Bab VIII.17 Japanese Ensefalitis

dokumen-dokumen yang mirip
Bab VIII.5 Haemophillus Influenzae tipe B

Bab VIII.2 Poliomielitis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Manfaat imunisasi untuk bayi dan anak

REKOMENDASI No.: 013/Rek/PP IDAI/IV/2016 Penggantian Vaksin Saat Kelangkaan Vaksin

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Flaviviridae dan ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini termasuk nomor dua

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan Milenium atau lebih dikenal dengan istilah Millenium Development

dr. Mei Neni Sitaresmi, PhD, SpA(K)

BAB I PENDAHULUAN. Program kesehatan di Indonesia periode adalah Program

DAFTAR PUSTAKA Universitas Indonesia

Kata Kunci: Pengetahuan, KIPI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit infeksi sistem saraf pusat masih. merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hepatitis karena infeksi virus merupakan penyakit. sistemik yang menyerang hepar. Penyebab paling banyak

Hak Cipta Dilindungi Undangundang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Infeksi sistem saraf pusat merupakan penyakit. yang menjadi perhatian dunia dan penyebab yang penting

Gejala Penyakit CAMPAK Hari 1-3 : Demam tinggi. Mata merah dan sakit bila kena cahaya. Anak batuk pilek Mungkin dengan muntah atau diare.

Laporan kasus berbasis bukti Perbandingan Efektivitas dan Keamanan Vaksin Pertusis Aselular dan Whole-cell

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/528/2017 TENTANG PENUNJUKAN RUMAH SAKIT PELAKSANA LAYANAN HEPATITIS C

DAFTAR PUSTAKA. Kelengkapan imunisasi..., Mathilda A., FK UI., Universitas Indonesia

DEFINISI KASUS MALARIA

IMUNISASI SWIM 2017 FK UII Sabtu, 14 Oktober 2017

MODUL 2 DASAR DASAR FLU BURUNG, PANDEMI INFLUENZA DAN FASE FASE PANDEMI INFLUENZA MENURUT WHO

Manifestasi Klinis dan Faktor-faktor yang. di RSUP Sanglah Denpasar. Putu Junara Putra, I Komang Kari

PENGARUH GROWTH FALTERING TERHADAP KEJADIAN DEMAM DAN KEJANG DEMAM PADA ANAK PASCA IMUNISASI CAMPAK LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

BAB 1 PENDAHULUAN. kesehatan sehingga mampu meningkatkan rata-rata usia harapan hidup.

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio

Optimisme Cakupan Vaksin MR Menuju Generasi Sehat Berkualitas

DAFTAR PUSTAKA. 1. B.K. Mandall., et all. Lecture Notes: Penyakit Infeksi. Jakarta: Penerbit

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB II. PEMBAHASAN MASALAH & SOLUSI MASALAH PERANCANGAN KAMPANYE PENGGUNAAN VAKSIN

VACCINATION FOR WORKER

BAB I PENDAHULUAN. oleh virus dan bersifat zoonosis. Flu burung telah menjadi perhatian yang luas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. peningkatan angka kejadian, tidak hanya terjadi di Indonesia juga di berbagai

2017, No Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan L

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

PENJADWALAN IMUNISASI ANAK USIA 0 18 TAHUN MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu dari 17 program pokok pembangunan kesehatan adalah program

Lalu, kekebalan seperti apa yang dimiliki bayi di bulan-bulan pertamanya?

BAB I PENDAHULUAN. penyebabnya adalah gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat. Murwanti dkk,

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2014 TENTANG PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BAB 1 PENDAHULUAN. pembangunan dibidang kesehatan (Depkes, 2007). masyarakat dunia untuk ikut merealisasikan tercapainya Sustainable Development

BAB I PENDAHULUAN. dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita. Imunisasi merupakan

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara berkembang yang berada pada periode triple

BAB 1 : PENDAHULUAN. dalam Sustainable Development Goals (SDG S). Tujuan ke ketiga SDGs adalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. Asia Tenggara termasuk di Indonesia terutama pada penduduk yang

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP ORANGTUA DENGAN STATUS IMUNISASI ANAKNYA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BANGUNTAPAN II BANTUL YOGYAKARTA 2017

BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 5 TAHUN 2017 TENTANG PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR

BAB 1 : PENDAHULUAN. membungkus jaringan otak (araknoid dan piameter) dan sumsum tulang belakang

