IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. SIFAT FISIK DAN MEKANIK JAGUNG DAN FURADAN Jagung memiliki sifat fisik yang sangat beragam baik beda varietas maupun dalam varietas yang sama. Dalam penelitian uji peformansi CO Seeders digunakan benih jagung bervarietas jagung manis yang memiliki sifat fisik berupa dimensi jagung yang berbeda satu sama lain. Dalam hal sifat fisik yang perlu diketahui adalah ukuran dimensi jagung seperti panjang jagung, lebar jagung, dan tebal jagung. Sifat lainnya yaitu berat dan volume jagung yang dibandingkan dengan jumlah biji jagung. Pada penelitian pendahuluan telah diukur dimensi jagung yang diambil dari 50 butir benih sebagai sampel. Dari semua pengukuran didapatkan nilai rata-rata dimensi jagung dengan panjang 9.7 mm lebar 8. mm dan tebal 3.5 mm. Berikut gambar dimensi benih jagung. TEBAL LEBAR PANJANG Gambar 8. Dimensi benih jagung Pengukuran dimensi jagung dilakukan untuk menyesuaikan bentuk dan dimensi metering device untuk penjatahan benih. Ukuran metering device harus sesuai agar jagung yang dijatah dapat tersalur dengan baik hingga ke dalam lubang tanam. Besarnya massa jenis jagung dijadikan untuk menentukan bentuk dan dimensi penampung benih (hopper). Dimensi dari hopper benih yang memiliki volume total.32 liter dengan berat /volume dari benih jagung 750.2 gram/liter maka berat jagung yang dapat ditampung dalam wadah penampung (hopper) adalah 3.2 kg. Untuk dimensi furadan yang memiliki volume total 3 liter, dengan berat/volume dari furdan yaitu 1573 gram/liter maka berat furadan yang dapat ditampung oleh hopper furadan adalah sebesar.7 kg. Penggunaan jagung sebagai bahan untuk pengujian kinerja alat dikarenakan jagung memiliki tekstur atau bentuk yang tidak seragam, sehingga diharapakan jika alat ini dapat diaplikasikan untuk menanam benih jagung maka dapat pula digunakan untuk benih yang lain yang tekstur benihnya lebih mudah dibandingkan dengan tekstur benih jagung. Bentuk dimensi jagung mempengaruhi kinerja alat tanam karena didalam pengujian didapat kendala terhambatnya putaran metering device yang disebabkan oleh bentuk benih yang beragam. Apabila ukuran benih agung lebih besar jika dibandingkan dengan ukuran lubang mareting device maka benih dapat tersumbat dalam lubang metering device sehingga tidak terjatah jatuh ke dalam 17
tabung penyalur. Sedangkan untuk benih yang memiliki ukuran yang lebih kecil juga dapat menghabat putaran metering device seperti terselip dalam celah antara metering device dan penampung benih. Sifat mekanik jagung dan pupuk yang diukur dengan sudut curah (angel of refose), yaitu besarnya sudut kemiringan yang dapat membuat benih jagung atau pupuk dapat meluncur atau jatuh akibat gravitasi (gaya beratnya). Pengukuran sudut curah sangat berguna untuk menentukan desain dari kemiringan tabung penyalur benih, sehingga benih dan pupuk akan selalu terjatah dengan baik hingga lubang tanam. Pengukuran sudut curah dilakukan sebanyak 20 kali ulangan dengan rata-rata sudut curah benih 26.2 o dan sudut curah furadan 28.5 o. Nilai sudut curah ini merupakan besar sudut minimum yang dipakai untuk menentukan kemiringan tabung penyalur benih. Sifat mekanik menyatakan kemampuan suatu bahan (seperti komponen yang terbuat dari bahan tersebut) untuk menerima beban/gaya/energi tanpa menimbulkan kerusakan pada bahan/komponen tersebut. Seringkali bila suatu bahan mempunya sifat mekanik yang baik tetapi kurang baik pada sifat yang lain, maka diambil langkah untuk mengatasi kekurangan tersebut dengan berbagai cara yang diperlukan.misalkan saja baja yang sering digunakan