Prosiding Teknik Industri ISSN:

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. repository.unisba.ac.id

Perbaikan Rencana Produksi untuk Meminimasi Ongkos Overtime pada Proses Perakitan (Studi Kasus : PT. X)

RENCANA PROGRAM KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER SATUAN ACARA PERKULIAHAN (SAP) PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI OLEH : KHAMALUDIN, S.T., M.T.

Analisa Perencanaan Sistem Produksi Pada Rumah Makan Stallo

BAB III KERANGKA PEMECAHAN MASALAH

SILABUS. : Perencanaan dan Pengendalian Produksi

INTEGRASI PERENCANAAN PRIORITAS DAN KAPASITAS SISTEM MRP II DENGAN SISTEM KANBAN MENGGUNAKAN PROMODEL

BAB II LANDASAN TEORI

berhati-hati dalam melakukan perencanaan agar tidak terjadi kekosongan stok akan bahan baku dan produk jadi. Salah satu kesalahan perencanaan yang dil

MODUL 5 PERENCANAAN PRODUKSI[AGREGAT DAN KAPASITAS]

BAB I PENDAHULUAN. 1.1Latar Belakang

OPTIMASI PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN BAHAN BAKU DI PT. SIANTAR TOP TBK ABSTRAK

JAZILATUR RIZQIYAH DEVIABAHARI Dosen Pembimbing : Prof. Ir. Suparno, MSIE., Ph.D PROPOSAL TUGAS AKHIR JURUSAN TEKNIK INDUSTRI ITS SURABAYA

BAB III METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

Seminar Nasional IENACO 2016 ISSN: IMPLEMENTASI MASS CUSTOMIZATION DALAM MINIMASI LEAD TIME DENGAN PENDEKATAN ALGORITMA CDS

Perencanaan dan Pengendalian Produksi

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

Penentuan Waktu Produksi Optimal dengan Metode Rougt Cut Capacity Planning Guna Memenuhi Permintaan Konsumen (Studi Kasus PT. Adhitama Abadi Surabaya)

BAB I PENDAHULUAN. biaya simpan, serta mampu mengirimkan produk pada waktu yang disepakati.

PERENCANAAN AGREGAT HEURISTIK UNTUK PENENTUAN SUMBER DAYA YANG OPTIMAL

PENERAPAN METODE FIXED ORDER INTERVAL ATAU FIXED ORDER QUANTITY DALAM PENGENDALIAN PERSEDIAAN

PROSES PERENCANAAN PRODUKSI #1

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

Rencana Produksi & Rencana Induk

BAB IV JADWAL INDUK PRODUKSI

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN

MODUL 7 PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI

Perencanaan Produksi Yarn Divisi Spinning 2 PT ABC

: Perencanaan pengadaan bahan baku bihun untuk meminimasi total biaya persediaan di PT. Tiga Pilar Sejahtera BAB I PENDAHULUAN

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

Metode Pengendalian Persediaan Tradisional L/O/G/O

4.10 Minimum Order Struktur Produk BAB 5 ANALISA 5.1 Pengolahan Data Perhitungan Coefficient of Variance

Perencanaan Sumber Daya

V. Hasil 3.1 Proses yang sedang Berjalan

BAB I PENDAHULUAN. Seperti yang kita lihat dan rasakan sekarang ini persaingan di dunia bisnis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

SILABUS MATA KULIAH. 1. Mendiskusikan siklus manufaktur 2. Mendiskusikan peran perencanaan dan pengendalian produksi

PENGENALAN WINQSB I KOMANG SUGIARTHA

Addr : : Contact No :

Pengantar Manajemen Produksi & Operasi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sebelum penggunaan MRP biaya yang dikeluarkan Rp ,55,- dan. MRP biaya menjadi Rp ,-.

USULAN SISTEM PERENCANAAN PRODUKSI RAK-RAK STDI DI PT. INTI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM MRP TUGAS SISTEM PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI

DAFTAR ISI. repository.unisba.ac.id

Perencanaan Produksi SAP ERP

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

CAPACITY PLANNING. Zulfa Fitri Ikatrinasari, MT., Dr. / Euis Nina S. Y., ST, MT

Jurusan Teknik Industri, Universitas Brawijaya Jalan MT. Haryono 167, Malang, 65145, Indonesia (1)

MENGURANGI KECACATAN GUNA MENINGKATKAN PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN JUST IN TIME DI PT.KIA GENTENG