BAB II PEMBAHASAN. Tujuan Surveilans Epidemiologi 2 Tujuan surveilans epidemiologi yaitu:

BAB I PENDAHULUAN. oleh virus. Campak disebut juga rubeola, morbili, atau measles. Penyakit ini

BAB I PENDAHULUAN. setidaknya 50% angk kematian di Indonesia bisa dicegah dengan imunisasi dan

BAB I PENDAHULUAN. mencegah tubuh dari penularan penyakit infeksi. Penyakit infeksi. adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit campak merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak di

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memasukan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah

FAKTA IMUNISASI MENEPIS RUMOR IMUNISASI

PENGARUH REAKSI IMUNISASI DPT/HB TERHADAP SIKAP DAN PERILAKU IBU DALAM PELAKSANAAN IMUNISASI DPT/HB DI KOTA SEMARANG

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat berbahaya, demikian juga dengan Tetanus walau bukan penyakit menular

Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Vaksin Kombinasi DPwT (Sel Utuh) dan Hepatitis B

Pertanyaan Seputar Flu A (H1N1) Amerika Utara 2009 dan Penyakit Influenza pada Babi

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. mencegah terhadap penyakit tertentu. Sedangkan vaksin adalah bahan yang


BAB 1 PENDAHULUAN. fungsi otak, medulla spinalis, saraf perifer dan otot.

BAB 1 : PENDAHULUAN. satu di dunia. Data World Health Organization (WHO) tahun 2014 menunjukkan

TETAP SEHAT! PANDUAN UNTUK PASIEN DAN KELUARGA

cita-cita UUD Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan

DINAS KESEHATAN KABUPATEN CIANJUR PUSKESMAS CIANJUR KOTA LAMPIRAN NOMOR : TENTANG KERANGKA ACUAN KEGIATAN KAMPANYE VAKSIN MEALSES- RUBELLA (MR)

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat karena menyebar dengan cepat dan dapat menyebabkan kematian (Profil

BAB 1 PENDAHULUAN. berbagai penyakit seperti TBC, difteri, pertusis, hepatitis B, poliomyelitis, dan

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) selalu merupakan beban

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HUBUNGAN ANTARA SIKAP IBU TENTANG IMUNISASI DASAR DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KECAMATAN MIRI SRAGEN

Ike Ate Yuviska(¹), Devi Kurniasari( 1 ), Oktiana (2) ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. dari seluruh penduduk dunia adalah pembawa kronis penyakit hepatitis B (Zanetti et

BAB I PENDAHULUAN. puncak kejadian leptospirosis terutama terjadi pada saat musim hujan dan

Media tertentu 1. udara (TBC, Influenza dll), 2. tempat makan dan minum yang kurang bersih pencuciannya (Hepatitis, Typhoid/Tifus dll), 3.

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar. Suhu yang dimaksud adalah

Faktor Risiko Lingkungan pada Pasien Japanese Encephalitis

Angka kematian bayi dan anak merupakan salah satu indikator penting yang

Transkripsi:

Hardiono Pusponegoro Bab VIII.17 Japanese Ensefalitis Hardiono Pusponegoro Virus Japanese encephalitis (JE) termasuk famili Flavivirus yang ditularkan melalui nyamuk, dengan pejamu utama burung dan babi. Virus JE merupakan salah satu penyebab terpenting dari ensefalitis virus di Asia berdasarkan data epidemiologi dan berat penyakit. Virus JE mirip dengan virus West Nile, ensefalitis St. Louis, dan ensefalitis Murray Valley. Epidemiologi Ensefalitis disebabkan JE ditemukan di Asia dan sebagian Pasifik. Ensefalitis JE lebih sering ditemukan di negara beriklim tropis dibanding beriklim dingin, terutama pada musim hujan. Setiap tahun diperkirakan terjadi 35.000-50.000 kasus ensefalitis JE. Sebanyak 20-30% pasien meninggal dan 30-50% di antara yang hidup mengalami gejala sisa neurologis. Imunisasi untuk PD31 Di Bali, telah dilakukan penelitian prospektif terhadap suatu populasi yang terdiri dari 599.120 anak antara tahun 2001-2003. Kriteria surveilans adalah demam lebih dari 38 o C, defisit neurologis termasuk kejang, dan/atau perubahan status mental dan/atau gejala rangsang meningeal. Ditemukan 86 kasus confirmed ditandai dengan ditemukannya IgM JE di dalam cairan serebrospinal dan 4 kasus probable ditandai dengan ditemukannya IgM JE dalam serum. Kejadian ensefalitis JE adalah 7 per 100.000 anak berumur kurang dari 10 tahun, 70% kasus berumur kurang dari 5 tahun, dan hanya 1 kasus berumur lebih dari 10 tahun. Dilaporkan 11% kasus meninggal dunia, dan 36% di antara kasus hidup mengalami gejala sisa neurologis. 362

