BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Konsumsi Energi dan Protein 1. Energi Tubuh memerlukan energi sebagai sumber tenaga untuk segala aktivitas. Energi diperoleh dari makanan sehari-hari yang terdiri dari berbagai zat gizi terutama karbohidrat dan lemak. Energi yang dipergunakan untuk melakukan pekerjaan, dilepaskan dalam tubuh pada proses pembakaran zat-zat makanan. Dengan mengukur jumlah energi yang dikeluarkan itu dapat diketahui berapa banyak makanan yang diperlukan untuk menghasilkannya (Soediaoetama, 2000). Energi dapat diartikan sebagai daya atau kemampuan bekerja. Energi diperlukan tubuh untuk berbagai proses seperti, proses pertumbuhan, proses mempertahankan suhu tubuh, mempertahankan jaringan tubuh, mempertahankan hidup serta untuk melakukan aktivitas fisik seperti bekerja. Kebutuhan energi total orang dewasa diperlukan untuk metabolisme basal, aktivitas fisik. Kebutuhan energi seseorang adalah konsumsi energi dari makanan yang diperlukan untuk menutupi pengeluaran energi seseorang bila ia mempunyai ukuran dan komposisi tubuh dengan aktivitas yang sesuai dengan kesehatan jangka panjang dan yang memungkinkan pemeliharaan aktivitas fisik yang dibutuhkan secara sosial dan ekonomi (Beck, 1993 dan Almatsier, 2001). Sumber energi adalah bahan makanan sumber lemak, seperti lemak dan minyak, kacang-kacangan dan biji-bijian. Selain itu bahan makanan sumber karbohidrat, seperti padi-padian, umbi-umbian dan gula murni. 2. Protein Protein merupakan zat gizi yang sangat penting karena yang paling erat hubungannya dengan proses-proses kehidupan dan protein menyediakan bahanbahan yang penting peranannya untuk pertumbuhan serta pemeliharaan jaringan tubuh. Protein adalah zat makanan yang mengandung protein. Secara praktis dapat dikatakan bahwa hampir semua sumber nitrogen dalam makanan sehari-hari adalah protein. Protein dalam tubuh mempunyai fungsi antara lain untuk
pertumbuhan dan pemeliharaan, untuk pembentukan ikatan-ikatan essensial tubuh, mengatur keseimbangan air, memelihara netralitas tubuh, pembentukan antibodi dan mengangkut zat-zat gizi. Sumber protein bisa berasal dari bahan makanan hewani maupun bahan makanan nabati. Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam jumlah maupun mutu, seperti telur, susu, daging, unggas, ikan dan kerang. Sumber protein nabati adalah kacang kedelai, dan hasilnya, seperti tempe, dan tahu serta kacang-kacangan lainnya (Almatsier, 2001). Kebutuhan protein menurut FAO/WHO/UNU (2000) adalah konsumsi yang diperlukan untuk mencegah kehilangan protein tubuh dan memungkinkan produksi protein yang diperlukan dalam massa pertumbuhan, kehamilan atau menyusui. Jumlah protein yang diperlukan oleh tubuh seseorang tergantung dari banyaknya jaringan aktif, makin besar dan berat organ tersebut makin banyak jaringan aktif sehingga makin banyak pula protein yang diperlukan untuk mempertahankan atau memelihara jaringan itu (Soediatama, 2000) B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi Energi dan Protein. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi diantaranya adalah tingkat pengetahuan dan tingkat pendapatan dan faktor sosial budaya dan faktorfaktor lainnya seperti pantangan-pantangan yang secara tradisional masih berlaku dan keengganan untuk mengkonsumsi bahan makanan murah yang walaupun mereka ketahui banyak mengandung zat gizi. Tingkat pendapatan merupakan faktor penting dalam menentukan konsumsi suatu zat. Pendapatan yang meningkat akan berpengaruh perbaikan konsumsi pangan terdapat hubungan yang menguntungkan. Sebaliknya bila pendapatan rendah maka mengakibatkan lemahnya daya beli, dengan lemahnya daya beli maka konsumsi pangan tidak dapat terpenuhi (Berg, 1998). Selain faktor pendapatan, faktor lainnya yaitu bahwa tingkat konsumsi ditentukan oleh kualitas hidangan. Kualitas hidangan menunjukkan adanya semua zat gizi yang diperlukan tubuh didalam susunan hidangan dan perbandingan yang satu terhadap yang lain (Sayogyo, 1994).
