HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
METODOLOGI PENELITIAN

3 METODOLOGI PENELITIAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 6 PEMBAHASAN 6.1 Diskusi Hasil Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 PENELITIAN PENDAHULUAN

Bab V Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia telah mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan.

Bab IV Data dan Hasil Pembahasan

Bab V Hasil dan Pembahasan. Gambar V.10 Konsentrasi Nitrat Pada Setiap Kedalaman

A. BAHAN DAN ALAT B. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN

TINJAUAN PUSTAKA. Ekosistem air terdiri atas perairan pedalaman (inland water) yang terdapat

BAB I PENDAHULUAN. pencemaran yang melampui daya dukungnya. Pencemaran yang. mengakibatkan penurunan kualitas air berasal dari limbah terpusat (point

BAB 5 PENGOLAHAN AIR LIMBAH DENGAN PROSES FILM MIKROBIOLOGIS (BIOFILM)

BAB I PENDAHULUAN. dari proses soaking, liming, deliming, bating, pickling, tanning, dyeing,

KAJIAN PENGGUNAAN BIJI KELOR SEBAGAI KOAGULAN PADA PROSES PENURUNAN KANDUNGAN ORGANIK (KMnO 4 ) LIMBAH INDUSTRI TEMPE DALAM REAKTOR BATCH

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. perkebunan dan domestik (Asmadi dan Suharno, 2012). limbah cair yang tidak ditangani dengan semestinya. Di berbagai tempat

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB VI HASIL. Tabel 3 : Hasil Pre Eksperimen Dengan Parameter ph, NH 3, TSS

BAB I PENDAHULUAN. permintaan pasar akan kebutuhan pangan yang semakin besar. Kegiatan

Buku Panduan Operasional IPAL Gedung Sophie Paris Indonesia I. PENDAHULUAN

BAB 3 TEKNOLOGI PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK

BAB I PENDAHULUAN. mengganggu kehidupan dan kesehatan manusia (Sunu, 2001). seperti Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Barat,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

penambahan nutrisi berupa lumpur sebanyak ± 200 ml yang diambil dari IPAL

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan. Kebutuhan yang utama bagi terselenggaranya kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. berdampak positif, keberadaan industri juga dapat menyebabkan dampak

I. PENDAHULUAN. kacang kedelai yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Selain

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

BAB I PENDAHULUAN. limbah yang keberadaannya kerap menjadi masalah dalam kehidupan masyarakat.

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Batik merupakan suatu seni dan cara menghias kain dengan penutup

BAB I PENDAHULUAN. masalah, salah satunya adalah tercemarnya air pada sumber-sumber air

HASIL DAN PEMBAHASAN

PENANGANAN LIMBAH CAIR KILANG PENGOLAHAN KAYU DENGAN SISTEM RECYCLING

II. PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK GEDUNG SOPHIE PARIS INDONESIA

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya pertumbuhan dan aktivitas masyarakat Bali di berbagai sektor

PENURUNAN KADAR BOD, COD, TSS, CO 2 AIR SUNGAI MARTAPURA MENGGUNAKAN TANGKI AERASI BERTINGKAT

Mukhlis dan Aidil Onasis Staf Pengajar Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Padang

BAB I PENDAHULUAN. hidup. Namun disamping itu, industri yang ada tidak hanya menghasilkan

BAB 1 PENDAHULUAN. air dapat berasal dari limbah terpusat (point sources), seperti: limbah industri,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. salju. Air tawar terutama terdapat di sungai, danau, air tanah (ground water), dan

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

LAMPIARAN : LAMPIRAN 1 ANALISA AIR DRAIN BIOFILTER

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Kulit jadi merupakan kulit hewan yang disamak (diawetkan) atau kulit

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Perubahan Kualitas Air. Segmen Inlet Segmen Segmen Segmen

PENENTUAN KUALITAS AIR

PELAKSANAAN KEGIATAN BIDANG PENGENDALIAN KERUSAKAN PERAIRAN DARAT TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

Lampiran 1 Hasil analisa laboratorium terhadap konsentrasi zat pada WTH 1-4 jam dengan suplai udara 30 liter/menit

BAB I PENDAHULUAN. tempe gembus, kerupuk ampas tahu, pakan ternak, dan diolah menjadi tepung

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB PENGOLAHAN AIR LIMBAH INDUSTRI TEPUNG BERAS

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB VI PEMBAHASAN. 6.1 Ketaatan Terhadap Kewajiban Mengolahan Limbah Cair Rumah Sakit dengan IPAL

Pengolahan Limbah Cair Industri secara Aerobic dan Anoxic dengan Membrane Bioreaktor (MBR)

1 Security Printing merupakan bidang industri percetakan yang berhubungan dengan pencetakan beberapa

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Masalah Air Limbah Rumah Sakit

PERANAN MIKROORGANISME DALAM SIKLUS UNSUR DI LINGKUNGAN AKUATIK

TINJAUAN PUSTAKA. memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif seperti hewan. Inti

