Pengembangan Kerangka Model

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS DAN KONSEP PENGEMBANGAN KOMPONEN DINDING PREFABRIKASI

Bab I Pendahuluan. 1 Subandono Diposaptono, Rehabilitasi Pascatsunami yang Ramah Lingkungan, Kompas 20

KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. sebuah lahan sementara di sebuah proyek bangunan lalu dipasang pada proyek

b. Komponen D2 Berat komponen adalah 19,68 kg Gambar 65. Komponen D1 Gambar 66. Komponen D2

Oleh : AGUSTINA DWI ATMAJI NRP DAHNIAR ADE AYU R NRP

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN Pengetahuan Umum Rencana Anggaran Biaya ( RAB ) diberikan sebagai dasar pemikiran lebih lanjut.

BAB IV: PENGAMATAN PROYEK

PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR PILE CAP, KOLOM, BALOK & PLAT LANTAI PADA PROYEK PENGEMBANGAN GEDUNG RSUD BUDHI ASIH. Yusti prabowo

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Selamat Datang MANDOR PEMBESIAN/ PENULANGAN BETON 1.1

Desa Mandiri Berbasis Ecovillage

KONSTRUKSI DINDING BAMBU PLASTER Oleh Andry Widyowijatnoko Mustakim Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

TANTANGAN DAN HAMBATAN PENERAPAN KONSEP SUSTAINABLE CONSTRUCTION PADA KONTRAKTOR PERUMAHAN DI SURABAYA

BAB II DATA PROYEK DATA UMUM PROYEK

Selamat Datang MANDOR PEMBESIAN/ PENULANGAN BETON 1.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. struktur yang paling utama dalam sebuah bangunan. Suatu struktur kolom

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH. lift di cor 2 lantai diatas level plat lantai. Alasan menggunakan metode perlakuan core sebagai kolom adalah :

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II METODA DAN RUANG LINGKUP PEMBAHASAN

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN STRUKTUR ATAS

BAB V PENGEMBANGAN DESAIN KOMPONEN DINDING PREFABRIKASI

ASSALAMU'ALAIKUM WR. WB.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan bersifat studi kasus dan analisa, serta perbandingan

BAB 1 PENDAHULUAN. Bangunan gedung biasanya dibangun dengan metode konvensional dimana

MODEL PROSES PRODUKSI RUMAH SEDERHANA MASSAL UNTUK MEMPERCEPAT REKONSTRUKSI PASCA BENCANA DI INDONESIA TESIS

TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan

BAB VIII TAHAP PELAKSANAAN

RING BALK. Pondasi. 2. Sloof

BAB V ANALISIS SISTEM MANAJEMEN MUTU

BAB V PEMBAHASAN 5.1 STRUKTUR BETON

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi dibidang pembangunan gedung bertingkat semakin

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH

PERBANDINGAN PENGGUNAAN DEKING BAJA DAN METODE KONVENSIONAL UNTUK PLAT LANTAI DIPERHITUNGKAN TERHADAP BIAYA, WAKTU DAN METODE PELAKSANAAN

VARIASI PENGGUNAAN JENIS MATERIAL BEKISTING PADA PEKERJAAN STRUKTUR PILE CAP DAN PENGARUHNYA TERHADAP BIAYA DAN DURASI PELAKSANAAN PROYEK (194K)

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Beton masih merupakan pilihan utama sebagai bahan konstruksi pada saat ini

BAB I PENDAHULUAN. kita berada dalam bangunan baik rumah tinggal, kantor, pabrik, hotel, rumah sakit dll.

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB VII TINJAUAN KHUSUS CORE WALL

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB VII MANAJEMEN RESIKO. Dalam setiap pekerjaan pasti kita menemukan berbagai

BAB V PONDASI TELAPAK

Pengenalan RISHA. oleh: Edi Nur BBB - BPL

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini seiring dengan berkembangnya pengetahuan dan teknologi,

Dosen Pembimbing Ir. Sukobar, MT. NIP

BIDANG KONSTRUKSI SUB BIDANG TUKANG BANGUNAN GEDUNG

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. pengamatan struktur plat lantai, pengamatan struktur core lift.

STUDY PERBANDINGAN PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG METODE PELAKSANAAN PRECAST

BAB I PENDAHULUAN. pembangunannya masih dilaksanakan dengan metode konvensional (cast in situ),

Jurnal Teknik Sipil ITP Vol. 4 No.1 Januari 2017 ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. syarat bangunan nyaman, maka deformasi bangunan tidak boleh besar. Untuk. memperoleh deformasi yang kecil, gedung harus kaku.

