ISOLASI DAN KARAKTERISASI ENZIM SELULASE

dokumen-dokumen yang mirip
Hidrolisis Selulosa dengan Enzim Selulase dari Bekicot, Achatina Fulica untuk Produksi Etanol Menggunakan Zymomonas Mobilis Atcc 10988

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Metode Pengukuran Spektrofotometri (Bergmeyer et al. 1974) Pembuatan Media Heterotrof Media Heterotrof Padat. Pengaruh ph, Suhu, Konsentrasi dan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Enzim α-amilase dari Bacillus Subtilis ITBCCB148 diperoleh dengan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. variasi suhu yang terdiri dari tiga taraf yaitu 40 C, 50 C, dan 60 C. Faktor kedua

Ekstraksi dan Pengujian Aktivitas Enzim Amilase (Hidrolisis Pati secara Enzimatis)

METODE PENELITIAN. Penelitian ini di laksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

setelah pengeringan beku) lalu dimasukan ke dalam gelas tertutup dan ditambahkan enzim I dan enzim II masing-masing sebanyak 1 ml dan aquadest 8

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-November 2013 di Laboratorium

KINETIKA REAKSI ENZIMATIS

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai bulan Agustus 2013 di

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian,

METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei-November 2013 di Laboraturium

BAB III METODE PENELITIAN

III. BAHAN DAN METODE

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biokimia dan Laboratorium Instrumentasi

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari-Mei 2015 di Laboratorium

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang Sintesis Protein Mikroba dan Aktivitas Selulolitik Akibat

ABSTRAK. Kata Kunci : Amilase, Zea mays L., Amonium sulfat, Fraksinasi, DNS.

I. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Juli 2012 di Laboratorium. Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

PRODUKSI ENZIM AMILASE

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

Air Panas. Isolat Murni Bakteri. Isolat Bakteri Selulolitik. Isolat Terpilih Bakteri Selulolitik. Kuantitatif

Rizki Wulandari, Silvera devi, Andi Dahliaty

BAB III METODE PENELITIAN. adalah Bacillus subtilis dan Bacillus cereus yang diperoleh di Laboratorium

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. enzim selulase dari campuran kapang Trichoderma sp., Gliocladium sp. dan Botrytis

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Juli sampai September 2012,

UJI KUALITATIF ETANOL YANG DIPRODUKSI SECARA ENZAMATIS MENGGUNAKAN Z. MOBILIS PERMEABEL

BAB III METODE PENELITIAN. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain: waterbath,

BAB III METODE PENELITIAN. dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2014 Mei 2015 di. Laboratorium Mikrobiologi FMIPA Universitas Lampung.

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen. Termasuk

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Riset dan Standarisasi Industri Bandar

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dimulai dari bulan April 2010 sampai dengan bulan Januari

III. METODE PENELITIAN. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Februari Oktober. penelitian dilakukan di Laboratorium Biokimia Universitas Lampung.

III. METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari - April 2015 di Laboratorium

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai Juni 2014 bertempat di

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai bulan September 2010 di

PEMEKATAN ENZIM SELULASE Penicillium sp. LBKURCC20 DENGAN PENGENDAPAN AMONIUM SULFAT 80% JENUH

III. METODE PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini sudah dilaksanakan dari bulan Februari sampai bulan Juli 2013 di

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Juni 2013.

APPENDIKS A PROSEDUR KERJA DAN ANALISA

4 Hasil dan Pembahasan

ISOLASI DAN KARAKTERISASI AMILASE DARI BIJI DURIAN (DURIO

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-November Penelitian ini

III. METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari - Mei 2015 di Laboratorium

I. PENDAHULUAN. zat kimia lain seperti etanol, aseton, dan asam-asam organik sehingga. memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi (Gunam et al., 2004).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Percobaan yang dilakukan pada penelitian ini yaitu penggunaan amonium

OPTIMALISASI PRODUKSI ENZIM SELULASE BAKTERI SELULOLITIK DENGAN MEMANFAATKAN LIMBAH AMPAS TEBU SEBAGAI SUBSTRAT

III. METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari-April 2015 di Laboratorium

BAB III METODE PENELITIAN. lengkap (RAL) pola faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah variasi

HASIL DAN PEMBAHASAN

ANALISIS. Analisis Zat Gizi Teti Estiasih

PRAKTIKUM UJI KANDUNGAN PROTEIN DENGAN METODE BRADFORD

Febry Kurniawan, Titania T. Nugroho, Andi Dahliaty

BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi

Lampiran 1. Prosedur Analisis Pati Sagu

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ervi Afifah, 2014 Produksi Gula Hidrolisat Dari Serbuk Jerami Padi Oleh Beberapa Fungi Selulolitik