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Variasi Konsentrasi Limbah Terhadap Kualitas Fisik dan Kimia Air Limbah Tahu

BAB III LANDASAN TEORI

PEMANFAATAN BIJI ASAM JAWA (TAMARINDUS INDICA) SEBAGAI KOAGULAN ALTERNATIF DALAM PROSES PENGOLAHAN AIR SUNGAI

BAB III PROSES PENGOLAHAN IPAL

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DENGAN KANDUNGAN AMONIAK TINGGI SECARA BIOLOGI MENGGUNAKAN MEMBRANE BIOREACTOR (MBR)

BAB IV TINJAUAN SUMBER AIR BAKU AIR MINUM

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Plankton. Ima Yudha Perwira, SPi, Mp

BAB 12 UJI COBA PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK INDIVIDUAL DENGAN PROSES BIOFILTER ANAEROBIK

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI PERMEN

BAB I PENDAHULUAN. tetapi limbah cair memiliki tingkat pencemaran lebih besar dari pada limbah

HASIL DA PEMBAHASA. Tabel 5. Analisis komposisi bahan baku kompos Bahan Baku Analisis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. bahan-bahan yang ada dialam. Guna memenuhi berbagai macam kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. industri berat maupun yang berupa industri ringan (Sugiharto, 2008). Sragen

PENURUNAN KONSENTRASI CHEMICAL OXYGEN DEMAND (COD)

PROSES PENGOLAHAN AIR SUNGAI MENJADI AIR MINERAL

Mn 2+ + O 2 + H 2 O ====> MnO2 + 2 H + tak larut

BAB I PENDAHULUAN. serius. Penyebabnya tidak hanya berasal dari buangan industri pabrikpabrik

BAB VI PEMBAHASAN. Denpasar dengan kondisi awal lumpur berwarna hitam pekat dan sangat berbau. Air

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: ( Print) D-22

BAB 4 SIKLUS BIOGEOKIMIA

I. PENDAHULUAN. Limbah berbahaya adalah limbah yang mempunyai sifat-sifat antara lain

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB I. PENDAHULUAN. Statistik (2015), penduduk Indonesia mengalami kenaikan sebesar 1,4 %

Peningkatan Kualitas Air Tanah Gambut dengan Menggunakan Metode Elektrokoagulasi Rasidah a, Boni P. Lapanporo* a, Nurhasanah a

BAB I PENDAHULUAN. mil laut dengan negara tetangga Singapura. Posisi yang strategis ini menempatkan

BAB V ANALISA DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Gurami ( Osphronemus gouramy ) adalah salah satu ikan air tawar bernilai

Transkripsi:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Air Baku Aliran Sungai Cihideung Air baku merupakan sumber air bersih yang dapat berasal dari air hujan, air tanah, air danau, dan air sungai. Air sungai merupakan salah satu jenis air permukaan yang menjadi sumber air baku dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup. Air sungai dari aliran sungai Cihideung merupakan sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Institut Pertanian Bogor. Suplai air baku untuk Institut Pertanian Bogor berasal dari dua aliran sungai yaitu sungai Cihideung dan sungai Ciapus, kedua sumber air baku tersebut diolah terlebih dahulu di Water Treatment Plan milik IPB. Pada penelitian ini sampel air baku yang digunakan berasal dari air sungai Cihideung. Air Sungai Cihideung yang telah diolah di WTP IPB disuplai ke Fakultas Kehutanan dan Peternakan. Kemudian dari Fakultas Kehutanan IPB di salurkan lagi ke daerah/ gedung sekitarnya termasuk FATETA, begitu pula dengan air baku yang disuplai ke Fakuktas Peternakan. Laju alir produksi air bersih di setiap WTP Cihideung perharinya mencapai 7.5 L/ detik, namun bila tingkat kekeruhan air baku meningkat terlalu tinggi maka laju alir produksi dapat terganggu. Tabel 3 menunjukkan hasil analisa sifat fisik air baku sungai Cihdeung. Berdasarkan hasil analisa di Laboratorium tingkat kekeruhan dan TSS sungai Cihideung berbedabeda ketika hujan dan panas terik. Tingkat kekeruhan dan TSS pada saat hujan lebih tinggi dibandingkan saat cerah. Tabel 3. Kondisi fisik air sungai Cihideung pada cuaca berbeda Kondisi TSS (mg/l) Kekeruhan Warna (PtCo) Ph (FTU) Hujan 148 16 55 4.5 Cerah 39 6 283 6.9 Kondisi ini diakibatkan karena pada hujan endapan di dasar air berlonjak keatas dan kotororankotoran disekitar sungai ikut terbawa arus sehingga tingkat kekeruhan sangat tinggi begitu pula dengan TSS dan warna pada air baku. Oleh karena itu, pada saat hujan, kebutuhan koagulan untuk mengendapkan atau menyisihan padatan terlarut dan tidak terlarut semakin meningkat. 4.2 Proses Aklimatisasi Sebelum dilakukan pengamatan kualitas air baku terhadap pengaruh waktu kontak pada penggunaan fixed bed reactor dengan menggunakan media batu apung, batu apung perlu mengalami proses aklimatisasi. Proses aklimatisasi yaitu menumbuhkan mikroorganisme pada batu apung yang nantinya akan mendegradasi bahanbahan organik dan anorganik. Proses aklimatisasi dibutuhkan untuk adaptasi mikroba, sehingga pada saat pengujian pengaruh kualitas air baku terhadap perbedaan waktu kontak, batu apung yang digunakan dalam fixed bed reactor

