BAB IV HASIL PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
Lampiran 1. Surat Ethical Clearance

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh manusia. 1 HIV yang tidak. terkendali akan menyebabkan AIDS atau Acquired Immune Deficiency

BAB III METODE PENELITIAN. mengutip dari beberapa buku-buku literatur yang membahas tentang jenis, Gambar 3.1 Kerangka Konsep

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN. 5.1 Data Demografi Responden Dalam penelitian ini yang datanya diambil pada bulan Agustus

LAMPIRAN-LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

I. Identitas Informan No. Responden : Umur : tahun

Lampiran 1. Informed Consent. Penjelasan prosedur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pustaka yang dibahas dalam penelitian ini tersedia di google books yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Terdapat hampir di semua negara di dunia tanpa kecuali Indonesia. Sejak

BAB I PENDAHULUAN. Alat Pelindung Diri (APD) sangat penting bagi perawat. Setiap hari

Mengapa Kita Batuk? Mengapa Kita Batuk ~ 1

No. Kuesioner : I. Identitas Responden 1. Nama : 2. Umur : 3. Jenis Kelamin : 4. Pendidikan : 5. Pekerjaan : 6. Sumber Informasi :

1 Universitas Kristen Maranatha

FORMULIR PERSETUJUAN (INFORMED CONSENT) : Analisis Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Preoperatif dan Pascaoperatif di RSUD Dr.

BAB I PENDAHULUAN. Keselamatan (safety) telah menjadi issue global termasuk juga untuk rumah sakit. Ada lima (5)

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan epidemi HIV (Human Immunodefisiency virus) dan

LEMBAR PERSETUJUAN PENGISIAN KUESIONER. kesukarelaan dan bersedia mengisi kuesioner ini dengan sebaik-baiknya.

Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), yaitu sekumpulan gejala. oleh adanya infeksi oleh virus yang disebut Human Immuno-deficiency Virus

BAB I PENDAHULUAN. Centre for Disease Control (CDC) memperkirakan setiap tahun terjadi

Peran Psikologi dalam layanan HIV-AIDS. Astrid Wiratna

BAB I PENDAHULUAN. infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Tuberculosis menyebabkan 5000 kematian perhari atau hampir 2 juta

Napza Suntik, HIV, & Harm Reduction

BAB I PENDAHULUAN. rumah sakit. Rumah sakit merupakan salah satu sarana pelayanan. kesehatan kepada masyarakat. Rumah sakit memiliki peran penting

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio

BAB I PENDAHULUAN. tindakan perbaikan kemudian akan diakhiri dengan penutupan dengan cara. penjahitan luka (Sjamsuhidajat & De Jong, 2013).

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit menular maupun tidak menular sekarang ini terus. berkembang. Salah satu contoh penyakit yang saat ini berkembang

BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN. Hubungan Pengetahuan Perawat Tentang Infeksi Nosokomial Dan Kepatuhan Perawat

PANDUAN WAWANCARA. Analisis Kemampuan Perawat dalam Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Nosokomial di Rumah Sakit Umum Mitra Medika Medan

57 2-TRIK: Tunas-Tunas Riset Kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. terhadap infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat pasien

BAB VI PEMBAHASAN. dikaitkan dengan tujuan penelitian maupun penelitian terdahulu.

BAB I PENDAHULUAN. sistemik (Potter & Perry, 2005). Infeksi yang terjadi dirumah sakit salah

BAB I PENDAHULUAN. berbagai bidang, seperti: sosial, ekonomi, budaya, pendidikan dan kesehatan. Dewasa

BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia adalah penyakit diare. Diare adalah peningkatan frekuensi buang air

BAB III METODE PENELITIAN

GLOBAL HEALTH SCIENCE, Volume 2 Issue 1, Maret 2017 ISSN

BAB 1 PENDAHULUAN. merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit (sel T CD4+) yang tugasnya

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN. Ponorogo, bermaksud melaksanankan penelitian dengan judul Perilaku

