MELURUSKAN KONSEP KONDISIONING OPERAN

dokumen-dokumen yang mirip
TEORI BELAJAR TINGKAH LAKU

Untuk pemahaman yang lebih mendalam, perlu diuraikan definisi belajar tersebut melalui penjelasan dari komponen-komponen dan istilah-istilah serta

TEORI BELAJAR BEHAVIORISME (TINGKAH LAKU)

Prinsip dan prosedur dasar modifikasi perilaku

LEARNING OLEH: ASEP SUPENA

Prinsip dan prosedur dasar modifikasi perilaku

Prinsip dan prosedur dasar modifikasi perilaku

antara stimulus dan respon. Menurut Pavlov respon dari seseorang tergantung

TEORI PENGUATAN OLEH SKINNER

I. PENDAHULUAN. TK (Taman kanak-kanak) merupakan salah satu lembaga pendidikan formal

SKINNER TIGA ASUMSI DASAR SKINNER

TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK

TEORI behaviorism. Teori belajar koneksionisme

Prinsip dan prosedur dasar modifikasi perilaku

Pengantar Modifikasi Perilaku

Pertemuan 5 PENDEKATAN TRANSORIENTASIONAL

Le L ar a n r i n ng n g (Pa P r a t r 1) 1 By : Ika Sari Dewi

PENGKONDISIAN OPERAN & BELAJAR SOSIAL

DASAR-DASAR PERILAKU INDIVIDUAL

MODIFIKASI PERILAKU. Dasar-dasar Modifikasi Perilaku I. Winy Nila Wisudawati, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas Psikologi

I. PENDAHULUAN. Negara Indonesia merupakan negara hukum yang hampir semua aspek di

Sejarah dan Aliran-Aliran Psikologi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

B.F. Skinner. Pendekatan Psikologi Skinner

proses dimana perilaku diperkuat oleh konsekuensi yang segera mengikuti perilaku tersebut

BAB VI PENUTUP. Labuan Bajo Manggarai Barat NTT, maka dapat disimpulkan: 1) Berdasarkan kelengkapan pengendara kendaraan sepeda motor di

Teori Teori Belajar: Behaviorisme, Kognitif, dan Gestalt

Teori Belajar Behavioristik

TEORI BELAJAR DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN THEORY OF LEARNING ACCORDING TO EDUCATIONAL PSYCHOLOGY ABSTRACT

MEMAHAMI TEORI-TEORI PERILAKU BELAJAR DALAM ORGANISASI

BAB IV PERBANDINGAN PEMIKIRAN ABDULLAH NASHIH ULWAN DAN B.F. SKINNER SERTA RELEVANSI PEMIKIRAN KEDUA TOKOH TERSEBUT TENTANG HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN

Jurnal SAP Vol. 1 No. 1 Agustus 2016 ISSN: X

Ika Khusniawati, Nurdin Hidayat STKIP-PGRI Bandar Lampung

Penerapan Reinforcement Theory Pada Anak

2016 PENGGUNAAN TEKNIK TEGURAN TERHADAP PERILAKU STEREOTYPE PADA PESERTA DIDIK TOTALLY BLIND DI SLB NEGERI A KOTA BANDUNG

STUDI DESKRIPTIF MENGENAI INTENSI PERILAKU MELAWAN ARAH ARUS JALAN RAYA DI JATINANGOR PADA PENGENDARA OJEK SEPEDA MOTOR DI JATINANGOR

LAMPIRAN. PDF created with FinePrint pdffactory Pro trial version

PSIKOLOGI BELAJAR & MODIFIKASI PERILAKU

Teori belajar : Analisis perilaku BF Skinner

I. PENDAHULUAN. masalah, terutama masalah perkembangannya. Oleh karena itu, perkembangan. anak perlu diperhatikan, khususnya oleh orang tua dan guru.

GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN (GBPP)

ZURICH INSURANCE COMPANY

SATUA ACARA PERKULIAHAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. lebih lambat dari pertumbuhan lalu lintas menyebabkan tingginya angka

Konsep-konsep Modifikasi Perilaku. Danang Setyo Budi Baskoro, S.Psi., M.Psi

Oleh: Nur Azizah (NIM )

01Ilmu. Pengantar Ilmu Komunikasi. Pentingnya Komunikasi & Komunikasi sebagai Ilmu. Dr. Rulli Nasrullah, M.Si. Komunikasi. Modul ke: Fakultas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Pembentukan kepribadian akan sangat ditentukan pada masa

BAB I PENDAHULUAN. untuk keperluan tertentu dengan mempergunakan alat tertentu pula.