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan Pertumbuhan dan Peremajaan Isolat Pengamatan Morfologi Isolat B. thuringiensis

ISOLASI DAN PENGUJIAN AKTIVITAS ENZIM α AMILASE DARI Aspergillus niger DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA CAMPURAN ONGGOK DAN DEDAK

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-November 2012 di

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Lampiran 1. Kriteria penilaian beberapa sifat kimia tanah

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2012 sampai dengan bulan Juni 2012 di

Kurva Kalibrasi Larutan Standar Bovine Serum Albumine (BSA) Absorbansi BSA pada berbagai konsentrasi untuk menentukan kurva standar protein yaitu:

Lampiran 1. Diagram Alur Penelitian. Persiapan Penyediaan dan Pembuatan Inokulum Bacillus licheniiformis dan Saccharomyces.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

ISOLASI, UJI AKTIVITAS, DAN AKTIVITAS SPESIFIK ENZIM SELULASE Penicillium sp. LBKURCC27 SEMIMURNI MELALUI PENGENDAPAN (NH 4 ) 2 SO 4

II. TINJAUAN PUSTAKA. dan mempunyai fungsi penting sebagai katalisator reaksi biokimia

BAB I PENDAHULUAN. Advisory (FAR), mengungkapkan bahwa Indonesia adalah penyumbang

MATERI DAN METODE PENELITIAN

1 atm selama 15 menit

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

1 ml enzim + 1 ml larutan pati 1% (dalam bufer) Diinkubasi (suhu optimum, 15 menit) + 2 ml DNS. Dididihkan 5 menit. Didinginkan 5 menit

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni - November 2011 :

BAB I PENDAHULUAN. Energi (M BOE) Gambar 1.1 Pertumbuhan Konsumsi Energi [25]

7 HIDROLISIS ENZIMATIS DAN ASAM-GELOMBANG MIKRO BAMBU BETUNG SETELAH KOMBINASI PRA-PERLAKUAN SECARA BIOLOGIS- GELOMBANG MIKRO

BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung pada bulan Juli 2009 Oktober 2010.

BAB III MATERI DAN METODE. Kimia dan Gizi Pangan, Departemen Pertanian, Fakultas Peternakan dan

THE ADDITION EFFECT OF THE METAL ION K + ON THE PAPAIN ENZYME ACTIVITIES

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Biologi dan Laboratorium Biokimia, Departemen Kimia Fakultas Sains dan

LAMPIRAN A PROSEDUR ANALISIS. A.1. Pengujian Daya Serap Air (Water Absorption Index) (Ganjyal et al., 2006; Shimelis el al., 2006)

PRODUKSI GULA REDUKSI DARI BAGASSE TEBU MELALUI HIDROLISIS ENZIMATIK MENGGUNAKAN CRUDE ENZYME SELULASE DAN XILANASE

II. TINJAUAN PUSTAKA. Enzim ini dapat mempercepat proses suatu reaksi tanpa mempengaruhi

LAPORAN PRAKTIKUM METABOLISME DAN INFORMASI GENETIK PERCOBAAN 2 UJI AKTIVITAS SUKSINAT DEHIDROGENASE

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2012 sampai bulan Desember 2012 di

BAB I PENDAHULUAN. Bioetanol merupakan salah satu alternatif energi pengganti minyak bumi

Transkripsi:

