IbM PETERNAK SAPI LOKAL

dokumen-dokumen yang mirip
PEMBUATAN BIOPLUS DARI ISI RUMEN Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si

I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha peternakan,

BAB I PENDAHULUAN. nutrisi makanan. Sehingga faktor pakan yang diberikan pada ternak perlu

I. PENDAHULUAN. atau sampai kesulitan mendapatkan hijauan makanan ternak (HMT) segar sebagai

KARYA TULIS ILMIAH PENGOLAHAN LIMBAH KAKAO MENJADI BAHAN PAKAN TERNAK

TEKNOLOGI JERAMI FERMENTASI SEBAGAI PAKAN TERNAK Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si Widyaiswara Muda

PENDAHULUAN. Sapi perah merupakan sumber penghasil susu terbanyak dibandingkan

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan peningkatan permintaan daging kambing, peternak harus

I. PENDAHULUAN. sangat besar untuk memenuhi kebutuhan daging di tingkat nasional. Kenyataan

I. PENDAHULUAN. sekitar 60% biaya produksi berasal dari pakan. Salah satu upaya untuk menekan

I. PENDAHULUAN. pemecahan masalah biaya tinggi pada industri peternakan. Kelayakan limbah pertanian

Kombinasi Pemberian Starbio dan EM-4 Melalui Pakan dan Air Minum terhadap Performan Itik Lokal Umur 1-6 Minggu

IbM INDUSTRI PAVING BLOCK MASYARAKAT PINGGIRAN PERKOTAAN

PENDAHULUAN. yaitu ekor menjadi ekor (BPS, 2016). Peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan masyarakat. Saat ini, perunggasan merupakan subsektor peternakan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. yang sangat besar. Hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan penduduk yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pendek, yaitu pada umur 4-5 minggu berat badannya dapat mencapai 1,2-1,9 kg

I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu usaha peternakan. Minat

PEMANFAATAN ISI RUMEN SEBAGAI STARTER Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si Widyaiswara Muda I. PENDAHULUAN

PAKAN TERNAK HAYLASE JERAMI PADI DARI STARTER ISI RUMEN Oleh: Masnun, S.Pt., M.Si Widyaiswara Muda I. PENDAHULUAN

Coleman and Lawrence (2000) menambahkan bahwa kelemahan dari pakan olahan dalam hal ini wafer antara lain adalah:

KEMENTERIAN PERTANIAN BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN MAGELANG JURUSAN PENYULUHAN PETERNAKAN 2013

BAB I PENDAHULUAN. tercatat sebesar 237 juta jiwa dan diperkirakan bertambah 2 kali lipat jumlahnya. ayam sebagai salah satu sumber protein hewani.

Feed Wafer dan Feed Burger. Ditulis oleh Mukarom Salasa Selasa, 18 Oktober :04 - Update Terakhir Selasa, 18 Oktober :46

UMMB ( Urea Molasses Multinutrient Block) Pakan Ternak Tambahan bergizi Tinggi

Petunjuk Praktis Manajemen Pengelolaan Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak sapi

TEKNIK PENGOLAHAN UMB (Urea Molases Blok) UNTUK TERNAK RUMINANSIA Catur Prasetiyono LOKA PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN KEPRI

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

BAB I IDENTIFIKASI KEBUTUHAN

PEMANFAATAN LIMBAH PASAR SEBAGAI PAKAN RUMINANSIA SAPI DAN KAMBING DI DKI JAKARTA

Ditulis oleh Mukarom Salasa Minggu, 19 September :41 - Update Terakhir Minggu, 19 September :39

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Musim kemarau di Indonesia menjadi permasalahan yang cukup

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Serat Kasar. Kecernaan serat suatu bahan pakan penyusun ransum akan mempengaruhi

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian dengan judul Kecernaan dan Deposisi Protein Pakan pada Sapi

TINJAUAN PUSTAKA. keberhasilan usaha pengembangan peternakan disamping faktor bibit dan

JURNAL INFO ISSN : TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENCUKUPI KONTINUITAS KEBUTUHAN PAKAN DI KTT MURIA SARI

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Sapi Friesian Holstein (FH) Produktivitas Sapi Perah