IMPLEMENTASI SHOJINKA PADA PERENCANAAN PRODUKSI AGREGAT DENGAN PENGATURAN TENAGA KERJA DAN PEMBAGIAN KERJA FLEKSIBEL

PERENCANAAN JADWAL INDUK PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN LINIER PROGRAMMING PADA INDUSTRI MANUFAKTUR PT X

Perencanaan Kebutuhan Bahan Baku Dengan Validasi Capacity Requirement Planning (CRP) Pada Perusahaan Rokok Sigaret Keretek Mesin (SKM)

BAB 5 ANALISIS 5.1. Analisis Forecasting (Peramalan)

PERENCANAAN PRODUKSI AGREGAT PRODUK TEMBAKAU RAJANG P01 DAN P02 DI PT X AGGREGATE PRODUCTION PLANNING FOR TOBACCO PRODUCTS P01 AND P02 IN PT X

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PENENTU RECEIVED DATE PADA SISTEM MANUFAKTUR REPETITIVE MAKE TO ORDER (STUDI KASUS DI PERUSAHAAN MEBEL)

BAB 4 PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA

Perencanaan Produksi dengan Mempertimbangkan Kapasitas Produksi pada CV. X

ANALISIS PERENCANAAN PRODUKSI DISAGREGAT FAMILY DVD PADA PT XYZ

BAB I P E N D A H U L U A N

TIN310 - Otomasi Sistem Produksi. h t t p : / / t a u f i q u r r a c h m a n. w e b l o g. e s a u n g g u l. a c. i d

Perencanaan Kebutuhan Komponen Tutup Ruang Transmisi Panser Anoa 6x6 PT PINDAD Persero

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

BAB II LANDASAN TEORI

PENJADWALAN PRODUKSI DI PT. AA UNIT II UNTUK MEMINIMUMKAN MAKE SPAN

Jurnal Flywheel, Volume 2, Nomor 2, Desember 2009 ISSN :

Rahasia besar kesuksesan adalah menjalani hidup sebagai seseorang yang tidak pernah merasa kehabisan. Topik 6 Sistem Rantai Pasok (TIA 304) 2 SKS 1

Sistem Produksi (TI1343)

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Materi #12. TKT312 - Otomasi Sistem Produksi T a u f i q u r R a c h m a n

Perencanaan Produksi Kotak Karton Tipe PB/GL pada PT.Guru Indonesia Ciracas, Jakarta Timur dengan Metode Transportasi.

Devie Oktarini 2)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

APLIKASI LINIER PROGRAMMING UNTUK PERENCANAAN PRODUKSI AGREGAT DI UKM ROKOK KRETEK

PERENCANAAN KEBUTUHAN KAPASITAS PRODUKSI PADA SP ALUMINIUM

K E L O M P O K S O Y A : I N D A N A S A R A M I T A R A C H M A N

Pengendalian Persediaan Bahan Baku Semen Dengan Kendala Kapasitas Gudang Menggunakan Model Probabilistik Q

Pengantar Sistem Produksi Lanjut. BY Mohammad Okki Hardian Reedit Nurjannah

PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI PETI ALUMUNIUM UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN PERMINTAAN MELALUI OPTIMALISASI JADWAL INDUK PRODUKSI DI PT.

Perencanaan Agregat. Perencanaa & Pengendalian Produksi_TI-UG

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PERENCANAAN SISTEM MANAJEMEN PERSEDIAAN INGREDIENT DARI MARGARIN DAN SHORTENING DENGAN MENGGUNAKAN METODE PERAMALAN DAN EOQ DI PT SMART TBK.

ERP (Enterprise Resource Planning) Pertemuan 2

BAB II LANDASAN TEORI

PERANCANGAN PENGELOLAAN PERSEDIAAN BAHAN BAKU PIPA PVC DI PT. DJABES SEJATI MENGGUNAKAN METODE JUST IN TIME (JIT) ABSTRAK

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PERENCANAAN PRODUKSI DISPLAY BARANG DENGAN METODE AGREGAT PADA PD IMPRESSA MULIA

BAB 3 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

ANALISA BIAYA PENGENDALIAN & PERENCANAAN BAHAN BAKU DI PT. ALIANSI TEMPRINA NYATA GRAFIKA

PERENCANAAN PROSES PRODUKSI

Minimasi Slack Time pada Penjadwalan Make To Order Job Shop

BAB 2 LANDASAN TEORI

ANALISA DAN USULAN PERENCANAAN PRODUKSI PLANT 1 UNTUK MENGATASI STOP LINE ASSEMBLY PLANT DI PT. FSCM MANUFACTURING INDONESIA

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI MELALUI PENERAPAN MANUFACTURING RESOURCES PLANNING (MRP II) PADA PRODUK BET TENIS MEJA