ISOLASI DAN KARAKTERISASI ENZIM SELULASE Oleh Masfufatun Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ABSTRAK Carboxy Methyl Cellulose (CMC) merupakan turunan selulosa yang mudah larut dalam air. Oleh karena itu CMC mudah dihidrolisis menjadi gula-gula sederhana oleh enzim selulase. Bekicot adalah hewan lunak, mudah berkembang biak dan memanfaatkan selulosa sebagai sumber energinya serta kandungan proteinnya cukup tinggi. Oleh karena itu bekicot dapat dijadikan sebagai sumber enzim selulase untuk menghidrolisis Carboxy Methyl Cellulose (CMC) Peneltian ini bertujuan untuk isolasi enzim selulase dari bekicot, Achatina fulica dan menentukan karakterisasinya. Kadar Glukosa yang dihasilkan dari aktivitas enzim selulosa dianalisa dengan menggunakan metode Semogy-Nelson,. Dari penelitian ini ternyata enzim selulase yang diisolasi dari hepatopankreas bekicot, Achatina fulica memiliki aktivitas spesifik sebesar 2,85 U/mg protein dan beraktivitas optimum pada suhu 50 o Cdan ph 5,16 serta memiliki memiliki parameter kinetik harga V m sebesar 0,23mg/mL per menit dan Km sebesar 0,53 mg/ml. Bagian enzim selulosa mulai jenuh pada konsentrasi 4%. Kata kunci : Carboxy Methyl Cellulose, hidrolisis, selulase ISOLATION AND CHARACTERIZATION cellulase By Masfufatun Lecturer Faculty of Medicine, University of Wijaya Kusuma Surabaya ABSTRACT Carboxy Methyl Cellulose (CMC) is a derivative of cellulose soluble in water. Therefore, CMC easily hydrolyzed into simple sugars by the enzyme cellulase. Snails are animals soft, easy to breed and utilize cellulose as a source of energy and protein content is high enough. Therefore, snails can be used as a source of cellulase enzyme to hydrolyze carboxy Methyl Cellulose (CMC) This research aims to isolate cellulase enzyme from the snail, Achatina fulica and determine its characterization. Glucose levels produced from cellulose enzyme activity were analyzed by using the method Semogy-Nelson. From this research it turns out cellulase enzyme isolated from hepatopankreas snail, Achatina fulica has a specific activity of 2.85 U / mg protein and activity 50oCdan temperature optimum at ph 5.16 and have had kinetic parameters Vm price of 0.23 mg / ml per minute and Km is 0.53 mg / ml. Part enzyme cellulose getting fed at a concentration of 4%. Keywords: carboxy Methyl Cellulose, hydrolysis, cellulase Pendahuluan Selulosa merupakan biomolekul yang paling banyak ditemukan di alam dan merupakan unsur utama penyusun kerangka tumbuhan. Diperkirakan sekitar 10 11 ton selulosa dibiosintesis tiap tahun. Daun kering mengandung 10-20%selulosa; kayu 50% dan kapas 90%(Kolman, 2001). Selama ini limbah pertanian maupun kehutanan, seperti jerami gandum maupun padi, tongkol jagung, bagas, kulit kacang dan lain-lain belum dimanfaatkan secara optimal, padahal limbah-limbah tersebut merupakan sumber energi yang potensial. Kandungan selulosanya yang tinggi sehingga dapat dikonversi menjadi gula-gula sederhana (gula pereduksi) dan selanjutnya difermentasi menjadi etanol oleh khamir atau bakteri. Carboxy Methyl Cellulose (CMC) merupakan turunan selulosa, kopolimer dua unit β-d glukosa dan β- D-glukopiranosa 2-O-(karboksilmetil)- garam monosodium yang terikat melalui ikatan β-1,4-glikosidik. CMC memiliki kelarutan lebih tinggi daripada selulosa, sehingga mudah dihidrolisis. Hidrolisis CMC menjadi gula-gula sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan katalis asam, enzim maupun mikroba selulolitik. Beberapa penelitian melaporkan bahwa proses hidrolisis secara enzimatis lebih menguntungkan daripada menggunakan asam. Selain tidak menimbulkan masalah korosi dan berlangsung pada kondisi mild (ph 4,8

