BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMA N 4 Madiun yang beralamat di Jalan Serayu Kota Madiun. Waktu pelaksanaanya pada semester II tahun pelajaran 2014/2015 penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap sebagai berikut : a. Tahap persiapan meliputi: pengajuan judul, pembuatan proposal, permohonan pembimbing dan permohonan perijinan kepada lembaga terkait. b. Tahap pelaksanaan meliputi: uji coba instrumen penelitian, pelaksanaan mengajar dan pengambilan data. c. Tahap penyelesaian meliputi: analisis data dan penyusunan laporan. B. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Populasi Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMA Negeri 4 Madiun tahun pelajaran 2014/2015 yang terdiri dari 8 kelas yaitu kelas X A, X B, XC, X D, X E, X F, X G, X H dengan jumlah sebanyak 248 siswa. 2. Sampel Penelitian dan Teknik Sampling Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik Cluster Random Sampling. Teknik ini menghendaki adanya kelompok-kelompok dalam pengambilan sampel berdasarkan atas kelompok-kelompok yang ada dalam populasi. Jadi, populasi sengaja dipandang berkelompok-kelompok kemudian kelompok tersebut tercermin dalam sampel. Masing-masing kelas dari keseluruhan kelas X dipandang sebagai kelompok yang akan dipilih 2 kelas secara random (acak) untuk dijadikan sebagai kelompok sampel. Setelah diundi secara acak, terpilihlah kelas X B dan kelas X C sebagai kelompok sampel dalam penelitian ini. Kelas X B sebagai kelas eksperimen I menggunakan pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) dengan metode eksperimen dan kelas X C sebagai kelas eksperimen II menggunakan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan metode demonstrasi. 53
54 C. Rancangan dan Variabel Penelitian 1. Rancangan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan interaksi pembelajaran fisika Problem Based Learning (PBL) menggunakan metode eksperimen dan metode demonstrasi ditinjau dari kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif siswa. Dalam penelitian ini digunakan metode penelitian eksperimen dengan desain faktorial 2x2x2 dan teknik analisis varians (Anava). Sebelum diberi perlakuan, kedua kelompok diuji dahulu kemampuan awalnya dengan menggunakan data hasil ulangan fisika pada materi alat optik semester 2 untuk mengetahui normal dan homogennya. Setelah diperoleh kesamaan kemampuan awal, sampel diberi tes kemampuan berpikir kritis dan tes kemampuan berpikir kreatif yang berupa tes esai masing-masing sejumlah 10 soal. Hasil dari tes tersebut yang digunakan untuk mengkategorikan siswa dengan kemampuan berpikir kritis tinggi dan rendah juga kemampuan berpikir kreatif tinggi dan rendah. Pada akhir penelitian kedua kelompok diukur penguasaan konsep Optika Geometri dengan alat ukur yang sama yaitu tes kemampuan kognitif sebanyak 30 soal pilihan ganda, sementara untuk mengetahui kemampuan psikomotor dan afektif siswa diambil dari pengamatan observer menggunakan cheklist. Hasil pengukuran digunakan sebagai data penelitian yang kemudian dianalisis. Adapun gambar rancangan penelitian disajikan pada Tabel 3.1. Tabel 3.1. Rancangan Penelitian Kritis Tinggi (B 1 ) Kritis Rendah (B 2 ) Kreatif Tinggi (C 1 ) Kreatif Rendah (C 2 ) Kreatif Tinggi (C 1 ) Kreatif Rendah (C 2 ) Problem Based Learning (PBL) Metode Eksperimen Metode Demonstrasi (A 1 ) (A 2 ) A 1 B 1 C 1 A 2 B 1 C 1 A 1 B 1 C 2 A 2 B 1 C 2 A 1 B 2 C 1 A 2 B 2 C 1 A 1 B 2 C 2 A 2 B 2 C 2 Dari Tabel 3.1 menjelaskan bahwa pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan metode eksperimen (A 1 ) dan kelompok yang diberi pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan metode demonstrasi (A 2 ). Kemampuan berpikir kritis