Japanese Ensefalitis Selanjutnya, pada tahun 2005-2006 di Indonesia dilakukan penelitian yang meliputi 15 rumah sakit di 6 provinsi terhadap anak berumur kurang dari 15 tahun. Ditemukan 1496 kasus ensefalitis, 28 di antaranya disebabkan JE. Proporsi JE sebagai penyebab ensefalitis bervariasi antara 2%-18%. Sembilan puluh lima persen kasus ditemukan pada anak berumur kurang dari 10 tahun. Mortalitas dan gejala sisa neurologis terjadi pada 47% kasus. Adanya daerah endemis JE menyebabkan risiko mengalami ensefalitis JE pada wisatawan, sebesar < 1 kasus per juta wisatawan. Risiko tersebut bervariasi berdasar tujuan, lama tinggal, musim, dan aktivitas. Risiko terinfeksi lebih besar pada wisatawan yang tinggal lebih lama dari 1 bulan di daerah pedesaan, dan banyak beraktivitas di luar ruangan. Sejak tahun 1973-2008, hanya 55 kasus ensefalitis JE pada wisatawan yang dilaporkan. Prediksi memperkirakan bahwa ensefalitis JE dapat menjadi masalah di masa depan di negara Bangladesh, Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmar, Korea Utara, dan Pakistan karena bertambahnya populasi, pencetakan sawah baru, dan peternakan babi, tanpa adanya program imunisasi dan surveilans yang baik. Selain itu dikuatirkan terjadi penyebaran ke negara lain disebabkan pergeseran populasi, perubahan iklim, ekologi, pertanian, import hewan, atau migrasi burung. Transmisi/penyebaran virus Virus JE ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk, terutama spesies Culex tritaeniorrhynchus yang bertelur di air tergenang, misalnya di sawah. Nyamuk ini terutama menggigit manusia setelah matahari terbenam. Banyak binatang yang dapat terinfeksi virus, namun hanya yang mengalami viremia hebat dan cukup lama yang penting dalam siklus kehidupan alamiah. Pejamu virus terpenting adalah burung dan babi. Burung berperan dalam amplifikasi virus dan penyebaran ke daerah yang jauh. Babi merupakan pejamu yang terpenting karena sering berada dekat manusia, mengalami viremia 363 Imunisasi untuk PD31

Hardiono Pusponegoro yang lama dan hebat. Manusia sendiri disebut sebagai pejamu deadend, karena viremia tidak cukup hebat dan tidak cukup lama untuk menularkan ke nyamuk lagi. Manifestasi klinis Dilaporkan 1 dari 25 sampai 1 dari 1000 orang yang terinfeksi akan memperlihatkan gejala klinis. Masa inkubasi adalah 5-15 hari. Pada awalnya terlihat sebagai infeksi virus biasa dengan demam beberapa hari, disertai pilek, diare, muntah, dan nyeri kepala. Sebagian pasien dapat sembuh sendiri, sebagian menunjukkan gejala seperti kejang demam, dan sebagian menunjukkan gejala meningitis aseptik tanpa ensefalitis. Paralisis flaksid juga pernah dilaporkan. Perkembangan penyakit yang paling buruk adalah terjadinya ensefalitis. Gejala ensefalitis adalah kejang dan penurunan kesadaran. Kejang terutama kejang umum tonik-klonik, yang dapat berkembang menjadi status epileptikus disertai berbagai komplikasi. Sebagian kecil pasien menunjukkan kejang subtle berupa twitching jari, mata, mulut, nistagmus, salivasi yang sulit dibuktikan sebagai kejang kecuali dengan pemeriksaan elektroensefalografi. Deskripsi klasik ensefalitis JE adalah wajah seperti topeng dengan mata terbuka tanpa mengedip, tremor, hipertonia rigiditas, dan opistotonus. Dapat pula terlihat mioklonus dan koreoatetosis, dan kelumpuhan saraf otak. Sekitar 30% pasien meninggal, dan separuh di antara yang selamat menunjukkan gejala sisa neurologis berat berupa kelumpuhan, gejala ekstrapiramidal, ganguan kognitif dan bahasa. Gejala sisa lebih sering ditemukan pada anak. Gejala sisa yang ringan berupa kesulitan belajar, gangguan perilaku dan gejala neurologis minor. Imunisasi untuk PD31 Vaksin JE Vaksin terhadap JE telah dibuat sejak 70 tahun yang lalu, berupa 364

