68 Media Bina Ilmiah ISSN No

dokumen-dokumen yang mirip
KEANEKARAGAMAN JENIS KUPU-KUPU PADA EKOSISTEM HUTAN RAWA AIR TAWAR DAN HUTAN DATARAN RENDAH DI DESA BELITANG DUA KECAMATAN BELITANG KABUPATEN SEKADAU

LAPORAN IVENTARISASI KUPU-KUPU Di Hutan Banyuwindu, Limbangan Kabupaten Kendal

BAB IV METODE PENELITIAN

KEANEKARAGAMAN DAN SEBARAN KUPU-KUPU (Lepidoptera: Rhacalopera) DI KAWASAN KAMPUS UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDRALAYA SUMATERA SELATAN

BAB IV METODE PENELITIAN

Biosaintifika 5 (1) (2013) Biosantifika. Berkala Ilmiah Biologi.

Keanekaragaman kupu-kupu (Lepidoptera) di kawasan Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU DI TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA. Jenis Kegiatan : PKM Analisis Ilmiah.

I. PENDAHULUAN. (Sujatnika, Joseph, Soehartono, Crosby, dan Mardiastuti, 1995). Kekayaan jenis

METODE PENELITIAN. Lokasi dan Waktu Penelitian

Biosaintifika 5 (2) (2013) Biosaintifika. Journal of Biology & Biology Education.

KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR (Nepenthes SPP) DALAM KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG SEMAHUNG DESA SAHAM KECAMATAN SENGAH TEMILA KABUPATEN LANDAK

KEANEKARAGAMAN JENIS BAMBU (Bambusodae) DALAM KAWASAN HUTAN AIR TERJUN RIAM ODONG DUSUN ENGKOLAI KECAMATAN JANGKANG KABUPATEN SANGGAU

LAMPIRAN. Sumber : Kementerian Kehutanan BBTNGL (Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser)

JENIS-JENIS KUPU-KUPU DI SUAKA ELANG TAMAN NASIONAL GUNUNG HALIMUN SALAK, BOGOR ( Butterflies in Suaka Elang Mount Halimun Salak National Park, Bogor)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. laboratorium alami bagi mahasiswa jurusan Pendidikan Biologi FPMIPA UPI.

BioLink JURNAL BIOLOGI LINGKUNGAN, INDUSTRI, KESEHATAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Maret 2012 di Rawa Bujung Raman

I. PENDAHULUAN. Kawasan lahan basah Bujung Raman yang terletak di Kampung Bujung Dewa

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat

KEANEKARAGAMAN JENIS MERANTI (SHORE SPP) PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA PROPINSI KALIMANTAN BARAT

III. METODE PENELITIAN

Oleh: Munifah NIM

KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR (Nepenthes spp) KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG AMBAWANG DESA KAMPUNG BARU KECAMATAN KUBU KABUPATEN KUBU RAYA

Jurnal MIPA 35 (1) (2012) Jurnal MIPA.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan April 2014 di Desa Kibang Pacing. Kecamatan Menggala Timur Kabupaten Tulang Bawang.

Perbandingan keanekaragaman kupu-kupu antara tipe tutupan lahan hutan dengan kebun sawit

BIRD PREFERENCE HABITATS AROUND SERAYU DAM BANYUMAS CENTRAL JAVA

KEANEKARGAMAN KUPU-KUPU DIURNAL (SUB ORDO: RHOPALOCERA) DI KOMPLEK GUNUNG BROMO KPH SURAKARTA KABUPATEN KARANGANYAR TAHUN 2013

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2015 di Repong Damar Pekon

Jurnal Biology Education Vol. 4 No. 1 April 2015

Keanekaragaman kupu-kupu (Insekta: Lepidoptera) di Wana Wisata Alas Bromo, BKPH Lawu Utara, Karanganyar, Jawa Tengah

PENDAHULUAN Latar belakang

BIOEDUKASI Jurnal Pendidikan Biologi e ISSN Universitas Muhammadiyah Metro p ISSN

3. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 2015 di Hutan Mangrove KPHL Gunung

SKRIPSI. KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (Lepidoptera) DI PLAWANGAN KAWASAN TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan September 2014 di Kawasan Budidaya

Konsep Keanekaragaman METODE Tempat dan Waktu Penelitian

STUDI KEANEKARAGAMAN JENIS KANTONG SEMAR

SUSUNAN ACARA SEMINAR NASIONAL BIOLOGI 2010 Fakultas Biologi UGM, September JUM AT, 24 SEPTEMBER 2010 Waktu Acara Tempat

INVENTARISASI KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA: RHOPALOCERA) DI RESORT PANCUR KAWASAN TAMAN NASIONAL ALAS PURWO (TNAP) BANYUWANGI JAWA TIMUR SKRIPSI.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

KERAGAMAN LEPIDOPTERA PADA DUKUH DAN KEBUN KARET DI DESA MANDIANGIN KABUPATEN BANJAR

III. METODE PENELITIAN

KOMPOSISI KUPU-KUPU PAPILIONIDAE DI KAWASAN CAGAR ALAM LEMBAH HARAU KABUPATEN LIMA PULUH KOTA SUMATERA BARAT ARTIKEL ILMIAH

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Youth Camp Tahura WAR pada bulan Maret sampai

KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

III. METODE PENELITIAN

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. daya tarik tinggi baik untuk koleksi maupun objek penelitian adalah serangga

1. Pendahuluan KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU DI WILAYAH PEMUKIMAN DESA PANGANDARAN CIAMIS JAWA BARAT

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan hutan mangrove Desa Margasari

Kelompok Papilionidae lebih banyak aktif di siang hari untuk menghindari predator, seperti burung yang aktif pada pagi hari (Homziak & Homziak 2006).

Kata kunci: kupu-kupu, keanekaragaman, kelimpahan, Universitas Jambi.

KEANEKARAGAMAN DAN DISTRIBUSI JENIS KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA) DI KAWASAN HUTAN TAMAN WISATA ALAM SURANADI SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN BIOLOGI

3. METODOLOGI PENELITIAN. Rajawali Kecamatan Bandar Surabaya Kabupaten Lampung Tengah.

Biodiversitas kupu-kupu superfamili Papilionoidea (LEPIDOPTERA) di Hutan Kota Arboretum Wanawisata Pramuka Cibubur, Jakarta

KEANEKARAGAMAN JENIS BAMBU DI HUTAN KOTA KELURAHAN BUNUT KABUPATEN SANGGAU Bamboo Species Diversity In The Forest City Bunut Sanggau District

Program Studi Entomologi Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado * korespondensi:

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN

METODE A. Waktu dan Tempat Penelitian

Analisis Keanekaan dan Kekerabatan Kupu-Kupu Cagar Alam Leuweung Sancang Berdasarkan Karakter Morfologi

KEANEKARAGAMAN JENIS VEGETASI PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG AMBAWANG KABUPATEN KUBU RAYA PROVINSI KALIMANTAN BARAT

STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI DESA MARTAJASAH KABUPATEN BANGKALAN

9-074 ANALISIS TIPOLOGI LEPIDOPTERA BERDASARKAN OBSERVASI HABITAT DI KAWASAN HUTAN LINDUNG NUSAKAMBANGAN, CILACAP, JAWA TENGAH

BAB III METODE PENELITIAN

JENIS KUPU-KUPU DI BERBAGAI TIPE HABITAT PADA KAWASAN HUTAN LINDUNG AMBAWANG DESA SUNGAI DERAS KECAMATAN TELUK PAKEDAI KABUPATEN KUBU RAYA