55 dibagi menjadi dua kategori, yaitu siswa yang mempunyai kemampuan berpikir kritis tinggi (B 1 ) dan siswa yang mempunyai kemampuan berpikir kritis rendah (B 2 ). Kemampuan berpikir kreatif (C) dibagi menjadi dua kategori, yaitu siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif tinggi (C 1 ) dan siswa yang memiliki kemampuan berpikir kreatif rendah (C 2 ). 2. Variabel Penelitian Penelitian ini melibatkan tiga variabel, yaitu: a. Variabel bebas pada penelitian ini adalah pembelajaran fisika Problem Based Learning (PBL) melalui metode eksperimen dan demonstrasi. b. Variable moderat pada penelitian ini adalah kemampuan berpikir kritis yang dikategorikan tinggi dan rendah, serta kemampuan berpikir kreatif yang dibatasi tinggi dan rendah. Pembuatan kategori ini didasarkan pada nilai rata-rata untuk keseluruhan aspek yang dicapai siswa. Siswa nilainya sama dengan di atas rata-rata dikategorikan tinggi, siswa yang nilainya dibawah rata-rata dikategorikan rendah. c. Variabel terikat pada penelitian ini adalah hasil belajar dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor pada materi Optika Geometri. D. Definisi Operasional Variabel Berdasarkan istilah dan variabel yang perlu didefinisikan dalam penelitian ini antara lain: 1. Metode pembelajaran adalah langkah yang dilakukan guru dalam usahanya untuk meningkatkan keberhasilan dalam proses pembelajaran yang efektif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik. 2. Pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) adalah rangkaian aktifitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah. 3. Metode pembelajaran eksperimen bertujuan agar siswa mampu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atau persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Selain itu, siswa juga bias terlatih dalam cara berpikir yang ilmiah, dengan adanya eksperimen siswa mampu menemukan bukti kebenaran dari suatu teori yang sedang dipelajari.
56 4. Metode pembelajaran demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi bias digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri. 5. Kemampuan berpikir kritis adalah suatu aspek yang penting dalam inteligensi perkembangan kemampuan berpikir siswa dalam menganalisis argument dan memunculkan wawasan terhadap tiap-tiap makna untuk mengembangkan pola penalaran yang kohesif dan logis. 6. Kemampuan berpikir kreatif adalah ketrampilan mengembangkan, menemukan ide, atau gagasan asli. Dalam hal ini memiliki kemampuan yang lebih terorganisir dalam tindakan, rencana inovatif yang telah dipikirkan dengan matang lebih dahulu dengan mempertimbangkan masalah yang mungkin muncul dan implikasinya. 7. Hasil belajar adalah prestasi belajar yang dicapai siswa dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan pembentukan tingkah laku seseorang. Hasil belajar dalam penelitian ini meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Ranah kognitif dapat dilihat dari cara siswa dalam mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, menilai dan mencipta. Ranah afektif dapat diperhatikan dari penerimaan, penanggapan, penilaian, pengorganisasian dan karakterisasi. Pada ranah psikomotor dapat dilihat dari persepsi, kesiapan, reaksi yang diarahkan, reaksi natural, reaksi kompleks, adaptasi dan kreativitas siswa. E. Teknik Pengumpulan Data Teknik-teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik tes dan observasi. Teknik-teknik tersebut diuraikan di bawah ini : 1. Teknik Dokumentasi Dokumentasi berarti metode yang digunakan untuk mencari data yang diperlukan sebelum penelitian. Dokumentasi yang diperlukan adalah nilai ulangan harian pada materi optika geometri. Data nilai ulangan pada materi optika geometri digunakan untuk menentukan kedua kelas terdistribusi memiliki kemampuan yang sama atau tidak. Uji normalitas yang dilakukan pada kelas eksperimen dan kelas demonstrasi menunjukkan signifikan sebesar 0,345>0,05 dan 0,241>0,05 disimpulkan data terdistribusi normal. Uji homogenitas diperoleh 0,551>0,05 disimpulkan data
