68 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 PENGUKURAN KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA) DENGAN MENGGUNAKAN METODE TIME SEARCH Oleh: Maiser Syaputra Program Studi Kehutanan Universitas Mataram Abstrak : This study aims to determine the diversity of butterflies (Lepidoptera) and analyze the level of species diversity, richness, evenness and butterfly conservation status based on the results of an inventory conducted in secondary forest areas of Karya village, Cempaka subdistrict, Cianjur district. The method used in this research was Time search method which is a modification of the line transect method. The Time search method does not use distance limitations / certain extents but time. The landscape of the study site is a hill, terraced sample / observation path taken by representatives of the sides of the hill slopes covering the north, south, west, east, as well as the crest of the hill. The results showed there were 172 butterflies from 34 species were identified. From this study also note that transect with the highest level of diversity and wealth are on the west slope of the path (H '= 2.96, dmg = 5.75) while the path with the highest evenness located on the southern slope of the path (E = 5.74), and from conservation status analyze, there were no protected species in every locations. Keywords: Butterfly, Biodiversity, Time search PENDAHULUAN Kupu-kupu merupakan kelompok satwa serangga dari ordo Lepidoptera. Lepidoptera berasal dari kata lepis yang berarti sisik dan ptera yang berarti sayap. Ciri lain dari bangsa ini antara lain memiliki tiga pasang tungkai, tubuh terdiri dari tiga segmen, memiliki sepasang antena, dan mengalami metamorfosis sempurna. Keberadaan kupu-kupu (Lepidoptera) pada suatu kawasan dapat dipandang sebagai suatu hal yang sangat penting, hal ini berkaitan dengan fungsinya sebagai boindikator kelestarian lingkungan, karena satwa ini tidak dapat hidup pada lingkungan tercemar (Holloway et al. 1987). Selain itu lepidoptera juga berperan dalam membantu proses penyerbukan berbagai jenis tanaman berbunga (Borror et al. 1996). Faktor penentu keberadaan kupu-kupu dapat dilihat melalui pendekatan ekologi dari satwa ini di alam, yakni bagaimana hubungan satwa ini dengan faktor abiotik dan biotik penyusun ekosistem serta kondisi-kondisi yang mempengaruhi hidupnya di alam. Secara umum faktor lingkungan yang berpengaruh besar terhadap kehidupan kupu-kupu antara lain suhu, cahaya matahari, curah hujan, ketersediaan sumber air, dan vegetasi pakan (Dephut 2003). Metode timesearch merupakan metode inventarisasi dengan plot yang memiliki batasan waktu (menit). Waktu yang digunakan ditetapkan secara konsisten, waktu perhitungan plot pengamatan dimulai ketika individu pertama ditangkap hingga waktu yang ditentukan berakhir, diikuti dengan plot-plot berikutnya hingga plot ke- n. Semua individu yang terdapat pada plot ditangkap dengan menggunakan jaring. Tujuan dari penelitian ini adalah:mengetahui keanekaragaman kupu-kupu (Lepidoptera) menggunakan metode Time search. Menganalisa tingkat keanekaragaman jenis, kekayaan, kemerataan, serta status konservasi kupu-kupu (Lepidoptera) dari hasil inventarisasi. METODE PENELITIAN Pengukuran keanekaragaman Lepidoptera ini berlokasi di desa Karya, kecamapan Cempaka, kabupaten Cianjur pada kawasan hutan tegakan sekunder, dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2013. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain jaring serangga, jarum suntikan, pinset, jarum pentul, tally sheet, dan kotak spesimen. Sedangkan bahan yang digunakan antaralain alkohol 70%, kertas minyak, dan kapur barus. Data diperoleh menggunkan metode Time search, yaitu modifikasi dari metode transek garis dimana plot pengamatan tidak dibatasi oleh jarak/luasan tertentu, melainkan waktu (menit). Waktu yang ditentukan dalam penelitian ini adalah 15 menit untuk setiap plotnya. Pengamat leluasa mengobservasi seluruh plot selama waktu yang ditentukan tersebut, hitungan dimulai ketika indvidu pertama tertangkap atau terlihat. Plot pengamatan metode Time search dapt dilihat pada Gambar 1.
