Analisa Unsafe Behaviour

dokumen-dokumen yang mirip
ABSTRAK I. PENDAHULUAN

Evaluasi dan Perbaikan pada Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja (SMK3) untuk Menekan Unsafe Behavior pada Pekerja. (Studi Kasus : PT.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan pesat dunia industri konstruksi bangunan di Indonesia

BAB 1 : PENDAHULUAN. yang menjadi penentu pencapaian dan kinerja suatu perusahaan. Jika dalam proses

Analisa dan Perbaikan Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada PT Alisons dengan Pendekatan HAZOP (Hazard and Operability Study)

BAB I PENDAHULUAN. hal tersebut dengan meratifikasi 15 Konvensi International Labour Organization (ILO). Delapan

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu dari sekian banyak bidang usaha yang tergolong sangat

Tabel 5.1 Nilai pada Tiap-tiap sub Kategori pada Tiap Kategori 79 Tabel 5.2 Perbandingan Dampak Kecelakaan dari Kategori Ringan dan Kategori Berat 87

BAB I PENDAHULUAN. industri atau yang berkaitan dengannya (Tarwaka, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. adalah meningkatnya jumlah tenaga kerja di kawasan industri yang. membawa dampak terhadap keadaan sosial masyarakat.

Perumusan Masalah : Tujuan Batasan dan Asumsi LANDASAN TEORI Pengertian Risiko Pengendalian Risiko

Analisis Prioritas Kecelakaan Kerja dengan Metode Failure Mode and Effect Analysis di PT. PAL Indonesia (Persero)

PERILAKU TIDAK AMAN (UNSAFE BEHAVIOUR) PADA PEKERJA DI UNIT MATERIAL PT. SANGO CERAMICS INDONESIA SEMARANG

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN

MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA ESTIMATOR BIAYA JALAN (COST ESTIMATOR FOR ROAD PROJECT)

PENDAHULUAN. yang memiliki peran penting dalam kegiatan perusahaan. dari potensi bahaya yang dihadapinya (Shiddiq, dkk, 2013).

pada tabel 6.1 tentang penyebab kecelakaan akibat tidakan tidak aman ( Unsafe

Nurbowo Dwinalto Arindra

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN ANALISA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber:

Bab I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

Universitas Diponegoro 2 Chief Environmental Engineer, Safety-Health_Environmental & Loss Control

Tabel I.1 Data Kecelakaan Kerja di Rumah Batik Komar. (Sumber : Rumah Batik Komar) Kecelakaan kerja Dampak Frekuensi

BAB I PENDAHULUAN. tepat akan dapat merugikan manusia itu sendiri. Penggunaan Teknologi

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1(Sept. 2012) ISSN: A-510

BAB I PENDAHULUAN. Repository.Unimus.ac.id

Evaluasi Pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Perusahaan Konstruksi Pemeliharaan Jalan di Dinas Kimpraswil Kota Yogyakarta

EVALUASI PENGENDALIAN RISIKO PT. LEMBAH KARET BERDASARKAN RISK REDUCTION

BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Dalam proses pembangunan nasional, titik berat pembangunan nasional

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Proses industrialisasi telah mendorong tumbuhnya industri diberbagai sektor dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PROGRAM PASCASARJANA PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK SIPIL

BAB I PENDAHULUAN. kesusilaan dan perlakuan yang sesuai harkat dan martabat manusia serta nilainilai

ANALISIS PENGENDALIAN RESIKO DAN K3 DI DEPARTEMEN BAG MAKING MENGGUNAKAN FMEA (FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS) PADA PT SUPERNOVA FLEXIBLE PACKAGING

BAB V PEMBAHASAN. Dengan mendefinisikan target-target BBS, berarti perusahaan telah

BAB 1 : PENDAHULUAN. faktor yaitu, unsafe action dan unsafe condition. OHSAS menyebutkan risiko

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kepuasan memiliki bermacam-macam arti, masing-masing bidang


BAB I PENDAHULUAN. menciptakan tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran

BAB I PENDAHULUAN. dan dikondisikan oleh pihak perusahaan. Dengan kondisi keselamatan kerja

BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. suatu bangunan yang membutuhkan sumber daya, baik biaya, tenaga kerja,

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industrialisasi yang sedang dilakukan khususnya peralihan

HUBUNGAN KEPATUHAN INSTRUKSI KERJA DENGAN KEJADIAN KECELAKAAN KERJA PADA BAGIAN PRODUKSI DI PT. ANEKA ADHILOGAM KARYA CEPER KLATEN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. para pihak diharapkan dapat melakukan pekerjaan dengan aman dan nyaman.

BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KECELAKAAN KERJA PADA KARYAWAN PT KUNANGGO JANTAN KOTA PADANG TAHUN 2016

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Identifikasi Kecelakaan Kerja Pada Industri Konstruksi Di Kalimantan Selatan

BAB I PENDAHULUAN. dibutuhkan untuk membantu kehidupan manusia. Penggunaan mesin-mesin,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja. subkontraktor, serta safety professionals.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 : PENDAHULUAN. didik untuk bekerja pada bidang tertentu, sesuai dengan misi Sekolah Menengah Kejuruan

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah kesehatan dan keselamatan kerja masih merupakan salah satu

Analisis Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Proyek Konstruksi Sahid Jogja Lifestyle City di Kabupaten Sleman

BAB I PENDAHULUAN. kecelakaan disebabkan oleh perbuatan yang tidak selamat (unsafe act), dan hanya

BAB I PENDAHULUAN. pelaku dalam industri (Heinrich, 1980). Pekerjaan konstruksi merupakan

BAB III SISTEM ORGANISASI DALAM MANAJEMEN PROYEK. Manajemen Proyek adalah kegiatan merencanakan, mengorganisasikan,

TUGAS KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA

BAB I PENDAHULUAN. dalam pertumbuhan ekonomi dan kemajuan sosial di dunia industri. Perkembangan teknologi telah mengangkat standar hidup manusia dan

ANALISA RESIKO DALAM USAHA MENGELOLA FAKTOR RESIKO SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS DAN KUANTITAS PRODUK JADI

ANALISIS KEPENTINGAN DAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA (STUDI KASUS PROYEK GEDUNG P1 DAN P2 UKP)

EVALUASI JENIS DAN AREA POTENSIL KECELAKAAN KERJA PADA INDUSTRI PABRIK X

BAB VII PEMBAHASAN MASALAH

BAB I PENDAHULUAN. tenaga kerja dari kecelakaan atau penyakit akibat kerja (Ramli, 2013).

EVALUASI PENERAPAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA PROYEK KONSTRUKSI (STUDI KASUS PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG RS.

BENTUK RENCANA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA KONTRAK (RK3K) I. BENTUK RK3K USULAN PENAWARAN DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN. Potensi bahaya dan risiko kecelakaan kerja antara lain disebabkan oleh

BAB III MANAJEMEN DAN ORGANISASI PROYEK

IMPLEMENTASI SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN METODE HIRADC PADA PERUSAHAAN PENGOLAHAN KAYU

BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK

BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK

EVALUASI PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (SMK3) PADA PROYEK PEMBANGUNAN APARTEMEN GUNAWANGSA MERR SURABAYA

BAB I PENDAHULUAN. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu aspek

BAB III METODE PENELITIAN

Disusun Oleh : Denny Dwiputra Notoprasetio NRP: Radityo Herwidodo NRP:

BAB I PENDAHULUAN. Kesejahteraan pekerja merupakan salah satu tujuan yang hendak dicapai

BAB 1 : PENDAHULUAN. ditandai dengan semakin berkembangnya prindustrian dengan mendayagunakan

BAB I PENDAHULUAN. memakai peralatan yang safety sebanyak 32,12% (Jamsostek, 2014).