KUPU-KUPU (RHOPALOCERA) DI SEKITAR KAMPUS UNIVERSITAS PASIR PENGARAIAN KABUPATEN ROKAN HULU PROVINSI RIAU

9-077 STRUKTUR KOMUNITAS KUPU-KUPU PADA AREA WANA WISATA AIR TERJUN COBAN RAIS DI BATU

III. METODE PENELITIAN

Inventarisasi Jenis Kupu-kupu pada Hutan Kerangas di Kawasan Cagar Alam Mandor Kabupaten Landak

2016 PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI MACAM PAKAN ALAMI TERHAD APPERTUMBUHAN D AN PERKEMBANGAN FASE LARVA

Keanekaragaman Parasitoid dan Parasitisasinya pada Pertanaman Padi di Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Meidita Aulia Danus, 2015

I. PENDAHULUAN. liar di alam, termasuk jenis primata. Antara tahun 1995 sampai dengan tahun

BAB III METODE PENELITIAN

4 KARAKTERISTIK SUMBER DAYA KUPU-KUPU (Lepidoptera) YANG DIMANFAATKAN SECARA KOMERSIAL

KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA: RHOPALOCERA) DI KAWASAN PENYANGGA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT KILIRAN JAO KECAMATAN KAMANG BARU KABUPATEN SIJUNJUNG

II. TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN. mudah dikenali oleh setiap orang. Seperti serangga lainnya, kupu-kupu juga mengalami

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN BAWAH DI HUTAN PENELITIAN DRAMAGA DAN KEBUN KELAPA SAWIT, CIKABAYAN KAMPUS IPB RIZKI KURNIA TOHIR E

INVENTARISASI KEANEKARAGAMAN SPESIES KUPU-KUPU DI KAWASAN HUTAN DALIT DESA BENAO HULU KECAMATAN LAHEI BARAT KABUPATEN BARITO UTARA SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. memiliki sebaran jenis serangga yang unik. Selain jenis-jenis yang sebarannya

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Serangga merupakan bagian dari keanekaragaman hayati yang harus dijaga kelestariannya dari kepunahan

KEANEKARAGAMAN JENIS KUPU-KUPU (Subordo Rhopalocera) DI KAWASAN WISATA HAPANASAN ROKAN HULU SEBAGAI SUMBER BELAJAR PADA KONSEP KEANEKARAGAMAN HAYATI

BAB III METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Jawa Timur, dilaksanakan pada bulan November sampai dengan bulan Desember

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2017 hingga bulan Februari

Vol. 08 No. 01 April 2012 ISSN Jurnal Ilmiah. Konservasi Hayati. Variasi warna Nepenthes mirabilis

I. PENDAHALUAN. dan kehutanan. Dalam bidang kehutanan, luas kawasan hutannya mencapai. (Badan Pusat Statistik Lampung, 2008).

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Herlin Nur Fitri, 2015

Keanekaragaman Jenis dan Pola Distribusi Nepenthes spp di Gunung Semahung Kecamatan Sengah Temila Kabupaten Landak

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

IV. METODE PENELITIAN

KERAGAMAN KUPU-KUPU DI KAWASAN TELAGA WARNA CISARUA BOGOR DIAN SARI

I. PENDAHULUAN. Lampung memiliki keanekaragaman kupu-kupu yang cukup tinggi. Keanekaragaman kupu-kupu ini merupakan potensi sumber daya alam hayati

TAMBAHAN PUSTAKA. Distribution between terestrial and epiphyte orchid.

Transkripsi:

