BAB I BAB 1 PENDAHULUAN

dokumen-dokumen yang mirip
VOLUME 5 No. 1, 22 Desember 2015 Halaman 1-80

4. Pengisian dan pengelolaan data perawatan dan rekam medis

BAB 7 PENUTUP. belum semuanya mengikuti pelatihan kegawatdaruratan. Untuk staf. administrasi IGD, rekam medik dan brankar man belum bertugas 24 jam.

PANDUAN PENUNDAAN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT PUPUK KALTIM BONTANG

prioritas area yang akan dilakukan adalah sebagai berikut: No Prioritas Area Indikator Standart 1. Kemampuan menangani life saving anak dan dewasa

EVALUASI KINERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) PATUT PATUH PATJU KABUPATEN LOMBOK BARAT TAHUN 2015

BAB 3 ANALISIS SISTEM BERJALAN. permasalahan, penyebab permasalahan, dan pemecahan permasalahan. Sumber data

BAB I PENDAHULUAN. yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana

PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Rumah Sakit Sumber Waras. Naya pada tahun Diatas tanah ± 619 hektar dijalan tangerang (sekarang

BAB I PENDAHULUAN. nyata penyediaan layanan publik di bidang kesehatan adalah adanya rumah

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat menjadi lebih selektif dalam memilih jasa pelayanan dari suatu rumah

BAB I PENDAHULUAN. bidang jasa kesehatan dimana Rumah Sakit selalu dituntut untuk memiliki

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia industri kesehatan terdiri dari beberapa jenis yaitu pelayanan klinik, puskesmas, dan rumah sakit.

BAB 1 PENDAHULUAN. mempunyai peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

PROSEDUR PENERIMAAN PASIEN RAWAT JALAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang dilaksanakan

BAB III METODOLOGI. Dokumentasi berupa data harian, bulanan, dan tahunan yang dilakukan di Rumah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. diselenggarakan oleh pemerintah dan atau masyarakat yang berfungsi untuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

SIMULASI ALIRAN PASIEN RAWAT INAP UNTUK MENGURANGI BOTTLENECK

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan. Pada dasarnya kesehatan merupakan suatu hal yang sangat

BAB 1 PENDAHULUAN. dimana salah satu upaya yang dilakukan oleh rumah sakit adalah mendukung rujukan

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

PENDAHULUAN. derajat kesehatan dilakukan dengan berbagai upaya salah satunya dengan

BAB I PENDAHULUAN. menggunakan jasa yang sama secara berulang dan membuat komitmen untuk. merekomendasikannya secara positif kepada orang terdekatnya.

BAB I BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Penilaian pelayanan di RSUD AM Parikesit menggunakan indikator pelayanan kesehatan, adapun data indikator pelayanan dari tahun yaitu :

BAB I PENDAHULUAN. 269/Menkes/Per/III/2008 adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN. dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan

LAMPIRAN. 1. Hasil wawancara dengan pihak RSUD untuk pengumpulan data Narasumber : Dr. Herlina Jabatan : Dokter Umum. No Pertanyaan Jawaban

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. untuk pasien yang membutuhkan perawatan akut atau mendesak. (Queensland

Lampiran 1. Struktur organisasi RSUD dr. Pirngadi Kota Medan

A. Latar Belakang Masalah Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat

BAB I PENDAHULUAN. luas terhadap perkembangan sosial ekonomi dan pendidikan masyarakat. Dengan semakin majunya pendidikan masyarakat ditambah dengan

BAB I PENDAHULUAN. tahun 2009). Dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan kesehatan,

BAB I PENDAHULUAN. menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang

MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Perbedaan jenis pelayanan pada:

PROSEDUR PENERIMAAN PASIEN RAWAT JALAN. Nomor Dokumen SOP-RM-001 Nomor Revisi 004 Halaman 1 s/d 2 PROSEDUR TETAP. Tanggal Terbit : 1 Desember 2012

DAFTAR DOKUMEN APK BERDASARKAN ELEMEN PENILAIAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Pemaparan RAPAT KERJA PENYUSUNAN RKAP TAHUN BUKU 2017 RS PELABUHAN MEDAN. Medan, September 2016

BAB 1 PENDAHULUAN. yang dikembangkan melalui rencana pembangunan kesehatan. Sehingga