Tema Lomba Infografis Community TB HIV Care Aisyiyah 2016

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di Asia. (2) Meskipun ilmu. namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN (INFORM CONSENT)

KUESIONER PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PERILAKU PENCEGAHAN TUBERKULOSIS PARU DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 DAN RUMAH TAHANAN KELAS 1 MEDAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infeksi nosokomial merupakan problem klinis yang sangat

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. pekerjaan. Dari hasil penelitian yang dilakukan maka diperoleh hasil sebagai berikut :

nosokomial karena penyakit infeksi. Di banyak negara berkembang, resiko perlukaan karena jarum suntik dan paparan terhadap darah dan duh tubuh jauh

KUESIONER PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel penelitian, dengan tetap memenuhi kriteria inklusi. Kuesioner ini diuji validitas dan

Jangan cuma Ragu? Ikut VCT, hidup lebih a p sti

UNIVERSAL PRECAUTIONS Oleh: dr. A. Fauzi

BABI PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kanker Paru-Paru. (Terima kasih kepada Dr SH LO, Konsultan, Departemen Onkologi Klinis, Rumah Sakit Tuen Mun, Cluster Barat New Territories) 26/9

BAB 1 PENDAHULUAN. Hepatitis akut. Terdapat 6 jenis virus penyebab utama infeksi akut, yaitu virus. yang di akibatkan oleh virus (Arief, 2012).

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 11 TAHUN 2006 TENTANG PENANGGULANGAN HIV/AIDS DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

KUESIONER PENELITIAN SKRIPSI HUBUNGAN PENGETAHUAN PENDERITA TENTANG TUBERKULOSIS PARU DENGAN PERILAKU KEPATUHAN MINUM OBAT

VIRUS HEPATITIS B. Untuk Memenuhi Tugas Browsing Artikel Webpage. Oleh AROBIYANA G0C PROGRAM DIPLOMA III ANALIS KESEHATAN

KUESIONER PENELITIAN. Perbedaan Sanitasi Lingkungan dan Perilaku Petugas Kesehatan terhadap Angka

BAB V PEMBAHASAN DAN SIMPULAN. Bab ini penulis membahas mengenai permasalahan tentang respon nyeri

A. Pengertian Defisit Perawatan Diri B. Klasifikasi Defisit Perawatan Diri C. Etiologi Defisit Perawatan Diri

2014 AEA International Holdings Pte. Ltd. All rights reserved. 1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Filariasis merupakan penyakit zoonosis menular yang banyak

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DENGAN PRAKTIK PERAWAT DALAM PENCEGAHAN INFEKSI NOSOKOMIAL DIRUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM KENDAL

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. (WHO, 2002). Infeksi nosokomial (IN) atau hospital acquired adalah

RSCM KEWASPADAAN. Oleh : KOMITE PPIRS RSCM

Tirolyn Panjaitan ( ) Saya adalah mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara yang

INOVASI KEPERAWATAN BATUK EFEKTIF DAN EDUKASI PASIEN TB PARU DENGAN MENGGUNAKAN LEAFLET DI RSUD CENGKARENG

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGARUH ORIENTASI TERHADAP TINGKAT KECEMASAN ANAK PRA SEKOLAH DI BANGSAL ANAK RUMAH SAKIT BHAKTI WIRA TAMTAMA SEMARANG. Eni Mulyatiningsih ABSTRAK

Tuberkulosis Dapat Disembuhkan

ISNANIAR BP PEMBIMBING I:

BAB III RESUME KEPERAWATAN

Lampiran 1 Lembar Permohonan Menjadi Responden

LEMBAR PERSETUJUAN PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN di RS PKU Muhammadiyah Gamping yang merupakan salah satu. Yogyakarta. RS PKU Muhammadiyah Gamping

GAMBARAN PERILAKU PERAWAT DALAM PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BANDUNG

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. diberikan antibiotik pada saat dirawat di rumah sakit. Dari jumlah rekam medik