68 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 PENGUKURAN KEANEKARAGAMAN KUPU-KUPU (LEPIDOPTERA) DENGAN MENGGUNAKAN METODE TIME SEARCH Oleh: Maiser Syaputra Program Studi Kehutanan Universitas Mataram Abstrak : This study aims to determine the diversity of butterflies (Lepidoptera) and analyze the level of species diversity, richness, evenness and butterfly conservation status based on the results of an inventory conducted in secondary forest areas of Karya village, Cempaka subdistrict, Cianjur district. The method used in this research was Time search method which is a modification of the line transect method. The Time search method does not use distance limitations / certain extents but time. The landscape of the study site is a hill, terraced sample / observation path taken by representatives of the sides of the hill slopes covering the north, south, west, east, as well as the crest of the hill. The results showed there were 172 butterflies from 34 species were identified. From this study also note that transect with the highest level of diversity and wealth are on the west slope of the path (H '= 2.96, dmg = 5.75) while the path with the highest evenness located on the southern slope of the path (E = 5.74), and from conservation status analyze, there were no protected species in every locations. Keywords: Butterfly, Biodiversity, Time search PENDAHULUAN Kupu-kupu merupakan kelompok satwa serangga dari ordo Lepidoptera. Lepidoptera berasal dari kata lepis yang berarti sisik dan ptera yang berarti sayap. Ciri lain dari bangsa ini antara lain memiliki tiga pasang tungkai, tubuh terdiri dari tiga segmen, memiliki sepasang antena, dan mengalami metamorfosis sempurna. Keberadaan kupu-kupu (Lepidoptera) pada suatu kawasan dapat dipandang sebagai suatu hal yang sangat penting, hal ini berkaitan dengan fungsinya sebagai boindikator kelestarian lingkungan, karena satwa ini tidak dapat hidup pada lingkungan tercemar (Holloway et al. 1987). Selain itu lepidoptera juga berperan dalam membantu proses penyerbukan berbagai jenis tanaman berbunga (Borror et al. 1996). Faktor penentu keberadaan kupu-kupu dapat dilihat melalui pendekatan ekologi dari satwa ini di alam, yakni bagaimana hubungan satwa ini dengan faktor abiotik dan biotik penyusun ekosistem serta kondisi-kondisi yang mempengaruhi hidupnya di alam. Secara umum faktor lingkungan yang berpengaruh besar terhadap kehidupan kupu-kupu antara lain suhu, cahaya matahari, curah hujan, ketersediaan sumber air, dan vegetasi pakan (Dephut 2003). Metode timesearch merupakan metode inventarisasi dengan plot yang memiliki batasan waktu (menit). Waktu yang digunakan ditetapkan secara konsisten, waktu perhitungan plot pengamatan dimulai ketika individu pertama ditangkap hingga waktu yang ditentukan berakhir, diikuti dengan plot-plot berikutnya hingga plot ke- n. Semua individu yang terdapat pada plot ditangkap dengan menggunakan jaring. Tujuan dari penelitian ini adalah:mengetahui keanekaragaman kupu-kupu (Lepidoptera) menggunakan metode Time search. Menganalisa tingkat keanekaragaman jenis, kekayaan, kemerataan, serta status konservasi kupu-kupu (Lepidoptera) dari hasil inventarisasi. METODE PENELITIAN Pengukuran keanekaragaman Lepidoptera ini berlokasi di desa Karya, kecamapan Cempaka, kabupaten Cianjur pada kawasan hutan tegakan sekunder, dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2013. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain jaring serangga, jarum suntikan, pinset, jarum pentul, tally sheet, dan kotak spesimen. Sedangkan bahan yang digunakan antaralain alkohol 70%, kertas minyak, dan kapur barus. Data diperoleh menggunkan metode Time search, yaitu modifikasi dari metode transek garis dimana plot pengamatan tidak dibatasi oleh jarak/luasan tertentu, melainkan waktu (menit). Waktu yang ditentukan dalam penelitian ini adalah 15 menit untuk setiap plotnya. Pengamat leluasa mengobservasi seluruh plot selama waktu yang ditentukan tersebut, hitungan dimulai ketika indvidu pertama tertangkap atau terlihat. Plot pengamatan metode Time search dapt dilihat pada Gambar 1.