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

ANALISIS AKAR MASALAH PANJANGNYA WAKTU TUNGGU PROSES ADMINISTRATIF PEMULANGAN PASIEN RAWAT INAP

pengendalian dan pengawasan seluruh obat di rumah sakit berada dibawah tanggung jawab instalasi farmasi rumah sakit (JCI, 2011). Penyediaan obat-obat

BAB 1 : PENDAHULUAN. dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Berlakunya Undang-Undang Nomor 14

Indikator Wajib pengukuran kualitas pelayanan keesehatan di FKRTL. Indikator Standar Dimensi Input/Proses l/klinis 1 Kepatuhan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

NOTULEN. Peserta rapat : Tim Akuntabilitas Kinerja: - Kepala Bagian - Kepala Bidang - Kasubag - Kasi KEGIATAN RAPAT

BAB I PENDAHULUAN. menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. 1. pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.

BAB 1 : PENDAHULUAN. juga untuk keluarga pasien dan masyarakat umum. (1) Era globalisasi yang menjadi

LAPORAN. RS JIWA PROF. Dr. SOEROJO MAGELANG

BAB 1 PENDAHULUAN. asuransi sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhan dasar kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang. menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

BAB 1 PENDAHULUAN. yang profit maupun yang non profit, mempunyai tujuan yang ingin dicapai melalui

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan tantangan yaitu peningkatan persaingan dalam berbagai upaya. Salah

NAMA SKPD VISI MISI TUGAS POKOK FUNGSI. a. Penyelenggaraan pelayanan medis

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB V PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

BAB I PENDAHULUAN. agar staf medis di RS terjaga profesionalismenya. Clicinal governance (tata kelola

BAB I PENDAHULUAN. oleh karena itu rumah sakit dituntut untuk meningkatkan mutu. pelayanan kesehatan demi kepuasan masyarakat yang menggunakan

KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Di dalam rumah sakit. terdapat suatu Unit Rekam Medis yang merupakan komponen

Perihal : Proposal Penawaran Sistem Informasi Rumah Sakit/Klinik (SIMKES) GRATIS

BAB 3 ANALISA KECENDERUNGAN INTERNAL

BAB I PENDAHULUAN. menuntut tiap organisasi profit dan non profit untuk saling berkompetisi

BAB 1 PENDAHULUAN. investasi dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pembangunan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien (Peraturan Menteri

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan. Salah satu tujuan primer rekam kesehatan/rekam medis. berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat. Unsur terpenting dalam organisasi rumah sakit untuk dapat mencapai

BAB 1 PENDAHULUAN. kompleks. Undang-undang Rumah Sakit Nomor 44 tahun 2009 rumah sakit

PROFIL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TARAKAN JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur

BAB I PENDAHULUAN. Manajemen pada hakekatnya adalah proses pengambilan keputusan dalam. kemampuan manajemen menggunakan informasi tersebut.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. pemerintah memiliki aktivitas yang berupaya untuk memelihara kesejahteraan dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. of Hospital Care yang dikutip Azwar (1996) mengemukakan beberapa

BAB 1 : PENDAHULUAN. yaitu pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. (1,2)

BAB I PENDAHULUAN. Umum dan Dokter Spesialis, dimana dokter spesialis yang tersedia diantaranya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mencari dan menerima pelayanan kedokteran dan tempat pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit adalah sarana kesehatan yang menyelenggarakan. pelayanan kesehatan secara merata, dengan mengutamakan upaya

BAB I PENDAHULUAN. Sedangkan Luas Bangunan Rumah Sakit terdiri dari 2 Lantai Gedung, yaitu : Lantai Bawah : 5.721,71 m 2 Lantai Atas : 813,84 m 2

PEMAPARAN RAPAT KERJA TAHUN Rumah Sakit Pelabuhan Medan

BAB 1 PENDAHULUAN. menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. dan Undang-undang No. 36 tahun 2010 tentang kesehatan, membawa

BAB 1 PENDAHULUAN. ketika berobat ke rumah sakit. Apalagi, jika sakit yang dideritanya merupakan

BAB I PENDAHULUAN. dua jenis pelayanan kepada masyarakat yaitu pelayanan kesehatan dan pelayanan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. No.269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis bab III pasal 5 yang

PROPOSAL PENGEMBANGAN SIMRS

BAB 1 PENDAHULUAN. PERMENKES RI Nomor: 159b/Menkes/Per/II/1988 disebutkan bahwa setiap