BAB II LANDASAN TEORI. berhubungan dengan suatu sistem. Menurut Jogiyanto (1991:1), Sistem adalah

SISTEM PRODUKSI MODUL PERENCANAAN PRODUKSI OLEH WAHYU PURWANTO

Transkripsi:

Prosiding Teknik Industri ISSN: 2460-6502 Perencanaan Produksi Hirarkis Multi Produk untuk Industri Farmasi dengan Pendekatan Kombinasi Strategi Make to Stock & Make to Order (Studi Kasus Produk Kapsul dan Tablet PT X ) 1 Hilda Syaidatul Ulfah, 2 Endang Prasetyaningsih, 3 Reni Amaranti 1,2,3 Prodi Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung, Jl. Tamansari No. 1 Bandung 40116 e-mail: 1 hildasyaul@gmail.com, 2 endangpras@gmail.com, 3 reniamaranti2709@yahoo.com Abstrak. Perusahaan farmasi yang memproduksi obat dengan variasi jenis dan item produk yang besar, mengalami permasalahan terkait adanya kondisi penumpukan stok dan keterlambatan pemenuhan pesanan pelanggan (backorder) disebabkan karena prosedur perencanaan produksi yang diterapkan perusahaan saat ini. Penelitian ini ditujukan untuk memperbaiki perencanaan produksi saat ini dengan kerangka perencanaan produksi hirarkis yang meliputi tiga tahapan perencanaan diantaranya: tahapan identifikasi dan partisi produk strategi MTS dan MTO; tahapan perencanaan produksi untuk produk MTS terdiri dari peramalan permintaan, penentuan Jadwal Produksi Induk (JPI) melalui perencanaan agregat dan disagregat serta validasi JPI dengan rough-cut capacity planning; serta tahapan perencanaan produksi untuk produk MTO. Berdasarkan hasil simulasi perhitungan, prosedur yang diusulkan dapat menurunkan nilai ongkos total produksi sebesar 9%, tingkatan stok pengaman (safety stock) sebesar 49% dan lead time pemenuhan pesanan sebesar 53%. Hal ini menunjukan bahwa prosedur perencanaan produksi usulan dapat memberi penghematan dan dapat memperbaiki kinerja saat ini. Kata Kunci : Perencanaan Produksi Hirarkis (PPH), Kombinasi MTS-MTO, Perencanaan Agregat, Perencanaan Disagregat. A. Pendahuluan Perencanaan produksi merupakan aktivitas rumit yang memerlukan koordinasi lintas bidang organisasi dan merupakan hasil konsekuensi dari hirarki keputusan menghadapi berbagai isu dalam sistem produksi. Kondisi saat hasil perencanaan produksi tidak mencapai sasaran, hal ini akan berakibat langsung pada tingkatan persediaan produk. Kondisi tersebut mengakibatkan terjadinya penumpukan persediaan (overstock) atau kekurangan persediaan (stockout) (Fogarty, Blackstone dan Hoffman, 1991). Tentunya kedua situasi ini merugikan bagi perusahaan karena akan menghilangkan keuntungan akibat terjadinya lost sale dan peningkatan biaya produksi akibat backorder dan penumpukan stok. Hal ini sebagaimana terjadi pada kasus yang dialami oleh PT X. PT X adalah perusahaan farmasi milik pemerintah yang memproduksi berbagai produk obat berbentuk tablet, kapsul, injeksi, salep, krim dan suspensi. Masing-masing bentuk produk tersebut memiliki sejumlah famili dan item, dengan total kurang lebih 300 item. Berdasarkan klasifikasi pemasaran, produk tersebut dikelompokan ke dalam kelompok produk OGB (Obat Generik Berlogo), OTC (Over The Counter), herbal, indo, promedik, MIM, dan diagnostik. Saat ini perusahaan menerima permintaan produk berdasarkan permintaan reguler dan tender. Berdasarkan penelitian awal, permasalahan yang dihadapi perusahaan saat ini terkait dengan permasalahan penumpukan produk jadi dan keterlambatan pemenuhan pesanan yang menyebabkan backorder pada beberapa periode terakhir. Kondisi tersebut sering terjadi pada kelompok OGB yang terdiri dari jenis kapsul dan tablet. Pada beberapa item obat OGB tersebut mengalami penumpukan dan sebagian item obat OGB lainnya mengalami backorder. Untuk itu, dilakukan penyusunan kerangka perencanaan produksi hirarkis untuk memberikan usulan perbaikan dalam perencanan 27

