PERAN IKLlM DALAM PRAKTIK PERTAN IAN

dokumen-dokumen yang mirip
Jurusan Geofisika dan Meteorologi, FMlPA IPB

hasil tanaman seperti yang diharapkan. Syarat tumbuh tanaman dari faktor teknologi budidaya tanaman (T) meliputi: (a) jenis dan varietas tanaman; (b)

Geografi. Kelas X ATMOSFER VII KTSP & K Iklim Junghuhn

1. Tekanan Udara 2. Radiasi Surya 3. Lama Penyinaran 4. Suhu Udara 5. Kelembaban Udara 6. Curah Hujan 7. Angin 8. Evapotranspirasi Potensial

BAB I PENDAHULUAN. Salak (Salacca zalacca) merupakan salah satu tanaman buah- buahan

I. PENDAHULUAN. Peran sektor pertanian sangat penting terhadap perekonomian di Indonesia

I. PENDAHULUAN. dibutuhkan secara berkesinambungan, karena merupakan bahan pangan yang

I. PENDAHULUAN. 1 Kementerian Pertanian Kontribusi Pertanian Terhadap Sektor PDB.

1. I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

9/6/2016 KULIAH 4: CUACA DAN IKLIM SERTA UNSUR-UNSURNYA. Output Input. Efisiensi = Impor Indonesia (BPS, 2005)

BAB I PENDAHULUAN. langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional.

3. FUNDAMENTAL OF PLANTS CULTIVATION

1. PENDAHULUAN. banyak mengandung zat-zat yang berguna bagi tubuh manusia, oleh karena itu

I. PENDAHULUAN. penting bagi perkembangan perekonomian nasional di Indonesia. Hal ini

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Industri pengolahan obat-obatan tradisional mengalami perkembangan yang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Suhu min. Suhu rata-rata

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Pisang merupakan komoditas buah-buahan yang populer di masyarakat karena

Perkembangan Ekonomi Makro

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha Triwulan-I Tahun

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki keanekaragaman tumbuhtumbuhan,

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertumbuhan tanaman dan produksi yang tinggi dapat dicapai dengan. Pemupukan dilakukan untuk menyuplai unsur hara yang dibutuhkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. paling terasa perubahannya akibat anomali (penyimpangan) adalah curah

I PENDAHULUAN Latar Belakang

Ekonomi Pertanian di Indonesia

INFORMASI IKLIM UNTUK PERTANIAN. Rommy Andhika Laksono

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN

II. IKLIM, TANAH DAN WILAYAH PRODUKSI

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kuliah ke-2. R. Soedradjad Lektor Kepala bidang Pengelolaan Sumberdaya Alam

I PENDAHULUAN (%) (%) (%) Buahbuahan , , , ,81

KATA PENGANTAR. Jakarta, September 2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ir. M. Tassim Billah, MSc.

TINJAUAN PUSTAKA Budidaya Tebu

STAF LAB. ILMU TANAMAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Komoditi hortikultura dalam negara agraris seperti Indonesia sangat besar,

TINJAUAN PUSTAKA. Faktor Lingkungan Tumbuh Kelapa Sawit

KATA PENGANTAR. Jakarta, Juni 2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ir. M. Tassim Billah, MSc.

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

KATA PENGANTAR. Jakarta, Juli 2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ir. M. Tassim Billah, MSc.

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan PDB Hortikultura Atas Dasar Harga Berlaku di Indonesia Tahun Kelompok

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Materi 04 Pertimbangan dalam Pemilihan Komoditas. Benyamin Lakitan

ENERGI DAN PRODUKSI PERTANIAN BAHAN KULIAH DASAR AGRONOMI FAKULTAS PERTANIAN IPB

KATA PENGANTAR. Jakarta, Oktober 2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ir. M. Tassim Billah, MSc.