Jurnal Farmasi Andalas Vol 1 (1) April 2013 ISSN :

SAFII, 2015 GAMBARAN KEPATUHAN PASIEN TUBERKULOSIS PARU TERHADAP REGIMEN TERAPEUTIK DI PUSKESMAS PADASUKA KECAMATAN CIBEUNYING KIDUL KOTA BANDUNG

BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi saluran napas disusul oleh infeksi saluran cerna. 1. Menurut World Health Organization (WHO) 2014, demam tifoid

BAB I PENDAHULUAN. mikroorganisme dapat terjadi melalui darah, udara baik droplet maupun airbone,

KUESIONER PENELITIAN. Persepsi Pasien Terhadap Pelayanan Kesehatan Perawat di Ruang Rawat Inap Kelas III Bangsal Rumah Sakit Imelda Medan Tahun 2013

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. yang terdapat di RS PKU Muhammadiyah Gamping memiliki berbagai

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan perasaan tegang, pikiran khawatir dan. perubahan fisik seperti meningkatnya tekanan darah.

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan aset berharga, tidak hanya bagi individu tetapi juga

HUBUNGAN PENGAWASAN KEPALA RUANG DENGAN TINGKAT KEPATUHAN PERAWAT DALAM PENGGUNAAN GLOVE PADA TINDAKAN INJEKSI DI RSUD WONOSARI

FORMULIR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN. Judul : Peran Perawat Dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial. Oleh : Evi Dwi Prastiwi NIM.

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 8 Anak menderita HIV/Aids. Catatan untuk fasilitator. Ringkasan Kasus:

maupun sebagai masyarakat profesional (Nursalam, 2013).

BAB I PENDAHULUAN. masalah HIV/AIDS. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang

Transkripsi:

54 BAB IV HASIL PENELITIAN Bab ini membahas hasil penelitian pada setiap variabel yang sudah direncanakan. Proses pengambilan data dilakukan di RSUD Tidar kota Magelang dari 30 Desember 2015 sampai 7 Januari 2015. Responden yang diteliti menggunakan teknik total sampling di Bangsal Cempaka, Edelweis dan Gladiol berjumlah 49 orang dengan response rate 100%. A. Karakteristik Data Demografi Responden Karakteristik data demografi responden dalam penelitian ini mencakup usia, jenis kelamin, jumlah ODHA yang pernah dirawat dan pelatihan terkait perawatan ODHA. Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di RSUD Tidar kota Magelang (N=49) No Kategori Responden Frekuensi (f) Persentase (%) 1 Usia 20-34 Tahun 27 55.1 35-65 Tahun 22 44.9 2 Jenis Kelamin Laki-laki 21 42.9 Perempuan 28 57.1 3 Pernah merawat ODHA Lebih dari 10 kali 49 100.0 4 Pelatihan terkait perawatan ODHA Pernah 1 2.0 Belum pernah 48 98.0 Tabel 4.1 menunjukkan bahwa dari 49 responden, lebih dari setengah responden (n=27, 55.1%) berusia antara 20-34 tahun dan sebagian besar responden (n=28, 57.1%) adalah perempuan. Seluruh responden (n= 49, 100%) pernah merawat lebih dari sepuluh ODHA selama bekerja. Hanya satu dari seluruh responden (2%) yang pernah mendapatkan pelatihan terkait perawatan ODHA. 54

