BAB I PENDAHULUAN. merupakan suatu proses yang dapat diprediksi. Proses

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Family Centered Care

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil uji validitas angket dengan riset partisipan perawat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sakit merupakan keadaan dimana terjadi suatu proses penyakit dan

BAB III METODE PENELITIAN. kemudian menelaah dua variabel pada suatu situasi atau. sekelompok subjek. Hal ini dilakukan untuk melihat hubungan

BAB I PENDAHULUAN. Bermain adalah pekerjaan anak-anak semua usia dan. merupakan kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan, tanpa

BAB I PENDAHULUAN. spesifik dan berbeda dengan orang dewasa. Anak yang sakit. hospitalisasi. Hospitalisasi dapat berdampak buruk pada

BAB I PENDAHULUAN. hidup mereka. Anak juga seringkali menjalani prosedur yang membuat. Anak-anak cenderung merespon hospitalisasi dengan munculnya

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan anak sakit dan hospitalisasi dapat menimbulkan krisis

BAB I PENDAHULUAN. suatu proses yang dapat diprediksi. Proses pertumbuhan dan. tumbuh dan kembang sejak awal yaitu pada masa kanak-kanak (Potter &

BAB I PENDAHULUAN. rumah sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungannya dengan upaya stimulasi yang dapat dilakukan, sekalipun anak

BAB 1 PENDAHULUAN. mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologis, sosial dan spiritual) yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Perawatan anak telah mengalami pergeseran yang sangat mendasar, anak sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN. oleh banyak faktor, baik faktor dari petugas (perawat, dokter dan tenaga

1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Setiap bayi memiliki pola temperamen yang berbeda beda. Dimana

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan motorik, verbal, dan ketrampilan sosial secara. terhadap kebersihan dan kesehatan.

Angket untuk Riset Partisipan Perawat

BAB I PENDAHULUAN. tidak lagi dipandang sebagai miniatur orang dewasa, melainkan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pada saat anak dirawat di rumah sakit, dampak. hospitalisasi pada anak dan keluarga tidak dapat dihindarkan.

BAB I PENDAHULUAN. kehamilan sampai dengan usia 18 tahun (IDAI, 2014). Anak merupakan individu

BAB 1 PENDAHULUAN. anak (Morbidity Rate) di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Nasiolnal

BAB 1 PENDAHULUAN. Keluarga merupakan orang terdekat dari seseorang yang mengalami

BAB I PENDAHULUAN. Anak merupakan seseorang yang memiliki rentang usia sejak anak dilahirkan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. memperkecil distres psikologis dan fisik yang diderita oleh anak-anak dan

BAB 1 PENDAHULUAN. bentuk krisis atau stressor utama yang terlihat pada anak. Anak-anak sangat rentan

BAB I PENDAHULUAN. kembang anak dipengaruhi oleh faktor bawaan (i nternal) dan faktor lingkungan.

BAB I PENDAHULUAN. World Health Organisation (WHO) tahun 2003 mendefinisikan sehat

BAB I PENDAHULUAN. Nasional (Susenas) tahun 2010 di daerah perkotaan menurut kelompok usia 0-4

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan keterbaruan penelitian.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II LANDASAN TEORI Hospitalisasi atau Rawat Inap pada Anak Pengertian Hospitalisasi. anak dan lingkungan (Wong, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Anak adalah individu unik yang mempunyai kebutuhan sesuai dengan

BAB I PENDAHULUAN. perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah (Supartini, 2004). Hospitalisasi

BAB I PENDAHULUAN. prosedur pembedahan. Menurut Smeltzer dan Bare, (2002) Pembedahan / operasi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. rentang perubahan perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja (Hidayat, adalah orang yang berada di bawah usia 18 tahun.