TINJAUAN PUSTAKA. Ordo : Liliales ; Famili : Liliaceae ; Genus : Allium dan Spesies : Allium

BAB I PENDAHULUAN. hortikultura,dan 12,77 juta rumah tangga dalam perkebunan. Indonesia

I PENDAHULUAN * Keterangan : *Angka ramalan PDB berdasarkan harga berlaku Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2010) 1

BAB I PENDAHULUAN. Kopi merupakan komoditas sektor perkebunan yang cukup strategis di. Indonesia. Komoditas kopi memberikan kontribusi untuk menopang

Iklim Perubahan iklim

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Komoditas Caisin ( Brassica rapa cv. caisin)

CUACA DAN IKLIM SERTA UNSUR-UNSURNYAUNSURNYA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia mempunyai agroekologi dataran rendah sampai dataran tinggi yang hampir semua dapat menghasilkan

Bab 5 H O R T I K U L T U R A

HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Jagung (Zea mays L.) merupakan tanaman pangan penting di dunia setelah

PENDAHULUAN. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. pelestarian keseimbangan lingkungan. Namun pada masa yang akan datang,

I. PENDAHULUAN. Ketergantungan terhadap bahan pangan impor sebagai akibat kebutuhan. giling (Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, 2015).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Buletin Analisis Hujan Bulan Februari 2013 dan Prakiraan Hujan Bulan April, Mei dan Juni 2013 KATA PENGANTAR

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI

Buletin Pemantauan Ketahanan Pangan INDONESIA. Volume 7, Agustus 2017

BAB I PENDAHULUAN. memiliki potensi sangat besar dalam menyerap tenaga kerja di Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Peningkatan suhu rata-rata bumi sebesar 0,5 0 C. Pola konsumsi energi dan

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan buah-buahan. Iklim di

PENDAHULUAN. yang penting di Indonesia dan memiliki prospek pengembangan yang cukup

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian berperan penting dalam pembangunan ekonomi nasional.

TINJAUAN MATA KULIAH...

1 LAYANAN KONSULTASI PADI IRIGASI Kelompok tani sehamparan

I. PENDAHULUAN. Sumber: Badan Pusat Statistik (2009)

Air dalam atmosfer hanya merupakan sebagian kecil air yang ada di bumi (0.001%) dari seluruh air.

5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Sebaran Struktur PDB Indonesia Menurut Lapangan Usahanya Tahun

BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan.

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Lahan Gambut

II. TINJAUAN PUSTAKA Agribisnis Cabai Merah

Vegetasi Alami. vegetasi alami adalah vegetasi atau tumbuh-tumbuhan yang tumbuh secara alami tanpa adanya pembudidayaan.

20% dari basket IHK, sementara untuk bahan pangan (raw food) total sekitar 23% dari basket IHK.

Buletin Analisis Hujan Bulan Januari 2013 dan Prakiraan Hujan Bulan Maret, April dan Mei 2013 KATA PENGANTAR

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. dalam pembangunan nasional, khususnya yang berhubungan dengan pengelolaan

I. PENDAHULUAN. Tomat (Lycopersicon esculentum mill) merupakan tanaman yang berasal dari

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Buletin Analisis Hujan Bulan April 2013 dan Prakiraan Hujan Bulan Juni, Juli dan Agustus 2013 KATA PENGANTAR

I. PENDAHULUAN. terutama pangan dan energi dunia, termasuk Indonesia akan dihadapkan pada

BAB I PENDAHULUAN. didefinisikan sebagai peristiwa meningkatnya suhu rata-rata pada lapisan

Transkripsi:

PERAN IKLlM DALAM PRAKTIK PERTAN IAN HANDOKO Jurusan Geofisika dan Meteorologi, FMlPA IPB Siapa yang peduli iklim? Ramalan cuaca saja tidak menarik dan sering meleset. Tetapi, coba bayangkan negara kita yang konon katanya subur makmur ini tanpa iklim. Tanah yang sangat subur dengan kandungan unsur hara tanaman yang tinggi pun tidak akan dapat ditanami. Tanpa iklim, artinya tanpa cahaya matahari, hujan, suhu, kelembaban, tekanan udara, dan kecepatan angin. Bayangkan tanah kita yang subur tersebut kita pindahkan di tengah padang pasir, apa jadinya? Selama ini umumnya mindset kita terhadap pertanian selalu berhubungan dengan tanah, dan bukan iklim. Sebenarnya, batasan pertanian dalam arti luas adalah "usaha manusia dalam memanen energi radiasi matahari untuk menghasilkan makanan dan serat". Makanan berarti tidak hanya pertanian melainkan juga ternak dan ikan, sedangkan kata 'serat' dalam ha1 ini berhubungan dengan sandang (pakaian) dan papan (kayu). Untuk menghasilkan efisiensi pemanenan energi radiasi surya yang tinggi diperlukan usaha pengaturan jarak tanam,