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN PEMBERLAKUAN SYARAT SERTIFIKASI KETERAMPILAN KERJA MANDOR DI LAPANGAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Identifikasi Bahaya Pada Pekerjaan Maintenance Kapal Menggunakan Metode HIRARC dan FTA Dengan Pendekatan Fuzzy

PELATIHAN INSPEKTOR LAPANGAN PEKERJAAN JALAN (SITE INSPECTOR OF ROADS)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pekerjaan konstruksi merupakan kompleksitas kerja yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. akan ditimbulkan akibat aktivitas-aktivitas yang ditimbulkan seperti kecelakaan

RENCANA KERJA DAN SYARAT SYARAT TEKNIS

BAB II KARAKTERISTIK & MANAJEMEN PROYEK

BAB III SISTEM ORGANISASI DAN MANAJEMEN PROYEK. proyek atau pekerjaan dan memberikannya kepada pihak lain yang mampu

SURAT PERJANJIAN KERJA

MODUL PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR SIPIL EDISI 2012 PELAKSANA LAPANGAN PEKERJAAN JALAN

Transkripsi:

Analisa Unsafe Behaviour Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi di CV. Wahana Cipta (Studi Kasus: Pembangunan Dermaga Multipurpose PT. Gresik Jasatama) Miftakhul Khoiri 2506100115 Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Sri Gunani Partiwi, M.T. Anny Maryani, S.T., M.T.

LATAR BELAKANG Penduduk 1971 1980 1990 1995 2000 2010 Indonesia 119.208.229 147.490.298 179.378.946 194.754.808 206.264.595 237.641.326 Sumber : Badan Pusat Statistik, R.I. Proyek Kontruksi rata-rata meningkat 1000-2000 proyek di kota-kota besar di Indonesia dalam 2 tahun terakhir Sumber : Kemenakertrans, R.I.

KECELAKAAN KERJA Periode Tahun Sumber : Jamsostek, 2013 Jumlah Kasus Kecelakaan Kerja 2008 94. 736 2009 96.314 2010 98.711 2011 99.491 2012 103.074 No. Sektor Data 1. Konstruksi 32% 2. Industri 31,6% 3. Tranportasi 9,3% 4. Kehutanan 3,8% 5. Pertambangan 2,6% 6. Lainnya 20,7% Sumber : Maryani, 2012; data diperoleh dari Tren Konstruksi Juli 2010 Terjadi penurunan pada tahun 2010-2011, namun masih menduduki posisi teratas S u m b e r : K e m e n a k e r t r a n s, R. I.

RUMUSAN MASALAH Menganalisa Unsafe Behaviour pada Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi di CV. Wahana Cipta dan melakukan identifikasi untuk menekan timbulnya kecelakaan kerja akibat dari perilaku tidak aman yang dilakukan pekerja dengan menggunakan FMECA (Failure Mode, Effect and Criticality Analysis).

TUJUAN PENELITIAN 1 2 3 Melakukan analisa K3 di CV. Wahana Cipta dengan mengacu pada salah satu proyek yang dikerjakan. Mengidentifikasi kondisi paling kritis yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja akibat dari unsafe behaviour yang dilakukan pekerja. Memberikan rekomendasi perbaikan dari identifikasi perilaku tidak aman pekerja pada proyek yang dikerjakan oleh CV. Wahana Cipta.

RUANG LINGKUP Batasan Asumsi Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan dermaga multipurpose PT. Gresik Jasatama. Tidak terjadi perubahan peraturan kebijakan K3 selama penelitian dilakukan. Waktu pengerjaan proyek single year. Pekerja yang diamati adalah pekerja tetap dan kontrak.

TINJAUAN PUSTAKA Keselamatan dan Kesehatan Kerja Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Unsafe Behaviour Root Cause Analysis (RCA) Failure Mode, Effect and Criticality Analiysis (FMECA)

METODOLOGI PENELITIAN Mulai Identifikasi Masalah dan Perumusan Tujuan Studi Literatur 1. K3 2. SMK3 3. Unsafe Behaviour 4. RCA 5. FMECA Studi Lapangan Pengamatan Kondisi Kerja pada CV. Wahana Cipta Pengumpulan Data 1. Profil Perusahaan 2. Identifikasi Unsafe Behaviour Pekerja 3. APD yang Dimiliki 4. Data Penunjang Lain A