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat dunia (Potter & Perry, 2009). American Nurses Association

PERSEPSI PERAWAT TENTANG TERAPI BERMAIN DIRUANG ANAK RSUP DOKTER KARIADI SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 2004). Hospitalisasi sering menjadi krisis utama yang harus dihadapi anak,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Bab ini membahas aspek yang terkait dengan penelitian ini yaitu : 1.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Spiritualitas

BAB 1 PENDAHULUAN. lingkungan rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dalam perawatan atau

BAB 1 PENDAHULUAN. dan perilaku pada seseorang. Selain itu, individu mengalami keterbatasan

BAB I PENDAHULUAN. anak (Undang-Undang Perlindungan Anak, 2002).

BAB I PENDAHULUAN. diatasi. Bagi anak usia prasekolah (3-5 tahun) menjalani hospitalisasi dan

HUBUNGAN KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN SIKAP KOPERATIF ANAK USIA PRA SEKOLAH SELAMA PROSEDUR INJEKSI INTRAVENA DI RSUD PROF. DR.

Hubungan Family Centered Care Dengan Efek Hospitalisasi Pada Anak di Ruang Dahlia Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum, Semarang

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi dunia, seperti yang disampaikan oleh UNICEF sebagai salah. anak, perlindungan dan pengembangan anak (James, 2000).

BAB II LANDASAN TEORI Definisi Atraumatic Care

BAB l PENDAHULUAN. peningkatan jumlah anak di Indonesia. Hal ini memberi konsekuensi

BAB 1 PENDAHULUAN. kesempatan cukup untuk bermain akan menjadi orang dewasa yang mudah

BAB I PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan dasarnya dan untuk belajar mandiri, lingkungan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa anak prasekolah (3-5 tahun) adalah masa yang menyenangkan dan

BAB I PENDAHULUAN. mengurus anak, dan kerap kali harus berhubungan dan bergaul dengan anak-anak

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB V PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. Bab ini penulis membahas mengenai permasalahan tentang respon nyeri

BAB I PENDAHULUAN. Sistem pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Departemen Kesehatan (1988, dalam Effendy 1998)

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Perubahan gaya hidup menyebabkan terjadi pergeseran penyakit di

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Wong (2009) Masa kanak-kanak awal yaitu pada usia 3 6 tahun

BAB I PENDAHULUAN. Menjalani perawatan di rumah sakit (hospitalisasi) merupakan pengalaman

BAB I PENDAHULUAN. yang mengharuskan mereka dirawat di rumah sakit (Pieter, 2011). Berdasarkan survei dari Word Health Organization (WHO) pada tahun

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. asuhan keperawatan yang berkesinambungan (Raden dan Traft dalam. dimanapun pasien berada. Kegagalan untuk memberikan dan

BAB I PENDAHULUAN. dan menurun pada usia 10 tahun (Hoffbrand, 2005). Berdasarkan data tahun 2010 dari American Cancer Society, jumlah

BAB 1 PENDAHULUAN. memenuhi kebutuhan hidup. Sebagian aktivitas dan pekerjaan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. Keperawatan jiwa adalah proses interpersonal yang berupaya untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan krisis yang sering dimiliki anak. Anak-anak, terutama saat

BAB I PENDAHULUAN. sakit maupun sehat yang mencakup seluruh proses kehidupan manusia

BAB I PENDAHULUAN. maupun Negara berkembang dengan cara membuat sistem layanan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. adanya bahaya (Mulyono, 2008). Beberapa kasus kecemasan (5-42%),

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI DENGAN KEMANDIRIAN DALAM ACTIVITY of DAILY LIVING (ADL) PADA PASIEN DIABETES MELLITUS DI RSUD PANDAN ARANG BOYOLALI

BAB I PENDAHULUAN. tersebut menjadi faktor stressor bagi anak baik terhadap anak maupun orang tua

BAB I PENDAHULUAN. Pasien dengan penyakit kronis pada stadium lanjut tidak hanya mengalami

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Family Centered Care

BAB I PENDAHULUAN. di rumah sakit. Anak biasanya merasakan pengalaman yang tidak menyenangkan