28 Hilda Syaidatul Ulfah, et al. produksi saat ini untuk mengatasi permasalahan penumpukan stok dan keterlamatan pemenuhan pesanan (backorder). Sistem Manufaktur PT Indofarma (Persero), Tbk. - Data internal dan eksternal - Kondisi dan asumsi model sistem Timbal balik Manajemen Perencanaan Produksi / Penerapan Perencanaan produksi hirarkis Karakteristik pasar (permintaan), produk dan proses Tahap 1: Memisahkan strategi MTS- MTO berdasarkan konsep decoupling point - Formasi famili produk - Partisi MTS-MTO - Penetapan target tingkat pelayanan Tahap 2: Permintaan, kapasitas, waktu operasi dan biaya, data Perencanaan produksi pola persediaa kelompok dan item MTS produk -Peramalan -Penentuan Jadwal Produksi Induk (JPI) melalui perencanaan agregat dan - Tingkatan optimal disagregat produksi, persediaan, -Validasi JPI dengan RCCP overtime dan outsourcing dalam bentuk agregat - JPI, kuantitas produksi famili dan item Kedatangan pesanan - Perbaikan prosedur dan pengurangan lead time - Kebijakan penerimaan, delay, penolakan untuk produk MTO Tahap 3: Perencanaan produksi pola MTO B. Landasan Teori Gambar 1.1 Kerangka Perencanaan Produksi Usulan 1. Perencanaan Produksi Hirarkis Perencanaan produksi hirarkis merupakan sebuah pendekatan untuk memecah keputusan perencanaan kedalam istilah yang lebih terkelola melalui partisi permasalahan tersebut kedalam hirarkis keputusan manajerial. Pendekatan ini menggambarkan hirarkis pemecahan keputusan dari mulai tingkatan level atas terkait keputusan strategi, kemudian diarahkan kepada tingkatan level menengah terkait keputusan taktis hingga kepada tingkatan level bawah untuk memutuskan strategi operasional (Heizer dan Render, 1993, h.533). Gambaran konseptual sistem perencanaan hirarkis terdiri dari tiga tahapan: (1) dilakukan perencanaan agregat pada tipe produk, horizon perencanaan model ini biasanya untuk memenuhi selama periode satu tahun dalam mempertimbangkan fluktuasi permintaan produk; (2) dilakukan disagregasi perencanaan agregat tipe produk untuk menentukan perencanaan pada famili produk; 3) hasil disagregasi famili menentukan jumlah end item yang akan diproduksi. Hingga akhirnya dapat ditentukan laporan status detail. 2. Perencanaan Agregat dan Disagregat Perencanaan agregat merupakan hasil rencana dari pengukuran tenaga kerja dan tingkat produksi dalam kumpulan perencanaan fasilitas yang telah diberikan. Rencana yang dimaksud merupakan rencana umum yang dibuat masing-masing periode untuk periode berikutnya (Bedworth dan Bailey, 1987, h.126). Tujuan perencaaan agregat adalah utilisasi secara produktif dari sumberdaya (pekerja dan peralatan mesin). Kata agregat menunjukan perencanaan diarahkan dari gross level untuk memenuhi total permintaan dari semua produk yang menggunakan bersama sumberdaya terbatas dari fasilitas yang digunakan Bedworth dan Bailey, 1987, h.121). Beberapa macam metode Agregat Planning adalah sebagai berikut (Narasimhan dan McLeavey, 1985): a. Nonquantitative atau Metode Intuitive b. Turnover Ratio c. Charting dan Metode Graphical Volume 2, No.1, Tahun 2016