MEMAHAMI TEORI-TEORI PERILAKU BELAJAR DALAM ORGANISASI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Saat ini manusia dituntut untuk bisa berpindah-pindah tempat dalam waktu

2015 PENGARUH PENGGUNAAN TEKNIK TOKEN EKONOMI DALAM MENGURANGI PERILAKU KEKERASAN PADA SISWA KELAS VI DI MADRASAH IBTIDAIYAH AISYAH KOTA BANDUNG

Statistika Psikologi 1

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) Pada Jurusan Bimbingan dan Konseling OLEH :

EDWIN RAY GUTHRIE UMBY 2015

RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER PROGRAM STUDI PSIKOLOGI. Issue/Revisi : A0 Tanggal : 27 November 2017

I. BIOGRAFI B. F. SKINNER Burrhus Frederic Skinner lahir di Susquehanna, Pennsylvania pada 20 Maret 1904 dari pasangan Willian dan Grace Skinner.

BERBAGAI PENDEKATAN DALAM PSIKOLOGI

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Keterampilan Menulis Kalimat dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lalu lintas dan angkutan jalan mempunyai peran strategis dalam

TEORI BELAJAR SKINNER

HOW STUDENTS LEARN + COGNITIVE LEARNING THEORY Modul Keterampilan Pembelajaran dan Berfikir Kritis

I. PENDAHULUAN. menentukan keberhasilan pencapaian suatu tujuan pendidikan. Oleh sebab itu,

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Behavior and Social Learning Theory

MOTIVASI & KINERJA. Handout Psikologi Industri (Online Class-1 Kelas 12) ADE HERYANA, S.SIT, M.KM. UNIVERSITAS ESA UNGGUL Jakarta Barat

Faktor penentu : Internal : persepsi, sikap, nilai, motivasi, proses belajar, gaya hidup Eksternal : budaya/norma, nilai sosial, kelompok 3/3/2011 2

Analisis Deskriptif Faktor-faktor Konsentrasi Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

, 2015 ANALISIS KESALAHAN BERBAHASA RAGAM TULIS DALAM SURAT PRIBADI MAHASISWA KOREA DI YOUNGSAN UNIVERSITY

SIGNIFIKAN ATAU SANGAT SIGNIFIKAN? Saifuddin Azwar. Beberapa waktu yang lalu, salah seorang partisan dalam mailgroup dosen

STUDI MENGENAI GAMBARAN HARDINESS PADA MAHASISWA YANG SEDANG MENGERJAKAN SKRIPSI DI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PADJADJARAN

Teori-teori Belajar. Teori Behavioristik. Afid Burhanuddin. Memahami teori-toeri belajar dan implementasinya dalam proses pembelajaran.

KEPRIBADIAN TOKOH BU SUCI DAN WASKITO DALAM NOVEL PERTEMUAN DUA HATI KARYA N.H DINI PERSPEKTIF BEHAVIORISME TEORI B.F SKINNER

Oleh : Muh. Mustakim, M.Pd.I

KODE ETIK PENGEMUDI GRAB BIKE

BAB V PEMBAHASAN. peneliti memberikan masalah tentang matriks, siswa menemui kesulitan-kesulitan

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU PENGEMUDI SEPEDA MOTOR PADA BERBAGAI KEADAAN LALU LINTAS JALAN DENGAN KARAKTERISTIK PENGEMUDI, KENDARAAN, DAN PERJALANAN

KEGIATAN BELAJAR I TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN

2015 HUBUNGAN ANTARA STRES BERKEND ARA D ENGAN D ISIPLIN BERLALU LINTAS PAD A PENGGUNA SEPED A MOTOR D ENGAN STATUS MAHASISWA D I KOTA BAND UNG

HUBUNGAN ANTARA PERCAYA DIRI DENGAN INTENSI MENYONTEK

PENERAPAN TEORI BEHAVIORISTIK DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB (KAJIAN TERHADAP PEMIKIRAN BF. SKINNER)