Laporan Tugas Akhir Rekayasa Nilai Pembangunan RS Mitra Husada Slawi 29

BAB I PENDAHULUAN. Pada pelaksanaan proyek biasanya terjadi berbagai kendala, baik kendala

\\ \upi\Direktori\E - FPTK\JUR. PEND.TEKNIK SIPIL\ ROCHANY NATAWIDJANA\25 FILE UNTUK UPI\BID PRICE.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN SKRIPSI

PERBAIKAN BETON PASCA PEMBAKARAN DENGAN MENGGUNAKAN LAPISAN MORTAR UTAMA (MU-301) TERHADAP KUAT TEKAN BETON JURNAL TUGAS AKHIR

BAB V PELAKSANAAN PEKERJAAN. terhitung mulai dari tanggal 07 Oktober 2013 sampai dengan 07 Desember 2013

EBOOK PROPERTI POPULER

PERENCANAAN GEDUNG RESEARCH CENTER-ITS SURABAYA DENGAN METODE PRACETAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. manajemen yang baik untuk menunjang kelancaran

BAB I PENDAHULUAN. Semakin pesatnya perkembangan bahan material untuk. pembangunan konstruksi banyak melahirkan produk-produk baru.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (kasar dan halus) dan bahan tambahan bila diperlukan. Karakteristik beton adalah

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Penyediaan alat kerja dan bahan bangunan pada suatu proyek memerlukan

BAB I PENDAHULUAN. ilmiah dalam upaya mencegah atau memperkecil terjadinya bahaya (hazard) dan

INOVASI PROYEK PUSDIKLAT KEJAKSAAN RI CEGER PEMBANGUNAN KAWASAN PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN TERPADU SDM KEJAKSAAN RI

BAB 1 PENDAHULUAN. proyek pembangunan. Hal ini karena beton mempunyai banyak keuntungan lebih

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III MANAJEMEN DAN ORGANISASI PROYEK

PEKERJAAN SAMBUNGAN ANTARA STRUKTUR PEDESTAL, KOLOM DAN BALOK ATAS

BIDANG KONSTRUKSI SUB BIDANG TUKANG BANGUNAN GEDUNG

BAB IV TINJAUAN BAHAN BANGUNAN DAN ALAT-ALAT. Manajemen pelaksanaan dilakukan dalam rangka menjamin kelancaran

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. basement dan Roof floor. Dimana pelat lantai yang digunakan dalam perencanaan

BETON PRACETAK - PRECAST CONCRETE

BAB I PENDAHULUAN. aktivitas tersebut dalam satu periode tertentu. yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek. Untuk

TUGAS AKHIR PERIODE 36 LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR TERMINAL BUS TIPE A KOTA TEGAL

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN. Dalam pelaksanaan suatu proyek baik proyek besar maupun proyek kecil selalu

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB V METODE PELAKSANAAN PEKERJAAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

INSPEKSI PROSES PELAKSANAAN DAN CACAT PADA DINDING PANEL PRACETAK SUATU PROYEK APARTEMEN

Pelat Dinding Tangga Pondasi Sistem Informasi Definisi Sistem Informasi

BAB II METODE PERANCANGAN SISTEMATIS

Tata cara perhitungan harga satuan pekerjaan beton untuk konstruksi bangunan gedung dan perumahan

SEKOLAH MENENGAH TUNANETRA BANDUNG

Transkripsi:

Bab V Pengembangan Kerangka Model Model ini merupakan pengembangan dari kerangka model yang merupakan hasil studi sebelumnya. Kerangka tersebut disusun dan dikembangkan menjadi Model Proses Produksi Rumah Sederhana Massal Untuk Mempercepat Rekostruksi Pasca Bencana di Indonesia, melalui proses membangun rumah sederhana dengan industrialisasi bangunan pada pelaksanaan rekonstruksi pasca bencana yang melibatkan masyarakat. Pengembangan model bertujuan untuk memperbaiki sistem yang sedang berjalan. Diharapkan dengan model proses membangun yang dikembangkan ini, maka produk yang dihasilkan akan memiliki kualitas, produktifitas, serta efisiensi yang lebih baik. Inti dari model ini adalah merencanakan seluruh proses membangun sejak awal, dengan memprediksi halhal yang berpengaruh pada saat konstruksi di lapangan. V.1 Pengembangan Model Berikut ini akan dikembangkan himpunan pilihan struktur yang layak agar fungsifungsi yang telah dirumuskan sebelumnya dapat menjadi solusi untuk menciptakan kondisi yang diinginkan. V.1.1 Fungsi Kualitas Intervensi yang harus dilakukan adalah adanya kontrol terhadap kualitas yang terencana sejak awal, yaitu sejak tahap penyiapan input bagi proses konstruksi, disamping pada saat proses konstruksi itu sendiri. Input yang harus dikontrol antara lain kualitas SDM, material, alat yang tersedia, serta organisasi membangun yang kesemuanya harus baik atau sesuai dengan standar. Pada saat proses konstruksi, kontrol dapat dilakukan dengan memberikan bimbingan teknis dari ahli, serta adanya panduan teknis (guidelines). Dengan kontrol yang dilakukan sejak awal, maka kontrol di lapangan akan dapat berkurang tingkat kepentingannya. Selain itu, hasil proses pun diharapkan kualitasnya menjadi lebih baik. Gambaran mengenai uraian di atas dapat dilihat pada skema fungsi kualitas di bawah ini. 92