telah ditumbuhi mikroorganisme yang akan mendegradasi polutan. Mikroorganisme dapat tumbuh atau melekat pada batu apung hingga membentuk lapisan berupa biofilm, karena di dalam air sungai terkandung unsurunsur/ substrat yang dibutuhkan untuk hidup dan tumbuh kembangnya mikroorganisme, seperti N dari ammonium dan P dari senyawa phosphat. Ammoniak akan berubah menjadi ammonium didalam air sesuai dengan persamaa reaksi NH 3 + H 2 O NH 4 + O 2. Pada proses nitrifikasi dengan bantuan mikroorganisme ammoium akan berubah menjadi nitrit dan kemudian menjadi nitrat, berikut ini adalah tahapan dari nitirfikasi yang dapat dibagi ke dalam dua tahapan, yaitu: 1. Tahap nitritasi, merupakan tahap oksidasi ion ammonium (NH 4 + ) menjadi ion nitrit (NO 2 ) oleh bakteri Nitrosomonas, melalui reaksi berikut ini: NH 4 + + 1 ½ O 2 NO 2 + H 2 O + 2,75 KJ Nitrosomonas 2. Tahap nitrasi merupakan tahap oksidasi ion nitrit menjadi ion nitrat (NO 3 ) oleh bakteri Nitrobacter dengan melalui reaksi berikut ini: NO 2 + 1 ½ O 2 NO 3 + 75 KJ Nitrobacter Secara keseluruhan proses nitrifikasi adalah sebagai berikut: NH 4 + + 2O 2 NO 3 +2 H + H 2 O Jadi konsentrasi ammonium (NH 4 + ) dan nitrat (NO 3 ) akan berbanding terbalik selama proses nitrifikasi dalam fixed bed reactor. Pada penelitian ini proses aklimatisasi dilakukan selama tiga minggu dengan waktu tinggal 4 jam (laju alir sebesar 4.5 L/jam), tiga hari dengan waktu tinggal 2 jam (laju alir sebesar 9 L/jam), dan lima hari dengan waktu tinggal 1 jam (laju alir sebesar 18 L/jam). Perubahan waktu tinggal pada saat proses aklimatisasi dilakukan untuk mendapatkan data pengaruh peningkatan laju alir terhadap penurunan bahan organik atau peningkatan kualitas air baku. Selama proses aklimatisasi setiap minggu output/ efluent air dari bioreaktor dianalisa kandungan bahan organik, anorganik, dan sifat fisik air baku. Hasil dari efluent diamati penurunan atau perubahannya, perubahan tersebut kemudian dikaitkan dengan proses tumbuh lekatnya mikroorganisme di media batu apung. Gambar 13 berikut ini adalah hasil pengujian ammoinum selama proses aklimatisasi..12 T= 4 jam T=2 jam T= 1 jam Konsentrasi NH 4 + (mg/l).1.8.6.4.2 influent efluent 1 2 3 4 Waktu (hari)

Gambar 13. Grafik konsentrasi NH 4 + pada masa aklimatisasi Berdasarkan Gambar 13, konsentrasi ammonium semakin lama semakin menurunkan hingga hampir mencapai konsentrasi mg/l, sedangkan konsentrasi NO 3 terus meningkat hingga waktu tinggal hidrolik diturunkan menjadi 2 jam (Lampiran 6), hal ini disebabkan karena beban hidrolik yang masuk meningkat. Grafik peningkatan konsentrasi NO 3 dapat dilihat pada Gambar 14. hal ini menunjukkan bahwa media dalam fixed bed reactor yaitu batu apung telah ditumbuhi oleh bakteri Nitrosomonas dan Nitrobacter (terbentuk biofilm) yang berfungsi untuk mengubah ammonium menjadi nitrat setelah melalui proses nitrifikasi. Konsentrasi NO 3 (mg/l) 16 14 12 1 8 6 4 2 T= 4 jam T=2 jam T= 1 jam 1 2 3 4 Waktu (hari) influent efluent Gambar 14. Grafik konsentrasi NO 3 pada masa aklimatisasi Peningkatan NO 3 mengalami perubahan pada saat waktu tinggal diturunkan menjadi 2 jam dan 1 jam begitu juga dengan penurunan NH + 4. Hal ini diakibatkan karena beban yang masuk ke dalam bioreaktor meningkat sehingga mikroorganisme yang terdapat dalam biofilm di batu apung mengalami tekanan dan perlu beradaptasi lagi. Salah satu variabel kontrol agar terjadi degradasi senyawa organik adalah oksigen terlarut (DO/ Dissolve Oxigen). Proses degradasi akan berjalan dengan baik apabila DO air di dalam fixed bed reactor >1 mg/l (Widayat et al., 21). Pada akhir proses aklimatisasi atau sehari sebelum pengujian konsentrasi DO pada fixed bed reactor beraerasi ini mencapai 6.3 mg/l. Hal ini menandakan bahwa proses degradasi terjadi di dalam fixed bed reactor dengan media batu apung. Selain penurunan amoniak dan hubungannya dengan peningkatan konsentrasi NO 3 dan konsentrasi DO, pada tahap aklimatisasi ini juga diamati peningkatan kualitas air baku. Peningkatan kualitas air baku dapat dilihat dari penurunan TSS, kekeruhan, dan warna pada effluen. Penurunan TSS, tingkat kekeruhan, dan warna dapat dilihat pada Gambar 15, 16, dan 17. pada Gambar 15 dapat dilihat bahwa TSS air baku setelah melewati fixed bed reactor terus menurun hingga hari ke 24 sedangkan setelah itu konsentrasi TSS meningkat begitu juga pada tingkat kekeruhan dan warna. Hal ini terjadi karena laju alir/ debit air ditingkatkan sehingga waktu tinggal air dalam fixed bed reactor menjadi 1 jam. Pada perubahan waktu kontak dari 4 jam menjadi 2 jam peningkatan laju beban tidak terlalu berbeda nyata, bila dibandingkan dengan

