BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

RADIOLOGI KEDOKTERAN GIGI. Ghita Hadi Hollanda, drg

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 RADIOGRAFI PANORAMIK. secara umum di kedokteran gigi untuk mendapatkan gambaran utuh dari keseluruhan

untuk melihat area yang luas pada rahang atas dan rahang bawah pada satu film c. Foto ekstraoral

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 3 GAMBARAN RADIOGRAFI KALSIFIKASI ARTERI KAROTID. Tindakan membaca foto roentgen haruslah didasari dengan kemampuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I. dalam kehidupan sehari-hari. Kesehatan pada dasarnya ditunjukan untuk. untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. Penyakit gigi dan mulut

Bab 2. Nilai Batas Dosis

OSTEOSARCOMA PADA RAHANG

BAB I PENDAHULUAN. tepat menghasilkan kualitas gambar intraoral yang dapat dijadikan untuk. sebelumnya (Farman & Kolsom, 2014).

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 KANINUS IMPAKSI. individu gigi permanen dapat gagal erupsi dan menjadi impaksi di dalam alveolus.

Standard Operating Procedure PENDIDIKAN PROFESI DOKTER GIGI (RADIOLOGI KEDOKTERAN GIGI)

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

Perbandingan Otsu Dan Iterative Adaptive Thresholding Dalam Binerisasi Gigi Kaninus Foto Panoramik

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PENGUKURAN DOSIS PAPARAN RADIASI DI AREA RUANG CT SCAN DAN FLUOROSKOPI RSUD DR. SAIFUL ANWAR MALANG. Novita Rosyida

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. gigi, mulut, kesehatan umum, fungsi pengunyahan, dan estetik wajah.1 Tujuan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 1. Anatomi Palatum 12

LEMBAR PENGESAHAN. No. Dok : Tanggal : Revisi : Halaman 1 dari 24

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PENGOLAHAN FILM RADIOGRAFI SECARA OTOMATIS MENGGUNAKAN AUTOMATIC X-RAY FILM PROCESSOR MODEL JP-33

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

PERTEMUAN KE 4 (50 MENIT)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

RONTGEN Rontgen sinar X

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Grafik 1. Distribusi TDI berdasarkan gigi permanen yang terlibat 8

BAB 1 PENDAHULUAN 3,4

BAB 1 PENDAHULUAN. Teknik radiografi yang digunakan dalam bidang kedokteran gigi ada dua yaitu teknik intraoral dan ekstraoral.

TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT MENGENAI PEMERIKSAAN FOTO RONSEN DALAM BIDANG KEDOKTERAN GIGI DI KABUPATEN BARRU SKRIPSI

BAB 1 PENDAHULUAN. pencegahan, dan perbaikan dari keharmonisan dental dan wajah. 1 Perawatan

PERBANDINGAN PANJANG GIGI INSISIF SENTRAL SEBENARNYA DENGAN PANJANG GIGI INSISIF SENTRAL PADA PERHITUNGAN DIAGNOSTIC WIRE FOTO

BAB 2 EKSTRAKSI GIGI. Ekstraksi gigi adalah proses pencabutan gigi dari dalam soket dari tulang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

GAMBARAN KLINIS DAN PERAWATAN ANOMALI ORTODONTI PADA PENDERITA SINDROMA CROUZON SKRIPSI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini survei deskriptif dengan menggunakan kuesioner sebagai alat bantu pengumpul data.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tenaga kesehatan membutuhkan cara untuk mendukung pekerjaan agar terlaksana

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. (Pedersen, 1966). Selama melakukan prosedur pencabutan gigi sering ditemukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II KEADAAN JARINGAN GIGI SETELAH PERAWATAN ENDODONTIK. endodontik. Pengetahuan tentang anatomi gigi sangat diperlukan untuk mencapai

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BUKU PANDUAN SKILL S LAB PENYAKIT PULPA DAN PERIAPIKAL 1

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Diagnosis Penyakit Pulpa dan Kelainan Periapikal

