BAB II TINJAUAN TEORI

dokumen-dokumen yang mirip
ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID

LAPORAN KASUS / RESUME DIARE

BAB I KONSEP DASAR A.

A. lisa Data B. Analisa Data. Analisa data yang dilakukan pada tanggal 18 April 2011 adalah sebagai. berikut:

BAB I KONSEP DASAR. saluran usus (Price, 1997 : 502). Obserfasi usus aiau illeus adalah obstruksi

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

BAB III TINJAUAN KASUS. Pengkajian dilakukan pada tanggal 8 Mei 2007 jam : Jl. Menoreh I Sampangan Semarang

BAB I KONSEP DASAR. sepanjang saluran usus (Price, 1997 : 502). Obstruksi usus atau illeus adalah obstruksi saluran cerna tinggi artinya

KARYA TULIS ILMIAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN A DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN: DIARE DI RUANG MINA RS PKU HUHAMMADIYAH SURAKARTA

BAB III ANALISA KASUS

BAB III TINJAUAN KASUS

DIARE AKUT. Berdasarkan Riskesdas 2007 : diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25,2% pada anak usia 1-4 tahun.

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

BAB I KONSEP DASAR. Berdarah Dengue (DBD). (Aziz Alimul, 2006: 123). oleh nyamuk spesies Aedes (IKA- FKUI, 2005: 607 )

LAPORAN PENDAHULUAN HEPATOMEGALI

BAB I KONSEP DASAR. Selulitis adalah infeksi streptokokus, stapilokokus akut dari kulit dan

5. Pengkajian. a. Riwayat Kesehatan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I KONSEP DASAR. Gastroenteritis adalah peradangan dari lambung dan usus yang

BAB III TINJAUAN KASUS. Jenis kelamin : Laki-laki Suku bangsa : Jawa, Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. penyebab mikrobiologi (Cristin Hancock, 2003). Gastroentritis adalah

Implementasi dan Evaluasi Keperawatan No. Dx. Tindakan dan Evaluasi

BAB II KONSEP DASAR. normal sebagai akibat dari perubahan pada pusat termoregulasi yang terletak dalam

Kekurangan volume cairan b.d kehilangan gaster berlebihan, diare dan penurunan masukan

BAB III TINJAUAN KASUS

BAB III TINJAUAN KASUS. Pengkajian dilakukan tanggal 5 7 Juni 2007 pukul WIB.

LAPORAN PENDAHULUAN. memperlihatkan iregularitas mukosa. gastritis dibagi menjadi 2 macam : Penyebab terjadinya Gastritis tergantung dari typenya :

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

aureus, Stertococcus viridiansatau pneumococcus

cairan berlebih (Doenges, 2001). Tujuan: kekurangan volume cairan tidak terjadi.

PENGKAJIAN PNC. kelami

Farmakoterapi I Diar dan konstipasi. Ebta Narasukma A, M.Sc., Apt

Pelayanan Kesehatan bagi Anak. Bab 7 Gizi Buruk

BAB III LAPORAN KASUS

BAB I PENDAHULUAN. yang terjadi pada usus kecil yang disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi.

Pokok Bahasan: GASTROENTEROLOGI dan HEPATOLOGI Sakit perut berulang M. Juffrie

KONSEP TEORI. 1. Pengertian

haluaran urin, diet berlebih haluaran urin, diet berlebih dan retensi cairan beserta natrium ditandai dengan - Pemeriksaan lab :

HIPONATREMIA. Banyak kemungkinan kondisi dan faktor gaya hidup dapat menyebabkan hiponatremia, termasuk:

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN POST PARTUM RETENSIO PLACENTA

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja yang cair dengan frekuensi

Generated by Foxit PDF Creator Foxit Software For evaluation only. MORBILI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DEMAM CHIKUNGUNYA Oleh DEDEH SUHARTINI


BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Konstipasi adalah kelainan pada sistem pencernaan yang ditandai dengan

BAB III TINJAUAN KASUS. Lukman RS Roemani Semarang, data diperoleh dari hasil wawancara dengan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. PENGUMPULAN/PENYAJIAN DATA DASAR SECARA LENGKAP

BAB III RESUME ASUHAN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. A DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN: GASTROENTERITIS AKUT DI RUANG ANGGREK BOUGENVIL RSUD PANDAN ARANG NASKAH PUBLIKASI