dan suhu 50 0 C), ternyata proses hidrolisais secara enzimatis menghasilkan yield lebih tinggi daripada hidrolisis yang dikatalisis asam (Duff and Murray, 1996). Enzim selulase diproduksi oleh mikroba selulolitik dari golongan bakteri dan jamur. Permasalahan yang sering muncul dalam penelitian adalah kurang tersedianya enzim selulase yang murah dan efisien. Salah satu alternatif untuk mengatasi hal ini adalah dengan memanfaatkan bekicot sebagai sumber enzim selulase. Selama ini bekicot banyak digunakan sebagai pakan ternak karena kandungan proteinnya yang cukup tinggi (75 gram/100gram daging bekicot). Silaban, R., 1999 menemukan mikroba selulolitik, Pseudomonas alcaligenes PaAf-18 di dalam tubuh bekicot. Mikroba selulolitik tersebut memproduksi enzim selulase untuk mencerna makanan (selulosa) dan sebagian disimpan dalam hepatopankreas yang salurannya bermuara ke sistem pencernaan. Isolasi enzim selulase dari hepatopankreas bekicot lebih mudah dilakukan daripada isolasi dari bakteri atau jamur, yakni melalui proses dekstruksi sel, homogenasi dan sentrifugasi. Dalam melakukan kerja katalitiknya, aktivitas enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu konsentrasi substrat, ph, suhu, konsentrasi enzim dan waktu reaksi (Price, 1979). Di industri pengungkapan sifat dan karakteristik suatu produk enzim sangat diperlukan untuk efisiensi proses produksi dan lebih jauh akan difungsikan untuk memperoleh produk akhir yang berkualitas. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk isolasi enzim selulase dari bekicot, Achatina fulica dan menentukan karakteristiknya yang meliputi kondisi suhu, ph, konsentrasi substrat dan parameter kinetik. Dari penelitian diharapkan glukosa sebagai hasil hidrolisis dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan etanol. Bahan dan Metode Bahan-bahan utama yang diperlukan dalam penelitian ini adalah bekicot, Achatina fulica sebagai sumber enzim, diperoleh dari perladangan mayarakat Sidoarjo, dipilih yang besar dan cangkangnya masih utuh. Carboxy Methyl Cellulose (CMC) sebagai substrat dalam proses hidrolisis diperoleh dari laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi FMIPA Universitas Airlangga Surabaya. A. Isolasi Enzim Selulase dari Hepatopankreas Bekicot, Achatina fulica Sebanyak 35 gram hepatopankreas bekicot dihomogenisasi dengan 500ml 1% NaCl dingin (ph=7) dalam waringblender selama 3 menit pada suhu 1-4 o C. Homogenat yang diperoleh kemudian disaring melalui kain pada suhu 2-4 o C dan filtratnya disentrifuge selama 80 menit pada suhu 2 o C dan 4200 rpm dalam International Refrigerated Centrifuge dengan rotor no. 840. Supernatan yang diperoleh merupakan preparat enzim selulase selanjutnya dilakukan uji aktivitas dan kandungan proteinnya. (Soedigdo, dkk., 1980) B. karakterisasi enzim selulase Menentukan kondisi optimum aktivitas enzim selulase ph Optimum ph optimum ditentukan dengan cara sebagai berikut: disediakan beberapa larutan CMC 2% dalam bufer asetat dengan ph berbeda 4,5; 5,0; 5,16, 5,25 dan 5,5. Masing-masing larutan diambil 40 ml dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 100 ml yang berbeda. Ke dalam masing-masing labu erlenmeyer ditambahkan 10 ml larutan enzim kemudian diinkubasi pada suhu optimum selama 1 jam dengan kecepatan 160 rpm.. Reaksi dihentikan dengan pemanasan selama 10 menit. Kadar Gula reduksi dalam hidrolisat selulosa ditentukan dengan menggunakan metode Semgy-Nelson. Suhu Optimum Suhu optimum dilakukan dengan cara sebagai berikut: Ke dalam 6 buah labu erlenmeyer 100ml dimasukkan masing-masing 40 ml CMC 2% dalam larutan buffer asetat ph 5 dan ditambahkan 10 ml enzim selulase. Campuran dalam labu diinkubasi pada suhu berbeda (30 o C, 40 o C, 50 o C dan 60 o C) dan kecepatan 160 rpm selama 60 menit.. reaksi dihentikan dengan pemanasan selama 10 menit. Kadar Gula

reduksi dalam hidrolisat Carbokxy Methyl Cellulose (CMC) ditentukan dengan menggunakan metode Semgy- Nelson. Konsentrasi Susbstrat optimum Konsentrasi substrat optimum ditentukan dengan cara sebagai berikut: disediakan larutan CMC dalam larutan buffer asetat ph 5 dengan konsentrasi yang berbeda dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer 100ml masing-masing sebanyak 40ml. Selanjutnya ditambahkan 10ml larutan enzim. Campuran diinkubasi pada suhu 50 0 C selama 1 jam. Sesudah reaksi enzimatik dihentikan dengan pemanasan, ditentukan kadar gula reduksinya dengan menggunakan metode Somogy-Nelson. Menentukan Parameter Kinetik Reaksi Enzimatis Parameter kinetik reaksi enzimatis adalah laju reaksi maksimum (V m ) dan tetapan Michaelis-Menten (Km), ditentukan dengan menggunakan persamaan Michelis Menten atau persamaan Lineweaver Burk. Persamaan Michelis Menten diperoleh dengan membuat kurva hubungan [S] dengan V, sedangkan persamaan Lineweaver Burk diperoleh dengan membuat kurva hubungan 1/[S] dengan 1/V. Data laju reaksi (V) diperoleh dari percobaan optimasi substrat. C. Metode Analisis Uji aktivitas Selulase Pada tabung reaksi betutup diisi dengan 1,0ml larutan buffer asetat ph 4,8 dan 0,5ml larutan enzim dalam buffer asetat. Selanjutnya campuran tersebut dipanaskan. Pada saat suhu mencapai 50 O C, ke dalam tabuing D. Diagram Alir Percobaan tersebut dimasukkan kertas saring berukuran 1,0 x 6,0 cm ( 50 mg) lalu diaduk (NB. Semua bagian kertas saring Whatman No 1 harus tercelup dalam cairan). Setelah 1 jam reaksi dihentikan dengan pemanasan dalam air mendidih selama 10 menit dan selnjutnya dilakukan uji gula reduksi pada filtratnta dengan menggunakan metode Somogy- Nelson. (Ghose,1987) Analisa Kadar Gula Reduksi Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan pipet mikro sebanyak 200 l, dimasukkan secara kuantitatif ke dalam tabung ependorf. Kemudian disentrifugasi kecepatan tinggi selama 5 menit. Dipisahkan antara residu dan filtratnya. Filtrat ditentukan kadar glukosanya dengan metode Semogyi-Nelson.Absorbansi sampel (y) diekstrapolasikan pada persamaan regresi linier yang telah didapat, dari kurva standar glukosa, sehingga setiap kadar glukosa dapat ditentukan.. Uji Kandungan Protein pada Enzim Selulase Enzim selulase yang diisolasi dari hepatopankreas bekicot ditrentukan kadar proteinnya dengan cara sebagai berikut: ke dalam tabung reaksi yang berisi 7 ml ekstrak kasar enzim ditambahkan 3 ml reagen Bradford, lalu diinkubasi selama 5 menit. Setelah waktu inkubasi, absorbansi larutan enzim diukur pada panjang gelombang maksimum 595 nm. Absorbansi yang diperoleh diplotkan pada persamaan regresi linier kurva standar protein

