PROSIDING SEMINAR NASIONAL APTA, Jember Oktober 2016

dokumen-dokumen yang mirip
UJI KINERJA DAN ANALISIS BIAYA TRENCHER BERTENAGA TRAKTOR RODA EMPAT UNTUK PEMBUATAN PARIT PADA TANAH PADAS DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X JEMBER

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENENTUAN BOBOT ISI TANAH(BULK DENSITY) UJI LAB

I. PENDAHULUAN. Besar jenis tanah suatu massa (unit massa) tanah yang seharusnya dinyatakan gr/cm 3. Volume

MODIFIKASI DAN UJI KINERJA APLIKATOR PUPUK CAIR PADA PROSES BUDIDAYA TEMBAKAU (Nicotiana tabacum L.)

MODIFIKASI ALAT SEBAR BENIH TEMBAKAU JENIS SCATTERPLOT TOOL PILLEN (STP) DI PTPN X JEMBER

BAB III METODE PE ELITIA

III. METODE PENELITIAN

PENENTUAN BULK DENSITY ABSTRAK

Lampiran 1. Flow chart penelitian

Lampiran 1. Diagram Alir Pelaksanaan Penelitian. mulai

BAB II TI JAUA PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Tanah terdiri atas bahan padat dan ruang pori di antara bahan padat,

METODE PENELITIAN. Kegiatan penelitian yang dilakukan adalah sebagai. a. Pengambilan data tahanan penetrasi tanah

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2013 musim ke-44 sampai

METODE PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian

Adapun spesifikasi traktor yang digunakan dalam penelitian:

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

METODE PENELITIAN A. WAKTU DAN TEMPAT

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Peta wilayah Kelurahan Situgede, Kec. Bogor Barat, Kota Bogor LOKASI PENGAMATAN

DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2008

TEKNIK TANAM MIRING KELAPA SAWIT di LAHAN GAMBUT Pengalaman Replanting di PT. Perkebunan Nusantara IV

III METODE PENELITIAN

3 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Penelitian

Pengambilan sampel tanah Entisol di lapangan

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENYIAPAN LAHAN. Oleh : Juwariyah BP3K Garum

STUDI TEKNO-EKONOMI MESIN TANAM INDO JARWO TRANSPLANTER 2:1 DI KABUPATEN DHARMASRAYA DAN PADANG PARIAMAN

I. PENDAHULUAN. Kebutuhan beras di Indonesia meningkat seiring dengan peningkatan laju

BAB III METODE PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Beras adalah buah padi, berasal dari tumbuh-tumbuhan golongan rumputrumputan

METODE PENELITIAN A. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR DASAR ILMU TANAH AGRIBISNIS F KELOMPOK II. Yuni Khairatun Nikmah. E.Artanto S.T Nainggolan FAKULTAS PERTANIAN

BAB I PENDAHULUAN. Penduduk Indonesia dari tahun ke tahun semakin bertambah, dengan

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2011 di Lahan Pertanian Terpadu,

POLA USAHATANI PADI, UBI JALAR, DAN KATUK UNTUK MENGAKUMULASI MODAL DAN MENINGKATKAN PENDAPATAN PETANI

Topik C4 Lahan gambut sebagai cadangan karbon

TINJAUAN PUSTAKA. pada permulaan abad ke-19 traktor dengan motor uap mulai diperkenalkan,

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juli 2013 di Laboratorium

Lampiran 1. Hasil Perhitungan Biomassa Tanaman Kangkung di Laboratorium. a. Biomassa Tanaman Hari ke-15 Sebelum Dikeringkan

III. METODE PENELITIAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. menggunakan pengalaman, wawasan, dan keterampilan yang dikuasainya.