57 terdistribusi homogen. Selanjutnya dilakukan uji t dua ekor untuk mengetahui kedua kelas tersebut terdistribusi memiliki kemampuan yang sama atau tidak. Diperoleh hasil analisis dengan signifikan 0,05<0,158 disimpulkan bahwa kelas eksperimen dan kelas demonstrasi terdistribusi memiliki kemampuan yang sama (Lampiran 16) 2. Teknik Tes Tes merupakan sejumlah pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok. Teknik tes dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar kognitif, kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Bentuk soal tes kognitif berupa tes objektif pilihan ganda dengan 5 alternatif jawaban, sedangkan pada tes kemampuan berpikir kritis dan pada tes kemampuan berpikir kreatif berupa soal esai. Soal- soal tersebut disesuaikan dengan kisi-kisi soal yang telah peneliti susun berdasarkan pada silabus dan indikator yang terdapat pada setiap kompetensi dasar. 3. Teknik Observasi Observasi digunakan untuk mengambil data tentang hasil belajar siswa pada ranah afektif dan psikomotor. Instrumen penilaian berupa lembar observasi. F. Instrumen Penelitian Berdasarkan variabel yang akan diteliti, instrumen penelitian yang akan digunakan adalah instrumen pelaksanaan pembelajaran dan instrumen pengambilan data. 1. Instrumen Pelaksanaan Pembelajaran Agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar dan kondusif sesuai dengan rencana dan hasil yang diharapkan maka perlu adanya instrumen pembelajaran dalam penelitian ini, yaitu : a. Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu kelompok mata pelajaran yang mencangkup standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, alokasi waktu dan sumber belajar yang dikembangkan dalam setiap satuan pendidikan. b. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan manajemen pembelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi yang dijabarkan dalam silabus. RPP dapat membantu lancarnya kegiatan pembelajaran.
58 c. Lembar Kegiatan Siswa (LKS) adalah alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar agar pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan efektif. 2. Instrumen Pengambilan Data Instrumen pengambilan data pada penelitian ini berupa instrumen tes. Instrumen tes berupa tes kemampuan berpikir kritis dan tes kemampuan berpikir kreatif. Pada instrumen tes kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif masingmasing berjumlah 10 butir soal digunakan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif yang dikategorikan tinggi dan rendah. Pada instrumen soal kognitif masing-masing berjumlah 30 butir soal digunakan untuk mengetahui naik atau tidaknya hasil belajar siswa secara kognitif. Untuk hasil belajar afektif dan psikomotor menggunakan checklist (data pengamatan observer saat proses pembelajaran). Kaidah penyusunan instrumen tes perlu memperhatikan beberapa hal, yaitu : a. Menyusun kisi-kisi instrumen. Kisi kisi yang dibuat meliputi kisi-kisi tes kognitif pada materi Optika Geometri dan kisi kisi tes kemampuan berpikir kritis dan kreatif. b. Menyusun butir-butir soal instrumen. Butir-butir soal akan disusun berupa tes pilihan ganda dengan alternatif 5 jawaban untuk tes kognitif, sedangkan tes kemampuan berpikir kritis dan kreatif berupa soal esai. c. Validasi ahli. Setelah instrumen jadi selanjutnya dikonsultasikan pada 2 dosen ahli dan 1 guru sekolah. d. Mengadakan uji coba instrumen, setelah penyusunan instrumen penelitian selesai dilaksanakan, langkah selanjutnya menguji cobakan instrumen tersebut sebelum dikenakan pada sampel penelitian untuk melihat instrumen yang disusun benar-benar sahih dan layak digunakan atau tidak. G. Uji Coba Instrumen Sebelum dilaksanakan penelitian perlu terlebih dahulu melakukan uji coba terhadap instrumen pengambilan data yang akan digunakan dalam penelitian. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan hasil yang memenuhi kriteria. Pelaksanaan uji coba instrumen dilakukan pada siswa kelas XI SMA Negeri 4 Madiun. Hal tersebut dipilih karena siswa kelas XI sudah pernah menerima materi optika geometri dan untuk meminimalkan kebocoran soal.