35 g Hepatopankreas Bekicot 500 ml 1% NaCl dingin (ph=7) Campuran homogenat dicampur dihomogenisasi dalam waringblender pada suhu 1 4 o C selama 3 menit disaring suspensi Residu disentrifus dingin pada suhu 2 C, 4200 rpm selama 80 menit Supernatan ekstrak selulase Residu Uji aktivitas HASIL DAN PEMBAHASAN A. Eksatraksi Enzim Selulase dari Hepatopankreas Bekicot, Achatina fulica Bekicot ( Achatina fulica) memiliki ciri khas warna garis-garis pada tempurung/cangkangnya tidak begitu mencolok sebagaimana gambar 4.1. Hewan ini menggantungkan hidupnya pada selulosa sebagai sumber energinya. Oleh karena itu banyak ditemukan mikroba selulitik di dalam sistem pencernaanya. Enzim selulase merupakan enzim ekstrasellular yang diproduksi di dalam sel mikroba selulolitik dan kemudian dikeluarkan dari sel masuk ke dalam sistem pencernaan untuk mencerna selulase. Dengan demikian enzim selulase diisolasi dari hepatopankreas bekicot (Achatina fulica) yang bermuara pada sistem pencernaan. Karakterisasi Sel hewan tidak memiliki dinding sel sehingga proses isolasi enzim berlangsung lebih mudah. Proses isolasi enzim selulase dari hepatopankreas melalui tahapan dekstruksi sel yaitu pelepasan enzim dari matriks sel. Enzim selulase dipisahkan dari matriks sel dengan cara merusak membran sel melalui pengaturan tekanan osmosa larutan diluar sel dengan menggunakan larutan NaCl dan homogenisasi dengan menggunakan waringblender (Palmer, 1995). Homogenat yang diperoleh dari proses dekstruksi disaring dan disentrifus dengan tujuan untuk memisahkan enzim selulase dari matriks sel yang lain. Supernatan yang diperoleh merupakan ekstrak kasar enzim selulase, berwarna coklat muda(gambar 2) dan sebanyak 470 ml