Hasil Uji Validitas. Corrected Item- No. Total Correlation Penyataan (r hitung)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. al., 2005; Hockenberry, 2005). Perpisahan dengan orang tua, kehilangan kontrol,

BAB I PENDAHULUAN. TBC, AIDS, leukemia, dan sebagainya (Fitria, 2010). ketakutan, ansietas, kesedihan yang menyeluruh (Potter & Perry, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perawatan pada anak telah mengalami pergeseran dan kemajuan yang

BAB I PENDAHULUAN. ketidaktahuan keluarga maupun masyarakat terhadap jenis gangguan jiwa

BAB I PENDAHULUAN. kualitas yang melayani, sehingga masalah-masalah yang terkait dengan sumber

BAB 1 PENDAHULUAN. deskriminasi meningkatkan risiko terjadinya gangguan jiwa (Suliswati, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kecemasan merupakan perasaan yang timbul akibat ketakutan, raguragu,

BAB 1 PENDAHULUAN. secara mandiri dan mengatur sendiri kebutuhannya sehingga individu. membutuhkan orang lain (Potter & Perry, 2005).

BAB 1 PENDAHULUAN. dimana dalam memberikan pelayanan menggunakan konsep multidisiplin.

BAB 1 PENDAHULUAN. organisme hidup saling berinteraksi. Dalam memberikan asuhan

BAB I PENDAHULUAN. bio-psiko-sosio-spritual-kutural. Asuhan keperawatan yang diberikan harus

BAB 1 PENDAHULUAN. krisis karena anak mengalami stres akibat perubahan baik terhadap status

BAB I PENDAHULUAN. pengertian antara pemberi informasi dengan penerima informasi. mendapatkan pengetahuan (Taylor, 1993 dalam Uripni, dkk. 2003).

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat (Sumijatun, 2009). Salah satu bagian integral dari pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh karena anak tidak memahami mengapa harus dirawat,

BAB 1 PENDAHULUAN. Spiritualitas merupakan sesuatu yang di percayai oleh seseorang dalam

BAB I PENDAHULUAN. Hospitalisasi anak merupakan suatu proses karena suatu alasan yang

JURNAL PENELITIAN KEPERAWATAN

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pencapaian pertumbuhan dan perkembangan manusia merupakan suatu proses yang dapat diprediksi. Proses pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui oleh manusia bersifat individual yang dipengaruhi oleh kesehatan individu secara holistik. Sebagai suatu proses, pertumbuhan dan perkembangan berlangsung secara bertahap, artinya pertumbuhan dan perkembangan pada suatu tahap mempengaruhi tahap selanjutnya. Oleh karena itu, untuk mencapai keberhasilan dalam setiap tahap pertumbuhan dan perkembangan perlu adanya pemahaman tentang tumbuh dan kembang sejak awal yaitu pada masa kanak kanak (Potter & Perry, 2005). Menurut Potter & Perry (2005) pertumbuhan dan perkembangan yang optimal pada usia kanak kanak, dipengaruhi oleh status kesehatan yang baik. Status kesehatan yang baik digambarkan dengan keadaan yang sehat dan bebas dari penyakit. Status kesehatan yang buruk, dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak dan berpengaruh hingga anak itu dewasa. Dalam kondisi sakit, terkadang anak diharuskan untuk menjalani perawatan di rumah sakit. Proses ini disebut dengan hospitalisasi. Pada proses hospitalisasi, anak cenderung mengalami kecemasan