peningkatan beban dengan waktu kontak sebesar 1 jam. Maka semakin tinggi laju alir yang masuk mengakibatkan laju beban yang masuk juga meningkat sehingga effiensi penurunan bahan organik menurun. TSS (mg/l) 16 14 12 1 8 6 4 2 T= 4 jam T=2 jam T= 1 jam 1 2 3 4 Waktu (hari) influent efluent Gambar 15. Grafik penurunan TSS pada masa aklimatisasi Kekeruhan (FTU) 18 16 14 12 1 8 6 4 2 T= 4 jam T=2 jam T= 1 jam 1 2 3 4 Waktu (hari) influent effluent Gambar 16. Grafik tingkat kekeruhan pada masa aklimatisasi

6 T= 4 jam T=2 jam T= 1 jam 5 Warna (PtCo) 4 3 2 1 influent efluent 1 2 3 4 Waktu (jam) Gambar 17. Grafik warna pada masa aklimatisasi 4.3 Pengaruh Waktu Kontak Terhadap Penurunan Bahan Organik, Amoniak, Total Suspended Solid (TSS) dan Kekeruhan Setelah terbentuk biofilm pada media batu apung atau bakteri yang berperan dalam proses nitrifikasi ini diduga tumbuh, tahap selanjutnya dilakukan pengamatan kualitas air baku terhadap pengaruh waktu tinggal air sungai dalam fixed bed reactor dengan media batu apung. Pengamatan atau analisa sampel dilakukan setiap 1 jam hingga jam ke 7, kemudian jam ke24, jam ke 27, jam ke 3, dan jam ke 48. Pengamatan dilakukan hingga jam ke 48 dilakukan untuk melihat apakah pada jam ke 48 kualitas air akan semakin meningkat dengan bantuan batu apung. Peningkatan kualitas air baku ini dapat dilihat secara fisik maupun penyisihan senyawa organik seperti KMnO 4 dan senyawa anorganik seperti amoniak dan phosphat. 4.3.1 Pengaruh Waktu Kontak Pada Peningkatan Sifat Fisik Air Baku Kualitas fisik dari air sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Karakter fisik air meliputi kekeruhan, total padatan tersupensi (TSS), dan warna. Sifat fisik air ini lebih berpengaruh kepada estetika yang ditampilkan. Bila warna air pekat, tingkat kekeruhan dan TSS tinggi maka orangorang enggan untuk menggunakan air tersebut bahkan sudah tidak layak untuk dilihat. Kekeruhan, TSS, dan warna memiliki kaitan yang sangat erat. Sehingga penurunan tingkat kekeruhan diikuti dengan penurunan TSS dan warna. Kekeruhan air dapat ditimbulkan karena adanya bahanbahan anorganik dan organik yang terkandung di dalam air seperti lumpur dan bahan yang dihasilkan oleh buangan industri ataupun domestik. Zat tersuspensi yang berada di dalam air juga terdiri dari berbagai macam zat sama halnya dengan penyebab kekeruhan, hanya saja TSS berfungsi untuk mengukur jumlah atau konsentrasi padatan yang tersuspensi di dalam air, sedangkan kekeruhan mengamati padatan secara umum yang tidak terlihat oleh mata. Warna air juga dapat

