BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengendalian Internal 2.1.1 Pengertian Pengendalian Internal Pengendalian internal merupakan metode yang berguna bagi manajemen untuk menjaga kekayaan organisasi, meningkatkan efektivitas dan efisiensi kinerja (Anggreini, 2012:10). Pada umumnya, perusahaan menggunakan sistem pengendalian internal untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan sistem dan membantu operasional perusahaan agar dapat terarah dengan baik (Chung, 2015:11). Sistem pengendalian internal meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen. Definisi sistem pengendalian intern tersebut menekankan tujuan yang hendak dicapai, dan bukan pada unsur-unsur yang membentuk sistem tersebut. Dengan demikian, pengertian pengendalian internal tersebut diatas berlaku baik dalam perusahaan yang mengolah informasinya secara manual, dengan mesin pembukuan, maupun dengan komputer (Mulyadi, 2014:163). 2.1.2 Tujuan Pengendalian Internal Tujuan dari pengendalian internal menurut Institut Akuntan Publik Indonesia (2011:319) adalah sebagai berikut : 1. Keandalan laporan keuangan Umumya, pengendalian yang relevan dengan suatu audit adalah berkaitan dengan tujuan entitas dalam membuat laporan keuangan bagi pihak luar yang disajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. 2. Efektivitas dan efisiensi operasi Pengendalian yang berkaitan dengan tujuan operasi dan kepatuhan mungkin relevan dengan suatu audit jika kedua tujuan tersebut berkaitan 9
10 dengan data yang dievaluasi dan digunakan auditor dalam prosedur audit. Sebagai contoh, pengendalian yang berkaitan dengan data non keuangan yang digunakan oleh auditor dalam prosedur analitik. 3. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku Suatu entitas umumnya mempunyai pengendalian yang berkaitan dengan tujuan yang tidak relevan dengan suatu audit dan oleh karena itu tidak perlu dipertimbangkan. Menurut Mulyadi (2014:163), tujuan sistem pengendalian internal adalah: 1. Menjaga kekayaan organisasi 2. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi 3. Mendorong efisiensi, dan 4. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen 2.1.3 Komponen Pengendalian Internal Menurut Kumaat (2011:16), sejalan dengan waktu, semakin didasari adanya berbagai faktor yang masih perlu diartikulasikan lebih jauh, seperti faktor manusia yang saling berinteraksi dalam lingkungan bisnis yang membentuk tata nilai perusahaan, adanya riskiko intrinsik atau risiko potensial yang kurang terbaca pada historical/current data, dan kelemahankelemahan komunikasi internal. Jadi, sejak tahun 1992 COSO (The Committee of Sponsoring Organization of the Treadway Commission) memperkenalkan kerangka pengendalian yang terdiri dari 5 unsur sebagai berikut: 1. Lingkungan pengendalian Lingkungan pengendalian melingkupi sikap para manajemen dan karyawan terhadap pentingnya pengendalian internal organisasi. 2. Penilaian risiko Semua organisasi menghadapi risiko, yaitu dalam kondisi apapun yang namanya risiko pasti ada dalam suatu aktivitas, baik aktivitas yang berkaitan dengan bisnis maupun non bisnis.
11 3. Prosedur pengendalian Prosedur pengendalian ditetapkan untuk standarisasi proses kerja, sehingga menjamin tercapainya tujuan perusahaan dan mencegah atau mendeteksi keterbatasan serta kesalahan. 4. Pemantauan Pemantauan terhadap sistem pengendalian internal akan menemukan kekurangan serta meningkatkan efektivitas pengendalian. Pengendalian internal dapat di monitor secara efektif melalui penilaian khusus atau sejalan dengan manajemen. 5. Informasi dan komunikasi Informasi dan komunikasi merupakan unsur-unsur yang penting dari pengendalian internal perusahaan. Informasi tentang lingkungan pengendalian, penilaian risiko, prosedur pengendalian, dan pemantauan diperlukan oleh manajemen, untuk pedoman operasi dan menjamin ketaatan dengan pelaporan hukum serta peraturan-peraturan yang berlaku pada perusahaan. 2.1.4 Unsur Pengendalian Internal Menurut Mulyadi (2014:164), unsur pokok sistem pengendalian internal adalah: 1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas. Struktur organisasi merupakan kerangka (framework) pembagian tanggung jawab fungsional kepada unit-unit organisasi yang dibentuk untuk melaksanakan kegiatan pokok perusahaan. Pembagian tanggung jawab fungsional dalam organisasi ini didasarkan pada prinsip-prinsip berikut ini: a. Harus dipisahkan fungsi-fungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi akuntansi. b. Suatu fungsi tidak boleh diberi tanggung jawab penuh untuk melaksanakan semua tahap suatu transaksi. 2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya.