Japanese Ensefalitis vaksin formalin-inactivated yang ditumbuhkan dalam otak tikus yang disebut sebagai vaksin JE-MB (JE-mouse brain vaccine). Digunakannya otak tikus menimbulkan kekhawatiran adanya efek samping neurologis dari vaksin ini misalnya acute disseminated encephalomyelitis (ADEM) pada satu di antara 1 juta dosis. Di Amerika terdapat 2 vaksin yang direkomendasikan untuk wisatawan. Pertama adalah JE-VAX (JE-MB) yang ditumbuhkan dalam otak tikus dapat diberikan untuk orang berumur >1 tahun, namun produksinya telah dihentikan. Vaksin lain adalah vaksin mati berasal dari kultur sel vero bernama IXIARO (JE-VC = JE vero cell). Vaksin JE-VC tidak mengandung gelatin dan jaringan saraf seperti JE-MB, sehingga diharapkan tidak menyebabkan efek samping neurologis. Di Cina telah dikembangkan vaksin hidup SA-14-14-2. Vaksin ini telah digunakan di Nepal, India, Cina, Korea dan Sri Lanka. WHO belum memberi izin karena vaksin ini ditumbuhkan dalam sel ginjal hamster. Beberapa vaksin lain yang masih menunggu izin di Amerika adalah IC51, suatu vaksin murn inactivated dengan kultur jaringan dan ChimeriVax-JE, suatu vaksin hidup terhadap yellow fever dan JE dari Sanofi-Aventis. ChimeriVax telah mendapat izin di Thailand, Cina dan India. Rekomendasi vaksinasi JE untuk pelancong Vaksin JE-MB direkomendasikan untuk wisatawan yang akan tinggal selama lebih dari 1 bulan di daerah endemik selama masa transmisi virus JE. Vaksin JE-MB dipertimbangkan untuk wisatawan yang akan tinggal selama kurang dari 1 bulan di daerah endemis JE bila mempunyai rencana untuk mengunjungi daerah rural, daerah yang sedang mengalami outbreak JE, dan yang mengunjungi daerah endemis JE tanpa kepastian tujuan, aktivitas dan lama kunjungan. Rekomendasi juga diberikan terhadap petugas laboratorium yang dapat terinfeksi virus JE. 365 Imunisasi untuk PD31

Hardiono Pusponegoro Vaksin JE-MB dapat diberikan kepada anak berumur lebih dari 1 tahun. Diberikan 3 dosis hari 0, 7 dan 30 secara subkutan. Dosis terakhir paling lambat 10 hari sebelum keberangkatan. Namun vaksin JE-MB telah dihentikan produksinya. Dosis Vaksin JE-VC diberikan 2 kali dengan interval 28 hari intramuskular. Kekebalan terbentuk 7 hari setelah dosis kedua dan bertahan sampai 6-12 bulan. Harga vaksin JE-VC adalah $390 untuk 2 dosis. Vaksin telah diuji pada anak di India, namun di Amerika belum mendapat persetujuan untuk orang berumur kurang dari 17 tahun. Vaksinasi massal Di beberapa negara misalnya Jepang, Taiwan dan Korea, vaksin terhadap JE telah diberikan terhadap semua anak di dalam populasi sebagai bagian dari program imunisasi. Penelitian di Bali menghasilkan rekomendasi untuk memberikan vaksin terhadap JE secara menyeluruh. Daftar rujukan Imunisasi untuk PD31 1. Fischer M, Griggs A, Staples EJ. Chapter 2. The pre-travel-consultation. Travel-Related vaccine-preventable diseases. CDC yellow book 2010: Available from: http://wwwnc. cdc.gov/travel/yellowbook/2010/chapter-2/japanese-encephalitis.aspx. 2. Halstead SB, Thomas SJ. New vaccines for japanese encephalitis. Curr Infect Dis Rep 2010, May;12:174-80. 3. Solomon T, Dung NM, Kneen R, gainsborough M, Vaughn DW, Knanh VT. Japanese encephalitis. J Neurol Neurosurg Psychiatry 2000;68:405-15. 4. Bista MB, Shrestha JM. Epidemiological situation of japanese encephalitis in nepal. JNMA J Nepal Med Assoc 2005;44:51-6. 5. Fischer M, Lindsey N, Staples JE, Hills S, Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Japanese encephalitis vaccines: Recommendations of the advisory committee on immunization practices (ACIP). MMWR Recomm Rep 2010, Mar 12;59(RR-1):1-27. 366

