MODEL STATISTIK FADING KARENA HUJAN DI SURABAYA

dokumen-dokumen yang mirip
Analisa Fade Redaman Hujan Pada Propagasi Gelombang Milimeter

Abstrak. Kata kunci : Redaman hujan, GSTAR, VARIMA.

Kinerja Sistem Komunikasi Satelit Ka-Band Menggunakan Site Diversity di Daerah Tropis

PERHITUNGAN REDAMAN HUJAN PADA KANAL GELOMBANG MILIMETER UNTUK DAERAH MEDAN

PEMODELAN ARIMA REDAMAN HUJAN DENGAN EFEK DETECTION OUTLIER DAN AKAIKE INFORMATION TEST

PEMODELAN ARIMA INTENSITAS HUJAN TROPIS DARI DATA PENGUKURAN RAINGAUGE DAN DISDROMETER

PEMODELAN REDAMAN HUJAN BERBASIS ARIMA PADA LINTASAN RADIO 28 GHz UTARA-SELATAN

PEMODELAN REDAMAN HUJAN MENGGUNAKAN STAR (SPACE-TIME AUTOREGRESSIVE) DI SURABAYA

ANALISIS POLA HUBUNGAN REDAMAN HUJAN RADIO 28 GHz DENGAN CURAH HUJAN PARSIVEL DISDROMETER SEBAGAI DATA PEMODELAN ARIMA

KINERJA ADAPTIVE CODED MODULATION PADA SISTEM OFDM MENGGUNAKAN HYBRID SELECTION/EQUAL GAIN COMBINING DIVERSITY DI BAWAH PENGARUH REDAMAN HUJAN TROPIS

PEMODELAN AUTOREGRESSIVE INTEGRATED MOVING AVERAGE PADA DATA REDAMAN HUJAN DI SURABAYA. Nur Hukim

Peningkatan Kinerja Sistem LMDS Menggunakan M-QAM Adaptif Dan Maximal Ratio Combining (MRC) Di Bawah Pengaruh Interferensi Dan Redaman Hujan

Analisa Sistem DVB-T2 di Lingkungan Hujan Tropis

Kinerja Sistem Komunikasi FSO (Free Space Optics) Menggunakan Cell-site Diversity di Daerah Tropis

Pemodelan Markov untuk kanal HF Availability pada Link Malang-Surabaya

HANIAH MAHMUDAH DAN ARI WIJAYANTI 98

PE I GKATA KI ERJA SISTEM LMDS ME GGU AKA M-QAM ADAPTIF DA SELECTIO COMBI I G DI BAWAH PE GARUH I TERFERE SI DA REDAMA HUJA

ANALISA FREKUENSI SCALING PADA REDAMAN HUJAN TERHADAP PROPAGASI GELOMBANG MILIMETER

IMPLEMENTASI LOGIKA FUZZY UNTUK MENGENDALIKAN PH DAN LEVEL AIR KOLAM RENANG

ANALISA INTERFERENSI CO-CHANNEL PADA SISTEM KOMUNIKASI LMDS

Pembangkitan Curah Hujan dengan model MA (Moving Average) dari Hasil Pengukuran di Surabaya

ANALISIS POLA HUBUNGAN PEMODELAN ARIMA CURAH HUJAN DENGAN CURAH HUJAN MAKSIMUM, LAMA WAKTU HUJAN, DAN CURAH HUJAN RATA-RATA

Analisis Komputasi Penyerapan Gelombang Elektromagnetik Oleh Titik Hujan Dengan Menggunakan Methods Of Moment

Bab 7. Penutup Kesimpulan

PEMODELAN NEURO-ARIMA UNTUK CURAH HUJAN DI KOTA SURABAYA

PEMBANGKITAN FADING CURAH HUJAN DENGAN MODEL DATA BERDISTRIBUSI LOGNORMAL UNTUK PENDISAINAN KOMUNIKASI LMDS

PERANCANGAN (lanjutan)

ANALISA FADING PADA LINK KOMUNIKASI MICROWAVE POINT TO POINT UNTUK PERENCANAAN JARINGAN INFRASTUKTUR KOMUNIKASI NIRKABEL

Syahfrizal Tahcfulloh

PERANCANGAN (lanjutan)