sebagai bahan dasar pemilihan bahan. Sifat mekanik yang diamati untuk menentukan jenis jagung yang dipakai yang pertama adalah kekerasan (hardness) yaitu kemampuan suatu bahan untuk tahan terhadap penggoresan, pengikisan (abrasi), identasi atau penetrasi. Sifat ini berkaitan dengan sifat tahan aus (wear resistance). Sifat ini dapat dilihat dari bahan yang mengalami gesekan karena jagung terselip antara hopper dan metering device benih jagung masih bagus atau tidak rusak. Sifat berikutnya yaitu ketangguhan (toughness) yaitu kemampuan bahan untuk menyerap sejumlah energi tanpa mengakibatkan terjadinya kerusakan. Juga dapat dikatakan sebagai ukuran banyaknya energi yang diperlukan untuk mematahkan suatu benda kerja, pada suatu kondisi tertentu. Sifat ini dipengaruhi oleh banyak faktor, sehingga sifat ini sulit diukur. Sifat ini dapat dilihat dari bentk jagung yang stabil walaupun telah dijemur pada terik matahari. Kedua sifat ini digunakan sebagai acuan dalam penggunaan bahan jagung manis pada lahan tanam, dari hasil pengamatan sifat mekanik jagung maka jagung manis dapat digunakan sebagai bahan pengujian di lahan tanam. Furadan memiliki sifat mekanik berupa berbentuk pasir yang tahan akan panas sehingga tahan terhadap panas matahari. Sifat ini menguntungkan pada saat dilakukan pengujian pada lahan uji yaitu furadan tidak mudah meleleh oleh panas matahari. Namun karena bentuknya yang kecil seperti pasir maka saat pengujian furadan masih menghambat kinerja metering device. Karena pada saat furadan diletakan pada metering device furadan akan mengisi celah kecil yang ada antara metering device dan hopper. 18
B. DESAIN ALAT TANAM BENIH SEMI MEKANIS CO Seeders Alat hasil rancang bangun yang digunakan untuk uji performansi adalah Control Otomatic Seeders. Alat tanam benih ini memiliki dua bagian utama yaitu: rangka mekanis dan perangkat elektronika. Rangka mekanis terdiri atas rangka alat, roda tugal, roda pembantu, tempat penampungan benih (hopper), piringan penjatah (metering device), tabung penyalur dan penutup alur. Sedangkan komponen elektronik yang menyempurnakan alat ini tersusun atas mikrokontroler, motor stepper, SPC motor controller dan sensor magnet. Dimensi dari alat ini adalah 130 x 100 x 90 cm. Ukuran ini didesain berdasarkan antropometri rata-rata orang Indonesia. Panjang batang penghubung yang digunakan adalah 110 cm dengan roda tugal diameter 0 cm sehingga panjang total dari alat tanam ini adalah130 cm. Kapasitas penampungan benih masing-masing tempat penampung benih (hopper) adalah 1.5 kg sehingga dalam sekali tanam alat dapat menanam 3 kg benih. Penjatah benih yang digunakan berdiameter 12 cm dan berbentuk tabung. Sistem penggerak roda tugal adalah gaya dorong manusia dengan bantuan mikrocontroller dan sensor magnet yang terpasang pada batang proximity. Harapan dari sistem yang dipakai ini adalah ketepatan pembacaan lubang tugal dan penyaluran benih ke dalam lubang. Tenaga masukan untuk komponen elektronika adalah berasal dari accu sedangkan tenaga dorong yang diperlukan untuk mendorong adalah gaya dorong manusia yang berkisar antara 6 Watt. Dalam pengoperasiannya alat ini hanya membutuhkan satu orang operator saja (Monayo dkk2010). Rangka alat hopper Roda bantu Tabung penyalur (a) Gambar 9. Alat tanam CO Seeders (a) sebelum dan (b) sesudah modifikasi Pada penelitian uji performansi digunakan CO Seeders yang telah diberi modifikasi pada penambahan fungsi pemberian furadan, yaitu ditambah dengan penampung furadan (hopper) serta pemberian roda blade yang dimodifikasi untuk membuka alur pemupukan. Namun pada saat opersionalnya roda blade juga dapat membantu penutupan alur tanam jagung. (b) Roda tugal 19