C. Postur Tubuh Ideal Postur tubuh ideal dinilai dari pengukuran antropometri untuk menilai apakah komponen tubuh tersebut sesuai dengan standar normal atau ideal. Pengukuran antropometri yang paling sering digunakan adalah rasio antara berat badan (kg) dan tinggi badan (m) kuadrat, yang disebut Indeks Massa Tubuh (IMT). Cara pengukuran status gizi berdasarkan indeks BB/TB dengan menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT), karena IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan (Supariasa, 2001) BB (kg) IMT = TB² (cm) TABEL 1 BATAS TABEL IMT UNTUK ORANG INDONESIA Status gizi IMT Kurus Normal Gemuk 17-18,5 18,5-25,0 25,0-27,0 Sumber : Supariasa, 2001 IMT yang normal adalah antara 18,5-25,0. Seseorang dikatakan kurus bila IMT kurang dari 18 dan gemuk bila IMT lebih dari 25. Berat badan normal adalah idaman bagi setiap orang agar mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Keuntungan apabila berat badan normal adalah penampilan baik, lincah, dan resiko sakit rendah. Bila IMT lebih dari 30, orang tersebut menderita obesitas dan perlu diwaspadai karena biasanya obesitas menyertai penyakit lain misalnya diabetes mellitus, hipertensi, hiperkolesterol dan kelainan metabolisme lain. Untuk mengetahui berat badan ideal, dapat digunakan rumus Brocca sebagai berikut : BB Ideal = (TB-100) 10% (TB 100) Keterangan : Batas ambang yang diperbolehkan adalah 10%. Bila lebih dari 10% maka termasuk kegemukan dan bila di atas 20% maka sudah terjadi obesitas.
D. Pengetahuan Remaja Setiap orang di dalam hidupnya tidak pernah lepas dari berbagai alternatif tindakan dan aktifitas, karena mereka selalu mengadakan interaksi dengan individu lain. Dalam melaksanakan atau melakukan tindakan, mereka selalu mendasarkan pada pertimbangan-pertimbangan akal, pikiran, sikap, dan pengetahuannya tentang tindakan itu. Gerungan (1999) memberikan definisi persepsi sebagai kecakapan untuk melihat dan memahami sikap dan kebutuhan. Pada dasarnya pengetahuan adalah mengetahui dan memahami terhadap obyek tertentu sehingga akan memberikan pandangan terhadap obyek tersebut. Menurut Thoha (2001), pengetahuan dapat timbul karena adanya pengaruh hal-hal sebagai berikut : a) Psikologis Pengtahuan seseorang mengenai segala sesuatu di alam dunia ini sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologisnya. b) Keluarga Tidak dapat disangkal bahwa institusi sosial yang paling besar pengaruhnya bagi perkembangan individu adalah keluarga. Melalui keluarga, orang tua telah mengembangkan suatu cara khusus dalam memahami dan melihat kenyataan di dunia ini. c) Kebudayaan Kebudayaan dan lingkungan masyarakat tertentu juga merupakan salah satu faktor yang kuat di dalam mempengaruhi sikap, nilai dan cara seseorang dalam memahami keadaan di dunia. Pengetahuan dan sikap yang muncul dari individu yang satu dengan individu yang lain dapat berlainan, meskipun permasalahan atau obyek yang dibidik adalah sama. Hal ini dikarenakan pengetahuan, kepercayaan dan nilai-nilai yang dimiliki oleh masing-masing individu tidaklah sama. (Khomsan, 2000)
Dengan demikian, dari berbagai pendapat di atas, maka persepsi sikap dan pengetahuan remaja terhadap tubuh ideal adalah tanggapan-tanggapan yang diterima berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki oleh para remaja tentang keberadaan tubuh ideal. Dan selain itu, pengetahuan yang diberikan juga tergantung pada bentuk pemikiran dan perasaan, pengaruh orang lain, sumber-sumber daya yang ada serta kebudayaan yang dimiliki oleh para remaja yang pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku dan sikap para remaja terhadap tubuh ideal di masyarakat. (Khomsan, 2000) Pengukuran pengetahuan remaja tentang gizi dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen berbentuk pertanyaan pilihan ganda (multiple choice test). Instrumen ini merupakan bentuk tes obyektif yang paling sering digunakan. Di dalam menyusun instrumen ini diperlukan jawaban-jawaban yang sudah tertera di dalam tes, dan responden hanya memilih jawaban yang menurutnya benar. Alternatif jawaban yang benar dari berbagai opsi disebut jawaban, sedangkan alternatif yang salah disebut distracter. Distracter yang baik mempunyai ciri karateristik yang hampir mirip dengan jawaban, dengan demikian responden harus berpikir dahulu sebelum menentukan pilihan jawaban yang benar. (Khomsan, 2000) Penyajian multiple choice tes dapat berbentuk pertanyaan ataupun melanjutkan pernyataan yang belum selesai. Di dalam seperangkat tes yang disiapkan untuk mengukur pengetahuan gizi kita dapat membuat kombinasi bentuk tes baik berupa pertanyaan ataupun melanjutkan pernyataan. (Khomsan, 2000). E. Sikap Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup seseorang terhadap sesuatu stimulus atau objek. Manifestasi sikap ini tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Menurup New Comb, seseorang psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi adalah merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. (Notoadmodjo, 2003)