METODOLOGI PENELITIAN A Pengolahan Data 1. Mencari Semua Possible Cause Unsafe Behaviour Pekerja 2. Mencari Penyebab dari Unsafe Behaviour Pekerja 3. Perangkingan dengan FMECA Analisis 1. Analisis Kondisi K3 2. Analisis Unsafe Behaviour Pekerja 3. Analisis FMECA 4. Rekomendasi Perbaikan K3 Penarikan Kesimpulan dan Saran Selesai

CV. WAHANA CIPTA Bidang Pekerjaan Meliputi : Kontraktor Begisting, Pembesian & Pengecoran Kontraktor Sipil Umum & Interior Autocad Drafter untuk Shop Drawing dan Asbuilt Drawing Survey Topographi dan Bathymetri Alamat : Jl. Alun-alun Rangkah No. 17/II Surabaya Telp/Fax : 031-3712262,

CV. WAHANA CIPTA Direktur Marketing Administrasi Project Manager Site Manager Engineer Pelaksana Surveyor Drafter Estimator

OBJEK PENELITIAN Sumber : Google Maps. Nama Proyek : Pembangunan Dermaga Terminal Multipurpose Lokasi Proyek : Pelabuhan Gresik, Gresik Jawa Timur Pemilik Proyek : PT. Gresik Jasatama Gresik Kontraktor : PT. Nindya Karya (Persero) Sub Kontraktor : CV. Wahana Cipta Lingkup Pekerjaan : Pekerjaan Persiapan. Pekerjaan Pemancangan. Pekerjaan Pembetonan. Pekerjaan Finishing.

OBJEK PENELITIAN

OBJEK PENELITIAN Unsafe behaviour yang sering dilakukan: 1. Bekerja tanpa menggunakan helm. 2. Bekerja tanpa menggunakan safety shoes. 3. Bekerja tanpa menggunakan sarung tangan. 4. Bekerja tanpa menggunakan life jacket. 5. Meletakkan peralatan sembarangan. 6. Lalai dalam bekerja. 7. Sengaja menceburkan diri ke laut. 8. Merokok saat bekerja.

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 1. Bekerja tanpa menggunakan helm. MAN METHOD APD dihilangkan APD sengaja tidak dipakai Tidak ada peneguran APD tidak tersedia APD helm tidak dipakai Persediaan terbatas Aturan tidak dijalankan MATERIAL ORGANIZATION Penyebab utama : APD sengaja tidak dipakai. Tidak ada peneguran. Aturan tidak dijalankan.

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 1. Bekerja tanpa menggunakan helm. Bekerja tanpa menggunakan pelindung kepala / helm APD sengaja Tidak ada Why 1 Aturan tidak dijalankan tidak dipakai peneguran Kurang Why 2 Lupa Gerah SOP kurang pengawasan Why 3 Tidak memahami SOP Tidak ada aturan yang jelas Kesadaran pekerja kurang Masih berbentuk CV.

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 2. Bekerja tanpa menggunakan safety shoes. MAN METHOD Tidak disiplin Tidak ada peneguran Sepatu bermassa berat APD sengaja tidak dipakai Aturan tidak dijalankan APD tidak tersedia APD safety shoes tidak dipakai Ukuran tidak sesuai MATERIAL Penyebab utama : Tidak disiplin. APD sengaja tidak dipakai. APD tidak tersedia. Sepatu bermassa berat. ORGANIZATION

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 2. Bekerja tanpa menggunakan safety shoes. Why 1 Why 2 Why 3 Bekerja tanpa menggunakan APD Safety shoes Tidak disiplin SOP tidak dijalankan SOP kurang jelas Tidak mengerti SOP APD sengaja tidak dipakai Lupa Tidak ada teguran Aturan kurang tegas APD tidak tersedia Finansial kurang SOP kurang Masih berbentuk CV. Sepatu bermassa berat Sepatu tidak standar

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 3. Bekerja tanpa menggunakan sarung tangan. MAN METHOD APD sengaja tidak dipakai Sekali pakai Persediaan terbatas APD sarung tangan tidak dipakai Mudah Rusak Aturan tidak dijalankan MATERIAL ORGANIZATION Penyebab utama : Persediaan terbatas. Aturan tidak dijalankan.