12 Dalam organisasi, setiap transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari pejabat yang memiliki wewenang untuk menyetujui terjadinya transaksi tersebut. Oleh karena itu, dalam organisasi harus dibuat sistem yang mengatur pembagian wewenang untuk otorisasi atas terlaksananya setiap transaksi. Sistem otorisasi akan menjamin dihasilkannya dokumen pembukuan yang dapat dipercaya, sehingga akan menjadi masukan yang dapat dipercaya bagi proses akuntansi. 3. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit organisasi. Adapun cara-cara yang umumnya ditempuh oleh perusahaan dalam menciptakan praktik yang sehat adalah: a. Penggunaan formulir bernomor urut tercetak yang pemakaiannya harus dipertanggungjawabkan oleh yang berwenang b. Pemeriksaan mendadak c. Setiap transaksi tidak boleh dilaksanakan dari awal sampai akhir oleh satu orang atau satu unit organisasi d. Perputaran jabatan e. Keharusan pengambilan cuti bagi karyawan yang berhak f. Secara periodik diadakan pencocokan fisik kekayaan dengan catatannya g. Pembentukan unit organisasi yang bertugas untuk mengecek efektivitas unsur-unsur sistem pengendalian internal yang lain 4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya. Bagaimanapun baiknya struktur organisasi, sistem otorisasi dan prosedur pencatatan, serta berbagai cara yang diciptakan untuk mendorong praktik yang sehat, semuanya tergantung kepada manusia yang melaksanakannya. Diantara 4 unsur pokok pengendalian internal tersebut diatas, unsur mutu karyawan merupakan unsur sistem pengendalian internal yang paling penting. Jika perusahaan memiliki karyawan yang kompeten dan jujur, unsur pengendalian yang lain dapat dikurangi sampai batas yang minimum dan perusahaan tetap mampu menghasilkan pertanggung jawaban keuangan yang dapat diandalkan. Karyawan yang jujur dan ahli dalam bidang yang menjadi tanggung jawabnya akan dapat
melaksanakan pekerjaannya dengan efisien dan efektif, meskipun hanya sedikit unsur sistem pengendalian internal yang mendukungnya. 13 2.1.5 Pihak yang Bertanggung Jawab Menurut Mulyadi dalam bukunya yang berjudul Auditing (2014:181) menyatakan bahwa pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap pengendalian internal yaitu sebagai berikut: 1. Manajemen Manajemen memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan dan menyelenggarakan secara efektif pengendalian internal organisasinya. 2. Dewan komisaris dan komite audit Dewan Komisaris bertanggung jawab untuk menentukan apakah manajemen telah memenuhi tanggung jawab mereka dalam mengembangkan dan menyelenggarakan pengendalian internal. 3. Auditor intern Bertanggung jawab untuk memeriksa dan mengevaluasi memadai atau tidaknya pengendalian internal entitas dan membuat rekomendasi peningkatannya. 4. Personel lain entitas Peran dan tanggung jawab semua personel lain yang menyediakan informasi atau menggunakan informasi yang dihasilkan oleh pengendalian internal harus ditetapkan dan dikomunikasikan dengan baik. 5. Auditor independen Sebagai bagian dari prosedur auditnya terhadap laporan keuangan, auditor dapat menemukan kelemahan pengendalian internal kliennya, sehingga ia dapat mengkomunikasikan temuan auditnya tersebut kepada manajemen, komite audit atau dewan komisaris. 6. Pihak luar lain Pihak luar lain yang bertanggung jawab atas pengendalian internal entitas adalah badan pengatur, seperti Bank Indonesia dan Bapepam.
