ANALISA PENGARUH BIT ERROR PADA TRANSMISI DATA VIDEO

dokumen-dokumen yang mirip
Oleh : Page 1

BAB II. Decoder H.264/AVC

ANALISIS UNJUK KERJA CODED OFDM MENGGUNAKAN KODE CONVOLUTIONAL PADA KANAL AWGN DAN RAYLEIGH FADING

ANALISIS UNJUK KERJA TEKNIK MIMO STBC PADA SISTEM ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING

Kompresi Citra dan Video. Muhtadin, ST. MT.

PERANCANGAN DEBLOCKING FILTER UNTUK APLIKASI KOMPRESI VIDEO MENGGUNAKAN STANDAR MPEG4/H.264

HAND OUT EK. 462 SISTEM KOMUNIKASI DIGITAL

Simulasi Channel Coding Pada Sistem DVB-C (Digital Video Broadcasting-Cable) dengan Kode Reed Solomon

Teknik Pengkodean (Encoding) Dosen : I Dewa Made Bayu Atmaja Darmawan

ESTIMASI LOCAL MOTION MENGGUNAKAN ALGORITMA PENCARIAN FOUR STEP. Rosida Vivin Nahari 1*, Riza Alfita 2 2 1,2

Standard Kompresi Citra: JPEG

DIGITAL IMAGE CODING. Go green Aldi Burhan H Chandra Mula Fitradi Mardiyah

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

TEKNIK ENCODING SINYAL

TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kuliah 13 Kompresi Citra. Indah Susilawati, S.T., M.Eng.

Kompresi Citra dan Video. Muhtadin, ST. MT.

PE I GKATA KUALITAS VIDEO U TUK TRA SMISI DESKRIPSI JAMAK PADA KA AL MIMO Aranda Fadzri Rahardi

BAB 2 LANDASAN TEORI

Kompresi Video Menggunakan Discrete Cosine Transform

1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II DASAR TEORI. sebagian besar masalahnya timbul dikarenakan interface sub-part yang berbeda.

Pemampatan Citra. Esther Wibowo Erick Kurniawan

BAB III PEMODELAN MIMO OFDM DENGAN AMC

MODUL I TEORI INFORMASI

ANALISIS KINERJA BASIC RATE ACCESS (BRA) DAN PRIMARY RATE ACCESS (PRA) PADA JARINGAN ISDN

1. Adaptive Delta Modulation (ADM) Prinsip yang mendasari semua algoritma ADM adalah sebagai berikut:

Block Coding KOMUNIKASI DATA OLEH : PUTU RUSDI ARIAWAN ( )

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ANALISA HASIL SIMULASI

BAB 1 PENDAHULUAN. Bab 1 Pendahuluan

Implementasi dan Evaluasi Kinerja Kode Konvolusi pada Modulasi Quadrature Phase Shift Keying (QPSK) Menggunakan WARP

BAB 2 LANDASAN TEORI

PENGKODEAN VIDEO DENGAN METODE SPATIAL SCALABILITY

Studi Dan Implementasi Steganografi Pada Video Digital Di Mobile Phone Dengan DCT Modification

Rijal Fadilah. Transmisi & Modulasi

PERANCANGAN DAN ANALISIS STEGANOGRAFI VIDEO DENGAN MENYISIPKAN TEKS MENGGUNAKAN METODE DCT

ENCODING DAN TRANSMISI. Budhi Irawan, S.Si, M.T

BAB II LANDASAN TEORI

MKB3383 -TEKNIK PENGOLAHAN CITRA. Kompresi Citra. Muhammad Zidny Naf an, M.Kom. Genap, 2016/2017

Perbandingan PSNR, Bitrate, dan MOS pada Pengkodean H.264 Menggunakan Metode Prediksi Temporal

PERCOBAAN I. ENCODER DAN DECODER PCM (Pulse Code Modulation)

BAB I PENDAHULUAN. MMS (Multimedia Messaging Service) adalah puncak dari evolusi SMS

BAB II TEKNIK PENGKODEAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III IMPLEMENTASI WATERMARKING PADA VIDEO

Modulasi Digital. Levy Olivia Nur, MT

Pokok Bahasan 2. Transmisi Digital

PERHITUNGAN BIT ERROR RATE PADA SISTEM MC-CDMA MENGGUNAKAN GABUNGAN METODE MONTE CARLO DAN MOMENT GENERATING FUNCTION.