karena takut terhadap lingkungan rumah sakit, prosedur tindakan atau bahkan kematian, perpisahan, keterbatasan privasi dan melakukan kegiatan rutinitas (Wong, 2008). Berdasarkan hasil observasi peneliti saat melakukan praktik pada bulan Januari-April 2010 di ruang Dahlia Rumah Sakit Panti Citarum Semarang, anak yang merasa cemas karena hospitalisasi cenderung untuk bereaksi menangis, berteriak dan tidak mau disentuh oleh perawat. Rasa cemas pada anak juga dialami orangtua sehingga orangtua menjadi bertanya, tidak percaya, marah, merasa bersalah, takut bahkan meminta agar perawat menghentikan terapi yang akan diberikan, misalnya meminta perawat untuk melepas infus karena tidak tega melihat anak mereka yang menangis terus menerus. Hal ini menggambarkan rasa cemas pada anak dan orangtua dapat menghambat proses perawatan selama di rumah sakit sehingga mempengaruhi proses penyembuhan. Menurut Wong (2008:764), kecemasan yang dirasakan oleh orangtua dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan tentang prosedur tindakan dan keseriusan penyakit yang diderita anak. Perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan yang selama 24 jam mendampingi pasien harus memberikan kontribusi dalam perannya sebagai pemberi perawatan terutama membantu anak dan keluarga untuk memperoleh pengalaman positif selama

hospitalisasi. Perawat anak harus memiliki pemahaman yang lebih dalam mengenai pertumbuhan dan perkembangan untuk merencanakan asuhan keperawatan yang sesuai sehingga membantu anak dan keluarga untuk beradaptasi dengan kondisi yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan baik eksternal maupun internal (Potter&Perry, 2005). Dalam praktik keperawatan anak, asuhan keperawatan yang diterapkan berdasarkan pada filosofi keperawatan anak. Filosofi keperawatan anak merupakan keyakinan atau pandangan yang dimiliki oleh perawat untuk memberikan pelayanan kepada anak. Salah satunya adalah Family Centered Care (perawatan yang berfokus pada keluarga). Family Centered Care menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dalam memberikan perawatan pada anak di rumah sakit (Hidayat, 2005:1). Konsep Family Centered Care tidak hanya untuk perawatan anak dengan kebutuhan khusus namun digunakan juga untuk perawatan anak dengan kondisi kritis dan kronis (Shelton dkk, 1987). Hal ini dikarenakan, elemen penting dari Family Centered Care adalah hubungan kerjasama yang merupakan pengembangan dari keterlibatan orang tua dan partisipasi orang tua untuk perawatan anak. Hutchfield (1999) menyampaikan beberapa pendapat ahli bahwa melalui kerjasama antara orangtua dan perawat, diharapkan orangtua dapat mengembangkan sikap

menghargai, negosiasi dan komunikasi yang akan mengurangi efek hospitalisasi pada anak dan orangtua sehingga konsep Family Centered Care dapat diterapkan dalam berbagai kondisi anak dengan perawatan di rumah sakit. Penelitian Dunst dan Trivette (2009), menunjukan penerapan konsep Family Centered Care dalam praktik keperawatan, memperlakukan keluarga dengan penuh perhatian, menyampaikan informasi kepada keluarga agar mereka memahami tentang kondisi dan perawatan anak mereka, melibatkan partisipasi orang tua dalam pembuatan keputusan dan perawatan anak, serta kerjasama antara orang tua dan perawat. Family Centered Care adalah perawat melibatkan keluarga saat melakukan tindakan keperawatan. Penelitian di atas menunjukan bahwa peran perawat terhadap berfungsinya konsep Family Centered Care sangat vital. Namun dalam penelitian tentang persepsi dan praktik perawat tentang Family Centered Care yang dilakukan pada 124 orang perawat ditemukan bahwa walaupun perawat memiliki pengetahuan tentang konsep Family Centered Care, tapi dalam laporannya mereka tidak mempraktikan konsep tersebut (Bruce dan Ritchie, 1997). Menurut Potter (2005), persepsi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal. Perbedaan