Perencanaan Produksi Hirarkis Multi Produk untuk Industri Farmasi dengan Pendekatan 29 d. Metode Tabular e. The Linear Programming Method, metode Linear Programming (LP) f. Simulation Method Perencanaan Disagregat adalah aktivitas pengkonversian level produksi yang telah direncanakan ke dalam kuantitas dari masing-masing model produk yang telah dikerjakan pada perencanaan fasilitas (Bedworth dan Bailey, 1987, h.126). Jadwal produksi induk (JPI) merupakan keluaran dari disagregasi sebuah perencanaan agregat. JPI menggabungkan produk-produk yang sama (identik) ke dalam kelompok produk, memecah permintaan dalam bulanan dan kadang-kadang menentukan kelompok atau produk, tenaga kerja yang dibutuhkan untuk setiap end item dan pelayanan yang harus dijadwalkan secara spesifik pada setiap stasiun kerja. Selain itu, JPI merupakan suatu pernyataan tentang produk akhir (termasuk suku cadang) dari suatu perusahaan industri manufaktur yang merencanakan untuk memproduksi output yang berkaitan dengan kuantitas dan periode waktu (Gaspersz, 2001, h.141). Terdapat dua metode pendekatan algoritma optimasi untuk memecahkan permasalahan disagregasi, diantaranya: a. Hax and Meal Method b. Convex Knapsack Method (Hax and Bitran Method) 3. Konsep Decoupling Point Konsep decoupling point merupakan istilah pemisahan bagian orientasi organisasi kedalam aktivitas-aktivitas untuk memenuhi pesanan pelanggan berdasarkan peramalan dan perencanaan, atau titik yang menunjukan seberapa dalam pesanan pelanggan masuk dalam aliran barang (Hoekstra dan Romme, 1992 dalam van Donk, 2000). Dua faktor utama yang mempengaruhi strategi menentukan posisi decoupling point yaitu rasio leadtime produksi dengan penyerahan (P/D ratio) dan volatilitas permintaan relative atau relative demand volatility (RDV). Apabila kedua faktor ini digambarkan dalam sebuah diagram scatter, maka akan memberikan gambaran empat situasi yang mengarahkan pada pemilihan strategi penyerahan produk (Olhager, 2003). Relative Demand Volatility (RDV) Tinggi MTO ATO Rendah MTO MTS ATO MTS (Sumber: Olhager, 2003) 1 P/D>1 P/D<1 Gambar 2.1 Diagram Strategi Posisi Produk C. Hasil Penelitian dan Pembahasan Rasio P/D 1. Identifikasi Perencanaan Produksi Saat Ini Hasil tahapan ini menunjukan gambaran perencanaan produksi PT X selama periode 2014 menghasilkan kondisi penumpukan stok dan terjadinya backorder. Nilai penumpukan stok terjadi rata-rata sebesar Rp 84,53 milyar/bulan dengan kenaikan rata-rata per bulan sebesar Rp 0,67 milyar. Sedangkan nilai keterlambatan pemenuhan pesanan (backorder) rata-rata terjadi sebesar Rp 53 milyar/bulan atau menunjukan Teknik Industri, Gelombang 1, Tahun Akademik 2015-2016

30 Hilda Syaidatul Ulfah, et al. 47,21% pesanan tidak terpenuhi tiap bulan dari total Purchase Order (PO) pelanggan. Kelompok Obat Generik Berlogo (OGB) menyumbang penumpukan stok sebesar 89% dan backorder sebesar 73% dari total penumpukan dan backorder yang terjadi. Perencanaan ditujukan untuk memproduksi dari jenis kapsul dan tablet sebanyak 119 item terdiri dari lima famili kapsul betalaktam/kb (2 item), kapsul non betalaktam/knb (25 item), kapsul herbal/kh (7 item), tablet betalaktam/tb (3 item) dan tablet non betalaktam/tnb (82 item). Beberapa prosedur perencanaan produksi yang diterapkan selama periode 2014: 1) metode peramalan menggunakan metode kualitatit (pendekatan intuitif) 2) perencanaan produksi dibagi dua bagian, tender dan reguler. 3) metode penentuan stok pengaman menggunakan pendekatan kualitatif (analisa histori). 2. Identifikasi Strategi MTS-MTO Dengan Konsep Decoupling Point Hasil tahapan ini menunjukan informasi persediaan produk hanya bisa dilakukan pada bahan baku dan produk akhir. Adapun persediaan pada produk setengah jadi (ruah) tidak direkomendasikan untuk diadakan persediaan dikarenakan sifat perishable produk. Melihat hasil analisa identifikasi decoupling point, strategi posisi produk yang mungkin pada produk kapsul dan tablet adalah MTS dan MTO. Adapun penerapan ATO beresiko untuk diterapkan karena produk semi manufacturing berbentuk ruah (hasil pencampuran bahan-bahan obat) beresiko terjadinya kontaminasi bahan kimia yang akan menimbulkan kerusakan produk. Hasil penentuan P/D Ratio dan penentuan RDV (Relative Demand Volatility) dipetakan dalam diagram klaster strategi posisi produk kapsul dan tablet dimana teridentifikasi 78 item MTS (terdiri dari 18 item KNB, 53 TNB dan 7 KH) dan 41 item MTO (terdiri dari 18 item 2 KB, 7 KNB, 29 TNB dan 3 TB). TITIK CUSTOMER ORDER DECOUPLING POINT (CODP) PROSES PEMBUATAN OBAT KAPSUL & TABLET Counting (Penimbangan Bahan Baku) Dispensing (Pencampuran) Manufacturing (Pemrosesan Mesin) Counting (Penimbangan obat jadi) Packaging (Pengemasan) Deliver (Pengiriman) Material (Bahan Baku) Produk Semi Manf. (Ruwah) Produk Jadi (Obat Indofarma OI) CODP CODP Strategi MTS Strategi MTO Keterangan : Customer Order- Driven Forecast-Driven Gambar 3.1 Titik Decoupling Point Produk Kapsul dan Tablet Gambar 3.2 Diagram Klaster Strategi Produk MTS-MTO (Kapsul) Gambar 3.3 Diagram Klaster Strategi Produk MTS-MTO (Tablet) Volume 2, No.1, Tahun 2016