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN. Nanas merupakan tanaman buah berupa semak yang mempunyai nama ilmiah

Lampiran 4. Perhitungan nilai kerapatan massa, kerapatan partikel dan porositas tanah. BTKO = Berat tanah kering oven (massa tanah kering)

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data

BPS PROVINSI KALIMANTAN BARAT

Mulai. Studi Literatur. Pemilihan Tanah dan Tanaman

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Uji Kinerja Traktor Roda Empat Tipe Iseki TG5470 Untuk Pengolahan Tanah Menggunakan Bajak Rotari Pada Lahan Lempung Berpasir

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Tanah Ultisol atau dikenal dengan nama Podsolik Merah Kuning (PMK)

DAFTAR ISI. ABSTRACT... xv

BAB III. METODE PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. Ubi kayu merupakan bahan pangan yang mudah rusak (perishable) dan

III. METODE PENELITIAN

Menanam Laba Dari Usaha Budidaya Kedelai

TINJAUAN PUSTAKA. disukai dan popular di daerah-daerah yang memiliki masalah kekurangan air.

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris dimana sebagian besar penduduknya bermata

Uji Implemen Bajak Piring (Disc Plow) untuk Pengolahan Tanah dengan Menggunakan Traktor John Deere 6110 B dengan Daya 117/2100 Hp

KINERJA DITCHER DENGAN PENGERUK TANAH UNTUK BUDIDAYA TEBU LAHAN KERING. Oleh : ARI SEMBODO F

TINJAUAN PUSTAKA. A. Sifat Fisik Tanah. 1. Tekstur Tanah

Alat Tanam Padi Tebar Langsung Tipe Drum

III. BAHAN DAN METODE

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen.

TINJAUAN PUSTAKA. Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan di lahan padi sawah irigasi milik Kelompok Tani Mekar

PENDEKATAN DESAIN Kriteria Desain dan Gambaran Umum Proses Pencacahan

Pada saat ini Indonesia telah memasuki tahap pembangunan

ALAT DAN MESIN PANEN PADI

BKM IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter dan Kurva Infiltrasi

STRUKTUR ONGKOS USAHA TANAMAN PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI TAHUN 2014

III. METODE PENELITIAN

III. MATERI DAN METODE

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. ruang-ruang terbuka yang tidak produktif. Hidroponik merupakan salah satu

III KERANGKA PEMIKIRAN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian telah dilakukan di lahan pertanaman padi sawah (Oryza sativa L.) milik

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Istimewa Yogyakarta. Gunungkidul memiliki luas 1.485,36 Km 2 terletak antara 7

BAB 1 PENDAHULUAN. Seiring dengan pertambahan penduduk dan perkembangan zaman,

BAB I PENDAHULUAN. Kopi merupakan komoditas sektor perkebunan yang cukup strategis di. Indonesia. Komoditas kopi memberikan kontribusi untuk menopang

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. IKLIM, TANAH DAN WILAYAH PRODUKSI

PEMULSAAN ( MULCHING ) Pemulsaan (mulching) merupakan penambahan bahan organik mentah dipermukaan tanah. Dalam usaha konservasi air pemberian mulsa

III. METODE PENELITIAN. Sampel tanah yang diuji menggunakan material tanah lempung yang disubtitusi

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK KONSTRUKSI BANGUNAN DI KECAMATAN CILINCING, JAKARTA UTARA

SKRIPSI KINERJA MESIN PENGOLAHAN TANAH PADA BUDIDAYA TEBU LAHAN KERING DI PG PESANTREN BARU, KEDIRI. Oleh HERNANDI NUGRAHADI F

Manfaat Penelitian. Ruang Lingkup Penelitian

Sumber : Nurman S.P. (

PEMANFAATAN PETA LOKASI PERTANIAN DAN INDUSTRI

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Terminal Betan Subing Tebanggi Besar. Lampung Tengah, pada bulan September - Oktober 2012.

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat besar dalam menyerap tenaga kerja di Indonesia. masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel).

PERBAIKAN SIFAT FISIKA TANAH PERKEBUNAN KARET (Havea brasiliensis) DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK BIOPORI

TINJAUAN PUSTAKA. Sifat dan Ciri Tanah Ultisol. Ultisol di Indonesia merupakan bagian terluas dari lahan kering yang

Transkripsi:

UJI KINERJA DAN ANALISIS BIAYA TRENCHER UNTUK PEMBUATAN SALURAN DRAINASE (GOT) TEMBAKAU CERUTU PADA TANAH RINGAN DI PT. PERKEBUNAN NUSANTARA X KABUPATEN JEMBER Embun Ayu Gejora 1, Siswoyo Soekarno 1, Ida Bagus Suryaningrat 1 1 Dept of Agricultural Engineering, FTP, Universitas Jember, Jl Kalimantan No. 37 Kampus Tegalboto Jember 68121. E-mail: embunayugejora@gmail.com ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja alat trencher dan analisis biaya trencher pada pembuatan got. analisis yang digunakan yaitu kapasitas tanpa beban, kapasitas dengan beban, dan efisiensi. Penelitian dilakukan di kantor penelitian tembakau jember. Kapasitas kerja trencher diperoleh dari pengujian lansung di lapang dengan menggunakan lima kali pengulangan. Selanjutnya, nilai pengujian lansung di lapang dapat dianalisis menggunakan Excel sebagai input utama untuk mendapat nilai kapasitas kerja trencher tanpa beban, kapasitas kerja trencher dengan beban, dan efisiensi trencher. Interpretasi dilakukan dengan membandingkan nilai pengujian lansung trencher tanpa beban dengan pengujian lansung trencher dengan beban. Untuk analisis biaya sendiri meliputi biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap merupakan biaya yang tidak bergantung pada jumlah produk misalnya biaya penyusutan, biaya asuransi dll. Biaya tidak tetap merupakan biaya yang dikeluarkan pada saat alat/mesin digunakan dan besarnya tergantung pada jumlah jam kerja pemakaian misalnya biaya bahan bakar, biaya pelumas dll. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan pembuatan got menggunakan trencher dengan menggunakan tenaga manusia, serta mengetahui tentang biaya penggunaan Trencher dan tenaga manusia pada saat pembuatan got di lahan tembakau. Nilai analisis trencher dapat digunakan untuk membandingkan efisiensi menggunakan alat atau tenaga manusia pada saat membuatan got dan untuk mengetahui biaya yang relatif murah. Kata Kunci: analisis, Kapasitas kerja Trencher, efisiensi, Biaya penggunaan Trencher PENDAHULUAN PT. Perkebunan Nusantara X merupakan PTPN yang berada di Daerah Jember dengan komoditas unggulan tembakau Na Oogst. Tembakau Na Oogst merupakan jenis tembakau yang ditanam pada musim kemarau dipanen pada musim penghujan. Daun tembakau Na Oogst dimanfaatkan untuk bahan pembalut cerutu (dekblad). Lahan yang digunakan untuk budidaya tembakau cerutu merupakan lahan yang disewa dari petani yang berada di wilayah Jember. Lahan petani sebelum di tanami padi kemudian akan di tanami tembakau cerutu dan memerlukan sistem got. Oleh karena itu pihak PTPN X Jember membuatan sistem got pada lahan yang akan ditanami tembakau cerutu. Sistem got dalam budidaya tembakau cerutu bertujuan menyalurkan air sungai, agar dapat memenuhi kebutuhan air pada tanaman tembakau cerutu. Pembuatan sistem got di budidaya tembakau cerutu masih menggunakan tenaga kerja manusia dengan alat lempak yang membutuhkan waktu yang relatif lama dan biaya yang cukup banyak. Seiring dengan perkembangan zaman, minat untuk bekerja di sawah dan pembuatan got semakin berkurang. Maka dari PTPN X Jember membeli trencher dan menerapkan mekanisasi untuk mengatasi berkurangnya tenaga kerja pembuatan got di budidaya tembakau cerutu. Trencher merupakan alat untuk membuat sistem got pada tanah kering di tanaman tembakau cerutu dengan menggunakan sumber daya traktor roda empat. PTPN X Jember mempunyai standar kedalaman dan lebar got yakni (60 x 50) cm 2 untuk got keliling dan (50 x 50) cm 2 untuk got pecahan. Pada alat Trencher sendiri belum perna dilakukan pengujian pembuatan sistem got di budidaya tembakau cerutu. Maka dari itu diperlukan pengujian kinerja alat Trencher dan perhitungan analisis biaya Trencher. METODOLOGI 2.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di salah satu lahan di Penelitian Tembakau Jember PTPN X yang berada di Kecamatan Kalisat, Kabupaten Jember 285