DESAIN (PRODUK) KONSTRUKSI l KUALITAS KUALITAS PROCUREMENT RUMAH TERBANGUN Persyarat an Fungsiona DESAIN (PERENCANAAN) KONTROL Panduan / Guidelines Bimbingan Teknis Bimbingan Ahli Pilihan Desain (Basis Data) Material Tenaga Kerja Alat Organisasi Cuaca Material Tenaga Kerja Alat Organisasi Cuaca KONDISI YANG MENJADI DASAR PERENCANAAN (PREDIKSI) KONDISI TAPAK YANG MENJADI DASAR KONTROL KONDISI TAPAK YANG MENJADI DASAR KONDISI REAL KONDISI TAPAK KONTROL KETERANGAN: OUTPUT KARAKTER OUTPUT YANG DIINGINKAN INPUT KARAKTER 93 Gambar V.1 Model Planned Control (kontrol yang direncanakan) sebagai pengembangan model proses membangun rumah sederhana dengan pelibatan berkaitan dengan fungsi kualitas

Mekanisme kontrol sejak awal ini dapat dipenuhi dengan sistem produksi industrialisasi. Dengan sistem ini, kontrol dilakukan sejak produksi komponen di pabrik. Kontrol terpusat ini lebih mudah dilaksanakan. Dengan kontrol yang baik di pabrik, maka pelaksanaan pekerjaan di lapangan dapat dilakukan dengan kontrol rendah, atau bahkan tanpa kontrol. Dengan demikian, diharapkan fungsi kualitas dapat tercapai. V.1.2 Fungsi Efisiensi Untuk mencapai efisiensi, diperlukan intervensi untuk mempercepat masa konstruksi dan meminimalkan material terbuang (waste). Intervensi tersebut dilakukan dengan memperkenalkan metode pembangunan rumah secara masal, melalui teknik komponenisasi. Gambaran mengenai intervensi yang dilakukan dapat dilihat pada skema fungsi efisiensi (gambar V.2) di bawah ini. Perencanaan komponenisasi dimulai dari tahapan desain. Desain rumah dengan teknik ini tentunya harus disesuaikan dengan modul bahan yang tersedia di lokasi. Basis data mengenai material tersedia dan teknik komponenisasi yang mungkin dilakukan dapat membantu masyarakat dalam menentukan pilihan. Pengadaan material sesuai dengan potensi yang tersedia (tahap procurement) akan mengurangi waktu tunggu pengadaan bahan, dengan kata lain dapat mempercepat masa konstuksi. Desain yang disesuaikan dengan modul bahan yang tersedia dapat mengurangi material terbuang (waste). Dari segi penggunaan alat (mis: cetakan komponen, bekisting beton), dengan metode pembangunan masal, alat dapat digunakan secara bersama-sama di satu tempat dan berkali-kali, sehingga menjadi lebih hemat dan mengurangi material (bekisting) yang biasanya hanya digunakan untuk satu kali pakai. 94

EFISIEN SI EFISIEN SI DESAIN (PRODUK) KONSTRUKSI RUMAH TERBANGUN DESAIN (PERENCANAAN) Modul Komponen (sesuai modul bahan) Waste < Production Line Spesialisasi Pekerjaan Pelatihan Pemakaian Berulang Pilihan Desain (Basis Data) Material Tenaga Kerja Alat Organisasi Cuaca Material Tenaga Kerja Alat Organisasi Cuaca Persyaratan Fungsional PROCUREMENT Komponenisasi Massal Produk Industri KONDISI YANG MENJADI DASAR PERENCANAAN (PREDIKSI) KONDISI REAL KONDISI TAPAK YANG MENJADI DASAR KONDISI TAPAK YANG MENJADI DASAR KONDISI TAPAK KETERANGAN: KARAKTER OUTPUT IN PU T YANG DIINGINKAN OUTPUT KARAKTER Gambar V.2 Pengembangan model proses membangun rumah sederhana dengan pelibatan berkaitan dengan fungsi efisiensi 95