C. UJI FUNGSIONAL CO Seeders Pengujian fungsional dilakukan untuk mengetahui fungsi beberapa mekanisme utama dari tugal sebelum dilakukan pengujian performansi tugal di lapangan. Berat kosong dari CO Seeders ini adalah 20 kg. kapasitas maksimum penampung benih (hopper) adalah 16 kg untuk keempat hopper. Namun dalam pengujian fungsional penampung benih tidak diisi maksimum demi kelancaran proses penjatahan benih/ furadan. Benih yang terdapat dalam penampung akan terangkat satu persatu masuk kedalam lubang metering device yang berputar, setelah mencapai posisi teratas akan jatuh kedalam lubang tabung penyalur yang terdapat sejajar dengan posisi lubang metering device teratas, dari tabung penyalur akan dijatah ke dalam lubang tanam sesuai dengan perintah controller untuk membuka katup. Pengujian keluaran benih di luar lahan uji menunjukkan bahwa rata-rata benih jagung yang keluar untuk 0, 1, dan 2 biji adalah 13.3%, 76.6%, dan 10%. Untuk jagung manis jumlah jagung yang harusnya tertanam adalah 1 biji, namun jika tertanam 2 biji dapat dijadikan sebagai penyulaman. Sehingga bila jumlah benih yang diizinkan adalah 1-2 biji per lubang maka didapatkan presentase keberhasiannya sebesar 90%. CO Seeders telah dapat mengatasi permasalahan dalam penanaman benih dalam pengaturan pengeluaran benih. Hal ini dapat dilihat dari prosentase keberhasilan pengeluaran benih yang mencapai 90%. Dapat dikatakan jika kerja metering device dalam menjatah benih telah dapat digunakam di lapangan. Dalam pengujian masih didapatkan benih yang tidak keluar (0 biji) atau pun keluar 2 biji saat penjatahan pada penugalan terjadi karena, (1) saat metering device berputar benih tidak masuk dalam lubang sehingga lubang metering device kosong, (2) benih tertahan pada salah satu lubang metering device sehingga pada saat penjatahan ke dalam tabung penyalur benih tidak jatuh, (3) tidak seragamnya bentuk benih sehingga untuk ukuran benih yang relatif kecil dapat keluar sebanyak 2 biji. Gambar 10. Uji keluaran benih tanpa lahan Pengujian keluaran furadan di luar lahan uji dilakukan sebanyak 15 kali pengulangan sehingga didapatkan rata-rata keluaran furadan sebesar 0.896 gram. Ini sesuai dengan tujuan pencegahan gulma yang sebaiknya tiap 1 m 2 lahan diberi kurang lebih 10-15 gram furadan. 20
Gambar 11. Uji keluaran furadan di luar lahan uji Gambar 12. Keluaran furadan di luar lahan uji Pengujian keluaran furadan hanya dapat dilakukan di luar lahan uji, disebabkan pada saat furadan diletakan pada metering device furadan mengisi celah kecil yang ada antara metering device dan hopper sehingga ini menyebabkan putaran metering device macet dan tidak berputar. Ini disebabkan karena masih terdapat celah antara metering device dan hopper. Salah satu masalah yang terjadi pada sistem penjatahan adalah tidak masuknya benih jagung pada celah metering divice benih yang menyebabkan adanya kekosongan benih pada beberapa lubang tanam. Pada pengujian alat benih yang digunakan adalah benih jagung manis yg berukuran sedang dan tidak seragam. Benih yang berukuran tidak seragam merupakan faktor utama terjadi kemacetan metering device. Benih yang berukuran kecil terkadang masuk 2 buah benih ke dalam celah penjatahan yang menyebabkan penyempitan celah metering device terhadap hopper sehingga