BUKU PANDUAN PROGRAM PROFESI DOKTER GIGI RADIOLOGI KEDOKTERAN GIGI

BAB 2 ENDOSKOPI. membantu pemeriksaan dan tindakan dalam prosedur bedah. Endoskop adalah alat untuk

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Oklusi secara sederhana didefinisikan sebagai hubungan gigi-geligi maksila

Sejarah X-Ray. Wilheim Conrad Roentgen

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pemeriksaan Computed Tomography (CT scan) merupakan salah salah

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

LEMBARAN PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN

PANDUAN SKILL LAB BLOK MEDICAL EMERGENCY DISLOKASI TMJ DAN AVULSI JURUSAN KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN

Dasar Proteksi Radiasi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang muncul membingungkan (Axelsson et al., 1978). Kebingungan ini tampaknya

BAB 2 TRAUMA MAKSILOFASIAL. Trauma maksilofasial adalah suatu ruda paksa yang mengenai wajah dan jaringan

III. RENCANA PERAWATAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

INSTRUMENTASI PERIODONTAL

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Pengantar skills lab INTERPRETASI RADIOGRAFIK DI BIDANG KEDOKTERAN GIGI. Hanna H. Bachtiar Iskandar Menik Priaminiarti

BAB 2 PROTRUSI DAN OPEN BITE ANTERIOR. 2.1 Definisi Protrusi dan Open Bite Anterior

RADIASI PENGION DAN PENGARUHNYA TERHADAP RONGGA MULUT

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Desain penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan retrospective

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB. I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Penelitian. bersinggungan dengan sinar gamma. Sinar-X (Roentgen) mempunyai kemampuan

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

Transkripsi:

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Radiografi dan Radiografi Kedokteran Gigi Radiografi pertama dilakukan pada tahun 1895 dengan penemuan X-ray oleh Profesor Wilhelm Conrad Roentgen. Ahli fisika Jerman ini adalah merupakan Penerima Penghargaan Nobel pertama untuk Fisika, pada tahun 1901, untuk penemuan sinar-x, yang menandakan zaman fisika modern dan merevolusi kedokteran diagnostik. 2,6 Gambar 1. Wilhelm Conrad Roentgen Gambar 2. Gambar X-ray yang (1845-1923) pertama Dalam bidang kedokteran, radiografi terdiri dari penggunaan radiasi elektromagnetik untuk menghasilkan gambar organ dan jaringan tubuh untuk tujuan diagnostik dan pengobatan. Para profesional medis menggunakan perlengkapan khusus untuk menghasilkan gambaran radiografi secara komputerisasi terhadap anatomi pasien. Hasil gambaran radiografi ini dapat mendeteksi masalah dalam tubuh pasien seperti patah tulang, tumor, atau penyumbatan pembuluh darah. Selain itu,

penggunaan terapi radiasi dalam bidang medis dapat mengobati beberapa masalah kesehatan antara lain penyakit jantung dan kanker. 6 Radiografi memiliki peran penting dalam bidang kedokteran gigi karena radiografi dibutuhkan sebagai pemeriksaan penunjang untuk melihat keadaan yang tidak terlihat saat dilakukan pemeriksaan klinis yang tujuannya untuk menegakkan diagnosis, membuat perencanaan perawatan dan prognosis pada pasien. Radiografi juga penting dalam pemeriksaan rutin karies gigi, evaluasi terhadap penyakit periodontal, identifikasi patologi yang berhubung dengan tulang (seperti kista dan tumor), evaluasi traumatis yang melibatkan rahang dan tulang wajah serta dalam evaluasi pertumbuhan dan perkembangan. 7 Suatu gambaran radiografi dihasilkan dengan melewatkan sinar-x melalui jaringan untuk diperiksa dan ini akan menghasilkan emulsi fotografi pada film. Jumlah sinar-x yang mencapai film akan menentukan keseluruhan paparan atau menghitamkan emulsi. Struktur mineral dan jaringan keras akan mengabsorpsi sejumlah besar radiasi, sedangkan jaringan lunak akan memungkinkan perjalanan sinar-x melewatinya. Gambar radiografi yang dihasilkan oleh suatu proses radiografi adalah gambar dua dimensi dari struktur tiga dimensi. 7 Jumlah radiasi yang diabsorpsi oleh struktur akan menentukan radiodensitas dari bayangan. Daerah putih atau radiopak merupakan struktur padat Daerah hitam atau radiolusen merupakan struktur yang diizinkan berlalunya sinar x untuk menampilkan gambar. Bayangan kelabu merupakan struktur yang bervariasi menyerap sinar-x. 7 Meskipun kualitas gambar radiografi berada di bawah pengaruh berbagai parameter yang bertindak secara tunggal maupun dalam kombinasi, berbagai faktor yang memiliki pengaruh dalam pembentukan gambar dapat diringkas sebagai berikut: Jumlah foton sinar-x melewati struktur Energi atau intensitas foton sinar-x Waktu paparan atau periode di mana sinar-x dihasilkan Ukuran dan bentuk dari objek