ISSN No. 1978-3787 Media Bina Ilmiah 69 Gambar 1 Plot pengamatan metode time search Prosedur pengambilan data menggunakan metode Time Search sebagai berikut: 1. Perhitungan plot pengamatan dimulai ketika kupu-kupu pertama terlihat oleh pengamat, pengamat mencatat seluruh individu yang dapat dikenali di dalam tally sheet 2. Apabila pengamat tidak dapat mengenali/ mengedentifikasi spesies yang terlihat, maka individu tersebut harus ditangkap untuk identifikasi lebih lanjut 3. Individu yang tertangkap disimpan rapi pada kertas minyak dengan posisi sayap tertutup dan diberi kode lalu ditempatkan di dalam kotak spesimen untuk mencegah kerusakan. 4. Selama waktu yang ditentukan (15 menit), pengamat melakukan observasi di sekitar lokasi searah dengan jalur pengamatan, tidak ada batasan jarak selama kegiatan berlangsung 5. Perhitungan plot berakhir setelah melewati batas waktu yang ditentukan, 6. Perhitungan plot selanjutnya dimulai kembali pada saat individu pertama (pada plot yang baru) terlihat atau tertangkap oleh pengamat Pengambilan data dilakukan pada kawasan hutan sekunder dengan bentang lahan berupa bukit. Petak contoh (jalur pengamatan) diambil berdasarkan perwakilan dari sisi-sisi bukit tersebut meliputi lereng,,,, serta puncak dari bukit, masing-masing jalur berjumlah 10 plot, sehingga keseluruhan plot berjumlah 50. Pengamatan dilakukan pada pagi hari mulai pukul 08.00 wib, karena pada jam-jam ini kupu-kupu lebih mudah untuk diamati. Kupu-kupu termasuk satwa yang aktif bergerak, (mencari makan dan kawin) pada pagi hari (Simanjuntak 2001). Analisis Data 1. Keanekaragaman jenis Keanekaragaman jenis dinilai menggunakan indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener dengan rumus: H = - Pi ln Pi H = indeks keanekaragaman Shannon-Wiener 2. Kemerataan jenis Untuk mengetahui kemerataan setiap jenis dalam setiap komunitas digunakan Indeks Kemerataan Evenness (E), dengan rumus: E = H / ln S E = indeks kemerataan H = keanekaragaman jenis serangga Ln = logaritma natural S = jumlah jenis 3. Kekayaan jenis Kekayaan jenis dinilai menggunakan indeks kekayaan Margalef, dengan rumus: Dmg : (S-1)/ ln N Dmg = indeks kekayaan jenis S = jumlah spesies Ln = logaritma natural N = Jumlah individu HASIL DAN PEMBAHASAN a. Kondisi Habitat Hasil pengamatan terhadap suhu dan kelembapan di lokasi pengamatan menunjukkan rata-rata suhu pada pagi hari 25.5 ºC dengan kelembapan 77.6 %, Suhu terendah yang pernah tercatat adalah 25 ºC dan tertinggi 26 ºC, sedangkan kelembapan terendah 76 % serta tertinggi 84 %. Lokasi pengamatan yang berada di daerah pegunungan dengan ketinggian 900-1000 mdpl menyebabkan tingginya rata-rata kelembapan di lokasi pengamatan. Dampak substansial dari kondisi suhu dan kelembapan lingkungan adalah kelimpahan populasi. Kelimpahan kupu-kupu lebih rendah terjadi selama musim hujan dan pada saat suhu tinggi (Robinson et al. 2012). Lokasi pengamatan berbatasan dengan sawah masyarakat pada bagian,, dan serta pemukiman pada bagian. Lokasi pengamatan termasuk jenis ekosistem hutan sekunder yang umumnya terdiri dari tanaman budidaya masyarakat seperti kopi (Coffea Sp.), teh (Camelia Sp.), nangka (Artocarpus heterophyllus), pisang (Musa Sp.), dan aren (Arenga pinata) selain itu di lokasi pengamatan juga ditemukan tumbuhan sengon (parasirianthes falcataria), puspa (Schima wallichii), dan juga kayu afrika (Maesopsis eminii). b. Keanekaragaman jenis kupu-kupu Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa kupu-kupu yang berhasil diamati berjumlah