14 2.1.6 Keterbatasan Pengendalian Internal Menurut Mulyadi dalam bukunya yang berjudul Auditing (2014:181), terdapat 5 keterbatasan atas pengendalian internal yaitu sebagai berikut: 1. Kesalahan dalam pertimbangan Manajemen dan personel lain sering kali salah paham dalam mempertimbangkan keputusan bisnis yang diambil dalam melaksanakan tugas rutin karena tidak memadainya informasi, keterbatasan waktu atau tekanan lain. 2. Gangguan Gangguan dalam pengendalian yang telah ditetapkan dapat terjadi karena personel keliru memahami perintah atau membuat kesalahan karena kelalaian, tidak adanya perhatian atau kelelahan. 3. Kolusi Tindakan bersama dalam individu untuk tujuan kejahatan tersebut disebut sebagai kolusi. Kolusi dapat mengakibatkan bobolnya pengendalian internal yang dibangun untuk melindungi kekayaan entitas dan tidak terungkapnya ketidakberesan atau tidak terdeteksinya kecurangan oleh sistem pengendalian internal yang dirancang. 4. Pengabaian oleh manajemen Manajemen dapat mengabaikan kebijakan atau prosedur yang telah ditetapkan untuk tujuan yang tidak sah seperti keuntungan pribadi manajer, penyajian kondisi keuangan yang berlebihan atau kepatuhan semu. Contohnya adalah manajer melaporkan jumlah laba yang lebih tinggi dari jumlah sebenarnya untuk mendapat bonus lebih tinggi. 5. Biaya lawan manfaat Biaya yang diperlukan untuk diperlukan untuk mengoperasikan struktur pengendalian internal tidak boleh melebihi manfaat yang diharapkan dari pengendalian internal tersebut. Karena pengukuran secara tepat baik biaya maupun manfaat biasanya tidak mungkin dilakukan, manajemen harus memperkirakan dan mempertimbangkan secara kantitatif dan kualitatif dalam mengevaluasi biaya dan manfaat suatu struktur pengendalian internal.
15 2.2 Fungsi Penjualan Kredit, Piutang, dan Penerimaan Kas 2.2.1 Pengertian Penjualan Salah satu aktivitas utama dalam sebuah perusahaan yang sangat penting adalah penjualan. Menurut Sujarweni (2015:79), penjualan adalah suatu sistem kegiatan pokok perusahaan untuk memperjual-belikan barang dan jasa yang perusahaan hasilkan. Secara umum penjualan ada dua jenis yaitu: 1. Penjualan tunai Penjualan tunai merupakan sistem yang diberlakukan perusahaan dalam menjual barang dengan cara mewajibkan pembeli untuk melakukan pembayaran harga terlebih dahulu sebelum barang diserahkan kepada pembeli. Setelah pembeli melakukan pembayaran, barang akan diserahkan, kemudian transaksi penjualan dicatat. 2. Penjualan kredit Penjualan kredit merupakan sistem penjualan dimana pembayarannya dilakukan setelah barang diterima pembeli. Jumlah dan jatuh tempo pembayarannya disepakati oleh kedua pihak. 2.2.2 Fungsi Terkait Penjualan Kredit Menurut Mulyadi (2014:462), terdapat enam fungsi terkait dalam sistem penjualan kredit adalah: 1. Fungsi kredit Fungsi ini dibawah fungsi keuangan yang dalam transaksi penjualan kredit, bertanggung jawab untuk meneliti status kredit pelanggan dan memberikan otorisasi pemberian kredit kepada pelanggan. 2. Fungsi penjualan Fungsi penjualan bertanggung jawab untuk menerima surat order dari pembeli, mengedit order dari pelanggan untuk menambahkan informasi yang belum ada pada surat order tersebut, meminta otorisasi kredit, menentukan tanggal pengiriman dan dari gudang mana barang akan dikirim, mengisi surat order pengiriman dan membuat back order pada saat diketahui tidak tersedianya persediaan untuk memenuhi order dari pelanggan.