I 1! 4 2 PERAN IKLIM DALAM PRAKTIK PERTANIAN pemupukan, dan irigasi yang tepat serta pengendalian hama dan penyakit. Di samping itu, nilai efisiensi ini (efisiensi = output1 input) jika dinilai dari perbandingan outputlinput dalam nilai rupiah, maka nilainya akan semakin tinggi jika hasil pertanian (output) tersebut mengalami nilai tambah melalui pemrosesan pascapanen, apalagi jika dijual dengan harga yang Lebih tinggi. Oleh sebab itu, fakultas-fakultas yang ada di lnstitut Pertanian Bogor berhubungan dengan definisi pertanian tersebut, mulai dari kegiatan pengembangan ilmu di FMIPA, produksi di lahan pertanian (Faperta, Faperikan, Fapet, dan Fahutan), penanganan penyakit ternak (FKH), pascapanen (Fateta) sampai pemasarannya (FEM). Proses produksi tanaman sederhana sebenarnya analog dengan kalau kita memasak Sup kambing. Daging kambing identik dengan CO, di atmosfer yang jumlahnya tak terbatas, sedangkan air (kuah) berasal dari hujan. Dalam proses ini diperlukan kompor yang identik dengan energi radiasi matahari, semakin redup api kompor atau energi matahari tersebut sedikit, maka tidak banyak yang dapat kita masak yang identik dengan produksi pertanian yang rendah. Demikian juga dengan air, kebutuhan untuk memasak tidak hanya untuk kuah sup, tetapi juga untuk mencuci panci, piring dan bahan-bahan yang diperlukan. Seperti halnya tanaman, penggunaan air tidak hanya untuk proses fotosintesis dan cairan selselnya, tetapi justru kehilangan terbesar (lebih 95%) adalah untuk proses transpirasi. Dengan proses transpirasi ini, hara tanah dapat diserap tanaman dan suhu tanaman tidak terlalu tinggi karena proses penguapan membutuhkan energi yang sebagian diambil dari tubuh tanaman tersebut. Jika hanya kompor, daging dan air yang tersedia, maka sebenarnya yang kita masak hanyalah daging rebus. Untuk menjadi Sup kambing, diperlukan bumbu masak seperti Bawang, garam merica dan lainnya yang identik dengan unsur hara makro dan mikro dari tanah. Namanya juga bumbu, maka jumlah yang diperlukan tidak sebanyak air, yang juga identik dengan unsur hara tanah yang diserap tanaman, yaitu kurang dari 5%. Bagian terbesar unsur

hara tersebut adalah nitrogen (1-4%), yang sebenarnya berasal dari atmosfer yang 80% kandungannya adalah gas nitrogen (N,). Jadi yang benar-benar berasal dari tanah hanya sekitar 1% dari berat total tanaman, dan ini yang mendasari teknik hidrophonic, nutrient film technique (NFT) serta aerophonic. Proses produksi tanaman yang lebih kompleks untuk menghasilkan kualitas hasil yang tinggi akan juga memerlukan panjang hari (periode dari matahari terbit sampai terbenam) serta suhu rendah tertentu secara simultan, yang tidak dimiliki iklim kita. Contoh tanamannya adalah anggur, yang dalam ha1 ini identik dengan kalau kita membuat kue 'tart' yang memerlukan oven dengan suhu tertentu untuk periode tertentu pula. Kalau anggur tersebut ditanam di Indonesia, maka kualitas hasilnya tidak akan sebaik dari negara-negara lintang tinggi; dengan kata lain kue 'tart' kita akan bantat karena kita tidak menggunakan oven dengan suhu yang dapat diatur. Suhu Walaupun variasi suhu musiman hampir tidak ada seperti perbedaan antara musim winter dan summer di negara lintang tinggi, Indonesia beruntung memiliki variasi suhu antara dataran rendah sampai dataran tinggi. Dengan variasi suhu ini, kita dapat menanam beragam tanaman yang kebutuhan suhunya berbeda seperti Padi, Mangga, dan Melon di dataran rendah serta sayuran di dataran tinggi seperti Kubis, Wortel, Kentang, dan bunga-bungaan. Dapat dibayangkan jika kita memiliki suhu yang sama yaitu hanya seperti di dataran rendah, maka berapa biaya listrik yang diperlukan untuk AC guna mengusahakan tanaman dataran tinggi. Energi Radiasi Matahari Energi radiasi yang kita terima di Indonesia setiap harinya sekitar 20 mega joule (MJ) tiap m2 lahan. Energi tersebut akan semakin rendah jika matahari tertutup awan. Bayangkan jika kita