Transkripsi:

BAB 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit selalu berusaha melayani kesehatan masyarakat dengan performa terbaiknya, namun tidak semua rumah sakit mampu melayani pasien dengan efektif dan efisien. Berdasarkan observasi dan evaluasi sasaran mutu rumah sakit, beberapa pasien dan pihak rumah sakit mengalami gangguan administratif maupun operasional. Gangguan ini antara lain keterlambatan tenaga kerja (perawat, dokter), lamanya waktu pembayaran, kapasitas ruangan tidak tercukupi, kekurangan perawat, dan lain-lain. Pemetaan alur pasien (patient flow) diperlukan untuk mengetahui sumber permasalahan tersebut. Berdasarkan The Health Foundation (Silva, 2013) alur pasien yang buruk dapat merugikan pasien, mengurangi kepuasan pasien dan menambah biaya karena kurang efisien dalam menggunakan sumber daya karyawan. Pemetaan ini dilakukan agar dapat merepresentasikan dengan kondisi yang sebenarnya sehingga solusi tepat guna. Kriteria rumah sakit yang berkualitas adalah memiliki potensi tertinggi yang mewakili regional, jumlah tempat tidur minimal sebesar 200 tempat tidur, reputasi rumah sakit di segmen pasar, kualitas pelayanan, dan potensi masa depan (Andayani, 2014) dan RS Bethesda merupakan salah satu rumah sakit di Yogyakarta yang memiliki kriteria rumah sakit tersebut. Berdasarkan Kementerian Kesehatan RI (2013) dan Peraturan Menteri Kesehatan RI (2010), RS Bethesda merupakan rumah sakit tipe B non pendidikan terakreditasi di provinsi DIY dimana dinyatakan lulus akreditasi tahap III untuk 16 pelayanan tercatat tanggal 8 Desember 2010. RS Bethesda memiliki spesifikasi tenaga kerja: (1) dokter umum 26 orang, (2) dokter spesialis 59 orang, (3) dokter gigi 3 orang, (4) perawat 642 orang, (5) paramedis non perawat 122, (6) orang non medis 423 orang. RS Bethesda yang berkualitas dan terakreditasi masih tidak luput dari inefisiensi kerja. Berdasarkan wawancara dengan narasumber, observasi pendahuluan, dan evaluasi 1

2 laporan rekam medis, RS Bethesda masih belum mampu memenuhi standar mutu yang ditetapkan pihak eksekutif rumah sakit. Dengan demikian perlu diadakan pengoptimalan untuk inefisiensi kerja di RS Bethesda. RS Bethesda memiliki 2 alur pasien yaitu rawat inap dan rawat jalan. Rawat jalan memiliki alur yang lebih sederhana namun berulang sehingga sering terjadi perputaran pasien yang tidak perlu dalam suatu lokasi tertentu. Rawat inap dibandingkan dengan rawat jalan memiliki alur yang lebih panjang dan lebih rumit sehingga menimbulkan berbagai masalah, diantaranya bottleneck di dalam sistem. Faktor terjadinya bottleneck adalah bed occupancy rate (BOR) dan length of stay (LOS). BOR menunjukkan tingkat pemakaian kamar di rumah sakit. Jika BOR tinggi hampir dipastikan terjadi bottleneck di kamar, farmasi rawat inap, hingga proses kepulangan pasien. BOR yang tinggi menunjukkan jumlah pasien yang tinggi sehingga dapat terjadi penumpukan atau antrian di beberapa lokasi selain kamar. LOS menunjukkan lama tinggal pasien di rumah sakit. Lama tinggal pasien dipengaruhi oleh peningkatan kondisi kesehatan pasien dan keputusan dokter untuk memulangkan pasien. LOS yang tinggi ditambah dengan jumlah pasien yang tinggi meningkatkan kemungkinan terjadinya bottleneck. Berdasarkan wawancara dan observasi, rata - rata BOR di RS Bethesda adalah 71,33% dengan kisaran 67,75% 75,94%. Artinya, sekitar 370 dari 440 kamar terpakai dan terjadi secara siklis. BOR mulai meninggi di bulan Januari hingga Mei kemudian menurun di bulan Juni sampai Juli. Nilai BOR yang terendah terjadi selama 2 bulan, sebelum masa lebaran. Masa pada saat lebaran bisa meningkatkan BOR karena kota Yogyakarta adalah tujuan mudik sehingga bisa memperpadat penduduk untuk sementara. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya BOR kembali, yang berakibat pada terjadinya bottleneck. Waktu tunggu yang lama dan jumlah antrian yang panjang juga merupakan indikasi adanya bottleneck. Antrian panjang sering terlihat di farmasi rawat inap dan proses pendaftaran pasien yang mencakup admisi, radiologi, dan laboratorium PK. Berdasarkan observasi, waktu tunggu di farmasi berkisar 5 menit sampai 2 jam dengan rata rata 1 jam. Waktu tunggu di radiologi rata rata adalah 30 menit

