulat grayak (Spodoptera litura), lalat buah (Bactrocera dorsalis). Lalat buah dikendalikan dengan cara pemasangan feromon. Variabilitas Genetik Crowder (1986) menyatakan besarnya variabilitas genetik suatu karakter yang timbul dalam suatu populasi tanaman yang diperbanyak melalui biji dipengaruhi oleh konstitusi gen yang mengendalikan generasi segregasi dari gengen tersebut. Menurut Anderson dan Bancroff (1952) dalam Lestari et al. (2006), suatu karakter dinyatakan mempunyai variabilitas genetik yang luas apabila nilai varians genetiknya lebih besar dari dua kali standar deviasi varians genetik. Suatu karakter dinyatakan mempunyai variabilitas genetik yang sempit apabila nilai varians genetiknya lebih kecil dari dua kali standar deviasi varian genetik. Menurut Allard (1960) variabilitas genetik yang luas merupakan syarat berlangsungnya proses seleksi yang efektif karena akan memberikan keleluasaan dalam proses pemilihan suatu genotipe. Pada penelitian ini (Tabel 1) semua karakter yang diamati ada beberapa karakter yang memiliki nilai duga varians genetik luas yaitu umur berbunga, umur buah merah, umur panen, jumlah buah per tanaman, dan bobot buah per tanaman. Sebagian besar populasi F5 memiliki nilai varians fenotipe luas kecuali pada karakter diameter ujung buah.

18 Karakter yang memiliki variabilitas genetik yang luas akan memiliki variabilitas fenotipe yang luas. Karakter yang memiliki variabilitas genetik yang sempit belum tentu akan memiliki variabilitas fenotipe yang sempit. Hal ini karena variabilitas fenotipe dipengaruhi oleh variabilitas genetik dengan lingkungan. Terjadinya inisiasi bunga pada tanaman cabai ditentukan oleh faktor genetik yang berinteraksi dengan lingkungan (Ganefianti et al., 2006). Faktor lingkungan yang paling berpengaruh terhadap pembungaan adalah temperatur dan intensitas radiasi matahari. Rata-rata temperatur di lapangan berkisar antara 25.3-27.1 o C, sementara tanaman cabai membutuhkan kisaran temperatur antara 18-27 o C. Bila temperatur di bawah 16 o C dan di atas 32 o C proses pembungaan dan pembuahan akan terhambat atau gagal. Tabel 1. Nilai Duga Varians Genetik Populasi F5 Cabai Karakter σ 2 G 2σ σ²g Kriteria σ 2 P 2σ σ²p Kriteria Tinggi tanaman 0.00 35.01 sempit 248.79 0.00 Luas Tinggi dikotomus 0.71 7.75 sempit 15.03 1.68 Luas Diameter batang 0.67 5.34 sempit 7.13 1.64 Luas Umur berbunga 9.64 8.52 luas 18.16 6.21 Luas Umur buah merah 14.95 11.90 luas 35.37 7.73 Luas Umur Panen 19.49 12.81 luas 41.01 8.83 Luas Diameter pangkal buah 4.97 5.11 sempit 6.53 4.46 Luas Diameter tengah buah 4.61 4.79 sempit 5.73 4.29 Luas Diameter ujung buah 0.56 1.91 sempit 0.91 1.50 Sempit Panjang buah 0.00 4.11 sempit 3.46 0.00 Luas Bobot per buah 3.54 5.13 sempit 6.59 3.76 Luas Jumlah buah per tanaman 890.61 93.85 luas 2201.90 59.69 Luas Bobot buah per tanaman 28127.24 456.98 luas 52208.71 335.42 Luas Keterangan: σ 2 G= varians genetik, σ σ²g = standar deviasi varians genetik σ 2 P= varians fenotipe, σ σ²p= standar deviasi varians fenotipe Koefisien variabilitas genetik (KVG) digunakan untuk mengukur variabilitas genetik suatu karakter tertentu dan untuk membandingkan variabilitas genetik berbagai karakter tanaman. Tingginya nilai KVG menunjukkan peluang terhadap usaha-usaha perbaikan yang efektif melalui seleksi (Bahar et al., 1998). Pada Tabel 2 nilai KVG dari semua karakter berkisar antara 0.00-73.28 %. Nilai