Metode pembangunan masal akan mempengaruhi tahapan konstruksi. Organisasi membangun dengan alur kerja (production line) pada pembangunan masal akan membagi pekerja sesuai dengan kemampuannya. Selain itu, spesialisasi pekerjaan pun akan melatih keahlian dan keterampilan pekerja, sehingga mempercepat pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Dengan langkah-langkah di atas, maka masa konstruksi akan menjadi lebih cepat dan material terbuang (waste) dapat dikurangi, untuk mencapai efisiensi. Namun tentu saja teknik tersebut terlebih dahulu harus dapat diinformasikan melalui petunjuk teknis maupun pelatihan. Dengan informasi tersebut, pengetahuan masyarakat akan bertambah dan fungsi efisiensi dapat terpenuhi. V.1.3 Fungsi Produktifitas Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan beberapa intervensi untuk meningkatkan keterampilan SDM, mengurangi kompleksitas pekerjaan, mengurangi beban pengangkatan, serta mengurangi pengaruh faktor cuaca. Intervensi tersebut dapat dilakukan melalui adaptasi proses fabrikasi dalam sistem produksi industrialisasi. Sistem ini memiliki pembagian pekerjaan (production line) yang jelas, sehingga setiap orang dapat memanfaatkan kemampuannya di bidang yang mereka kuasai. Gambaran mengenai intervensi tersebut dapat dilihat pada skema fungsi produktifitas (gambar V.3) di bawah ini. Pengulangan-pengulangan pekerjaan dalam produksi yang masal, akan menciptakan spesialisasi pekerjaan, sekaligus sebagai pelatihan untuk meningkatkan keterampilan SDM. Komponenisasi yang menjadi bagian dari sistem produksi industrialisasi pun dengan teknologi terbaru dapat menciptakan komponen-komponen yang ringan sehingga pekerjaan handling tidak akan dapat dikurangi waktunya. 96

PRODUKTIFITAS PRODUKTIFITAS DESAIN (PRODUK) KONSTRUKSI RUMAH TERBANGUN DESAIN (PERENCANAAN) Beban Komponen Ringan Production Line Spesialisasi Pekerjaan Pelatihan Kompleksitas Pekerjaan Pengaruh cuaca Pilihan Desain (Basis Data) Material Tenaga Kerja Alat Organisasi Cuaca Material Tenaga Kerja Alat Organisasi Cuaca Persyaratan Fungsional PROCUREMENT Komponenisasi Produk Industri Pre-fabrikasi KONDISI YANG MENJADI DASAR PERENCANAAN (PREDIKSI) KONDISI TAPAK YANG MENJADI DASAR KONDISI TAPAK YANG MENJADI DASAR KONDISI REAL KONDISI TAPAK KETERANGAN: KARAKTER OUTPUT INPU T YANG DIINGINKAN OUTPUT KARAKTER Gambar V.3 Pengembangan model proses membangun rumah sederhana dengan pelibatan berkaitan dengan fungsi Produktifitas 97

Dengan pekerjaan produksi komponen yang dipusatkan di workshop, maka pekerjaan di lapangan akan berkurang kompleksitasnya. Selain itu, proses fabrikasi untuk komponen yang dilakukan di satu tempat terpusat (workshop) akan mengurangi pengaruh cuaca terhadap pekerjaan di lapangan. Intervensi-intervensi di atas diharapkan dapat mempercapat proses pekerjaan, dan menghasilkan produk yang banyak, sehingga fungsi produktifitas dapat tercapai. V.2 Proses Membangun Rumah Sederhana Dengan Industrialisasi Bangunan Pada Pelaksanaan Rekonstruksi Pasca Bencana Yang Melibatkan Masyarakat Dari kerangka model-model yang merupakan struktur terpilih dari fungsi untuk menciptakan kondisi yang diinginkan di atas, disusun suatu pengembangan model secara utuh menjadi sebuah Model Proses Produksi Rumah Sederhana Massal Untuk Mempercepat Rekostruksi Pasca Bencana di Indonesia, melalui proses membangun rumah sederhana dengan industrialisasi bangunan pada pelaksanaan rekonstruksi pasca bencana yang melibatkan masyarakat. Diharapkan dengan model proses membangun yang dikembangkan ini, maka produk yang dihasilkan akan memiliki kualitas, produktifitas, serta efisiensi yang lebih baik. Dengan perencanaan yang baik, kualitas, produktifitas, serta efisiensi sudah dapat diprediksikan sejak awal perencanaan. Hal-hal yang akan mempengaruhi pelaksanaan konstruksi di lapangan sejak awal diperhitungkan. Pada tahap pemilihan desain dan perencanaan proses yang berlangsung secara timbal balik, prediksi-prediksi tersebut menjadi bahan pertimbangan utama, sehingga hasil perencanaan merupakan suatu hasil pengambilan keputusan yang matang. Selain itu, hasil perencanaan yang menjadi panduan / guidelines pekerjaan konstruksi tersebut juga akan menjadi panduan yang unik, berbeda untuk setiap daerah bahkan untuk setiap individu (custom design). 98