I 4 PERAN IKLIM DALAM PRAKTIK PERTANIAN menanam Padi selarna 100 hari untuk tiap musim, maka kita akan memerlukan energi tersebut sebesar 2000 MJ per mz atau 20 juta MJ per hektar. Jika tidak ada energi radiasi matahari dan kita gunakan listrik dari PLN sebagai penggantinya, maka setiap musim tanam Padi kita memerlukan 5,56 juta kwh. Bila harga setiap kwh dua ratus rupiah saja, maka biaya listrik yang diperlukan adalah 1,1 milyar rupiah untuk menghasilkan 5 ton gabah seharga kurang dari 10 juta rupiah. Ini hanya salah satu sumberdaya iklim karunia Allah yang semestinya selalu kita syukuri. Curah Hujan Sekali lagi kita harus bersyukur karena Indonesia dikaruniai curah hujan yang tinggi dibandingkan banyak negara seperti di Afrika dan Timur Tengah serta sebagian besar Australia. Sayangnya, kita tidak dapat memanfaatkan rahmat tersebut dengan sebaikbaiknya, sehingga kita sering mengalami kekeringan pada musirn kernarau dan kebanjiran pada musirn hujan. Lagi pula, kita sering mengeluh jika terjadi sedikit kekeringan padahal curah hujan telah melampaui 1000 mm per tahun seperti di daerah Jawa bagian Timur dan NTB, padahal Australia dengan curah hujan kurang dari 500 mm per tahun rnerupakan daerah jalur pertanaman gandum (wheat belt). Sebagai gambaran karunia tersebut, jika kebutuhan air Padi per hari 7 mrn, rnaka selama 100 hari akan diperlukan air sebanyak 700 mm atau sebesar 7 juta liter per hektar setiap musim tanam. Dapat dibayangkan berapa biayanya jika air tersebut harus disediakan melalui penyulingan air laut seperti yang dilakukan negara-negara Arab. Dilema yang dihadapi pertanian kita yaitu energi rnatahari tinggi terjadi pada musim kernarau pada saat hujan relatif rendah, kecuali tersedia air irigasi. Sebaliknya, masa tanarn dilakukan pada musim hujan yang energi radiasi matahari berkurang karena penutupan awan, sehingga terjadi trade off antara kebutuhan air

dengan ketersediaan energi matahari untuk fotosintesis. Umumnya kualitas buah-buahan, Kopi dan Tebu akan lebih tinggi pada daerah kering karena pengisian buah atau kandungan gula terjadi pada saat kemarau, yaitu saat energi matahari tinggi. Sebaliknya, beberapa tanaman seperti Kelapa sawit dan Karet sangat rentan dengan kekeringan, sedangkan beberapa dapat beradaptasi seperti jati yang menggugurkan daunnya pada musim kemarau untuk mengurangi laju transpirasi. Pemerintah Hindia Belanda Kita perlu belajar dari Pemerintah Hindia Belanda dalam melakukan pewilayahan komoditas pertanian secara jitu. Untuk menunjang perencanaannya, dibangunlah jaringan stasiun pengamat hujan yang pertama kali dipasang di Banten hingga kemudian mencapai sekitar 4000 stasiun hujan di Jawa, dan jumlah yang sama untuk luar Pulau Jawa. Sayangnya, hampir semua stasiun hujan tersebut telah rusak atau tinggal kenangan, sehingga kita tidak dapat lagi melakukan pewilayahan komoditas dengan baik walaupun teknologi informasi yang jauh Lebih canggih telah tersedia. Pemerintah Hindia Belanda memusatkan Kelapa sawit dan Karet mulai dari Sumatera sampai Jawa Barat yang mempunyai curah hujan tinggi untuk menghindari stres air, serta Tebu di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang agak kering karena Tebu memerlukan air pada awal pertumbuhan dan radiasi matahari tinggi pada saat pengisian gula. Untuk meningkatkan produksi dan pengolahan hasil Tebu juga dibangun jaringan irigasi serta pabrik-pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sehingga Indonesia menjadi pengekspor gula terbesar di dunia saat itu, dan dampaknya orang Jawa suka masakan dan minuman yang serba manis. Sentra produksi Mangga di lndramayu (Jawa Barat) dan Proboli@go (Jawa Timur) ternyata sangat berkait dengan dua unsur iklim yaitu curah hujan dan suhu udara yang sangat sesuai dengan