19 KVG yang tinggi berkisar antara 26.07-73.28 % yaitu terdapat pada karakter diameter batang, diameter ujung buah, bobot per buah, jumlah buah per tanaman, dan bobot buah per tanaman. Tabel 2. Koefisien Variabilitas Genetik Populasi F5 Cabai Karakter KVG (%) Kriteria Tinggi tanaman 0.00 sempit Tinggi dikotomus 4.50 sempit Diameter batang 73.28 sangat luas Umur berbunga 12.37 agak sempit Umur buah merah 5.93 sempit Umur Panen 6.35 sempit Diameter pangkal buah 14.64 agak sempit Diameter tengah buah 16.21 agak sempit Diameter ujung buah 37.46 luas Panjang buah 0.00 sempit Bobot per buah 26.07 agak luas Jumlah buah per tanaman 53.29 sangat luas Bobot buah per tanaman 61.31 sangat luas Keterangan: KVG : koefisien variabilitas genetik (%) Heritabilitas Nilai heritabilitas berkisar antara 0 dan 1. Heritabilitas dengan nilai 0 berarti bahwa variabilitas fenotipe terutama disebabkan oleh faktor lingkungan, sedangkan variabilitas dengan nilai 1 berarti variabilitas fenotipe terutama disebabkan oleh genotipe. Makin mendekati 1 dinyatakan heritabilitasnya makin tinggi, sebaliknya makin mendekati 0 heritabilitasnya makin rendah (Poespodarsono, 1988). Karakter yang memiliki nilai heritabilitas arti luas yang tinggi adalah umur berbunga, diameter pangkal buah, diameter tengah buah, diameter ujung buah, bobot per buah, dan bobot buah per tanaman. Nilai duga heritabilitas pada populasi F5 yang diamati (Tabel 3) berkisar antara 0.00-80.35 %. Dengan demikian, genotipe cabai F5 yang digunakan memungkinkan untuk menuju tahap seleksi selanjutnya. Nilai duga heritabilitas suatu karakter perlu diketahui untuk menduga apakah karakter tersebut banyak

20 dipengaruhi oleh faktor lingkungan atau genetik. Nilai heritabilitas yang tinggi menunjukkan bahwa pengaruh faktor genetik lebih besar terhadap penampilan fenotipe, dibandingkan pengaruh lingkungan. Nilai heritabilitas yang tinggi berperan dalam meningkatkan efektivitas seleksi. Tabel 3. Nilai Duga Heritabilitas Populasi F5 Cabai Karakter Heritabilitas (%) Kriteria Tinggi tanaman 0.00 rendah Tinggi dikotomus 4.72 rendah Diameter batang 9.40 rendah Umur berbunga 53.08 tinggi Umur buah merah 42.25 sedang Umur Panen 47.53 sedang Diameter pangkal buah 76.12 tinggi Diameter tengah buah 80.35 tinggi Diameter ujung buah 61.58 tinggi Panjang buah 0.00 rendah Bobot per buah 53.64 tinggi Jumlah buah per tanaman 40.45 sedang Bobot buah per tanaman 53.87 tinggi Beberapa karakter memiliki nilai heritabilitas 0.00 yaitu pada karakter tinggi tanaman dan panjang buah. Hal ini karena tetua memiliki varians yang lebih tinggi dibandingkan dengan varians populasi F5. Tingginya varians suatu karakter seperti yang terjadi pada tetua antara lain karena adanya serangan penyakit. Tanaman yang terkena penyakit memiliki tinggi tanaman yang relatif lebih rendah dari pada tanaman normal. Kemajuan Genetik Pada penelitian ini seleksi akan efektif apabila nilai kemajuan genetik tinggi. Kemajuan genetik dapat bernilai positif atau negatif. Pendugaan kemajuan genetik akibat seleksi (KG) dihitung dari deferensial seleksi, yaitu selisih antara rata-rata populasi F5 sebelum diseleksi dengan rata-rata populasi F5 setelah diseleksi.