70 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 34 jenis yang terdiri dari tiga famili yaitu Papilioidae, Nymphalidae, dan Pieridae, sedangkan jumlah kupu-kupu yang berhasil tercatat selama pengamatan berjumlah 172 individu. Data keanekaragaman kupu-kupu dapat dilihat pada Tabel 1. Famili Nymphalidae merupakan famili yang paling banyak ditemukan diikuti famili Papilionidae dan Pieridae. Data sebaran kupu-kupu perfamili dapat dilihat pada Gambar 2. 30 25 20 15 10 5 0 24 Nymphalidae Papilionidae Pieridae Gambar 2 Jumlah kupu-kupu berdasarkan famili Tingginya perjumpaan terhadap famili Nymphalidae disebabkan karena famili tersebut merupakan famili yang memiliki jumlah spesies terbesar diantara famili kupu-kupu lainnya. Corbert dan Pendleburry (1956) menyatakan bahwa famili Nymphalidae umumnya mempunyai penyebaran yang luas, menyukai tempat tempat terang, daerah kebun dan hutan, dan beberapa menyukai tempat berbau busuk. Tabel 1 Keanekaragaman jenis kupu-kupu No Nama Famili n 1 Amanthusia phidippus Nymphalidae 1 2 Athyma nefte Nymphalidae 7 3 Danaus melanippus Nymphalidae 10 4 Elymnias Nymphalidae 2 hypermnestra 5 Elymnias nesaea Nymphalidae 2 6 Euploea climena Nymphalidae 6 7 Euploea eunice Nymphalidae 1 8 Euploea mulciber Nymphalidae 1 9 Euploea radamanthus Nymphalidae 1 10 Faunis canens Nymphalidae 2 11 Hypolimnas bolina Nymphalidae 3 12 Iapis godt Nymphalidae 12 13 junonia almana Nymphalidae 1 14 Junonia iphita Nymphalidae 1 15 Junonia orithya Nymphalidae 5 16 Lethe confusa Nymphalidae 4 17 Melanitis phedima Nymphalidae 9 6 4 Hasil pengamatan menunjukkan bahwa keberadaan kupu-kupu di lokasi penelitian tidak merata atau terdapat beberapa jenis kupu-kupu yang mendominasi, artinya jenis-jenis tersebut ditemukan hampir pada setiap jalur pengamatan dengan jumlah lebih tinggi daripada jenis lainnya. Jenis tersebut antara lain Danaus melanippus, Iapis godt, Melanitis phedima, Delias belisama, Eurema blanda, dan Eurema hecabe. 20 15 10 5 0 6 Gambar 3 Dominansi kupu-kupu Kupu-kupu yang tergolong umum diantaranya Athyma nefte, Euploea climena, dan Lethe confuse. Sedangkan jenis kupu-kupu yang tergolong tidak dominan atau jarang diantaranya adalah Amanthusia phidippus, Euploea eunice, dan junonia almana. Data penyebaran jenis kupu-kupu dominan dilihat pada Gambar 3. No Nama Famili n 18 Mycalesis horsfieldi Nymphalidae 1 19 Mycalesis maianeas Nymphalidae 1 20 Papilio helenus Nymphalidae 5 21 Polyura athamas Nymphalidae 1 22 Tanaecia palguna Nymphalidae 2 23 Ypthima pondocus Nymphalidae 4 24 Ypyhima baldus Nymphalidae 1 25 Graphium agamemnon Papilionidae 7 26 Graphium sarpedon Papilionidae 7 27 Pachliopta Papilionidae 1 aristolochiae 28 Papilio demolion Papilionidae 5 29 Papilio memnon Papilionidae 7 30 Papilio polytes Papilionidae 4 31 Delias belisama Pieridae 24 32 Eurema blanda Pieridae 15 33 Eurema hecabe Pieridae 18 34 Apias nero Pieridae 1 172 Keanekaragaman jenis bisa dijadikan patokan dalam menilai kekayaan alam hayati pada kawasan 11 17 Dominan Subdominan Tidak dominan
