BAB II LANDASAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT FRAGMENTASI

BAB III KESIMPULAN. Nama Praktikan/11215XXXX 4

BAB III. TEORI DASAR

BAB II I S I Kecepatan pemboran suatu alat bor juga dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain :

bdtbt.esdm.go.id TEKNIK PELEDAKAN Rochsyid Anggara, ST

BAB III DASAR TEORI. 3.1 Prinsip Pengeboran

KARAKTERISTIK BAHAN PELEDAK. Karakter fisik Karakter kinerja detonasi

MAKALAH PENGEBORAN DAN PENGGALIAN EKSPLORASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Maksud dan Tujuan Maksud Tujuan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Maksud dan Tujuan

= specific gravity batuan yang diledakkan

BAB III LANDASAN TEORI

GEOMETRI PELEDAKAN MENURUT ANDERSON OLEH KELOMPOK IV

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... repository.unisba.ac.id. Halaman

Pengaruh Peak Particle Velocity ( PPV ) dari hasil kegiatan peledakan terhadap kekuatan lereng penambangan ( FK) pada penambangan Batubara Oleh :

Pemetaan rinci berdasarkan kenampakan fisik tanah, warna dan komposisi tanah.

ANALISIS GEOMETRI PELEDAKAN TERHADAP UKURAN FRAGMENTASI OVERBURDEN PADA TAMBANG BATUBARA PT. PAMAPERSADA NUSANTARA JOBSITE ADARO KALIMANTAN SELATAN

ANALISIS PENGARUH STRUKTUR JOINT TERHADAP FRAGMENTASI PELEDAKAN DAN PRODUKTIVITAS ALAT GALI MUAT PT SEMEN PADANG (PERSERO), TBK.

ANALISIS PENGARUH KEDALAMAN LUBANG LEDAK, BURDEN DAN SPACING TERHADAP PEROLEHAN FRAGMENTASI BATUGAMPING

PROPOSAL TUGAS AKHIR. Diajukan Untuk Tugas Akhir Penelitian Mahasiswa Pada Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya.

POLA PEMBORAN & PELEDAKAN

KISI-KISI MATA PELAJARAN GEOLOGI PERTAMBANGAN. Standar Kompetensi Guru (SKG) Kompetensi Guru Mata Pelajaran (KD)

DAFTAR ISI RINGKASAN ABSTRACT KATA PENGANTAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL

Oleh : Santika Adi Pradhana Prodi Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta No. Hp : ,

PERANAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) DALAM KEGIATAN PELEDAKAN MINERAL DAN BATUBARA

ANALISIS PELEDAKAN DAN KEMAJUAN FRONT BUKAAN PADA TAMBANG BAWAH TANAH BIJIH EMAS PT CIBALIUNG SUMBERDAYA, PANDEGLANG-BANTEN

PENGARUH GEOMETRI PELEDAKAN TERHADAP FRAGMENTASI BATUANPADA PT. PAMAPERSADA NUSANTARA SITE ADARO PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

BEBERAPA PENYELIDIKAN GEOMEKANIKA YANG MUDAH UNTUK MENDUKUNG RANCANGAN PELEDAKAN

BAB IV HASIL PEMBAHASAN DAN PENELITIAN

KAJIAN TEKNIS GEOMETRI PELEDAKAN BERDASARKAN ANALISIS BLASTABILITY

ANALISIS POWDER FACTOR DAN FRAGMENTASI HASIL LEDAKAN MENGGUNAKAN PERHITUNGAN KUZ-RAM PADA TAMBANG BATUBARA DI PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

KAJIAN GROUND VIBRATION DARI KEGIATAN BLASTING DEKAT KAWASAN PEMUKIMAN UNTUK MENCAPAI KONDISI AMAN DI PENAMBANGAN BATUBARA.