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut

BAB III TIJAUAN KASUS. Pada bab ini penulis akan membicarakan tentang tinjauan kasus dari pelaksanaan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I KONSEP DASAR. dalam kavum Pleura (Arif Mansjoer, 1999 : 484). Efusi Pleura adalah

BAB II. Mega kolon adalah dilatasi dan atonikolon yang disebabkan olah. Mega kolon suatu osbtruksi kolon yang disebabkan tidak adanya

BAB IV PEMBAHASAN. memberikan asuhan keperawatan terhadap Ny. A post operasi sectio caesarea

BAB III TINJAUAN KASUS

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN CA OVARIUM DI RUANG B3 GYNEKOLOGI RS Dr. KARIADI SEMARANG

Pola buang air besar pada anak

BAB III TINJAUAN KASUS. ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. A DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN GASTROENTERITIS

CATATAN PERKEMBANGAN. vital. posisi semi fowler. tenang.

BAB V HASIL PENELITIAN

MACAM-MACAM PENYAKIT. Nama : Ardian Nugraheni ( C) Nifariani ( C)

PMR WIRA UNIT SMA NEGERI 1 BONDOWOSO Materi 3 Penilaian Penderita

BAB I KONSEP DASAR DIARE. dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya (Hasan, 2005 : 283).

Tips Mengatasi Susah Buang Air Besar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi

BAB I PENDAHULUAN. masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun),

ETIOLOGI : 1. Ada 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab: Virus Hepatitis A (HAV) Virus Hepatitis B (VHB) Virus Hepatitis C (CV) / Non A Non B

ASUHAN KEPERAWATAN CA.LAMBUNG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

III. RIWAYAT KESEHATANSEKARANG A.

BAB III TINJAUAN KASUS. Pada bab ini akan penulis paparkan hasil pengelolaan asuhan keperawatan pada klien

BAB 1 PENDAHULUAN. Diare adalah buang air besar (defekasi) yang berbentuk tinja cair atau

DEFINISI Kanker kolon adalah polip jinak tetapi dapat menjadi ganas dan menyusup serta merusak jaringan normal dan meluas ke dalam struktur sekitar.

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN GASTRITIS PADA LANSIA

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT DIARE (GASTROENTRITIS) DENGAN MENGGUNAKAN FORWARD CHAINING

memfasilitasi sampel dari bagian tengah telinga, sebuah otoscope, jarum tulang belakang, dan jarum suntik yang sama-sama membantu. 4.

FORMAT PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA AKADEMI KEPERAWATAN PANTI WALUYA MALANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Fungsi Makanan Dalam Perawatan Orang Sakit

2. Pengkajian Kesehatan. a. Aktivitas. Kelemahan. Kelelahan. Malaise. b. Sirkulasi. Bradikardi (hiperbilirubin berat)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I KONSEP DASAR. bayi dan lebih dari 3 kali pada anak-anak, konsistensi tinja sncer dapat

BAB III TINJAUAN KASUS. Berikut ini adalah laporan asuhan keperawatan pada penderita Gastroenteritis

BAB III. ASUHAN KEPERAWATAN An. H DENGAN GASTROENTERITIS DI RUANG LUKMAN RUMAH SAKIT MUHAMMADYAH SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB III TINJAUAN KASUS

CATATANPERKEMBANGAN. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan. Pukul Tindakan Keperawatan Evaluasi (SOAP) WIB (skala nyeri : 8)

Pelayanan Kesehatan bagi Anak. Bab 5 Diare. Catatan untuk instruktur

Keluhan dan Gejala. Bagaimana Solusinya?

BAB III PEMBAHASAN. Pada bab ini penulis akan membahas tentang permasalahan yang

BAB VI PEMBAHASAN. subyek penelitian di atas 1 tahun dilakukan berdasarkan rekomendasi untuk. pemberian madu sampai usia 12 bulan.