ANALISA TENTANG DISTRIBUSI DIAMETER TITIK HUJAN DAN PENGARUH REDAMAN HUJAN PADA GELOMBANG RADIO. Achmad Mauludiyanto

Estimasi Kanal Mobile-to-Mobile dengan Pendekatan Polinomial untuk Mitigasi ICI pada Sistem OFDM

PENJADWALAN PAKET MULTIMEDIA UNTUK JARINGAN OFDM UPLINK BERBASIS PENDEKATAN CROSS-LAYER DI BAWAH REDAMAN HUJAN

Pemodelan Vector AR Dengan Uji Kausalitas Terhadap Data Spasial Curah Hujan di Surabaya

Analisa Kointegrasi dan Kausalitas Pada Data Spasial Curah Hujan di Surabaya

Perencanaan Transmisi. Pengajar Muhammad Febrianto

Analisa karakteristik lingkungan propagasi pada daerah pepohonan di area PENS ITS

ANALISA PENGARUH REDAMAN HUJAN PADA INTERFERENSI CO-CHANNEL UNTUK ARSITEKTUR SELULER SISTEM KOMUNIKASI WIRELESS BROADBAND

VALIDASI MODEL REDAMAN HUJAN PADA DAERAH TROPIS DENGAN EFEK MULTIPLE SCATTERING MENGGUNAKAN UKURAN TITIK HUJAN BERDISTRIBUSI EKSPONENSIAL DAN WEIBULL

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 5. Hasil Perhitungan Link Budget

DIKA OKTAVIAN PRASETYA PEMBIMBING Eko Setijadi, ST. MT., Ph.D. Prof.Ir.Gamantyo Hendrantoro, M.Eng., Ph.D.

UNJUK KERJA ALGORITMA HARD HANDOFF TERHADAP VARIASI KECEPATAN MOBILE STATION

FADING REF : FREEMAN FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO 1

gelombang tersebut dari pemancar ke penerima yang berdampak pada penurunan kualitas sinyal dalam sistem telekomunikasi (Yeo dkk., 2001).

Daftar Pustaka. Box, G. E. P., Jenkins, G. M., dan Reinsel, G. C., (1994) Time Series Analysis Prenticehall.

KARAKTERISASI KANAL PROPAGASI VHF BERGERAK DI ATAS PERMUKAAN LAUT

BAB II LANDASAN TEORI

Perancangan MMSE Equalizer dengan Modulasi QAM Berbasis Perangkat Lunak

Dosen Pembimbing: Dr. Ir Achmad Affandi, DEA

Analisis Redaman Hujan pada Frekuensi C- Band dan Ku-band untuk Komunikasi VSAT- TV pada Daerah Tropis

VALIDASI MODEL REDAMAN HUJAN PADA DAERAH TROPIS DENGAN EFEK MULTIPLE SCATTERING MENGGUNAKAN UKURAN TITIK HUJAN BERDISTRIBUSI EKSPONENSIAL DAN WEIBULL

ATMOSPHERIC EFFECTS ON PROPAGATION

BAB III PERENCANAAN MINILINK ERICSSON

BAB II PROPAGASI SINYAL. kondisi dari komunikasi seluler yaitu path loss, shadowing dan multipath fading.

PEMODELAN ARIMA DAN DETEKSI OUTLIER DATA CURAH HUJAN SEBAGAI EVALUASI SISTEM RADIO GELOMBANG MILIMETER

PEMODELAN ARIMA DAN DETEKSI OUTLIER DATA CURAH HUJAN SEBAGAI EVALUASI SISTEM RADIO GELOMBANG MILIMETER

BAB II LANDASAN TEORI

EVALUASI KINERJA ALGORITMA PENJADWALAN LINTAS LAPISAN PADA JARINGAN CELULAR OFDM GELOMBANG MILIMETER DENGAN KANAL HUJAN

TEKNIK DIVERSITAS. Sistem Transmisi

IMPLEMENTASI AMBIENT ELECTROMAGNETIC HARVESTING PADA FREKUENSI TV BROADCASTING UNTUK MENGHASILKAN ENERGI LISTRIK MELALUI TRANSFER DAYA TANPA KABEL

BAB II TEORI DASAR. Propagasi gelombang adalah suatu proses perambatan gelombang. elektromagnetik dengan media ruang hampa. Antenna pemancar memang