Pengertian lain sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara tertentu serta merupakan respon evaluatif terhadap pengalaman kognitif, reaksi afeksi, kehendak dan perilaku masa lalu. Sikap akan mempengaruhi proses berfikir, respon afeksi, dan perilaku berikutnya. Jadi sikap merupakan respon evaluatif didasarkan pada proses evaluasi diri, yang disimpulkan berupa penilaian positif atau negatif yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek. (Istiarti, 2000) F. Remaja 1. Karakteristik Remaja Berdasarkan angka kecukupan gizi pada remaja yaitu antara umur 13 19 tahun. Kecukupan gizi pada remaja sudah dibedakan menurut jenis kelamin karena kecukupan gizi pria dan wanita pada usia tersebut relatif tidak sama (Hardinsyah dan Dodik B, 1994) Masa remaja adalah masa transisi, dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada golongan ini ditandai dengan pertumbuhan yang cepat. Baik tinggi badan maupun berat badan, pertumbuhan seks, pertumbuhan sikap mental dan respon emosional. Pada remaja putri terjadi tiga macam perkembangan biologis yaitu pre puber, puber, dan post puber (Lisdiana, 1998) 2. Kebutuhan Gizi Remaja Kebutuhan gizi remaja berdasarkan angka kecukupan gizi yang dianjurkan untuk golongan umur 10 19 tahun dapat dilihat pada tabel 2 TABEL 2 ANGKA KECUKUPAN GIZI YANG DIANJURKAN Golongan Umur Berat Badan kg Tinggi Badan cm Energi kkal Pria 10 12 30 135 2000 45 13 15 45 150 2400 64 16 19 56 160 2500 66 Perempuan Protein g
10 12 35 140 1900 54 13 15 46 153 2100 62 16 19 50 154 2000 51 Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi IV. 2004 Pertumbuhan yang cepat biasanya diiringi oleh beratnya aktivitas fisik sehingga kebutuhan zat gizi anak naik pula. Nafsu makan anak laki-laki sangat tinggi sehingga tidak akan menemukan masalah untuk memenuhi kebutuhannya. Anak perempuan biasanya lebih mementingkan penampilannya, sehingga membatasi diri dengan memilih makanan junk, yaitu makanan yang hanya memenuhi kalori tetap kurang gizi lain. Agar kebutuhan dapat terpenuhi maka sebaiknya makan pagi atau sarapan pagi, makan siang, dan makan malam secara teratur (Lisdiana, 1998). G. Tingkat Konsumsi Menurut Hardinsyah dan Martianto (1999) konsumsi makanan adalah informasi tentang jenis dan jumlah pangan yang dimakan seseorang atau kelompok orang (keluarga/rumah tangga) pada waktu tertentu. Perbedaan tingkat konsumsi makan dari masing-masing individu dapat saja terjadi mengingatnya banyaknya faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam hal pembentukan suatu pola makan. Pola makan merupakan manifestasi dari sikap kepercayaan dan pemilihan terhadap makanan. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi makanan, pemilihan bahan makanan serta banyaknya pangan yang dimakan antara lain : 1. Jenis dan banyaknya pangan yang dikonsumsi dan tersedianya bahan 2. Tingkat pendapatan 3. Pengetahuan gizi Perilaku konsumsi makanan remaja dan anak sekolah dapat dilihat pada kebutuhan jajanan yang mungkin cenderung menjadi bagian dalam kehidupan keluarga, terutama keluarga yang tinggal di kota. Mereka mempunyai kebutuhan yang di dorong oleh rangsangan dari dalam seperti bujukan teman, rayuan pedagang dan sebagainya (Notoadmodjo, 2003)
H. Kerangka Teori Tubuh ideal Lingkungan Keluarga Tingkat konsumsi, energi, dan protein Pengetahuan dan sikap siswa Pendidikan Faktor intrinsik Faktor Ekstrinsik - Usia - Jenis kelamin - Kepercayaan - Pendapatan / ekonomi - Pendidikan - Kebudayaan Gambar 1 : Faktor-faktor Tubuh Ideal, Pendidikan dan Pertumbuhan Ekonomi Sumber : Modifikasi Khumaidi, 1989 dan Roedjito, 1989 I. Kerangka Konsep Pengetahuan tentang tubuh ideal Sikap tentang tubuh ideal Tingkat konsumsi energi Tingkat konsumsi protein Gambar 2 : Kerangka Konsep Penelitian J. Hipotesis 1. Ada hubungan pengetahuan dengan tingkat konsumsi energi 2. Ada hubungan pengetahuan dengan tingkat konsumsi protein 3. Ada hubungan sikap dengan tingkat konsumsi energi 4. Ada hubungan sikap dengan tingkat konsumsi protein