persepsi antara individu yang berinteraksi dapat menjadi kendala dalam berkomunikasi. Komunikasi interpersonal yang dimaksudkan tidak hanya antara perawat dan klien tetapi juga perawat dan orang tua. Perawat tidak hanya berperan sebagai pemberi pelayanan kesehatan tetapi menjalankan peran lainnya yang penting, misalnya sebagai komunikator. Kualitas komunikasi yang diterapkan perawat dalam perannya sebagai komunikator merupakan faktor yang menentukan dalam memenuhi kebutuhan individu, keluarga dan komunitas. Sebagai komunikator, perawat menjelaskan tentang perawatan anak di rumah sakit kepada orang tua serta peran orang tua dalam perawatan tersebut. Peran orangtua dalam konsep Family Centered Care adalah berpartisipasi dalam proses perawatan anak di rumah sakit. hasil penelitian terhadap 16 orangtua di China mengenai pengalaman orangtua dalam perawatan anak di rumah sakit menunjukan bahwa keinginan orangtua untuk berpartisipasi dalam perawatan anak sangatlah besar, oleh karena itu dibutuhkan dukungan komunikasi dan emosional dari perawat selama keterlibatan mereka dalam perawatan anak di rumah sakit (Lam dkk, 2006). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Darbyshire (dalam Hutchfield, 1999), ditemukan bahwa perawatan anak di rumah sakit tidak hanya menyebabkan trauma pada anak tetapi bisa menyebabkan stres yang luar biasa pada orang tua. Hal ini

disebabkan karena perawat tidak berkomunikasi dengan baik kepada orangtua tentang perawatan anak mereka di rumah sakit. Oleh karena itu, perlu adanya kedekatan antara orang tua dan anak terutama saat anak melakukan perawatan di rumah sakit. Hal ini juga ditunjang dengan hasil amatan yang diperoleh peneliti saat melakukan praktik klinik keperawatan anak di Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang pada bulan Januari 2010. Hasil amatan menunjukan ketika perawat melakukan tindakan keperawatan, perawat meminta orang tua mendampingi anak. Keberadaan orang tua dapat memberikan kenyamanan bagi anak karena saat anak berada di rumah sakit reaksi yang muncul adalah rasa cemas, nyeri karena tindakan yang diberikan, kehilangan atau perpisahan. Oleh karena itu dibutuhkan figur lekat yakni orang tua untuk berpartisipasi dalam proses perawatan anak di rumah sakit misalnya menyuapi anak saat makan, memandikan anak, memangku anak saat akan diberikan injeksi atau pemasangan infus. Tetapi, pada kenyataannya partisipasi yang diharapkan oleh perawat untuk orang tua tidak berjalan maksimal demikian pula sebaliknya perawatan maksimal yang diharapkan orang tua dari perawat dianggap tidak memenuhi kebutuhan anak. Peneliti melihat reaksi orang tua yang anaknya dirawat di ruang Dahlia Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang, biasanya orang tua merasa cemas, takut dan frustasi. Reaksi ini

biasanya berhubungan dengan keseriusan penyakit dan jenis prosedur yang dilakukan terhadap anak mereka. Menurut Wong (2008), kecemasan biasanya berkaitan dengan trauma atau nyeri yang dialami oleh anak mereka sedangkan frustasi timbul karena kurangnya informasi mengenai prosedur dan pengobatan, ketidaktahuan tentang prosedur dan aturan rumah sakit, rasa tidak diterima oleh perawat atau takut mengajukan pertanyaan. Melihat pentingnya peran perawat dalam menerapkan konsep Family Centered Care di rumah sakit maka pada latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk mengetahui hubungan antara Family Centered Care dengan efek hospitalisasi anak di ruang Dahlia Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang. 1.2. Identifikasi Masalah 1.2.1. Berdasarkan hasil observasi peneliti saat melakukan praktik pada Bulan Januari-April 2010 di ruang Dahlia Rumah Sakit Panti Citarum Semarang, anak yang merasa cemas karena hospitalisasi cenderung untuk bereaksi menangis, berteriak, tidak mau disentuh oleh perawat. Tidak hanya pada anak, rasa cemas juga dialami orangtua yang ditunjukan dengan marah, frustasi, lebih sering bertanya, tidak percaya dengan pelayanan yang diberikan oleh perawat, merasa bersalah atau takut sehingga meminta agar perawat menghentikan