OPTIMALISASI USAHA PENGGEMUKAN SAPI DI KAWASAN PERKEBUNAN KOPI

UMMF (Urea Molasses MultinullrienL Olock) Fakan Ternak Tambahan Eerqizi Tinqqi

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Kebutuhan daging di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. manusia. Ternak babi bila diklasifikasikan termasuk ke dalam kelas Mamalia, ordo

I. PENDAHULUAN. besar untuk dikembangkan, sapi ini adalah keturunan Banteng (Bos sundaicus)

I. PENDAHULUAN. kehidupan dan kelangsungan populasi ternak ruminansia. Menurut Abdullah et al.

I. PENDAHULUAN. hasil produksi pengembangan ayam broiler akan semakin tinggi.

Ditulis oleh Mukarom Salasa Minggu, 19 September :41 - Update Terakhir Minggu, 19 September :39

PENDAHULUAN. terhadap produktivitas, kualitas produk, dan keuntungan. Usaha peternakan akan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. peternak dengan sistem pemeliharaan yang masih tradisional (Hoddi et al.,

RANCANG BANGUN MESIN PENGOLAH PUPUK KOTORAN SAPI. Seno Darmanto 1

BAB III MATERI DAN METODE. dengan kuantitas berbeda dilaksanakan di kandang Laboratorium Produksi Ternak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. merah bata dan kaki bagian bawah berwarna putih (Gunawan, 1993). Menurut

ILMU BETERNAK Suatu Tinjauan dari Sisi Pakan Ternak Oleh : Ir. H. Anggodo Marnomo Praktisi & Pengamat Pakan Ternak

I. PENDAHULUAN. untuk memenuhi kebutuhan protein hewani adalah sapi perah dengan produk

PENERAPAN IPTEKS BAGI MASYARAKAT (IbM) KELOMPOK TANI KALISAPUN DAN MAKANTAR KELURAHAN MAPANGET BARAT KOTA MANADO

PENGANTAR. Latar Belakang. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi yang sangat besar

P e r u n j u k T e k n i s PENDAHULUAN

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi

I. PENDAHULUAN. sebagai salah satu matapencaharian masyarakat pedesaan. Sapi biasanya

BAB I PENDAHULUAN. kasar yang tinggi. Ternak ruminansia dalam masa pertumbuhannya, menyusui,

I. PENDAHULUAN. Nenas adalah komoditas hortikultura yang sangat potensial dan penting di dunia.

KONVERSI SAMPAH ORGANIK MENJADI SILASE PAKAN KOMPLIT DENGAN PENGGUNAAN TEKNOLOGI FERMENTASI DAN SUPLEMENTASI PROBIOTIK TERHADAP PERTUMBUHAN SAPI BALI

PENGARUH SUBSTITUSI RUMPUT GAJAH DENGAN LIMBAH TANAMAN SAWI PUTIH FERMENTASI TERHADAP PENAMPILAN PRODUKSI DOMBA LOKAL JANTAN EKOR TIPIS SKRIPSI

BAB I. PENDAHULUAN. Kebutuhan daging sebagai salah satu sumber protein hewani untuk

HASIL DA PEMBAHASA. Konsumsi Bahan Kering Ransum

KONSENTRAT TERNAK RUMINANSIA

PENDAHULUAN. rendah adalah masalah yang krusial dialami Indonesia saat ini. Catatan Direktorat

METODE. Materi 10,76 12,09 3,19 20,90 53,16

MEMBUAT SILASE PENDAHULUAN

UPAYA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS TERNAK DOMBA MELALUI PERBAIKAN MUTU PAKAN DAN PENINGKATAN PERAN KELOMPOKTANI DI KECAMATAN PANUMBANGAN KABUPATEN CIAMIS

PENDAHULUAN. memadai, ditambah dengan diberlakukannya pasar bebas. Membanjirnya susu

I. PENDAHULUAN. pakan ternak. Produksi limbah perkebunan berlimpah, harganya murah, serta tidak

BAB III METODE PENELITIAN. Ayam Pedaging dan Konversi Pakan ini merupakan penelitian penelitian. ransum yang digunakan yaitu 0%, 10%, 15% dan 20%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