Dasar Ilmu Tanah semester ganjil 2011/2012 (EHN & SIN) Materi 03: Batuan & Tanah

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

2. DETONATOR 1. DEFINISI BAHAN PELEDAK

Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. Modul Simulasi Teknik Peledakan. Oleh : Ir. Effendi Kadir, MT Desrizal, ST

PRODUKTIVITAS KINERJA MESIN BOR DALAM PEMBUATAN LUBANG LEDAK DI QUARRY BATUGAMPING B6 KABUPATEN PANGKEP PROPINSI SULAWESI SELATAN

RANCANGAN SISTEM WAKTU TUNDA PELEDAKAN NONEL UNTUK MENGURANGI EFEK GETARAN TANAH TERHADAP FASILITAS TAMBANG

Gambar 1.1 Proses Pembentukan Batubara

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

BAB II TINJAUAN UMUM

Jl. Raya Palembang Prabumulih KM.32 Indralaya, Sumatera Selatan, Indonesia ABSTRAK ABSTRACT

BAB 4 HASIL DAN ANALISA

KISI KISI PROFESIONAL dan PEDAGOGIK UKG TEKNIK GEOLOGI PERTAMBANGAN TAHUN 2015 PPPPTK BBL MEDAN

DAFTAR ISI... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... BAB

Jl. Raya Palembang-Prabumulih, Indralaya Utara, 30662, Sumatera Selatan ABSTRAK

PENGARUH POWDER FACTOR PELEDAKAN TERHADAP PRODUKTIVITAS BACKHOE KOMATSU PC 2000 DI PT.BUKIT ASAM (PERSERO)TBK

Jenis - Jenis Detonator PT. Dahana, Orica, DNX, dan MNK

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

PENGARUH HASIL PELEDAKAN OVERBURDEN TERHADAP PRODUKTIVITAS ALAT GALI MUAT DI PIT INUL DAN PIT KEONG PT. KALTIM PRIMA COAL DI SANGATTA KALIMANTAN TIMUR

KARAKTERISTIK TANAH. Angga Yuhistira Teknologi dan Manajemen Lingkungan - IPB

EVALUASI ISIAN BAHAN PELEDAK MENGGUNAKAN ANALISIS DISTRIBUSI UKURAN FRAGMEN PADA PELEDAKAN BATUAN PENUTUP DI TAMBANG TERBUKA BATUBARA

batuan, butiran mineral yang tahan terhadap cuaca (terutama kuarsa) dan mineral yang berasal dari dekomposisi kimia yang sudah ada.

5.1 ANALISIS PENGAMBILAN DATA CORE ORIENTING

STUDI TEKNIS PENGEBORAN 3 STEEL DAN 4 STEEL UNTUK PENYEDIAAN LUBANG LEDAK DI PT SEMEN TONASA KABUPATEN PANGKEP PROVINSI SULAWESI SELATAN

ANALISIS BIAYA PELEDAKAN PADA PROSES PEMBONGKARAN BATUGAMPING PT. SEMEN BOSOWA MAROS PROVINSI SULAWESI SELATAN

KONSTRUKSI BANGUNAN TEKNIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Yufiter (2012) dalam jurnal yang berjudul substitusi agregat halus beton

BAB V. PEMBAHASAN. Tabel 5.1 Keakuratan Pengeboran Vertikal dari Pengukuran Lapangan. Keakuratan No. Blast

BAB I PENDAHULUAN. membutuhkan penggunaan dana yang besar, serta memiliki resiko yang besar pula.

REDESIGN GEOMETRI PELEDAKAN UNTUK MENDAPATKAN FRAGMENTASI BATUAN YANG OPTIMAL DI PREBENCH PT. BUKIT ASAM (PERSERO) TBK

Gas dan Debu. Pada Tambang Bawah Tanah

BAB IV PENGAMATAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tambang Terbuka (013)

ENIM, SUMATERA SELATAN

ABSTRAK 1. PENDAHULUAN. JP Vol.1 No.5 November 2017 ISSN

RANCANGAN TEKNIS PENGEBORAN DAN PELEDAKAN OVERBURDEN

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS PENGARUH POWDER FACTOR TERHADAP HASIL FRAGMENTASI PELEDAKAN PADAPT. SEMEN BOSOWA MAROS PROVINSI SULAWESI SELATAN

BAB I PENDAHULUAN. campuran tertentu. Beton merupakan satu kesatuan yang homogen. Beton

Mining Competition. Games Profile of The Mining Competition

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

Oleh : Tri Budi Amperadi 1 dan Edward Andi Ashari Sinaga 2. Dosen Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Kutai Kartanegara 2.