Ketebalan atau kepadatan objek Posisi objek dan film Sensitivitas dari film x-ray 7 Gambar 3. Radiografi dental pertama pada 12 Januari 1896 oleh Dr. Otto Walkoff, dokter gigi asal Jerman; waktu paparan; 25 menit. 2.2 Prosedur Penggunaan Radiografi Kedokteran Gigi Tahapan yang harus dilalui sebelum melakukan radiografi di bidang kedokteran gigi adalah dengan membuat permintaan tertulis untuk dilakukan radiografi oleh dokter gigi, adanya izin dari bagian radiologi kedokteran gigi untuk melakukan radiografi dan persiapan proteksi radiasi. 8-10 2.2.1 Permintan Tertulis untuk Melakukan Radiografi

Sebelum melakukan satu radiografi, mahasiswa harus meminta izin dari dokter gigi untuk mendapat surat permintaan/order/rujukan agar radiografi tersebut dapat dilakukan. Surat permintaan radiografi di kedokteran gigi hanya dapat dikeluarkan oleh dokter gigi bertugas pada suatu waktu tersebut. Surat ini menjelaskan jenis radiografi yang akan dilakukan, elemen gigi dan rahang yang akan dilakukan radiografi, diagnosis sementara dari dokter gigi dan hasil pemeriksaan klinis. 8-10 2.2.2 Proteksi Radiasi Tampak jelas bahwa langkah-langkah perlindungan yang tepat harus diterapkan untuk melindungi individu dari efek bahaya radiasi. Meskipun tidak ada jumlah radiasi yang aman, karena hampir semua individu yang terpapar radiasi dari pemeriksaan radiografi diagnostik atau paparan tidak disengaja. Satu dosis maksimum yang diizinkan, Maximum Permissible Dose (MPD) atau Nilai Batas Dosis (NBD) telah dirumuskan. Radiasi dikaitkan dengan cedera jaringan meskipun pada tingkat yang sangat rendah. NBD menetapkan batas untuk paparan radiasi. 7,11 NBD didefinisikan sebagai dosis maksimum radiasi yang dimana dalam pengetahuan ini tidak akan diharapkan untuk menghasilkan efek radiasi yang signifikan di dalam kehidupan seseorang individu (satuan Sievert). NBD berbeda bagi mereka yang bukan pekerja radiasi dan pekerja radiasi. Effective dose menunjukkan berapa besar dosis paparan radiasi dari sumber radioaktif yang diserap oleh tubuh per satuan massa (berat), yang mengakibatkan kerusakan secara biologis pada sel/jaringan. Untuk pekerja radiasi, NBD dihitung dengan menggunakan rumus: 7,11 NBD = (Usia - 18) x 5 rem NBD : Dosis tertinggi yang diizinkan untuk diterima oleh seorang pekerja radiasi selama masa kerjanya N : Usia pekerja radiasi yang bersangkuatan dinyatakan dalam tahun