terkadang membuat metering device berhenti, selain itu benih yg berukuran terlalu besar terkadang juga tidak masuk ke dalam celah metering device yg membuat kekosongan benih saat penjatahan. Penumpukan benih membuat metering Gambar 13. Kemacetan metering device benih Penjatahan benih pada lubang metering device Gambar 1. Panjatahan benih jagung Gambar 15. Ukuran benih jagung yang bervariasi Pada metering device furadan juga terjadi kemacetan yang cukup tinggi hal ini dikarenakan bentuk furadan yang seperti pasir dan bersifat mengisi ruang kosong sehingga banyak butiran furadan yang masuk ke dalam celah antara hopper dan metering device, sehingga membuat putaran metering device terhambat. Hal ini mengakibatkan penjatahan furadan tidak berjalan lancar dan membuat motor DC dipaksa berputar dengan hambatan yang besar. 22
D. UJI PERFORMANSI CO Seeders Pengujian performansi alat dilakukan untuk mengetahui effisiensi penanaman dengan alat pada lahan. Pengujian dilakukan pada laboratorium lapang Leuwikopo Departemen Teknik Mesin dan Biosistem pada bulan September 2011. Kondisi lahan saat penugalan mengandung kadar air yang rendah. Kondisi ini diperlukan agar tanah tidak banyak yang menempel pada mata tugal yang dapat mengganggu kinerja alat saat pengoperasian. Pada pengujian performansi alat, jarak tanam yang digunakan adalah 20cm x 80cm, terdapat 2 lahan dengan luas masing-masing 160m 2 (8m x 20m) yang masing-masing akan digunakan untuk menguji alat dengan menggunakan mata tugal kerucut padat dan mata tugal prisma berongga. Pola tanam yang digunakan untuk penanaman pada kedua jenis lahan adalah continous pattern. Pengoperasian alat dilakukan oleh seorang operator yang memiliki berat badan 80 kg tinggi badan 170 cm dan dengan tinggi bahu 150 cm. Kesesuaian antara tinggi alat dan tinggi bahu dapat mengurangi kelelahan pada operator saat mengoperasikan alat. Tinggi alat yaitu 90 cm, disesuaikan dengan tinggi rata-rata pinggang orang dewasa dimana menurut data antropometri orang Indonesia pada tinggi 90 cm maka merupakan tinggi maksimum manusia memberikan tenaga dorong yang maksimum. Sikap tubuh dan anggota tubuh yang dipergunakan dalam bekerja juga akan mempengaruhi seberapa besar tenaga yang dikeluarkan oleh operator. Berat alat tanpa terisi benih dan furadan adalah 20 kg, jika hopper diisi penuh dengan benih dan furadan maka berat total alat menjadi kurang lebih 36 kg sedangkan berat maksimum alat agar seseorang dapat mendorongnya adalah 51kg, sehingga operator tersebut masih dapat mendorong alat dengan baik. FINISH Arah maju alat START Arah belok alat Gambar 8. Pola penanaman dengan continous pattern Gambar 16. Pola penanaman dengan continous pattern 23
1. Pengujian CO Seeders dengan tugal prisma Pengujian alat CO Seeders dengan tugal prisma dilakukan pada lahan seluas 160 m 2 (8m x 20m). Menghasilkan kedalaman rata-rata hasil penugalan sebesar 3.6cm. Sedangkan prosentase keberhasilan penempatan benih kedalam lubang tanam adalah 75%. Hasil pengujian pada lahan dapat dilihat pada gambar 13. Pengukuran kapasitas kerja lapang alat dengan kecepatan maju rata-rata alat 0.352 m/detik dan lebar kerja 0.8m (jarak antar baris tanam) sehingga didapatkan kapasitas lapang teoritis (KLT) sebesar 0.101 ha/jam. Dengan lahan seluas 0.016 ha dan total waktu tanam 11 menit maka didapatkan kapasitas lapang efektif (KLE) sebesar 0.086 ha/jam, sehingga dari perbandingan KLE dan KLT didapatkan nilai effisiensi lapang penanaman sebesar 85%. Tabel. Data Hasil pengukuran kecepatan maju alat dengan tugal prisma Lintasan Jumlah Penugalan Waktu (detik) Panjang lintasan (m) Kecepatan maju (m/detik) 1 101 57 20 0,351 2 101 9 20 0,08 3 101 68 20 0,29 101 9 20 0,08 5 101 65 20 0,307 6 101 58 20 0,35 Rata- rata 0,325 Nilai prosentase penjatahan benih tepat pada lubang tanam yaitu 75%, sedangkan yang