55 B. Deskripsi Persepsi dan Sikap Perawat terhadap Perawatan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) 1. Deskripsi Variabel Persepsi Perawat terhadap Perawatan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Persepsi Perawat terhadap Perawatan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) (N=49) Kategori Frekuensi (f) Presentase % Persepsi Persepsi Baik 25 51.0 Persepsi Kurang 24 49.0 Total 49 100.0 Tabel 4.2 menunjukkan sebanyak 25 responden (51%) memiliki persepsi baik mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perawatan orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Item Persepsi Perawat terhadap Perawatan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) (N=49) No Sub Kategori Frekuensi (f) Persentase (%) 1 Persepsi Perawatan ODHA dengan Infeksi Saluran Napas Baik 43 87.8 Kurang 6 12.2 2 Persepsi Pencegahan Penularan Infeksi HIV/AIDS Baik 32 65.3 Kurang 17 34.7 3 Persepsi Perawatan ODHA dengan Defisiensi Nutrisi dan Cairan Baik 36 73.5 Kurang 13 26.5 4 Persepsi Perawatan ODHA dengan Gangguan Kebutuhan Aktivitas dan Latihan. Baik 39 79.6 Kurang 10 20.4 5 Persepsi Perawatan ODHA dengan Ketidakefektifan Koping Baik 30 61.2 Kurang 19 38.8 6 Persepsi Perawatan ODHA dengan Risiko Jatuh Baik 26 53.1 Kurang 23 36.9

56 No Sub Kategori Frekuensi (f) Persentase (%) 7 Persepsi Perawatan ODHA dengan Gangguan Spiritual dan Psikososial Baik 36 73.5 Kurang 13 26.5 8 Persepsi Diskriminasi Perawat terhadap Perawatan ODHA Tidak Ada Persepsi Diskriminasi 33 67.3 Ada Persepsi Diskriminasi 16 32.7 Tabel 4.3 menunjukkan sebagian besar responden memiliki persepsi baik dalam setiap aspek perawatan ODHA. Hampir seluruh responden (n=43, 87.8%) memiliki persepsi baik dalam perawatan ODHA dengan infeksi saluran pernapasan. Sebanyak 32 responden (65.3%) memiliki persepsi baik dalam pencegahan penularan infeksi HIV. Sebagian besar responden (n=36, 73.5%) memiliki persepsi baik dalam perawatan ODHA dengan defisiensi nutrisi dan cairan serta gangguan kebutuhan aktivitas dan latihan (n=39, 79.6%). Sebanyak 30 responden (61.2%) memiliki persepsi baik dalam merawat ODHA dengan ketidakefektifan koping. Lebih dari separuh dari seluruh responden (n=26, 53.1%) memiliki persepsi baik dalam perawatan ODHA dengan risiko jatuh. Sebagian besar responden (n=36, 73.5%) memiliki persepsi baik dalam perawatan ODHA dengan Gangguan Spiritual dan Psikososial. Terdapat 16 responden (32.7%) yang memiliki persepsi diskriminasi dalam merawat ODHA.

