BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA PENELITIAN

Jurnal Teknik Mesin UMY 1

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH FRAKSI MASSA NaCl UKURAN MESH 4-16 PADA FABRIKASI ALUMINUM FOAM DENGAN MENGGUNAKAN METODE MELT ROUTE

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Diagram Alir Penelitian Pada penelitian ini langkah-langkah pengujian mengacu pada diagram alir pada Gambar 3.1.

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Diagram Alir Diagram alir penelitian selama proses penelitian dapat diperlihatkan pada Gambar 3.1 dibawah ini : Mulai

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Studi Literatur. Persiapan Alat dan Bahan bahan dasar piston bekas. Proses pengecoran dengan penambahan Ti-B 0,05%

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di beberapa tempat sebagai berikut:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. waktu pada bulan September 2015 hingga bulan November Adapun material yang digunakan pada penelitian ini adalah:

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Diagram Alir Penelitian Pada penelitian ini langkah-langkah pengujian mengacu pada diagram alir pada Gambar 3.1.

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2012 hingga bulan April 2013 di

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di beberapa tempat sebagai berikut:

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. Pembuatan spesimen dilakukan dengan proses pengecoran metode die

Redesain Dapur Krusibel Dan Penggunaannya Untuk Mengetahui Pengaruh Pemakaian Pasir Resin Pada Cetakan Centrifugal Casting

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2013 di

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Mulai

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Waktu dan pelaksanaan percobaan serta analisis sebagai berikut:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. menunjukan bahwa material rockwool yang berbahan dasar batuan vulkanik

Gambar 3.1. Alat Uji Impak Izod Gotech.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di beberapa tempat sebagai berikut:

ANALISA PERBEDAAN SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO PADA PISTON HASIL PROSES PENGECORAN DAN TEMPA

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2013 sampai Mei 2013 di

PROSES MANUFACTURING

BAB III METODE PENELITIAN. Metodelogi penelitian dilakukan dengan cara membuat benda uji (sampel) di

TUGAS AKHIR. Tugas Akhir ini Disusun Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Surakarta

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

Jurnal Flywheel, Volume 1, Nomor 2, Desember 2008 ISSN :

BAB III METODE PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Material Teknik Mesin Jurusan Teknik

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. masing-masing benda uji, pada pengelasan las listrik dengan variasi arus 80, 90,

Momentum, Vol. 10, No. 2, Oktober 2014, Hal ISSN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen,

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. UCAPAN TERIMAKASIH... ii. DAFTAR ISI... iv. DAFTAR TABEL... vii. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR GRAFIK...

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN. Tempat pelaksanaan penelitian sebagai berikut: 2. Pengujian kekuatan tarik di Institute Teknologi Bandung (ITB), Jawa Barat.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN Alat Penelitian 1. Mesin electrospinning, berfungsi sebagai pembentuk serat nano.

BAB III METODE PENELITIAN. Alat yang digunakan untuk penelitian material komposit ini adalah:

LAMPIRAN. 3). 94% Resin, 3% Serat Pelepah Salak, dan 3% Serat Glass. 4). 94% Resin, 4% Serat Pelepah Salak, dan 2% Serat Glass.

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Material Teknik Mesin Jurusan Teknik

Mulai. Identifikasi Masalah. Persiapan Alat dan Bahan

BAB III METODELOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: yang padat. Pada penelitian ini menggunakan semen Holcim yang

PENGARUH PENAMBAHAN Mg TERHADAP SIFAT KEKERASAN DAN KEKUATAN IMPAK SERTA STRUKTUR MIKRO PADA PADUAN Al-Si BERBASIS MATERIAL PISTON BEKAS

BAB III PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA PENELITIAN

Momentum, Vol. 12, No. 1, April 2016, Hal ISSN , e-issn

III. METODOLOGI PENELITIAN. a. Persiapan dan perlakuan serat ijuk di Laboratorium Material Teknik Jurusan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III PROSES PENGECORAN LOGAM