2.2 Bahan dan Peralatan 2.2.1 Bahan a. Trencher b. Lahan PTPN X Jember 2.2.1 Peralatan a. Roll meter 50 meter b. Patok c. Stopwatch d. Satu unit traktor roda 4,60 Daya e. Ring sampel f. Penggaris g. Cemara h. Komputer 2.3 Tahap Pelaksanaan 2.3.1 Survei Survei lapang ini dilakukan dengan melihat kondisi lahan dengan cara wawancara kepada mandor lahan PTPN X Jember untuk mengetahui Luas lahan yang ada pada PTPN X Jember. Luas lahan pembuatan got 1 Ha dengan panjang got 2250 m. 2.3.2 Wawancara Wawancara kepada pihak PTPN X Jember bertujuan untuk mendapatkan data biaya pokok yang digunakan selama pembuatan got. 2.3.3 Pengambilan Sampel Tanah Pengambilan tanah bertujuan untuk mengetahui kerapatan isi tanah, kadar air tanan. Untuk mengukur kerapatan tanah sampel yang sudah diambil akan ditimbang massanya sebagai massa tanah basah (mb) lalu sampel tersebut dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 110 o C selama kurang lebih 24 jam. Setelah pengeringan,sampel ditimbang lagi massanya sebagai massa tanah kering (mk) dan volume (V). Dari data yang diperoleh, kerapatan isi tanah dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan: Db= Mk / Vt = (Mt-Mw) / Vt...(3.1) Keterangan: Db = Kerapatan tanah (gran/m 3 ), Mk = Massa Kering Tanah (gram), Vt = Volume Tanah (m 3 ), Mt = Massa Tanah (gram), Mw = Massa Wadah (gram). 2.3.4 Pengujian Lansung di Lapang Pada tahap ini dilakukan pengukuran terhadap kecepatan Trencher pada saat dioperasikan dengan menggunakan Tabel 3.1 Hasil Pengujian Langsung Trencher (tanpa beban) beberapa parameter seperti, kecepatan Trencher tanpa beban, kecepatan Trencher dengan beban, dan kapasitas kerja Trencher. 2.3.5 Analisis Biaya Analisis biaya dilakukan bertujuan untuk mengetahui biaya apa saja yang digunakan Trencher pada saat pembuatan got di lahan tembakau. Biaya-biaya tersebut antara lain yaitu biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya tetap meliputi biaya penyusutan, biaya asuransi, biaya pajak, dan biaya garasi. sedangkan untuk biaya tidak tetap meliput biaya bahan bakar, biaya pelumas, biaya upah operator, perbaikan dan pemeliharaan, dan suku cadang. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Pengukuran Kondisi Lahan Hasil pengukuran bulk density didapatkan nilai rata-rata berat tanah basah 40,26 gr/cm 3 setelah dikeringkan menggunakan oven selama kurang lebih 24 jam dengan suhu 110 0 C mendapatkan nilai rata-rata berat tanah kering 38,01 gr/cm 3 dengan volume tanah sebesar 395,14 cm, maka didapatkan nilai bulk density sampel tanah utuh sebesar 0,10 gr/cm 3. Lahan PTPN X Jember yang berada di Kecamatan Kalisat merupakan jenis tanah ringan. Jenis tanah ringan merupakan tanah bertekstur pasir dengan prositas rendah dan ruang pori-pori berukuran besar yang sangat efisien untuk pergerakan air dan udara. Dari hasil rata-rata nilai bulk density pada tanah ringan sebesar 0,10 gr/cm 3. Menurut Foth (1994), nilai bulk density 0,10 gr/cm 3 termasuk golongan jenis tanah Organosol (histosol) dengan nilai bulk density 0,14-0,21 gr/cm 3. Menurut Hardjowigeno (1993), tanah Organosol (histosol) merupakan jenis tanah gambut yang berbentuk bila produksi dan penimbunan bahan organik lebih besar dari mineralisasi. Kebanyakan jenis tanah histosol mempunyai bulk density kurang dari 1 gr/cm 3. 3.2 Pengukuran Kapasitas Kerja Hasil dari pengujian Trencher dapat di ketahui setelah melakukan pengukuran lansung, kemudian dilakukan perhitungan kapasitas kerja Trencher tanpa beban dan kapasitas kerja Trencher dengan beban, untuk mengetahui seberapa efisiensi keberadaan Trencher sebagai pengganti tenaga pembuatan drainase (got). Berikut ini merupakan hasil pengujian Trencher. 1 30,05 220 0,14 2 27,52 105 0,26 3 30,1 308 0,10 4 28,1 102 0,28 5 29,5 129 0,23 Rata-rata 29,05 172,80 0,20 Sumber : Data Primer (2016) Pada Tabel 3.1 diatas dapat diketahui bahwa nilai kecepatan rata-rata Trencher tanpa beban dengan pengukuran kecepatan maju Trencher sebanyak lima kali pengulangan dengan jarak yang ditempuh berbeda-beda menggunakan Traktor Roda Empat dengan tenaga penggerak PTO. Hasil nilai rata-rata kecepatan Trencher tanpa beban sebesar 0,20 m/s dengan rata-rata waktu yang digunakan sebesar 172,80 detik (s). 286