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 3. Bekerja tanpa menggunakan sarung tangan. Bekerja tanpa menggunakan sarung tangan Why 1 Persediaan terbatas Aturan tidak dijalankan Why 2 Why 3 Finansial kurang Nilai proyek kecil Alokasi dana kurang tepat Sanksi tidak tegas Tidak paham SOP

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 4. Bekerja tanpa menggunakan life jacket. MAN METHOD Life Jacket terlalu tebal Ukuran tidak sesuai APD dihilangkan APD sengaja tidak dipakai Tidak ada peneguran Aturan tidak dijalankan APD tidak tersedia APD tidak terpasang semestinya APD life jacket tidak dipakai Persediaan terbatas MATERIAL ORGANIZATION Penyebab utama : APD sengaja tidak dipakai. Life jacket terlalu tebal. Aturan tidak dijalankan.

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 4. Bekerja tanpa menggunakan life jacket. Why 1 Why 2 Bekerja tanpa menggunakan life jacket APD sengaja tidak dipakai Membatasi gerak Life jacket terlalu tebal Gerah Aturan tidak dijalankan Sanksi tidak tegas Kurang kontrol manajemen

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 5. Meletakkan peralatan sembarangan. MATERIAL MAN METHOD Alat kerja bermacam Lokasi penyimpanan jauh Malas merapikan alat kerja Penggunaan bergantian Tidak terdapat tool box Meletakkan alat kerja sembarangan Aturan tidak dijalankan ENVIRONMENT ORGANIZATION Penyebab utama : Alat Kerja bermacam. Tidak terdapat toolbox.

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 5. Meletakkan peralatan sembarangan. Why 1 Why 2 Meletakkan peralatan secara sembarang Alat kerja bermacam-macam Jenis pekerjaan beragam Spesifikasi alat beragam Tidak terdapat toolbox Tersedia gudang peralatan

6. Lalai saat bekerja. UNSAFE BEHAVIOUR & RCA MAN Menyepelekan resiko Kurangnya konsentrasi METHOD Kurangnya sosialisasi SOP Kurangnya briefing Lalai saat bekerja Kurangnya safety sign Kurangnya kontrol MATERIAL Penyebab utama : Kurangnya safety sign. Kurang konsentrasi. ORGANIZATION

6. Lalai saat bekerja. UNSAFE BEHAVIOUR & RCA Lalai saat bekerja Why 1 Kurang konsentrasi Kurangnya safety sign Why 2 kelelahan Terburuburu Kontrol manajemen kurang

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 7. Sengaja menceburkan diri ke laut. MAN METHOD Tidak adanya larangan Tidak memahami resiko Kurangnya briefing Sengaja menceburkan diri ke laut Kurangnya safety sign Panas MATERIAL ENVIRONMENT Penyebab utama : Tidak memahami risiko. Tidak ada larangan. Panas.

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 7. Sengaja menceburkan diri ke laut. Why 1 Why 2 Tidak memahami risiko Kesadaran pekerja kurang Sengaja menceburkan diri ke laut Kurang pengawasan Tidak ada larangan Kontrol manajemen kurang Panas Suhu lingkungan tinggi

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 8. Merokok saat bekerja. MATERIAL MAN Tidak ada ruangan khusus merokok Menyepelekan risiko Merokok Tidak ada sanksi yang jelas Aturan tidak dijalankan ORGANIZATION Penyebab utama : Tidak ada ruangan khusus merokok. Tidak ada sanksi yang jelas.