3 dengan kisaran 5 menit sampai 1,5 jam, waktu tunggu admisi hanya berkisar 30 detik sampai 21 menit dengan rata rata 2 menit. Pada proses pendaftaran, pasien mendaftar dan memilih kamar melalui admisi. Kemudian pasien masuk ke radiologi untuk pengambilan foto rontgen dan diambil darahnya untuk diproses di lab. Dalam radiologi, pasien mendaftarkan dirinya di loket pendaftaran radiologi. Pasien menunggu mesin siap atau mengantri pasien yang lain. Antrian dapat terjadi karena waktu proses pengambilan foto untuk MRI dan USG cukup lama dan pasien yang mendaftar lebih banyak dari yang terfasilitasi. Antrian dalam radiologi dapat mempengaruhi jam masuk pasien ke dalam kamar. Semakin lama waktu di dalam radiologi semakin lama pula waktu pasien untuk masuk kamar. Proses kepulangan pasien (discharge) dimulai dari dokter menyatakan pasien bisa pulang. Namun dapat terjadi masalah seperti di bagian farmasi untuk retur obat dan tambahan obat untuk dibawa pulang menurut resep dokter. Proses pembayaran juga akan memakan waktu yang lama jika pasien tidak siap membayar atau menggunakan asuransi. Jika ada keterlambatan dalam proses proses tersebut, akan terjadi domino effect yang menambah waktu keterlambatan di lokasi lain. Keterlambatan kepulangan pasien ini akan berdampak pada pasien baru yang menunggu ruangan untuk dirawat. Pasien pasien tersebut harus menunggu kamar siap dan semakin menambah antrian kamar yang tidak perlu. Di dalam farmasi terdapat antrian yang panjang dan waktu tunggu pelayanan yang lama. Antrian di dalam farmasi rawat inap berupa kartu obat. Kartu obat datang dari masing masing paviliun rawat inap dan waktu kedatangan sangat beragam tergantung dari jam dokter visit. Farmasi rawat inap ini melayani instalasi rawat inap, ICU, PICU/NICU, PSA, dan lain lain. Farmasi sudah menerapkan prioritas order dari ICU, pasien pulang, hingga pasien biasa, namun antrian dan waktu tunggu pelayanan masih sangat lama. Adanya antrian ini disebabkan karena jumlah pasien yang besar menyebabkan banyaknya kartu obat dan tidak seimbangnya jumlah pekerja dengan jumlah kartu obat yang akan dilayani. Waktu pembayaran juga sering terjadi bottleneck. Untuk pembayaran, pasien dapat membayar sendiri atau dengan asuransi. Pembayaran dengan asuransi