dari 500 ml homogenat (35 gram reaksi antara reagen Bradford dengan hepatopankreas) dan ph 5,2. Selanjutnya protein sehingga terbentuk senyawa ekstrak kasar tersebut diuji kadar kompleks berwarna biru menurut reaksi proteinnya dengan menggunakan metode berikut: Bradford. Metode ini didasarkan pada H + (H 3 PO 4 ) Coomassie Blue + Protein Kompleks berwarna biru Larutan kompleks biru ini diukur diekstrak dari bekicot ( Achatina fulica) memiliki kandungan protein sebesar 4,4 absorbansinya dengan menggunakan mg/ml ekstrak. Hal ini kemungkinan spektrofotometer pada panjang karena ekstrak enzim yang dihasilkan gelombang 595 nm. Semakin tinggi pada penelitian ini terlalu encer Absorbansi yang terukur maka semakin (gambar.2) dan tidak dilakukan proses tinggi kadar proteinnya.kandungan pemekatan sebagaimana yang telah protein dalam ekstrak kasar enzim selulase sebesar 1,72 mg per ml ekstrak dilakukan Saryono (1991). Pemekatan ekstrak enzim dilakukan melalui proses enzim selulase. Kandungan protein ini liofilisasi dengan tujuan untuk jauh lebih rendah dibandingkan hasil penelitian yang dilaporkan Saryono mengurangi pelarut pada kondisi suhu - 87 o C dan tekanan 1,3 bar. (1991), bahwa enzim selulase yang Gambar 1. Bekicot, Achatina fulica Keberhasilan isolasi enzim selulase ditentukan melalui uji aktivitas enzim dengan menggunakan substrat kertas saring whatman no 1. Aktivitas yang terukur merupakan aktivitas selulosa total (FP -ase). Kadar glukosa sebagai hasil aktivitas enzim selulase ditentukan dengan metode Somogyi- Nelson. Metode ini didasarkan pada reaksi reduksi tembaga (II) menjadi tembaga (I) dalam larutan yang mengandung K-Na tartrat, yang kemudian oleh adanya reagen arsenomolibdat hasil ini membentuk senyawa kompleks berwarna biru. Larutan kompleks biru ini diukur absorbansinya dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm. Ekstrak enzim selulase dari bekicot memiliki aktivitas selulase total ( Filter Paper Ase) sebesar 0,020 mol glukosa /ml substrat per menit atau 0,02 Unit dan aktivitas spesifik sebesar 0,023 Unit/mg protein. 1 Unit Aktivitas : banyaknya enzim yang dapat menghasilkan 1 mol Gambar 2. Ekstrak Kasar Enzim Selulase glukosa per mililiter substrat tiap menit pada kondisi percobaan. Hasil Aktivitas enzim selulase ini berbeda dengan hasil penelitian yang telah dilaporkan Saryono (1991),bahwa aktivitas enzim selulase terhadap selulase ampas nanas mencapai 3,4 mg/ml per menit dan aktivitas spesifik sebesar 0,7727 Unit/mg protein. Hal ini terjadi karena Saryono (1991) melakukan tahap pemurnian terhadap ekstrak enzim selulase setelah tahap liofilisasi. Pemurnian dilakukan melalui tahap fraksinasi dan dialisis dengan tujuan untuk menghilangkan semua komponen non protein yang masih tersisa dalam larutan. Oleh karena itu perlu dilakukan tahap liofilisasi dan pemurnian terlebih dahulu terhadap ekstrak kasar enzim selulase sebelum melakukan proses hidrolisis selulosa secara enzimatis. B. Karakterisasi Enzim Selulase Penentuan Kondisi Optimum Aktivitas Enzim Selulase

Aktivitas enzim dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain ph, temperatur dan konsentrasi substrat. Untuk mengetahui aktivitas optimum, maka dilakukan pengukuran aktivitas dengan kondisi yang bervariasi. ph Optimum Enzim memiliki ph optimum yang karakteristik, yaitu ph yang dapat menghasilkan aktivitas maksimal dalam mengkatalisis suatu reaksi. Perubahan ph berpengaruh terhadap aktivitas enzim melalui pengubahan struktur atau muatan residu asam amino yang berfungsi dalam pengikatan substrat ph yang bervariasi juga dapat menyebabkan perubahan konformasi enzim. Hal ini terjadi karena gugus bermuatan ( -NH + 3 atau COO - ) yang jauh dari daerah terikatnya substrat, yang mungkin diperlukan untuk mempertahankan struktur tersier, akan mengalami perubahan muatan pada ph yang berbeda. Hal ini akan menyebabkan terganggunya ikatan ionik dan terputusnya folding maksimum enzim sehingga konformasi enzim berubah. Perubahan konformasi enzim akan menyebabkan aktivitas enzim menjadi menurun. Gambar 3. menunjukkan bahwa aktivitas optimum ekstrak kasar enzim selulase berlangsung pada ph optimum, yaitu ph 5,2 dengan aktivitas sebesar 0,053 Unit dan aktivitas spesifik 0,003 U/mg dengan kadar glukosa sebesar 0,57 mg/ml susbtrat ( 28 mg glukosa/g CMC). ph optimum ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilaporkan Saryono(1999), bahwa aktivitas optimum enzim selulase dalam menghidrolisis limbah nanas berlangsung pada ph 5,2. Enzim selulase masih bisa beraktivitas pada ph diatas dan dibawah ph 5,2 tetapi aktivitasnya lebih rendah. Hal ini kemungkinan karena terjadi perubahan muatan gugus fungsi residu asam amino pada enzim, terutama asam amino jenis asam glutamat(bhat, 1997). Disamping itu konformasi enzim dimungkinkan juga telah mengalami perubahan konformasi (denaturasi) akibat perubahan ph yang bervariasi. Aktivits Spesifik Selulase(U/g) 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 4.6 4.8 5 5.2 5.4 5.6 ph Gambar 3. Kurva Pengaruh ph terhadap Aktivitas Ekstrak Kasar Enzim Selulase Temperatur Optimum Pada temperatur optimum reaksi enzimatis berlangsung paling cepat karena aktivitas enzim maksimum. Peningkatan temperatur menyebabkan aktivitas ekstrak kasar enzim meningkat. Hal ini disebabkan oleh temperatur yang makin tinggi akan meningkatkan energi kinetik, sehingga menambah intensitas tumbukan antara substrat dengan enzim. Pada temperatur optimum, tumbukan antara enzim dan substrat sangat efektif, sehingga pembentukan kompleks enzimsubstrat makin mudah dan produk yang terbentuk meningkat. Di atas temperatur optimum enzim akan mengalami denaturasi dan kehilangan aktivitas katalitiknya (inaktivasi). Proses inaktivasi enzim pada temperatur yang sangat tinggi berlangsung melalui 2 tahap yaitu diawali dengan pembukaan parsial struktur sekunder, tersier dan atau