UNSAFE BEHAVIOUR & RCA 8. Merokok saat bekerja. Why 1 Why 2 Why 3 Merokok saat bekerja Tidak ada ruangan khusus merokok Proyek berada di tempat terbuka Tidak ada sanksi yang jelas Memberikan kelonggaran terhadap pelanggaran Kontrol manajemen kurang

FMECA : FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS NO. Kriteria Failure Effect Sub no. Cause Cause Severity Occurance Control Detection RPN 1.1 Lupa 2 2 2 8 1 1.2 Gerah 2 4 2 16 Bekerja Tanpa Menggunakan Tertimpa material dan Luka ringan sampai sedang, 1.3 Kurang pengawasan 5 3 SOP 5 75 Helm peralatan kerugian material 1.4 Kesadaran pekerja kurang 7 3 5 105 1.5 SOP kurang 8 3 3 72 2.1 SOP tidak dijalankan 6 6 2 72 2.2 Lupa 3 3 2 18 2 Bekerja Tanpa Menggunakan 2.3 Tidak ada teguran 5 5 2 50 Tersandung, terpeleset Luka ringan sampai sedang SOP APD Safety shoes 2.4 Finansial kurang 5 2 2 20 2.5 SOP kurang 8 3 4 96 2.6 Sepatu tidak standar 6 6 2 72 3 3.1 Finansial kurang 4 3 3 36 Bekerja Tanpa Menggunakan Tertusuk paku, terjepit, Luka ringan, luka berat, cacat 3.2 Sanksi tidak tegas 5 3 SOP 4 60 Sarung tangan tergores 3.3 Tidak paham SOP 5 4 4 80 4.1 Membatasi gerak 6 1 2 12 4 Bekerja Tanpa Menggunakan Tercebur, terseret arus, 4.2 Gerah 6 1 2 12 Luka sedang, meninggal SOP APD Life jacket tenggelam 4.3 Sanksi tidak tegas 7 2 5 70 4.4 Kurang kontrol manajemen 8 2 4 64 5 5.1 Jenis pekerjaan beragam 4 4 4 64 Meletakkan Peralatan Secara Peralatan hilang, Luka ringan, kerugian material 5.2 Spesifikasi alat beragam 5 2 SOP 4 40 Sembarang tersandung 5.3 Terdapat gudang peralatan 5 2 2 20 Terjatuh, terjepit, Luka ringan sampai berat, 6.1 Kelelahan 8 4 4 128 6 Lalai Saat Bekerja terluka, kesalahan kerugian material, penambahan 6.2 Terburu-buru 8 5 SOP 4 160 pengerjaan waktu 6.3 Kontrol manajemen kurang 6 5 3 90 7.1 Kesadaran pekerja kurang 8 2 6 96 7 Sengaja Menceburkan Diri Ke 7.2 Kurang pengawasan 7 2 6 84 terseret arus, tenggelam Luka sedang, meninggal SOP Laut 7.3 Kontrol manajemen kurang 6 2 6 72 7.4 Suhu lingkungan tinggi 4 3 6 72 8 Merokok Saat Bekerja Terbakar, kebakaran Luka sedang sampai berat, 8.1 Tidak ada ruangan khusus merokok 9 3 4 108 SOP meninggal, kerugian material 8.2 Kontrol manajemen kurang 9 3 3 81

FMECA : FAILURE MODE AND EFFECT ANALYSIS No. Kriteria No. Penyebab Penyebab 1 Lalai saat bekerja 6.2 Terburu-buru 160 2 Lalai saat bekerja 6.1 Kelelahan 128 3 Merokok 8.1 Tidak ada ruangan khusus merokok 108 4 Bekerja tanpa helm 1.4 Kesadaran pekerja kurang 105 5 Bekerja tanpa safety shoes 2.5 SOP kurang 96 6 Sengaja menceburkan diri 7.1 Kesadaran pekerja kurang 96 7 Lalai saat bekerja 6.3 Kontrol manajemen kurang 90 8 Sengaja menceburkan diri 7.2 Kurang pengawasan 84 RPN

FMECA : CRITICALITY ANALYSIS

FMECA : CRITICALITY ANALYSIS No. Penyebab No. Penyebab Kategori Unsafe Behaviour Criticality Number 1 Terburu-buru 6.2 Lalai saat bekerja 5 8 2 Kontrol manajemen kurang 6.3 Lalai saat bekerja 5 6 3 Kelelahan 6.1 Lalai saat bekerja 4 8 4 Tidak ada ruangan khusus merokok 8.1 Merokok 3 9 5 SOP kurang 2.5 Bekerja tanpa sarung tangan 3 8 6 Kesadaran pekerja kurang 1.4 Bekerja tanpa helm 3 7 7 Kesadaran pekerja kurang 7.1 Sengaja menceburkan diri 2 8 8 Kurang pengawasan 7.2 Sengaja menceburkan diri 2 7 Severity