PRODUKTIFITAS EFISIENSI KUALITAS EFISIENSI KUALITAS PRODUKTIFITAS Persyaratan Fungsional DESAIN (PRODUK) KONSTRUKSI RUMAH TERBANGUN DESAIN (PERENCANAAN) Beban Komponen Ringan Modul Komponen (sesuai modul bahan) Waste < Production Line Spesialisasi Pekerjaan Pelatihan Pemakaian Berulang Kompleksitas Pekerjaan Pengaruh cuaca Material Tenaga Kerja Alat Cuaca KETERANGAN: Panduan / Guidelines Bimbingan Teknis Bimbingan Ahli Pilihan Desain (Basis Data) Organisasi Material Tenaga Kerja Alat Organisasi Cuaca PROCUREMENT KONTROL INPUT Komponenisasi Massal Produk Industri Pre-fabrikasi KARAKTER KONDISI YANG MENJADI DASAR PERENCANAAN (PREDIKSI) KONDISI REAL KARAKTER OUTPUT YANG DIINGINKAN KONDISI TAPAK YANG MENJADI DASAR KONDISI TAPAK YANG MENJADI DASAR KONDISI TAPAK OUTPUT KONTROL KONTROL Gambar V.4 Proses membangun rumah sederhana dengan industrialisasi bangunan pada pelaksanaan rekonstruksi pasca bencana yang melibatkan masyarakat 99

Inti dari model ini adalah merencanakan seluruh proses membangun sejak awal, dengan memprediksi hal-hal yang berpengaruh pada saat konstruksi di lapangan, yang dipengaruhi oleh kondisi tapak. Oleh karena itu, ketepatan prediksi sangat dibutuhkan. Hal ini dapat dicapai melalui evaluasi dan pengumpulan data awal yang cepat dan juga tepat. V.3 Prinsip Desain Proses Produksi Rumah Sederhana Massal Untuk Mempercepat Rekonstruksi Pasca Bencana di Indonesia Model Proses Produksi Rumah Sederhana Massal untuk Mempercepat Rekonstruksi Pasca Bencana di atas, merupakan perbaikan atas model sistem pelaksanaan rekonstruksi pasca bencana yang melibatkan dengan mengadaptasi sistem industrialisasi bangunan dalam proses membangun rumah sederhana. Dengan mengadaptasi sistem industrialisasi bangunan, diharapkan permasalahan dalam proses membangun rumah sederhana yang ada di masyarakat saat ini dapat diatasi. Sehingga diharapkan pelaksanaan rekonstruksi akan menghasilkan rumah bagi korban bencana yang berkualitas, melalui suatu proses yang produktif dan efisien. Dari model tersebut, dapat kita tarik beberapa prinsip desain yang harus dipenuhi agar sistem industrialisasi dapat diterapkan pada pembangunan rumah yang melibatkan masyarakat. V.3.1 Sumber daya manusia Model ini berusaha meningkatkan pelibatan dan pemberdayaan masyarakat di setiap tahapannya, agar rasa kepemilikan masyarakat terhadap rumah yang dibangunnya juga meningkat. Oleh karena itu, prinsip-prinsip yang harus dilaksanakan adalah: 100

Sumber daya manusia di daerah pasca bencana biasanya berbedabeda. Tingkat kerumitan dari proses yang dipilih harus disesuaikan dengan keterampilan dan keahlian sumber daya manusia, sehingga kualitas produk yang dipilih menjadi maksimal. Keterampilan SDM dapat disesuaikan dengan porsi pekerjaan yang mereka lakukan, melalui production line yang jelas. Dengan production line ini, maka seorang pekerja akan melakukan pekerja yang sama secara berulang-ulang, sehingga spesialisasi pekerjaan dengan sendirinya akan terbentuk. Untuk pekerjaan-pekerjaan dengan teknik baru, harus diberikan pelatihan terlebih dahulu bagi para pekerjanya. Spesialisasi pekerjaan melalui production line ini akan menjadi pelatihan tersendiri bagi pekerja, sehingga keterampilan dan keahlian pekerja (SDM) akan meningkat. V.3.2 Material Hal yang terpenting dari sisi material adalah bagaimana agar waste dari penggunaan material dapat dikurangi. Pengurangan waste tersebut dapat diusahakan melalui desain komponen yang sesuai dengan modul material Dengan material yang terkontrol baik, serta waste yang minimal, diharapkan dengan biaya yang tersedia kualitas produk akan maksimal, sehingga efisiensi akan meningkat. V.3.3 Alat (equipment) Penggunaan material yang berulang pada pembangunan rumah secara massal juga akan mengurangi waste, sehingga diharapkan efisiensi juga akan meningkat. 101