KAJIAN TEKNIS GEOMETRI PELEDAKAN PADA KEBERHASILAN PEMBONGKARAN OVERBURDEN BERDASARKAN FRAGMENTASI HASIL PELEDAKAN

BAB I PENDAHULUAN. portland atau semen hidrolik yang lain, dan air, kadang-kadang dengan bahan tambahan

EVALUASI ISIAN BAHAN PELEDAK BERDASARKAN GROUND VIBRATION HASIL PELEDAKAN OVERBURDEN PADA TAMBANG BATUBARA DI KALIMANTAN SELATAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi dan kemajuan industri yang semakin berkembang pesat memacu peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. Mallard dan Chatelier tercatat sebagai orang pertama yang menyelidiki

BAB II TEKNOLOGI BAHAN DAN KONSTRUKSI

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

2. Pengantar Pengetahuan Tentang Api SUBSTANSI MATERI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Maksud dan Tujuan


Gambar 4.1 Kompas Geologi Brunton 5008

Barlian Dwinagara. Jurusan Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta

EVALUASI PERIMETER BLASTING TERHADAP TINGKAT GETARAN TANAH (GROUND VIBRATION) PADA PRE BENCH PIT AIR LAYA PT. BUKIT ASAM (PERSERO), TBK

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

ANALISIS FLYROCK UNTUK MENGURANGI RADIUS AMAN ALAT PADA PELEDAKAN OVERBURDEN PENAMBANGAN BATUBARA

BAB III DASAR TEORI. 3.1 Kegiatan Pembongkaran Dengan Peledakan. dalam volume besar akibat reaksi kimia bahan peledak yang melibatkan

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. UCAPAN TERIMAKASIH... ii. DAFTAR ISI... iv. DAFTAR TABEL... vii. DAFTAR GAMBAR... viii. DAFTAR GRAFIK...

KERUSAKAN REFRAKTORI

RESUME APLIKASI MEKANIKA TANAH DALAM PERTAMBANGAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

BATU SPLIT DAN CUTTING BOR UNTUK MATERIAL STEMMING DALAM KEGIATAN PEMBERAIAN BATUAN DENGAN PELEDAKAN

BAB IV ANALISA BLASTING DESIGN & GROUND SUPPORT

TEORI MEMESIN LOGAM (METAL MACHINING)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PENDAHULUAN. Tujuan umum. Standar kompetensi dan kriteria unjuk kerja

PENENTUAN JARAK AMAN PELEDAKAN BATUBARA TERHADAP LINGKUNGAN SEKITAR WILAYAH PERTAMBANGAN

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahan peledak dalam pertambangan dibutuhkan karena material material batuan yang berada di daerah pertambangan tersebut kadang susah untuk di hancurkan dengan alat berat. Kegiatan peledakan yang bertujuan untuk memisahkan batuan dari induknya dalam industri pertambangan sangat rentan dengan bahaya. Hal itu bisa terjadi pada high explosive maupun low explosive. Bahaya itu bisa terjadi dari sifat bahan peledaknya sendiri, cara membawanya, cara penyimpanan di dalam gudang (baik gudang bahan peledak di permukaan maupun gudang bahan peledak pada tambang bawah tanah), serta penggunaannya maupun pengawasannya pada pasca peledakan. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kecelakaan tambang maupun penyakit akibat kerja dengan sasaran untuk menekan seminimal mungkin bahkan sampai zero accident sangat diperlukan. 1.2 Maksud dan Tujuan 1.2.1 Maksud Maksud dalam praktikum peledakan dengan judul kegiatan peledakan industry pertambangan untuk dapat mengetahui apa tujuan dari peledakannya itu sendiri, apa saja peraturan yang harus dipenuhi dalam melakukan pertambangan, keamanan yang seperti apa yang menjadi standard dalam melakukan pertambangan. 1.2.2 Tujuan Untuk mengetahui apakah peledakan itu dari segi bahannya, jenis peledakannya, dan bagaimana bahan tersebut meledak. Untuk mengetahui kriteria dari bahan peledak yang akan di ledakan yang mempengaruhi efek besar atau kecilnya dampak ledak yang dihasilkan BAB II LANDASAN TEORI 1