SUPLEMEN MATERI KULIAH LOGIKA PENALARAN INDUKTIF HUBUNGAN KAUSAL

BAB II IBU DAN ANAK. Pengertian keluarga berarti nuclear family yaitu yang terdiri dari ayah,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan,

Dasar Perilaku Individual. Arum Darmawati Jurusan Manajemen Universitas Negeri Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. Sastra merupakan hasil ekspresi atau ungkapan kejiwaan seorang yang

BAB I PENDAHULUAN. (On-line), (29 Oktober 2016). 2

SIKAP DAN PREFERENSI KEPALA SEKOLAH SMA SE JAWA TENGAH TERHADAP BAHASA ASING PILIHAN

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Berkendara yang aman sangat diperlukan di dalam berlalu lintas untuk

PEDOMAN PENULISAN ARTIKEL ILMIAH MAHASISWA

Perilaku Konsumen. Pengantar. Hikmah Ubaidillah, M.IKom. Modul ke: Fakultas Ilmu Komunikasi. Program Studi Marketing Communication

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. menggunakan 4 Sekolah Menengah Pertama di Kota Yogyakarta. dengan Kampus, sekolah, dan rumah sakit.

Kata kunci : Iklim, Iklim Organisasi, Litwin & Stringer

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah dan Penegasan Judul. potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bau, rasa, dan sentuhan. Informasi tersebut akan masuk ke dalam pikiran sebagian masuk

d. Teori Reinforment Imitasi

Transkripsi:

BULETIN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GADJAH MADA VOLUME 19, NO. 1, 2011: 38 43 ISSN: 0854 7108 MELURUSKAN KONSEP KONDISIONING OPERAN T. Dicky Hastjarjo Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada E mail: dicky@ugm.ac.id Istilah kondisioning operan (operant conditioning) yang dikembangkan oleh B. F. Skinner merupakan salah satu konsep inti (core concept) dalam penulisan buku teks introduksi psikologi/pengantar psikologi (Boneau, 1990; Griggs, Bujak Johnson, & Proctor, 2004; Nairn, Ellard, Scialfa, & Miller, 2003). Boneau (1990) menemukan bahwa istilah kondisioning operan termasuk kedalam top seratus konsep dengan mendapatkan rerata nilai rating 5 yang berarti sangat penting yang dijabarkan sebagai pernyataan semua sarjana psikologi harus mampu menjelaskan dengan baik istilah itu. Griggs, Bujak Johnson & Proctor (2004), dengan mengkaji daftar istilah (glossary) 44 buku teks introduksi psikologi, menemukan hal yang serupa yakni istilah kondisioning operan dimuat diseluruh 44 buku teks tersebut. Buskist, Miller, Ecott & Crithfield (1999) mengkaji sembilan buku teks introduksi psikologi terbitan 1995 1997 dan meminta pengarang buku teks tersebut untuk menilai relevan tidaknya istilah dalam bab belajar, khususnya yang berkaitan dengan kondisioning operan. Ranking 1 menggambarkan sangat relevan, ranking 2 menunjukkan cukup relevan dan rangking 3 menunjukkan tidak relevan. Istilah kondisioning operan mendapat rerata ranking 1,07, istilah reinforsemen positif (positive reinforcement) memperoleh rerata ranking 1,07, istilah hukuman (punishment) mendapat rerata rangking 1,14 dan istilah reinforsemen negatif (negative reinforcement) mendapat nilai 1,28. Rahayu, Emeldah & Hastjarjo (2009) memberikan daftar istilah dari 4 buku teks introduksi psikologi kepada 21 dosen pengampu matakuliah Psikologi Umum dari Fakultas Psikologi di Yogyakarta dan Solo serta meminta para dosen memberikan penilaian dari nilai 5 merupakan pertanda bahwa satu istilah adalah sangat penting dan menunjukkan istilah yang harus dapat dijelaskan dengan benar oleh mahasiswa pengikut psikologi umum sampai nilai 1 yang berarti tidak penting dan menunjukkan istilah yang terlalu tinggi bahkan untuk mahasiswa psikologi tingkat sarjana. Rahayu dkk menemukan bahwa istilah operant conditioning (kondisioning operan) dan istilah punishment (hukuman) mendapat rerata nilai 4,27, istilah positive reinforcement mendapat rerata nilai 3,93, istilah omission training (pelatihan omisi) mendapat rerata nilai 2,13. Dosen pengampu Psikologi Umum di Yogyakarta dan Solo rupanya lebih menilai pentingnya mahasiswa menjelaskan dengan benar soal hukuman daripada reinforsemen positif, bahkan pelatihan omisi. Todd dan Morris (1983), sesudah mengkaji istilah kondisioning operan dalam 40 buku teks introduksi psikologi yang direview oleh jurnal Contemporary Psychology, menemukan bahwa terdapat kesalahan menyamakan istilah reinforsemen negatif dengan hukuman. Hasil serupa juga ditemukan oleh Tauber (1988) yang meminta 140 mahasiswa pengikut kuliah Introduksi Psikologi untuk mengajukan 38 BULETIN PSIKOLOGI