57 Tabel 4.4. Distribusi Persentase Jawaban Kuesioner Persepsi Perawat RSUD Tidar kota Magelang (N=49) No Kategori Persentase (%) Pertanyaan Item 5 4 3 2 1 1. B1 Meningkatkan periode istirahat dapat membantu pola pernapasan ODHA. 32.7 67.3 0 0 0 2 B2 Memberikan ARV yang tidak sesuai resep akan 30.6 57.1 10.2 5.0 2.0 meningkatkan resistensi HIV/AIDS dari pengobatan. 3 B3 Memberikan pendidikan kesehatan kepada ODHA tentang 22.4 61.3 16.2 0 0 napas dalam dan batuk efektif dapat mengurangi takipnea. 4 B4 Hanya perawat senior dengan pengalaman banyak yang 20.4 75.5 2 2 0 diperbolehkan merawat ODHA. 5 B5 Membuang limbah jarum suntik ke dalam safety box 73.5 26.5 0 0 0 membantu mengurangi risiko penularan HIV/AIDS. 6 B6 Teknik recapping (memasukkan jarum spuit ke tutupnya 67.5 32.5 0 0 0 kembali setelah digunakan) berisiko meluarkan HIV/AIDS pada petugas kesehatan. 7 B7 Sejumlah infeksi penyakit, seperti infeksi saluran pencernaan 26.6 71.4 2.0 0 0 dan infeksi kelenjar limfe dapat menyebabkan defsiensi kebutuhan nutrisi dan cairan pada ODHA dengan HIV setadium lanjut. 8 B8 Menganjurkan keluarga dan teman-teman pasien untuk 20.5 51.0 26.5 2 0 membawa makanan favorit pasien dapat meningkatkan nafsu makan ODHA. 9 B9 Diare, mual, muntah, nyeri, kelemahan, kelelahan, demam, 32.7 67.3 0 0 0 keringat malam, gangguan kognitif, inkontinensia urin, gangguan penglihatan dan pendengaran dapat menggangu kebutuhan perawatan diri ODHA. 10 B10 ODHA tidak boleh didiskriminasi. 51.0 49.0 0 0 0 11 B11 Tujuan perawat membantu dan memberikan pendidikan 40.8 59.2 0 0 0 kesehatan tentang ADL pada ODHA adalah memandirikan pasien dan keluarga. 12 B12 Menilai dan memantau masalah-masalah yang dirasakan oleh 55.1 44.9 0 0 0 pasien secara berkala dapat mengurangi kecemasan yang dialami ODHA. 13 B13 ODHA tidak memiliki hak mengenai privasi status 63.3 36.7 0 0 0 kesehatannya. 14 B14 Memasang pembatas sisi tempat tidur dapat mengurangi 36.7 38.8 24.5 0 0 risiko jatuh pada ODHA. 15 B15 Mengkaji adanya gejala infeksi lain yang belum terdiagnosis 63.3 36.7 0 0 0 pada ODHA bermanfaat untuk perawatan pasien. 16 B16 ODHA boleh melakukan kontak langsung dengan orang lain. 12.2 44.9 42.9 0 0 17 B17 Berkonsultasi dengan dokter psikiatri perlu dilakukan bila 69.4 30.6 0 0 0 ODHA memiliki respon maladaptif, keinginan bunuh diri, ancaman verbal dan perilaku kekerasan. 18 B18 Merujuk pasien ke konselor spiritual atau rohaniwan dapat 53.3 32.7 2 0 0 meningkatkan dukungan spiritual dan psikososial pada ODHA. 19 B19 Pasien lain perlu mengetahui bahwa dalam satu ruang 55.1 38.8 0 0 6.1 bangsal yang sama terdapat ODHA. 20 B20 ODHA perlu diisolasi dari pasien infeksi lain untuk 57.1 32.7 4.1 6.1 0 mencegah penularan infeksi dari pasien lain. 21 B21 Tindakan invasif yang diberikan pada ODHA perlu 6.1 12.2 32.7 46.9 2.0 dilakukan dengan alat pelindung diri lebih ketat

58 No Kategori Item Pertanyaan Persentase (%) 5 4 3 2 1 (menggunakan sarung tangan ganda, masker ganda dan celemek) dibanding pasien dengan penyakit lain. 22 B22 Cairan keringat paisen HIV/AIDS dapat menularkan HIV. 36.8 38.8 12.2 12.2 0 23 B23 ODHA pelu diajak komunikasi secara inetensif selama menjalani perawatan. 24 B24 Bersikap terbuka terhadap semua latar belakang pasien dapat meningkatkan kenyamanan ODHA. B : Kuesioner B perepsi perawat terhadap perawatan ODHA 12.2 75.6 12.2 0 0 6.2 71.4 20.4 2.0 0 Tabel 4.4 Persepsi tertinggi berada pada item nomor 5 dengan dan persepsi paling rendah berada pada item nomor 21. Sebanyak 73.5% dari keseluruhan responden setuju salah satu cara mencegah risiko infeksi HIV pada petugas kesehatan dengan membuang limbah jarum suntik ke dalam safety box. Persepsi paling rendah berada pada pertanyaan item nomor 21 dengan 46.9% responden setuju jika tindakan invasif yang diberikan pada ODHA perlu dilakukan dengan alat pelindung diri lebih ketat dibanding pasien dengan penyakit lain. 2. Deskripsi Variabel Sikap Persepsi Perawat terhadap Perawatan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Sikap Perawat terhadap Perawatan Orang dengan HIV/AIDS (N=49) Kategori Frekuensi (f) Presentase % Sikap Sikap Baik 28 57.1 Sikap Kurang 21 42.9 Total 49 100.0 Tabel 4.5 menunjukkan sebanyak 28 responden (57.1%) memiliki sikap yang baik terhadap perawatan orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