2.1 Definisi Peledakan Tujuan pekerjaan peledakan dalam dunia pertambangan itu sendiri yaitu memecah atau membongkar batuan padat atau material berharga atau endapan bijih yang bersifat kompak atau masive dari batuan induknya menjadi material yang cocok untuk dikerjakan dalam proses produksi berikutnya. dalam suatu operasi peledakan pada pertambangan didahului oleh pemboran yang bertujuan untuk membuat lubang tembak. Lubang tembak sendiri akan diisi oleh bahan peledak yang terlebih dahulu di isi oleh material atau pasir yang disebut Subdrilling bertujuan agar hasil peledakan tidak terjadi toes atau tonjolan-tonojolan pada lantai tambang yang mengakibatkan alat berat sulit bergerak saat pemuatan dan pengangkutan hasil peledakan. setelah disi oleh rangkaian bahan peledak seperti TNT atau ANFO yang dilengkapi dengan nonel, maka selanjutnya diisi material penutup yangdisebut stemming berfungsi menahan tekanan keatas agar energi yang dihasilkan oleh bahan peledak tersebar kesegala arah dan menghancurkan batuan disampingnya. Jadi bahan peledak itu didefinisikan adalah suatu bahan kimia yang berupa senyawa tunggal atau campurannya yang berbentuk padat atau cair, yang apabila dikenai suatu aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal dapat bereaksi dengan kecepatan tinggi dan akan berubah menjadi bahan-bahan yang lebih stabil yang sebagian atau seluruhnya berbentuk gas dan disertai dengan panas dan tekanan yang sangat tinggi. Panas dari gas yang dihasilkan reaksi tersebut sekitar 4000 C. adapun 2.2 Jenis Bahan Peledak bagian, yaitu : Secara garis besarnya, jenis bahan peledak diklasifikasikan menjadi 3 1. Bahan peledak mekanis (mechanical explosive) 2. Bahan peledak kimia (chemical explosive) 3. Bahan peledak nuklir (nuclear explosive). 2

3 2.2.1 Bahan peledak mekanis Bahan peledak mekanis yaitu Senyawa dalam bahan peledak mekanis akan segera bereaksi dan berubah menjadi gas akibat suatu elemen panas yang dimasukkan ke dalam bahan peledak tersebut. Contohnya adalah cardox, yaitu bahan peledak yang terdiri dari suatu tabung dengan penutup yang mudah retak yang berisi CO 2 cair. 2.2.2 Bahan peledak kimia Bahan peledak kimia Berdasarkan kecepatan reaksinya bahan peledak ini dibagi dua, yaitu: Bahan peledak kuat. Bahan peledak ini memiliki kecepatan reaksi sangat tinggi, yaitu 5.000 24.000 fps (1-6 mil perdetik). Tekanan yang dihasilkan juga sangat tinggi 50.000 4.000.000 psi. Sifat reaksinya adalah detonasi, yaitu penyebaran gelombang kejut (shock wave). Bahan peledak kuat ini dibagi 2 macam lagi, yaitu: 1. Ledakan utama (primary explosives), yaitu bahan peledak yang mudah meledak bila terkena api, benturan, atau gesekan, misalnya PbN 6, Hg(ONC) 2, yaitu untuk bahan isi detonator. 2. Ledakan kedua (secondary explosives), yaitu bahan peledak yang hanya akan meledak apabila ada ledakan yang mendahuluinya, misalnya ledakan dari sebuah detonator atau primer. Contohnya adalah TNT (Tri Nitro Toluene) dan PETN. Bahan peledak lemah. Bahan peledak ini (low explosives) memiliki kecepatan reaksi rendah (<5.000 fps). Tekanan yang dihasilkan <50.000 psi. Umumnya dipakai di tambang batubara. 2.2.3 Bahan peledak nuklir