59 1. Uji Coba Instrumen Tes a. Uji Validitas Untuk menentukan validitas item-item tes digunakan persamaan γ pbi sebagai berikut: pbi M p M S t t p q Persamaan di atas menunjukkan bahwa koefisien korelasi biserial sebanding dengan rerata skor dari subyek yang menjawab benar bagi item yang dicari validitasnya (M p ) dikurangi rerata skor total (M t ) dan sebanding dengan akar dari proporsi siswa yang menjawab benar (p). Koefisien korelasi biserial berbanding terbalik dengan standar deviasi dari skor total (S t ) dan berbanding terbalik dengan akar dari proporsi siswa yang menjawab salah (q = 1 p). Untuk mengetahui validitas dari tiap-tiap item, maka γ pbi yang telah diperoleh dikonsultasikan dengan r tabel dengan N = 33 dan taraf signifikan 5% yaitu 0,344. Setiap item dikatakan valid apabila nilai γ pbi > r tabel, berarti butir soal tes dikatakan valid apabila γ pbi > 0,344. Analisis validitas uji coba tes pada penelitian ini ada dua macam, yaitu analisis validitas uji coba instrumen kemampuan berpikir kritis dan analisis validitas uji coba instrumen hasil belajar. (Suharsimi Arikunto, 2009) b. Reliabilitas Reliabilitas diterjemahkan dari kata reliability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi maksudnya adalah pengukuran yang menghasilkan data yang reliabel. Reliabilitas soal untuk menguji masing-masing item pada tes dalam penelitian ini digunakan rumus Kuder Richardson (KR-20), yaitu: Keterangan: k = Banyak aitem p = indeks kesukaran aitem S 2 x = Varians skor tes (X) (Azwar, 2013)
60 Koefisien reliabilitas berkisar antara 0 sampai dengan 1,00. Koefisien korelasi dapat bertanda positif (+) ataupun negatif (-) akan tetapi dalam hal reliabilitas, koefisien besarnya kurang dari 0 tidak ada artinya karena interpretasi reliabilitas selalu mengacu pada koefisien yang positif saja. Jangankan koefisien yang bertanda negatif, koefisien yang bertanda positif tetapi mendekati harga 0 pun tidak ada artinya dalam interpretasi reliabilitas (Azwar, 2013). c. Indeks Kesukaran Item Taraf kesukaran suatu aitem dinyatakan oleh suatu indeks yang dinamakan indeks kesukaran item dan disimbolkan huruf p. Indeks kesukaran item merupakan rasio antara penjawab item yang benar dan banyak penjawab item. Secara teoritik dikatakan bahwa p sebenarnya merupakan probabilitas empiris untuk lulus item tertentu bagi kelompok siswa tertentu. Indeks kesukaran item dihitung dengan persamaan sebagai berikut : p = n i / N Keterangan : n i = banyak siswa yang menjawab dengan item dengan benar N = banyaknya siswa yang menjawab item (Azwar, 2013) Taraf kesukaran item berada mulai 0 sampai dengan 1, apabila p berada pada nilai 0,05 dianggap yang terbaik. Harga p lebih kecil dari 0,50 (yaitu itemnya lebih sulit) dan jika p lebih tinggi dari 0,50 (yaitu aitem lebih mudah) apabila aitem itu dimaksudkan sebagai bagian dari tes (Azwar, 2013). d. Indeks Daya Diskriminasi Item Daya diskriminasi item adalah kemampuan aitem dalam membedakan antara siswa yang mempunyai kemampuan tinggi (dalam hal ini diwakili oleh mereka yang termasuk kelompok tinggi) dan siswa yang memiliki kemampuan rendah (diwakili oleh mereka yang termasuk kelompok rendah). Daya diskriminasi item merupakan perbedaan proporsi penjawab item dengan benar antara kelompok tinggi dan kelompok rendah, karena itu daya diskriminasi item dapat dilihat dalam persamaan berikut: d = n it / N T n ir / N R Dimana : N it = banyak penjawab aitem dengan benar dari kelompok tinggi