59 Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Item Sikap Perawat terhadap Perawatan Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) (N=49) No Sub Kategori Frekuensi (f) Persentase (%) 1. Sikap Perawatan ODHA dengan Infeksi Saluran Napas Baik 43 87.8 Kurang 6 14.2 2. Sikap Pencegahan Penularan Infeksi HIV/AIDS Baik 30 61.2 Kurang 19 38.8 3. Sikap Perawatan ODHA dengan Defisiensi Nutrisi dan Cairan Baik 27 55.1 Kurang 22 44.9 4. Sikap Perawatan ODHA dengan Gangguan Kebutuhan Aktivitas dan Latihan. Baik 27 55.1 Kurang 22 44.9 5. Sikap Perawatan ODHA dengan Ketidakefektifan Koping Baik 37 75.5 Kurang 12 24.5 6. Sikap Perawatan ODHA dengan Risiko Jatuh Baik 36 73.5 Kurang 13 26.5 7. Sikap Perawatan ODHA dengan Gangguan Spiritual dan Psikososial Baik 34 69.4 Kurang 15 30.6 8. Sikap Diskriminasi Perawat terhadap Perawatan ODHA Tidak Ada Sikap Diskriminasi 37 75.5 Ada Sikap Disriminasi 12 24.5 Tabel 4.6 menunjukkan mayoritas responden memiliki sikap baik dalam setiap aspek perawatan ODHA. Hampir seluruh responden (n= 43, 87.8%) memiliki sikap yang baik dalam perawatan ODHA dengan infeksi saluran pernapasan. Sebanyak 30 responden (61.2%) memiliki sikap baik dalam pencegahan penularan infeksi HIV. Lebih dari setengah responden (n= 27, 51.1%) memiliki sikap baik dalam perawatan ODHA dengan defisiensi nutrisi dan cairan serta gangguan kebutuhan aktivitas dan latihan. Sebagian besar responden (n= 37, 75.5%) memiliki sikap baik dalam merawat ODHA dengan ketidakefektifan koping.

