Anang Mulyantana. Abstrak

dokumen-dokumen yang mirip
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. menghasilkan tingkat penolakan yang tidak berbeda nyata dibandingkan dengan

TINJAUAN PUSTAKA. 1. Biologi Sitophilus oryzae L. (Coleoptera: Curculionidae)

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. daerah tropika. Tumbuhan yang termasuk suku polong-polongan ini memiliki

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) biologi hama ini adalah : Setelah telur diletakkan di dalam bekas gerekan, lalu ditutupi dengan suatu zat

BAB I PENDAHULUAN. tersebut padi atau beras mengalami proses penurunan kualitas dan kuantitas.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. sirih hijau (Piper betle L.) sebagai pengendali hama Plutella xylostella tanaman

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Uji Toksisitas Potensi Insektisida Nabati Ekstrak Kulit Batang Rhizophora mucronata terhadap Larva Spodoptera litura

I. PENDAHULUAN. lebih dari setengah penduduk menggantungkan hidupnya pada beras yang

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu faktor pembatas proses produksi pertanian adalah hama. Hama timbul dan

LIA RAMDEUNIA. Aktivitas Ekstrak Daun, Ranting dan Biji Suren (Toona sureni

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan produksi kubis di Indonesia banyak mengalami hambatan, di

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai dengan September 2012

III. METODOLOGI A. BAHAN DAN ALAT B. METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. penyediaan bahan pangan pokok terutama ketergantungan masyarakat yang besar

VI. PEMBUATAN PESTISIDA NABATI. Yos. F. da Lopes, SP, M.Sc & Ir. Abdul Kadir Djaelani, MP

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa jenis beras tidak memberikan pengaruh

I. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Mei 2014 di Laboratorium. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

BAB I PENDAHULUAN. yang perlu dikembangkan adalah produk alam hayati (Sastrodiharjo et al.,

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Entomologi BALITKABI-Malang pada bulan

UJI EFEKTIFITAS EKSTRAK NIKOTIN FORMULA 1 (PELARUT ETHER) TERHADAP MORTALITAS Aphis gossypii (HOMOPTERA; APHIDIDAE)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. mudah ditembus oleh alat-alat pertanian dan hama atau penyakit tanaman

SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) biologi hama ini adalah: warna putih (gelatin) yang merupakan salivanya, sehingga dari luar tidak

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Komponen Bioaktif, Jurusan

I. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Uji Penolakan. terhadap penolakan hama kutu beras. Namun perlakuan serbuk

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) Spodoptera litura F. dapat diklasifikasikan

I. PENDAHULUAN. bagi manusia, seperti demam berdarah, malaria, kaki gajah, dan chikungunya

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat di Indonesia dan menempati urutan pertama di Asia. Pada

1 Muhammad Syaifullah Hiola, , Rida Iswati, Fahria Datau, Jurusan Agroteknologi. Fakultas Pertanian Universitas Negeri Gorontalo

I. PENDAHULUAN. Usaha produksi pertanian tidak terlepas kaitannya dengan organisme pengganggu

POTENSI DAUN SERAI UNTUK MENGENDALIKAN HAMA Callosobruchus analis F. PADA KEDELAI DALAM SIMPANAN

I. PENDAHULUAN. Kepik hijau (Nezara viridula L.) merupakan salah satu hama penting pengisap

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. satu hama daun yang penting karena hama ini bersifat polifag atau mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. menyerang produk biji-bijian salah satunya adalah ulat biji Tenebrio molitor.

J. Agrisains 10 (1) : 28-34, April 2009 ISSN :

BAB I PENDAHULUAN. masih tergantung pada penggunaan pestisida sintetis yang dianggap

BAHAN DAN METODE. Pestisida, Medan Sumut dan Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Medan

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini akan dilaksanakan di Rumah Kasa Sentral Pengembangan

BAB III METODE PENELITIAN. Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (BALITTAS) Karangploso,

PENDAHULUAN. Di seluruh dunia, produksi kentang sebanding dengan produksi gandum,

UJI AKTIVITAS LARVASIDA EKSTRAK DAUN KELADI BIRAH (Alocasia indica Schott) TERHADAP LARVA NYAMUK Culex sp. ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Variabel Hama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan berbagai

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Laboratorium Farmasetika Program