: PENGGEMUKAN SAPI DI INDONESIA

PEMANFAATAN STARBIO TERHADAP KINERJA PRODUKSI PADA AYAM PEDAGING FASE STARTER

1. Jenis-jenis Sapi Potong. Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :

Indah.Implementasi Starter Bakteri Lignolitik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. di daerah yang minim nutrisi. Rumput gajah membutuhkan sedikit atau tanpa

Jurnal Pengabdian Masyarakat Peternakan ISSN: Vol. 2 No. 1 Tahun 2017

PENDAHULUAN. Kambing merupakan ternak ruminansia kecil yang sangat populer, mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi, dan mampu beradaptasi

I. PENDAHULUAN. Perkembangan populasi ternak unggas di Indonesia semakin hari semakin

BAB I. PENDAHULUAN. pertanian atau sisa hasil pertanian yang bernilai gizi rendah sebagai bahan pakan

PERBAIKAN KUALITAS PAKAN DAN PENGOLAHAN LIMBAH KANDANG GUNA MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS DAN KESEHATAN LINGKUNGAN DI KECAMATAN TEMBALANG KOTA SEMARANG

I. PENDAHULUAN. Peternakan di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan, sehingga

I. PENDAHULUAN. peternakan, karena lebih dari separuh biaya produksi digunakan untuk memenuhi

Jurnal Ternak, Vol.05, No.02, Des. 2014

PENDAHULUAN. karena Indonesia memiliki dua musim yakni musim hujan dan musim kemarau.

BAB XVI KEGIATAN AGRIBISNIS

FORMULASI RANSUM PADA USAHA TERNAK SAPI PENGGEMUKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Organisasi merupakan suatu gabungan dari orang-orang yang bekerja sama

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian

STRATEGI PRODUKSI PUPUK ORGANIK CAIR KOMERSIAL DARI LIMBAH RUMAH POTONG HEWAN (RPH) SEMARANG

I. PENDAHULUAN. yang memiliki potensi hijauan hasil limbah pertanian seperti padi, singkong, dan

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Penelitian

I. PENDAHULUAN. kontinuitasnya terjamin, karena hampir 90% pakan ternak ruminansia berasal dari

Transkripsi:

IbM PETERNAK SAPI LOKAL Ir. Bejo Suroso, MP. 1) dan Ir. Wiwit Widiarti, MP. 2) 1 Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember 2 Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember ABSTRAK Tujuan utama kegiatan IbM ternak sapi lokal ini adalah meningkat kualitas dan kuantitas berat badan sapi lokal mencapai berat badan yang ideal. Metode pendekatan yang digunakan meliputi tahapan : (a) Sosialisasi program teknologi feed supplement hayati sebagai upaya untuk mengatasi gangguan berat badan sapi lokal; (b) Persiapan prakondisi sosial, yakni penguatan kelompok tani sapi lokal, baik kelompok maupun forum sebagai media bertemu dan pemecahan masalah-masalah yang dihadapi peternak sapi lokal di pinggiran hutan; (c) Pelaksanaan program teknologi feed supplement hayati baik teknis maupun non teknis bagi masyarakat peternak sapi lokal di pinggiran hutan, yang didukung oleh lembaga terkait (Perhutani Jember, PTPN XII, Pemda dan Perguruan Tinggi (Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Jember); (d) Pemantauan, evaluasi dan pelaporan. Hasil kegiatan Program IbM di Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember selama 5 bulan dengan menekankan pada penggunaan mesin pengolah pakan ternak menunjukkan bahwa (1) Daya saing sapi lokal meningkat mencapai Standar Nasional Indonesia Indonesia : SNI No.01-2907-199; (2) Berat badan sapi lokal umur 2 3 tahun meningkat dari 373 kg/ekor menjadi 415/ekor dengan teknologi feed suplemen hayati dalam waktu 4 bulan; (3) Pendapatan peternak dari hasil sapi lokal meningkat dari Rp 720.000 per bulan (di bawah UMR Jember) menjadi Rp 1.640.000 per bulan (dimana UMR Jember Rp 1.460.000 per bulan). Kata kunci : daya saing sapi lokal, pendapatan peternak meningkat 1. PENDAHULUAN Pengembangan sapi lokal (Bos taurus) melalui kerjasama antara Perhutani, Pemerintah Daerah, Perguruan Tinggi dan Masyarakat peternak sapi merupakan upaya untuk memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat desa pinggiran hutan. Pengembangan ekonomi di kawasan pinggiran hutan tersebut akan mengurangi penjarahan hasil hutan, sehingga kawasan pinggiran hutan tersebut akan tetap merupakan kawasan penyangga (buffer zone) yang mempunyai fungsi ekologi, pengatur tata air, pengatur sedimentasi, manfaat pariwisata dan sumber daya hutan lainnya (Dinas Kehutanan Kabupaten Jember, 2008). Masyarakat peternak sapi lokal di Kabupaten Jember (antara lain di Desa Kencong, Kecamatan Kencong dan Desa Mulyorejo, Kecamatan Kencong) yang secara turuntemurun mengembangkan sapi lokal (Bos taurus) menghadapi masalah gangguan berat badan sapi. Sapi lokal umur 2-3 tahun yang seharusnya mencapai berat ideal rata-rata 415 kg, namun sapi lokal tersebut hanya mencapai rata-rata 373 kg. Akibatnya pendapatan peternak menurun, curahan tenaga kerja tidak efisien, dan membutuhkan tambahan waktu pemeliharaan agar memperoleh harga jual yang sesuai dengan keadaan pasar (Suroso, 2011 dan 2012). Keadaan ini diperparah dengan masuknya sapi impor yang pada umur kurang dari 2 tahun mencapai berat lebih dari 450 kg (Http://www. geocities.com, 2012). Produksi sapi lokal semakin terdesak, walaupun permintaan terhadap daging sapi lokal terus meningkat, mengingat kadar lemaknya rendah dan tahan terhadap penyakit caplak (Http://www.infoternak. com, 2009). Masyarakat peternak sapi lokal di Kabupaten Jember tetap mengembangkan sapi lokal karena sapi lokal tahan terhadap beberapa penyakit, tahan iklim panas, mudah 8