kuartener molekul enzim akibat putusnya ikatan-ikatan kovalen maupun ikatan hidrofobik dan selanjutnya terjadi perubahan struktur primer enzim karena adanya kerusakan asam-asam amino tertentu oleh pemanasan. 3.5 3 Aktivitas Spesifik Selulase(U/g) 2.5 2 1.5 1 0.5 0 30 40 50 60 Temperatur ( o C) Gambar 4. Kurva Pengaruh Temperatur terhadap Aktivitas Ekstrak Kasar Enzim Selulase Gambar 4 menunjukkan bahwa aktivitas optimum ekstrak kasar enzim selulase dicapai pada temperatur 50 o C, dengan aktivitas 0,053 Unit (0,053 mol glukosa/ml substrat per menit) dan aktivitas spesifik 0,0031 U/mg dengan kadar glukosa sebesar 56,77 mg/100ml (28,39 mg glukosa/g CMC). Temperatur optimum ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sreenath (2002), yang melaporkan bahwa aktivitas optimum enzim selulase dari Trichoderma viridae dan Aspergilus niger dalam menghidrolisis Carboxy Methyl Cellulose (CMC) berlangsung pada suhu 50 o C. Kondisi ini berbeda dengan hasil penelitian yang telah dilaporkan Saryono (1991) dan maisaroh (2009). Aktivitas optimum selulase terhadap selulosa ampas nanas berlangsung pada temperatur optimum 37 o C (Saryono, 1991) sedangkan terhadap selulosa ampas tebu (bagas) pada temperatur 40 o C (Maisaroh, 2009). Perbedaan temperatur optimum ini kemungkinan karena Carboxy Methyl Cellulose (CMC) memiliki viskositas yang lebih tinggi dibandingkan selulosa yang lain pada konsentrasi yang sama (2 %), sehingga enzim selulosa membutuhkan energi yang cukup tinggi untuk membentuk kompleks dengan substrat Carboxy Methyl Cellulose (CMC). Oleh karena itu untuk memperoleh data yang akurat perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh variasi substrat terhadap temperatur optimum aktivitas enzim selulase. Konsentrasi Substrat Optimum Konsentrasi substrat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas enzim. Gambar 4.5. menunjukkan bahwa konsentrasi substrat sebanding dengan aktivitas ekstrak kasar enzim. Pada konsentrasi substrat rendah, aktivitas ekstrak kasar enzim juga rendah, karena sisi aktif enzim hanya sedikit mengikat substrat, sehingga produk gula pereduksi yang dihasilkan juga sedikit. Demikian juga dengan konsentrasi substrat yang makin tinggi, maka sisi aktif enzim akan makin banyak mengikat substrat, sehingga produk glukosa yang dihasilkan juga makin banyak. Penambahan substrat lebih lanjut hanya sedikit meningkatkan aktivitas ekstrak kasar enzim, karena hampir semua enzim telah membentuk kompleks enzim-substrat, sehingga tidak terdapat lagi sisi aktif enzim yang bebas.

Aktivitas spesifik Selulase (U/g) 7 6 5 4 3 2 1 0 1 2 3 4 5 [S]% Gambar 5. Kurva Hubungan Konsentrasi Substrat terhadap Aktivitas Ekstrak Kasar Selulase Pada konsentrasi substrat di atas 4% ternyata mulai terjadi penurunan kecepatan reaksi enzimatis. Hal ini terjadi karena semakin tinggi konsentrasi Carboxy Methyl Cellulose (CMC) maka makin tinggi viskositasnya sehingga probabilitas substrat berikatan dengan sisi aktif enzim semakin kecil. Dengan demikian aktivitas optimum berlangsung pada konsentrasi substrat 4%. Data yang diperoleh dari optimasi substrat ini digunakan untuk menentukan parameter kinetik enzim selulase yang meliputi V m (Kecepatan Reaksi Maksimum) dan Km (Konstanta Michaelis- Menten) Penentuan Parameter Kinetika Reaksi Enzimatis V m merupakan kecepatan maksimum yaitu kecepatan yang berangsur-angsur dicapai pada konsentrasi substrat tinggi (enzim telah jenuh dengan substrat) sedangkan Km merupakan konstanta yang menyatakan konsentrasi substrat pada saat kecepatan reaksi mencapai setengah kali kecepatan maksimum. Harga Vm dan Km dapat ditentukan dengan membuat grafik antara 1/V dengan 1/[S]. Persamaan Michaelis- Menten: Vm.[ S] Vm Km [ S] Dapat dinyatakan sebagai berikut: 1 Km [ S] atau V Vm.[ S] 1 Km 1 1. V Vm [ S] V m Dari persamaan di atas terlihat bahwa 1/V adalah fungsi dari 1/[S]. Dengan demikian jika dibuat kurva hubungan antara 1/V dengan 1/[S], akan terbentuk garis lurus (gambar 6). 1/V y = 2.2857x + 4.2836 250 R 2 = 0.9927 200 150 100 50 0-20 0 20 40 60 80 100 120 1/[S] Gambar 6. Kurva Hubungan 1/V dengan 1/[S]