61 N T = banyak penjawab dari kelompok tinggi N ir = banyak penjawab aitem dengan benar dari kelompok rendah N R = banyak penjawab dari kelompok rendah Kriteria evaluasi indeks diskriminasi dalam empat kategori sebagai berikut: 0,40 atau lebih : Bagus sekali 0,30 0,39 : Lumayan bagus tapi mungkin masih perlu peningkatan 0,20 0,29 : Belum memuaskan, perlu diperbaiki kurang dari 0,20 : Jelek dan harus dibuang (Budiyono, 2004) 2. Hasil Uji Coba Instrumen Tes Pengambilan keputusan diterima item tes dilakukan untuk menentukan item mana yang bisa langsung digunakan, digunakan tetapi perlu direvisi terlebih dahulu dan tidak bisa digunakan untuk tes lanjut (ditolak). Kriteria keputusan untuk penilaian item adalah: 1) Item diterima, apabila karakteristik item memenuhi semua kriteria. Item yang terlalu sukar atau mudah, tetapi memiliki daya beda dan distribusi pengecoh item yang memenuhi kriteria, item tersebut dapat diterima atau dipilih. 2) Item direvisi, apabila salah satu atau lebih dari ketiga kriteria karakteristik item tidak diterima. 3) Item ditolak, jika item memiliki karakteristik yang tidak memenuhi semua kriteria. Dari uji analisis butir soal kemampuan berpikir kritis didapat 7 soal dengan nomor 1, 3, 4, 5, 6, 8, dan 9 dapat langsung dipakai, sementara 3 soal dengan nomor 2, 7,dan 10 perlu direvisi sebelum digunakan untuk penelitian. Reliabilitas dapat dilihat dari hasil Internal consistency sebesar 0,52 dan dikategorikan cukup (Lampiran 13). Dari uji analisis butir soal kemampuan berpikir kreatif didapat 8 soal dengan nomor 1, 2, 4, 5, 6, 8, 9, dan 10 dapat langsung dipakai, sementara 2 soal dengan nomor 3 dan 7 perlu direvisi sebelum digunakan untuk penelitian. Reliabilitas dapat dilihat dari hasil Internal consistency sebesar 0,54 dan dikategorikan cukup (Lampiran 14). Hasil uji item soal kognitif dengan jumlah soal pilihan ganda 30 butir menggunakan QUEST diperoleh reliabilitas sebesar 0,86 dilihat pada kolom Internal Consistency dikategorikan soal sangat tinggi. Kita peroleh ada 8 soal yang perlu direvisi
62 yaitu butir soal nomor 3, 8, 10, 18, 22, 23, 26, dan 30. Soal yang sudah dapat dipakai untuk penelitian ada 22 butir soal yaitu butir soal nomor 1, 2, 4, 5, 6, 7, 9, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 19, 20, 21, 24, 25, 27, 28, dan 29 (Lampiran 15). H. Teknik Analisis Data 1. Uji Prasyaratan Analisis Uji statistik parametrik dapat dilakukan jika data terdistribusi normal dan homogen. Apabila data tidak terdistribusi normal dan homogen maka menggunakan uji statistik nonparametrik. Pada penelitian ini perhitungannya menggunakan program SPSS 18. Uji prasyarat analisis ada dua hal, yaitu: a. Uji Normalitas Uji normalitas data digunakan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Adapun prosedur yang harus dilakukan yaitu: 1) Menentukan hipotesis Hipotesis nol (H 0 ) adalah sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan hipotesis alternatif (H 1 ) adalah sampel berasal dari populasi terdistribusi tidak normal. 2) Menetapkan statistik uji Uji normalitas terhadap variabel terikat hasil belajar aspek kognitif, afektif dan psikomotor menggunakan uji Kolmogorof Smirnov (KS) yang perhitungannya menggunakan program SPSS 18. 3) Menentukan taraf signifikan (α) Taraf signifikansi merupakan angka yang menunjukkan seberapa besar peluang terjadinya kesalahan analisis. Pada uji normalitas ini, taraf signifikan (α) yang digunakan adalah 0,05 atau 5%. 4) Menentukan keputusan Uji Keputusan uji normalitas ditentukan dengan kriteria: Jika probabilitas < α maka H 0 ditolak artinya data terdistribusi tidak normal dan jika probabilitas > α maka H 0 diterima artinya data berdistribusi normal.