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Jurusan Proteksi Tanaman

PEMBUATAN PESTISIDA NABATI DAUN PEPAYA UNTUK PENGEDALIAN ULAT DAN SERANGGA PENGHISAP TANAMAN Oleh Robinson Putra, SP

PEMANFAATAN DAUN JERUK NIPIS

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2016 di Laboratorium Proteksi

BAB III METODE PENELITIAN. Lengkap (RAL) yang terdiri atas kontrol positif dan lima perlakuan variasi

BAB I PENDAHULUAN. hama. Pertanian jenis sayuran kol, kubis, sawi dan sebagainya, salah satu

PENGARUH EKSTRAK ETANOL CABAI MERAH

BAB III METODE PENELITIAN. (BALITTAS) Karangploso Malang pada bulan Maret sampai Mei 2014.

TINJAUAN PUSTAKA. Biologi Hama Penggerek Buah Kopi (Hypothenemus hampei Ferr.) Menurut Kalshoven (1981) hama Penggerek Buah Kopi ini

Kajian Daya Insektisida Ekstrak Daun Mimba (Azadirachta indica A. Juss) Terhadap Perkembangan Serangga Hama Gudang Sitophilus oryzae Linn

Pengaruh Halusan Biji Sirsak ( Annona muricata L.) Terhadap Angka Kematian Larva Nyamuk Culex sp. Riyanto *) Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. kedelai dan industri pakan ternak. Rata rata kebutuhan kedelai setiap tahun sekitar ± 2,2 juta

STUDI POTENSI RODENTISIDA NABATI BIJI JENGKOL UNTUK PENGENDALIAN HAMA TIKUS PADA TANAMAN JAGUNG

BAB I PENDAHULUAN. dikarenakan Indonesia merupakan negara tropik yang mempunyai kelembaban

UJI EFEKTIVITAS PENGENDALIAN HAMA KUTU BERAS (Sitophilus oryzae L) DENGAN EKSTRAK DAUN PANDAN WANGI (Pandanusamaryllifolius ) SKRIPSI

PENYEBAB LUBANG HITAM BUAH KOPI. Oleh : Ayu Endah Anugrahini, SP BBPPTP Surabaya

Program Studi Entomologi, Pasca Sarjana Universitas Sam Ratulangi, Kampus UNSRAT Manado * korespondensi:

Feri Hartini 1 dan Yahdi 2 1 Jurusan Tadris IPA Biologi FITK IAIN Mataram 2 Dosen Jurusan Tadris IPA Biologi FITK IAIN Mataram.

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Tempat : Penelitian ini dilakukan di Green House Kebun Biologi,

Oleh Yos Wahyu Harinta Fakultas Pertanian, Universitas Veteran Bangun Nusantara, Jl.Letjen Sujono Humardani No.1,Sukoharjo

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan konsentrasi ekstrak daun

AGROVIGOR VOLUME 6 NO. 2 SEPTEMBER 2013 ISSN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini berbentuk eksperimen semu (Quasi ekspperiment) yaitu meneliti

BAB I PENDAHULUAN. tanaman sayuran, kacang-kacangan, tomat, jagung dan tembakau. Helicoverpa

II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tribolium castaneum Herbst.

I. PENDAHULUAN. Indonesia dikenal sebagai negara produsen kopi ke-empat terbesar di dunia. Data

BAB 1 PENDAHULUAN. petani dan dikonsumsi masyarakat karena sayuran tersebut dikenal sebagai

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Kecepatan Kematian. nyata terhadap kecepatan kematian (lampiran 2a). Kecepatan kematian Larva

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan pengendalian hama dan penyakit melalui insektisida

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Dosis Pestisida Nabati Tapak Liman terhadap Mortalitas Larva Ulat Tritip Instar III pada Tanaman Sawi

PENGUJIAN BIOINSEKTISIDA DARI EKSTRAK KLOROFORM KULIT BATANG TUMBUHAN Bruguiera gymnorrhiza Lamk. (RHIZOPHORACEAE)

HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Mortalitas. biopestisida berpengaruh nyata terhadap tingkat mortalitas Tribolium castaneum

EFEK MINYAK ATSIRI DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum) TERHADAP MORTALITAS ULAT DAUN Spodoptera exigua PADA TANAMAN BAWANG MERAH