18 : Usia minimum seseorang yang diizinkan bekerja dalam medan 1 Sv = 100 rem radiasi dinyatakan dalam tahun Dari rumus, jelas bahwa orang di bawah usia 18 tahun tidak boleh bekerja di bidang radiologi atau pekerjaan lain yang menggunakan radiasi. Jika wanita hamil yang di tempat kerjanya terkena radiasi, diterapkan batas radiasi yang lebih ketat. Dosis radiasi paling tinggi yang diizinkan selama kehamilan adalah 2 msv. 7,11 Batas dosis menurut Ionising Radiations Regulations (IRR) tahun 1999 adalah batasan dosis radiasi yang dibedakan atas pekerja radiasi, bukan pekerja radiasi dan masyarakat umum (Tabel 2.). 13 Tabel 1. Dosis efektif pada pemeriksaan rutin gigi 13 Jenis Foto Dosis Efektif (msv) Skull/Kepala/Posteroanterior 0,03 Lateral 0,01 Bitewing/Periapikal 0,001 0,008 Oklusal 0,008 Panoramik 0,004 0,03 Lateral Sefalometri 0,002 0,003 CT mandibula 0,36 1,2 CT maksila 0,1 3,3 Tabel 2. Batasan dosis yang berdasarkan Ionising Radiations Regulations (IRR) 1999 Batas Dosis Lama Batas Dosis Baru (IRR 1999) Pekerja Radiasi 50 msv 20 msv Bukan Pekerja Radiasi 15mSv 6 msv Masyarakat Umum 5 msv 1 msv rutin, seperti: 2.2.3 Perlindungan Pasien. Beberapa hal yang harus diingat selama pemeriksaan radiografi diagnostik

Menggunaan alat radiografi yang baik, yang diproduksi oleh manufaktur perusahaan. Radiografi diambil hanya jika perlu dan sangat penting untuk mencapai suatu diagnosis. Pemaparan radiasi harus seminimal mungkin sesuai dengan prinsip ALARA atau As Low As Reasonably Achievable. Menggunakan film yang mempunyai kualitas yang baik dan sensitivitas tinggi. Teknik yang tepat harus digunakan untuk menghindari pengulangan paparan radiasi. Teknik pemrosesan yang benar juga membantu dalam mencegah pengulangan yang tidak perlu. Menggunakan cone silindris panjang dan terbuka. Alat radiografi harus diperiksa secara berkala untuk kebocoran. Pasien harus mengenakan apron. Pasien harus menggunakan thyroid collar Sebaiknya menggunakan film holder Penggunaan layar-film (intensifying screen dengan film) dikombinasi selama pemeriksaan radiografi ekstraoral sangat mengurangi paparan radiasi. 6-7 2.2.4 Perlindungan Operator Operator tidak boleh memegang film dalam mulut pasien selama paparan Operator tidak boleh menstablisasi alat radiografi selama paparan Operator sebaiknya berdiri di belakang tabir berlapis Pb memiliki 0,5 mm setara kandungan timah selama paparan. Jika penghalang kandungan Pb tidak tersedia, operator harus berdiri 6 meter dari sinar x-ray utama di daerah yang disebut zona keamanan maksimum yang berkisar antara 90 sampai 135 Paparan radiasi terhadap operator harus dipantau secara berkala dengan menggunakan alat monitoring personil atau film badge.