21 Berdasarkan data pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa nilai kemajuan seleksi cukup bagus. Sebagian besar karakter komponen hasil memiliki nilai KG positif, hal ini berarti menunjukkan adanya pertambahan untuk generasi F6. Karakter komponen pertumbuhan sebagian besar juga memiliki nilai KG positif kecuali tinggi dikotomus. Karakter tinggi dikotomus pada generasi F6 diduga akan mengalami penurunan. Kondisi ini kurang bagus karena pada generasi F5 sudah cukup pendek. Hal ini dapat menyebabkan buah cabai bersentuhan dengan mulsa plastik. Tabel 4. Nilai Duga Kemajuan Genetik Populasi F5 Cabai Karakter Rata-rata Populasi F5 KG F6 Tinggi tanaman (cm) 76.23 0.00 76.23 Tinggi dikotomus (cm) 18.48 (0.02) 18.46 Diameter batang (mm) 11.73 0.08 11.81 Umur berbunga (HST) 24.89 (1.08) 23.81 Umur buah merah (HST) 65.09 (0.28) 64.81 Umur panen (HST) 69.28 (1.38) 67.90 Diameter pangkal buah (mm) 15.23 1.46 16.69 Diameter tengah buah (mm) 13.24 0.80 14.04 Diameter ujung buah (mm) 1.98 0.06 2.04 Panjang buah (cm) 10.36 0.00 10.36 Bobot per buah (g) 7.22 1.11 8.33 Jumlah buah per tanaman 68.90 30.03 98.93 Bobot buah per tanaman (g) 333.84 218.77 552.61 Keterangan: KG = kemajuan genetik, F6= pendugaan pada generasi selanjutnya Nilai KG pada karakter umur berbunga, umur buah merah, dan umur panen adalah negatif. Nilai negatif pada karakter ini sangat diharapkan. Pada karakter ini menunjukkan adanya percepatan panen pada generasi F6 atau bisa dikatakan memiliki umur genjah. Walaupun tidak menunjukkan perbedaan yang besar, tetapi hal ini suatu kemajuan. Pada generasi F6 diduga buah cabai dapat dipanen 2 hari lebih cepat.

22 Korelasi dan Analisis Lintas Koefisien korelasi antar karakter dapat dilihat pada Tabel 5. Karakter yang berkorelasi positif dan sangat nyata dengan bobot buah per tanaman adalah diameter pangkal buah (r= 0.49), diameter tengah buah (r= 0.36), panjang buah (r= 0.54), bobot per buah (r= 0.51), dan jumlah buah per tanaman (r= 0.89). Tanaman yang memiliki jumlah buah banyak akan menghasilkan bobot buah per tanaman yang besar. Buah yang memiliki diameter pangkal buah, diameter tengah buah, dan panjang buah yang besar akan memiliki bobot buah per tanaman yang besar juga. Bobot per buah yang besar akan menghasilkan bobot buah per tanaman total yang besar pula. Karakter diameter batang (r= 0.13) berkorelasi positif dan nyata dengan bobot buah per tanaman. Tanaman yang memiliki diameter batang yang besar akan menghasilkan bobot buah per tanaman yang besar. Menurut Ganefianti et al. (2006) bobot buah per tanaman memiliki korelasi positif dengan karakter jumlah buah dan panjang buah. Karakter yang berkorelasi negatif dengan bobot buah per tanaman adalah umur berbunga, umur buah merah, dan umur panen. Secara fisiologi tanaman cabai tetap melakukan pertumbuhan vegetatif walaupun sudah menghasilkan buah. Semakin cepet umur berbunga, umur buah merah, dan umur panen akan menyebabkan semakin besar bobot buah per tanaman. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa karakter tinggi tanaman, tinggi dikotomus, dan diameter ujung buah berkorelasi tidak nyata terhadap bobot buah per tanaman. Dengan demikian ketiga karakter ini tidak dapat digunakan untuk menduga bobot buah per tanaman cabai. Metode analisis korelasi memiliki kelemahan, karena dapat terjadi salah penafsiran terhadap interaksi antar komponen hasil. Menurut Ganefianti et al. (2006) dalam analisis korelasi diasumsikan bahwa selain kedua sifat yang dipasangkan, yang lain dianggap konstan. Analisis korelasi juga tidak dapat digunakan untuk menggambarkan besarnya sumbangan dari suatu peubah terhadap peubah lain. Masalah ini dapat diatasi dengan analisis lintas (sidik lintas) karena masing-masing sifat yang dikorelasikan dengan hasil dapat diurai menjadi pengaruh langsung dan tidak langsung.