terapi yang akan diberikan misalnya meminta perawat untuk melepas infus karena tidak tega melihat anak mereka yang menangis. 1.2.2. Hasil amatan menunjukan perawat mengharapkan keterlibatan orangtua dalam melakukan asuhan keperawatan seperti menyuapi anak saat makan, memandikan anak, memangku anak saat akan diberikan injeksi atau pemasangan infus. Karena, keterlibatan orangtua dapat memberikan kenyamanan bagi anak dan mengurangi efek hospitalisasi seperti rasa cemas, nyeri karena tindakan yang diberikan, kehilangan atau perpisahan. Namun, peran orangtua yang diharapkan oleh perawat tidak berjalan dengan maksimal sebaliknya orangtua juga menganggap perawat tidak mampu menjalankan perannya dengan maksimal. 1.3. Batasan masalah 1.3.1. Family Centered Care (perawatan yang berfokus pada keluarga) merupakan suatu pendekatan yang digunakan dalam merencanakan, mengimplementasikan dan mengevaluasi tindakan keperawatan yang akan diberikan kepada pasien dengan melibatkan partisipasi orangtua atau keluarga. Pendekatan ini dilakukan karena lingkungan

keluarga berpengaruh terhadap kesehatan anak. Keluarga tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik dari anak tetapi juga memenuhi kebutuhan terhadap dukungan emosional dan stimulasi intelektual yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. 1.3.2. Hospitalisasi merupakan proses perawatan yang dialami oleh anak yang sedang sakit. Saat sakit, anak merasa cemas terhadap perpisahan dengan orangtua, takut dengan tindakan pengobatan yang menyakitkan serta perpisahan dengan rutinitas15 dan kemandirian. Kecemasan yang dirasakan anak, seringkali diungkapkan melalui sikap menangis, menarik diri, dan marah. Respon anak yang ditunjukan ini, juga membuat orangtua merasa cemas dan takut sehingga mempengaruhi proses perawatan anak di rumah sakit. Apabila orangtua merasa cemas dan takut, maka orangtua tidak bisa merawat anak mereka dengan baik sehingga anak juga akan merasakan cemas dan takut. 1.4. Rumusan Masalah : Hubungan antara Family Centered Care dengan efek hospitalisasi pada anak di ruang Dahlia Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang.

1.5. Tujuan penelitian 1.5.1. Mengetahui gambaran penerapan atau aplikasi konsep Family Centred Care di ruang Dahlia Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang. 1.5.2. Mengetahui gambaran efek hospitalisasi pada anak di ruang Dahlia Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang. 1.5.3. Mengetahui hubungan antara Family Centered Care dengan efek hospitalisasi pada anak di ruang Dahlia Rumah Sakit Panti Wilasa Citarum Semarang. 1.6. Manfaat penelitian: 1.6.1. Manfaat teoretis Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang keperawatan anak agar menambah informasi bagi mahasiswa dalam memberikan perawatan kepada anak untuk meningkatkan derajat kesehatan klien. 1.6.2. Manfaat praktis 1.6.2.1. Bagi Perawat Sebagai informasi bagi perawat tentang konsep Family Centered Care agar meminimalkan efek hospitalisasi pada anak dengan memperhatikan peran keluarga.

1.6.2.2. Bagi Rumah Sakit Memberikan informasi kepada untuk Rumah Sakit agar meningkatkan penerapan konsep Family Centered Care saat memberikan pelayanan kepada anak dan keluarga saat anak dirawat di rumah sakit. 1.6.2.3. Bagi peneliti Memperluas wawasan peneliti mengenai konsep Family Centered care untuk perawatan anak di rumah sakit. Selain itu, menambah pengalaman peneliti sehingga mampu menangani masalah perawatan anak di rumah sakit yang salah satunya menggunakan konsep Family Centered Care.