4 Bahan peledak nuklir umumnya terbuat dari plutonium, uranium 235, atau bahan-bahan sejenis yang mempunyai sifat atom aktif. 2.3 Sifat Batuan Tujuan perencanaan pemboran dan peledakan pada batuan: menghasilkan batuan lepas, yang dinyatakan dalam derajat fragmentasi sesuai dengan tujuan yang akan capai. Hasil peledakan ini sangat mempengaruhi produktivitas dan biaya operasi berikutnya. Fragmentasi batuan dapat dikontrol dengan merubah pola pemboran atau mengatur powder faktor atau menggunakan kombinasi kedua faktor tersebut. Hal yg perlu diperhatikan dalam peledakan yaitu sifat-sifat batuan yang penting : Kekerasan, Tahanan dari suatu bidang permukaan halus terhadap abrasi. Kekerasan dipakai untuk mengukur sifat-sifat teknis dari material batuan. Abrasiveness: Parameter yang mempengaruhi keausan (umur) mata bor. Abrasiveness tergantung pada komposisi batuan. Keausan mata bor sebanding dengan komposisi batuan tersebut. Kandungan kuarsa dalam batuan biasanya dianggap sebagai petunjuk yang dapat dipercaya untuk mengukur keausan mata bor (drill bit). Tekstur: Struktur butiran dari batuan dan dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat-sifat porositas, looseness density dan ukuran butir. Tekstur juga mempengaruhi kecepatan pemboran. Struktur: Rekahan, patahan, bidang perlapisan schistosity dan jenis batuan, dip, strike. Breaking characteristic: menggambarkan sifat batuan apabila dipukul dengan palu. Setiap jenis batuan mempunyai sifat khusus dan derajat kerusakan yang berhubungan dengan dengan tekstur, komposisi mineral dan strukturnya. Dalam kegiatan pemboran dan peledakan terdapat 2 ketahanan batuan :

5 Rock Drillability yaitu Kecepatan penetrasi dari mata bor ke dalam batuan. Rock drillability adalah fungsi dari beberapa sifat batuan, seperti: komposisi mineral, tekstur, ukuran butiran, derajat pelapukan dan lain sebagainya. Rock Blastability yaitu Tahanan batuan terhadap peledakan dan ini sangat dipengaruhi oleh keadaan batuan. Dalam batuan yang keras dan padat peledakan dapat dikontrol dengan baik. Sedangkan dalam batuan yang banyak celahnya sebagian energi dari bahan peledak hilang ke dalam rekahan dan peledakan susah untuk dikontrol. Sebelum sampai pada rancang bangun peledakan, banyak hal yang harus diketahui terlebih dahulu, yaiut yang berkaitan dengan : a. Parameter batuan b. Parameter bahan peledak c. Parameter pengisian d. Sasaran produksi e. Fragmentasiyang dikehendaki f. Kondisi lapangan (curah hujan, bangunan sekitar, kebisingan, dll) Suatu operasi peledakan batuan akan mencapai hasil optimal apabila perlengkapan dan peralatan yang dipakai sesuai dengan metode peledakan yang diterapkan. Perlengkapan peledakan (blasting supplies / blasting accessories) adalah semua bahan atau kelengkapan yang dapat digunakan hanya untuk satu kali peledakan saja. Contohnya adalah sumbu api, detonator, sumbu ledak, dan sebagainya.