TEKNIK PENGKODEAN SINYAL

BAB II DIGITISASI DAN TRANSMISI SUARA. 16Hz 20 khz, yang dikenal sebagai frekwensi audio. Suara menghasilkan

STUDI DAN IMPLEMENTASI WATERMARKING CITRA DIGITAL DENGAN MENGGUNAKAN FUNGSI HASH

Studi dan Implementasi Steganografi pada Video Digital di Mobile Phone dengan DCT Modification

KOREKSI KESALAHAN PADA SISTEM DVB-T MENGGUNAKAN KODE REED-SOLOMON

N, 1 q N-1. A mn cos 2M , 2N. cos. 0 p M-1, 0 q N-1 Dengan: 1 M, p=0 2 M, 1 p M-1. 1 N, q=0 2. α p =

MODULASI DELTA ADAPTIF

Sistem Komunikasi II (Digital Communication Systems)

BAB I PENDAHULUAN. Modulation. Channel. Demodulation. Gambar 1.1. Diagram Kotak Sistem Komunikasi Digital [1].

BAB III MODEL SISTEM CLOSED-LOOP POWER CONTROL PADA CDMA

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Oleh : Nila Feby Puspitasari

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

SIMULASI LOW DENSITY PARITY CHECK (LDPC) DENGAN STANDAR DVB-T2. Yusuf Kurniawan 1 Idham Hafizh 2. Abstrak

FRAGILE IMAGE WATERMARKING BERBASIS DCT DENGAN OPERATOR EVOLUSI HYBRID OF PARTICLE SWARM OPTIMIZATION

CEG4B3. Randy E. Saputra, ST. MT.

HAND OUT EK. 481 SISTEM TELEMETRI

Penerapan Pohon Biner Huffman Pada Kompresi Citra

KOMPRESI SINYAL SUARA DENGAN MENGGUNAKAN STANDAR MPEG-4

Rijal Fadilah. Transmisi Data

ANALISIS PERBANDINGAN TEKNOLOGI SPREAD SPECTRUM FHSS DAN DSSS PADA SISTEM CDMA

Komunikasi Data. Bab 5. Data Encoding. Bab 5. Data Encoding 1/46

APLIKASI KOMPRESI CITRA BERBASIS ROUGH FUZZY SET

BAB I 1.1 Latar Belakang

KOMUNIKASI DATA SUSMINI INDRIANI LESTARININGATI, M.T

LANDASAN TEORI. 2.1 Citra Digital Pengertian Citra Digital

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. dalam storage lebih sedikit. Dalam hal ini dirasakan sangat penting. untuk mengurangi penggunaan memori.

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Umum. Komunikasi data yang berkembang dengan pesat dewasa ini. Hal ini

Simulasi MIMO-OFDM Pada Sistem Wireless LAN. Warta Qudri /

Pemampatan Citra Warna Menggunakan 31 Fungsi Gelombang-Singkat

ADAPTIVE WATERMARKING CITRA DIGITAL DENGAN TEKNIK DISCRETE WAVELET TRANSFORM-DISCRETE COSINE TRANSFORM DAN NOISE VISIBILITY FUNCTION

SKALABILITAS SPASIAL TRANSMISI VIDEO DENGAN GANGGUAN PADA KANAL

Proteksi Kesalahan Berbeda Menggunakan Metode Rate Compatible Punctured Convolutional (RCPC) Codes Untuk Aplikasi Pengiriman Citra ABSTRAK

APLIKASI PENYEMBUNYIAN PESAN PADA CITRA JPEG DENGAN ALGORITMA F5 DALAM PERANGKAT MOBILE BERBASIS ANDROID

BAB 2 LANDASAN TEORI

IMPLEMENTASI WATERMARKING PADA CITRA DIGITAL MENGGUNAKAN METODE DFT 2 DIMENSI

TTG3B3 - Sistem Komunikasi 2 Teori Informasi

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI

Simulasi Dan Analisis Pengaruh Kecepatan Pengguna Terhadap Kualitas Layanan Data Dengan Menggunakan Encoder Turbo Code Pada Sistem CDMA EV-DO Rev A

BAB II LANDASAN TEORI. Kompresi data atau pemampatan data adalah suatu proses pengubahan

LABORATORIUM SISTEM TELEKOMUNIKASI SEMESTER IV TH 2010/2011

Introduction to spread spectrum (SS) Alfin Hikmaturokhman,MT

TTG3B3 - Sistem Komunikasi 2 Matched Filter & Correlator

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1.(a). Blok Diagram Kelas D dengan Dua Aras Keluaran. (b). Blok Diagram Kelas D dengan Tiga Aras Keluaran.

