MODUL OSTEOMA 1. DEFINISI Osteoma adalah tumor jinak yang mengandung sel-sel jaringan tulang yang berdiferensiasi, dapat berupa jaringan yang sklerotik, tulang padat, dan dapat terjadi di tulang tengkorak dan tulang wajah. Osteoma adalah tumor jinak dan tumbuh lambat yang tersusun atas lamelar tulang yang matur. Ada 2 karakteristik histologi osteoma, yaitu: 1. Osteoma tipe padat Tumor jenis ini adalah jenis yang paling sering ditemukan. Tumor ini tersusun dari lamelar tulang yang matur yang rapat dan padat dengan ruang sumsum tulang yang minimal 2. Osteoma tipe spongiosa Jenis ini tersusun dari struktur trabekular dengan batas perifernya ada lah korteks tulang Osteoma adalah jenis tumor tulang primer yang terdapat di tulang tengkorak dan jarang menimbulkan gejala karena jarang invasi ke intrakranial. 2. WAKTU PENDIDAN TAHAP I TAHAP II TAHAP III S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 PROGRAM MAGISTER (beban dihitung dengan SKS) >=40SKS Program Magister Neurologi Tesis Program Profesi Bedah Saraf Pogram Bedah Dasar Program Bedah Saraf PROGRAM Dasar KEPROFESIAN (beban dihitung berdasarkan kompetensi) GOLONGAN PENYAKIT & LOKALISASI KONGENITAL ICD 10 - Bab XVII INFEKSI ICD 10 - Bab I Kranial Spinal Kranium NEOPLASMA ICD 10 - Bab II Supratentorial Infratentorial Spinal Saraf Tepi TRAUMA ICD 10 - Bab XIX DEGENERASI Kranial Spinal Saraf Tepi Spinal 1
ICD 10 - Bab VI & XIII VASKULER ICD 10 - Bab IX FUNGSIONAL ICD 10 - Bab VI & XXI Saraf Tepi Intrakranial Spinal Pendidikan spesialisasi bedah saraf terdiri dari 3 tahap, yaitu : 1. Tahap Pengayaan (tahap I): a. Lama pendidikan 4 semester yaitu semester 1 sampai semester 4, peserta didik diberi ilmu-ilmu dasar maupun bedah saraf dasar. Dalam tahap ini dapat dipergunakan untuk mengambil program magister. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen I, yaitu di akhir masa pendidikan tahap I residen baru mencapai Kompetensi tingkat I. Residen sudah harus mengenal kelainan bedah saraf, khususnya semua jenis neoplasma dan 10 jenis kasus penyakit terbanyak. 2. Tahap Magang (tahap II) : a. Lama pendidikan 2 semester, yaitu dari semester 5 s/d 6. Peserta didik mulai dilatih melakukan tindakan bedah saraf. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen II, yaitu di akhir masa pendidikan tahap II residen telah mencapai Kompetensi tingkat II. Residen sudah harus mampu menangani secara mandiri kasus-kasus osteoma, minimal 3 kasus. 3. Tahap Mandiri (tahap III) : a. Lama pendidikan 5 semester, yaitu dari semester 7 s/d 11. Peserta didik menyelesaikan pendidikan sampai kompetensi bedah saraf dasar. b. Peserta didik dalam tahap ini disebut Residen III, yaitu di akhir masa pendidikan tahap III residen telah mencapai kompetensi tingkat III. Residen sudah harus mampu menangani kasus osteoma yang tergolong kompetensi bedah saraf dasar, minimal 5 kasus. Kompetensi bedah saraf dasar: 1. Semua jenis penyakit yang diajarkan dalam masa pendidikan sampai mencapai tingkat mandiri (residen boleh mengerjakan operasi sendiri, dengan tetap dalam pengawasan konsulen) 2. Tehnik operasi yang diajarkan sebagai target ahir pendidikan adalah terbatas pada tindakan operasi konvensional yang termasuk dalam Indeks Kesulitan 1 dan 2; tehnik operasi sulit yang membutuhkan kemampuan motoris lebih tinggi dan/ataupun membutuhkan alat-alat operasi canggih, termasuk dalam Indeks Kesulitan 3 dan 4, diajarkan hanya maksimal sampai tingkat magang. Tindakan operasi dalam kelompok ini merupakan kelanjutan pendidikan yang masuk dalam CPD. JENIS PENYAKIT ICD 10 TAHAP I TAHAP II TAHAP III 1 2 3 4 S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 G M G M G P NEOPLASMA Kranium Granuloma eosinofilik D 76.0 3 5 Plasmositoma C 90.2 2
JENIS PENYAKIT ICD 10 Osteoma D 16 Fibrous dysplasia M 85.0 Hamartoma Q 85.9 TAHAP I TAHAP II TAHAP III Tumor metastatik C 79.5 2 2 Neurofibrosarkoma /osteosarkoma C41.0 Supratentorial Glioma C 71.9 Glioma simpel 3 3 Glioma kompleks 3 3 Ependimoma M 93.92 2 Pleksus papiloma C 71.9 2 Meningioma (simpel) C 70 4 4 Meningioma (kompleks) 3 Pituitary adenoma /t. sella (simpel) D 26.7 Pituitary adenoma/t. sella (kompleks) 2 Kraniofaringioma D.35.3 2 Pinealoma /t. korpus pineal C 75.3, D 35.4 2 Tumor metastatik (simpel) C 79.5 2 1 Tumor metastatik (kompleks) C 79.5 2 Angioma (simpel) D 18.0 2 1 Angioma (kompleks) D 18.0 2 Infratentorial Glioma Simpel C 71.9 2 1 Kompleks C 71.9 2 Acoustic neuroma D 33.3 2 Meningioma (simpel) C 70 2 2 Meningioma (kompleks) C 70 2 Medulloblastoma C 71.6 2 Kolesteatoma H 71 1 Ependimoma M 9392, C 71.9 1 Pleksus papiloma C 71.9 1 Angioma (simpel) D.18.5 2 1 Angioma (kompleks) D 18.5 2 Tumor Spinal... Glioma D 33.4 2 Meningioma D 32.1 2 1 Ependimoma D 33.4 2 Schwannoma D 36.1 2 2 Angioma D 18.5 1 Tumor Saraf Tepi... Schwannoma D 36.1 1 1 KETERANGAN Tingkat Pengayaan. Dalam periode ini, tingkat kognisi harus dapat mencapai 6 (K6) Tingkap Magang. Dalam periode ini, di samping K6, Psikomotor harus mencapai 2 (P2) dan Afektif mencapai 3 (A3) Tingkat Mandiri. Semua Kategori Bloom harus mencapai maksimal, K6, P5, A5 S : Semester G : Magang M : Mandiri K : Kognitif : A : Afektif P : Psikomotor 1 2 3 2 3 4 3