jatuh pada luar lubang tanam sebesar 8.5%, dan 16.5% benih tidak terjatah pada lubang tanam. Rendahnya nilai prosentase penjatahan benih jagung ke dalam lubang tanam dikarenakan benih tidak terjatah dengan baik ke dalam lubang tanam yang dikarenakan: a. Benih tersumbat pada lubang metering device b. Benih yang terjatah ke dalam lubang tanam namun tidak tepat jatuh pada lubang tanam karena terlempar ketika benih jatuh dan terkena klep pembukaan tabung penyalur c. Terhentinya putaran metering device yang disebabkan karena terdapat benih yang terselip pada celah antara metering device dan hopper penampung benih d. Benih tidak terjatah pada lubang metering device karena ukurannya yang tidak sesuai dengan lubang metering device 2
Gambar 17. Pengoperasian alat dengan tugal prisma pada lahan uji Lubang tanam dengan mata tugal prisma Gambar 18. Hasil penugalan dengan mata tugal prisma 2. Pengujian CO Seeders dengan tugal kerucut Pengujian alat CO Seeders dengan tugal kerucut dilakukan pada lahan seluas 160m2 (8m x 20m). Menghasilkan kedalaman rata-rata hasil penugalan sebesar.9cm. Sedangkan prosentase keberhasilan penempatan benih kedalam lubang adalah 6.5%. Hasil pengujian pada lahan dapat dilihat dalam gambar 11. Pengukuran kapasitas kerja lapang alat dengan kecepatan maju rata-rata alat 0.37 m/detik dan lebar kerja 0.8m (jarak antar baris tanam) sehingga didapatkan kapasitas lapang teoritis (KLT) sebesar 0.126 ha/jam. Dengan lahan seluas 0.016 ha dan total waktu tanam 12 menit maka didapatkan kapasitas lapang efektif (KLE) sebesar 0.08 ha/jam, sehingga dari perbandingan KLE dan KLT didapatkan nilai effisiensi lapang penanaman sebesar 63.9%. 25
Tabel 5. Data Hasil pengukuran kecepatan maju alat dengan tugal kerucut Lintasan Jumlah Penugalan Waktu (detik) Panjang lintasan Kecepatan maju (m) (m/detik) 1 10,08 0,397 2 9,99 0,00 3 11,11 0,360 7,37 0,53 5 7,86 0,509 6 8,3 0,80 7 10,02 0,399 8 9,02 0,3 9 9,06 0,1 10 10,01 0,399 Rata- rata 0,37 Nilai prosentase penjatahan benih tepat pada lubang tanam yaitu 6.5%, sedangkan yang jatuh pada luar lubang tanam sebesar 8%, dan 27.5% benih tidak terjatah pada lubang tanam. Rendahnya nilai prosentase penjatahan benih jagung ke dalam lubang tanam dikarenakan benih tidak terjatah dengan baik ke dalam lubang tanam yang dikarenakan: a. Benih tersumbat pada lubang metering device b. Benih yang terjatah ke dalam lubang tanam namun tidak tepat jatuh pada lubang tanam karena terlempar ketika benih jatuh dan terkena klep pembukaan tabung penyalur c. Terhentinya putaran metering device yang disebabkan karena terdapat benih yang terselip pada celah antara metering device dan hopper penampung benih d. Benih tidak terjatah pada lubang metering device karena ukurannya yang tidak sesuai dengan lubang metering device Gambar 19. Pengoperasian alat dengan tugal kerucut pada lahan uji 26
Lubang tanam dengan mata tugal kerucut Gambar 20. Hasil penugalan dengan mata tugal kerucut Nilai efisiensi lapang penananam alat dengan kedua jenis mata tugal yaitu mata tugal prisma sebesar 85% dan tugal kerucut sebesar 63.9%, kurang optimalnya nilai efisiensi penananam dapat ditingkatkan dengan mengurangi waktu belok yang pada saat pengujian tidak tercatat namun cukup memiliki pengaruh karena tidak terdapatnya penanda pindah alur tanam sehingga perlu waktu untuk pengaturan posisi alat untuk penanaman alur berikutnya. Coefisien of variation Koefisien variasi adalah perbandingan antara simpangan standar dengan nilai rata-rata yang dinyatakan dengan persentase. Koefisien variasi berguna untuk melihat sebaran data dari rata-rata hitungnya. Nilai koefisien variasi juga dapat dijadikan untuk membuat kriteria dalam mencari kepresisian suatu kinerja alat. Jika: cv < 5% maka sangat presisi 5 < cv < 10% maka presisi cv > 10% maka kurang presisi (baik) Nilai koefisien variasi dapat dicari dengan rumus = Dimana: x 100% cv = coefisiean of variation SD = standar deviasi x = rata-rata 27