Tabel 3.2 Hasil Pengujian Lansung Trencher (dengan Beban) 1 27 270 0,10 2 24,5 320 0,08 3 28,50 358 0,08 4 27,05 252 0,11 5 28,45 179 0,16 Rata-rata 27,10 275,80 0,10 Sumber : Data Primer (2016) Pada Tabel 3.2 diketahui bawah nilai kecepatan rata-rata Trencher dengan beban sebesar 0,10 (m/s) dengan lima kali pengulangan dan jarak tempuh yang berbeda-beda. Perbandingan antara nilai rata-rata kecepatan Trencher tanpa beban lebih besar dibandingakan dengan nilai kecepatan Trencher dengan beban, seperti yang ada pada tabel 3.1 dan 3.2. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan beban pada Trencher terjadi pada saat Trencher pembuatan got maka dari itu berpengaruh terhadap kecepatan Trencher. Tabel 3.3 Hasil Perhitugan Kapasitas Kerja Trencher No Kategori Nilai Jam/Ha Ha/Jam 1 Kecepatan Tanpa Beban (m/s) 0,20 2 Kecepatan Dengan Beban (m/s) 0,10 3 Pajang Parit Pada 1 Ha (m) 2250 4 Kapasitas Kerja Tanpa Beban 11243 3,12 0,320 5 Kapasitas Kerja Dengan Beban 21533 5,98 0,167 Sumber : Data Primer Diolah (2016) Pada Tabel 3.3 diketahui bawah nilai kapasitas kerja Trencher tanpa beban sebesar 3,12 Jam/Ha sedangkan nilai kapasitas kerja Trencher dengan beban sebesar 5,98 Jam/Ha. Untuk mendapat nilai kapasitas kerja tanpa beban maupun dengan beban di dapatkan dengan perhitungan nilai panjang got 2250 m dalam lahan 1 Ha dibagi dengan nilai kecepaan Trencher tanpa beban dan dengan beban kemudian dikali dengan 3600. Hasil nilai kapasitas kerja Trencher dengan beban lebih besar dibandingkan dengan hasil niai kapasitas kerja Trencher tanpa beban dikarenana pada saat proses kapasitas kerja Trencher dengan beban ada penambahan daya untuk pembuatan got, sedangan kapasitas kerja Trencher tanpa beban tidak ketambahan daya untuk pembuatan got. Tabel 3.4 Hasil Perhitungan Efisiensi Trencher No Kategori Efiseiensi (%) 1 Kecepatan 52,21 2 Luas Penampang 85,78 3 Kapasitas Kerja 52,21 Rata-rata 63,40 Sumber : Data Primer Diolah (2016) Berdasarkan hasil pengukuran di lahan diperoleh nilai efisiensi Trencher pada Tabel 3.4. Nilai efisiensi diperoleh dari perhitungan kepepatan, luas penampang, dan kapasitas kerja. Pada tabel 3.4 menunjukan bawah total rata-rata nilai efiseiensi sebesar 63,40%. Nilai rata-rata Trencher didapatkan dari nilai kecepatan Trencher sebesar 52,21%, luas penampang sebesar 85,78%, dan kapasitas kerja Trencher sebesar 52, 21. 3.3 Analisis Biaya Biaya untuk alokasi alat Trencher dengan menggunakan traktor roda empat yang meliputi semua pengeluran yang diperlukan untuk membiayai alat Trencher yang menggunakan traktor roda empat. Biaya-biaya tersebut terdiri atas biaya investasi awal, biaya tetep, dan biaya tidak tetap. 287