ditimbulkan oleh kehadiran organisme atau bahanbahan tersuspensi yang berwarna dan oleh ekstrak senyawasenyawa organik dan juga tumbuhtumbuhan. Tingginya tingkat kekeruhhan dan TSS juga mengindikasi terdapatnya padatan tersuspensi seperti sel mikroorganisme dan senyawa organik yang larut dalam air. Sehingga sifat fisik ini perlu ditingkatkan kualitasnya, salah satu caranya yaitu dengan menggunakan fixed bed reactor bermedia batu apung. Data yang diperoleh dari pengujian air baku dalam fixed bed reactor bila diihat dari karakteristik fisik air pada berbagai waktu kontak dapat dilihat pada Gambar 18, 19, dan 2. 7 8 Kekeruhan (FTU) 6 5 4 3 2 1 7 6 5 4 3 2 1 efisiensi (%) 1 2 3 4 5 6 Waktu (jam) efluent efisiensi (%) Gambar 18. Tingkat kekeruhan pada berbagai waktu kontak TSS (mg/l) 5 45 4 35 3 25 2 15 1 5 1 2 3 4 5 6 8 7 6 5 4 3 2 1 efisiensi (%) Waktu (jam) efluent efisiensi (%) Gambar 19. Penurunan TSS pada berbagai waktu kontak

Warna (PtCo) 4 35 3 25 2 15 1 5 1 2 3 4 5 6 Waktu (jam) efluent efisiensi (%) 7 6 5 4 3 2 1 efisiensi (%) Gambar 2. Penurunan kepekatan warna pada berbagai waktu kontak Berdasarkan data yang didapat kekeruhan, TSS, dan warna terus menurun. Semakin lama waktu kontak air maka semakin tinggi tingkat kualitas air bakunya. Namun selang satu hari yaitu setelah 24 jam kekeruhan, TSS, dan warna mengalami penurunan efisiensi penyisihan kekeruhan dari 62 % menjadi 59%, efisiensi penyisihan TSS dari 65% menjadi 54%, dan efisiensi penyisihan warna 59% ke 57%. Namun, di menit berikutnya efisiensi penyisihan dari ketiganya meningkat kembali. Hal ini dapat disebabkan dengan perubahan suhu yang terjadi disekitarnya. Secara umum penyisihan kekeruhan, TSS, dan warna turun secara tajam hingga jam ke 7 dan pada hari berikutnya efisiensi penyisihan dianggap lebih landai. Hasil dari pengolah fixed bed reactor ini belum memenuhi baku mutu yang ditetapkan oleh PP No.2 Tahun 199 sebagai air bersih, oleh karena itu butuh pengolahan lanjutan seperti Water Treatment Plan. 4.3.2 Pengaruh Waktu Kontak Terhadap Penyisihan Senyawa Organik Zat organik dapat disisihkan secara biologi, yang dipengaruhi oleh beberapa variabel yaitu oksigen terlarut (DO), waktu kontak, jenis dan jumlah mikroorganisme pengurai (Bitton, 1994). Bakteri heterotrof memanfaatkan senyawa atau zat organik untuk dijadikan sumber energinya. Pada penelitian ini senyawa yang mewakili adanya kandungan bahan organik di air adalah kalium permanganat (KMnO 4 ). Grafik di bawah ini menunjukkan penurunan senyawa organik, penurunan senyawa organik menurun secara tajam hingga waktu kontak jam ke 3 dan kemudian terus menurun tapi tidak secara drastis atau lebih ke arah stabil. Penurunan senyawa organik dengan waktu kontak 3 jam mencapai efisiensi penurunan sebesar 3%. Selama 2 hari efisiensi penurunan bahan organik hanya meningkat 3 %.

Konsentrasi senyawa organik (KMnO 4 (mg/l) 18 16 14 12 1 8 6 4 2 5 1 15 2 25 3 Waktu (jam) efluent efisiensi (%) 35 3 25 2 15 1 5 efisiensi (%) Gambar 21. Konsentrasi bahan organik (KMnO 4 ) pada berbagai waktu kontak Berdasarkan standar mutu air yang ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) No.2 Tahun 199, batas senyawa organik KMnO 4 pada air golongan A (yaitu air yang dapat langsung diminum tanpa pengolahan terlebih dahulu) memiliki kadar maksimum 1 mg/l (lihat Lampiran 1). Sedangkan penelitian ini adalah proses pengolahan air baku yang nantinya akan di olah menjadi air golongan B yaitu air yang menjadi air baku untuk air minum atau air bersih. Pengujian kimia organik pada sampel air baku menggunakan analisa KMnO 4, karena KMnO 4 dapat mengukur dengan konsentrasi kecil. Sedangkan pengujian COD hanya dapat menguji kimia organik dengan konsentrasi tinggi. Senyawa organik yang terkandung dalam air baku sungai Cihideung setelah melaui fixed bed reactor tidak ada yang melebihi 2 mg/l dan kemudian akan semakin menurun hingga konsentrasi 1.917 mg/l. 4.3.3 Pengaruh Waktu Kontak Terhadap Penyisihan Amoniak Senyawa amoniak ini akan menjadi ammonium bila berada di dalam air. Ammonium akan berkurang akibat adanya proses nitrifikasi. Penguraian amoniak pada proses nitrifikasi dapat dilakukan oleh bakteri autotrof maupun heterotrof. Pengujian konsentrasi NH 4 + (ammonium) dilakukan dengan cara Kjeldahl atau distilasi namun ternyata cara ini hanya mampu menganalisa nilai NH 4 + dengan konsentrasi besar. Sedangkan setelah dianalisa nilai NH 4 + yang didapat tidak terlalu berbeda nyata dengan meningkatnya waktu kontak. Berikut ini adalah (Gambar 22) hasil analisa NH 4 + dengan metoda Kjeldahl:

3 konsentrasi NH4+ (mg/l) 2 1 efluent 2 4 6 8 waktu (jam) Gambar 22. konsentrasi NH 4 + pada berbagai waktu kontak + Dari data pengujian ammonium penurunan NH 4 tidak terlalu terlihat dan cenderung stabil. Namun konsentrasi ammonium diduga menurun akibat adanya proses nitrifikasi di dalam bioreaktor. Proses nitrifikasi ini mengubah ammonium menjadi nitrit dan kemudian diubah menjadi nitrat. Kandungan nitrat pada air baku hasil pratreatment juga di analisis dengan menggunakan metode brushin. Pada Gambar 23 terlihat adanya peningkatan konsentrasi nitrat seiring dengan meningkatnya waktu tinggal hidrolik. Hal ini menunjukkan bahwa di dalam bioreaktor terjadi proses nitrifikasi. Konsentrasi NO 3 (mg/l) 18 16 14 12 1 8 6 4 2 1 2 3 4 5 6 Waktu (jam) efluent Penambahan (%) Gambar 23. konsentrasi NO 3 pada berbagai waktu kontak 35 3 25 2 15 1 5 5 Penambahan (%) Konsentarasi nitrat terus meningkat dengan efisiensi peningkatan sebesar 33%. Sama seperti data lainnya (Lampiran 7), konsentrasi nitrat meningkat tajam hingga jam ke 7 dan cenderung konstan setelah 24 jam hingga hari berikutnya. Peningkatan

konsentrasi nitrat dapat juga disebabkan karena adanya suplai oksigen ke dalam bioreaktor, sehingga terjadi reaksi seperti di bawah ini: NO 2 +1/2 O 2 NO 3 NH 4 + +2O 2 NO 3 + 2H + + H 2 O Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) No.2 Tahun 199, Batas maksimum nitrat dalam N pada air golongan B tidak boleh melebihi 1 mg/l. Pada pengujian ini nitrat NO 3 yang dianalisis dalam bentuk nitrat total. Nitrat dalam N bila dikonversi menjadi konsentrasi nitrat total maka akan di dapat batas NO 3 total sebesar 44,286 mg/l, jadi batas maksimum NO 3 total adalah 44,286 mg/l. Nilai konsentrasi nitrat total yang dihasilkan dari pengolahan fixed bed reactor <17 mg/l hal ini menunjukkan bahwa kadar nitrat hasil pengolahan masih memenuhi standar baku mutu air golongan B. 4.4 Pertumbuhan Mikroorganisme Pada Media Batu Apung Peran mikroorganisme sangat penting dalam mengurangi kandungan organik dan organik dalam air baku. Oleh karena itu dalam sistem fixed bed reactor khususnya pada media batu apung harus menciptakan kondisi agar bakteri dan mikroorganisme lainnya dapat memakan zat organik dalam air limbah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan zat hara (nutrien) yang elemen utamanya adalah nitrogen, phosphor atau zat besi. Secara keseluruhan, nitrogen dijumpai dalam nitrogem organis, amoniak, nitrit, dan nitrat (Hindarko, 23). Oleh karena itu untuk mendeteksi tumbuhnya mikroorganisme yang tumbuh untuk mendegradasi zat organik sampel air dianalisa kandungan phosphor di dalamnya. Phospor dalam hal ini merupakan substrat yang semakin lama akan habis digunakan mikroorganisme untuk melakukan metabolisme. Berikut ini adalah grafik PO 4 3 dengan berbagai waktu kontak pada sistem fixed bed reactor. Konsentrasi PO 4 3 (mg/l) 4.5 4 3.5 3 2.5 2 1.5 1.5 1 2 3 4 5 6 Waktu (jam) efluent efisiensi (%) 1 8 6 4 2 2 efisiensi (%) Gambar 24. Konsentrasi PO 4 3 setiap jam pada fixed bed reactor 3 Gambar 24 menunjukan adanya penurunan PO 4 yang menandakan adanya 3 mikroorganisme yang mengkonsumsi PO 4 untuk tumbuh kembangnya di dalam fixed bed