Lakukan rotasi tugas operator sehingga paparan accidental secara terus menerus dapat dihindari. 6-7 Gambar 4. Skema diagramatik Zone of Maximum Safety 2.2.5 Perlindungan pihak lain Perlindungan untuk pihak lain mengacu pada perlindungan bagi mereka yang tidak terlibat langsung dalam prosedur radiografi. Kelompok ini meliputi bahkan mereka yang menggunakan ruangan kantor atau kamar yang berdekatan serta mereka yang menemani pasien. Hanya mereka yang kehadirannya diperlukan untuk prosedur radiografi harus tetap berada di dalam ruangan. Sebuah tabung sinar-x tidak boleh diarahkan ke arah pintu atau ambang pintu untuk menghindari paparan accidental. Tanda-tanda perhatian atau peringatan harus ditampilkan. Dinding ruangan harus diperkuat dengan plaster barium atau ketebalan dinding harus ditambah dengan menggunakan lapisan tambahan batu bata. Sinar merah harus menyala ketika alat radiografi sedang dioperasikan, ianya bertindak sebagai sinyal peringatan agar tidak ada yang berjalan ke ruangan x-ray. Paparan radiasi ke ruang harus dipantau.

Paparan radiasi ke lokasi kantor yang berdekatan harus dipantau. 6-7 2.3 Jenis-jenis Foto Roentgen Gigi Secara garis besar foto roentgen gigi, berdasarkan teknik pemotretan dan penempatan film, dibagi menjadi dua: foto Roentgen Intra oral dan foto Roentgen Ekstra oral. 2.3.1 Teknik Roentgen Intra oral Teknik radiografi intra oral adalah pemeriksaan gigi dan jaringan sekitar secara radiografi dan filmnya ditempatkan di dalam mulut pasien. Untuk mendapatkan gambaran lengkap rongga mulut yang terdiri dari 32 gigi diperlukan kurang lebih 14 sampai 19 foto. Ada tiga pemeriksaan radiografi intra oral yaitu: pemeriksaan proyeksi periapikal, interproksimal, dan oklusal. 6,12 a) Radiografi Periapikal Jenis radiografi ini digunakan untuk melihat keseluruhan mahkota serta akar gigi dan tulang pendukungnya. Ada dua teknik pemotretan yang digunakan untuk memperoleh foto periapikal, yaitu teknik paralel dan bisektris. 6,12 Gambar 5. Penggunaan teknik pemotretan bisektris pada gigi anterior mandibula

Gambar 6. Penggunaan teknik pemotretan paralel pada daerah gigi bikuspid maksila b) Radiografi Bite Wing Jenis radiografi ini digunakan untuk melihat mahkota gigi rahang atas dan rahang bawah daerah anterior dan posterior sehingga dapat digunakan untuk melihat permukaan gigi yang berdekatan dan puncak tulang alveolar. Teknik pemotretannya yaitu pasien dapat menggigit sayap dari film untuk stabilisasi film di dalam mulut. 6,12 Gambar 7. Teknik Bite Wing pada gigi posterior

c) Radiografi Oklusal Jenis radiografi ini digunakan untuk melihat area yang luas baik pada rahang atas maupun rahang bawah dalam satu film. Film yang digunakan adalah film oklusal. Teknik pemotretannya yaitu pasien diinstruksikan untuk mengoklusikan atau menggigit bagian dari film tersebut. 6,12 (a) (b) Gambar 8. (a) Teknik radiografi oklusal pada gigi anterior maksila rahang atas; (b) Hasil radiografi oklusal 2.3.2 Teknik Roentgen Ekstra Oral Foto roentgen ekstra oral digunakan untuk melihat area yang luas pada rahang dan tengkorak, film yang digunakan diletakkan di luar mulut. Foto roentgen ekstra oral yang paling umum dan paling sering digunakan adalah foto roentgen panoramik, sedangkan contoh foto roentgen ekstra oral lainnya adalah foto lateral, foto Posteroanterior, proyeksi Standard Occipitomental, foto sefalometri, proyeksi Waters, proyeksi Bregma Menton, proyeksi Reverse-Towne, proyeksi Submentovertex. a) Foto Panoramik Foto panoramik merupakan foto roentgen ekstra oral yang menghasilkan gambaran yang memperlihatkan struktur fasial termasuk mandibula dan maksila beserta struktur pendukungnya. Foto roentgen ini digunakan untuk mengevaluasi gigi