16 3. Fungsi gudang Fungsi gudang menyimpan barang dan menyiapkan barang yang dipesan oleh pelanggan serta menyerahkan barang ke fungsi pengiriman. 4. Fungsi pengiriman Fungsi pengiriman bertanggung jawab untuk menyerahkan barang atas dasar surat order pengiriman yang diterima dari fungsi penjualan. Fungsi ini bertanggung jawab untuk menjamin bahwa tidak ada barang yang keluar dari perusahaan tanpa ada otorisasi dari pihak yang berwenang. 5. Fungsi akuntansi Fungsi akuntansi bertanggung jawab untuk mencatat piutang yang timbul dari transaksi penjualan kredit dan membuat serta mengirimkan pernyataan piutang pada debitur serta membuat laporan penjualan. Fungsi ini juga bertanggung jawab untuk mencatat harga pokok persediaan yang dijual ke dalam kartu persediaan. 6. Fungsi penagihan Fungsi penagihan bertanggung jawab untuk membuat dan mengirimkan faktur penjualan kepada pelanggan serta menyediakan copy faktur bagi kepentingan pencatatan transaksi penjualan oleh fungsi akuntansi. 2.2.3 Dokumen yang Terkait Penjualan Kredit Menurut Mulyadi (2014:214), dokumen dan catatan yang digunakan dalam sistem penjualan kredit adalah: 1. Surat order pengiriman dan tembusannya Surat order pengiriman merupakan dokumen pokok untuk memproses penjualan kredit kepada pelanggan. 2. Faktur dan tembusannya Faktur penjualan merupakan dokumen yang dipakai sebagai dasar untuk mencatat timbulnya piutang. 3. Rekapitulasi harga pokok penjualan Merupakan dokumen pendukung yang digunakan untuk menghitung total harga pokok produk yang dijual selama periode akuntansi tertentu. 4. Bukti memorial Merupakan dokumen sumber untuk dasar pencatatan ke dalam jurnal umum. Dalam sistem penjualan kredit, bukti memorial merupakan
dokumen sumber untuk mencatat harga pokok produk yang dijual selama periode akuntansi tertentu. 17 2.2.4 Unsur Pengendalian Internal atas Penjualan kredit Menurut Mulyadi (2014:220), unsur pokok pengendalian internal atas fungsi penjualan kredit, terdiri dari : a. Organisasi 1. Fungsi penjualan harus terpisah dari fungsi kredit. 2. Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi penjualan dan fungsi kredit. 3. Fungsi akuntansi harus terpisah dari fungsi kas. 4. Transaksi penjualan kredit harus dilaksanakan oleh fungsi penjualan, fungsi kredit, fungsi pengiriman, fungsi penagihan, dan fungsi akuntansi. Tidak ada transaksi penjualan kredit yang dilaksanakan secara lengkap hanya oleh satu fungsi tersebut. b. Sistem otorisasi dan prosedur pencatatan 1. Penerimaan order dari pembeli diotorisasi oleh fungsi penjualan dengan menggunakan surat pengiriman. 2. Persetujuan pemberian kredit diberikan oleh fungsi kredit dengan membubuhkan tanda tangan pada credit copy. 3. Pengiriman barang kepada pelanggan diotorisasi oleh fungsi pengiriman dengan cara menandatangani dan membubuhkan cap sudah dikirim pada copy surat order pengiriman. 4. Penetapan harga jual, syarat penjualan, syarat pengangkutan barang, dan potongan penjualan berada ditangan Direktur Pemasaran dengan penerbitan surat keputusan mengenai hal tersebut. 5. Terjadinya piutang diotorisasi oleh fungsi penagihan dengan membubuhkan tanda tangan pada faktur penjualan. 6. Pencatatan ke dalam kartu piutang ke dalam jurnal penjualan, jurnal penerimaan kas, dan jurnal umum diotorisasi oleh fungsi akuntansi dengan cara memberikan tanda tangan pada dokumen sumber. c. Praktik yang sehat