BAB I KONSEP DASAR. dapat dilewati (Sabiston, 1997: 228). Sedangkan pengertian hernia

LAPORAN PENDAHULUAN Konsep kebutuhan mempertahankan suhu tubuh normal I.1 Definisi kebutuhan termoregulasi

- Nyeri dapat menyebabkan shock. (nyeri) berhubungan. - Kaji keadaan nyeri yang meliputi : - Untuk mengistirahatkan sendi yang fragmen tulang

APPENDISITIS. Appendisitis tersumbat atau terlipat oleh: a. Fekalis/ massa keras dari feses b. Tumor, hiperplasia folikel limfoid c.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Diare. 1. Definisi diare. Diare merupakan suatu penyakit yang di tandai dengan perubahan bentuk

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN TEORI A. PENGERTIAN Gastroenteritis adalah buang air besar dengan frekuensi yang tidak normal (meningkat) dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair (Suharyono: 2008). Gastroenteritis adalah buang air besar dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair dengan kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam (Simadibrata: 2006). Gastroenteritis adalah buang air besar dengan fases berbentuk cair atau setengah cair, dengan demikian kandunngan air pada feses lebih banyak dari biasanya (Priyanta: 2009). Gastroenteritis didefinisikan sebagai peningkatan frekuensi, volume, dan kandungan fluida dari tinja. Propulsi yang cepat dari isi usus melalui hasil usus kecil diare dan dapat menyebabkan defisit volume cairan serius. Penyebab umum adalah infeksi, sindrom malabsorpsi, obat, alergi, dan penyakit sistemik. (Black Joyce, Hawks Jane, 2010) Jadi dapat disimpulkan gastroenteritis adalah buang air besar dengan frekuensi tidak normal dan konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair, dengan kandungan air pada feses lebih banyak dari biasanya yaitu lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam. 6

B. Etiologi Menurut Simadibrata (2006) diare dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Infeksi yang disebabkan oleh bakteri: shigella sp, E.coli pathogen, salmonella sp, vibrio cholera, yersinia entero colytika, campylobacter jejuni, v.parahaemolitikus, staphylococcus aureus, klebsiella, pseudomonas, aeromonas, dll. Virus: rotavirus,adenovirus, Norwalk virus, Norwalk like virus, cytomegalovirus, echovirus. Makanan beracun atau mengandung logam, makanan basi, makan makanan yang tidak biasa misalnya makanan siap saji, makanan mentah, makanan laut. Obat-obatan tertentu (penggantian hormone tiroid, pelunak feses dan laksatif, antibiotik, kemoterapi, dan antasida). C. Manifestasi Klinis Ditandai dengan meningkatnya kandungan cairan dalam feses, pasien terlihat sangat lemas, kesadaran menurun, kram perut, demam, muntah, gemuruh usus (borborigimus), anoreksia, dan haus. Kontraksi spasmodik yang nyeri dan peregangan yang tidak efektif pada anus, dapat terjadi setiap defekasi. Perubahan tanda-tanda vital seperti nadi dan respirasi cepat, tekanan darah turun, serta denyut jantung cepat. Pada kondisi lanjut akan didapatkan tanda dan gejala dehidrasi, meliputi: Turgor kulit menurun <3 detik, pada anak-anak ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan di sertai penurunan berat badan akut, keluar keringat dingin.(muttaqin: 2011)

D. Pathofisiologi Proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan faktor di antaranya faktor infeksi, proses ini dapat diawali adanya mikroorganisme (kuman) yang masuk ke dalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan usus. Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus menyebabkan sistem transpor aktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit akan meningkat kemudian menyebabkan diare. Iritasi mukosa usus dapat menyebabkan peristaltik usus meningkat. Kerusakan pada mukosa usus juga dapat menyebabkan malabsorbsi merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadilah diare. (Simadibrata: 2006)

E. Pathway Masukan makanan yang terkontaminasi. Infeksi pada mukosa usus Makanan/zat tidak dapat diserap. Iritasi pada mukosa usus Tekanan osmotik dalam Peristaltik usus meningkat Peningkatan sekresi rongga usus meningkat air dan elektrolit ke dalam Terjadi pergeseran air Ketidaknyamanan, /nyeri abdomen. ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akanmerangsang usus untuk mengeluarkannya. Diare. Banyak kehilangan elektrolit dan cairan. Feses mengandung asam laktat Kemerahan disekitar anus Kekurangan volume cairan dan elektrolit. Intake berkurang, output berlebih. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Kurang informasi tentang penyakit. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan. Timbulnya perlukaan kulit Resiko kerusakan integritas kulit. Sumber: Carpenito (2009) Simadibrata (2006)