impaksi, pola erupsi, pertumbuhan dan perkembangan gigi geligi, mendeteksi penyakit dan mengevaluasi trauma. 6,12 (a) (b) Gambar 9. (a) Posisi proyeksi foto panoramik; (b) Hasil gambaran panoramik yang normal b) Foto Posteroanterior Foto roentgen ini digunakan untuk melihat keadaan penyakit, trauma, atau kelainan pertumbuhan dan perkembangan tengkorak. Foto roentgen ini juga dapat memberikan gambaran struktur wajah, antara lain sinus frontalis dan ethmoidalis, fossanasalis, dan orbita. 6,12 (a) (b) Gambar 11. (a) Posisi proyeksi foto Posteroanterior; (b) Hasil foto Posteroanterior

c) Proyeksi Standard Occipitomental (0 OM) Proyeksi ini menunjukkan kerangka wajah dan kavitas anatomis tulang maksila, serta menghindari superimposisi tulang padat basis kranii. Ini sangat berguna untuk mendeteksi fraktur tulang (Le Fort I, II, III, kompleks zygomatikus, kompleks nasoethmoidal, tulang orbital) dan fraktur tulang koronoideus. 6,12 (a) (b) Gambar 12. (a) Posisi proyeksi radiografi Standard Occipitomental (0 OM); (b) Hasil foto Standard Occipitomental (0 OM) d) Proyeksi Modified Occipitomental (30 OM) Proyeksi ini menunjukkan kerangka wajah, dari sudut yang berbeda dan ini memungkinkan pemindahan tulang tertentu dapat dideteksi. Ini sangat berguna untuk mendeteksi fraktur tulang (Le Fort I, II, III) dan fraktur prosessus koronoideus. 6,12 (a) (b)

Gambar 13. (a) Posisi proyeksi radiografi Standard Occipitomental (30 OM); (b) Hasil foto Standard Occipitomental (30 OM) e) Foto Sefalometri Foto roentgen ini digunakan untuk melihat tengkorak tulang wajah akibat trauma penyakit dan kelainan pertumbuhan perkembangan. Foto ini juga dapat digunakan untuk melihat jaringan lunak nasofaringeal, sinus paranasal dan palatum keras. 6,12 (a) (b) f) Proyeksi Water s Gambar 14. (a) Posisi proyeksi sefalometri; (b) Hasil foto sefalometri Foto roentgen ini digunakan untuk melihat sinus maksilaris, sinus ethmoidalis, sinus frontalis, sinus orbita, sutura zigomatikus frontalis, dan rongga nasal. 6,12 (a) (b) Gambar 15. (a) Posisi proyeksi Water s; (b) Hasil foto proyeksi Water s

g) Proyeksi Bregma Menton Proyeksi ini digunakan terutama untuk menunjukkan dinding dari sinus maksilaris (terutama di daerah posterior), orbit, lengkungan zygomatikus dan septum hidung/nasal. Selain itu, proyeksi ini juga digunakan untuk menunjukkan deviasi medial atau lateral dari setiap bagian dari mandibula. 6,12 (a) (b) Gambar 16. (a) Posisi proyeksi Bregma Menton; (b) Hasil foto Bregma Menton h) Proyeksi Reverse-Towne Foto roentgen ini digunakan untuk pasien yang kondilusnya mengalami perpindahan tempat dan juga dapat digunakan untuk melihat dinding postero-lateral pada maksila. 6,12 (a) (b) Gambar 17. (a) Posisi proyeksi Reverse-Towne; (b) Hasil foto proyeksi Reverse-Towne

i) Foto Lateral Foto roentgen ini digunakan untuk melihat keadaan sekitar lateral tulang muka, diagnosa fraktur dan keadaan patologis tulang tengkorak dan muka. 6,12 (a) (b) Gambar 10. (a) Posisi proyeksi foto Lateral; (b) Hasil foto Lateral j) Proyeksi Submentovertex Foto ini bisa digunakan untuk melihat dasar tengkorak, posisi kondilus, sinus sphenoidalis, lengkung mandibular, dinding lateral sinus maksila, dan arcus zigomatikus. 6,12 (a) (b) Gambar 18. (a) Posisi proyeksi Submentovertex; (b) Hasil foto proyeksi Submentovertex