ISSN No. 1978-3787 Media Bina Ilmiah 69 Gambar 1 Plot pengamatan metode time search Prosedur pengambilan data menggunakan metode Time Search sebagai berikut: 1. Perhitungan plot pengamatan dimulai ketika kupu-kupu pertama terlihat oleh pengamat, pengamat mencatat seluruh individu yang dapat dikenali di dalam tally sheet 2. Apabila pengamat tidak dapat mengenali/ mengedentifikasi spesies yang terlihat, maka individu tersebut harus ditangkap untuk identifikasi lebih lanjut 3. Individu yang tertangkap disimpan rapi pada kertas minyak dengan posisi sayap tertutup dan diberi kode lalu ditempatkan di dalam kotak spesimen untuk mencegah kerusakan. 4. Selama waktu yang ditentukan (15 menit), pengamat melakukan observasi di sekitar lokasi searah dengan jalur pengamatan, tidak ada batasan jarak selama kegiatan berlangsung 5. Perhitungan plot berakhir setelah melewati batas waktu yang ditentukan, 6. Perhitungan plot selanjutnya dimulai kembali pada saat individu pertama (pada plot yang baru) terlihat atau tertangkap oleh pengamat Pengambilan data dilakukan pada kawasan hutan sekunder dengan bentang lahan berupa bukit. Petak contoh (jalur pengamatan) diambil berdasarkan perwakilan dari sisi-sisi bukit tersebut meliputi lereng,,,, serta puncak dari bukit, masing-masing jalur berjumlah 10 plot, sehingga keseluruhan plot berjumlah 50. Pengamatan dilakukan pada pagi hari mulai pukul 08.00 wib, karena pada jam-jam ini kupu-kupu lebih mudah untuk diamati. Kupu-kupu termasuk satwa yang aktif bergerak, (mencari makan dan kawin) pada pagi hari (Simanjuntak 2001). Analisis Data 1. Keanekaragaman jenis Keanekaragaman jenis dinilai menggunakan indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener dengan rumus: H = - Pi ln Pi H = indeks keanekaragaman Shannon-Wiener 2. Kemerataan jenis Untuk mengetahui kemerataan setiap jenis dalam setiap komunitas digunakan Indeks Kemerataan Evenness (E), dengan rumus: E = H / ln S E = indeks kemerataan H = keanekaragaman jenis serangga Ln = logaritma natural S = jumlah jenis 3. Kekayaan jenis Kekayaan jenis dinilai menggunakan indeks kekayaan Margalef, dengan rumus: Dmg : (S-1)/ ln N Dmg = indeks kekayaan jenis S = jumlah spesies Ln = logaritma natural N = Jumlah individu HASIL DAN PEMBAHASAN a. Kondisi Habitat Hasil pengamatan terhadap suhu dan kelembapan di lokasi pengamatan menunjukkan rata-rata suhu pada pagi hari 25.5 ºC dengan kelembapan 77.6 %, Suhu terendah yang pernah tercatat adalah 25 ºC dan tertinggi 26 ºC, sedangkan kelembapan terendah 76 % serta tertinggi 84 %. Lokasi pengamatan yang berada di daerah pegunungan dengan ketinggian 900-1000 mdpl menyebabkan tingginya rata-rata kelembapan di lokasi pengamatan. Dampak substansial dari kondisi suhu dan kelembapan lingkungan adalah kelimpahan populasi. Kelimpahan kupu-kupu lebih rendah terjadi selama musim hujan dan pada saat suhu tinggi (Robinson et al. 2012). Lokasi pengamatan berbatasan dengan sawah masyarakat pada bagian,, dan serta pemukiman pada bagian. Lokasi pengamatan termasuk jenis ekosistem hutan sekunder yang umumnya terdiri dari tanaman budidaya masyarakat seperti kopi (Coffea Sp.), teh (Camelia Sp.), nangka (Artocarpus heterophyllus), pisang (Musa Sp.), dan aren (Arenga pinata) selain itu di lokasi pengamatan juga ditemukan tumbuhan sengon (parasirianthes falcataria), puspa (Schima wallichii), dan juga kayu afrika (Maesopsis eminii). b. Keanekaragaman jenis kupu-kupu Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa kupu-kupu yang berhasil diamati berjumlah

