* ABSTRAK

dokumen-dokumen yang mirip
Februari Kata Kunci : Nested PCR, MDR-TB, Mutasi gen rpob

Identifikasi Mutasi Gen rpob Pada Daerah Hulu RRDR Mycobacterium Tuberculosis Multidrug Resistent Isolat P10

OPTIMASI PCR (Polymerase Chain Reaction) FRAGMEN 724 pb GEN katg MULTI DRUG RESISTANCE TUBERCULOSIS UNTUK MENINGKATKAN PRODUK AMPLIFIKASI

BAB I PENDAHULUAN. Multidrug resistant tuberculosis (MDR-TB) merupakan salah satu fenomena

PROSES AMPLIFIKASI DAERAH PROMOTER inha PADAISOLAT P11Mycobacterium tuberculosis MULTIDRUG RESISTANCE DI BALI DENGAN TEKNIK POLYMERASE CHAIN REACTION

Skripsi MADE RAI DWITYA WIRADIPUTRA

DESAIN PRIMER UNTUK AMPLIFIKASI FRAGMEN GEN inha ISOLAT 134 MULTIDRUG RESISTANCE TUBERCULOSIS (MDR-TB) DENGAN METODE POLYMERASE CHAIN REACTION

AMPLIFIKASI FRAGMEN DAN IDENTIFIKASI MUTASI PROMOTER

Metodologi Penelitian. Metode, bahan dan alat yang digunakan dalam penelitian ini akan dipaparkan pada bab ini.

BAB I PENDAHULUAN. Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) merupakan tuberkulosis yang

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi. Tabel 1. Jumah Sampel Darah Ternak Sapi Indonesia Ternak n Asal Sapi Bali 2 4

BAB III METODE PENELITIAN. amplifikasi daerah HVI mtdna sampel dengan menggunakan teknik PCR;

BAB III METODE PENELITIAN. Secara garis besar langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini

MUTASI C825T GEN katg ISOLAT L5 MULTIDRUG RESISTANT Mycobacterium tuberculosis TESIS RINA BUDI SATIYARTI NIM: Program Studi Kimia

DESAIN PRIMER SECARA IN SILICO UNTUK AMPLIFIKASI FRAGMEN GEN rpob Mycobacterium tuberculosis DENGAN POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini dilakukan lima tahap utama yang meliputi tahap

bio.unsoed.ac.id METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1. Materi Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Multi-Drug Resistance Mycobacterium tuberculosis (MDR-TB) adalah jenis

PERBANDINGAN KUALITAS DNA DENGAN MENGGUNAKAN DUA METODE BOOM MODIFIKASI PADA ISOLAT Mycobacterium tuberculosisp10 DI BALI. Udayana

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian akan diawali dengan preparasi alat dan bahan untuk sampling

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis adalah bakteri patogen penyebab tuberkulosis.

BAB III METODE PENELITIAN Bagan Alir Penelitian ini secara umum dapat digambarkan pada skema berikut:

PERBANDINGAN KUALITAS DNA DENGAN MENGGUNAKAN METODE BOOM ORIGINAL DAN BOOM MODIFIKASI PADA ISOLAT Mycobacterium tuberculosis 151

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN. Pengambilan sampel. Penyiapan templat mtdna dengan metode lisis sel

BAB III METODE PENELITIAN

ABSTRAK. Deteksi Mutasi pada Quinolone Resistant Determining Regions (QRDRs ) gen gyra pada Salmonella typhi Isolat Klinik dan Galur Khas Indonesia

MATERI DAN METODE. Kota Padang Sumatera Barat pada bulan Oktober Amplifikasi gen Growth

Identifikasi Mutasi Gen rpob Ser531Leu Mycobacterium tuberculosis Yang Berhubungan Dengan Resistensi Rifampisin

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV Hasil dan Pembahasan

APLIKASI METODE POLYMERASE CHAIN REACTION

BABm METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pada penelitian ini terdapat lima tahapan penelitian yang dilakukan yaitu

LAMPIRAN. Lampiran 1. Deskripsi Pembuatan Larutan Stok dan Buffer

3 Metodologi Penelitian

VISUALISASI HASIL PCR DENGAN METODE PCR LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG PADA SAMPEL BAKTERI Pseudomonas fluorescens dan Ralstonia solanacearum