63 b. Uji Homogenitas Uji homogenitas dimaksud untuk mengetahui apakah sampel penelitian berasal dari populasi yang homogen atau tidak. Uji homogenitas dilakukan dengan langkah sebagai berikut: 1) Menentukan hipotesis Hipotesis nol (H 0 ) dalah sampel yang berasal dari populasi yang homogen dan hipotesis alternatif (H 1 ) adalah sampel yang berasal dari populasi tidak homogen 2) Menentukan statistik uji Uji homogenitas terhadap variabel terikat hasil belajar kognitif, afektif, dan psikomotor menggunakan uji homogenitas menggunakan program SPSS 18. 3) Menentukan taraf signifikansi (α) Taraf signifikansi merupakan angka yang menunjukkan seberapa besar peluang terjadinya kesalahan analisis. Pada uji homogenitas ini, taraf signifikan α yang digunakan adalah 0,05 atau 5%. 4) Menentukan keputusan uji Kepustusan uji homogenitas ditentukan dengan kriteria : Jika probabilitas < (α) maka H 0 ditolak maka sampel terdistribusi tidak homogen. Jika probabilitas >(α) maka H 0 diterima maka sampel terdistribusi homogen. 2. Uji Hipotesis Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji anava tiga jalan dan uji lanjut anava jika antar metode pembelajaran, kemampuan berpikir kritis kemampuan berpikir kreatif terhadap pengaruh yang signifikan. a. Uji Anava Tiga Jalan Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui apakah hipotesis yang telah diajukan ditolak atau tidak ditolak, rancangan uji hipotesis ini terdiri dari tiga variabel bebas yang meliputi metode pembelajaran, kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif. Metode pembelajaran yang digunakan adalah metode eksperimen (A 1 ) dan metode demonstrasi (A 2 ). Kemampuan berpikir kritis dikelompokkan menjadi 2 kategori, yaitu kategori tinggi (B 1 ) dan rendah (B 2 ). Kemampuan berpikir kreatif dikelompokkan menjadi 2 kategori, yaitu kategori tinggi (C 1 ) dan kategori rendah (C 2 ). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil belajar yang meliputi aspek kognitif,
64 afektif dan psikomotor. Tata letak data penelitian hasil belajar kognitif terdistribusi seperti Tabel 3.2. Tabel 3.2. Tata Letak Data Penelitian Prestasi Kognitif Kritis Tinggi (B 1 ) Kritis Rendah (B 2 ) Kreatif Tinggi (C 1 ) Kreatif Rendah (C 2 ) Kreatif Tinggi (C 1 ) Kreatif Rendah (C 2 ) Problem Based Learning (PBL) Metode Eksperimen Metode Demonstrasi (A 1 ) (A 2 ) A 1 B 1 C 1 A 2 B 1 C 1 A 1 B 1 C 2 A 2 B 1 C 2 A 1 B 2 C 1 A 2 B 2 C 1 A 1 B 2 C 2 A 2 B 2 C 2 Masing-masing sel atau kotak pada tabel 3.2 berisi lambang yang berbeda. Lambang lambang tersebut menunjukkan interaksi antar ketiga variable terhadap prestasi kognitif. Sel pertama dengan lambang A 1 B 1 C 1 menunjukkan interaksi terhadap metode pembelajaran eksperimen, kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar kognitif. Artinya, pada sel tersebut terdapat kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan metode eksperimen (A 1 ), kemampuan berpikir kritis kategori tinggi (B 1 ) dan kemampuan berpikir kreatif tinggi (C 1 ). Sel kedua dengan lambang A 2 B 1 C 1 mengandung pengertian bahwa pada sel tersebut terdapat kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan metode demonstrasi (A 2 ), memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi (B 1 ) dan kemampuan berpikir kreatif tinggi (C 1 ). Begitu pula dengan sel yang lainnya. Tabel 3.3. Tata Letak Data Penelitian Hasil Belajar Afektif Kritis Tinggi (B 1 ) Kritis Rendah (B 2 ) Kreatif Tinggi (C 1 ) Kreatif Rendah (C 2 ) Kreatif Tinggi (C 1 ) Kreatif Rendah (C 2 ) Problem Based Learning (PBL) Metode Eksperimen Metode Demonstrasi (A 1 ) (A 2 ) A 1 B 1 C 1 A 2 B 1 C 1 A 1 B 1 C 2 A 2 B 1 C 2 A 1 B 2 C 1 A 2 B 2 C 1 A 1 B 2 C 2 A 2 B 2 C 2 Seperti pada Tabel 3.2. masing-masing sel atau kotak pada tabel 3.3. juga berisi lambang yang berbeda-beda. Lambang-lambang tersebut menunjukkan interaksi antara