Japanese Ensefalitis 6. Ompusunggu S, Hills SL, Maha MS, Moniaga VA, Susilarini NK, Widjaya A, et al. Confirmation of Japanese encephalitis as an endemic human disease through sentinel surveillance in indonesia. Am J Trop Med Hyg 2008, Dec;79:963-70. 7. Yen NT, Duffy MR, Hong NM, Hien NT, Fischer M, HillsSL. Surveillance for japanese encephalitis in vietnam, 1998-2007. Am J Trop Med Hyg 2010, Oct;83:816-9. 8. Le VT, Phan TQ, Do QH, Nguyen BH, Lam QB, Bach VC, et al. Viral etiology of encephalitis in children in southern Vietnam: Results of a one-year prospective descriptive study. Plos Negl Trop Dis 2010;4:e854. 9. Touch S, Hills S, Sokhal B, Samnang C, Sovann L, Khieu V, et al. Epidemiology and burden of disease from Japanese encephalitis in Cambodia: Results from two years of sentinel surveillance. Trop Med Int Health 2009, Nov;14:1365-73. 367 Imunisasi untuk PD31

Edisi Kelima Tahun 2014 Pedoman Imunisasi Di Indonesia Penyunting IG.N. Gde Ranuh Hariyono Suyitno Sri Rezeki S. Hadinegoro Cissy B. Kartasasmita Ismoedijanto Soedjatmiko Satgas Imunisasi - Ikatan Dokter Anak Indonesia i

Disclaimer Isi di dalam buku Pedoman Imunisasi di Indonesia ada lah hasil kesepakatan para penulis dan editor Satgas Imunisasi IDAI yang berasal dari berbagai sumber. Buku ini merupakan pedoman umum dalam melakukan imunisasi di Indonesia dan dapat disesuaikan dengan kondisi setempat. Kemungkinan dapat terjadi perbedaan dengan sumber-sumber lain karena perkembangan ilmu dan kebijakan setempat. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang memperbanyak, mencetak dan menerbitkan sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara dan bentuk apapun juga tanpa seizin penulis dan penerbit Diterbitkan pertama kali tahun 2001 Diterbitkan kedua kali tahun 2005 Diterbitkan ketiga kali tahun 2008 Diterbitkan keempat kali tahun 2011 Diterbitkan kelima kali tahun 2014 Koordinator Penerbitan Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sp.A(K) Art director: J.A. Wempi Type setting: Diyan Dwinandio, Yuni Astria, Unggul Sodjo Sumber foto sampul: Agung Darmanto, JO Octora, Ahmad Fadil, Kusnandi Rusmil Edisi 5, cetakan pertama 2014 Penerbit buku ini dikelola oleh: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia ISBN 978-979-8421-34-1 ii

Daftar Isi Sambutan Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI... iii Prakata Tim Penyunting...v Daftar Kontributor...ix Daftar Singkatan... xiii Bab I Bab II Bab III Bab IV Bab V Dasar-Dasar Imunisasi...1 1 Imunisasi Upaya Pencegahan Primer...2 2 The Value of Vaccination...9 3 Basis Imunologi Vaksinasi...24 Jadwal Imunisasi...45 1 Program Imunisasi Nasional...46 2 Jadwal Imunisasi...54 3 Jadwal Imunisasi Tidak Teratur...74 4 Vaksin Kombinasi...79 5 Imunisasi Anak Sekolah dan Remaja...91 Imunisasi Kelompok Berisiko...99 1 Imunisasi pada Bayi dan Anak Berisiko...100 2 Travel Vaccination...112 3 Vaksinasi dalam Keadaan Bencana...121 Prosedur Imunisasi...130 1 Jenis Vaksin...131 2 Tata Cara Pemberian Imunisasi...137 3 Penjelasan Kepada Orangtua Mengenai Imunisasi...152 4 Pencatatan Imunisasi...161 5 Penyuntikan yang Aman (Safety Injection) dan Penanganan Limbah Imunisasi...165 Penyimpanan dan Transportasi Vaksin...179 1 Rantai Vaksin...180 vii