APLIKASI METODE MULTIPLEX POLYMERASE CHAIN REACTION

DESAIN DNA PROBE SECARA IN SILICO SEBAGAI. PENDETEKSI DAERAH RRDR GEN rpob. Mycobacterium tuberculosis UNTUK METODE REAL-

ABSTRAK. OPTIMASI AMPLIFIKASI BAGIAN GEN parc DENGAN METODE PCR PADA ISOLAT Salmonella typhi DARI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 2006

BAHAN DAN METODE. Waktu dan Tempat

BAB III BAHAN DAN METODE

ANALISIS PRIMER UNTUK AMPLIFIKASI PROMOTER inha MULTIDRUG RESISTANCE TUBERCULOSIS (MDR-TB) DENGAN METODE POLYMERASE CHAIN REACTION (PCR)

3. METODE PENELITIAN

BEBERAPA MUTASI GEN katg ISOLAT KLINIS Mycobacterium tuberculosis RESISTEN ISONIAZID TESIS. ELFIRA ROSA PANE NIM: Program Studi Kimia

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III METODE PENELITIAN

AMPLIFIKASI GEN 18S rrna PADA DNA METAGENOMIK MADU DARI DESA SERAYA TENGAH, KARANGASEM DENGAN TEKNIK PCR (POLYMERASE CHAIN REACTION)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat

Asam Asetat Glacial = 5,7 ml EDTA 0,5 M ph 8.0 = 10 ml Aquades ditambahkan hingga volume larutan 100 ml

LAMPIRAN. Lampiran 1. Pembuatan Larutan Stok dan Buffer

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Sampel Pengambilan Sampel Ekstraksi DNA Primer

METODE Waktu dan Tempat Materi Sampel DNA Primer

OPTIMASI SUHU ANNEALING PRIMER UNTUK AMPLIFIKASI DNA GEN LINAMARASE

KONSTRUKSI PRIMER UNTUK MENDETEKSI MUTASI GEN rpob Mycobacterium tuberculosis DENGAN METODE AMPLIFICATION REFRACTORY MUTATION SYSTEM (ARMS)-PCR

BAB III METODE PENELITIAN. bertujuan untuk menidentifikasi gen angiotensin converting enzyme (ACE)

PRAKATA. Alhamdulillah syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah swt., atas

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat

Teknik-teknik Dasar Bioteknologi

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup dari penelitian ini meliputi bidang ilmu sitogenetika.

Hasil dan Pembahasan

OPTIMASI SUHU ANNEALING PRIMER UNTUK AMPLIFIKASI DNA GEN MEISA1

ANALISIS VARIASI NUKLEOTIDA DAERAH D-LOOP DNA MITOKONDRIA PADA SATU INDIVIDU SUKU BALI NORMAL

METODE. Materi. Tabel 1. Jumlah Sampel DNA yang Digunakan dan Asal Pengambilan Sampel Darah.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan dengan metode

BAB 4. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

MATERI DAN METODE. Materi. Tabel 1. Sampel Darah Sapi Perah dan Sapi Pedaging yang Digunakan No. Bangsa Sapi Jenis Kelamin

II. MATERI DAN METODE. Tempat pengambilan sampel daun jati (Tectona grandis Linn. f.) dilakukan di

Gambar 1. Skema penggolongan HIV-1 [Sumber: Korber dkk. 2001: ]

ABSTRAK. OPTIMASI AMPLIFIKASI DAN KLONING GEN Chaperonin 60.1 PADA Mycobacterium tuberculosis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian dasar dengan metode

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang bertujuan untuk

ISOLASI DNA METAGENOMIK DARI SPUTUM PASIEN TUBERKULOSIS DAN AMPLIFIKASI DENGAN PRIMER PROMOTER inha

MATERI DAN METODE. Materi

III. Bahan dan Metode

II. BAHAN DAN METODE. Betina BEST BB NB RB. Nirwana BN NN RN. Red NIFI BR NR RR

3. METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

MUTASI GEN RPOB ISOLAT MYCOBACTERIUM TUBERCULOSIS MULTI DRUG RESISTANCE885 DAN 836 SERTA KLONINGNYA PADA PLASMID PET-28A

BAB XII. REAKSI POLIMERISASI BERANTAI

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

ISOLASI DNA DAN AMPLIFIKASI FRAGMEN D-LOOP MITOKONDRIAL PADA IKAN Ompok hypophthalmus (Bleeker, 1846) DARI SUNGAI KAMPAR PROVINSI RIAU