Dalam pengujian kinerja CO Seeders prototipe II didapatkan nilai koefisien variasi dari masingmasing pengujian seperti pada tabel sebagai berikut. Tabel 6. Kriteria kepresisian pada pengujian alat CO Seeders prototipe II Jenis pengujian Rata-rata SD (standar deviasi) cv (coefisien of variation) Kriteria kepresisian Kecepatan maju alat (m/s) tugal kerucut tugal prisma 0.37 0.325 0.058 0.08 13.27 1.77 Kurang presisi Kurang presisi Berat/volume (kg/liter) benih furadan 750.2 1575 26.287 62.689 3.5 3.98 Sangat presisi Sangat presisi Kedalaman penugalan (cm) tugal kerucut tugal prisma.9 3.65 0.8 0.59 16.33 16.16 Kurang presisi Kurang presisi Penjatahan pada lubang tanam (%) tugal kerucut 0 benih 1 benih 2 benih tugal prisma 0 benih 1 benih 2 benih 6.5 0.235 5.5 19 75 0.15 83.5 2.5 15.36 2.751 1.792 1.229 5.77 1.317 3.82 1.197 23.8 1170 1.6 6. 7.69 908 3.2.89 Kurang presisi Kurang presisi Sangat presisi Presisi Presisi Kurang presisi Sangat presisi Sangat presisi Kerusakan benih (gram) benih baik 95.65 3.81 3.65 Sangat presisi 28
E. ANALISIS DAYA Menurut Saripudin (2007) besarnya tahanan gelinding (F) menggunakan persamaan: F = rolling resistance x berat benda Dimana: rolling resistance = 0.25 Daya rata-rata manusia = 0.1 Hp = 0.075 kw = 75 W Asumsi kecepatan operator mendorong alat penanam = 0.6 m/s F = P/v = 75/0.6 = 125 N Sehingga berat alat maksimum adalah: Berat = F/rolling resistance = 125/0.25 = 500 N = 51 kg. Berat total prototipe setalah diisi oleh benih jagung dan furadan serta rangkaian elektronika yaitu 36 kg, Dari data diatas dapat disimpulkan kebutuhan tenaga untuk mendorong alat tanam oleh seorang operator membutuhkan tenaga 125 N, atau seseorang yang memiliki tenaga sebesar 75 W dapat mendorong alat ini dengan baik. Lama waktu kerja: Untuk menghitung waktu kerja dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut: Dimana: E (E-5) Tw Dengan asumsi: Tw = 25 E 5 menit = konsumsi energi selama pekerjaan berlangsung (kcal/menit) = habisnya cadangan energi (kcal/menit) = waktu kerja (working time), (menit) Berdasarkan tabel konsumsi energi dalam berbagai jenis kegiatan yaitu pulling handed cart yaitu sebesar 8.5 kcal/min, maka Lama waktu istirahat: Tw = 25 8.5 5 menit Tw = 7.1 menit Dengan asumsi bahwa selama istirahat jumlah energi adalah 1.5 kcal/min, Tr = 25 8.5 1.5 menit Tw = 3.5 menit Jadi, untuk menjaga kestabilan energi operator harus bekerja selama 7.1 menit (sebelum munculnya Asam Laktat sebagai tanda waktu istirahat) dan istirahat selama 3.5 menit (waktu pembentukan kembali cadangan energi) dan seterusnya. 29
F. PENGUKURAN PROSENTASE KERUSAKAN BENIH Kerusakan benih akibat pengoperasian alat perlu dihitung untuk mengetahui berapa banyak benih yang tertanam dalam kondisi baik dan akan berkecambah dengan baik. Dari hasil pengujian sebanyak 5 kali ulangan yang masing-masing berat benih yang diuji adalah 100 gram maka diperoleh rata-rata prosentase kerusakan benih sebesar.3%. Kerusakan benih bisa terjadi karena adanya pergerakan (gesekan) antara wadah penampung benih (hopper) dengan jagung yang terdapat pada lubang metering device. Benih yang berpeluang rusak (lecet atau pecah) adalah benih yang memiliki ukuran yang lebih besar dari ukuran lubang metering device sehingga saat