ISSN No. 1978-3787 Media Bina Ilmiah 71 tertentu. Keanekaragaman jenis suatu komunitas tinggi jika komunitas itu disusunoleh banyak jenis. Sebaliknya suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang rendah jika komunitas itu disusun oleh sedikit jenis dan hanya sedikit jenis yang dominan (Indriyanto, 2006). Dalam observasi keanekaragaman kupukupu pada penelitian ini digunakan pengukuran keragaman jenis menggunakan indeks Shannon- Wiener. Bila ditinjau perlokasi jalur pengamatan diketahui bahwa jalur Barat merupakan lokasi yang memiliki tingkat keanekaragaman kupu-kupu paling tinggi diantara jalur lainnya dengan nilai indeks keanekaragaman Shannon wiener 2.96 sedangkan jalur pengamatan dengan tingkat keanekaragaman kupu-kupu terendah adalah jalur Timur dengan nilai indeks 2.61. Keanekaragaman kupu-kupu pada tiap jalur pengamatan dapt dilihat pada Gambar 4. Barat merupakan lokasi pengamatan yang memiliki tingkat keanekaragaman kupu-kupu tertinggi. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi lokasi yang cukup terbuka dan ditemukannya vegetasivegetasi tanaman pakan seperti Babandotan (Ageratum conyzoides) dan Kaliandra (Caliandra Sp.). Kupu-kupu merupakan satwa yang sangat tergantung pada keberadaan tanaman pakan, sehingga jumlah dan jenis pakan akan berpengaruh pada kemampuan reproduksi kupu-kupu (Dennis et al. 2004). 3.50 2.50 1.50 0.50 2.35 2.31 2.96 2.16 Gambar 4 Keanekaragaman kupu-kupu pada setiap jalur pengamatan Index Shannon-Wienner merupakan gambaran tingkatan skor seberapa besar ketidaktentuan (uncertainty) spesies-spesies yang ada dalam suatu lokasi. Sehingga semakin besar indeks maka semakin banyak spesies yang mungkin dapat ditemukan, sebaliknya nilai nol (0) mengindikasikan bahwa spesies yang akan ditemukan sudah dapat dipastikan, dengan kata lain hanya akan ada 1 spesies pada lokasi tersebut. c. Kemerataan jenis kupu-kupu 2.63 Kemerataan merupakan nilai yang menunjukkan sebaran jumlah individu per setiap jenis pada suatu lokasi. Nilai kemerataan menggunakan indek Evenness dengan nilai minimal nol (0) memiliki arti bahwa setiap jenis yang ditemukan pada lokasi tersebut memiliki jumlah individu yang berbeda banyaknya (tidak pernah sama jumlahnya), sedangkan nilai lebih dari nol (0) mengindikasikan bahwa setiap jenis yang ditemukan pada lokasi tersebut memiliki jumlah individu yang sama banyaknya. Tingkat kemerataan juga mempengaruhi kestabilan suatu jenis di alam, hal ini berkaitan dengan kemampuan suatu spesies bertahan dari ancaman kepunahan. Mawazin dan Subiakto (2013) menyatakan bahwa suatu jenis yang memiliki tingkat kestabilan yang tinggi mempunyai peluang yang lebih besar untuk mempertahankan kelestarian jenisnya. Hasil perhitungan indeks kemerataan jenis menunjukkan bahwa lokasi dengan nilai kekemerataan tertinggi berada pada jalur Selatan dengan nilai 5.74, sedangkan lokasi dengan nilai kemerataan terendah adalah dengan nilai 0.91. Nilai kemerataan jenis kupu-kupu pada setiap lokasi dapat dilihat pada Gambar 5. 7.00 6.00 5.00 4.00 0.91 5.74 0.99 0.94 0.95 Gambar 5 Kemerataan jenis kupu-kupu pada setiap jalur pengamatan d. Kekayaan jenis kupu-kupu Kekayaan merupakan nilai yang ukurannya dipengaruhi oleh banyaknya jenis dan jumlah individu pada suatu lokasi pengamatan. Semakin banyak jumlah jenis dan individu pada suatu lokasi maka nilai indeks kekayaan semakin tinggi. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa lokasi dengan nilai indeks kekayaan jenis tertinggi berada pada Barat dengan nilai 5.75 sedangkan nilai kekayaan jenis terendah berada pada lokasi Timur dengan nilai 3.19. Nilai kemerataan pada setiap lokasi pengamatan dapat dilihat pada Gambar 6.