Perencanaan Produksi Hirarkis Multi Produk untuk Industri Farmasi dengan Pendekatan 31 3. Perencanaan Produksi Pola MTS (Make to Stock) Dilakukan simulasi perencanaan produksi untuk periode 2014, hasil tahapan perencanaan masing-masing dijelaskan sebagai berikut: a. Perhitungan Unit Konversi Agregat, perencanaan produksi dibagi dua yaitu perencanaan produksi lini satu dengan produk agregat nonbetalaktam (18 item kapsul non -laktam dan 53 item tablet non -laktam) serta perencanaan produksi lini dua dengan produk agregat herbal (7 item). b. Peramalan Permintaan, pola data yang terbentuk dari kedua produk agregat nonbetalaktam dan herbal adalah pola data tren cenderung horizontal. Berdasarkan rekapitulasi uji kesalahan pada, metode peramalan terpilih yang memiliki tingkat keakuratan (nilai eror) kecil yaitu metode Single Moving Average (SMA). c. Perencanaan Produksi Agregat, perencanaan dilakukan untuk dua produk agregat yaitu nonbetalaktam dan herbal. Sebelumnya ditentukan ditentukan tingkatan stok pengaman (safety stock) dengan pendekatan probabilitas stockout dan lead time demand, diketahui stok pengaman nonbetalaktam sejumlah 47.459.165 butir dan herbal sejumlah 658.092 butir. Rencana produksi agregat dihitung menggunakan dua pendekatan alternative strategi pengendalian tenaga kerja (TK) (alternatif 1) dan jam lembur (altenatif 2). Pada perencanaan produksi non betalaktam diketahui nilai Ongkos Total Produksi (OTP) dari alternatif 1 sebesar Rp 595.704.207.690,- sedangkan dari alternati2 2 sebesar Rp 691.291.277.229,- dengan masih terdapat nilai backorder. Pada perencanaan produksi herbal dilakukan toll manufacturing (subkontrak penuh) dengan OTP sebesar Rp 1.013.881.880,- Gambar 3.4 Grafik Rencana Agregat (Non Betalaktam) Alternatif 1 Gambar 3.5 Grafik Rencana Agregat (Non Betalaktam) Alternatif 2 d. Perencanaan Produksi Disasagregat Metode Hax Bitran, pada perencanaan disagregat nonbetalaktam ditetapkan semua famili (KNB dan TNB) diproduksi, kecuali pada famili KNB tidak diproduksi pada bulan April, Juni dan Agustus. Hasil algoritma membagi rencana agregat kedalam kuantitas famili menunjukan alokasi perencanaan agregat periode Jan-2014 sejumlah 132.952.301 butir, jumlah Famili KNB yang akan diproduksi sejumlah 27.215.003 butir dan Teknik Industri, Gelombang 1, Tahun Akademik 2015-2016