2.4 Penyebab Terjadinya Kesalahan Radiografi Sebuah radiograf yang baik adalah yang menyediakan banyak informasi, memiliki densitas serta kontras yang tepat, memiliki outline yang tajam, dan memiliki bentuk struktur dan ukuran yang sama dengan objek yang diradiografi. 8,10,12 Masalah yang sering ditemukan dalam radiografi adalah karena kesalahan teknik radiografi atau kesalahan dalam processing. Kesalahan yang sering timbul adalah seperti gambar yang terang, gelap, gambar pecah-pecah, spot hitam dan putih, gambar kuning-kecoklatan dan berkabut, pinggiran hitam dan putih, atau ada tergores emulsi atau sidik jari. 11,13-15 1. Under-developed film Gambar yang terlihat terang, mungkin disebabkan oleh: Waktu developer yang tidak tepat, terlalu cepat. Larutan developer yang terkontaminasi. Kesalahan dalam penyinaran, miliampere dan voltase yang rendah. Penggunaan larutan developer yang terlalu dingin. Solusinya : Perhatikan temperatur larutan developer dan juga lama waktu film harus berada dalam larutan developer. Gunakan larutan developer yang tidak terkontaminasi atau lama. Jika perlu, tambah waktu film berada dalam larutan developer. 11,13-15 Gambar 19. Under-developed film

2. Over-developed film Gambar yang terlalu gelap, mungkin disebabkan oleh: Konsentrasi larutan developer yang terlalu pekat. Terlalu lama waktu developer. Kesalahan dalam penyinaran, miliamper dan voltase tinggi Penggunaan larutan developer yang terlalu hangat. Solusinya: Perhatikan temperatur larutan developer dan juga lama waktu film harus berada dalam larutan developer. Kurangi waktu film berada dalam larutan developer sebaik perlu. 11,13-15 Gambar 20. Over-developed film 3. Gambar pecah-pecah (Reticulated/Cracked) Gambar ini memiliki penampilan berupa jaringan atau mengerut, disebabkan oleh perubahan suhu yang mendadak secara tiba-tiba selama processing. Solusinya adalah dengan mengelakkan perbedaan temperatur yang drastis. 11,13-15

Gambar 21. Reticulated Film 4. Stain berwarna kuning kecoklatan Film kelihatan kuning kecoklatan, disebabkan oleh: Waktu fixer yang tidak tepat Larutan developer atau fixer yang tidak efektif Rinsing yang tidak efektif Solusinya: Menggantikan larutan developer dan larutan fixer yang lama dengan yang baru Pastikan waktu fiksasi dan rinsing yang adekuat Cuci film yang telah diproses dengan air dingin yang mengalir selama minimum 20 menit. 11,13-15 Gambar 22. Gambar panoramik dengan stain berwarna kuning kecoklatan

5. Spot larutan developer Kelihatan spot hitam pada film, karena terjadi kontak antara larutan developer dan film sebelum film diproses. Solusinya: Gunakan area kerja yang bersih di ruang gelap Untuk permukaan meja kerja yang bersih, lapisi dengan paper towel sebelum membuka film. 11,13-15 Gambar 23. Film dengan spot larutan developer 6. Spot larutan fixer Kelihatan spot putih pada film, karena terjadi kontak antara larutan fixer dan film sebelum diproses. Solusinya: Gunakan area kerja yang bersih di ruang gelap Untuk permukaan meja kerja yang bersih, lapisi dengan paper towel sebelum membuka film. 11,13-15

Gambar 24. Film dengan spot larutan fixer 7. Developer cut-off Gambar yang kelihatan putih di bagian pinggir film, karena sewaktu processing sebagian film tidak masuk ke dalam larutan developer. Solusinya: Periksa tahap larutan developer sebelum melakukan prosessing film. Pastikan semua film dalam rak film terendam penuh dalam larutan developer. 11,13-15 Gambar 25. Film developer cut-off