MELURUSKAN KONSEP KONDISIONING OPERAN istilah lain yang berarti sama dengan konsep reinforsemen negatif. Hasilnya adalah 34% mahasiswa menjawab dengan istilah hukuman dan 1% mahasiswa menjawab dengan kata seperti membentak, mempermalukan yang berarti memberi hukuman juga. Kesalahan kedua adalah 73% mahasiswa keliru menjawab bahwa reinforsemen negatif berfungsi untuk menurunkan perilaku, dan hanya sekitar 26% mahasiswa memberikan jawaban benar bahwa reinforsemen negatif meningkatkan perilaku. Tauber (1988, h.152) menyimpulkan bahwa mahasiswa secara salah berpendapat bahwa reinforsemen negatif itu sinonim dengan hukuman. Sheldon (2002) mengkaji penjelasan tentang konsep kondisioning operan dalam bab belajar dari 36 buku teks Introduksi Psikologi berdasarkan 4 kriteria: a) apakah pengarang menginformasikan secara jelas bahwa intensi seseorang yang melakukan tindakan memperkuat atau menghukum itu adalah bukan pokok persoalan. Akan tetapi yang menjadi dasar utama seharusnya adalah perubahan peluang perilaku organisme yang harus digunakan untuk menentukan apakah kondisioning telah terjadi dan tipe kondisioning apa yang telah terjadi?, b) apakah pengarang menjelaskan bahwa stimulus yang memperkuat (reinforcer) atau stimulus yang menghukum (punisher) tidak menghasilkan efek sama didalam semua situasi melainkan dirumuskan berdasar efek yang dihasilkan dalam satu situasi spesifik, c) jumlah frekuensi pengarang merumuskan reinforsemen dan hukuman tanpa mempertimbangkan peluang perubahan perilaku jika diikuti oleh, dan d) seberapa sering pengarang menyajikan informasi yang kontradiktif, tidak akurat, atau membingungkan. Sheldon (2002) menemukan bahwa kurang dari separo keseluruhan buku teks (36%) yang menginformasikan secara jelas bahwa intensi orang yang melakukan kondisioning bukanlah pokok persoalan. Misalnya, sejumlah pengarang mendiskusikan bagaimana seorang guru berniat menghukum perilaku nakal dengan menyuruh anak menempati bagian belakang ruangan (menyetrap) namun justru hal itu menjadi reinforsemen positif bagi anak, jadi malah meningkatkan peluang anak melakukan perilaku nakalnya. Lebih dari separuh buku teks (56%) menerangkan dengan jelas bahwa stimulus yang memperkuat maupun yang menghukum tidak menghasilkan efek sama didalam situasi apapun. Misalnya, pengarang menyatakan bahwa sebuah stimulus (misal, gula gula warna hitam) akan bertindak sebagai penguat bagi sejumlah individu namun bagi individu lain akan menjadi stimulus penghukum. Begitu pula stimulus yang dulunya menjadi penguat bagi organisme (misal, air) mungkin akan kehilangan kemampuan bertindak sebagai penguat pada masa lain (misal, segera sesudah minum 4 gelas air). Sheldon juga menemukan bahwa 32 buku teks dari keseluruhan 36 buku teks (92%) gagal menginformasikan kepada pembaca bahwa perubahan peluang atau perubahan jumlah perilaku adalah salah satu hal yang merumuskan apakah sesuatu peristiwa itu reinforsemen atau hukuman. Pernyataan yang salah, kontradiktif dan membingungkan ditunjukkan oleh 97% buku teks dengan jumlah antara 1 9. Kesalahan itu antara lain (a) pernyataan bahwa terkadang hukuman tidak menyebabkan penurunan perilaku (berdasarkan definisi, hal itu bukan hukuman), (b) merumuskan reinforsemen sebagai pemberian sebuah hadiah untuk meningkatkan perilaku (meski situasi ini hanya menunjuk pada reinforcemen positif), (c) memakai istilah reinforsemen positif dan negatif untuk menggambarkan sifat menyenangkan BULETIN PSIKOLOGI 39