dipelihara, mudah berkembang biak, tahan terhadap pakan kualitas rendah. Masalah gangguan berat badan sapi lokal yang menjadi keluhan peternak tersebut dalam jangka panjang jika terus dibiarkan akan menggangguperekonomian masyarakat peternak sapi lokal di pinggiran hutan dan masyarakat akan kembali merambah hutan. Berpijak pada kenyataan tersebut, maka Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember berkoordinasi dengan Perhutani Jember dan Dinas Peternakan melakukan kerjasama dengan mitra IbM (terutama yang ternaknya paling banyak yaitu Desa Kencong dan Desa Mulyorejo) dalam program Feed Supplement Hayati untuk Ternak Sapi Lokal. Tujuan utama kegiatan IbM ternak sapi lokal ini adalah meningkat kualitas dan kuantitas berat badan sapi lokal mencapai berat badan yang ideal. 2. METODE PELAKSANAAN Metode pendekatan yang ditawarkan untuk menyelesaikan persoalan mitra program IbM Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember meliputi tahapan : 1. Sosialisasi program teknologi feed supplement hayati sebagai upaya untuk mengatasi gangguan berat badan sapi lokal. 2. Persiapan prakondisi sosial, yakni penguatan kelompok tani sapi lokal, baik kelompok maupun forum sebagai media bertemu dan pemecahan masalah-masalah yang dihadapi peternak sapi lokal di pinggiran hutan. 3. Pelaksanaan program teknologi feed supplement hayati baik teknis maupun non teknis bagi masyarakat peternak sapi lokal di pinggiran hutan, yang didukung oleh lembaga terkait (Perhutani Jember, PTPN XII, Pemda dan Perguruan Tinggi (Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Jember). 4. Pemantauan, evaluasi dan pelaporan. Prosedur Kerja untuk Mendukung Realisasi Metode yang Ditawarkan Prosedur kerja untuk mendukung realisasi metode yang ditawarkan yaitu : 1. Mitra IbM harus terlibat secara aktif dalam setiap kegiatan yang direncanakan. 2. Peternak sapi lokal melakukan pengandangan dengan baik dan menjaga kebersihan ternaknya agar terhindar dari beberapa penyakit sapi, gangguan iklim panas, mudah dipelihara, mudah berkembang biak, dan tahan terhadap pakan kualitas rendah. 3. Mitra IbM dan kelompok peternak sapi lokal memiliki kesediaan dalam melanjutkan dan menjaga sustainable dari program yang telah dilaksanakan. Rencana Kegiatan yang Menunjukkan Langkah-langkah Solusi dari Persoalan Rencana kegiatan yang menunjukkan langkah-langkah solusi dari persoalan utama : 1. Sosialisasi program teknologi feed supplement hayati melalui penyuluhan dan pelatihan dengan materi tentang pentingnya teknologi feed supplement hayati sebagai upaya untuk mengatasi gangguan berat badan sapi lokal. 2. Kegiatan prakondisi sosial, yakni penguatan kelompok tani sapi lokal, baik kelompok maupun forum sebagai media bertemu dan pemecahan masalah-masalah yang dihadapi peternak sapi lokal di pinggiran hutan meliputi : a. Koordinasi dengan mitraibm : Pemerintah Desa Kencong, Kecamatan Kencong Kabupaten Jember. b. Koordinasi dengan lintas program dan lintas sektoral Perhutani dan Pemerintah Daerah (Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jember). c. Menguatkan struktur kelompok peternak sapi lokal di desa pinggiran hutan. Partisipasi Mitra IbM Mitra IbM dalam hal ini adalah kelompok peternak sapi lokal di Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember. Mitra berperan dalam hal 9