18 1. Surat order pengiriman bernomor urut cetak dan pemakaiannya dipertanggungjawabkan oleh fungsi penjualan. 2. Faktur penjualan bernomor urut tercetak dan pemakaiannya dipertanggung jawabkan oleh fungsi penagihan. 3. Secara periodik fungsi akuntansi mengirimkan pernyataan piutang (account receivable statement) kepada setiap debitur untuk mengkaji ketelitian catatan piutang yang diselenggarakan oleh fungsi tersebut. 4. Secara periodik diadakan rekonsiliasi kartu piutang dengan rekening kontrol piutang dalam buku besar. 2.2.5 Pengertian Piutang Dagang Menurut Sujawerni (2015:113), sistem akuntansi piutang adalah prosedur mencatat mutasi piutang perusahaan kepada setiap debitur. Informasi mengenai piutang dilaporkan kepada manajemen. Prosedur pencatatan piutang bertujuan untuk mencatat mutasi piutang perusahaan kepada setiap debitur. Mutasi piutang disebabkan oleh transaksi penjualan kredit, penerimaan kas dari debitur, retur penjualan dan penghapusan piutang (Mulyadi, 2014:257). 2.2.6 Metode Pencatatan Piutang Menurut Mulyadi (2014:261), pencatatan piutang dilakukan dengan salah satu dari metode berikut ini : 1. Metode konvensional Dalam metode ini, posting ke dalam kartu piutang dilakukan atas dasar data yang dicatat dalam jurnal. 2. Metode posting langsung ke dalam kartu piutang atau pernyataan piutang a. Metode posting harian b. Metode posting periodik 3. Metode pencatatan tanpa buku pembantu Dalam metode pencatatan piutang ini, tidak digunakan buku pembantu piutang. Faktur penjualan beserta dokumen pendukungnya yang diterima dari bagian penagihan oleh bagian piutang diarsipkan menurut nama pelanggan dalam arsip faktur yang belum dibayar (unpaid invoice file). Arsip penjualan ini berfungsi sebagai catatan piutang.
19 4. Metode pencatatan dengan menggunakan komputer Metode pencatatan dengan menggunakan komputer dengan menggunakan batch system, dokumen sumber yang mengubah piutang dikumpulkan dan sekaligus diposting setiap hari untuk memurkhirkan catatan piutang. 2.2.7 Pengendalian Internal atas Penagihan Piutang Menurut Romney (2014:418), secara garis besar, terdapat beberapa penerapan prinsip pengendalian internal atas penagihan piutang : 1. Pemisahan fungsi penagihan dan pengiriman 2. Rekonsialiasi secara periodik atas faktur dengan pesanan penjualan, kartu pengambilan dan dokumen pengiriman 3. Konfigurasi sistem untuk memasukkan data harga secara otomatis 4. Pembatasan akses kedata induk harga 5. Pengendalian edit entri data 6. Rekonsialiasi dokumen pengiriman (kartu pengambilan, bill of lading dan daftar pengepakkan) untuk pesanan penjualan 7. Pengendalian entri data 8. Rekonsialiasi total batch 9. Pengiriman laporan bulanan kepada pelanggan 10. Rekonsialiasi buku pembantu piutang di buku besar umum 11. Pemisahan tugas otorisasi memo kredit baik dari entri pesanan penjualan maupun pemeliharaan rekening pelanggan 12. Konfigurasi sistem untuk memblokir memo kredit kecuali ada dokumentasi yang sesuai dengan pengembalian barang rusak atau otorisasi yang spesifik oleh manajemen. 2.2.8 Pengertian Penerimaan Kas Sistem akuntansi penerimaan kas adalah suatu catatan yang dibuat untuk melaksanakan kegiatan penerimaan uang dari penjualan tunai atau dari piutang yang siap dan bebas digunakan untuk kegiatan umum perusahaan. Penerimaan kas perusahaan berasal dari dua sumber utama, yaitu penerimaan
20 kas dari penjualan tunai dan penerimaan kas dari piutang Mulyadi (2014:455). Menurut Agoes (2012:166), kas merupakan harta lancar perusahaan yang sangat menarik dan mudah untuk diselewengkan. Selain itu banyak transaksi perusahaan yang menyangkut uang kas perusahaan, diperlukan adanya pengendalian intern (internal control) yang baik atas kas dan setara kas. 2.2.9 Fungsi Terkait Penerimaan Kas 1. Sistem akuntansi penerimaan kas dari penjualan tunai Menurut Mulyadi (2014:462), fungsi yang terkait dalam sistem akuntansi penerimaan kas dari