REKOMENDASI PERBAIKAN No. Penyebab Rekomendasi Perbaikan 1. Terburu-buru 2. Kurangnya kontrol manajemen 3. Kelelahan 1) Memberikan pemahaman terhadap prosedur kerja saat briefng sebelum memulai pekerjaan. 2) Melakukan rotasi pekerja (kelompok dan jam kerja) dan pekerjaan yang dilakukan (posisi berbeda namun jenisnya sama). 1) Menambahkan himbauan serta slogan-slogan tentang K3 (misal: Kecerobohan adalah upaya tercepat menuju kecelakaan; Anda lelah, beristirahatlah sejenak; Tidak ada kesuksesan tanpa keselamatan, dsb.). 2) CV. Wahana Cipta perlu membentuk tim khusus yang mengurusi tentang K3 pada saat proyek. 3) Mempertimbangkan kerjasama dengan pemilik proyek. 1) Meninjau kembali pembagian dan porsi kerja untuk pekerja lepas. 2) Memperhatikan faktor usia pekerja ketika melakukan pembagian kelompok dan porsi kerja. Kategori Unssafe Behaviour Lalai saat bekerja Kelompok Metode Organisasi Manusia

REKOMENDASI PERBAIKAN No. Penyebab Rekomendasi Perbaikan 4. 5. Tidak tersedia ruangan khusus merokok Pemahaman SOP kurang 1) Menyediakan ruangan khusus untuk merokok. 2) Memberikan tanda/rambu area yang dilarang dan diperbolehkan merokok. 3) Memberikan sanksi yang tegas dan jelas untuk pelanggaran tersebut (misal: potong upah, skorsing, pemutusan kontrak kerja). 1) Memberikan pelatihan singkat tentang K3 di lokasi proyek sekali dalam 2 minggu dengan kelompok kecil (antara 10-15 orang) yang berbeda tiap pertemuan. 2) Mengoptimalkan safety induction dan safety talk (sekali dalam seminggu dengan kelompok kecil 10-15 orang). 3) Memberikan penjelasan SOP dengan cara yang berbeda/interaktif (menggunakan media gambar atau video) agar pekerja lepas lebih mudah memahami. Kategori Unssafe Behaviour Merokok Bekerja tanpa safety shoes Kelompok Material Manusia

REKOMENDASI PERBAIKAN No. Penyebab Rekomendasi Perbaikan 6. 7. 8. Kesadaran pekerja kurang Kesadaran pekerja kurang Kurangnya pengawasan 1) Memberikan sanksi yang lebih berdampak pada psikologis pekerja untuk memberikan efek jera. 2) Melakukan rotasi antar anggota kelompok kerja agar pemahaman pekerja tentang K3 bisa merata. 3) Memasang slogan K3 pada lokasi proyek (misal: Anda memasuki area wjib ber-apd; Gunakan APD, Lindungi diri saat bekerja. Keluarga menunggu di rumah, dsb.). 1) Memberikan sanksi yang lebih berdampak pada psikologis pekerja untuk memberikan efek jera. 2) Melakukan rotasi antar anggota kelompok kerja agar pemahaman pekerja tentang K3 bisa merata. 1) Mengoptimalkan safety meeting (2 kali seminggu) dan safety patrol (melibatkan pengawas lapangan dari sub kontraktor). 2) Mempertimbangkan kerjasama dengan pemilik proyek. Kategori Unssafe Behaviour Bekerja tanpa helm Sengaja menceburkan diri Kelompok Manusia Manusia Organisasi

KESIMPULAN 1) Dari hasil pengamatan di lapangan dan wawancara dengan pengawas lapangan diperoleh 8 unsafe behviour yang sering dilakukan oleh pekerja, seperti : bekerja tanpa mengguakan APD (helm, sarung tangan, safety shoes dan life jacket), sengaja menceburkan diri ke laut, merokok dan lalai dalam bekerja. 2) Berdasarkan analisa kekritisan diperoleh kondisi yang paling kritis adalah kelalaian saat bekerja, dimana 3 penyebabnya (terburu-buru, kurangnya kontrol manajemen dan kelelahan) berada pada peringkat 3 teratas dari 8 RPN tertinggi yang diambil untuk analisa tersebut.