60 Sebanyak 36 responden (73.5%) memiliki sikap baik dalam perawatan ODHA dengan risiko jatuh. Sebagian besar responden (n= 34, 69.4%) memiliki sikap baik dalam perawatan ODHA dengan Gangguan Spiritual dan Psikososial. Meski demikian, masih tergambar sikap diskriminasi pada 12 responden (24.5%). Tabel 4.7. Distribusi Persentase Jawaban Kuesioner Item Sikap Perawat terhadap Perawatan Orang dengan HIV/AIDS (N=49) No Kategori Persentase (%) Pernyataan Item 5 4 3 2 1 1. C1 Saya menganjurkan ODHA untuk beristirahat agar 12.2 75.6 12.2 0 0 membantu pola pernapasannya. 2 C2 Saya memberikan antibiotik sesuai resep dan memantau 44.9 55.1 0 0 0 efek samping pada ODHA. 3 C3 Saya memberikan pendidikan kesehatan tentang napas 16.3 73.5 10.2 0 0 dalam dan batuk efektif kepada ODHA yang mengalami masalah jalan napas. 4 C4 Saya menyerahkan tanggung jawab asuhan keperawatan 51.0 36.8 10.2 2.0 0 ODHA yang saya tangani kepada perawat senior. 5 C5 Saya membuang limbah jarum suntik ke dalam safety box setelah menginjeksi ODHA. 91.8 8.2 0 0 0 6 C6 Saya tidak melakukan teknik recapping (memasukkan 89.8 10.2 0 0 0 jarum spuit ke tutupnya kembali setelah digunakan) setelah melakukan penyuntikan pada ODHA. 7 C7 Saya berkonsultasi pada ahli gizi terlebih dahulu sebelum 16.3 59.2 22.5 2 0 memberikan makanan khusus untuk ODHA. 8 C8 Saya menganjurkan keluarga dan teman-teman pasien agar 8.2 8.2 42.8 40.8 0 membawakan makanan kesukaan ODHA. 9 C9 Saya memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga 8.2 81.6 2.0 8.2 0 ODHA tentang pengelolaan ADL meliputi mandi, mobilisasi, menggunakan alat bantu mobilisasi, makan, BAB dan BAK, dan manajemen obat. 10 C10 Saya tidak mendiskriminasi ODHA. 28.6 67.3 4.1 0 0 11 C11 Saya membantu ADL ODHA dengan memberdayakan 42.9 53.1 4.0 0 0 keluarga dan kemampuan pasien. 12 C12 Saya menilai dan memantau masalah-masalah yang 46.9 38.8 10.2 4.1 0 dirasakan oleh ODHA secara berkala. 13 C13 Saya membicarakan status kesehatan ODHA dengan orang 67.3 32.7 0 0 0 lain. 14 C14 Saya meletakkan tombol bel pemanggil dalam jangkauan 32.7 44.9 8.2 0 14.1 ODHA yang memiliki risiko jatuh. 15 C15 Saya mengkaji adanya gejala infeksi lain yang belum 34.7 34.7 26.5 4.1 0 terdiagnosis pada ODHA untuk kepentingan perawatan. 16 C16 Saya memberikan edukasi pada keluarga ODHA agar tidak 34.7 12.2 46.9 0 4.2 menghindari kontak langsung dengan pasien. 17 C17 Saya memberikan restrain tanpa persetujuan pasien pada 6.1 53.1 4.1 36.7 0 ODHA yang memiliki riwayat perilaku kekerasan dan risiko bunuh diri. 18 C18 Saya merujuk ODHA yang memiliki gangguan spiritual ke konselor spiritual atau rohaniwan jika tersedia. 36.7 47 16.3 0 0

61 No Kategori Item Pernyataan 19 C19 Saya memberi tahu pasien lain dalam satu ruangan agar waspada jika ada ODHA yang sedang dirawat. 20 C20 Saya mengisolasi ODHA dengan pasien Infeksi lain untuk mencegah penularan infeksi dari pasien lain. 21 C21 Saya melakukan tindakan invasif pada ODHA dengan alat pelindung diri yang lebih ketat (menggunakan sarung tangan ganda, celemek dan masker ganda) dibanding pasien dengan penyakit lain. 22 C22 Saya mengguanakan sarung tangan ganda saat membantu ODHA berganti posisi tidur. 23 C23 Saya mengajak ODHA berkomunikasi selama melakukan tindakan keperawatan. 24 C24 Saya bersikap terbuka terhadap semua latar belakang ODHA. C : Kuesioner C perepsi perawat terhadap perawatan ODHA Persentase (%) 5 4 3 2 1 46.9 42.9 10.2 0 0 36.7 63.3 0 0 0 8.2 14.3 20.4 55.1 2.0 20.4 24.5 38.8 14.3 2.0 28.6 71.4 0 0 0 34.8 40.8 22.4 2.0 0 Tabel 4.7 menunjukkan jawaban item sikap tertinggi berada pada pernyataan item nomor 5 dan jawaban item sikap paling rendah berada pada pernyataan item nomor 21. 91.8% responden menjawab setuju bahwa membuang limbah jarum suntik ke dalam safety box setelah menginjeksi ODHA. Sebanyak 55.1% responden sering menggunakan APD yang lebih ketat dalam melakukan tindakan invasif pada ODHA dibanding pasien penyakit lain.