HASTJARJO sebuah stimulus (dan bukan atau tambahan untuk menggambarkan apakah satu stimulus ditambahkan atau dihilangkan), (d) merumuskan reinforsemen negatif sebagai pengubahan (dan bukan meningkatkan) sebuah perilaku untuk menghindari sesuatu, (e) menyatakan bahwa hukuman pada umumnya atau seringkali menghasilkan penurunan perilaku (padahal, berdasarkan definisi, hukuman menyebabkan penurunan peluang perilaku). Tauber (1988) menyarankan beberapa cara untuk mengurangi kekeliruan dalam memahami konsep reinforsemen negatif. Cara pertama adalah membuat satu matriks kisi kisi 2x2. Bagian kolom matriks diberi label efek perilaku: menerapkan atau menghilangkan dan pada bagian baris matriks diberi label kategori : sesuatu yang menyenangkan atau sesuatu yang tidak menyenangkan. Mahasiswa diminta memikirkan kombinasi antara perilaku dengan berperilaku yang tidak dapat digambarkan oleh kisi kisi. Ternyata tidak ada contoh yang tidak dapat dimasukkan kedalam kisi kisi. Empat kuadran matriks tersebut dapat diberi label oleh mahasiswa, sehingga mahasiswa akan menyadari bahwa kuadran berlabel reinforsemen negatif tidak akan pada waktu yang sama diberi label hukuman. Tabel 1 Matriks perilaku (2) dengan perilaku (2) (dibuat berdasarkan saran Tauber, 1988) Sesuatu yang menyenangkan Sesuatu yang tak menyenangkan Menerapkan Menghilangkan Cara remedi kedua yang disarankan Tauber adalah memberikan contoh untuk menerangkan perbedaan antara reinforsemen negatif dengan hukuman. Misalnya, dengan pernyataan seorang guru kepada seorang murid (1) Oleh karena kamu membantah, kamu harus tetap tinggal di kelas sesudah sekolah usai dan (2) Kamu harus tetap tinggal di kelas sesudah sekolah usai sampai kamu membersihkan tempat dudukmu. Pernyataan pertama menunjukkan contoh hukuman, sedangkan pernyataan kedua menunjukkan reinforsemen negatif. Pada pernyataan pertama, sebuah stimulus tidak menyenangkan (tetap tinggal di kelas sesudah sekolah usai) diterapkan untuk memperlemah perilaku yang tidak dikehendaki (membantah guru). Pada pernyataan kedua, sebuah stimulus tidak menyenangkan (tetap tinggal di kelas sesudah sekolah usai) dihilangkan untuk meningkatkan perilaku yang dikehendaki (membersihkan tempat duduk). Cara remedi selanjutnya adalah menjelaskan bahwa kekeliruan menyamakan reinforsemen negatif dengan hukuman disebabkan arti konotasi kata negatif. Kata negatif dalam reinforsemen negatif tidak berarti pertimbangan nilai (perilaku baik/ buruk) tapi hanya sebuah tindakan. Positif berarti menyediakan sesuatu, negatif berarti menghilangkan/meniadakan sesuatu. Para mahasiswa mengabaikan kenyataan bahwa baik reinforsemen positif maupun reinforsemen negatif mengandung kata kunci reinforsemen sesuatu yang dicari orang pada umumnya. Penggambaran mengenai tipologi kondisioning operan di buku teks Introduksi Psikologi yang bersifat umum dan merupakan pengantar sebenarnya dapat mengacu langsung pada buku yang lebih spesial yakni buku psikologi belajar (misal Domjan & Buckhard, 1986; Schwartz & Robbins, 1995). Istilah kondisioning operan atau 40 BULETIN PSIKOLOGI