Pengaruh Variasi Arus terhadap Struktur Mikro, Kekerasan dan Kekuatan Sambungan pada Proses Pengelasan Alumunium dengan Metode MIG

ANALISIS STRUKTUR MIKRO CORAN PENGENCANG MEMBRAN PADA ALAT MUSIK DRUM PADUAN ALUMINIUM DENGAN CETAKAN LOGAM

DAFTAR ISI. Halaman Judul Pengesahan Persetujuan ABSTRAK ABSTRACT KATA PENGANTAR

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Proses Produksi Jurusan Teknik

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH PENAMBAHAN TEMBAGA (Cu) TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO PADA PADUAN ALUMINIUM-SILIKON (Al-Si) MELALUI PROSES PENGECORAN

BAB IV HASIL DAN ANALISA. Gajah Mada, penulis mendapatkan hasil-hasil terukur dan terbaca dari penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

ANALISA PENGARUH PENAMBAHAN ABU SERBUK KAYU TERHADAP KARAKTERISTIK PASIR CETAK DAN CACAT POROSITAS HASIL PENGECORAN ALUMINIUM 6061 SIDANG TUGAS AKHIR

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di beberapa tempat sebagai berikut:

BAB III METODE PENELITIAN

PENGARUH Cu PADA PADUAN Al-Si-Cu TERHADAP PEMBENTUKAN STRUKTUR KOLUMNAR PADA PEMBEKUAN SEARAH

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Mulai. Studi Literatur. Persiapan Alat dan Bahan. Proses Pengecoran. Hasil Coran. Analisis. Pembahasan Hasil Pengujian

Karakterisasi Material Sprocket

BAB I PENDAHULUAN. dalam kelompok Boron dalam unsur kimia (Al-13) dengan massa jenis 2,7 gr.cm-

NASKAH PUBLIKASI ILMIAH ANALISA PENGARUH SOLUTION TREATMENT PADA MATERIAL ALUMUNIUM TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS

BAB 2. PENGUJIAN TARIK

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN dan dilaksanakan di Laboratorium Fisika Material Departemen Fisika

Gambar 3.1 Arang tempurung kelapa dan briket silinder pejal

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB III PENGUJIAN SIFAT MEKANIK MATERIAL

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan dibeberapa tempat, sebagai berikut:

STUDI KEKUATAN IMPAK PADA PENGECORAN PADUAL Al-Si (PISTON BEKAS) DENGAN PENAMBAHAN UNSUR Mg

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Material Teknik Jurusan Teknik Mesin,

BAB III METODE PEMBUATAN ALAT

BAB III METODOLOGI Diagram Alir Tugas Akhir. Diagram alir Tugas Akhir Rancang Bangun Tungku Pengecoran Alumunium. Skala Laboratorium.

Transkripsi:

BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini menjelaskan tentang metode penelitian yang meliputi parameter penelitian, alat dan bahan yang digunakan selama penelitian, serta tahapan-tahapan proses penelitian dan pengujian. 3.1. Penentuan Parameter Eksperimen Pada penelitian ini dilakukan penentuan parameter eksperimen dengan melakukan studi literatur. Hal ini dilakukan supaya proses penelitian dapat berjalan dengan lancar. Dari hasil studi literatur, didapat tiga poin penting yang menyangkut dengan penilitian yang akan dilakukan. Tiga poin penting utama dalam pembuatan aluminum foam yaitu foaming agent, porositas aluminum foam, dan metode fabrikasi aluminum foam. Berdasarkan tiga poin diatas serta korelasi dengan studi literatur yang dilakukan, didapat topik penelitian tentang pembuatan aluminum foam menggunakan metode direct foaming (melt route) dengan penambahan foaming agent berupa NaCl kristal. Parameter yang divariasikan adalah variasi fraksi massa NaCl kristal, jenis aluminium,dan temperatur proses foaming. Sedangkan parameter lain diusahakan tetap pada kisaran tertentu, mengingat sulitnya penanganan proses. Parameter penelitian ditunjukkan pada Tabel 3.1. Tabel 3.1. Parameter proses pembuatan aluminum foam Fraksi Massa Temperatur Spesimen NaCl Al ( o C) (%.wt) (%.wt0 A 0 100 850 B 40 60 850 C 45 55 850 D 50 50 850 31