32 Hilda Syaidatul Ulfah, et al. Famili TNB sejumlah 105.737.298 butir. Hasil algoritma membagi kuantitas famili kedalam kuantitas item menghasilkan informasi Jadwal Produksi Induk (JPI). e. Perhitungan Rough-Cut Capacity Planning (RCCP), hasil uji validasi JPI dengan membandingkan kapasitas tersedia dengan kapasitas dibutuhkan dari jumlah JPI pada ketiga stasiun kerja (SK) digambarkan dalam grafik RCCP. Diketahui informasi perlu adanya penambahan kapasitas tersedia dengan melakukan penambahan kapasitas tenaga kerja kontrak pada masing-masing SK. 4. Perencanaan Produksi Pola MTO (Make to Order) Hasil tahapan ini menunjukan informasi evaluasi perbaikan prosedur pola perencanaan produksi MTO dan reduksi lead time pemenuhan pesanan. DIAGRAM PROSES BISNIS (PROSEDUR PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN PRODUKSI POLA MTO PT INDOFARMA (PERSERO) Tbk.) IGM SCM PPIC PURCHASING LOGISTIK PRODUCTION Distribusi dan Operasi Penjualan Konversi PO menjadi Sales Order (SO) Konversi SO menjadi Plan Production Order (PPO) Konfirmasi RPB memperhitungkan kapasitas aktual mesin, personel dan waktu kerja Purchase Requisition (PR) Penerbitan Purchase Order (PO) Purchase Order (PO) Sales Order (SO) PPO Evaluasi PPO sesuai kapasitas Kapasitas Tidak sesuai? Menerbitkan SPTO ke bidang AD Ya Konfirmasi ketersediaan BB Konversi SPB menjadi Purchase Order (PO) BB PO Bahan Pengadaan BB BB/BK Receive Tidak Kapasitas tersedia? Ya Konfirmasi RPB dan RPM RPB dan RPM SPTO Tidak BB tersedia? Ya Production Process Selesai Evaluasi isue BB Terbitkan RPB Terbitkan surat permintaan pesanan barang (SPB) RPB SPPB Reschedule Rencana Produksi Terbitkan PP dan PK PP dan PK Transito In Konversi SO menjadi Surat Pengiriman Barang (SPB) Bukti Penyerahan Produk Jadi (BPPJ) SPB Good Receipt Pengiriman barang ke gudang IGM Gambar 3.6 Urutan Prosedur Perencanan dan Produksi Pola MTO No Proses Mulai Selesai Durasi Jan 2014 Feb 2014 Mar 2014 Apr 2014 May 2014 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1 2 3 4 5 1 Pemesanan 1/1/2014 1/3/2014 3d 2 Konfirmasi pesanan 1/6/2014 1/6/2014 1d 3 Konfirmasi rencana produksi 1/7/2014 1/9/2014 3d 4 Pengadaan bahan baku 1/10/2014 4/3/2014 60d 5 Pembuatan massa 4/4/2014 4/18/2014 11d 6 Pembuatan ruah 4/21/2014 5/14/2014 18d 7 Pengemasan 5/15/2014 6/5/2014 16d 8 Warehousing 6/9/2014 6/27/2014 15d Pengiriman 6/30/2014 7/11/2014 9 10d No Proses Mulai Selesai Durasi A (Prosedur Saat Ini) Jan 2014 Feb 2014 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 1 1 Pemesanan 1/1/2014 1/3/2014 3d 2 Konfirmasi pesanan 1/6/2014 1/6/2014 1d 3 Konfirmasi rencana produksi 1/7/2014 1/9/2014 3d 4 Pembuatan massa 1/10/2014 1/24/2014 11d 5 Pembuatan ruah 1/27/2014 2/19/2014 18d 6 Pengemasan 2/20/2014 3/13/2014 16d 7 Warehousing 3/14/2014 4/3/2014 15d 8 Pengiriman 4/4/2014 4/17/2014 10d B (Prosedur Usulan) Gambar 3.7 Gant Chart Urutan Prosedur Pola MTO Usulan D. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini berdasarkan informasi pembahasan sebelumnya sebagai berikut: Volume 2, No.1, Tahun 2016