pertumbuhan Mangga di kedua daerah itu dibanding daerah-daerah lainnya. Hasil Mangga tertinggi memerlukan 6-7 bulan basah untuk menunjang pertumbuhan vegetatifnya, kemudian selama bulan kering terjadi pengisian buah dengan dukungan energi radiasi yang cukup tinggi. Sedangkan, tanaman Kopi memerlukan perbedaan iklim antara musim hujan dan kemarau yang jelas untuk menghasilkan panen yang serempak agar kualitas hasilnya tinggi, karena pembungaan Kopi di-trigger oleh curah hujan. Jika curah hujan sepanjang tahun seperti di Bogor, maka Kopi juga akan berbunga sepanjang tahun sehingga panen akan berkepanjangan. Dalam hubungan ini Pemerintah Hindia Belanda menempatkan Pusat Penelitian Kopi di Jember yang mempunyai perbedaan musim hujan dan kemarau yang jelas. Pemerintah Hindia Belanda menempatkan pusat penelitian hortikultura di sekitar Malang juga berdasarkan pendekatan kesesuaian iklim, karena di sana terdapat kombinasi berbagai kondisi iklim mulai dari daerah dataran rendah (suhu tinggi) sampai dataran tinggi (suhu rendah), serta dari curah hujan rendah hingga agak tinggi. Dengan variasi iklim tersebut, di daerah Malang dan sekitarnya dapat kita jumpai berbagai macam buah dan sayuran seperti Apel, Jambu, Semangka, Mangga, Manggis, Salak, Nangka, Pisang, Tomat seperti di daerah Pasar Minggu, Jakarta tempoe doeloe. Sayangnya, pusat penelitian tersebut telah dipindahkan karena beralih fungsi dan kurang pemahaman tentang filosofi hubungan iklim-tanaman. Teknologi lnformasi dan Model Simulasi Komputer dalam Bidang Pertanian Kemajuan teknologi komputer telah membawa dampak yang sangat luas dalam berbagai kehidupan, tidak ketinggalan dalam bidang pertanian. Jika pada masa lampau pemantauan cuacaliklim harus mengandalkan tenaga manusia, dengan kemajuan teknologi komputer dan teknologi informasi, data-data cuaca saat ini juga

dapat dipantau secara jarak jauh (telemetri) serta melalui satelit (remote sensing). Data-data tersebut selanjutnya digunakan untuk membuat model-model simulasi komputer guna memprediksi umur tanaman, hasil pertanian, serangan hama penyakit serta menentukan wilayah-wilayah potensial untuk tanaman tertentu termasuk kelayakan ekonominya. Data-data cuaca merupakan faktor dominan dalam penyusunan model simulasi komputer karena sifatnya yang selalu berubah dari waktu ke waktu, sehingga fluktuasi hasil pertanian sangat ditentukan oleh fluktuasi cuaca tersebut. Data-data cuaca juga diperlukan untuk melakukan monitoring antara lain kejadian banjir, kekeringan, serangan hama penyakit, produksi pertanian, penerbangan, pelayaran, dan kebakaran hutan. Penutup Dalam era globalisasi sekarang ini, bukan hanya kuantitas produksi yang diperlukan, tetapi juga kualitas serta keseragaman mutu agar dapat bersaing dengan produk dari negara-negara lain. Pembangunan jaringan stasiun klimatologi pertanian yang representatif untuk perencanaan, monitoring maupun peramalan seperti kekeringan, banjir dan serangan hama penyakit perlu segera dilakukan, agar perencanaan pertanian kita tidak sekedar berdasarkan 'instinct'. Hal ini perlu ditunjang oleh tenaga ahli yang mendalami hubungan cuaca-pertanian serta teknologi informasi (model simulasi komputer) agar data-data yang dikumpulkan dapat dikembangkan penggunaannya serta dimanfaatkan secara baik dan benar.