reactor. Kandungan phospor ini cukup berpengaruh dalam peningkatan kualitas air baku, bila kandungan phospor di dalam air permukaan tidak terkontrol, maka phosphor merupakan nutrien bagi tumbuhan seperti eceng gondok, ganggang, apuapu, dll, sehingga permukaan air tersebut dipenuhi tumbuhan air. Hal ini dapat mengganggu kegiatan pelayaran, perikanan, dan turisme, oleh karena itu kandungan phospor diberbagai tempat dibatasi yaitu antara 4 15mg/L. Di dalam PPRI No.2/199, mengenai baku mutu air limbah, kandungan phospor ini belum diatur, tetapi perlu dipahami jenis phospor yang ada beserta sifatsifatnya (Tabel 4), agar dapat mengantisipasi dampak yang akan ditimbulkan terhadap lingkungan dan unit pengolahan yang akan mengolah air tersebut. Tabel 4. Berbagai bentuk senyawa Phospor (sumber: Hindarko, 23) No. Ortho Phosphat PolyPhosphat Organic Phosphat 1 Dihasilkan oleh Selalu mengalami Banyak dipakai metabolisme biologis hidrolisis menjadi dalam bentuk: PO 3 4, HPO 2 4,H 2 PO 4, H 3 PO 4 2 Molekulnya tersusun dari atom P,O,H dalam bentuk yang komplek, sehingga tidak mengalami penguraian lebih lanjut 3 Kadarnya dapat ditentukan dengan menambahkan senyawa ammonium molybdate, yang dapat membentuk warna yang komplek dengan phosphat tersebut orthophophat, dalam suatu proses lambat sebagai bahan baku untuk IPAL air limbah, dan proses lanjutan lumpur yang dihasilkan Untuk menentukan Untuk menentukan kadarnya, rubah kadarnya, ubah dulu dulu menjadi orthophosphat menjadi ortho dengan phosphat dengan membubuhkan membubuhkan sejenis sejenis asam asam pencerna pencerna Berdasarkan hasil analisa phosphat pada air baku yang telah diolah terlebih dahulu di dalam fixed bed reactor yaitu dengan cara penambahan senyawa ammonium molybdate konsentrasi phosphat <5 mg/l dan terus menurun hingga.325 mg/l (Gambar 24) dengan tingkat efisiensi penyisihan 9%, penghitungan nilai efisiensi ini dapat dilihat pada Lampiran 8. Hal ini juga menandakan bahwa unsur hara berupa phosphat dimakan oleh mikroorganisme pendegradasi zat organik. Mikroorganisme merupakan faktor yang penting terhadap proses biologis, baik dalam penyisihan zat organik maupun dalam proses nitrifikasi. Berdasarkan penelitian Widayat (21) bakteri Basilus subtilis, Clostridium, dan Proteus sp diidentifikasi sebagai pengurai senyawa organik, sedangkan pengurai amoniak dalam proses nitrifikasi mikroorganisme yang berperan yaitu Nitrosomonas dan Nitrobacter.

4.5 Analisis Kebutuhan Koagulan Bahan koagulan biasa digunakan untuk pengolahan air sungai baik di PDAM maupun pengolahan air lainnya seperti WTP (Water Treaatment Plan). Prinsip kerjanya yaitu padatan yang terlarut di dalam air akan berikatan dengan bahan koagulan dan kemudian akan terjadi proses koagulasiflokulasi. Bahan koagulan yang biasa digunakan adalah Al 2 (SO 4 ) 3 atau tawas, namun saat ini penggunaan tawas mulai tergantikan dengan PAC (Poly Alumunium Chloride) karena harga PAC yang lebih murah dan PAC dianggap lebih effisien dalam melakukan koagulasi (lihat Tabel 1). Penelitian kali ini akan membandingkan pemakaian PAC di WTP Cihideung milik IPB setelah dan sebelum dilakukan pratreatment dengan menggunakan fixed bed reactor bermedia batu apung. Kemudian dihitung biaya yang dapat dihemat untuk pembelian bahan koagulan ini. Spesifikasi PAC yang digunakan pada WTP Cihideung dapat dilihat pada Lampiran 9. Pemakaian PAC di WTP Cihideung juga bergantung pada kondisi air baku. Bila musim hujan tingkat kekeruhan meningkat hingga mencapai >1 FTU, sedangkan pada musim kemarau kekeruhan air baku < 5 FTU. Dosis optimum PAC yang digunakan berkisar antara,2,7 ml/l, namun dosis ini hanya dapat digunakan bila kekeruhan < 5 FTU, sedangkan bila kekeruhan >5 FTU dosis optimum PAC >,7 ml/l dan bila kekeruhan mencapai 1 FTU dosis optimum PAC yang digunakan dapat mencapai,3 ml/l. Pada penelitian ini, dilakukan uji jar test untuk menentukan dosis optimum PAC pada konsentrasi air baku yang berbedabeda, yaitu air baku diencerkan menggunakan aquades dengan perbandingan 1:1, 1:3, dan 1:4 sehingga tingkat kekeruhan, TSS, dan warna pada sampel air baku menjadi berbeda pula. Dalam alat Jar Test terdapat enam wadah (Lampiran 2), satu wadah sebagai kontrol dan wadah lainnya dijalankan dengan konsentrasi PAC yang berbedabeda. Wadah kontrol tidak diberi perlakuan apapun baik pemberian PAC maupun aerasi (pengadukan). Kecepatan aerasi yang digunakan dalam Jar Test sebesar 45 rpm dan dijalankan selama 3 menit. Setelah impeler dalam alat Jar Test berhenti berputar wadah yang berisikan sampel didiamkan selama 3 menit untuk menurunkan flokflok yang terbentuk seperti pada Gambar 25. (a) (b) Gambar 25. Pengendapan padatan dengan koagulan (PAC) (a. Sebelum diendapkan, b. Setelah diendapkan) Berdasarkan hasil uji jar test diketahui bahwa pada tingkat kekeruhan, TSS, dan warna yang berbeda akan membutuhkan volume koagulan (PAC) yang berbeda juga. Hasil uji jar test dapat dilihat pada Gambar 26, 27, dan 28. Grafik pada Gambar 26, 27, dan 28 bila dapat