23 Hasil analisis lintas berbagai karakter yang diamati pada cabai menghasilkan hubungan kausal antara karakter tersebut dengan bobot buah per tanaman sebagai karakter tidak bebas (Tabel 6). Berdasarkan analisis lintas ternyata tidak semua karakter memiliki pengaruh langsung yang besar. Tidak ada satu pun karakter yang memiliki nilai pengaruh langsung yang sama dengan pengaruh total yang ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi. Pengaruh langsung ditunjukkan oleh nilai koefisien lintas sedangkan pengaruh tidak langsung masing-masing karakter ditunjukkan oleh nilai karakter bebas. Penentuan karakter-karakter yang dapat dijadikan sebagai kriteria seleksi yang efektif dapat dilihat dari besarnya pengaruh langsung terhadap hasil, korelasi antara karakter dengan hasil, dan selisih dengan pengaruh langsung karakter tersebut terhadap hasil nilainya kurang dari 0.05. Jika ketiga hal tersebut dipenuhi, maka karakter tersebut sangat efektif sebagai kriteria seleksi untuk menduga hasil (Budiarti et al., 2004). Menurut Wahyuni et al. (2004) jika pengaruh totalnya besar namun pengaruh langsungnya negatif atau kecil sekali (diabaikan) maka karakter-karakter yang berperan secara tidak langsung harus dipertimbangkan secara simultan dalam seleksi. Karakter yang memiliki pengaruh total yang besar adalah panjang buah, bobot per buah, dan jumlah buah per tanaman. Karakter yang memberikan pengaruh langsung yang cukup besar adalah jumlah buah per tanaman dengan koefisien lintas 0.7834. Jumlah buah per tanaman menjadi karakter kriteria seleksi tetapi harus ada karakter lain yang mendukung yaitu pengaruh tidak langsung. Hal ini disebabkan nilai selisih dari karakter jumlah buah per tanaman lebih dari 0.05 (Tabel 6). Selisih pengaruh total dengan pengaruh langsung merupakan nilai pengaruh tidak langsung yang dikontribusikan melalui karakter lain. Karakter panjang buah dan bobot buah memiliki pengaruh tidak langsung terhadap bobot buah per tanaman melalui jumlah buah. Penentuan karakter tidak langsung dilakukan dengan tujuan untuk menyeleksi tanaman lebih awal. Berdasarkan hasil sidik lintas didapatkan karakter yang memiliki pengaruh tidak langsung terhadap bobot buah per tanaman total adalah karakter komponen hasil. Hal ini menyatakan bahwa seleksi harus dilakukan berdasarkan karakter komponen hasil.