4 memakan waktu yang lama karena membutuhkan konfirmasi dari 2 pihak. Proses konfirmasi ini seringkali lebih lama dari standar waktu sasaran mutu karena ada gangguan administrasi seperti kesalahan intrepretasi, perubahan kebijakan dari pihak asuransi, perubahan tagihan, kesalahan pencatatan, dan lain - lain. Karena masalah ini menyangkut dengan pihak luar rumah sakit, yaitu perusahaan asuransi yang proses konfirmasi pembayarannya diluar cakupan peneliti dan tidak bisa dilakukan perbaikan, maka permasalahan ini akan diabaikan dan berada di luar batasan masalah. Hal hal tersebut akan mengakibatkan keterlambatan penanganan, pengurangan kepuasan pasien, pasien tidak mendapatkan ruangan rawat inap, dan sasaran mutu RS Bethesda yang tidak tercapai. Bottleneck ini bisa disebabkan kurang terpadunya sistem yang ada, sehingga fasilitas, tenaga kerja, dan pasien kurang efektif dan efisien dalam pelaksanaannya. Beberapa solusi yang dapat diberikan untuk mengurangi bottleneck adalah dengan alokasi tenaga kerja, distribusi beban kerja, penjadwalan pasien keluar, menerapkan teknologi atau alat bantu untuk mempercepat waktu proses, dan optimasi tata letak rumah sakit. Solusi solusi tersebut merupakan variabel penting yang berpengaruh terhadap bottleneck itu sendiri. Optimasi tata letak rumah sakit merupakan pilihan terakhir dalam solusi karena biaya investasi untuk mengimplementasikannya akan sangat besar. Hal yang sama berlaku untuk juga untuk penerapan teknologi baru, sehingga penjadwalan pasien keluar dan alokasi tenaga kerja lebih layak dan mungkin untuk dilakukan. Dengan demikian solusi yang bisa ditawarkan dari penelitian ini adalah pada jumlah karyawan, penjadwalan karyawan, dan penyeimbangan beban kerja. Demikian peneliti akan melakukan penelitian mengenai aliran pasien rawat inap di RS Bethesda. 1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai hal - hal sebagai berikut: a. Bagaimana pemetaan model simulasi aliran pasien rawat inap di RS Bethesda.

5 b. Berapa jumlah karyawan dan bagaimana penjadwalan shift yang terbaik untuk mengurangi waktu tunggu dan memperbaiki utilitas pekerja di RS Bethesda. 1.3. Asumsi dan Batasan Masalah Penelitian ini memiliki asumsi sebagai berikut: a. Tenaga kerja RS Bethesda bagian rawat inap siap setiap saat (karyawan tidak cuti mendadak). Selain itu, tidak memperhitungkan adanya kerusakan dan waktu maintenance alat alat penunjang di dalam sistem. Asumsi ini berdasarkan observasi dan wawancara yang menunjukkan sedikitnya kemungkinan terjadinya breakdown alat penunjang dari sistem rawat inap yang diteliti. b. Penggunaan Laboratorium PK sudah mewakili proses pemeriksaan di laboratorium lain. Laboratorium lain tersebut adalah Laboratorium Mikrobiologi dan Patologi Anatomi (PA). Laboratorium tersebut hanya digunakan untuk pasien tertentu yang memiliki penyakit berat (kanker akut misalnya) dan jarang terjadi bottleneck di lingkup tersebut. c. Kedatangan pasien berasal dari Instalasi Rawat Jalan (poliklinik) dan Instalasi Gawat Darurat. Entitas tabung darah dan hasil lab yang merupakan masukan dan keluaran pada lokasi Laboratorium PK akan datang bersamaan dengan kedatangan pasien di sistem rawat inap. Penelitian ini memiliki batasan sebagai berikut: a. Ruang lingkup penelitian di pasien rawat inap. b. Memodelkan proses masuk dan keluar pasien rawat inap, tidak termasuk operasi, pembedahan, atau sarana penunjang lain yang dibutuhkan ketika pasien dalam masa perawatan. c. Permintaan obat pada farmasi hanya satu kali sehari tiap pasien. Lama perawatan pasien akan menentukan berapa kali pasien akan mendapatkan obat. Sehingga semakin tinggi volume pasien dan lama perawatannya maka permintaan obat atau beban kerja pada farmasi akan semakin besar.

6 d. Pembayaran pasien menggunakan waktu rata rata dari laporan keuangan. Seperti yang dijelaskan dalam latar belakang, proses pembayaran dengan piutang atau asuransi tidak dimodelkan karena proses tersebut memiliki masalah yang terlalu rumit dan berada di luar kemampuan peneliti untuk melakukan perbaikan. Dengan demikian proses piutang dan asuransi ditiadakan dari cakupan penelitian. 1.4. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: a. Memetakan alur pasien rawat inap RS Bethesda. b. Memberikan solusi terbaik untuk penjadwalan shift dan jumlah karyawan yang dapat mengurangi waktu tunggu dan memperbaiki utilitas karyawan. 1.5. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk mengurangi keterlambatan, penundaan, bottleneck, dan masalah kapasitas dalam sistem alur pasien rawat inap RS Bethesda. Perbaikan dalam alur pasien ini akan berdampak positif dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pasien akan merasa puas dengan pelayanan, keluhan terhadap rumah sakit berkurang, dan dapat mengurangi biaya operasional yang tidak perlu.