Tabel 3.5 Biaya Menggunakan Trencher No Uraian Nilai 1 Biaya Awal 400.000.000 Nilai sisa (10 th) 40.000.000 2 Biaya Tetap Biaya Penyusutan 18.000.000 Biaya Asuransi 22.000.000 Biaya Pajak 8.000.000 Biaya Garasi 2.000.000 3 Biaya Tidak Tetap Biaya Bahan Bakar 914.550 Biaya Pelumas 19.600 Biaya operator 3.929.641 biaya Pembantu Operator 1.964.820 Perbaikan dan Pemeliharaan 9.053.892 Suku Cadang 16.000.000 Jumlah 81.882.503 Pada Tabel 3.5 bahwa biaya yang digunakan Trencher pada saat pembuatan got di lahan tembakau dengan luas lahan 35 Ha satu musim sebesar Rp. 81.882.503. Sedangkan besarnya investasi awal yang dikeluarkan untuk membeli alat Trencher dan traktor roda empat sebesar Rp. 400.000.000. Tabel 3.6 Biaya Menggunakan Tenaga Manusia No Uraian Nilai 1 Biaya Operasional 1 Ha = 5 hari 175 20 orang 1 Hari HKO = Rp. 70.000 1.400.000 Jumlah 245.000.000 Berdasarkan Tabel 3.6 bahwa biaya pembuatan got menggunakan tenaga manusia sebesar Rp. 245.000.000 dengan luas lahan 35 Ha satu musim. Dengan biaya tenaga kerja 1 hari (HKO) sebesar Rp. 70.0000. Berdasarkan Tabel 3.5 dan 3.6, dapat dibandingan biaya pembuatan got dengan menggunakan Trencher dan tenaga manusia pada lahn tembakau. Pada pembuatan got menggunakan Trencher biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 81. 882.503, sedangan pembuatan got menggunakan tenaga manusia biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 245.000.000 dengan luas lahan yang sama yaitu 35 Ha. Waktu yang dibutuhkan pada saat pembuatan got dengan menggunakan Trencher kurang lebih 26 hari, sedangkan menggunakan tenaga manuisa 175 hari dengan luas lahan yang sama yaitu 35 Ha. Dari Tabel 3.5 dan 3.6 dapat diambil kesimpulan bahwa pembuatan got pada lahan seluas 35 Ha lebih efisien menggunakan Trencher dikarena biaya yang relatif murah dan waktu yang lebih sedikit daripada menggunakan tenaga manusia. Gambar 3.1 Grafik biaya Pembuatan Got di Lahan Tembakau Menggunakan Trencher dan Tenaga Manusia Berdasarkan Gambar 3.1 dapat dibandingankan biaya pembuatan got di lahan tembakau dengan menggunakan Trencher dan tenaga manusia. Pada Gambar 3.1 menunjukkan bahwa untuk biaya yang dikeluarkan pembuatan got di lahan tembakau yang luas lahannya 1 Ha sampai 8 Ha lebih mahal menggunakan Trencher daripada menggunakan tenaga manusia. Sedangkan pada luas lahan 9 Ha sampai seterusnya biaya yang digunakan pada saat pembuatan got di lahan tembakau lebih murah menggunakan Trencher dari pada menggunakan tenaga manusia. Oleh karena itu Trencher dapat digunakan untuk membuat got dengan luas lahan minimal 9 Ha. KESIMPULAN Hasil hasiil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembuatan got mengguakan Trencher lebih efisien dari pada menggunakan tenaga manusia dikarena lebih murah dari segi biaya dan dari segi waktu lebih cepat mengguakan Trencher. UCAPAN TERIMAKASIH Penelitian ini terlaksana atas bentuan Kantor Penelitian Tembakau Jember selaku yang mempunyai alat Trencher dan bapak Dr. Siswoyo Soekarno, S.TP., M. Eng selaku 288