Pemerintah dapat pula memberi bantuan berupa alat (equipment) yang dapat digunakan secara bersama oleh terutama dalam pengerjaan penyiapan komponen di pabrik / workshop (pre-fabrikasi) beserta distribusinya ke lapangan. V.3.4 Desain (produk) Harus disediakan basis data berupa tipologi bangunan rumah sederhana yang spesifik. Basis data ini meliputi: - Pilihan desain arsitektur, - Pilihan desain struktur, - Pilihan material, - Pilihan komponenisasi - Desain proses (panduan metode membangun baik di workshop maupun di lapangan). Komponenisasi itu sendiri memiliki beberapa kriteria, yaitu: - dimensi komponen yang relatif kecil (small panel untuk sistem bangunan 2D), - mudah dalam pengangkatan, - mudah dalam pengangkutan ke lapangan, - mudah dirakit (sistem sambungan sederhana), - sesuai modul material yang tersedia. Basis data ini digunakan sebagai panduan yang fleksibel dalam memilih desain yang sesuai dengan potensi dan kondisi lokal setempat, sehingga desain memenuhi standar keamanan, kenyamanan, dan kesehatan. Dengan basis data ini diharapkan proses membangun akan menghasilkan produk dengan kualitas yang optimal, sehingga masyarakat puas dan mau menghuni rumahnya. 102

Selain prinsip-prinsip yang disebutkan di atas, desain yang dipilih harus mempertimbangkan kemampuan desain tersebut untuk mengantisipasi pengembangan di kemudian hari (fleksibel), sebagai pemenuhan kebutuhan untuk mengekspresikan jati diri para penghuninya. V.3.5 Desain proses Desain proses harus dilakukan pada tahap awal, bersamaan dengan tahap desain (produk). Desain proses ini harus memperhatikan semua potensi input, meliputi sumber daya manusia (pekerja), material, serta alat (equipment) yang menjadi potensi lokal setempat, selain juga memperhatikan desain produknya itu sendiri. Secara garis besar, proses akan dilakukan di 2 tempat, yaitu di pabrik (proses penyiapan komponen) dan site (proses perakitan). Tahapannya antara lain: a) Proses Pre-fabrikasi (Penyiapan Material dan Komponenenisasi) Setelah melakukan asesmen/ penilaian terhadap potensi lokal, maka tahap berikutnya adalah mengeliminasi material yang mungkin dimanfaatkan dalam metode prefabrikasi komponen, berdasarkan material yang telah diidentifikasi sebagai potensi lokal (dalam basis data). Material-material tersebut dikumpulkan di satu tempat (workshop), kemudian dilakukan penyiapan material untuk komponenisasi. Proses ini akan memakan waktu T1x (a, b, c = komponen). Tahap selanjutnya adalah penentuan tipe komponenisasi sesuai dengan desain terpilih yang dipilih dari basis data. 103

b) Proses di site (Perakitan) Setelah tahap komponenisasi, kemudian dilakukan proses perakitan di lapangan. Hal yang termasuk proses perakitan dan mempengaruhi waktu yang diperlukan adalah proses transportation, handling, dan assembling. Oleh karena itu, tipe komponenisasi akan dipengaruhi oleh material yang mungkin, serta keberadaan sumber daya manusia, transportasi, dan peralatan. Material akan menentukan sistem bangunan dan tipe konstruksi. Sumber daya akan menentukan ukuran komponen dilihat dari proses handling. Alat serta transportasi juga akan berpengaruh terhadap dimensi komponen, dilihat dari proses transportation ke site dan assembling. Tahapan proses produksi di workshop dan di lapangan tersebut dapat dilihat pada diagram di bawah ini, yang juga menggambarkan perbandingan antara metode konvensional (eksisting) dan metode non konvensional yang diusulkan. MAN (sum ber daya manusia, orang, tenaga kerja) MATERIAL (bahan-bahan) MACHINE (peralatan, mesin) METHOD (metode, transportation, handling, assem bling) Tidak terlatih Sekitar 3-4 orang/rumah Mendatangka n dari luar kota M aterial lokal yang tersedia Lihat tabel. Konvensional Perlu bantuan pihak luar Budaya Membangun (gotongroyong) X a b c Metode non Konvensional MATERIAL T1x PENYIAPAN KOMPONEN KOMPONENISASI 1D 2D T2x PERAKITAN Transport Transport Handling Handling Assembling Assembling Ty Y MATERIAL PEMBANGUNAN KONVENSIONAL Metode Konvensional Gambar V.5 Proses produksi, perbedaan antara metode konvensional (eksisting) dan metode non-konvensional (dengan adaptasi industrialisasi produk) 104