BAB I PENDAHULUAN. kekeringan dan mudah diperbanyak dengan stek. Walaupun telah lama dikenal

PENDAHULUAN. manusia. Di negara-negara Asia yang penduduknya padat, khususnya Bangladesh,

Efektivitas Abu Sekam dan Minyak Goreng Pada Pengendalian Hama Gudang Kacang Hijau. Kardiyono

KONTAK DAN FUMIGASI UNTUK PENGENDALIAN

METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian dilakukan di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

TINJAUAN PUSTAKA. dengan ukuran 0,7 mm x 0,3 mm (Pracaya, 1991). Telur diletakkan di dalam butiran dengan

TINJAUAN PUSTAKA Sifat Insektisida Tephrosia vogelii

BAB III METODE PENELITIAN. 1. Tempat: Penelitian dilakukan di Green House Kebun Biologi, Fakultas. 2. Waktu: Bulan Desember Februari 2017.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Demam Berdarah Dengue (DBD) pertama kali ditemukan. tahun 1953 di Fillipina. Selama tiga dekade berikutnya,

TINJAUAN PUSTAKA. Permasalahan Hama Sitophilus zeamais. Arti Penting Hama

O OH. S2-Kimia Institut Pertanian Bogor PESTISIDA

BAB I PENDAHULUAN. petani melakukan pencampuran 2 6 macam pestisida dan melakukan

III. BAHAN DAN METODE

BAB I PENDAHULUAN. yang mempunyai nilai ekonomis tinggi serta mempunyai peluang pasar yang baik.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Konsentrasi efektif daun sirih sebagai penolak nyamuk Ae. aegypti pada lengan uji

ACARA I PENGGUNAAN LALAT Drosophila SEBAGAI ORGANISME PERCOBAAN GENETIKA

BAB I PENDAHULUAN. dataran tinggi pada lahan basah dan lahan kering. Hasil produksi tomat di Indonesia dari tahun

Transkripsi:

KAJIAN EKSTRAK DAUN SIRIH (Pipper betle) TERHADAP MORTALITAS KUMBANG BUBUK BERAS (Sitophilus oryzae L). Anang Mulyantana Abstrak Penyusutan hasil penyimpanan benih serealia di sebabkan oleh factor serangga. kumbang bubuk beras (Sitophilus oryzae L). Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh ektrak daun sirih terhadap mortalitas kumbang bubuk beras ( Sitophilus oryzae L). Kegiatan penelitian dilaksanakan di merendam kumbang bubuk beras (Sitophilus oryzae L) dengan berbagai larutan ekstrak daun sirih. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak daun sirih mampu membunuh atau menyebabkan kematian kumbang bubuk beras (Sitophilus oryzae L) melalui kontak secara langsung dengan pencelupan. Mortalitas tertinggi terjadi pada setelah 6 jam dengan konsentrasi 50 %. Kata kunci : Kumbang bubuk beras, ekstrak daun sirih, mortalitas A. Pendahuluan Permasalahan umum yang terjadi dalam penyimpanan benih baik dihasilkan didalam negeri maupun yang diimport yaitu sering mengalami susut kualitatif yang sangat besar karena adanya hama. konsekuensi, daya kecambah menurun karena serangan langsung dari hama, yang mengakibatkan kerusakan mekanik, yaitu rusaknya embrio dan endosperm. akibat dari serangan hama tersebut, persentase benih menurun atau berkurang. Salah satu hama yang penting dalam penyimpanan benih adalah kumbang bubuk beras (Sitophilus oryzae L). ukuran panjang tubuh kumbang ini berkisar diantara 3,3 samapi 5 mm, antenna terdiri dari 8 segmen, elytra sangat ramping lebih pendek dari perut sehingga ujung dari perut terlihat dari atas, pronotum dengan bentuk bulat yang relatif kecil dan tidak luas. pada serangga jantan permukaan moncong lebih rata. serangga betina berbentuk menggarpu (Anonim, 1984). Kumbang bubuk beras melakukan perkembangan metamorforse sempurna, dimana perubahan bentuk yang terjadi mulai dari stadium telur, stadium larva, stadium pupa dan stadium imago. pada stadium telur, telur diletakan didalam benih oleh imago betina. setiap induk serangga, selama siklus hidupnya (antara 3 sampai 5 bulan) dapat memproduksi 300 sampai 400 butir telur (Kartasoeputra, 1987). Menurut Anonim (1984), setiap induk betina mampu menghasilkan 150 telus per imago betina, stadium telur berlangsung selama 7 hari. Larva akan terbentuk setelah stadium telur, larva berkembang didalam benih dengan melakukan penggerekan pada benih yang disebut instar larva. selama hidupnya kumbang ini mengalami 4 kali larva instar atau ganti kulit. Pada benih yang sama, kumbang bubuk beras akan mengalami stadium pupa dan selanjutnya memasuki stadium eksarata. stadium pupa membutuhkan waktu 3-7 hari, dengan ratarata 5,9 hari. selama masa perkembangan pupa membutuhkan kisaran suhu antara 24,5 0 C 30 0 C dan kisaran kelembapan