dosen pembimbing utama serta tidak lupa juga bapak Dr. Ida Bagus Suryaningrat., S.TP., M. M. Selaku dosen pembimbing anggota. DAFTAR PUSTAKA Foth, H. D. Dasar-dasar Ilmu Tanah. (Edisi Keenam). Alih bahasa oleh Soenartono Adisoemarto. 1994. Jakarta: Erlangga. Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Jakarta: Akademika Pressindo. LAMPIRAN Lampiran 1. Pengukuran Bulk Density No Tabel 1.1 Perhitungan Bulk Density Volume Berat sampel Berat Sampel tanah basah (g) kering (g) (cm) Bulky density (gr/cm) 1 42,33 41,75 395,14 0,11 2 40,17 39,59 395,14 0,10 3 38,28 32,70 395,14 0,08 Rata2 40,26 38,01 0,10 Lampiran 2. Pengukuran Kecepatan Trencher 2a. Pengujian Lansung Trencher Tanpa Beban Tabel 2.2a Hasil Pengujian Lansung Trencher (Tanpa Beban) 1 30,05 220 0,14 2 27,52 105 0,26 3 30,1 308 0,10 4 28,1 102 0,28 5 29,5 129 0,23 Rata-rata 29,05 172,80 0,20 2b. Pengujian Lansung Trencher dengan Beban Tabel 2.2b Hasil Pengujian Trencher Lansung (dengan Beban) 1 27 270 0,10 2 24,5 320 0,08 3 28,50 358 0,08 4 27,05 252 0,11 5 28,45 179 0,16 Rata-rata 27,10 275,80 0,10 Lampiran 3. Perhitungan Kapasitas Kerja dan Efisiensi Trencher 3a. Perhitungan Kapasitas Kerja Trencher Tabel 3.3a Hasil Perhitungan Kapasitas Kerja Trencher No Kategori Nilai Jam/Ha Ha/Jam 1 Kecepatan TB (m/s) 0,20 2 Kecepatan DB (m/s) 0,10 3 Pajang Parit Pada 1 Ha (m) 2250 Kapasitas Kerja Tanpa 4 Beban 11243 3,12 0,320 Kapasitas Kerja Dengan 5 Beban 21533 5,98 0,167 1. Perhitungan Kapasitas Tanpa Beban Trencher KLE = Kec TB / 2250 = 0,20 / 2250 = 11243 detik (s) = 3, 12 Jam/Ha = 0,320 Ha/ Jam 2. Perhitungan Kapasitas dengan Beban Trencher KLE = Kec DB / 2250 = 0,10 / 2250 = 21533 detik (s) = 3,12 Jam/Ha = 0,167 Ha/Jam 3b. Perhitungan Efisiensi Trencher Tabel 3.3b Hasil Perhitungan Efisiensi Trencher No Kategori Efisiensi (%) 1 Kecepatan 52,21 2 Luas Penampang 85,78 3 Kapasitas Kerja 52,21 Rata-rata 63,40 1. Perhitungan Kecepatan Trencher = 52,21 % 2. Perhitungan Luas Penampang Hasil Perhitungan Luas Penampang di Lapang No Tinggi Lebar a 1 0,47 0,45 0,21 2 0,47 0,47 0,22 3 0,42 0,46 0,19 4 5 0,48 0,48 0,23 0,46 0,47 0,22 Rata-rata 0,46 0,47 0,21 Jadi nilai (a) merupakan nilai rata-rata luas penampang di lapang dengan hasil sebesar 0,21. 85,78 % 3. Perhitungan Kapasitas Kerja 289

Lampiran 4. Perbandingan Biaya Trencher dan Tenaga Manusia Tabel 4.1 Perhitungan Biaya Trencher dan Biaya Manual Ha Biaya Trencher Biaya Manual 1 50.910.929 7.000.000 2 51.821.857 14.000.000 3 52.732.786 21.000.000 4 53.643.715 28.000.000 5 54.554.643 35.000.000 6 55.465.572 42.000.000 7 56.376.501 49.000.000 8 57.287.429 56.000.000 9 58.198.358 63.000.000 10 59.109.287 70.000.000 Gambar 3. Sempel Tanah Lampiran 5. Dokumentasi Peelitian Gambar 1. Trencher dan Traktor Roda Empat Gambar 4. Penimbangan Sempel Tanah Basah Gambar 2. Pembuatan Got 290