Transkripsi:

AMPLIFIKASI DAN IDENTIFIKASI MUTASI PADA FRAGMEN 0,5 KB GEN rpob ISOLAT 134 Mycobacterium tuberculosis MULTIDRUG RESISTANT DENGAN METODE NESTED POLYMERASE CHAIN REACTION Made Dharmesti Wijaya 1) *, I Nengah Wirajana 2), dan Sagung Chandra Yowani 1) 1) Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran 2) Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana, Bukit Jimbaran *email : dharmestiwijaya@ymail.com ABSTRAK Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengamplifikasi dan mengidentifikasi mutasi pada fragmen 0,5 kb gen rpob pada isolat 134 Mycobacterium tuberculosis multidrug resistant (MDR). Amplifikasi dilakukan dengan menggunakan metode nested polymerase chain reaction (nested PCR) sedangkan sekuensing dilakukan satu arah menggunakan forward inner primer. Sekuen nukleotida yang diperoleh ditranslasi menjadi asam amino dengan menggunakan program MEGA4. Fragmen 0,5 kb gen rpob M.tuberculosis telah berhasil diamplifikasi dengan metode nested PCR dan disekuensing. Hasil alignment menggunakan program MEGA4 menunjukkan bahwa telah terjadi missense mutation pada gen rpob isolat 134. Perubahan dua asam amino yang terjadi pada protein rpob adalah asam glutamat menjadi asam aspartat pada kodon 418 serta glutamin menjadi arginin pada kodon 510. Kata kunci: rpob, Mycobacterium tuberculosis, MDR, Nested PCR ABSTRACT Research has been conducted to amplify and identify mutations in the rpob gene fragment, 0,5 kb, from the isolate 134 Mycobacterium tuberculosis multidrug resistance (MDR). Amplification was performed using the method nested polymerase chain reaction (nested PCR) while sequencing was conducted in one direction using forward inner primer. Nucleotide sequence obtained was translated into amino acids using MEGA4 program. Amplification of M.tuberculosis rpob gene fragment, 0,5 kb, was successfully carried out and sequenced. Alignment result by using MEGA4 program showed that there had been missense mutations in the rpob gene. It had two amino acids changes to rpob protein, they were glutamic acid to aspartic acid at codon 418 and glutamine to arginine at codon 510. Keywords: rpob, Mycobacterium tuberculosis, MDR, Nested PCR PENDAHULUAN Multidrug resistant tuberculosis (MDR- TB) merupakan penyakit tuberkulosis yang disebabkan oleh strain M.tuberculosis yang resisten sekurang-kurangnya terhadap rifampisin (RIF) dan isoniazid (INH), obat -obat antituberkulosis lini pertama yang paling efektif (WHO, 2010). Resistensi terhadap RIF merupakan suatu pertanda penting karena sekitar 90% isolat yang resisten terhadap RIF juga resisten terhadap INH. Lebih dari 96% resistensi yang terjadi pada RIF disebabkan oleh mutasi pada segmen 81- bp gen rpob, gen yang menyandi perubahan asam amino pada subunit-β dari RNA polimerase. Segmen yang sering disebut sebagai rifampicin resistant determining region (RRDR) atau hot spot region tersebut mencakup kodon 507 hingga 533 gen rpob (Lewis dkk, 2002; Syaifudin dkk, 166