F. Pemeriksaan Penunjang Menurut Davey (2005) pemeriksaan gastroenterititis yang dapat dilakukan yaitu: 1. Tes darah lengkap, anemia atau trombositosis mengarahkan dugaan adanya penyakit kronis. Albumim yang rendah bisa menjadi patokan untuk tingkat keparahan penyakit namun tidak spesifik. 2. Kultur tinja bisa mengidentifikasi organisme penyebab. Bakteri C.difficile ditemukan pada 5% orang sehat. Oleh karenanya diagnosis di tegakan berdasarkan adanya gejala disertai ditemukanya toksin, bukan berdasar ditemukanya organisme saja. 3. Foto polos abdomen, pada foto polos abdomen bisa terlhat kalsifikasi pankreas, walaupun diduga terjadi insufiensi pankreas, sebaiknya diperiksa dengan endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP) atau CT pancreas. G. Penatalaksanaan Medis Menurut Davey (2005) langkah penatalaksanaan rehidrasi adalah mengistirahatkan usus dan memberi rehidrasi secara parenteral. Kemudian mengobati penyakit yang mendasari: pemberian antibiotik atau steroid bisa diberikan jika pada pemeriksaan penunjang ditemukan patogen spesifik atau bukti adanya penyakit inflamasi usus. Metronidazol atau vankomisin dipakai pada kolitis pseudomembranosa.

H. Pengkajian Data Dasar Pengkajian menurut Carpenito (2009), yaitu, tahap pertama proses keperawatan yang meliputi pengumpulan data secara sistematis dan cermat untuk menentukan status kesehatan klien saat ini dan riwayat kesehatan masa lalu, serta menentukan status fungsional serta mengevaluasi pola koping klien saat ini dan masa lalu. Pengumpulan data diperoleh dengan cara wawancara, pemeriksaan fisik, observasi, peninjauan catatan dan laporan diagnostik, kolaborasi dengan rekan sejawat. 1. Awalan Serangan Cemas, gelisah, suhu tubuh meningkat, anoreksia kemudian timbul diare. 2. Keluhan Utama Tinja semakin cair, muntah, bila kehilangan banyak cairan dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi, berat badan menurun. 3. Riwayat Kesehatan Lalu Riwayat penyakit yang diderita. 4. Pola Fungsional menurut Gordon : a. Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan. Kebersihan lingkungan dan makanan yang kurang terjaga. b. Pola Nutrisi Diawali dengan mual, muntah, anoreksia, menyebabkan penurunan berat badan pasien.

c. Pola Eliminasi. Pola eliminasi akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 x sehari, BAK sedikit atau jarang. d. Pola Istirahat Tidur Akan terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman. e. Pola Aktivitas. Akan terganggu kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat disentri abdomen. f. Pola Nilai dan Kepercayaan. Kegiatan ibadah terganggu karena adanya distensi abdomen yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman. g. Pola Hubungan dan Peran Pasien. Hubungan terganggu jika pasien sering BAB. h. Pola Konsep Diri. Merupakan gambaran, peran, identitias, harga, ideal diri pasien selama sakit. i. Pola Seksual dan Reproduksi. Menunjukkan status dan pola reproduksi pasien. j. Pola Koping dan Toleransi Stress Adalah cara individu dalam menghadapi suatu masalah. k. Pola Kognitif Menunjukkan tingkat pengetahuan klien tentang penyakit. 5. Pengkajian fisik menurut Doenges (2008), meliputi: Pengkajian dasar diantaranya adalah: Identitas klien. Riwayat kesehatan meliputi kesehatan saat ini. Riwayat kesehatan keluarga. Pola Nutrisi meliputi frekuensi dan

nafsu makan. Pola eliminasi. Pola aktivitas dan latihan meliputi jenis aktivitas dan tempat bermain. Pola tidur dan istirahat. Pemeriksaan fisik terdiri dari tingkat kesadaran, vital sign, keadaan kulit meliputi muka, kepala, mata, telinga, hidung, mulut, leher, alat kelamin, anggota gerak. Sirkulasi meliputi turgor kulit elastis atau tidak, dehidrasi. Keadaan thorax meliputi jantung dan dada serta keadaan abdomen Pemeriksaan penunjang terdiri dari : pemeriksaan tinja, makroskopis dan mikroskopis, PH dan kadar gula dalam tinja, bila perlu diadakan uji bakteri, pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah, pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal, pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat. I. Diagnosa Keperawatan dan Rencana Keperawatan Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien gatroenteritis menurut Carpenito (2009), antara lain: 1. Kekurangan volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan output cairan yang berlebihan. Menurut Carpenito (2009), memiliki tujuan dan kriteria hasil sebagai berikut : Tujuan : Kebutuhan volume cairan terpenuhi. Kriteria hasil : Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, mukosa mulut dan bibir lembab, balance cairan seimbang, turgor kulit elastis.