Transkripsi:

ANALISA PENGARUH BIT ERROR PADA TRANSMISI DATA VIDEO I Made Oka Widyantara Staf Pengajar Program Studi Teknik Elektro Universitas Udayana oka@unud.ac.id INTISARI Proses kompresi video yang membuang redudansi spatial dan temporal membuat data yang dihasilkan menjadi sangat sensitif terhadap error selama transmisi. Error yang terjadi pada sebagian kecil dari deretan bit video yang telah terkode dapat menyebabkan penurunkan kualitas visual yang signifikan. Tulisan ini akan menunjukan pengaruh bit error yang dihasilkan oleh derau kanal pada sinyal dengan memvariasikan Bit Error Rate (BER). Hasil penelitian menunjukan bahwa bit error berpropagasi secara temporal [Error resilience] menyebabkan penurunan PSNR pada beberapa frame. Bit error terjadi pada posisi acak dalam deretan frame video sehingga sulit untuk diprediksi Kata kunci : PSNR, BER, Noise, Video, H.261 1 Pendahuluan Pengkodean terhadap sumber-sumber video menghasilkan deretan bit video, untuk selanjutnya ditransmisikan melalui jaringan telekomunikasi. Pengembangan system jaringan transmisi seperti fiber optik dan wireless mobile diarahkan untuk terciptanya layanan-layanan multimedia. Layanan-layanan ini memerlukan pengiriman data video secara riil time melalui saluran komunikasi yang memiliki bandwidth dan karakteristik error yang berbeda. Selama data video yang telah terkode memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap rugirugi informasi dan error bit saluran, kualitas data video yang akan didekodekan dibatasi oleh ratio laju kesalahan bit (BER) saluran. Tulisan ini dimaksudkan melihat pengaruh bit error pada transmisi data video terhadap kualitas tampilan penerimaan video. 2 Sistem komunikasi video Sinyal video pertama kali akan dikompresi oleh encoder video untuk menurunkan laju data dan aliran bit yang telah terkompresi ini kemudian disegmentasi kedalam paket-paket ukuran tetap atau variable untuk selanjutnya di dimultipleks dengan tipe data lain seperti audio. Paket-paket ini dapat dikirimkan langsung ke jaringan jika jaringan memberikan garansi transmisi tanpa kesalahan (bit error free transmission). Error transmisi dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu random bit error dan erasure error. Random bit error dapat disebabkan oleh ketidaksempurnaan kanal-kanal phisik yang menghasilkan pembalikan, penyisipan dan penghilangan bit. Erasure error dapat disebabkan oleh paket yang hilang dalam jaringan. Pada teknik pengkodean entropy menggunakan variable length coding (VLC), random bit error dapat menyebabkan terjadinya erasure error, selama satu bit error menjadi penentu dalam proses pendekodean aliran bit berikutnya. 3. Teknik Pemampatan Video Sinyal yang membawa informasi video dapat dimampatkan yaitu dikonversi ke sebuah representasi yang memerlukan jumlah bit yang lebih sedikit dibandingkan dengan aslinya. Sebuah perangkat keras atau lunak yang bertidak memampatkan sebuah sinyal disebut encoder dan sebaliknya disebut decoder. Pasangan istilah disebut dengan codec. Encoder generik yang digunakan untuk semua standar video codec seperti H.261, H.263, MPEG-2 dan MPEG-4, ditunjukan pada gambar 1. input video inter/intra - DCT Q VLC Buffer Frame store Motion estimator + idct & IQ Gambar 1. Encoder video Motion vector Berdasarkan sifat-sifat statistik ini (statistical redundance), teknik pemampatan sinyal video dilakukan dengan mengekploitasi sensitivitas bit stream 28