mengumpulkan kelompok peternak sapi lokal, menjadi penghubung dan pendukung kegiatan IbM serta berkomitmen untuk melanjutkan kegiatan IbM secara berkelanjutan. Jenis Luaran yang Akan Dihasilkan Jenis luaran yang akan dihasilkan sesuai dengan rencana kegiatan adalah produksupplement hayati Bossdext, Starbio, dan Bioplus untuk mempercepat kenaikan berat badan sapi lokal. Produk tersebut berpotensi untuk paten, publikasi nasional, teknologi tepat guna, dan pengayaan buku ajar. Spesifikasi Produk Feed supplement hayati berupa Bossdext, Starbio, dan Bioplus harganya terjangkau oleh peternak sapi lokal secara individu maupun kelompok. 3. HASIL YANG DICAPAI Hasil kegiatan Program IbM di Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember dapat dijelaskan secara berturutan sebagai berikut : 1. Kegiatan sosialisasi dan penyuluhan IbM. 2. Kegiatan alih teknologi pengolahan pakan ternak. 3. Indikator keberhasilan program. Kegiatan Sosialisasi dan Penyuluhan IbM Kegiatan sosialisasi dan penyuluhan IbM oleh dosen dan mahasiswa Himagri, Faperta, Universitas Muhammadiyah Jember dilakukan pada bulan pertama kegiatan (Juni- Juli 2015). Kegiatan tersebut dilakukan di Balai Desa Kencong, rumah ketua kelompok tani dan areal pertanaman sapi lokal dan diikuti 4 kelompok peternak sapi. Gambar 1. Kegiatan sosialisasi dan penyuluhan IbM peternak sapi lokal Kegiatan Alih Teknologi Kegiatan alih teknologi pengolahan pakan ternak untuk sapi lokal oleh dosen dan mahasiswa Himagri, Faperta, Universitas Muhammadiyah Jember meliputi : 1. Perbaikan mutu jerami sebagai sumber pakan sapi lokal, hal ini karena jerami adalah sumber pakan yang paling banyak dijumpai di desa. 2. Pemberian pakan tambahan, hal ini karena pakan tambahan berfungsi sebagai pemercepat pertambahan berat sapi lokal. 3. Pemberian feed supplement hayati pada ternak sapi lokal, yang bermanfaat : (1) meningkatkan pencernaan sapi, serta mengoptimalkan penyerapan dan efisiensi penggunaan pakan, (2) membantu meningkatkan daya cerna pakan dalam lambung ternak, dan (3) fermentor pada pencernaan sapi, berikut bahan-bahan tersebut : (1) Bahan Tambahan Bossdext, Bossdext merupakan supplement ekstra berbentuk cair, formula ini terdiri dari enzim ekstrak tumbuhan pilihan dan bahan lain yang bermanfaat untuk meningkatkan proses pencernaan sapi, serta mengoptimalkan 10