Perencanaan Produksi Hirarkis Multi Produk untuk Industri Farmasi dengan Pendekatan 33 1. Permasalahan perencanaan produksi yang dihadari PT X saat ini terkait dengan penumpukan stok dan kekosongan persediaan saat pesanan datang (backorder) diakibatkan karena dampak prosedur perencanaan produksi yang diterapkan saat ini. 2. Kerangka perencanaan produksi hirarkis dipertimbangkan untuk memberikan usulan perbaikan dalam perencanan produksi saat ini. Perencanaan produksi hirarkis yang diusulkan terdiri dari 3 tahapan: 1) Tahapan partisi strategi produk make-to-stock dan make-to-order dengan metode decoupling point. 2) Tahapan perencanaan produksi untuk pola produk MTS terdiri dari peramalan permintaan, agregasi dengan pendekatan metode grafis dan disagregasi dengan pendekatan algoritma Hax Bitran (convex problem) untuk menentukan Jadwal Produksi Induk (JPI) dengan validasi melalui pengukuran RCCP (rough cut capacity planning). 3) Tahapan perencanaan produksi untuk pola MTO. 3. Hasil simulasi perencanaan produksi usulan dengan kasus periode perencanaan produksi 2014 menunjukan, telah terjadi penurunan nilai ongkos total produksi sebesar 9%, tingkatan stok pengaman (safety stock) sebesar 49% dan lead time pemenuhan pesanan sebesar 53% dari nilai hasil prosedur perencanaan produksi yang diterapksan pada periode 2014. Hal ini menunjukan bahwa prosedur perencanaan produksi usulan dapat memberi penghematan dan mengatasi permasalahan penumpukan stok dan backorder dibandingkan dengan prosedur perencanaan produksi yang diterapkan perusahaan saat ini. Daftar Pustaka Badan POM, 2006. Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta: BPOM. Bedworth, D. D., dan Bailey, J. E., 1987. Integrated Production Control Systems: Management, Analysis, Design 2/E. New York: John Wiley & Sons, Inc. Biegel, J. E., et al., 2009. Pengendalian Produksi Suatu Pendekatan Kuantitatif. Jakarta: Akademika Pressindo. Fogarty, D, W., Blackstone, J. H., dan Hoffman, T. R. H., 1991. Production and Inventory Management.2nd Ed. Cincinnati: South-Western Publishing Co. Gasperz, 2001. Production Planning and Inventory ControlBerdasarkan Pendekatan Sistem Terintegrasi MRP II dan JIT Menuju Manufacturing 2. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Ginting, R., 2007. Sistem Produksi.Yogyakarta: Graha Ilmu. Heizer, J., dan Render, B., 1993. Production and Operation Management.3rd Ed. USA: Allyn and Bacon. Makridakis, S., Wheelwright, S. C., dan McGee, V, E., 1993. Metode dan Aplikasi Peramalan. Jakarta: Erlangga. Narasimhan, S. L., dan McLeavy, D. W., 1985. Production Planning and Inventory Control. 2nd Ed. USA: Allyn and Bacon. Oden, H. W., Langenwalter, G. A., dan Lucier, R. A., 1998. Handbook of Material & Capacity Requirements Planning. USA: The McGraw-Hill, Inc. Sipper dan Bulfin, 1997. Production: Planning, Control, and Integration. USA: The McGraw-Hill Companies. Inc. Teknik Industri, Gelombang 1, Tahun Akademik 2015-2016

34 Hilda Syaidatul Ulfah, et al. Bitran, G. R., dan Tirupati, D., 1989. Hierarchical Production Planning. MIT Sloan School Working Paper. Massachusetts Institute of Technology Cambridge. Tersedia online pada http://search.proquest.com dan http://www.springer.com/locate/dsw, 2 April 2015 Gharehgozli, A. H., Rabbani, M., dan Moghaddam, R. T., 2006. A Proposed Hierarchical Production Planning Structure for Combined MTS/MTO Environments. Istanbul: Proceedings of the 9th WSEAS International Conference on Applied Mathematics, pp 146-151. Tersedia online pada, 12 Juni 2015 Kotayet, W., Eltawil, A. B., dan Fors, M. N., 2011. A Hierarchical Production Planning Framework For The Textile Industry With Make to Order and Make to Stock Considerations. 22nd International Conference on Computer Aided Production Engineering, CAPE 2011. Tersedia online pada http://academia.edu.com dan http://www.springer.com/locate/dsw 2 April 2015 Olhager, J., 2003. Strategic Positioning of The Order Point. International Journal of Production Economics, 85(3), 319-329. Tersedia online pada http://search.proquest.com dan http://www.springer.com/locate/dsw, 20 Maret 2015 Olhager, J., 2012. The Role of Decoupling Points in Value Chain Management. Modelling Value Selected Papers of The 1st International Conference on Value Chain Management. Tersedia online pada www.springer.com/978-3-7908-2746- 0 dan http://search.proquest.com, 20 Maret 2015 Rahman, A., 1991. Studi Sistem Perencanaan Produksi Hirarkis dalam Penentuan Tingkat Produksi Detail pada Industri Pertanian. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Tersedia online pada http://academia.edu.com, 23 Maret 2015 Steffansson, H., dan Shah, N., 2005. Multi-Scale Planning and Scheduling in The Pharmaceutical Industry. European Symposium on Computer Aided Process Engineering-15. London: Department of Chemical Engineering, Imperial College London. Tersedia online pada www.elsevier.com/locate/dsw, 2 April 2015 van Donk, D. P., 2000. Make to Stock or Make to Order: The Decoupling Point in The Food Processing Industries. Groningen: Faculty of Management and Organization, University of Groningen. International Journal of Production Economics. Tersedia online pada www.elsevier.com/locate/dsw, 20 Maret 2015 Venditti, L., 2010. Thesis: Production Schedulling In Pharmaceutical Industry. Roma: Dept. of Computer Science and Automation Roma Tre University. Tersedia online pada http://dspace-roma3.caspur.it/, 20 Maret 2015 Volume 2, No.1, Tahun 2016