70 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 34 jenis yang terdiri dari tiga famili yaitu Papilioidae, Nymphalidae, dan Pieridae, sedangkan jumlah kupu-kupu yang berhasil tercatat selama pengamatan berjumlah 172 individu. Data keanekaragaman kupu-kupu dapat dilihat pada Tabel 1. Famili Nymphalidae merupakan famili yang paling banyak ditemukan diikuti famili Papilionidae dan Pieridae. Data sebaran kupu-kupu perfamili dapat dilihat pada Gambar 2. 30 25 20 15 10 5 0 24 Nymphalidae Papilionidae Pieridae Gambar 2 Jumlah kupu-kupu berdasarkan famili Tingginya perjumpaan terhadap famili Nymphalidae disebabkan karena famili tersebut merupakan famili yang memiliki jumlah spesies terbesar diantara famili kupu-kupu lainnya. Corbert dan Pendleburry (1956) menyatakan bahwa famili Nymphalidae umumnya mempunyai penyebaran yang luas, menyukai tempat tempat terang, daerah kebun dan hutan, dan beberapa menyukai tempat berbau busuk. Tabel 1 Keanekaragaman jenis kupu-kupu No Nama Famili n 1 Amanthusia phidippus Nymphalidae 1 2 Athyma nefte Nymphalidae 7 3 Danaus melanippus Nymphalidae 10 4 Elymnias Nymphalidae 2 hypermnestra 5 Elymnias nesaea Nymphalidae 2 6 Euploea climena Nymphalidae 6 7 Euploea eunice Nymphalidae 1 8 Euploea mulciber Nymphalidae 1 9 Euploea radamanthus Nymphalidae 1 10 Faunis canens Nymphalidae 2 11 Hypolimnas bolina Nymphalidae 3 12 Iapis godt Nymphalidae 12 13 junonia almana Nymphalidae 1 14 Junonia iphita Nymphalidae 1 15 Junonia orithya Nymphalidae 5 16 Lethe confusa Nymphalidae 4 17 Melanitis phedima Nymphalidae 9 6 4 Hasil pengamatan menunjukkan bahwa keberadaan kupu-kupu di lokasi penelitian tidak merata atau terdapat beberapa jenis kupu-kupu yang mendominasi, artinya jenis-jenis tersebut ditemukan hampir pada setiap jalur pengamatan dengan jumlah lebih tinggi daripada jenis lainnya. Jenis tersebut antara lain Danaus melanippus, Iapis godt, Melanitis phedima, Delias belisama, Eurema blanda, dan Eurema hecabe. 20 15 10 5 0 6 Gambar 3 Dominansi kupu-kupu Kupu-kupu yang tergolong umum diantaranya Athyma nefte, Euploea climena, dan Lethe confuse. Sedangkan jenis kupu-kupu yang tergolong tidak dominan atau jarang diantaranya adalah Amanthusia phidippus, Euploea eunice, dan junonia almana. Data penyebaran jenis kupu-kupu dominan dilihat pada Gambar 3. No Nama Famili n 18 Mycalesis horsfieldi Nymphalidae 1 19 Mycalesis maianeas Nymphalidae 1 20 Papilio helenus Nymphalidae 5 21 Polyura athamas Nymphalidae 1 22 Tanaecia palguna Nymphalidae 2 23 Ypthima pondocus Nymphalidae 4 24 Ypyhima baldus Nymphalidae 1 25 Graphium agamemnon Papilionidae 7 26 Graphium sarpedon Papilionidae 7 27 Pachliopta Papilionidae 1 aristolochiae 28 Papilio demolion Papilionidae 5 29 Papilio memnon Papilionidae 7 30 Papilio polytes Papilionidae 4 31 Delias belisama Pieridae 24 32 Eurema blanda Pieridae 15 33 Eurema hecabe Pieridae 18 34 Apias nero Pieridae 1 172 Keanekaragaman jenis bisa dijadikan patokan dalam menilai kekayaan alam hayati pada kawasan 11 17 Dominan Subdominan Tidak dominan