6 Peralatan peledakan (blasting equipment) adalah alat-alat yang dapat digunakan berulang kali dalam proses peledakan. Contohnya adalah blasting machine, dan sebagainya. 2.4 Peledakan Tambang Terbuka Kebanyakan batuan yang keras membutuhkan peledakan sebelum penggalian di tambang permukaan. Biasanya empat jenis bahan peledak umum digunakan di pertambangan permukaan: slurries, Mixes dry, emulsi dan ANFO hybrid heavy. Pemilihan bahan peledak tergantung pada banyak faktor, terutama meliputi: critical diameter, hydrostatic pressure, temperature, minimum primer weight, density weight strength, bulk strength, gap sensitivity, water resistance, loading procedures, coupling atau decoupled properties, shelf life, reliability for bulk operations, overall drilling, pengeboran secara keseluruhan dan ekonomi peledakan. Sumber : http://learnmine.blogspot.co.id/ Gambar 2.1 Pola Bench Blasting pada Quarry / Open Pit

7 Sumber : http://learnmine.blogspot.co.id/ Gambar 2.2 Blastholes / pola Inisiasi tembakan (lobang tembak) ke open face 2.5 Peledakan di Tambang Bawah Tanah Sebagian besar metode penambangan bawah tanah menggunakan peledakan sebagai metode utama penggalian batu. Peledakan bawah tanah memberikan gambaran yang baik untuk berbagai desain ledakan ditambang bawah tanah. Sebuah tipikal pengaturan untuk peledakan dalam metode VCR pertambangan seperti gambar di bawah ini :

8 Sumber : http://learnmine.blogspot.co.id/ Gambar 2.3 Metode VCR BAB III TUGAS DAN PEMBAHASAN 3.1 Tugas Mengeplot data yang sudah diketahui ke dalam grafik

9 Menganalisa data yang sudah di plot 3.2 Pembahasan Tabel 3.1 Litologi Litologi PLI (Mpa) Js (m) Batu Lempung CU 0.31 0.15 Batu Kapur CS 1.47 0.83 Batu Kapur CR 0.39 0.83 Batu Kapur LR 0.55 0.78 Batu Lempung CM 0.27 0.16 Batu Kapur LM 1.24 0.61 Batu Lempung CL 2.27 2.27 Batu Lempung CS 0.49 0.15 Batu Kapur LL 1.57 0.87 Batu Lempung CC 1.77 1.27 Sumber : Hasil Kegiatan Praktikum Peledakan 2015 Dari data yang ada di atas dapat dilihat kekerasan batuan yang dimana akan menentukan daerah batuan itu berada dan dapat dilihat juga Js (m) yang menunjukan bahwa material tambang berada pada jarak kekar berapa. Grafik yang dipakai untuk data di atas ada 2, yaitu grafik Franklin s Excavation chart dan Excavatability Assessment Chart. Daerah pada setiap grafik : Tabel 3.1 Daerah dari setiap grafik Franklin s Excavation chart Excavatability Assessment Chart Rig (Gali Bebas) Easy Digging Rip (Garu) Hard Digging (CAT 245) Blast to Fracture (Peretakan) Easy Ripping (D6-D7) Blast to Loosen (Peledakan) Hard Ripping (D8) - Very Hard Ripping (D9) - Extremely Hard Ripping (D11) - Blasting Required Sumber : Hasil Kegiatan Praktikum Peledakan 2015 Dari beberapa daerah diatas ada cara masing-masing untuk mengambil material tambang. Dari kekerasan batuan dan jarak kekar yang terdapat pada data mempengaruhi wilayah yang akan di plot dan kita dapat mengetahui sistem apa yang harus dipakai untuk memberaikan material tersebut. Dalam teorinya jika kekerasan material batuan >1 Mpa maka batuan atau material tersebut harus di menggunakan teknik peledakan ataupun menggunakan alat mekanis dengan karakteristik khusus yang didesign bisa memberaikan material tersebut, begitu

10 pun sebaliknya jika kekerasan batuan <1 Mpa maka teknik peledakan tidak harus dilakukan.