8. Fixer cut-off Gambar yang kelihatan hitam di bagian pinggir film, karena sewaktu processing sebagian film tidak masuk ke dalam larutan fixer. Solusinya: Periksa tahap larutan fixer sebelum melakukan processing film. Pastikan semua film dalam rak film terendam penuh dalam larutan fixer. 11,13-15 Gambar 26. Film fixer cut-off 9. Film Overlap Gambar kelihatan hitam atau putih pada daerah overlap, karena: Kontak antara dua film sebelum selama processing. Film yang overlap di larutan developer akan kelihatan putih pada daerah overlap. Film yang overlap di larutan fixer akan kelihatan hitam pada daerah overlap. Solusinya adalah dengan memastikan tidak ada kontak antara satu film dengan yang lain selama processing. 11,13-15

Gambar 27. Film overlap 10. Fingernail artifact Kelihatan bentuk crescent hitam pada film, karena rusaknya emulsi film oleh kuku jari operator selama pengerjaannya. Solusinya adalah memastikan pengerjaan film secara hati-hati dari sisi film saja. 11,13-15 Gambar 28. Film fingernail artifact 11. Fingerprint artifact Kelihatan gambar bekas jari pada film, karena film bersentuhan dengan jari yang terkontaminasi fluoride atau larutan developer dan larutan fixer. Solusinya: Cuci dan keringkan tangan sebelum melakukan processing film.

Pegang film dari bagian sisi 11,13-15 Gambar 29. Film fingerprint artifact 12. Film garis bercabang (Static Electricity) Kelihatan garis bercabang hitam pada film, karena: Mengeluarkan film dari bungkusnya secara kasar. Mengeluarkan film dari bungkusnya sebelum menyentuh barang lain, sekiranya berada di ruangan dimana lantainya berkarpet. Solusinya : Membuka film secara lembut dan berhati-hati. Sekiranya berada di ruangan dimana lantainya berkarpet, sentuh dulu objek yang bersifat konduktif sebelum mengeluarkan film dari bungkusnya. 11,13-15 Gambar 30. Film dengan Static Electricity

13. Film tergores (Scratched Film) Kelihatan garis putih pada film, karena lepasnya soft emulsi film dari film oleh benda yang tajam seperti klip film atau film hanger. Solusinya: Berhati-hati semasa menempatkan rak film ke dalam larutan processing. Elakkan kontak dengan klip film atau film hanger yang lain. 11,13-15 Gambar 31. Film tergores 14. Fogged film Gambar pada film kelihatan berkabut, karena: Film yang telah luput Larutan processing yang terkontaminasi Temperatur larutan developer yang tinggi Paparan film terhadap cahaya selama penyimpanan Solusinya: Periksa tanggal luput film pada bungkusannya Menyimpan film di tempat yang kering. Periksa kebocoran cahaya di kamar gelap Selalu periksa temperatur larutan developer sebelum processing film. 11,13

Gambar 32. Film berkabut 15. Over-exposed film Film kelihatan gelap, disebabkan oleh: Waktu eksposur terlalu lama miliamper dan voltase tinggi; atau kombinasi faktor-faktor penyebab di atas Solusinya adalah: Mengelakkan waktu eksposur terlalu lama, Perhatikan miliamper dan voltase sebelum processing. 11,13 Gambar 33. Over-exposed film 16. Under-exposed film Film kelihatan terang, disebabkan oleh: Waktu eksposur yang inadekuat

miliamper dan voltase inadekuat; atau kombinasi faktor-faktor penyebab di atas Solusinya adalah: Perhatikan waktu eksposur, miliamper dan voltase sebelum melakukan radiografi Naikkan waktu eksposur, miliamper dan voltase jika perlu. 11,13 Gambar 34. Under-exposed film

2.6 Kerangka Teori

2.6 Kerangka Konsep