atau kelengasan nisbi 68,7 %-32% (Mashida, 1970 lihat Slamet dkk, 1982). Penggunaan daun sirih sebagai pengendalian hayati terhadap kumbang bubuk beras dimaksudkan agar hama dalam penyimpanan benih dapat dikendalikan. penggunaan insektisida dari bahan alami ini juga diharapkan dapat menggantikan insektisida dari bahan kimia karena penggunaan insektisida kimia hanya akan mencemari lingkungan dan menimbulkan resistensi pada hama tersebut. Pemanfaatan bahan botani sebagai insektisida untukmelindungi hasil panen selama penyimpanan, telah lama dikenal di Indonesia, bahkan penggunaan bahan botani ini telah dilakukan jauh sebelum penemuan pestisida tradisional. hal ini karena bahan botani mengandung alkaloid yang bersifat racun terhadap serangga. Kandungan kimia yang dimiliki daun sirih antara lain minyak atsiri, alkaloid, kadimen, eugenol, eugenol metal eter, kariopilen dan etilbrenskatenin. selain itu, daun sirih juga mengandung zat samak, enzim diastase, gula dan vitamin A (Tampubolon, 1981). minyak atsiri dari daun sirih segar sepertiga bagian terdiri dari fenol dan alkaloid yang memiliki daya pembunuh bakteri, antioksidan, fungisida serta anti jamur. Dilaporkan oleh Amhed (1988), minyak atsiri dari daun sirih mempunyai efek insektisida terhadap lebih dari 30 jenis serangga dibandingkan dengan piperazine phosphate dan hexyl resorchinol pada konsentrasi yang sama. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak daun sirih ( Pipper betle L) terhadap kematian dari kumbang bubuk beras (Sitophilus oryzae L). B. Bahan Dan Metode Penelitian 1. Bahan dan Peralatan Penelitian Bahan penelitian terdiri atas kumbang bubuk beras (Sitophilus oryzae L) yang diperoleh dari perkembangbiakan di laboratorium hama dan penyakit Universitas Halmahera, Daun sirih yang di peroleh disekitar lingkungan Universitas Halmahera, dan benih padi ladang. Bahan lain yang digunakan dalam penelitian ini adalah aquadest yang digunakan sebagai bahan pelarut pembuatan ekstrak daun sirih. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain cawanporselin, botol balsam, mikroskop monokuler, pinset dan timbangan digital Zhimadsu. 2. Prosedur Penelitian 2.1. Pembuatan Tepung Daun Sirih Daun sirih yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun yang tidak terlalu muda (pucuk) atau daun ke 3 dari pucuk. daun yang sudah dikeringkan dipotongpotong dan ditumbuk dengan mortar sampai halus. bahan yang sudah dihaluskan dioven suhu 40 45 0 C sampai mendapatkan berat kostan. Setelah beratnya konstan, bahan tersebut dihaluskan dengan blender dan diayak dengan ayakan 200 mesh. Selanjutnya, bahan dibuat ekstrak dengan pelarut aquadest sesuai dengan konsentrasi yang dibutuhkan dan sudah direndam selama 24 jam (Brotodjojo, 2000). 2.2. Pembuatan Konsentrasi Ekstrak Daun Sirih Konsentrasi daun sirih diperoleh dengan cara memasukan bahan yang telah halus kedalam gelas ukur 100 ml kemudian ditambahkan aquadest sampai batas tera. berikut metode pembuatan konsentrasi ekstrak daun sirih : 1. 5% ekstrak daun sirih diperoleh dari 5 grm tepung dicampur dengan aquadest