24 Tabel 5. Koefisien Korelasi Populasi F5 Cabai Karakter TD DB UB UBM UP DP DT DU PB BB JB BBT TT 0.26** 0.68** -0.18** -0.11-0.14* -0.02-0.09-0.09 0.10 0.01 0.03 0.01 TD 0.14* -0.25** -0.18** -0.18** 0.09 0.07-0.06 0.13 0.11 0.05 0.05 DB -0.27** -0.07-0.13-0.01-0.08 0.00 0.06 0.01 0.12 0.13* UB 0.43** 0.41** -0.09-0.11-0.04-0.13-0.11-0.22** -0.24** UBM 0.74** -0.17* -0.08-0.07-0.23** -0.20** -0.17* -0.23** UP -0.16* -0.08-0.03-0.27** -0.19** -0.22** -0.33** DP 0.72** 0.14* 0.72** 0.85** 0.38** 0.49** DT 0.19** 0.51** 0.64** 0.31** 0.36** DU 0.05 0.09 0.01 0.02 PB 0.78** 0.45** 0.54** BB 0.39** 0.51** JB 0.89** Keterangan: * = berkorelasi nyata pada taraf 5 %, **= berkorelasi sangat nyata pada taraf 1 % TT= tinggi tanaman (cm), TD= tinggi dikotomus (cm), DB= diameter batang (mm), UB= umur berbunga (HST), UBM= umur buah merah (HST), UP= umur Panen (HST), DP= diameter pangkal buah (mm), DT= diameter tengah buah (mm), DU= diameter ujung buah (mm), PB= panjang buah (cm), BB= bobot per buah (g), JB= jumlah buah per tanaman, BBT= bobot buah per tanaman (g).

25 Tabel 6. Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung Beberapa Karakter terhadap Bobot Buah per Tanaman Populasi F5 Cabai Pengaruh Pengaruh Tidak Langsung Pengaruh Karakter Selisih Langsung DB UB UBM UP DP DT PB BB JB Total DB 0.0156 0.0036-0.0044 0.0200-0.0013 0.0046 0.0008 0.0008 0.0949 0.1345 0.1189 UB -0.0131-0.0043 0.0269-0.0634-0.0088 0.0062-0.0015-0.0137-0.1697-0.2413 0.2282 UBM 0.0629-0.0011-0.0056-0.1141-0.0165 0.0045-0.0027-0.0256-0.1295-0.2278 0.2907 UP -0.1550-0.0020-0.0054 0.0463-0.0155 0.0044-0.0033-0.0244-0.1711-0.3261 0.1711 DP 0.0975-0.0002 0.0012-0.0107 0.0247-0.0388 0.0087 0.1102 0.2962 0.4889 0.3913 DT -0.0541-0.0013 0.0015-0.0052 0.0127 0.0699 0.0062 0.0836 0.2441 0.3575 0.4116 PB 0.0121 0.0010 0.0016-0.0142 0.0423 0.0700-0.0278 0.1013 0.3515 0.5380 0.5258 BB 0.1299 0.0001 0.0014-0.0124 0.0292 0.0827-0.0349 0.0095 0.3023 0.5078 0.3779 JB 0.7834 0.0019 0.0028-0.0104 0.0339 0.0369-0.0169 0.0054 0.0501 0.8871 0.1038 Keterangan: DB= diameter batang (mm), UB= umur berbunga (HST), UBM= umur buah merah (HST), UP= umur panen (HST), DP= diameter pangkal buah (mm), DT=diameter tengah buah (mm), PB= panjang buah (cm), BB= Bobot per buah (g), JB= jumlah buah per tanaman.