metering device berputar dan benih ikut terbawa putaran sehingga benih mengalami gesekan dengan penampung benih. Tabel 7. Pengukuran kerusakan benih Ulangan Berat total (gram) Berat Benih Baik (gram) Berat Benih Rusak (gram) 1 100 90.13 9.87 2 100 97.35 2.65 3 100 98.93 1.07 100 9.8 5.52 5 100 97.38 2.62 Rata- rata 95.65.36 Kondisi fisik benih sangat mempengaruhi pada pertumbuhan tanaman, jika kondisi benih dalam keadaan baik maka pertumbuhan tanaman pun akan baik. Sehingga kita perlu mengetahui kondisi benih sebelum tanam. Bentuk fisik jagung manis yang berbentuk keriput saat siap tanam maka cukup menjadi kendala dalam pengoperasian CO Seeders karena akan menghambat putaran metering device sehingga penjatahan benih pada lubang tanam tidak terjatah dengan baik. Saat benih masuk kedalam lubang metering device yang memiliki diameter 1 cm maka untuk benih yang memiliki ukuran yang lebih besar dari lubang akan menghambat putaran atau benih dapat rusak karena gesekan benih dengan metering device dan hopper. G. PERMASALAHAN TEKNIK 1. Masalah teknis penjatahan benih Pada pengujian alat CO Seeders prototipe II (mata tugal prisma) nilai prosentase penjatahan benih tepat pada lubang tanam yaitu 75%, sedangkan yang jatuh pada luar lubang tanam sebesar 8.5%, dan 16.5% benih tidak terjatah pada lubang tanam. Sedangkan dengan mata tugal kerucut nilai prosentase penjatahan benih tepat pada lubang tanam yaitu 6.5%, sedangkan yang jatuh pada luar lubang tanam sebesar 8%, dan 27.5% benih tidak terjatah pada lubang tanam. Rendahnya nilai prosentase penjatahan benih jagung ke dalam lubang tanam dikarenakan benih tidak terjatah dengan baik ke dalam lubang tanam yang dikarenakan: 30
a. Benih tersumbat pada lubang metering device b. Benih yang terjatah ke dalam lubang tanam namun tidak tepat jatuh pada lubang tanam karena terlempar ketika benih jatuh dan terkena klep pembukaan tabung penyalur c. Terhentinya putaran metering device yang disebabkan karena terdapat benih yang terselip pada celah antara metering device dan hopper penampung benih d. Benih tidak terjatah pada lubang metering device karena ukurannya yang tidak sesuai dengan lubang metering device 2. Masalah teknis penjatahan furadan Pada metering device furadan terjadi kemacetan yang cukup tinggi hal ini dikarenakan bentuk furadan yang seperti pasir dan bersifat mengisi ruang kosong sehingga banyak butiran furadan yang masuk ke dalam celah antara hopper dan metering device, sehingga membuat putaran metering device terhambat. Hal ini mengakibatkan penjatahan furadan tidak berjalan lancar dan membuat motor DC dipaksa berputar dengan hambatan yang besar. Pada pengujiannya pengukuran keluaran furadan hanya bisa dilakukan di luar lahan tanam karena terhambat oleh metering device yang macet (tidak berputar) saat pengujian di luar lahan uji. 3. Masalah teknis timing pembukaan gate Permasalahan teknis pada timing pembukaan gate terjadi saat benih jatuh bertepatan dengan katup gate yang membuka sehingga benih ikut terlempar oleh katup menyebabkan penjatahan benih tidak tepat pada lubang tanam.. Masalah teknis pengoperasian CO Seeders memiliki berat total ± 36kg sehingga membutuhkan tenaga yang cukup besar untuk dapat mengoperasikannya dengan baik. Beberapa kesulitan/hambatan saat pengoperasian alat adalah kesulitannya saat membelokkan alat yang disebabkan roda bantu dilepas saat pengoperasian dilahan sehingga saat belok tetap bertumpu pada roda tugal. Besarnya waktu belok juga disebabkan tidak adanya penanda untuk pindah alur sehingga membutuhkan waktu dalam menentukan jarak untuk alur berikutnya. 31