ISSN 1907-9850 Metode kultur sebagai gold standard dalam diagnosis TB sangat sensitif dan spesifik namun memerlukan waktu hingga beberapa minggu (Tessema dkk, 2012). Uji fenotip konvensional yang lambat ini membuat uji secara genotip dijadikan alternatif dalam mendeteksi MDR-TB karena kecepatannya dalam memberikan hasil, sederhana, dan sangat sensitif (Lingala dkk, 2010; Syaifudin dkk, Uji molekular banyak dimanfaatkan dalam diagnosis MDR-TB karena kecepatannya dalam memberikan hasil. Namun, metode ini memilki kelemahan yaitu hanya didesain untuk mendeteksi polimorfisme yang paling sering terjadi pada gen rpob isolat M.tuberculosis yaitu pada kodon 516, 526, dan 531. Hal tersebut membuat metode ini tidak dapat diterapkan secara universal karena pengaruh geografis sangat mempengaruhi perbedaan titik-titik mutasi yang terjadi (Lingala dkk, 2010). Penelitian mengenai daerah konservatif terjadinya mutasi pada M.tuberculosis belum banyak dilakukan di Indonesia. Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengamplifikasi dan mengidentifikasi mutasi pada fragmen 0,5 kb gen rpob M.tuberculosis yang mencakup daerah RRDR menggunakan metode nested PCR. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu pengembangan teknik-teknik molekuler dalam diagnosis MDR-TB di Indonesia pada khususnya. MATERI DAN METODE Bahan Bahan yang digunakan sebagai sampel dalam penelitian ini adalah isolat 134 M.tuberculosis MDR yang diperoleh dari Instalasi Mikrobiologi Klinik Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah Denpasar. Bahan-bahan kimia yang digunakan adalah diatom, larutan pelisis L6 ( GuSCN, Tris-HCl, EDTA, NaOH, dan Triton-X), washing buffer L2 (GuSCN dan Tris-HCl), etanol 70%, aseton, aquades steril, inner primer, outer primer, Go Taq Green PCR mix (Promega), agarosa (Promega), TBE (Invitrogen), dan EtBr (Promega). Peralatan Peralatan yang digunakan antara lain alatalat gelas, satu set pipet mikro (0,5-100 µl), tabung mikro, vorteks, shaker rotator tipe H-SR- 200, Sorvall Biofuge Primo R Centrifuge, waterbath, thermalcycler (Applied Biosystems), alat elektroforesis (BioRad), GelDoc (BioRad), dan sequencer (Applied Biosystems). Cara Kerja Isolasi DNA Sampel isolat 134 M.tuberculosis MDR hasil subkultur dilarutkan dalam PBS. Isolasi DNA sampel dilakukan dengan metode Boom (Boom dkk, 1990). M.tuberculosis dengan metode nested PCR M.tuberculosis dilakukan dengan metode nested PCR. Reaksi PCR pertama menggunakan outer primer FndeR1 5 GCC ATA TGA TGT CTC CGA TCG ACC ACT TC 3 dan RBamR1 5 GTG GAT CCT GTC GTG CAT CAC AGT GAT GTA G 3. Reaksi dilakukan dalam tabung mikro yang berisi 20 µl campuran reaksi yang terdiri dari 10 µl PCR mix; sepasang outer primer masing-masing 0,8 µl; 6,4 µl H 2 O; dan 2,0 µl sampel. Proses denaturasi awal dilakukan pada suhu 95 0 C selama 15 menit, amplifikasi sebanyak 40 siklus (1 menit pada 94 0 C, 1 menit pada 56 0 C, dan 1 menit pada 72 0 C), serta elongasi akhir pada 72 0 C selama 10 menit. Hasil PCR dengan outer primer digunakan sebagai templat dalam tahap amplifikasi berikutnya menggunakan inner primer FrTb 5 G TCG ACG CTG ACC GAA GAA GAC 3 dan RrTb 5 CC AAC ATC GGT CTG ATC GGC TC 3. Sebanyak 2 µl templat pengenceran 100x dimasukkan dalam tabung mikro yang berisi 11,5 µl PCR mix, sepasang inner primer masingmasing 0,8 µl, dan 9,9 µl H 2 O. Proses denaturasi awal dilakukan pada suhu 95 0 C selama 15 menit, amplifikasi sebanyak 45 siklus (1 menit pada 94 0 C, 1 menit pada 60 0 C, dan 1 menit pada 72 0 C), serta elongasi akhir pada 72 0 C selama 10 menit. 167