visual manusia dan membuang pengulangan informasi yang tidak mengandung informasi yang signifikan. Beberapa tahapan dalam teknik pemampatan video meliputi : Differential Pulse Code Modulation Adalah proses pengkodean prediksi, dimana sample input video dikurangkan dengan sample prediksi untuk menghasilkan sebuah sampel error prediksi. Sebuah sample prediksi akurat diperoleh menggunakan pembobotan rata-rata dari sampel pixel tetangganya. DPCM dapat diterapkan secara spatial (menggunakan pixel-pixel dalam frame yang sama) atau secara temporal (menggunakan pixel-pixel dari frame sebelumnya). Pengkodean transform Tahapan ini melakukan proses mentransformasi pixel-pixel error prediksi kedalam sebuah koefisien domain transform. Maksudnya adalah untuk menurunkan korelasi diantara pixel-pixel dengan mengkonsentrasikan energi pixel pada komponen DC. Koefisien transform ini selanjutkan dikuantisasi untuk memperoleh rasio pemampatan yang dikehendaki. Motion-compensated prediction Menggunakan sifat DPCM, encoder membentuk sebuah model untuk frame sekarang didasarkan pada frame sebelumnya. Encoder akan berusaha untuk mengkompensasi setiap gerakan video dengan menstranslasi sample-sample dari frame yang telah ditransmisikan sebelumnya. Proses ini akan menghasilkan frame prediksi motion compnsated. Frame ini kemudian dikurangkan dengan frame sekarang menghasilkan sebuah residual error frame. Residual frame ini selanjutkan dilakukan pengkodean transform. Teknik pengkodean yang dilakukan oleh encoder menghasilkan deretan bit video yang harus dikirimkan dalam sebuah struktur data dengan hirarki lapisan yang dapat diinterpretasikan oleh decoder. Pada penelitian ini digunakan standarisasi H.261 dengan tipikal diagram sintak video multiplek decoder ditunjukan pada gambar 3. Terdapat beberapa buah lapisan yaitu lapisan gambar, lapisan Groupof block (GOB), lapisan macroblock dan lapisan block. Masing-masing lapisan terdapat header yang mendahului data sebenarnya yang dikirimkan. PSC TR PTYPE PEI PSPARE Lapisan GOB GBSC GN GQUANT GEI GSPARE Lapisan MB MBA MTYPE MQUANT MVD CBP Panjang tetap Panjang Variable Lapisan Gambar Lapisan Group of Block (GOB) MBA Stuffing Lapisan Macroblock (MB) Lapisan MB Gambar 2. Struktur aliran data video H.261 [1] Video multiplek decoder akan melakukan proses identifikasi deretan bit yang dikirimkan oleh encoder, didasarkan pada lapisan-lapisan deretan bit. Identifikasi dilakukan dengan membaca header dari masing-masing lapisan. Informasi yang terkandung dalam header sangat dibutuhkan oleh dekoder untuk membuat proses rekonstruksi secara benar. PSC TR PTYPE PEI PSPARE PEI... GOB Data 2 bit 5 bit 6 bit 1 bit 8 bit 1 bit Lapisan Gambar GBSC GN GQUANT GEI GSPARE GEI... MB Data 16 bit 4 bit 5 bit 1 bit 8 bit 1 bit Lapisan GOB MBA MTYPE MQUANT MVD CBP Block Data Variable Variable 5 bit Variable Variable Lapisan MB TCOEFF EOB 2 bit Gambar 3. Lapisan header data video H.261 [1] 4. Model Penelitian Pengaruh noise pada pentransmisian deretan bit video dimodelkan sebagai berikut : Diasumsikan sinyal yang dikirimkan adalah sinyal biner NRZ polar dengan amplituda +V dan V dan lebar simbol = lebar bit = T b (sistem biner, satu simbol mewakili satu bit). Sinyal kemudian ditambahkan derau dengan distribusi Gaussian. MVD CBP EOB 29