26 Nilai CS sebesar 0.40 (Gambar 10) artinya dengan sembilan karakter tersebut dapat menjelaskan variasi bobot buah per tanaman total sebesar 60 %. Pengaruh karakter-karakter lain sebesar 40 %. Karakter umur berbunga, umur panen, dan diameter tengah buah memiliki pengaruh langsung terhadap bobot buah per tanaman bernilai negatif. 0.3515 PB BBT 0.7834 JB 0.3023 CS = 0.40 BB Keterangan: BBT= bobot buah per tanaman (g), JB= jumlah buah, BB= bobot per buah, PB= panjang buah (cm), CS= nilai sisa. Gambar 10. Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung terhadap Bobot Buah per Tanaman Populasi F5 Cabai Data penelitian harus distandarisasi terlebih dahulu untuk menentukan indeks terboboti. Standarisasi (z) adalah data pengamatan dikurangi dengan nilai tengah karakter dibagi dengan nilai standar deviasi. Nilai indeks terboboti didapat dari penjumlahan bobot buah per tanaman total, pengaruh langsung, dan pengaruh tidak langsung. Pengali bobot buah per tanaman total adalah lima, pengaruh langsung adalah tiga, pengaruh tidak langsung adalah satu. Tabel 7 menunjukkan nomor genotipe F5 yang terseleksi dari semua populasi F5 yang ditanam.

27 Tabel 7. Indeks Terboboti Karakter Seleksi Populasi F5 Cabai Genotipe F5 BBT Pengaruh Langsung Pengaruh Tidak Langsung i JB BB PB IPBF5002005-4-09 2.47 2.99 1.67 3.38 26.39 IPBF5002005-3-77 2.39 2.78 1.42 1.61 23.31 IPBF5002005-3-20 1.66 3.21 1.39 2.00 21.30 IPBF5002005-3-65 2.35 1.50 1.95 1.86 20.05 IPBF5002005-4-19 2.53 1.03 2.11 1.22 19.09 IPBF5002005-1-46 1.81 2.50 0.80 0.16 17.52 IPBF5002005-3-13 1.98 0.86 2.41 1.69 16.56 IPBF5002005-2-64 1.79 2.01 1.05 0.47 16.51 IPBF5002005-2-02 1.52 1.97 1.25 1.13 15.90 IPBF5002005-3-36 2.62 0.90-0.28 0.01 15.54 IPBF5002005-2-46 1.41 2.35 0.32 0.51 14.92 IPBF5002005-1-40 1.77 1.52 0.22 0.28 13.89 IPBF5002005-3-78 0.90 2.46 1.04 0.83 13.75 IPBF5002005-3-08 1.68 1.60-0.47-0.01 12.72 IPBF5002005-3-17 1.44 0.77 1.99 1.13 12.63 IPBF5002005-2-59 1.03 1.67 0.95 1.32 12.42 IPBF5002005-3-75 1.51 0.54 1.52 1.54 12.24 IPBF5002005-1-59 1.59 0.81 0.94 0.89 12.20 IPBF5002005-4-16 1.33 0.51 2.50 1.23 11.91 IPBF5002005-1-19 1.61 1.50-0.18-0.48 11.88 IPBF5002005-4-13 1.26 0.64 1.59 1.83 11.66 Keterangan: BBT= bobot buah per tanaman (g), JB= jumlah buah per tanaman, BB= bobot per buah, PB= panjang buah (cm), i= indeks terboboti Tanaman yang diseleksi berdasarkan banyak karakter memiliki produktivitas antara 11.80-20.31 ton/ha (Lampiran 2). Tanaman yang diseleksi berdasarkan bobot buah per tanaman memiliki produktivitas 13.95-20.31 ton/ha (Lampiran 2). Tanaman yang diseleksi berdasarkan banyak karakter memiliki nomor genotipe yang berbeda dengan tanaman yang diseleksi berdasarkan bobot buah per tanaman. Hal ini disebabkan ada beberapa tanaman yang panen serempak diawal, padahal pengamatan karakter panjang buah, bobot per buah, dan diameter buah dilakukan setelah panen ke dua. Ada beberapa tanaman yang setelah panen serempak diawal mengalami pengurangan ukuran dan bobot per buah.