32 Perhitungan perbandingan fraksi massa NaCl dengan aluminium, sebagai berikut : 1. Spesimen A 0% NaCl 100% Aluminium Total massa = 54 gram Massa aluminium 100% x 54 gram = 54 gram Massa NaCl 0% x 54 gram = 0 gram 2. Spesimen B 40% NaCl 60% Aluminium Total massa = 54 gram Massa aluminium 60% x 54 gram = 32,4 gram Massa NaCl 40% x 54 gram = 21,6 gram 3. Spesimen C 45% NaCl 55% Aluminium Total massa = 54 gram Massa aluminium 55% x 54 gram = 29,7 gram Massa NaCl 45% x 54 gram = 24,3 gram 4. Spesimen D 50% NaCl 50% Aluminium Total massa = 54 gram Massa aluminium 50% x 54 gram =27 gram Massa NaCl 50% x 54 gram = 27 gram 3.2. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini terdiri dari dua kegiatan utama yaitu pembuatan dan pengujian aluminum foam. Waktu penelitian ini dilakukan pada 28 Agustus Oktober 2016. Tempat penelitian yang digunakan dalam penilitian ini adalah sebagai berikut : 1. Laboratorium Fabrikasi Teknik Mesin UMY.

33 2. Laboratorium Testing Material D-3 Teknik Mesin UGM. 3. Laboratorium Bahan Teknik Mesin UNS. 3.3. Alat dan Bahan Penelitian 3.3.1. Alat Penelitian Dalam penelitian ini, digunakan beberapa alat yang mendukung berlangsungnya penelitian ini, diantaranya sebagai berikut : 1. Tungku dan kowi Gambar 3.1.a merupakan tungku pembakaran yang digunakan sebagai media mencairkan aluminum. Tungku tersebut terbuat dari campuran semen, pasir, dan batu. Terdapat lubang dibagian bawah yang digunakan sebagai saluran udara dari blower, untuk menyalakan api dari bahan baku arang kayu. Sedangkan gambar 3.1.b merupakan kowi yang terbuat dari pipa besi yang dilas. Kowi tersebut digunakan sebagai wadah peleburan plat aluminium menjadi cair. (a) (b) Gambar 3.1. (a) Tungku pembakaran; (b) Kowi. 2. Blower Blower berfungsi sebagai alat untuk menghembuskan dan menaikkan tekanan udara yang dialirkan ke dalam tungku pembakaran, melalui saluran yang ada dibawah tungku. Gambar 3.2 merupakan blower yang digunakan dalam penelitian ini, blower tersebut memiliki ukuran diameter 2,5 inch dengan speksifikasi V= 220 230 Volt, A= 1,6 A, dan kecepatan putar 3000 rpm.

34 Gambar 3.2. Blower. 3. Termokopel Digital Termokopel digital merupakan alat sensor temperatur yang digunakan untuk mengukur suhu pada aluminium cair, sehingga diketahui temperatur aluminium cair untuk proses foaming. Termokopel digital yang digunakan tipe K TM 902C seperti Gambar 3.3. Termokopel tersebut dapat mengukur suhu dari (-50 o C)- 1300 o C. Gambar 3.3. Termokopel digital. 4. Timbangan Digital Timbangan digtial digunakkan untuk mengukur berat NaCl dan aluminium sesuai fraksi massa yang sudah ditentukan. Gambar 3.4 menunjukkan timbangan yang digunakan adalah merk Fujitsu.