penjualan tunai adalah sebagai berikut : a. Fungsi penjualan Fungsi penjualan bertanggung jawab untuk menerima order dari pembeli, selama pemrosesan fungsi penjualan juga diharuskan mengisi faktur penjualan tunai untuk diserahkan kepada pembeli guna melaksanakan pembayaran sesuai harga barang yang dipesan ke fungsi kas. b. Fungsi kas Fungsi kas bertanggung jawab untuk menerima kas dari penjualan tunai. c. Fungsi gudang Fungsi gudang bertugas untuk menyediakan barang yang dipesan pembeli serta menyerahkan barang pesanan tersebut kepada fungsi pengiriman. d. Fungsi pengiriman Fungsi pengiriman bertanggung jawab untuk melaksanakan proses pembungkusan barang pesanan dan menyerahkan secara langsung kepada pembeli yang telah menyelesaikan proses pembayaran. e. Fungsi akuntansi Fungsi akuntansi bertanggung jawab untuk melaksanakan pencatatan atas transaksi penjualan, penerimaan kas dan membuat laporan hasil penjualan. 2. Sistem akuntansi penerimaan kas dari penjualan kredit
21 Terdapat fungsi-fungsi yang terkait dengan sistem akuntansi penerimaan kas kredit menurut Mulyadi (2014:487) yaitu sebagai berikut: a. Fungsi sekretariat Fungsi sekretariat bertanggung jawab dalam penerimaan cek dan surat pemberitahuan, fungsi sekretariat juga bertugas untuk membuat daftar surat pemberitahuan atas dasar surat pemberitahuan yang diterima bersama cek para debitur. b. Fungsi penagihan Fungsi penagihan bertanggung jawab melaksanakan penagihan piutang langsung kepada debitur berdasarkan daftar piutang yang telah diserahkan oleh fungsi akuntansi. c. Fungsi kas Fungsi kas bertanggung jawab atas penerimaan cek dari fungsi sekretariat atau dari fungsi penagihan. Fungsi kas juga memiliki tanggung jawab untuk menyetorkan kas yang telah diterima dari berbagai fungsi ke bank. d. Fungsi akuntansi Fungsi akuntansi bertanggung jawab untuk mencatat piutang yang timbul dari transaksi penjualan kredit dan membuat pernyataan piutang kepada para debitur. Fungsi akuntansi juga bertanggung jawab untuk mencatat harga pokok persediaan yang dijual kedalam kartu persediaan. e. Fungsi pemeriksa internal Fungsi pemeriksa internal bertanggung jawab dalam melaksanakan perhitungan kas yang ada di tangan fungsi kas secara periodik. Fungsi pemeriksa internal juga memiliki tugas untuk melakukan rekonsiliasi bank, memeriksa ketelitian catatan kas yang diselenggarakan oleh fungsi akuntansi. 2.2.10 Dokumen yang Terkait Penerimaan Kas 1. Sistem akuntansi penerimaan kas dari penjualan tunai Menurut Mulyadi (2014:463), Dokumen yang digunakan dalam sistem penerimaan kas dari penjualan tunai adalah sebagai berikut: a. Faktur penjualan tunai
22 b. Pita register kas c. Credit card sales slip d. Bill of loading e. Faktur penjualan COD f. Bukti setor bank g. Rekapitulasi harga pokok penjualan. 2. Sistem akuntansi penerimaan kas dari penjualan tunai Menurut Mulyadi (2014:488), Dokumen yang digunakan dalam sistem penerimaan kas dari piutang adalah sebagai berikut: a Surat pemberitahuan Dokumen ini dibuat oleh debitur untuk memberitahu maksud pembayaran yang dilakukannya. Surat pemberitahuan biasanya berupa tembusan bukti kas keluar yang dibuat oleh debitur, yang disertakan dengan cek yang dikirim oleh debitur melalui penagih perusahaan atau pos. b. Daftar surat pemberitahuan Merupakan rekapitulasi penerimaan kas yang dibuat oleh fungsi sekertariat dan penagihan. c. Bukti setor bank Dokumen ini dibuat oleh fungsi kas sebagai bukti penyetoran kas yang diterima dari piutang ke bank. d. Kuitansi Dokumen ini merupakan bukti penerimaan kas yang dibuat oleh perusahaan bagi para debitur yang telah melakukan pembayaran utang mereka. 2.2.11 Pengendalian Internal atas Penerimaan Kas Menurut Romney (2014:419), secara garis besar, terdapat beberapa penerapan prinsip pengendalian internal atas penagihan piutang : 1. Pemisahan tugas, orang yang menangani (setoran) pembaran dari pelanggan seharusnya tidak memposting pengiriman uang ke rekening pelanggan, membuat atau mengotorisasi memo kredit dan merekonsiliasi rekening bank