28 Pengamatan Karakter Kualitatif Karakter kualitatif adalah karakter-karakter yang perkembangannya dikondisikan oleh aksi gen atau gen-gen yang memiliki sebuah efek yang kuat, yang biasa disebut gen-gen mayor atau dikendalikan oleh sedikit gen (Baihaki, 2000). Menurut Syukur et al. (2009) tingkat homozigositas untuk tanaman menyerbuk sendiri pada generasi kelima mencapai 93.74 %. Tabel 8. Karakter Kualitatif Tetua Cabai Genotipe Karakterisasi IPB C2 IPB C5 Tipe pertumbuhan tanaman intermediate Intermediate Warna batang hijau Ungu Warna buku batang hijau Ungu Bentuk batang silindris Silindris Posisi bunga pendant Pendant Warna mahkota bunga putih Putih Warna anther ungu Biru Jumlah bunga/axil satu Satu Tipe daun ovate Ovate Tepi kelopak bergerigi agak bergerigi Tipe pangkal buah tumpul Romping Tipe ujung buah pointed Blunt Warna buah matang merah Merah Bentuk buah elongate Elongate Permukaan buah agak kasar Licin Tipe pertumbuhan pada populasi F5 adalah intermediate 98.08 % dan erect 1.95 %. Tipe pertumbuhan pada tetua IPB C2 dan IPB C5 adalah intermediate. Warna batang pada populasi F5 adalah hijau 93.29 % dan ungu 6.71 %. Warna batang pada tetua IPB C2 adalah hijau dan IPB C5 adalah ungu. Warna buku pada populasi F5 adalah ungu 96.81 % dan hijau 3.19 %. Warna buku pada tetua IPB C2 adalah hijau dan IPB C5 adalah ungu. Menurut Hariati (2007) tipe pertumbuhan IPB C2 dan IPB C5 adalah intermediate, warna batang IPB C2 dan IPB C5 adalah hijau, dan warna buku IPB C2 adalah hijau dan IPB C5 adalah ungu.

29 Posisi bunga pada populasi F5 adalah pendant 84.35 % dan intermediate 15.65 %. Posisi bunga pada tetua IPB C2 dan IPB C5 adalah pendant. Warna mahkota pada populasi F5 putih 100 %. Warna mahkota pada tetua IPB C2 dan IPB C5 adalah putih. Warna anther pada populasi F5 adalah ungu 54.95 %, biru 31.95 %, kuning 6.71 %, dan hijau 0.64 %. Warna anther pada tetua IPB C2 adalah ungu dan IPB C5 adalah biru. Tipe daun pada populasi F5 adalah ovate 87.22 %, lanceolate 12.46 %, dan deltoid 0.32 %. Tipe daun pada tetua IPB C2 dan IPB C5 adalah ovate. Menurut Hariati (2007) posisi bunga IPB C2 intermediate dan IPB C5 pendant, warna mahkota IPB C2 dan IPB C5 adalah putih, warna anther IPB C2 adalah ungu dan IPB C5 adalah biru, dan tipe daun IPB C2 adalah lenceolate dan IPB C5 adalah ovate. Tipe kelopak pada populasi F5 adalah bergerigi 70.48 % dan agak bergerigi 29.52 %. Tipe kelopak pada tetua IPB C2 adalah bergerigi dan IPB C5 adalah agak bergerigi. Tipe pangkal pada populasi F5 adalah tumpul 80 % dan romping 20 %. Tipe pangkal pada tetua IPB C2 adalah tumpul dan IPB C5 adalah romping. Tipe ujung pada populasi F5 adalah pointed 81.88 %, blunt 16.67 %, dan sunken and pointed 1.45 %. Tipe ujung pada tetua IPB C2 adalah pointed dan IPB C5 adalah blunt. Menurut Hariati (2007) tipe kelopak IPB C2 adalah bergerigi dan IPB C5 adalah agak bergerigi, tipe pangkal IPB C2 tumpul dan IPB C5 runcing, dan tipe ujung IPB C2 dan IPB C5 adalah pointed.