Intervensi dan rasional : a. Oberservasi tanda vital Rasional : Vital sign dapat dipengaruhi cairan. b. Observasi tanda-tanda dehidrasi. Rasional : Untuk mengetahui tingkat dehidrasi. c. Ukur balance cairan Rasional : Balance cairan seimbang, dehidrasi teratasi. d. Berikan dan anjurkan keluarga untuk memberikan banyak minum air putih (2.000 2.500 cc/hari). Rasional : Minum banyak dapat mengurangi dehidrasi. e. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi cairan, pemeriksaan Lab. Elektrolit. Rasional: Terapi cairan disesuaikan dengan dehidrasi. 2. Penurunan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual dan muntah. Menurut Carpenito (2009), dengan tujuan dan kriteria hasil sebagai berikut: Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi. Kriteria hasil : a. Intake nutrisi meningkat. b. Diet habis 1 porsi yang disediakan.. c. Mual muntah tidak ada. d. Berat badan naik. Intervensi dan rasional : a. Kaji pola nutrisi dan perubahan yang terjadi. Rasional : Untuk mengetahui perkembangan status nutrisi klien. b. Timbang BB klien. Rasional : Untuk mengetahui kebutuhan nutrisi pasien.

c. Kaji faktor penyebab gangguan pemenuhan nutrisi. Rasional : Bila penyebab diketahui, maka solusi untuk pemenuhan nutrisi dapat segera teratasi. d. Beri diet dalam kondisi hangat, porsi kecil tapi sering. Rasional : Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. e. Kolaborasi dengan tim gizi. Rasional : Untuk memenuhi nutrisi sesuai dengan diit. 3. Ketidaknyamanan berhubungan dengan kram/nyeri abdomen. Menurut Carpenito (2009), yaitu: ketidaknyamanan berhubungan dengan kram/nyeri abdomen. Tujuan : Nyeri dapat teratasi. Kriteria hasil : Nyeri berkurang, ekspresi wajah tenang, TTV normal. Intervensi dan rasional menurut Doenges (2005): a. Observasi tanda-tanda vital. Rasional : TTV normal, nyeri berkurang. b. Kaji tingkat rasa nyeri. Rasional : Mengetahui tingkat nyeri. c. Atur posisi nyaman. Rasional : Memberikan kenyamanan bagi klien. d. Beri kompres hangat pada abdomen. Rasional : Mengurangi nyeri. e. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik. Rasional : Mengurangi nyeri.

4. Kurang pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi. Menurut Carpenito (2009), memiliki tujuan dan kriteria hasil sebagai berikut : Tujuan : Pengetahuan klien dan keluarga meningkat. Kriteria hasil : Keluarga dan klien mengerti tentang proses penyakit dan penatalaksanaannya. Intervensi dan Rasional : a. Kaji tingkat pengetahuan keluarga dan klien. Rasional : Mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga tentang penyakit. b. Beri pengetahuan tentang penyakit. Rasional : Memberikan pemahaman tentang penyakit lebih detil. c. Libatkan keluarga dalam melakukan tindakan pada klien. Raional : Membantu klien dalam kesembuhan. 5. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan seringnya BAB memiliki tujuan dan kriteria hasil sebagai berikut: Tujuan Kriteria hasi : Kerusakan integritas kulit teratasi. : Kulit utuh dan tidak ada lecet pada area anus. Intervensi dan rasional: a. Kaji kerusakan kulit atau iritasi setiap BAB. Rasional : Untuk mengetahui tanda-tanda iritasi pada kulit misal : kemerahan pada luka.

b. Ajarkan selalu cuci tangan sebelum dan sesudah mengganti pakaian Rasional : Untuk mempertahankan teknik aseptic atau antiseptik. c. Hindari pakaian dan pengalas tempat tidur yang lembab. Rasional : Untuk menghindari pada daerah anus terdapat kuman, bakteri, karena bakteri suka daerah yang lembab. d. Observasi keadaan kulit. Rasional : Pada daerah ini meningkat resikonya untuk kerusakan dan memerlukan pengobatan lebih intensif. e. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat. Rasional : Untuk membantu memulihkan kondisi badan.