penyerapan dan efisiensi penggunaan pakan. Cara pemberian Bossdext sebagai berikut : a) Menyiapkan pakan tambahan bisa dedak saja atau kombinasi dari berbagai bahan sesuai dengan bobot sapi. b) Mengambil separuh dari larutan kultur Bossdext dan menambahkan separuh pakan tambahan (1,57 kg) untuk porsi sehari, tambahkan garam dapur tanpa yodium secukupnya. c) Aduk rata campuran tersebut dan bila kurang encer bisa ditambah air. d) Biarkan campuran ini 1 jam agar terjadi fermentasi. e) Sisa kultur dan pakan tambahan diperlakukan sama untuk porsi sore hari. f) Setelah comboran habis dimakan oleh sapi,beri minum sepuasnya. g) Beri sapi pakan jerami kering setelah 1-2 jam pemberian combor, yaitu saat sapi mulai mengeluarkan air liur. h) Lakukan pemberian pakan dengan teratur setiap hari. (2). Bahan Tambahan Starbio Sama halnya dengan bossdext, starbio adalah feed supplement yang berfungsi membantu meningkatkan daya cerna pakan dalam lambung ternak. Starbio ini terdiri dari koloni mikrobe 9 (bakteri fakultatif) yang berasal dari lambung ternak ruminansia dan dikemas dalam campuran tanah dan akar rumput serta daun-daun yang telah membusuk. Mikroba yg terdapat di dalamnya adalah microbe lignolitik, selulitik, proteolitik, dan fiksasi nitrogen non simbiotik. Starbio dipasarkan berupa serbuk berwarna coklat. Dengan teknologi ini pertambahan berat sapi bisa 1,2 kg/hari (Http://www.geocities.com, 2012). (3). Bahan Tambahan Bioplus Zat ini berupa serbuk yang di dalamnya terdiri dari bakteri menguntungkan seperti Lactobacillus, Streptomyces sp. dan cendawan fermentor lain. Bioplus dikembangkan dari limbah rumah pemotongan hewan. Isi rumen sapi yang ditampung di tempat pemotongan diseleksi dan dipelihara (fermentasi) dengan diberi pakan jerami. Semakin bagus pertumbuhan koloni mikroba tersebut maka semakin bagus pengaruh untuk pencernaan sapi. Mikroba yang memiliki kemampuan tinggi mengurai pakan berserat adalah bakteri selulitik dan protozoa selulitik. Protozoa yang berkembangbiak dalam rumen merupakan sumber protein hewani bagi sapi. Pemberiannya dicampurkan dengan pakan tambahan (comboran). Dimana 1 kg bioplus dapat dicampur dengan 400 kg comboran kering, dengan kata lain 2,5 kg comboran kering bioplusnya 10 g. Bioplus ini mampu meningkatkan berat harian sapi sebesar 0,68 kg (http://www.geocities.com, 2012). Indikator Keberhasilan Program Indikator keberhasilan kegiatan IbM oleh dosen dan mahasiswa Himagri, Faperta, Universitas Muhammadiyah Jember adalah sebagai berikut (Tabel 1). Tabel 1. Indikator Keberhasilan Program IbM No. Uraian Sebelum IbM Setelah IbM 1. Daya saing sapi lokal Belum mencapai Standar Nasional Indonesia Indonesia 2. Berat badan sapi lokal umur 2 3 tahun 3. Pendapatan peternak dari hasil sapi lokal meningkat mencapai Standar Nasional Indonesia Indonesia : SNI No.01-2907-199 373 kg/ekor 415 kg/ekor Rp 720.000 per bulan (di bawah UMR Jember Rp 1.640.000 per bulan (di atas UMR Jember 11