ISSN No. 1978-3787 Media Bina Ilmiah 71 tertentu. Keanekaragaman jenis suatu komunitas tinggi jika komunitas itu disusunoleh banyak jenis. Sebaliknya suatu komunitas dikatakan memiliki keanekaragaman jenis yang rendah jika komunitas itu disusun oleh sedikit jenis dan hanya sedikit jenis yang dominan (Indriyanto, 2006). Dalam observasi keanekaragaman kupukupu pada penelitian ini digunakan pengukuran keragaman jenis menggunakan indeks Shannon- Wiener. Bila ditinjau perlokasi jalur pengamatan diketahui bahwa jalur Barat merupakan lokasi yang memiliki tingkat keanekaragaman kupu-kupu paling tinggi diantara jalur lainnya dengan nilai indeks keanekaragaman Shannon wiener 2.96 sedangkan jalur pengamatan dengan tingkat keanekaragaman kupu-kupu terendah adalah jalur Timur dengan nilai indeks 2.61. Keanekaragaman kupu-kupu pada tiap jalur pengamatan dapt dilihat pada Gambar 4. Barat merupakan lokasi pengamatan yang memiliki tingkat keanekaragaman kupu-kupu tertinggi. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi lokasi yang cukup terbuka dan ditemukannya vegetasivegetasi tanaman pakan seperti Babandotan (Ageratum conyzoides) dan Kaliandra (Caliandra Sp.). Kupu-kupu merupakan satwa yang sangat tergantung pada keberadaan tanaman pakan, sehingga jumlah dan jenis pakan akan berpengaruh pada kemampuan reproduksi kupu-kupu (Dennis et al. 2004). 3.50 2.50 1.50 0.50 2.35 2.31 2.96 2.16 Gambar 4 Keanekaragaman kupu-kupu pada setiap jalur pengamatan Index Shannon-Wienner merupakan gambaran tingkatan skor seberapa besar ketidaktentuan (uncertainty) spesies-spesies yang ada dalam suatu lokasi. Sehingga semakin besar indeks maka semakin banyak spesies yang mungkin dapat ditemukan, sebaliknya nilai nol (0) mengindikasikan bahwa spesies yang akan ditemukan sudah dapat dipastikan, dengan kata lain hanya akan ada 1 spesies pada lokasi tersebut. c. Kemerataan jenis kupu-kupu 2.63 Kemerataan merupakan nilai yang menunjukkan sebaran jumlah individu per setiap jenis pada suatu lokasi. Nilai kemerataan menggunakan indek Evenness dengan nilai minimal nol (0) memiliki arti bahwa setiap jenis yang ditemukan pada lokasi tersebut memiliki jumlah individu yang berbeda banyaknya (tidak pernah sama jumlahnya), sedangkan nilai lebih dari nol (0) mengindikasikan bahwa setiap jenis yang ditemukan pada lokasi tersebut memiliki jumlah individu yang sama banyaknya. Tingkat kemerataan juga mempengaruhi kestabilan suatu jenis di alam, hal ini berkaitan dengan kemampuan suatu spesies bertahan dari ancaman kepunahan. Mawazin dan Subiakto (2013) menyatakan bahwa suatu jenis yang memiliki tingkat kestabilan yang tinggi mempunyai peluang yang lebih besar untuk mempertahankan kelestarian jenisnya. Hasil perhitungan indeks kemerataan jenis menunjukkan bahwa lokasi dengan nilai kekemerataan tertinggi berada pada jalur Selatan dengan nilai 5.74, sedangkan lokasi dengan nilai kemerataan terendah adalah dengan nilai 0.91. Nilai kemerataan jenis kupu-kupu pada setiap lokasi dapat dilihat pada Gambar 5. 7.00 6.00 5.00 4.00 0.91 5.74 0.99 0.94 0.95 Gambar 5 Kemerataan jenis kupu-kupu pada setiap jalur pengamatan d. Kekayaan jenis kupu-kupu Kekayaan merupakan nilai yang ukurannya dipengaruhi oleh banyaknya jenis dan jumlah individu pada suatu lokasi pengamatan. Semakin banyak jumlah jenis dan individu pada suatu lokasi maka nilai indeks kekayaan semakin tinggi. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa lokasi dengan nilai indeks kekayaan jenis tertinggi berada pada Barat dengan nilai 5.75 sedangkan nilai kekayaan jenis terendah berada pada lokasi Timur dengan nilai 3.19. Nilai kemerataan pada setiap lokasi pengamatan dapat dilihat pada Gambar 6.