72 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 7.00 6.00 5.00 4.00 3.49 3.34 5.75 3.19 3.94 Dennis RLH, Hodgson JG, Grenyer R, Shreeve TG, Roy DB. 2004. Host plants and butterfly biology. Do host-plant strategies drive butterfly status?. J Ecological Entomology. 29(1): 12 26. Departemen Kehutanan. 2003. Potensi Kupu-kupu di Wilayah Kerja Balai KSDA Sulawesi Selatan I. Makassar. Departemen Kehutanan, Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Gambar 6. Kekayaan jenis kupu-kupu pada setiap jalur pengamatan e. Status konservasi Hasil identifikasi pada setiap jenis kupu-kupu terkait status perundang-undangan yang berlaku menunjukkan bahwa tidak satu pun kupu-kupu di lokasi penelitian masuk dalam kategori satwa dilindungi menurut PP No. 7 Tahun 1999 dan tidak termasuk status konservasi IUCN, begitupula dengan aturan perdaganagan CITES, tidak satu pun kupu-kupu masuk dalam kategori appendicities, Namun beberapa diantara kupu-kupu yang ditemukan tersebut termasuk pada jenis kupu-kupu komersil yang diperjualbelikan antara lain Pachliopta aristolochiae, Papilio helenus, Papilio memnon, dan Papilio polytes. Jenis-jenis tersebut umum dibudidayakan masyarakat sebagai objek wisata maupun kerajinan tangan. SIMPULAN 1. Kupu-kupu (Lepidoptera) yang berhasil ditemukan dalam kegiatan ini berjumlah berjumlah 172 individu dari 34 spesies yang terdiri dari tiga famili yaitu Papilioidae, Nymphalidae, dan Pieridae. 2. Jalur pengamatan dengan tingkat keanekaragaman dan kekayaan tertinggi berada pada jalur lereng (H = 2.96, Dmg = 5.75) sedangkan jalur dengan kemerataan jenis tertingi berada pada jalur lereng (E = 5.74), dan dilihat dari status konservasinya, tidak ditemukan adanya spesies kupu-kupu dilindungi pada penelitian ini. Holloway JD, JD Bradley, dan DJ Carter. 1987. Lepidoptera. Di dalam: betts CR, editor. Guide to Insects of Importance to Man. London: CAB International Institute of Entomology. Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara, Jakarta. Mawazin, Subiakto A. 2013. Keanekaragaman Dan Komposisi Jenis Permudaan Alam Hutan Rawa Gambut Bekas Tebangan Di Riau. J Forest Rehabilitation 1(1): 59 73. Robinson N, Armstea S, Bowers MD. 2012. Butterfly community ecology: the influences of habitat type, weather patterns, and dominant species in a temperate ecosystem. Entomologia Experimentalis et Applicata. J Entomologia Experimentalis et Applicata. 145(1): 50 61. Simanjuntak, OFM. 2001. Kajian produksi dan tingkah laku beberapa jenis kupu-kupu yang terdapat di beberapa daerah di kabupaten bogor. [Tesis]. Bogor. Institut Pertanian Bogor. DAFTAR PUSTAKA Corbert AS, Pendlebury HM. 1992. The Butterfly of The Malay Peninsula. Kuala Lumpur: United Selangor Press