35 Gambar 3.4. Timbangan digital. 5. Mesin Hand Drill Mesin bor tangan yang digunakan merk Makita TM tipe 6411, daya 450 watt, dengan kecepatan putar 0-3000 rpm seperti Gambar 3.5. Mesin bor ini digunakan untuk mencampur NaCl dengan aluminium. Kecepatan yang digunakan berkisar 2000-3000 rpm. Gambar 3.5. Mesin hand drill 6. Batang Pengaduk Batang pengaduk berfungsi sebagai alat pengaduk atau pencampur NaCl dengan aluminium cair yang terpasang pada mesin bor (Gambar 3.6). Batang pengaduk ini terbuat dari batang baja yang lurus, karena pengadukan dilakukan di dalam cetakan, batang pengaduk tidak boleh bengkok karena dapat merusak cetakan. Sebelum digunakan untuk mengaduk, batang pengaduk terlebih dahulu dipanaskan supaya perbedaan suhu antar batang pengaduk dan aluminium tidak

36 terlalu jauh. Hal ini dilakukan agar aluminium tidak menempel pada permukaan batang pengaduk (chiling). Gambar 3.6. Batang pengaduk. 7. Cetakan Cetakan terbuat dari tanah liat yang dibentuk silindris (Gambar 3.7). Cetakan yang digunakan meiliki ukuran diameter 2,24 cm dan panjang 12 cm. Sebelum aluminium cair dituang ke dalam cetakan, cetakan terlebih dahulu diisi dengan NaCl. Gamabar 3.7. Cetakan aluminum foam. 8. Gergaji Gergaji digunakan untuk memotong ujung permukaan aluminum foam yang sudah jadi setelah proses pengecoran seperti Gambar 3.8. Hal ini dilakukan untuk memastikan ada porositas pada aluminum foam tersebut. Gambar 3.8. Gergaji tangan.

37 9. Mesin Gerinda Tangan Mesin gerinda tangan digunakan untuk memotong plat aluminium sebelum dilakukan penimbangan (Gambar 3.9). Pemotongon ini bertujuan supaya aluminium dapat masukkan ke dalam kowi. Gambar 3.9. Mesin gerinda tangan. 10. Ayakan (US Mesh) Ayakan digunakan sebagi alat untuk mengukur mesh NaCl yang digunakan sebagai foaming agent pada proses ini. Gambar 3.10 menunjukkan ayakan yang digunakan memiliki ukuran mesh 4-16 (1.18 mm - 4.75 mm). Gambar 3.10. US mesh yang digunakan untuk mengukur diameter kristal NaCl. 11. Perlengkapan lain Perlengkapan lain yang digunakan dalam penelitian ini antara lain : sendok besi, sarung tangan las, penjepit kowi, mistar, dan jangka sorong. 3.3.2. Bahan Penelitian 1. Aluminium 6061-T651 Bahan dasar dalam pembuatan aluminum foam yaitu plat aluminium 6061- T651 (Gambar 3.11). Aluminium 6061-T651 merupakan jenis aluminium paduan

38 tempa yang memiliki unsur paduan pokok yaitu aluminium (Al), magnesium (Mg), dan silikon (Si). Kode T pada kode T651, menunjukkan pengerasan penuaan (pengerjaan panas) pada material tersebut. Sedangkan kode T6 berarti solution treatment, dan di-aging secara artifisial. Total berat aluminium yang digunakan sebesar 54 gram. Tabel 3.2 menunjukkan komposisi dari aluminium 6061-T651. Sebelum dilebur, plat aluminium dipotong terlebih dahulu dan ditimbang menggunakan timbangan digital. Gambar 3.11. Aluminium 6061 T651 Tabel 3.2. Komposisi kimia aluminium 6061-T651 (%wt) Sumber : http://www.clintonaluminum.com/wp-content/uploads/2014/08/grade-6061- T6-T651 Komposisi Kimia Paduan aluminium 6061-T651 (%wt) Al 95,8-98,6 Mg 0,80-1,20 Si 0,40-0,80 Fe <=0,70 Cu 0,15-0,40 Cr 0,04-0,35 Zn <=0,25 Mn <=0,15 Ti <=0,15 other <=0,15