MELURUSKAN KONSEP KONDISIONING OPERAN instrumental, yang dikembangkan Thorndike dan B. F Skinner, bersifat deskriptif. Disebut kondisioning instrumental oleh karena perilaku merupakan instrumen/alat (bersifat instrumental) untuk memperoleh hadiah (rewards). Disebut sebagai kondisioning operan sebab perilaku beroperasi pada lingkungan atau punya efek pada lingkungan. Jadi perilaku operan selalu dikaitkan dengan efek/ yang ditimbulkan oleh perilaku itu. Itulah sebabnya tabel 1 diatas hakekatnya merupakan tabel yang menggambarkan hubungan antara perilaku dengan perilaku atau antara respons dengan dampak. Inti kondisioning operan adalah bahwa perilaku mempunyai efek pada peristiwa di lingkungan. Peristiwa lingkungan dapat digolongkan berdasar dua sifat (a) kejadian yang menyenangkan dan dinamakan stimulus apetitif, serta (b) kejadian yang tidak menyenangkan dan disebut stimulus aversif. Perilaku yang berefek pada lingkungan dapat juga digolongkan menjadi dua, yaitu perilaku yang (a) menghasilkan peristiwa di lingkungan, serta (b) menghilangkan/ meniadakan peristiwa di lingkungan. Jika dua pembagian dikotomis tadi digabungkan maka jadilah tabel 1 seperti saran Tauber untuk menggambarkan kisi kisi 2x2 atau sebenarnya dapat dijumpai di buku psikologi belajar seperti pada Tabel 2 berikut. Hubungan perilaku dengan perilaku juga dapat dikategorikan menjadi dua sifat: (a) Perilaku menghasilkan perilaku, ini disebut ada hubungan positif antara perilaku dengan nya, (b) Perilaku menghilangkan/meniadakan perilaku, berarti ada hubungan negatif antara perilaku dengan perilaku (Domjan & Buckhard, 1986). Reinforsemen positif menunjuk pada hubungan positif antara perilaku dengan stimulus yang menyenangkan (stimulus apetitif/penguat). Dengan kata lain, jika subjek melakukan tindakan, maka dia mendapatkan stimulus penguat; jika dia tidak melakukan tindakan maka penguat tidak diberikan. Reinforsemen positif akan meningkatkan peluang dilakukannya kembali perilaku (Tanda panah keatas menunjukkan peningkatan peluang perilaku tersebut). Misal, seorang dosen memberi sanjungan kepada mahasiswa hanya jika mahasiswa menulis makalah dengan padat berisi; seorang karyawan mendapat bonus hanya jika dia dapat melampaui target kerjanya. Tabel 2 Tipe prosedur kondisioning operan/hubungan perilaku dengan perilaku (Modifikasi dari Schwartz & Robbins (1995) Sesuatu yang menyenangkan (stimulus apetitif) Sesuatu yang tak menyenangkan (stimulus aversif) Menghasilkan Reinforsemen positif Hukuman Menghilangkan Pelatihan omisi Reinforsemen negatif BULETIN PSIKOLOGI 41