65 ketiga variable terhadap hasil belajar afektif. Sel pertama dengan lambang A 1 B 1 C 1 menunjukkan interaksi terhadap metode pembelajaran eksperimen, kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar afektif. Artinya, pada sel tersebut terdapat kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan metode eksperimen (A 1 ), kemampuan berpikir kritis kategori tinggi (B 1 ) dan kemampuan berpikir kreatif tinggi (C 1 ). Sel kedua dengan lambang A 2 B 1 C 1 mengandung pengertian bahwa pada sel tersebut terdapat kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan metode demonstrasi (A 2 ), memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi (B 1 ), dan kemampuan berpikir kreatif tinggi (C 1 ). Begitu pula dengan sel yang lainnya. Tabel 3.4. Tata Letak Data Hasil Belajar Psikomotor Kritis Tinggi (B 1 ) Kritis Rendah (B 2 ) Kreatif Tinggi (C 1 ) Kreatif Rendah (C 2 ) Kreatif Tinggi (C 1 ) Kreatif Rendah (C 2 ) Problem Based Learning (PBL) Metode Eksperimen Metode Demonstrasi (A 1 ) (A 2 ) A 1 B 1 C 1 A 2 B 1 C 1 A 1 B 1 C 2 A 2 B 1 C 2 A 1 B 2 C 1 A 2 B 2 C 1 A 1 B 2 C 2 A 2 B 2 C 2 Pada Tabel 3.4. berisi lambang yang berbeda-beda, lambang-lambang tersebut menunjukkan interaksi antara ketiga variable terhadap hasil belajar psikomotor. Sel pertama dengan lambang A 1 B 1 C 1 menunjukkan interaksi terhadap metode pembelajaran eksperimen, kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar psikomotor. Artinya, pada sel tersebut terdapat kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan metode eksperimen (A 1 ), kemampuan berpikir kritis kategori tinggi (B 1 ) dan kemampuan berpikir kreatif tinggi (C 1 ). Sel kedua dengan lambang A 2 B 1 C 1 mengandung pengertian bahwa pada sel tersebut terdapat kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan metode demonstrasi (A 2 ), memiliki kemampuan berpikir kritis tinggi (B 1 ) dan kemampuan berpikir kreatif tinggi (C 1 ). Begitu pula dengan sel yang lainnya. Pengujian hipotesis hasil belajar kognitif dilakukan dengan langkah sebagai berikut:
66 1) Menentukan hipotesis a) Hipotesis nol (H 0 ) H 01 : tidak ada perbedaan pengaruh pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) melalui metode eksperimen dan demonstrasi terhadap hasil belajar kognitif. H 02 : tidak ada perbedaan pengaruh kemampuan berpikir kritis tinggi dan kemampuan berpikir kritis rendah terhadap hasil belajar kognitif. H 03 : tidak ada perbedaan pengaruh kemampuan berpikir kreatif tinggi dan kemampuan berpikir kreatif rendah terhadap hasil belajar kognitif. H 012 : tidak ada pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar kognitif. H 013 : tidak ada pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar kognitif. H 023 :tidak ada pengaruh interaksi antara kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar kognitif. H 0123 : tidak ada pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar kognitif. b) Hipotesis Alternatif (H 1 ) H 11 : Ada perbedaan pengaruh pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) melalui metode eksperimen dan demonstrasi terhadap hasil belajar kognitif. H 12 : Ada perbedaan pengaruh kemampuan berpikir kritis tinggi dan kemampuan berpikir kritis rendah terhadap hasil belajar kognitif. H 13 : Ada perbedaan pengaruh kemampuan berpikir kreatif tinggi dan kemampuan berpikir kreatif rendah terhadap hasil belajar kognitif. H 112 : Ada pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar kognitif. H 113 : Ada pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar kognitif. H 123 : Ada pengaruh interaksi antara kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar kognitif. H 1123 : Ada pengaruh interaski antara metode pembelajaran dengan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar kognitif. 2) Menentukan Statsistik Uji