23 2. Penggunaan EFT, FEDI dan peti uang untuk meminimalkan penanganan pembayaran pelanggan oleh pegawai 3. Mendapatkan dan menggunakan sebuah UPIC untuk menerima pembayaran EFT dan FEDI dari para pelanggan 4. Segera setelah membuka surat, membuat daftar seluruh pembayaran yang diterima 5. Persetujuan yang segera dan terbatas atas seluruh pengecekkan pelanggan 6. Memiliki dua orang yang membuka seluruh surat yang mungkin berisi pembayaran pelanggan 7. Penggunaan mesin kasir 8. Setoran harian dari seluruh penerimaan kas 9. Pengaturan peti uang, EFT atau kartu kredit 10. Diskon atas pembayaran segera dari pelanggan 11. Anggaran arus kas. 2.3 Bagan Alir (Flowchart) Menurut Mulyadi (2014:57), bagan alir data adalah suatu model yang menggambarkan aliran data dan proses untuk mengolah data dalam suatu sistem. Simbol-simbol standar yang digunakan untuk menggambarkan bagan alir data disajikan pada tabel 2.1. Tabel 2.1 Simbol Bagan Alir Simbol Nama Keterangan Menggambarkan semua jenis dokumen, yang Dokumen merupakan formulir yang digunakan untuk merekam data terjadinya suatu transaksi. Menggambarkan 2 Faktur 1 Dokumen dan tembusannya dokumen asli dan tembusannya. Nomor lembar dokumen
24 Surat Muat 2 SOP 2 Faktur Penjualan Berbagai dokumen Catatan On-page connector Off-page connector Kegiatan manual dicantumkan disudut kanan atas. Menggambarkan berbagai jenis dokumen yang digabungkan bersama di dalam satu paket. Menggambarkan catatan Akuntansi yang digunakan untuk mencatatat data yang direkam sebelumnya didalam dokumen atau formulir. Simbol penghubung yang untuk memungkinkan aliran dokumen berhenti di suatu lokasi pada halaman tertentu dan kembali berjalan di lokasi lain pada halaman yang sama Menggambarkan bagan alir suatu sistem akuntansi jika lebih dari satu halaman. Menggambarkan kegiatan manual seperti: menerima order dari pembeli, mengisi formulir,
25 membandingkan, dan berbagai jenis kegiatan klerikal yang lain. Keterangan, komentar Arsip sementara Arsip permanen On-line computer process Keying (typing, verifying) Pita Magnetik Untuk menambahkan keterangan untuk memperjelas pesan yang disampaikan dalam bagan alir. Menunjukkan tempat penyimpanan dokumen yang tempat penyimpanannya sementara karena dokumennya akan digunakan kembali untuk diolah lebih lanjut. Menunjukkan tempat penyimpanan dokumen yang tidak akan di proses lagi dalam sistem akuntansi bersangkutan Menggambarkan pengolahan data dengan komputer secara on-line. Pemasukkan data kedalam kompute melalui on-line terminal. Menggambarkan arsip komputer yang berbentuk pita magnetik.
26 On-line storage Keputusan Garis alir Menggambarkan arsip komputer yang berbentuk on-line (di dalam memori komputer). Menggambarkan keputusan yang harus dibuat dalam proses pengelolaan data. Menggambarkan arah proses pengolahan data. Persimpangan garis alir Pertemuan garis alir Mulai/berakhir Jika dua garis alir bersimpangan, untuk menunjukkan arah masing-masing garis, salah satu garis dibuat sedikit meengkung. Jika terdapat dua alir bertemu dan salah satu garis mengikuti garis arus garis lainnya. Menggambarkan awal dan akhir suatu sistem akuntansi. Dari pemasok Masuk ke sistem Simbol yang dipergunakan untuk menggambarkan masuk ke sistem yang digambarkan bagan alir.