OPTIMALISASI JARINGAN LMDS BERBASIS MULTI ANTENA DAN ADAPTIF MODULATION PADA KONDISI HUJAN DI DAERAH MATARAM MENGGUNAKAN METODE WATERFILLING

ANALISIS UNJUK KERJA EKUALIZER PADA SISTEM KOMUNIKASI DENGAN ALGORITMA GODARD

BIODATA ANGGOTA TIM PENELITI

LINK BUDGET. Ref : Freeman FAKULTAS TEKNIK ELEKTRO

Sistem Komunikasi Data Pada Pengukur Curah Hujan dan Kecepatan Angin Menggunakan Frekuensi Radio 2,4 GHz

BAB II PEMODELAN PROPAGASI. Kondisi komunikasi seluler sulit diprediksi, karena bergerak dari satu sel

BAB IV ANALISIS PERENCANAAN MINILINK ERICSSON

III. METODE PENELITIAN

Sistem Antar Muka Pada Pengukur Curah Hujan dan Kecepatan Angin Menggunakan Frekuensi Radio 2,4 GHz

PERENCANAAN AWAL JARINGAN MULTI PEMANCAR TV DIGITAL BERBASIS PENGUKURAN PROPAGASI RADIO DARI PEMANCAR TUNGGAL

Pengembangan Jaringan Akses Nirkabel Pita Lebar Berbasis WiFi Pada Backhaul WIPAS Untuk e-learning

Alternatif Perbaikan Perkuatan Lereng Longsor Jalan Lintas Sumatra Ruas Jalan Lahat - Tebing tinggi Km

ANALISIS COVERAGE AREA WIRELESS LOCAL AREA NETWORK (WLAN) b DENGAN MENGGUNAKAN SIMULATOR RADIO MOBILE

OPTIMASI PARAMETER PARAMETER LAPISAN FISIK UNTUK EFISIENSI ENERGI PADA JARINGAN SENSOR NIRKABEL

KOMPUTASI PENGHAMBURAN DAN PENYERAPAN GELOMBANG EM OLEH TITIK HUJAN DALAM BENTUK REALISTIK (PROLATE SPHEROID)

Desain Antena Array Mikrostrip Tapered Peripheral Slits Pada Frekuensi 2,4 Ghz Untuk Satelit Nano

ANALISA PROPAGASI GELOMBANG RADIO DALAM RUANG PADA KOMUNIKASI RADIO BERGERAK

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

Komputasi Penghamburan dan Penyerapan Gelombang Elektromagnetik karena Titik Hujan dengan Metode Analitis pada Frekuensi diatas 10 GHz

ANALISIS PENERAPAN MODEL PROPAGASI ECC 33 PADA JARINGAN MOBILE WORLDWIDE INTEROPERABILITY FOR MICROWAVE ACCESS (WIMAX)

BERITA NEGARA. No.1013, 2012 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA. Penggunaan Pita Frekuensi Radio 2.3GHz. Layanan Wireless Broadband. Prosedur.

IMPLEMENTASI CROSS LAYER ENCHENCHED PACKET SCHEDULING PAKET MULTIMEDIA UNTUK JARINGAN OFDM UPLINK DI BAWAH REDAMAN HUJAN

Transkripsi:

MODEL STATISTIK FADING KARENA HUJAN DI SURABAYA Febrin Aulia, Porman Hutajulu, Gamantyo Hendrantoro, Achmad Mauludiyanto Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111, INDONESIA e-mail : faulia@elect-eng.its.ac.id, pormanhtj@yahoo.co.id, gamantyo@ee.its.ac.id, maulud@ee.its.ac.id ABSTRAKSI Pada sistem komunikasi gelombang milimeter, peristiwa fading (pelemahan) sangat mempengaruhi penyampaian gelombang elektromagnetik karena dapat menyebabkan sinyal yang diterima terganggu. Untuk mengurangi pengaruh ini, maka diperlukan perancangan kontrol daya dari stasiun pemancar yang dapat mengikuti variasi fading selama peristiwa hujan untuk mengimbangi redaman hujan. Penelitian ini mencari model distribusi fade dynamics dari pengukuran parameter hujan di Surabaya yang terdiri dari fade slope dan fade duration. Model ini akan diterapkan untuk mengevaluasi Fade Mitigation Tehniques (FMT) yang sesuai untuk iklim di Indonesia, dengan melakukan pengukuran curah hujan di lingkungan kampus ITS. Sedangkan data kecepatan angin diperoleh dari Badan Meteorologi dan Geofisika Juanda Surabaya. Data curah hujan dan kecepatan angin tersebut digunakan untuk menghitung besarnya redaman hujan. Dari nilai redaman tersebut maka dapat dilakukan perhitungan untuk menentukan fade slope pada tiap even hujan dan fade duration dengan menentukan batas thresholdnya yaitu pada 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 db yang berorientasi pada dua arah link yaitu Barat-Timur dan Utara-Selatan. Selanjutnya dilakukan perhitungan statistik fade slope dan fade duration kondisional sehingga dapat diperoleh model statistik fading di Surabaya. Statistik fading sangat dipengaruhi oleh variasi wilayah, tahun, arah angin dan arah link komunikasi serta panjang link komunikasi. Sehingga dalam merancang sistem komunikasi harus memperhatikan hal-hal tersebut. Perancangan kontrol daya harus memperhitungkan arah dan kecepatan angin. Dalam perancangan kontrol daya jika panjang lintasan yang diinginkan semakin panjang, maka equalizer juga harus dirancang untuk bisa mengikuti variasi sinyal yang semakin cepat. Katakunci : Fading, fade slope, fade duration, fade mitigation techniques. 1. PENDAHULUAN Salah satu permasalahan propagasi pada sistem komunikasi millimeter adalah redaman. Di mana pada sistem komunikasi gelombang milimeter, redaman hujan memberikan pengaruh yang besar dan juga mengganggu keandalan sistem komunikasi [1]. Pada frekuensi di atas 10 GHz, redaman yang disebabkan oleh hujan menjadi cukup besar dan dapat mengurangi keandalan sistem. Tentunya pada sistem komunikasi milimeter di negara tropis seperti Indonesia, redaman hujan akan menjadi permasalahan yang penting mengingat daerah tropis mempunyai curah hujan tinggi dan efek redaman akan sangat terasa sekali. Mitigasi mengenai hal ini telah lama diteliti yaitu untuk menentukan kecepatan permintaan tracking dari Fade Mitigation Tehniques (FMT) pada saat terjadi fading. Peristiwa fading sangat mempengaruhi penyampaian gelombang elektromagnetik karena dapat menyebabkan sinyal yang diterima terganggu. Terjadinya fading umumnya disebabkan oleh redaman hujan [2], sehingga diperlukan suatu perhitungan secara statistik pada sistem ini. Untuk mengurangi pengaruh ini, maka bisa digunakan perancangan kontrol daya dari stasiun pemancar yang dapat mengikuti variasi fade (pelemahan) selama peristiwa hujan untuk mengimbangi redaman hujan [3]. Penelitian ini bertujuan mencari model distribusi fade dynamics dari pengukuran parameter hujan di Surabaya yang terdiri dari fade slope dan fade duration. Fade slope mengindikasikan perubahan kecepatan redaman hujan digunakan untuk perancangan kontrol daya yang mampu mengikuti variasi redaman dan fade duration. Fade duration mengindikasikan panjang waktu redaman yang melebihi nilai threshold tertentu digunakan untuk merancang interleaver pada kanal coding. Parameter ini penting pada sistem komunikasi dimana panjang dari waktu outage adalah parameter kritis tetapi juga untuk mendesain fade mitigation tehniques digunakan sebagai sumber sistem. Model ini akan diterapkan untuk mengevaluasi fade mitigation tehniques (FMT) yang sesuai untuk iklim di Indonesia. 2. METODE PENELITIAN 2.1 Pengukuran Curah Hujan Pengukuran curah hujan dilakukan di dalam lingkungan kampus ITS yang diletakkan di Teknik G-15