BAB IV ANALISA Dalam praktikum kali ini kita dapat menganalisakan bahwa setiap grafik ada beberapa daerah dalam menentukan sistem pemberaian material tambang itu sendiri. Kekerasan batuan dan jarak kekar mempengaruhi wilayah mana yang mencakup dari data plot-an dan dari data plot-an tersebut kita dapat mengetahui sistem pemberaian apa yang akan kita pakai. Jarak dan kekerasan material yang akan diberai sangat mempengaruhi sistem mana yang harus dipakai, karena tidak semua kekerasan material yang melebihi >1 Mpa bisa menggunakan alat mekanis melainkan menggunakan teknik peledakan. Pada kasus ini dipengaruhi oleh jarak kekar yang tidak jauh dengan kekar lainnya yang dimana mengharuskan penambang menggunakan teknik peledakan untuk memberaikan material tersebut. Ada kemungkinan bahwa material yang harus menggunakan teknik peledakan dikarenakan material tersebut terkompakan pada permukaan yang paling dalam. Alat mekanis juga sangat penting untuk memberaikan material tambang tersebut tergantung dari data yang diperoleh, kekerasannya, dan jaraknya. Alat mekanis yang digunakan juga mempunyai karakteristiknya masing-masing sesuai dari material yang akan kita berai berada di daerah mana. 11

BAB V KESIMPULAN Kesimpulan yang bisa diambil adalah bahwa peledakan adalah bahan ledak dari senyawa kimia tunggal yang mempunyai banyak cara dalam meledakannya, yang dimana didalamnya di atur bagaimana cara meledaknya, panas yang dihasilkan, hasil ledakan yang ditimbulkan, jenis bahan ledaknya, dll. Tujuan peledakan adalah untuk memberaikan material tambang, yang dimana pemberaian tersebut dapat dilakukan pula oleh alat mekanis. Kekerasan dan jarak material yang akan diberai sangat diperhatikan agar penambang dapat mengetahui sistem atau teknik mana yang mereka harus lakukan dalam memberai material tersebut. Teknik peledakan digunakan apabila kekerasan batuan melebihi dari 1 Mpa, tetapi ada pula yang kurang dari 1 Mpa menggunakan teknik peledakan, itu dapat dilihat dari jarak material tersebut. Alat mekanis juga mempunyai karakteristiknya masing-masing dalam memberai material tambang sesuai daerah yang sudah ditentukan. 12

DAFTAR PUSTAKA Ansyari, Isya, 2014, Dasar Teknik Peledakan Mine Blasting http://learnmine.blogspot.co.id/2014/12/dasar-teknik-peledakan-mineblasting_81.html. Diakses tanggal 28 September 2015 (Blog, html) Anonymous, 2014, Pengertian Peledakan http://arti-definisi-pengertian.info/pengertian-peledakan/. Diakses tanggal 28 September 2015 (Blog, html) Sangmine, 2011, Blasting Peledakan ttps://1902miner.wordpress.com/2011/10/29/blasting-peledakan/. Diakses tanggal 28 September 2015 (Blog, html) Samuel, 2011, Peledakan http://samuel-kuliah.blogspot.co.id/2011/04/peledakan.html. Diakses tanggal 28 September 2015 (Blog, html).

LAMPIRAN

LITOLOGI Litologi PLI (Mpa) Js (m) Batu Lempung CU 0.31 0.15 Batu Kapur CS 1.47 0.83 Batu Kapur CR 0.39 0.83 Batu Kapur LR 0.55 0.78 Batu Lempung CM 0.27 0.16 Batu Kapur LM 1.24 0.61 Batu Lempung CL 2.27 2.27 Batu Lempung CS 0.49 0.15 Batu Kapur LL 1.57 0.87 Batu Lempung CC 1.77 1.27