Deteksi hasil PCR dengan metode elektroforesis gel agarosa Sebanyak 5,2 g agarosa dalam 35 ml trisborat EDTA (TBE) 1x dipanaskan hingga larut. Larutan didiamkan hingga hangat dan ditambahkan 2,8 µl etidium bromida (EtBr). Campuran tersebut dikocok hingga homogen kemudian dituang ke dalam cetakan dan dibiarkan hingga membeku sempurna. Sebanyak 3 µl sampel hasil PCR dimasukkan ke dalam sumur gel agarosa 1,5%. Marker yang digunakan adalah 100 bp DNA ladder (Invitrogen) sebanyak 2,5 µl. Proses elektroforesis dilakukan dengan beda potensial sebesar 60 V selama 45 menit. Sekuensing dan analisis data Sekuensing produk PCR dilakukan di Laboratorium Eijkman, Jakarta, menggunakan inner primer. Sekuen nukleotida yang diperoleh ditranslasi menjadi asam amino dengan menggunakan program MEGA4 (Tamura dkk, Pada Gambar 1 tersebut tidak tampak adanya pita DNA. Diduga hal ini disebabkan oleh rendahnya konsentrasi DNA dalam sampel. Oleh karena itu, dilakukan amplifikasi kembali menggunakan sampel tanpa pengenceran. Suhu annealing juga diturunkan menjadi 56 0 C dengan harapan hibridisasi primer dengan templat terjadi dengan lebih mudah (Borah, 2011). Hasil amplifikasi PCR menggunakan outer primer pada suhu 56 0 C dapat dilihat pada Gambar 2. 1500 bp HASIL DAN PEMBAHASAN M.tuberculosis Hasil amplifikasi PCR menggunakan outer primer pada suhu 58 0 C dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar 2. Elektroforegram hasil amplifikasi pertama dengan metode nested PCR; 1.Marker 100 bp, 2. Fragmen 1,7 kb gen rpob M.tuberculosis 1500 bp 500 bp 400 bp 300 bp 200 bp 100 bp Gambar 1. Elektroforegram hasil PCR fragmen gen rpob M.tuberculosis dengan outer primer pada suhu 58 0 C; 1.Isolat 134, 2.Marker 100 bp Gambar 3. Elektroforegram hasil amplifikasi kedua dengan metode nested PCR; 1.Marker 100 bp, 2. Fragmen 0,5 kb gen rpob M.tuberculosis 168

ISSN 1907-9850 Pada Gambar 2 tersebut dapat dilihat bahwa amplifikasi dengan menggunakan outer primer telah menghasilkan produk sebesar 1,7 kb. Produk PCR ini kemudian dijadikan templat untuk amplifikasi kedua menggunakan inner primer. Produk nested PCR dapat dilihat pada Gambar 3. Sekuensing dan analisis data Sekuensing dilakukan satu arah menggunakan forward inner primer di Laboratorium Eijkman, Jakarta. Hasil sekuensing yang terbaca untuk isolat 134 adalah sebanyak 491 basa. Hasil sekuensing ini kemudian diidentifikasi mutasi serta perubahan asam aminonya menggunakan program MEGA4 (Tamura dkk, Hasil identifikasi menunjukkan bahwa telah terjadi mutasi pada daerah RRDR yaitu Q510R. Mutasi juga terjadi pada kodon di luar RRDR yaitu E418D. Apabila dibandingkan dengan penelitian serupa di beberapa negara lain, mutasi yang terjadi pada isolat 134 ini termasuk jarang terjadi. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa mutasi yang paling sering terjadi adalah pada kodon 531, 526, dan 516 ( Valim dkk, 2000; Lingala dkk, 2010; Ali dkk, 2011; Yoon dkk, 2011). Mutasi di luar RRDR juga pernah dipublikasikan yaitu pada kodon 145 hingga 148 (Lingala dkk, 2010). Mutasi pada isolat 134 ini menyebabkan terjadinya perubahan baik struktur maupun sifat asam amino. Pada kodon 418 terjadi perubahan dari GAA menjadi GAT yang menyebabkan terjadinya perubahan asam amino dari asam glutamat (E) menjadi asam aspartat (D). Sifat keasaman dan polaritas kedua asam amino ini tidak berubah, hanya saja terdapat perbedaan pada gugus samping penyusunnya. Gugus samping asam glutamat adalah karboksi etil sedangkan asam aspartat adalah karboksi metil. Perubahan lainnya adalah pada kodon 510 yaitu CAG menjadi CGG, dari glutamin (Q) yang bersifat netral menjadi arginin (R) yang bersifat basa. Perubahan-perubahan tersebut diduga terkait dengan timbulnya fenotip yang resisten terhadap RIF. Retnoningrum dan Roga (2004) menyebutkan bahwa satu saja mutasi titik yang menyebabkan perubahan asam amino dapat mengakibatkan penurunan atau hilangnya aktivitas pengikatan serta bertanggung jawab terhadap timbulnya fenotip yang resisten. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Fragmen 0,5 kb dari gen rpob M.tuberculosis telah berhasil diamplifikasi dengan menggunakan metode nested PCR. 2. Mutasi yang terjadi adalah missense mutation yaitu perubahan asam amino pada kodon 418 dari asam glutamat menjadi asam aspartat serta pada kodon 510 dari glutamin menjadi arginin. Saran Mengingat bahwa mutasi yang ditemukan termasuk jarang terjadi, maka perlu dilakukan penelitian serupa untuk mendapatkan database daerah konservatif terjadinya mutasi pada M.tuberculosis di Indonesia pada khususnya. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada staf Laboratorium Biomolekular Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, staf Instalasi Mikrobiologi Klinik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, serta pihak-pihak yang telah membantu penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Ali, A., Rumina H., Kauser J., Nusrat J., Ejaz Q., and Zahra H., 2011, Characterization of Mutations Conferring Extensive Drug Resistance to Mycobacterium tuberculosis Isolates in Pakistan, Antimicrobial Agents and Chemotherapy, 55 (12) : 5654-5659 Boom, R., C.J.A. Sol, M.M.M. Salimans, C.L. Jansen, P.M.E.W. van Dillen, and J. van der Noordaa, 1990, Rapid and simple method for purification of nucleic acid, Journal of Clinical Microbiology, 28 (3) : 495-503 169