Elektro menggunakan alat ukur disdrometer optik seperti tampak pada gambar 1. Disdrometer optik bekerja berdasarkan sistem laser optik tampak seperti tampak pada gambar 2, dengan luas sensor 180 mm x 30 mm. Pengukuran dapat dilakukan secara real time, jika ada partikel-partikel hujan yang melewati sensor laser maka disdrometer dapat mendeteksi curah hujan (mm/h) dan distribusi titik hujan. Kemudian hasilnya disimpan dalam software ASDO yang disebut data parsivel dan data curah hujannya berbentuk file txt. Gambar 1. Alat ukur Disdrometer Optik Gambar 2. Sistem laser disdrometer optik Dari pengukuran ini diperoleh data hujan dalam software ASDO sejak tanggal 22 Januari 2007 sampai 30 Maret 2007 2.2 Perhitungan Redaman Hujan dengan Metode Synthetic Storm Metode synthetic storm mendeskripsikan suatu intensitas curah hujan sebagai fungsi dari panjang suatu lintasan (km) dimana hujan tersebut bergerak sepanjang lintasan karena adanya pergerakan dari angin dengan kecepatan tertentu [4]. Dari besarnya kecepatan angin dengan arah tertentu maka dapat ditentukan kecepatan angin dalam lintasan (v r ) pada link dan time sampling intensitas curah hujan sehingga dapat dilakukan suatu perhitungan untuk mendapatkan pembagi panjang lintasan (ΔL) dari panjang lintasan efektif (L). Dapat dirumuskan: Δ L = vr T(Km) Data kecepatan angin dan juga arahnya diperoleh dari data Badan Meteorologi dan Geofisika Juanda Surabaya. Total redaman hujan dalam satu event dapat dihitung dengan rumus: A = n 1 m j= 0 αr b m j xδl (db) dengan, R adalah curah hujan, k dan α coefisien yang bergantung pada frekuensi gelombang radio, polarisasi gelombang radio, dan canting angle (sudut jatuh) dari hujan. Koefisien tersebut berdasarkan pada rekomendasi ITU-R P.838 yang ditunjukkan oleh tabel 1. Dalam penelitian ini digunakan frekuensi sebesar 30 GHz dengan polarisasi horizontal sehingga dari tabel 1, koefisien yang digunakan yaitu k = 0.187 dan α = 1.021. Pengukuran redaman dengan metode SST ini dilakukan dengan menganggap link pada dua orientasi arah yaitu Barat-Timur (E-W) dan Utara- Selatan (S-N), sehingga dapat diperhatikan pengaruh angin angin terhadap link. Tabel 1. Regresi estimasi dari redaman spesifik f (GHz) a h a v b h b v 1 0.0000387 0.0000352 0.912 0.880 2 0.000154 0.000138 0.963 0.923 4 0.000650 0.000591 1.121 1.075 6 0.00175 0.00155 1.308 1.265 7 0.00301 0.00265 1.332 1.312 8 0.00454 0.00395 1.327 1.310.0101 0.00887 1.276 1.264 12 0.0188 0.0168 1.217 1.200 15 0.0367 0.0355 1.154 1.128 20 0.0751 0.0691 1.099 1.065 30 0.187 0.167 1.021 1.00 35 0.263 0.233 0.979 0.963 40 0.350 0.3.939 0.929 2.3 Perhitungan Fade Slope dan Fade Duration Fade slope didefenisikan sebagai perubahan kecepatan redaman hujan terhadap waktu db/s [5]. Fade slope diperoleh akibat redaman hujan atau kejadian cuaca lain yang mengakibatkan perubahan mitigasi teknis. Gambar 3 menunjukkan fade slope pada redaman hujan. Mengikuti model van de Kamp [6], fade slope (ς) dapat ditulis dengan persamaan: ς () i A i = ( ) A( i 1) ( db / s) Δt dengan A(i) adalah redaman (db), Δt adalah interval waktu (s) dan i adalah indeks sampel. Setelah menghitung fade slope tiap even hujan, maka dapat ditentukan CCDF fade slope kondisional. Fade duration didefenisikan sebagai suatu periode waktu antara dua perpotongan dari sinyal di penerima pada redaman threshold yang sama yaitu ketika sinyal berada di atas nilai threshold [7]. Untuk dapat menentukan statistik fade duration terlebih dahulu ditentukan nilai thresholdnya. Dalam hal ini ditentukan nilai j G-16