72 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 7.00 6.00 5.00 4.00 3.49 3.34 5.75 3.19 3.94 Dennis RLH, Hodgson JG, Grenyer R, Shreeve TG, Roy DB. 2004. Host plants and butterfly biology. Do host-plant strategies drive butterfly status?. J Ecological Entomology. 29(1): 12 26. Departemen Kehutanan. 2003. Potensi Kupu-kupu di Wilayah Kerja Balai KSDA Sulawesi Selatan I. Makassar. Departemen Kehutanan, Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Gambar 6. Kekayaan jenis kupu-kupu pada setiap jalur pengamatan e. Status konservasi Hasil identifikasi pada setiap jenis kupu-kupu terkait status perundang-undangan yang berlaku menunjukkan bahwa tidak satu pun kupu-kupu di lokasi penelitian masuk dalam kategori satwa dilindungi menurut PP No. 7 Tahun 1999 dan tidak termasuk status konservasi IUCN, begitupula dengan aturan perdaganagan CITES, tidak satu pun kupu-kupu masuk dalam kategori appendicities, Namun beberapa diantara kupu-kupu yang ditemukan tersebut termasuk pada jenis kupu-kupu komersil yang diperjualbelikan antara lain Pachliopta aristolochiae, Papilio helenus, Papilio memnon, dan Papilio polytes. Jenis-jenis tersebut umum dibudidayakan masyarakat sebagai objek wisata maupun kerajinan tangan. SIMPULAN 1. Kupu-kupu (Lepidoptera) yang berhasil ditemukan dalam kegiatan ini berjumlah berjumlah 172 individu dari 34 spesies yang terdiri dari tiga famili yaitu Papilioidae, Nymphalidae, dan Pieridae. 2. Jalur pengamatan dengan tingkat keanekaragaman dan kekayaan tertinggi berada pada jalur lereng (H = 2.96, Dmg = 5.75) sedangkan jalur dengan kemerataan jenis tertingi berada pada jalur lereng (E = 5.74), dan dilihat dari status konservasinya, tidak ditemukan adanya spesies kupu-kupu dilindungi pada penelitian ini. Holloway JD, JD Bradley, dan DJ Carter. 1987. Lepidoptera. Di dalam: betts CR, editor. Guide to Insects of Importance to Man. London: CAB International Institute of Entomology. Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara, Jakarta. Mawazin, Subiakto A. 2013. Keanekaragaman Dan Komposisi Jenis Permudaan Alam Hutan Rawa Gambut Bekas Tebangan Di Riau. J Forest Rehabilitation 1(1): 59 73. Robinson N, Armstea S, Bowers MD. 2012. Butterfly community ecology: the influences of habitat type, weather patterns, and dominant species in a temperate ecosystem. Entomologia Experimentalis et Applicata. J Entomologia Experimentalis et Applicata. 145(1): 50 61. Simanjuntak, OFM. 2001. Kajian produksi dan tingkah laku beberapa jenis kupu-kupu yang terdapat di beberapa daerah di kabupaten bogor. [Tesis]. Bogor. Institut Pertanian Bogor. DAFTAR PUSTAKA Corbert AS, Pendlebury HM. 1992. The Butterfly of The Malay Peninsula. Kuala Lumpur: United Selangor Press