39 2. NaCl Natrium chlorida yang digunakan memiliki ukuran US mesh 4-16 (1,18 mm - 4,75 mm) seperti Gambar 3.12. Gambar 3.12. NaCl kristal. 3. Arang Arang yang digunakan merupakan arang kayu (Gambar 3.13). Arang berfungsi sebagai bahan pembakaran. Gambar 3.13. Arang kayu. 3.4. Proses Pembuatan Aluminum foam Pembuatan aluminum foam menggunakan metode direct foaming dengan penambahan foaming agent (Alporas). Proses ini diawalai dengan peleburan aluminium menjadi cair, pengukuran temperatur tuang, pencampuran foaming

40 agent (NaCl), pengadukan, foaming, pembongkaran cetakan. Proses tersebut sering disebut proses melt route aluminum foam, dengan diagram alir proses sebagai berikut : Aluminium NaCl Mix into the melt Proses Foaming Al-foam Gambar 3.14. Diagram alir proses foamig. Tahapan dari proses melt route tersebut sebagai berikut : 1. Meyiapkan alat dan bahan penelitian. 2. Melakukan pengayakan NaCl dengan US mesh, hal ini dilakukan guna mengukur diameter NaCl yang akan digunakan. 3. Memotong plat aluminium 6061-T651, supaya dapat masuk ke dalam kowi dan mempercepat peleburan dengan ukuran plat yang kecil. 4. Menimbang massa aluminium dan NaCl yang akan digunakan. 5. Menyalakan api pada tungku pembakaran. 6. Memasukkan aluminium yang sudah ditimbang ke dalam kowi. Peleburan aluminium dilakukan satu persatu sesuai dengan perhitungan massa spesimen yang telah ditentukan, yaitu spesimen A, B, C,D, dan E. 7. Ketika aluminium sudah mulai mencair, kemudian diukur suhu aluminium cair dengan termokopel digital. Suhu cair aluminium berkisar 660 o C dan cair sempurna pada suhu 700 o C. 8. Memasukkan NaCl ke dalam cetakan. 9. Ketika suhu aluminium sudah mencapai 850 o C, aluminium siap dituang ke dalam cetakan. 10. Sebelum aluminium dituang ke dalam cetakan, batang pengaduk dipanaskan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan supaya perbedaan suhu

41 antara batang pengaduk dengan aluminium tidak terlalu jauh dan aluminium tidak menempel pada batang pengaduk. 11. Letakan batang pengaduk yang sudah dipanaskan kedalam cetakan, kemudian tuang aluminium kedalam cetakan. 12. Pengadukan dilakukan sekitar 5-10 detik dengan kecepatan 2000-3000 rpm. Saat proses mixing, batang pengaduk dan cetakan diusahakan tidak goyang. Supaya tidak merusak cetakan dan proses foaming yang berlangsung. 13. Proses foaming berlangsung sekitar 10-60 detik. 14. Setelah cetakan mulai dingin dan proses foaming selesai, dilakukan pembongkaran cetakan dengan mnggunakan serok besi. 15. Proses terakhir, aluminum foam dibubut untuk dibentuk sesuai dengan ukuran spesimen yang akan dilakukan proses pengujian. 3.5. Tahapan Pengujian Aluminum foam 3.5.1. Pengujian Porositas Untuk menghitung nilai porositas aluminum foam, terlebih dahulu menghitung nilai densitasnya. Densitas merupakan perbandingan antara massa dan volume dari aluminum foam yang dihasilkan. Densitas aluminum foam akan dibandingkan dengan densitas aluminium padat yang nilainya berkisar 2.7 g/cm 3. Pengujian densitas dan porositas dilakukan pada aluminum foam yang sudah dimachining berbentuk silinder, dengan ukuran diameter 15 mm dan panjang 25 mm. Menghitung densitas :... (3.1) Dimana : ρ = densitas material (g/cm 3 ) m = massa bahan (gram) v = volume bahan (cm 3 ) Menghitung porositas : Porositas = -...(3.2)