s(t) n(t) + Integrator vo(t) Decision Circuit t=ktb Vth + - Gambar 4. Transmisi sinyal video Pada penerima, sinyal + derau dimasukan pada detektor yang terdiri atas rangkaian Integrator dan rangkaian Decision. Rangkaian Decision meliputi satu rangkaian sample and hold dan rangkaian Komparator. Integrator akan melakukan proses integrasi sinyal (+ noise) selama waktu integrasi selama T b. Tegangan yang dihasilkan pada keluaran integrator apabila masukannya berupa tegangan konstan +V adalah : t 1 v (t) = [ s(t) + n(t) ] dt o τ dimana, τ = konstanta waktu integrator. Pada akhir perioda T b, tegangan keluaran integrator diukur oleh rangkaian sample and hold, hasil pengukuran ini dipegang tetap (hold) sampai akhir perioda berikutnya. Rangkaian Komparator akan mengeluarkan tegangan +V apabila harga tegangan hasil pengukuran melebihi tegangan ambang (threshold). Jika sebaliknya dikeluarkan tegangan V. Ukuran distorsi dari frame rekonstruksi akibat noise dinyatakan dengan peak to peak signal to noise ratio (PSNR), yaitu : 2 255 PSNR = 1 log 1 1 2 MSE = ( Y i j Y prc i j ) N i j ref (, ) (, ) [ MSE( Y ) + MSE( U ) + MSE( V )] dimana : Y ref (i,j) = nilai-nilai pixel dari frame referensi Y prc (i,j) = nilai-nilai pixel dari frame yang diproses N = Jumlah total pixel dalam frame s'(t) PSNR (db) 35 25 2 15 1 5 Tanpa derau Perc 1 Perc 2 Perc 3 1 28 55 82 19 136 163 19 217 244 271 298 325 352 379 Frame Gambar 5 Pengaruh BER tetap pada kualitas deretan video (Foreman) Gambar 5 menunjukan pengaruh dari nilai BER yang sama ( 5,33 x 1-6 ) terhadap PSNR untuk 3 (tiga) kali percobaan. Pada percobaan pertama, PSNR rata-rata adalah 23,8 db, pada percobaan ke dua, PSNR rata-rata adalah 24,76 db dan pada percobaan ke tiga, PSNR rata-rata adalah 22,2 db. Hasil ini mengindikasikan bahwa pengaruh dari bit error yang terjadi pada posisi acak dalam deretan frame video terkode adalah sulit untuk diprediksi bergantung pada dimana dia terjadi dalam sebuah frame (pada blok data atau pada header). Bit error yang terjadi pada header MBA, menyebabkan penomeran dari MB dalam sebuah GOB menjadi tidak benar. Pada sebuah frame, Motion Vector Data (MVD) dari sebuah MB akan diperoleh dengan menjumlahkan motion vector dari MB tersebut dengan motion vector MB sebelumnya. Ini menyebabkan error akan berpropagasi secara spatial dalam sebuah frame. Jika frame ini merupakan frame referensi bagi frame berikutnya maka error akan berpropagasi secara temporal (error resilience) dalam sebuah deretan frame video. Analisa Hasil Simulasi Gambar 5 menunjukan PSNR dari masingmasing frame dalam deretan video Foreman yang didekodekan dari saluran tanpa derau dan BER 5,33 x 1-6. Gambar 6. Tampilan frame video Foreman dengan BER 5,33 x 1-6

Pojok kiri atas pada gambar 6 adalah tampilan frame video yang belum mendapat pengaruh error transmisi. Pengaruh error mulai ditunjukan pada gambar disebelahnya dan akan berpropagasi sampai dua gambar dibawahnya. PSNR (db) 35 25 2 15 1 5 Bit Error Rate Tanpa derau Bit error 2,27x1^-5 1,1x1^-5 5,33x1^-6 2,17x1^-6 1,18x1^-6 Gambar 7 PSNR relatif terhadap BER Gambar 7 menunjukan PSNR rata-rata dari deretan video Foreman yang telah didekodekan pada range nilai bit error rate. BER pada 1-5 umumnya dianggap cocok untuk transmisi data. Akan tetapi, nilai ini menunjukan bahwa level bit error masih memberikan kualitas video yang rendah. Seperti yang tampak dalam gambar 4.6, data video yang telah dikodekan sangat sensitif terhadap error transmisi dan membutuhkan probabilitas error yang lebih rendah agar kualitas video dapat diterima di penerima. [2] Rui Zhang, Shankar L Regunathan dan Kenneth Rose, Robust video coding for packet Networks with feedback, Deparment of electrical and computer engineering, University of California [3] Richardson, Ian Edward Garden, Video coding for realible communications, a thesis presented to Robert Gordon University, Oktober 1999. [4] Sheila S. Hemami, Digital Image Coding for Robust Multimedia Transmission, Symposium on multimedia communication and video coding, New York, 1995. [4] Salama, Paul., Shroff, Ness B. dan Delp, Edward J., Error concealment inencoded video streams, Video and image processing laboratory (VIPER), school of electrical and computer engineering, Purdue University. 6. Kesimpulan Derau menyebabkan distorsi dalam deretan frame yang didekodekan, tampak sebagai penurunan PSNR dibandingkan tanpa error. Pengaruh dari bit error yang terjadi pada posisi acak dalam deretan frame video terkode adalah sulit untuk diprediksi, selama propagasi spatial dan temporal dari error bergantung pada dimana dia terjadi dalam frame (pada blok data atau pada header). BER pada 1-5 umumnya dianggap cocok untuk transmisi data, pada aplikasi data video level bit error ini masih memberikan kualitas video yang rendah 7. Daftar Pustaka [1] ITU-T recommendation H.261, video codec for audiovisual service at P x 64 kbits, Maret 1993 31

32