sampai batas tera dari gelas ukur 100 ml 2. 10 % ekstrak daun sirih diperoleh dari 10 grm tepung dicampur dengan ukur 100 ml. 3. 20% ekstrak daun sirih diperoleh dari 20 grm tepung dicampur dengan ukur 100 ml 4. 30% ekstrak daun sirih diperoleh dari30 grm tepung dicampur dengan ukur 100 ml. 5. 50% ekstrak daun sirih diperoleh dari 50 grm tepung dicampur dengan ukur 100 ml. 2.3. Pemeliharaan Kumbang Bubuk Beras Kumbang diperoleh dari gudang penyimpanan benih jagung yang sudah rusak dan dimasukan ke dalam stoples dan tutup dengan kasa. Kumbang bubuk beras di kembangbiakan selama 3 bulan untuk memperoleh umur yang seragam, dan kondisi kumbang diasumsikan tidak terkotaminasi dari faktor lain. selama stadium telur kumbang bubuk beras dipindahkan kedalam tempat yang berbeda dan dikondisikan lingkungan yang hangat. kumbang yang mati pada masing masing perlakuan. Jumlah kumbang bubuk beras yang digunakan dalam penelitian ini adalah 300 ekor. 2.5. Analisa Data Data dianalisis menggunakan Rancangan Faktorial dengan SPSS versi 17. untuk mengetahui perbedaan antar perlakukan yang dicobakan digunakan uji Duncan pada selang kepercayaan 5%. C. Hasil Dan Pembahasan Penggunaan pestisida sintesis menimbulkan masalah residu kimia. akhir akhir ini, pengendalian hama pada bahan pangan dalam penyimpanan beralih pada penggunaan bahan botani karena secara ekologis sangat cocok dan secara ekonomi pun pengembangan sebagai bahan pengendalian serangga akan diperoleh dan mudah terdegradasi. begitu juga dengan perlakuan pada penelitian ini. 2.4. Metode Pengamatan Uji mortalitas dilakukan dengan cara meletakan 10 ekor kumbang bubuk beras ke dalam botol balsam yang berisi 10 ml larutan ekstrak sirih sesuai perlakuan. Pengamatan dilakukan pada jam ke 6,12,18 dan 24 yaitu dengan melihat jumlah Grafik. 1. Purata Mortalitas Kumbang Bubuk Beras ( Sitophilus Oryzae L) Pada Konsentrasi Yang Berbeda Berdasarkan Uji Duncan 5%

Hasil analisa data menunjukan bahwa perlakuan konsentrasi yang berbeda dari ekstrak daun sirih ( Pipper betle Linn) terhadap mortalitas Sitophilus oryzae berpengaruh sangat nyata jika dibandingkan dengan tanpa pemberian ekstrak daun sirih atau control. Mortalitas terbesar terjadi pada konsentrasi 50%. Konsentrasi ekstrak daun sirih yang makin tinggi cenderung meningkatkan mortalitas kumbang bubuk beras. Nampak pada grafik.1. ini menunjukan ekstrak daun sirih mempu membunuh S. oryzae secara langsung / kontak dengan cara pencelupan. Peningkatan konstrasi ini menyebabkan senyawa aromatic yang ada dalam minyak atsiri dari daun sirih menjadi lebih pekat sehingga tidak disukai kumbang bubuk beras (Boonde. E, 2003). Selain itu, Heyne (1987), mengungkapkan bahwa kovikol yang merupakan salah satu senyawa turunan fenol dari minyak atsiri daun sirih memiliki daya insektisida 5 kali lebih kuat dibandingkan piperazinephosphate dan dapat menjadi toksik jika konsentrasinya pekat atau tinggi. Tingginya mortalitas ini juga disebabkan karena ekstrak daun sirih mampu meluruhkan lapisan chitin penyusun kutikula serangga (Kartosoepoetra, 1987). Diketahui daun sirih mengandung minyak atsiri yang dapat menghambat respirasi mitokondria serangga. Zat ini juga dapat bersifat racun yang kerjanya menghambat aktifitas respirasi sehingga menyebabkan kematian secara lambat apabila masuk melalui saluran pencernaan (Prijono, dkk, 1997). hal ini terlihat pada rendahnya tingkat mortalitas S. oryzae pada 6 jam pertama. Grafik. 2. Purata Mortalitas Kumbang Bubuk Beras ( Sitophilus Oryzae L) Pada Waktu Yang Berbeda Berdasarkan Uji Duncan 5% Secara nyata pada 6 jam ke dua bila dibandingkan dengan 6 jam pertama dan kontrol serta pada 6 jam ketiga juga ditemukan peningkatan mortalitas sangat nyata bila dibandingkan dengan control, 6 jam pertama dan 6 jam kedua peningkatan mortalitas paling optimal terjadi pada 6 jam ke empat, Grafik diatas juga menunjukan bahwa tingkat mortalitas terendah terdapat kontrol dan tingkat mortalitas tertinggi ada pada 6 jam ke empat. Tingkat mortalitas yang rendah pada kontrol disebabkan S oryzae masih mempunyai kemampuan untuk menahan ekstrak daun sirih yang masik kedalam tubuhnya atau kumbang tersebut masih dapat beradaptasi dengan baik (Brotodjojo, 2000). Tingkat mortalitas yang tinggi disebabkan zat beracun yang ada pada bahan botani dapat menghambat aktifitas respirasi sehingga menyebabkan kematian apabila masuk melalui saluran pencernaan (Soekarna, 1982)