67 Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Analisis Varian (Anava) tiga jalan dengan General Linier Model (GLM) yang perhitungan dilakukan dengan SPSS 18. 3) Menentukan taraf signifikan (α) Taraf signifikansi merupakan angka yang menunjukkan seberapa besar peluang terjadinya kesalahan analisis. Pada uji hipotesis ini, taraf signifikan (α) yang digunakan adalah 0,05 atau 5%. 4) Menentukan Keputusan Uji Keputusan uji hipotesis ditentukan dengan kriteria: jika signifikan < 0,05 maka hipotesis nol (H 0 ) ditolak. b. Uji Lanjut Anava Jika dalam pengujian hipotesis, hipotesis nol (H 0 ) ditolak yang berarti hipotesis alternatif H 1 diterima, maka perlu dilakukan uji lanjut untuk mengetahui tingkat pengaruh variabel bebas terhadap variable terikat yang diteliti. Uji lanjut Anava dilakukan dengan metode Compare Means pada program SPSS 18. Pengujian hipotesis hasil belajar afektif dilakukan dengan langkah sebagai berikut: 1) Menentukan hipotesis a) Hipotesis nol (H 0 ) H 01 : tidak ada perbedaan pengaruh pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) melalui metode eksperimen dan demonstrasi terhadap hasil belajar afektif. H 02 : tidak ada perbedaan pengaruh kemampuan berpikir kritis tinggi dan kemampuan berpikir kritis rendah terhadap hasil belajar afektif. H 03 : tidak ada perbedaan pengaruh kemampuan berpikir kreatif tinggi dan kemampuan berpikir kreatif rendah terhadap hasil belajar afektif. H 012 :tidak ada pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar afektif. H 013 :tidak ada pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar afektif. H 023 :tidak ada pengaruh interaksi antara kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar afektif. H 0123 : tidak ada pengaruh interaski antara metode pembelajaran dengan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar afektif.
68 b) Hipotesis Alternatif (H 1 ) H 11 : Ada perbedaan pengaruh pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) melalui metode eksperimen dan demonstrasi terhadap hasil belajar afektif. H 12 : Ada perbedaan pengaruh kemampuan berpikir kritis tinggi dan kemampuan berpikir kritis rendah terhadap hasil belajar afektif. H 13 : Ada perbedaan pengaruh kemampuan berpikir kreatif tinggi dan kemampuan berpikir kreatif rendah terhadap hasil belajar afektif. H 112 : Ada pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar afektif. H 113 : Ada pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar afektif. H 123 : Ada pengaruh interaksi antara kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar afektif. H 1123 : Ada pengaruh interaksi antara metode pembelajaran dengan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif terhadap hasil belajar afektif c) Menentukan Statsistik Uji Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Analisis Compare Means dengan mendasarkan pada median dilakukan dengan SPSS 18. d) Menentukan taraf signifikan (α) Taraf signifikansi merupakan angka yang menunjukkan seberapa besar peluang terjadinya kesalahan analisis. Pada uji hipotesis ini, taraf signifikan (α) yang digunakan adalah 0,05 atau 5%. e) Menentukan Keputusan Uji Keputusan uji hipotesis ditentukan dengan kriteria : jika signifikan < 0,05 maka hipotesis satu (H 0 ) ditolak.