Kontrol yang tinggi terutama sangat diperlukan saat pekerjaan penyiapan komponen di pabrik. Hal ini dikarenakan kualitas produk, produktifitas, serta efisiensi yang baik pada proses ini sangat bergantung pada tingkat kedisiplinan produksi dan akurasi cetakan komponen di pabrik. Dengan pekerjaan yang sebagian besar dilakukan di pabrik, maka kendala cuaca pun akan berkurang pengaruhnya terhadap kualitas produk, produktifitas, serta efisiensi pekerjaan. Contoh pekerjaan penyiapan komponen di pabrik dapa dilihat pada simulasi cyclone di bawah ini. Besi 1 Besi 2 Perakitan tulangan Tulangan Cetakan 1, 2, 3 Mencetak Komponen 1, 2, 3 (pengecoran & pemadatan) transport Mengeringkan Membuka cetakan Komponen 1, 2, 3 Campuran Beton Pasir Tenaga Kerja Pengadukan Semen Zat Aditif Kerikil Air Queue node Combi (combination processor) Normal (work task) Gambar V.6 Contoh simulasi pembuatan komponen (T1x) Sumber: diolah dari sistem RISHA Proses didesain agar kompleksitas pekerjaan di lapangan berkurang, sehingga pekerja tidak terlatih (unskilled labor) pun 105

dapat melakukan pekerjaan perakitan di lapangan tersebut walau dengan kontrol yang rendah, dengan spesialisasi pekerjaan sesuai kemampuan masing-masing. Contoh pekerjaan penyiapan komponen di pabrik dapa dilihat pada simulasi cyclone di bawah ini. Pembersihan lahan Tenaga Kerja Galian pondasi Perakitan Sloof Perakitan Kolom Perakitan balok Rangka atap Struktur Rumah Sederhana Komponen 1 Komponen 2 Komponen 3 Joint Queue node Combi (combination processor) Galian pondasi Gambar V.7 Contoh simulasi konstruksi di site (T2x) Sumber: diolah dari sistem RISHA V.4 Model Sistem Perencanaan / Perancangan Agar model proses membangun beserta prinsip-prinsip desain yang telah dirumuskan pada uraian sebelumnya dapat diaplikasikan pada maka di bawah ini ditampilkan sebuah model sistem perencanaan / perancangan rumah sederhana. Model sistem perencanaan / perancangan ini merupakan merupakan suatu sistem perencanaan dan perancangan (pengambilan keputusan) untuk pengadaan rumah pasca bencana. Dengan model ini, masyarakat dapat dilibatkan sejak tahap awal perencanaan, tentunya dengan pembimbingan dari tenaga ahli. Model ini juga telah mengadaptasi sistem industrialisasi melalui prefabrikasi komponen maupun metode kerja dengan production line, dan harus dilengkapi dengan basis data. 106

START LOKASI: Basis Data Tipologi RsS EVALUASI & ANALISIS CEPAT: BENCANA & KONDISI EKSISTING SERTA TIPOLOGI RUMAH PEMILIHAN MATERIAL Potensi Lokal Setempat Sesuai material yang tersedia? YA PEMILIHAN SISTEM STRUKTUR Basis Data Sistem Struktur (berdasarkan material) Sesuai kemampuan SDM? Pelatihan SDM / mendatang kan pekerja YA Basis Data Desain Arsitektur PEMILIHAN KOMPONENISASI (desain) Basis Data Komponenisasi Bantuan Teknis (fasilitator tenaga ahli) Sesuai modul material & ketersediaan alat? YA Pengadaan / Bantuan Alat PEMBUATAN KOMPONEN & PERAKITAN Basis Data Metode Membangun Cek keseluruhan, sesuai dengan SDM, material, alat? YA Bantuan Pengawasan (kontrol) KETERANGAN: DOKUMEN PANDUAN DESAIN DAN KONSTRUKSI MULAI INPUT/ OUTPUT DECISION BASIS DATA OUTPUT PELAKSANAAN PEMBUATAN KOMPONEN & PERAKITAN DI LAPANGAN OLEH MASYARAKAT Gambar V.8 Kerangka Model Sistem Perencanaan Rumah Sederhana 107