2 Kualitas Vaksin...190 Bab VI Bab VII Imunisasi Pasif...195 Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)...211 1 Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)/ Adverse Events Following Immunization (AEFI)...212 2 Pelaporan KIPI...239 Bab VIII Imunisasi untuk PD31...246 1 Hepatitis B...247 2 Poliomielitis...255 3 Tuberkulosis...266 4 Difteri, Tetanus, Pertusis...271 5 Haemophillus Influenza tipe B...284 6 Pneumokokus...288 7 Rotavirus...299 8 Influenza...305 9 Campak...313 10 Varisela...318 11 Campak, Gondongan dan Rubela (Measles, Mumps, Rubella = MMR)...322 12 Tifoid...330 13 Hepatitis A...335 14 Human Papilloma Virus...342 15 Rabies/Lyssa...347 16 Meningokokus...355 17 Japanese Ensefalitis...362 18 Yellow Fever...368 19 Kolera...373 Bab IX Bab X Bab XI Miskonsepsi dan Kontroversi...377 1 Miskonsepsi Imunisasi...378 2 Kontroversi dalam Imunisasi...387 Tanya Jawab Orang Tua Mengenai Imunisasi...400 Glossary...414 Daftar Vaksin yang Beredar di Indonesia...420 viii

Daftar Kontributor Achmad Suryono (alm) Agus Firmansyah Anang Endaryanto Alan Roland Tumbelaka (alm) Arwin A Purbaya Akib Boerhan Hidayat Cissy B Kartasasmita Corry S. Matondang (alm) Dahlan Ali Musa Fatimah Indarso UKK Perinatologi IDAI UKK Gastrohepatologi IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Alergi Imunologi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Airlangga/RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Infeksi & Pediatri Tropis IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/ RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Alergi Imunologi IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Gizi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Airlangga/ RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Respirologi IDAI, Bagian IKA, FK Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung UKK Alergi Imunologi IDAI UKK Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial IDAI UKK Perinatologi IDAI Gatot Irawan Sarosa UKK Perinatologi IDAI, Bagian IKA, FK Diponegoro/RSUP Dr. Kariadi, Semarang Hanifah Oswari UKK Gastrohepatologi IDAI, Departemen IKA, FK Universitas Indonesia/RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta ix

Hardiono D Poesponegoro Hariyono Soeyitno Harsono Salimo Hartono Gunardi Hindra Irawan Satari Iskandar Syarif Ismoedijanto P. Moedjito IGN Gde Ranuh Jose R L Batubara Kusnandi Rusmil Muhammad Slamet Chandra Kusuma UKK Neurologi IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Bagian IKA FK Universitas Sebelas Maret/RSUD Dr. Moewardi, Solo UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Infeksi dan Pediatri Tropis IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/ RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Neurologi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil, Padang UKK Infeksi dan Pediatri Tropis IDAI, Bagian IKA, FK Airlangga/RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Bagian IKA, FK Airlangga/ RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Endokrin IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Bagian IKA, FK Universitas Padjadjaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung UKK Respirologi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Brawijaya/RSUD Saiful Anwar, Malang x

Nastiti N.Rahajoe Noenoeng Rahajoe Purnamawati S. Pujiarto Soedjatmiko Soegeng Soegijanto Sofyan Ismael Sri Rezeki S.Hadinegoro Sri Suparyati Soenarto Syahril Pasaribu Syawitri P Siregar TH Rampengan Titut S. Poesponegoro (alm) UKK Respirologi IDAI UKK Respirologi IDAI UKK Gastrohepatologi IDAI UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Infeksi dan Pediatri Tropis IDAI, Bagian IKA, FK Airlangga/RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Neurologi IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Infeksi dan Pediatri Tropis IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/ RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Gastro-Hepatologi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Gadjah Mada/RSUP. Dr. Sardjito, Yogyakarta UKK Infeksi & Pediatri Tropis IDAI, Bagian IKA, FK Sumatera Utara/ RSUP Dr. H Adam Malik, Medan UKK Alergi Imunologi IDAI UKK Infeksi & Pediatri Tropis IDAI, Bagian IKA, FK Sam Ratulangi/ RSUP Dr. Malalayang, Manado UKK Perinatologi IDAI xi

Toto Wisnu Hendarto UKK Perinatologi IDAI, Bagian IKA RS Ibu & Anak Harapan Kita, Jakarta UKK: Unit Kerja Koordinasi xii