thresholdnya mulai dari 5 db, 10 db, 15 db, 20 db, 25 db dan 30 db. Untuk tiap nilai threshold ini akan dihitung durasi fade untuk tiap even hujan. Dari gambar 4 dapat diperoleh fade duration yaitu i 2 i 1 dan i 4 -i 3. Berarti dari gambar 4 tersebut terdapat dua jumlah fade pada redaman A. db Fade Slope Redaman Hujan (db) 12 10 8 6 4 2 Kurva Redaman Hujan, 22 Jan 07 1, 1 Km, Link N - S A 3 A 2 A 1 Gambar 6. 0 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 Indeks Sampel Kurva redaman hujan SST pada tanggal 22 Januari 2007 untuk link berorientasi Utara-Selatan i 1 i 2 i s 3 Gambar 3. Parameter fade slope i 1 i 2 i 3 i 4 s Gambar 4. Parameter fade duration 3. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini pertama sekali dilakukan pengukuran intensitas hujan dan selanjutnya dapat dihitung redaman hujan dengan metode synthetic storm. Pengukuran redaman hujan dilakukan untuk panjang link 1, 2, 3, dan 4 Km. 6 A db Fade Duration threshold Kurva Redaman Hujan, 22 Jan 07 1, 1 Km, E-W Gambar 5 dan 6 adalah kurva redaman hujan dengan orientasi Barat-Timur dan Utara-Selatan, hasil perhitungan dari intensitas hujan pada tanggal 22 Januari 2007 even pertama. Dari kedua gambar tersebut dapat dianalisis redaman hujan pada link berorientasi Utara-Selatan lebih besar daripada link berorientasi Barat-Timur. Dari tiap redaman hujan, maka dapat dilakukan perhitungan fade slope dan fade duration tiap evennya. Selanjutnya dapat ditentukan CCDF fade slope dan kurva CCDF fade slope untuk probabilitas ( ς > 0 ) untuk semua ς. Prob.[fade slope > absis] CCDF Fade Slope; Mag.Fs > 0 untuk semua Fs; Link Berorientasi Barat-Timur 10-4 1Km 2Km 3Km 4Km 10-5 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 Fade Slope (db/s) Gambar 7. Probabilitas ( ς > 0) untuk semua ς pada link berorientasi Barat-Timur Redaman Hujan (db) 5 4 3 2 1 Prob.[fade slope > absis] CCDF Fade Slope; Mag.Fs > 0 untuk semua Fs;, Link Berorientasi Utara-Selatan 1Km 2Km 3Km 4Km 10-4 0 0 50 100 150 200 250 Indeks Sampel Gambar 5. Kurva redaman hujan SST pada tanggal 22 Januari 2007 untuk link berorientasi Barat Timur Gambar 8. 10-5 0 2 4 6 8 10 12 14 Fade Slope (db/s) Probabilitas ( ς > 0) untuk semua ς pada link berorientasi Utara-Selatan G-17

Pada gambar 7 merupakan statistik fade slope dengan link berorientasi Barat-Timur, dapat diperhatikan bahwa untuk merancang suatu kontrol daya agar sistem yang didesain mengalami outage dengan probabilitas 0.0001, maka fade slope dibuat berturut-turut untuk 1 Km = 0.3756 db/s, 2 Km = 0.5476 db/s, 3 Km = 0.8215 db/s dan untuk 4 Km = 1.0953 db/s. Hal yang sama untuk link berorientasi Utara-Selatan, dimana untuk merancang suatu kontrol daya agar mengalami outage pada probabilitas 0.0001 tampak pada gambar 8 maka fade slope dibuat berturut-turut untuk 1 Km = 3.1279 db/s, 2 Km = 6.2558 db/s, 3 Km = 9.3837dB/s dan untuk 4 Km = 12.5116dB/s. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa ketika panjang link yang dirancang semakin jauh maka transmitter harus dirancang untuk mampu mengikuti perubahan sinyal yang semakin besar tiap detiknya. Kurva CCDF Fade Duration (1Km); Link Berorientasi Barat - Timur 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600 (a) 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 Kurva CCDF Fade Duration (3Km); Link Berorientasi Barat - Timur (c) 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 4500 Gambar 9. Kurva CCDF Fade Duration (4Km); Link Berorientasi Barat - Timur (d) CCDF fade duration pada link (a) 1 Km, (b) 2 Km, (c) 3 Km, (d) 4 Km, orientasi Barat-Timur Kurva CCDF Fade Duration (2Km); Link Berorientasi Barat - Timur 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 (b) Kurva CCDF Fade Duration (1Km), Link Berorientasi Utara - Selatan 0 200 400 600 800 1000 1200 1400 (a) G-18