Evaluasi dan Keberlanjutan Evaluasi dan keberlanjutan kegiatan Program IbM selama 5 bulan di Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember dapat dijelaskan secara berturutan sebagai berikut : 1. Evaluasi oleh Tim Monev Universitas Muhammadiyah Jember. 2. Keberlanjutan Program IbM. Evaluasi oleh Tim Monev Universitas Muhammadiyah Jember Evaluasi oleh Tim Monev Universitas Muhammadiyah Jember dilakukan pada saat kegiatan IbM berlangsung. Kegiatan evaluasi ini memiliki manfaat sebagai berikut : a. Manfaat dari sisi ekonomi adalah meningkatkan pendapatan peternak sapi lokal melalui penggunaan mesin pengolah pakan untuk sapi lokal tipe silinder (mesin diesel 5 PK). Pendapatan keluarga peternak sapi lokal meningkat dari Rp 720.000 per bulan menjadi Rp 1.640.000 per bulan, (dimana UMR Kabupaten Jember sebesar Rp 1.460.000 per bulan). b. Manfaat dari sisi IPTEKS adalah teknologi pakan ternak untuk sapi lokal terutama bermanfaat pada waktu sulit pakan di musim kemarau, yakni menghasilkan kualitas dan mutu pakan (feed suplemen hayati) yang bagus untuk sapi lokal. Teknologi ini mampu meningkatkan berat badan sapi dari 373 kg/sapi menjadi 415 kg/sapi dalam kurun waktu 4 bulan. Keberlanjutan Kegiatan IbM Keberlanjutan kegiatan IbM di Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember dilakukan oleh Tim Kerjasama Universitas Muhammadiyah Jember dengan perangkat Desa Kencong dan PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) melalui berbagai program: 1. Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa. 2. Praktek Kerja Lapang (PKL) mahasiswa. 3. Kegiatan pengabdian masyarakat oleh dosen dan mahasiswa. Ketiga kegiatan tersebut dalam jangka panjang akan bermanfaat sebagai berikut : 1. Manfaat dari sisi ekonomi adalah pendapatan peternak sapi lokal terus meningkat seiring dengan efisiensi penggunaan mesin pengolah pakan untuk sapi lokal, sehingga pendapatan keluarga peternak sapi lokal akan terus meningkat lebih dari UMR Jember (Rp 1.460.000 per bulan). 2. Manfaat dari sisi IPTEKS adalah teknologi pakan ternak untuk sapi lokal terutama bermanfaat pada waktu sulit pakan di musim kemarau, yakni menghasilkan kualitas dan mutu pakan (feed suplemen hayati) yang bagus untuk sapi lokal. Teknologi ini mampu meningkatkan berat badan sapi dari 373 kg/sapi menjadi 415 kg/sapi dalam kurun waktu 4 bulan dan secara berkelanjutan melalui monitoring oleh Tim Faperta, Universitas Muhammadiyah Jember. 4. KESIMPULAN DAN SARAN Hasil kegiatan Program IbM di Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember selama 5 bulan dengan menekankan pada penggunaan mesin pengolah pakan ternak menunjukkan bahwa : 1. Daya saing sapi lokal meningkat mencapai Standar Nasional Indonesia Indonesia : SNI No.01-2907-199. 2. Berat badan sapi lokal umur 2 3 tahun meningkat dari 373 kg/ekor menjadi 415/ekor dengan teknologi feed suplemen hayati dalam waktu 4 bulan. 12

3. Pendapatan peternak dari hasil sapi lokal meningkat dari Rp 720.000 per bulan (di bawah UMR Jember) menjadi Rp 1.640.000 per bulan (dimana UMR Jember Rp 1.460.000 per bulan). DAFTAR PUSTAKA 1. Dinas Kehutanan Kabupaten Jember. 2008. Kebijakan Pengelolaan Hutan di Kabupaten Jember. 2. Http://www.geocities.com. 2012. Teknologi sapi lokal. 3. Http://www.infoternak.com. 2009. Sapi lokal. 4. Kantor Kecamatan Kencong. 2012. Laporan Tahunan Kecamatan. Kabupaten Jember. 5. Suroso, B. dan W. Widiarti. 2011. Survey Ekonomi Potensi Usaha Kecil Menengah di Kabupaten Jember. LPPM. Universitas Muhammadiyah Jember. 6. Suroso, B., W. Widiarti, H. Prayuginingsih dan I. Wijaya. 2012. Survei Potensi Ekonomi Masyarakat Pinggiran Hutan. LPPM. Universitas Muhammadiyah Jember. 13