Adapun uraian dari model sistem perencanaan rumah sederhana pada kondisi pasca bencana di atas adalah sebagai berikut: 1. Dimulai dengan menentukan lokasi 2. Evaluasi dan analisis cepat mengenai bencana yang terjadi serta data awal kondisi eksisting. Data awal kondisi eksisting meliputi potensi lokal, sumber daya, budaya lokal, kondisi alam, dll. Dari sini bisa ditentukan bentuk rumah seperti apa yang mungkin dibangun di tempat tersebut. 3. Pemilihan material, berdasarkan material yang tersedia ataupun material yang mungkin didatangkan ke tempat tersebut. 4. Setelah material yang dipilih sesuai dengan material yang tersedia, maka tahapan selanjutnya adalah pemilihan struktur yang mungkin digunakan. Sistem sruktur yang dipilih harus dikenali oleh masyarakat. Jika belum, maka mungkin diperlukan pelatihan sumber daya manusia (pekerja, dalam hal ini masyarakat), atau mendatangkan tenaga kerja khusus. Jika kedua hal tersebut masih tidak memungkinkan, maka harus dipilih sistem struktur lain yang lebih sesuai dengan tingkat keahlian dan keterampilan masyarakat. 5. Selanjutnya adalah pemilihan komponenisasi. Modul komponen yang dipilih harus sesuai dengan modul material yang dipilih sebelumnya serta alat yang tersedia. Tahap ini mulai memasukkan produk (rumah) ke dalam site. Untuk itu perlu ditentukan bantuan teknis dari fasilitator/ tenaga ahli serta bantuan alat yang harus diberikan. 6. Tahap selanjutnya adalah tahap perencanaan pelaksanaan pembuatan komponen di pabrik, dan perakitan di lapangan (metode membangun dengan produstion line). Setelah itu dilakukan cek ulang secara keseluruhan, apakah sesuai dengan potensi SDM, alat, dan material. 7. Sistem perencanaan ini akan menghasilkan dokumen panduan desain dan konstruksi yang berikutnya akan diinformasikan dan menjadi panduan bagi pemilik rumah dan masyarakat untuk membangun rumahnya. 108

8. Sistem perencanaan ini hanya akan berjalan dengan pendampingan yang baik bagi sejak tahap perencanaan hingga tahap pelaksanaan. Untuk lebih jelasnya, tahapan-tahapan sistem perencanaan dapat kita lihat dalam tabel V.1 di bawah ini. Tabel V.1 Penjelasan Sistem Perencanaan Rumah Sederhana Pasca bencana No Tahap Uraian Keperluan Basis Data 1 Mulai Menentukan lokasi Master plan dari pemerintah, dengan kriteria aman terhadap resiko bencana susulan 2 Evaluasi dan analisis cepat 3 Pemilihan material 4 Pemilihan struktur 5 Pemilihan komponenisasi 6 Perencanaan pembuatan komponen & perakitan 7 Dokumen panduan desain dan konstruksi 8 Pembuatan komponen & perakitan di lapangan Evaluasi dan analisis cepat mengenai bencana yang terjadi serta data awal kondisi eksisting. Data awal kondisi eksisting meliputi potensi lokal, sumber daya, budaya lokal, kondisi alam, dll. Untuk menentukan bentuk rumah seperti apa yang mungkin dibangun di tempat tersebut. Berdasarkan material yang tersedia ataupun material yang mungkin didatangkan ke tempat tersebut. Sistem sruktur yang dipilih harus dikenali oleh masyarakat. Jika belum, maka diperlukan pelatihan sumber daya manusia (pekerja, dalam hal ini masyarakat), atau dipilih sistem struktur lain yang lebih sesuai dengan tingkat keahlian dan keterampilan atau mungkin perlu mendatangkan pekerja dari tempat lain. Komponenisasi yang dipilih harus sesuai dengan modul material yang dipilih sebelumnya serta alat yang tersedia. Tahap ini mulai memasukkan produk (rumah) ke dalam site. Perencanaan pelaksanaan konstruksi (metode membangun dengan production line) baik di pabrik maupun di lapangan. Diinformasikan kepada pemilik rumah dan dan pekerja, sebagai panduan pembuatan komponen & perakitan di lapangan Basis data tipologi rumah sederhana sehat Informasi material tersedia (potensi lokal setempat, hasil eveluasi dan analisis cepat pada tahap no.2) Basis data sistem struktur berdasarkan material Basis data komponenisasi berdasarkan sistem struktur & basis data desain arsitektur berdasarkan tapak Basis data Metode Membangun berdasarkan komponenisasi Hasil dari analisis berdasarkan model yang tersedia Pelaksana Pemerintah, Konsultan pendamping wakil masyarakat Konsultan pendamping wakil masyarakat Konsultan pendamping wakil pemilik rumah Konsultan pendamping wakil pemilik rumah Konsultan pendamping pemilik rumah, pemerintah (bantuan alat) Konsultan pendamping wakil pemilik rumah Konsultan pendamping wakil pemilik rumah Execution Execution Konsultan pendamping masyarakat 109