27 Ke sistem penjualan Keluar ke sistem lain Sumber: Mulyadi (2014:60) Simbol yang dipergunakan untuk menggambarkan keluar ke sistem lain. 2.4 Jurnal Penelitian Terdahulu Berdasarkan penelitian terdahulu mengenai Internal Control yang dilakukan oleh beberapa peneliti dengan variabel penelitian, jenis perusahaan yang berbeda, sehingga menghasilkan keterkaitan yang berbeda pula. Peneliti peneliti sebelumnya antara lain Shintia Chung (2015), Dewi Anggreini (2012), dan Giovanna Michelon, Saverio Bozzolan, Sergio E. Beretta (2015). Berikut adalah ringkasan dari penelitian terdahulu tentang pengendalian internal atas fungsi penjualan kredit, penagihan piutang, dan penerimaan kas yang menjadi dasar penelitian ini: Chung (2015) melakukan studi kasus dengan mengambil sampel pada PT. Jaya Kreasi Indonesia periode 2012-2014. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, dimana memberikan gambaran mengenai pengendalian internal atas fungsi penjualan, piutang dagang, dan penerimaan kas pada PT. Jaya Kreasi Indonesia dengan data yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengendalian internal. Berdasarkan Committee Of Sponsoring Organization (COSO) dan evaluasi prosedur yang berjalan di perusahaan sudah dilaksanakan dengan baik. Namun masih diperlukan perbaikan dalam pengendalian internal atas penjualan, piutang dagang, dan penerimaan kas PT. Jaya Kreasi Indonesia karena tidak sesuainya beberapa kriteria dengan kondisi diperusahaan. Anggreini (2012) melakukan penelitian pada PD. Palem Star Aluminium. Penelitian ini menggunakan teknik penelitian lapangan (field research) dan penelitian kepustakaan (library research). Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah siklus pendapatan. Berdasarkan hasil evaluasi yang telah dilakukan, pengendalian internal atas siklus pendapatan yang ada sudah berjalan efektif, efisien, dan ekonomis. Walaupun
28 masih terdapat beberapa kelemahan pada segi pengendalian organisasional, serta kurang optimalnya pengendalian asset, pengendalian dokumentasi dan pengendalian otorisasi yang telah dilakukan. Selain itu perusahaan juga belum memiliki standard operating procedure dan kebijakan akuntansi tertulis. Oleh karena itu, permasalahan yang terjadi perlu diperbaiki dengan melakukan perbaikan pada struktur organisasi dan perlu meningkatkan pengendalian asset, pengendalian dokumentasi, dan pengendalian otorisasi yang telah dilakukan. Serta menyusun standart operating procedure dan kebijakan akuntansi secara tertulis. Michelon, G., Bozzolan, S., Beretta, S. E.(2015) mempelajari pengungkapan Internal Control System (ICS) dari 149 perusahaan yang terdaftar diempat pasar keuangan Eropa (London, Paris, Frankfurt dan Milan) selama periode enam tahun (2003 2008). Terdapat temuan temuan yang mendukung hubungan terbalik antara tingkat pengungkapan ICS dan sebagai perwakilan dari dewan untuk memantau. Selain itu terdapat juga temuan mengenai hubungan negatif antara pemantauan dewan dan pengungkapan ICS formal. Temuan juga menunjukan bahwa peraturan yang dibuat memimpin hubungan antara pemantauan direktur deengan pengungkapan ICS dengan memperkenalkan pertukaran antara mekanisme pemantauan. Keterbatasan dari penelitian ini adalah hal tersebut tidak mengeksplorasi apa dan bagaimana investor menggunakan pengungkapan ICS untuk mengevaluasi perusahaan. Sehingga diusulkanlah kerangka kerja untuk menganalisa pengungkapan ICS yang mengatasi keterbatasan literatur sebelumnya yang telah mengabaikan pentingnya isi diluar tingkat pengungkapan ICS. Penelitian ini dibuat untuk memberikan bukti bahwa hubungan antara pemantauan direksi dan pengungkapan ICS bervariasi dengan isi informasi yang disampaikan, sehingga menawarkan bimbingan untuk penelitian dimasa depan tidak fokus pada mengukur sejauh mana atau dari kuantitas pengungkapan, tetapi pada berbagai kompleksitas informasi yang dikomunikasikan.