diplotkan ke grafik lain yang menunjukkan dosis optimum PAC pada tingkat kekeruhan yang berbeda (Gambar 29). 4 35 Kekeruhan (FTU) 3 25 2 15 1 5.2.4.6.8.1 Konsentrasi PAC (ml/l) Tanpa pengenceran pengenceran 1:1 pengenceran 1:3 pengenceran 1:4 Gambar 26. Grafik pengaruh Konsentrasi PAC terhadap tingkat kekeruhan 3 25 TSS (mg/l) 2 15 1 5 Tanpa pengenceran pengenceran 1:1 pengenceran 1:3 pengenceran 1:4.2.4.6.8.1 Konsentrasi PAC (ml/l) Gambar 27. Grafik pengaruh Konsentrasi PAC terhadap TSS

25 2 Warna (PtCo) 15 1 5 Tanpa pengenceran pengenceran 1:1 pengenceran 1:3 pengenceran 1:4.2.4.6.8.1 Konsentrasi PAC (ml/l) Gambar 28. Grafik pengaruh Konsentrasi PAC terhadap warna air baku.6 Dosis optimum PAC ml/l.5.4.3.2.1 5 1 15 2 25 3 35 4 Kekeruhan (FTU) Gambar 29. Dosis optimum PAC pada air dengan berbagai tingkat kekeruhan Dari grafik di atas dapat dibuktikan bahwa semakin tinggi kekeruhan pada air maka akan semakin tinggi konsentrasi PAC yang dibutuhkan, data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 1. Pada saat pengambilan sampel cuaca di sekitar sungai Cihideung sedang cerah, sehingga tingkat kekeruhan sampel yang diteliti pada uji jar test dimulai dari 37 FTU dan kemudian air baku (air sungai Cihideung) diencerkan dengan akuades, perbandingan pengenceran air sungai dengan akuades yaitu 1:1 yang menghasilkan nilai kekeruhan sebesar 14 FTU; 1:3 menghasilkan nilai kekeruhan sebesar 1 FTU ; dan 1:4 menghasilkan nilai kekeruhan sebesar 5 FTU. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5 dan Tabel 6.

Tabel 5. Konsentrasi PAC optimum pada tingkat kekeruhan berbeda kekeruhan (FTU) konsentrasi PAC optimum ml/l 37.5 14.1 1.5 5.5 Tabel 6. Konsentrasi PAC optimum pada TSS berbeda TSS (mg/l) konsentrasi PAC optimum ml/l 25.4 12.1 8.5 3.5 Bila dianalisa penghematan pemakaian dan biaya yang dikeluarkan untuk bahan koagulan dengan cara perhitungannya yang terdapat pada Lampiran 11, didapat bahwa penghematan PAC setelah melalui pratreatment air baku dengan menggunakan fixed bed reactor bermedia batu apung mencapai,16 ml/l bila dilihat dari penurunan tingkat kekeruhan,,12 ml/l bila dilihat dari penurunan TSS. Penghematan penggunaan PAC juga berdampak pada penurunan biaya produksi air bersih, penurunan biaya produksi di WTP Cihideung akibat pratreatment menggunakan sistem fixed bed reactor dapat mencapai Rp12.441.6, per bulan. Selain pemakaian koagulan seperti PAC, ada bahan kimia lainnya yang berkaitan dalam menurunkan bahan organik dan anorganik terlarut yaitu klor. Senyawa klor adalah salah satu disinfektan yang paling banyak dalam pengolahan air minum dan air buangan. Klor sebagai bahan disinfektan dapat menyebabkan kerusakan pada sel bakteri yaitu kerusakan kemampuan permeabilitas sel, asam nukleat dan enzim. Selain sebagai disinfektan klor juga digunakan sebagai oksidator, mengurangi bau dan rasa pada air. Bila air baku telah diolah terlebih dahulu seperti pada penelitian ini yaitu pratreatment dengan memanfaatkan media batu apung sebagai media pada fixed bed reactor, hasil dari pratreatment ini dapat menurunkan kandungan anorganik (ammonium) dan organik (BOD, COD, dan KMnO 4 ) sehingga pada tahap disinfektan, pemakaian senyawa klor dapat diminimisasi.