Ekstrak kasar enzim selulase yang diisolasi dari bekicot ( Achatina fulica) memiliki harga V m sebesar 0,002 mg/ml per menit dan Km sebesar 0,005 mg/ml. Parameter kinetik ini berbeda dengan hasil penelitian yang telah dilaporkan Saryono (1991), bahwa enzim selulase dari bekicot dengan menggunakan substrat suspensi ampas nanas dalam buffer asetat ph 5,2 mempunyai harga Km 0,014 mg glukosa/ml dan nilai V m sebesar 0,025 mg/ml/menit. Perbedaan nilai parameter kinetik ini dimungkinan karena substrat yang digunakan berbeda. Setengah kecepatan maksimum enzim selulase dari bekicot ( Achatina fulica) tercapai pada konsentrasi substrat Carboxy Methyl Cellulose (CMC) lebih tinggi dibandingkan substrat ampas nanas. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Dari penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa 1. Enzim selulase yang diisolasi dari bekicot ( Achatina fulica) bekerja optimum pada ph 5,2, temperatur 50 o C, dan konsentrasi substrat 4% 2. Aktivitas enzim selulase dari bekicot (Achatina fulica) terhadap Carboxy Methyl Cellulose (CMC) sebesar 0,02 mol/ml per menit (0,02 Unit) sedangkan kandungan proteinnya 1,72 mg/ml enzim sehingga aktivitas spesifiknya sebesar 0,023 Unit/mg protein 3. Karakterisasi enzim selulase dari bekicot dengan menggunakan substrat CMC dalam buffer asetat ph 5,2 mempunyai harga V m sebesar 0,23mg/mL per menit dan Km sebesar 0,53 mg/ml Saran 1. untuk meningkatkan kandungan protein dan aktivitas ekstrak kasar enzim selulase dari bekicot (Achatina fulica)maka perlu dilakukan tahapan liofilisasi dan pemurnian. 2. perlu dilakukan penelitian lanjut mengenai pengaruh variasi substrat terhadap temperatur optimum aktivitas enzim selulase.. DAFTAR PUSTAKA Bhat, M.K., (1997), Cellulose Degrading Enzymes and Their Potential Industrial Applications, Food Macromolecul Science Departement, Institute pf Food Research. Biotechnology Advances. Vol.15. 583-620 Bradford MM, 1976. A Rapid and Sensitive Method for the Quantitation of Microgram Quantities of Protein Utilizing the Principle of Protein-Dye Binding. Anal. Biochem. 72: 248 254 Ghose, T.K., (1987), Measurement of Cellulase activities, Pure and Applied Chemistry, 59, 257-268 Indra, D., K.Ramalingam, and Mary Babu., (2005), Isolation, Purification and Characterization of Collagenase from Hepatopancreas of The Snail Achatian fulica, Comparative Biochemistry and Physiology 142, 1-7 Koolman, J. dan Rohm, K.(2001), Atlas Berwarna dan Teks Biokimia, Terjemahan Septelia, Penerbit Hipokrates, Jakarta Lee,Y.J., et al. (2008), Purification and Characterization of Cellulase Produced by Bacillus amyoliquefaciens DL-3 Utilizing Rice Hull, Bioresource Technology, vol. 99 hal. 378 386 Soedigdo, P., L.S.Nio, A. Soekeni,R.C. Barnett, (1970), Cellulase from The Snail Achatina fulica (Fer), Physial Zoology, 43,2,139-144 Soedigdo, P., Muliawati, M. Wirahadikusumah, (1980), Penuntun Praktikum Biokimia Dasar, edisi kedua, Departemen Kimia FMIPA ITB, Bandung.

Silaban, Ramlan., (1999), Enzim Selulolitik pada Bakteri Pseudomonas alchaligenes PaAf-18, PhD Theses from JBPTITBPP, Bandung Sudarmadji, S., Haryono,B., Harsono., (1984), Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian, Liberti, Yogyakarti Duff, S.J.B., Murray, W.D., (1996), Bioconvertion of forest products industry waste cellulosics to fuel ethanol: a review. Bioresour. Technol. 55, 1 33.