HASTJARJO Hukuman menunjuk pada hubungan positif antara perilaku dengan stimulus tidak menyenangkan (stimulus aversif/ penghukum). Jika subjek melakukan tindakan maka subjek akan menerima stimulus aversif; jika dia tidak melakukan tindakan maka stimulus aversif tidak akan diterima. Hukuman akan menurunkan peluang dilakukannya kembali perilaku (Tanda panah kebawah menujukkan penurunan peluang perilaku tersebut). Misalnya, seorang ibu akan mengomeli anaknya yang masih kecil jika ia berlarian di jalan namun anak tidak mendapat omelan jika ia bermain di dalam pekarangan. Pengawai negeri sipil yang berada diluar pada jam kantor tanpa surat ijin akan mendapat surat peringatan atasan. Reinforsemen negatif menunjuk pada hubungan negatif antara perilaku dengan stimulus yang tidak menyenangkan (stimulus aversif/penghukum). Jika subjek melakukan tindakan maka tindakan subjek akan menghilangkan stimulus aversif. Reinforsemen negatif akan meningkatkan peluang dilakukannya kembali perilaku (Tanda panah keatas menunjukkan peningkatan peluang perilaku tersebut). Terdapat dua tipe reinforsemen negatif: a) Pelarian diri (escape). Dalam kasus ini, stimulus yang tidak menyenangkan berlangsung terus pada saat sekarang namun perilaku akan menghentikan stimulus aversif tersebut. Misal, bagi sejumlah narapidana, maka untuk menghilangkan ketidaknyamanan hidup di penjara jalan satu satunya adalah melarikan diri; Seorang yang merasa kedinginan diruang ber AC maka untuk tidak merasa kedinginan lagi dia mematikan AC, b) Penghindaran (avoidance). Dalam kasus ini, stimulus aversif akan terjadi di masa depan namun dengan melakukan suatu tindakan maka pengalaman dengan stimulus yang tidak menyenangkan tersebut akan dapat dicegah. Misal, pengendara sepeda motor membawa SIM dan STNK agar terhindar dari tilang jika ada razia oleh Polisi; Suami isteri muda yang belum ingin punya anak menggunakan cara kontrasepsi agar kehamilan tidak terjadi. Semua perilaku pencegahan termasuk reinforsemen negatif. Pelatihan omisi (omission training) menunjuk pada hubungan negatif antara perilaku dengan stimulus yang menyenangkan (stimulus apetitif/penguat). Jika subjek melakukan tindakan, maka tindakan itu akan menghilangkan stimulus yang menyenangkan. Jika subjek tidak melakukan tindakan maka stimulus apetitif diberikan. Pelatihan omisi akan menurunkan peluang dilakukannya kembali perilaku (Tanda panah kebawah menujukkan penurunan peluang perilaku tersebut). Misalnya, seorang anak diminta masuk ke dalam kamar oleh ibu ketika anak melakukan tindakan terlalu lama menonton televisi. Kembali ke kamar bukanlah stimulus tidak menyenangkan sebab tidak ada sesuatu yang bersifat aversif dalam kamar anak. Jadi ibu tidak menghukum atau memberikan stimulus aversif. Dengan mengirim anak ke kamar maka ibu menghilangkan sumber stimulus yang menyenangkan bagi anak (stimulus apetitif/penguat), yaitu menonton televisi. Mencabut hak memiliki SIM bagi pengemudi mabuk juga termasuk pelatihan omisi sebab pencabutan tersebut menghentikan reinforsemen hak istimewa mengemudi. Daftar Pustaka Boneau. C. A. (1990). Psychological literacy: A first approximation. American Psychologist, 45, 7, 891 900. Buskist, W., Miller, E., Ecott, C., & Critchfield. T. S. (2000). Updating coverage of operant conditioning in 42 BULETIN PSIKOLOGI

MELURUSKAN KONSEP KONDISIONING OPERAN introductory psychology. Teaching of Psychologist, 26, 4, 280 283. Domjan, M., & Burkhard, B. (1986). The principle of learning and behavior, 2 nd Edition. Wadsworth, Inc: Belmont, CA. Griggs, R. A., Bujak Johnson, A., & Proctor, D, L. (2004). Using common core vocabulary in text selection and teaching in the introductory course. Teaching of Psychologist, 31,4, 265 269. Rahayu, R. W., Emeldah, & Hastjarjo, T. D. (2009). Konsep inti psikologi menurut dosen pengampu matakuliah Psikologi Umum. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan). Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Scwartz, B., & Robbins, S.J. (1995). Psychology of learning and behavior, 4 th Edition. W. W. Norton & Company: New York Sheldon, J. P. (2002). Operant conditioning concepts in introductory psychology textbooks and their companion web sites. Teaching of Psychologist, 29, 4, 281 285. Tauber, R. T. (1988). Overcoming misunderstanding about the concept of negative reinforcement. Teaching of Psychologist, 15, 3, 152 153. Todd, J. T., & Morris, E. K. (1983). Misconception and miseducation: Presentations of radical behaviorism in psychology textbooks. The Behavior Analyst. 6, 153 160. BULETIN PSIKOLOGI 43