42 Dimana : ρ Al = densitas aluminium (g/cm 3 ) ρ foam = densitas aluminum foam (g/cm 3 ) 3.5.2. Pengujian Metalografi Pengujian metalografi dilakukan dua pengamatan, yaitu struktur makro dan struktur mikro. Pengamatan struktur mikro bertujuan untuk mengetahui bentuk pori, ukuran pori, penyebaran pori, dan tebal dinding pori yang terbentuk. Untuk melihat struktur mikro digunakan mikroskop OLYMPUS PME3. Sebelum dilakukan pengujian struktur mikro, spesimen diresin terlebih dahulu, supaya spesimen tidak mudah rusak dan dapat berdiri tegak. Tahapan pengamatan struktur mikro sebagai berikut : 1. Menyiapakan spesimen yang akan diuji. 2. Mengamplas dan memoles spesimen dengan autosol, supaya mengkilap dan strktur mikro dapat terlihat jelas. 3. Menyiapkan kamera optilab dan menempatkan spesimen di atas stage plate yang ada pada mikroskop. 4. Mengkoneksikan optilab ke komputer. 5. Mengatur pembesaran hingga didapatkan gambar yang sesuai. Gambar 3.15. OLYMPUS PM3

43 3.5.3. Pengujian Kuat Tekan Pengujian kuat tekan dilakukan untuk mengetahui kuat tekan dan kemampuan penyerapan energi mekanik dari aluminum foam yang dihasilkan. Penekanan spesimen dilakukan hingga 60 % deformasi dan dihentikan apabila spesimen hancur. Pada saat pembebanan, dilakuakn pencatatan beban yang diterima, serta dokumentasi spesimen saat terjadi deformasi. Pengujian dilakukan menggunakan UTM (Universal Testing Machine) yang terdapat di laboratorium teknik mesin UNS. Adapun tahapan pengujian kuat tekan sebagai berikut : 1. Mempersiapkan spesimen A,B,C, dan D. 2. Menyalakan mesin UTM. 3. Mengukur diameter dan tinggi awal. 4. Memasang spesimen. 5. Mengatur beban yang diterima. 6. Mengatur kecepatan pembebanan. 7. Memulai proses pembebanan. 8. Mendokumentasikan deformasi yang terjadi. 9. Mencatat nilai beban pada petunjuk digital UTM. 10. Menghentikan pengujian saat spesimen telah hancur atau saat beban maksimum tercapai. 11. Menghitung kuat tekan dengan menggunakan rumus. Dari grafik tersebut, kemudian dilakukan perhitungan untuk mencari nilai tegangan, regangan, tegangan luluh, dan modulus elastisitas. Berikut rumusrumusnya : Tegangan... (3.3) Keterangan : σ = tegangan (N/mm 2 ) F = gaya tekan (N) A o = luas penampang (mm 2 ) Regangan

44 -...(3.4) Keterangan : ԑ = regangan (mm) l i = panjang setelah ditekan (mm) l o = panjang awal (mm) Tegangan luluh o...(3.5) Keterangan : σ s = tegangan luluh (kn/ mm 2 ) P y = beban di titik yield (kn) A o = luas penampang awal (mm 2 ) Modulus elastisitas... (3.6) Keterangan : E = modulus elastisitas/ modulus Young (Mpa) l o = panjang awal (mm) Δl = perubahan panjang (mm) F = beban (kn) A o = luas penampang (mm 2 ) Gambar 3.16. Mesin UTM SANS CHT4000.

45 3.6. Diagram Alir Penelitian Mulai Studi Pustaka Persiapan alat dan bahan Tidak Pembuatan Al foam dengan fraksi massa NaCl : 0%, 40%, 45%, dan 50%. Terdapat Porositas Ya Proses Machining Densitas dan Porositas Sifat Morfologi Kuat Tekan Pengolahan Data Analisa dan Pembahasan Kesimpulan Selesai Gambar 3.17. Diagram alir penelitian