KESIMPULAN 3) Dari hasil wawancara tentang kondisi SMK3 dengan staff main kontraktor, disimpulkan bahwa untuk menegakkan kebijakan K3 di lapangan dibutuhkan kerjasama dari 3 pihak (pemilik proyek, main kontraktor dan sub kontraktor). Sebab, jenjang hirarki organisasi yang ada dapat digunakan utuk menekan terjadinya toleransi terhadap pelanggaran peraturan K3 di lapangan. 4) Rekomendasi perbaikan ditekankan pada kriteria unsafe behaviour kelalaian saat bekerja pada sisi metode (karena terburu-buru), organisasi (karena kurangnya kontrol manajemen) dan manusia (karena kelelahan).

SARAN 1) Perlu adanya pengawasan dan pengarahan yang ketat dari perusahaan tentang pemakaian alat perlindungan diri pada sewaktu bekerja. Mengingat faktor pekerja adalah faktor utama penyebab kecelakaan kerja, sehingga kecelakaan kerja dapat dihindari sedini mungkin. 2) CV. Wahana Cipta perlu membentuk tim K3 untuk memantau keamanan dan keselamatan pekerja saat pengerjaan proyek. 3) Hasil dari pendekatan RCA dan FMECA dapat dijadikan panduan untuk pengerjaan proyek dikemudian hari agar timbulnya perilaku tidak aman dari pekerja dapat diminimalkan.

DAFTAR PUSTAKA Anoraga, P. 2005. Psikologi Kerja. Cetakan ketiga. PT.Rineka Cipta: Jakarta. Budiono. A.M. Sugeng, R.M.S. Jusuf, Adriana Pusparini., 2003. Bunga Rampai Hiperkes & KK: Higiene Perusahaan, Ergonomi, Kesehatan Kerja. Edisi Kedua. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Department of The Army. 2006. Technical Manual: Failure Modes, Effects and Criticality Analysis (FMECA) For Command, Control, Communications, Computer, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (C4ISR) Facilities. Headquarters, Department of The Army. USA. Heuvel, R. J. 2004. Root Cause Analysis For Beginners, Quality Progress. American Society. International Labour Office. 1997. Technical and Ethical Guidelines for Workers Health Survelliance. Geneva: International Labour Office. Kamaruzzaman, Findy. 2012. Studi Keterlambatan Penyelesaian Proyek Konstruksi. Pontianak: Untan. Larasati, Atika Dewi. 2008. Evaluasi dan Perancangan Solusi Perbaikan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) dalam Upaya Perbaikan Safety Behavior Pekerja (Studi Kasus PT. X Indonesia, Surabaya).Surabaya: ITS.

DAFTAR PUSTAKA Luckyta, Dhinar Tiara. 2012. Evaluasi dan Perancangan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Dalam Rangka Perbaikan Safety Behaviour Pekerja (Studi Kasus : PT. X, Sidoarjo).Surabaya: ITS. Maryani, Anny. 2012. Pemodelan Kecelakaan Kerja Konstruksi yang Komprehensif untuk Mengendalikan Biaya K3.Surabaya: ITS. Maulana, Denis. 2012. Evaluasi dan Perbaikan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) untuk Menekan Unsafe Behaviour Pekerja (Studi Kasus : PT. DPS).Surabaya: ITS. Miner, JB. 1992. Industrial And Organizational Psychology. Mc. Graw Hill. USA. Muchinsky, PM. 1987. Psychology Applied to Work. Chicago: Dorsey Press. PP No.50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Silalahi, B.N.B. dan Rumendang B. Silalahi, 1995, Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Lembaga PPM, Jakarta. Suma mur, 1989., Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan. Jakarta: Gunung Agung. UU No.1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan Pasal 86 dan 87.