Borah, P., 2011, Primer Designing for PCR, Sci Vis, 11 (3) : 134-136 Lewis, K., Abigail A.S., Harry W.T., and Richard G.W., 2002, Bacterial Resistance to Antimicrobials, Marcel Dekker Inc, New York Lingala, M.A.L., Aparna S., Suman J., K.V.S.M. Rao, and P.V. Ranganadha R., 2010, Clinical and Geographical Profiles of rpob Gene Mutations in Mycobacterium tuberculosis Isolates from Hyderabad and Koraput in India, Journal of Microbiology and Antimicrobials, 2 (2) : 13-18 Syaifudin, M., Rosilawati, M.L., Irawan, H., dan Bela, B., 2007, Identifikasi Mycobacterium tuberculosis dan Analisis Mutasi Gen RpoB dan KatG Penyebab Resistensi Ganda dengan Teknik Molekuler, Balitbang BATAN, Jakarta Tamura, K., Dudley J., Nei M., and Kumar S., 2007, MEGA4: Molecular Evolutionary Genetics Analysis (MEGA) software version 4.0, Molecular Biology and Evolution, 24, p. 1596-1599 Tessema, B., Joerg B., Frank E., Ulrich S., and Arne C.R., 2012, Analysis of Gene Mutations Associated with Isoniazid, Rifampicin and Ethambutol Resistance Among Mycobacterium tuberculosis Isolates from Ethiopia, BMC Infectious Diseases, 2012, p.1237 Valim, A.R.M., Maria L.R.R., Marta O.R., and Arnaldo Z., 2000, Mutations in the rpob Gene of Multidrug-Resistant Mycobacterium tuberculosis Isolates from Brazil, Journal of Clinical Microbiology, 38 (8) : 3119-3122 WHO, 2010, Multidrug and Extensively Drug- Resistant TB (M/XDR -TB) 2010 Global Report on Surveillance and Response, WHO Press, Geneva Yoon, J., Ji-Sun N., Kyung-Jin K., Yeonim C., Hyeyoung L., and Sang-Nae C., 2011, Molecular Characterization of Drug- Resistant and Susceptible Mycobacterium tuberculosis Isolated from Patients with Tuberculosis in Korea, Diagnostic Microbiology and Infectious Disease, 72 (2012) : 52-61 Yowani, S. C., 2012, Mutations in 1700 bp Fragment of rpob gene of Multi-Drug Resistant Mycobacterium tuberculosis Isolate, Indonesian Journal of Biomedical Sciences, 6 (2) : 170