Interaksi antara konsentrasi dan waktu pencelupan yang berbeda menunjukan bahwa keduanya tidak berhubungan. Interaksi keduanya berdiri sendiri sendiri dengan mortalitas tertinggi pada konsentrasi 50% dan waktu selam 24 jam. oleh karena itu apabila dikehendaki populasi kumbang bubuk beras mati lebih banyak maka sebaiknya aplikasi yang terbaik digunakan konsentrasi 50% pada waktu 1 hari (24jam). Ekstrak daun sirih mempunyai prospek untuk digunakan sebagai pengganti pestisida sintetik dalam mengendalikan S. oryzae Linn. Berdasarkan hasil hasil tersebut diatas. ekstrak daun sirih diaplikasikan dengan mencelupkan bahan simpanan dengan ekstrak tersebut. D. Kesimpulan Ekstrak daun sirih mampu membunuh S oryzae L melalui kontak secara langsung atau pencelupan. Mortalitas tertinggi terjadi pada pengamatan 6 jam ke empat dengan konsentrasi 50%. Saran. 1. Perlunya penelitian lebih lanjut menngenai LD 50 ekstrak daun sirih dalam mengendalikan kumbang bubuk beras ( S. oryzae Linn) atau serangga yang berbeda. 2. Perlu dilaksanakan penelitian yang berbeda berdasarkan metode aplikasi selain pencelupan. Anonim, 1984. Insect And Arachinids Of Tropical Stored Product Their Biology And Indentification (A Trainning Manual). Storage Departemen Tropical Development And Reacher Institute London Rosd Slough Berk SI 37HK.UK. Brotodjojo, Rr., 2000. Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Biji Srikaya (Annona Squamosa L) Terhadap Mortalitas Hama Bubuk Beras (Sithopilus Oryzae Linn). Agrivet. Yogyakarta. Dandi, Soekarna, 1982.Masalah Hama Gudang Dan Pengendaliannya. Padi Balai Penelitian Tanaman Pangan. Bogor. Hasim, Dea, 2003. Daun Sirih (Pipper Betle L) Kompas Jakarta. Heyne,K., 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid III. Badan Litbang Kehutanan. Jakarta. Kartosopoetra, A.G., 1987. Hama Hasil Tanaman Dalam Gudang. Bina Aksara Jakarta Peng, W.K. Dan Rejesus Morallo,B., 1988. Grain Storage Insenct, Dalam Rice Seed Health International Rice Research Institute. Manila Philipina. Sugianto Dan Sugandi, 1993. Rancangan Percobaan. Andi Offset.Yogyakarta Suyono Dan Sukarna,D., 1991. Hama Pasca Panen Dan Pengendaliannya, Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor. Tampubolon, O.T., 1981.Tumbuhan Obat, Bhatara Karya Aksara Jakarta. Daftar Pustaka Ahmed,S, 1988. Handbook Of Plants With Pest-Control Properties.Jhon Wiley S Son. New York P. 27 28.