Kurva CCDF Fade Duration (2Km), Link Berorientasi Utara - Selatan 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 (b) Kurva CCDF Fade Duration (3Km), Link Berorientasi Utara - Selatan 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 (c) Kurva CCDF Fade Duration (4Km), Link Berorientasi Utara - Selatan 0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000 (d) Gambar 10. CCDF fade duration pada link (a) 1 Km, (b) 2 Km, (c) 3 Km, (d) 4 Km, orientasi Utara-Selatan Pengaruh panjang link ini juga dapat diperhatikan pada statistik fade duration yang ditunjukkan pada gambar 9 dan gambar 10. Ketika link semakin panjang maka durasi waktunya semakin besar pada nilai threshold yang sudah ditentukan. 4. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, diperoleh kesimpulan bahwa arah angin berpengaruh terhadap redaman hujan pada Metode Synthetic Storm. Dengan demikian untuk menerapkan Metode Synthetic Strom selain kecepatan angin juga diperlukan data arah angin. Metode Synthetic Storm dapat diaplikasikan untuk mendapatkan distribusi redaman hujan di Indonesia yaitu kota-kota lain selain Surabaya, dengan mengetahui data curah hujan dan kecepatan angin serta arah angin. Statistik fading sangat dipengaruhi oleh variasi wilayah, tahun, arah angin dan arah link komunikasi serta panjang link komunikasi. Sehingga dalam merancang sistem komunikasi harus memperhatikan hal-hal tersebut. Perancangan kontrol daya FMT harus memperhitungkan arah dan kecepatan angin. Dalam perancangan kontrol daya jika panjang lintasan yang diinginkan semakin panjang, maka equalizer juga harus dirancang untuk bisa mengikuti variasi sinyal yang semakin cepat. Pada Link berorientasi Barat-Timur, interleaver hanya mampu mengkompensasi durasi fade hanya sampai 1 Km dengan threshold 25 dan 30 db pada probabilitas 0.1 dan untuk link orientasi Utara-Selatan, interleaver mampu mengkompensasi durasi fade sampai 4 Km pada threshold 5, 10, 15, 20, 25, 30 db pada probabilitas 0.1 dan untuk probabilitas 0.2 hanya mampu mengkompensasi durasi fade sampai 1 Km dengan threshold 20, 25, 30 db. DAFTAR PUSTAKA [1]. Indrabayu, Evaluasi Penggunaan Diversitas Makro dan Modulasi Adaptif pada Sistem Komunikasi Nirkabel Tetap dengan Gelombang Milimeter di Bawah Pengaruh Redaman Hujan, Master s Thesis, ITS 2005. [2]. R. Singliar, J.. Din, L.Csurgai, A.R. Tharek, P. Horvath dan J. Biot, Comparison of 38 GHz Rain Fade Dynamics between Malaysia and Hungary, Broadwan Workshop, Cluj-Napoca, Romania, 23 May 2006, hal 1-5 [3]. D.G.Sweeney and C.W. Bostian, The Dynamics of Rain Induced Fades, IEEE transactions on Antennas and Propagation, March 1992, hal: 275-278. [4]. S.A.Kanellopoulos, J. D. Kanellopoulos and P. Kafetzis, Comparison of the Synthetic Storm Technique with a Conventional Rain Attenuation Prediction Model, IEEE transactions on Antennas and Propagation, May 1986, hal: 714-715. G-19

[5]. M.M.J.L.van de Kamp, dan L.Castanet., Fade Dynamics Review, Cost action 280, International workshop July 2002, hal 1-20. [6]. L. Castanet dan Max van de Kamp, Modeling The Dynamic Properties of the Propagation Channel, Coperation europenne dans le domaine de la recherche Scientifique et Technique (COST 280), France, 2001-2005 [7]. S. Robert, B. Heder dan J. Bito, Rain Fade Slope Analysis, BroadBand Europe, Bordeaux, France, 12 14 Desember 2005, hal 1-5. [8]. C.J. Gibbins and K.S. Paulson, Durations of Rain Events and Rain Attenuations at Millimetric Wavelengths, AP 2000, Davos, Switzerland, 9-14 April 2000 hal 1-4. [9]. P.J.I de Maagt, S.I.E. Touw, J.Dijk, G. Brussaard dan J.E. Allnutt, Result of 11.2 GHz Propagation Experiments in Indonesia, Elektronics Letters, 28th October 1993, hal 1-2. G-20