3. TUJUAN UMUM Setelah menyelesaikan modul osteoma susunan saraf peserta didik diharapkan mampu mengenali osteoma susunan saraf, mampu mengobati osteoma yang diajarkan sampai level mandiri serta mampu mengatasi kegawatan akut osteoma susunan saraf. 4. TUJUAN KHUSUS 1. Mampu menerangkan insidens, patogenesis, dan mikrobiologi dari osteoma. 2. Mengetahui neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. 3. Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi, patologi dan mikrobiologi) dalam menegakkan diagnosis osteoma. 4. Mengetahui pengobatan pada berbagai jenis osteoma. 5. Mampu menentukan perubahan neurofisiologi yang disebabkan oleh osteoma. 6. Mampu menentukan lokasi osteoma. 7. Mampu melakukan pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosis osteoma. 8. Mampu menegakkan diagnosis banding dari osteoma. 9. Mampu melakukan pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan diagnosis osteoma. 10. Mampu melakukan pengobatan medikamentosa pada osteoma. 11. Mampu melakukan tindakan operasi pada osteoma. 12. Mampu melakukan tindakan pertolongan pertama pada kasus kegawatan akut osteoma. 13. Mengenali penyulit tindakan bedah pada kasus osteoma. 14. Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan 15. Mampu memberi informed consent 5. STRATEGI PEMBELAJARAN e a Pengajaran dan Kuliah Pengantar Kuliah tatap muka, 50 menit b b d Tinjauan Pustaka Presentasi ilmu dasar: 1 kali tiap submodul penyakit Presentasi kasus: 1 kali tiap jenis submodul penyakit Diskusi Kelompok 2 x 50 menit diskusi kasus tiap submodul penyakit menyangkut diagnosis, operasi dan penyulit Bed-side Teaching Bed-side teaching minimum 3 kali setiap submodul penyakit Bimbingan Operasi Telaah kepustakaan, 1 kali Presentasi kasus, 1 kali Diskusi kasus, 2 x 50 menit Ronde diikuti bed-side teaching 4
Operasi magang Operasi mandiri memenuhi minimal 3 kasus osteoma sebagai prasyarat untuk instruksi/evaluasi operasi sampai dinyatakan lulus melakukan operasi mandiri minimal 5 kasus osteoma sebagai prasyarat untuk maju ke ujian kompetensi tingkat nasional 6. PERSIAPAN SESI 1. Materi kuliah pengantar berupa kisi-kisi materi yang harus dipelajari dalam mencapai kompetensi, mencakup a. Insidens, patogenesis, dan sitogenesis osteoma susunan saraf b. Neuroanatomi, dan neurofisiologisusunan saraf dan pembungkusnya. c. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dan patologi anatomi dalam menegakkan osteoma susunan saraf pusat d. Pengobatan berbagai jenis osteoma susunan saraf e. pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosis osteoma susunan saraf f. Diagnosis banding osteoma susunan saraf g. Pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan osteoma susunan saraf h. Pengobatan medikamentosa osteoma susunan saraf i. Tindakan operasi osteoma susunan saraf j. Penyulit tindakan bedah pada kasus osteoma susunan saraf k. Kegawatdaruratan osteoma susunan saraf l. Tindak lanjut yang diperlukan m. Informed consent 2. Audio visual 3. Lampu baca X-ray 7. REFERENSI a.osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed. 2004 b.wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed. 1996 c. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby. 1994 d.winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders. 1994 8. KOMPETENSI JENIS KOMPETENSI Tingkat Kompetensi K P A TAHAP a. Mampu menerangkan insidens, patogenesis, dan sitogenesis osteoma 6 P E b Mengetahui neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. 6 N G 5
c Mengetahui dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dan patologi anatomi dalam menegakkan osteoma d Mengetahui pengobatan berbagai jenis osteoma 6 e Mampu menentukan perubahan neurofisiologi karena osteoma 6 2 3 M f Mampu menentukan lokasi osteoma 6 2 3 A G Mampu melakukan pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan g 6 2 3 A diagnosis osteoma N h Mampu mengetahui diagnosis banding osteoma 6 2 3 G i Mampu melakukan pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan osteoma 6 6 5 5 j Mampu melakukan pengobatan medikamentosa terhadap osteoma 6 5 5 k Mampu melakukan tindakan operasi osteoma 6 5 5 l Mampu mengatasi tindakan pertolongan pertama pada osteoma 6 5 5 m Mengenali penyulit tindakan bedah pada kasus osteoma 6 5 5 n Mengetahui tindak lanjut yang diperlukan 6 5 5 o Mampu memberi informed consent 6 5 5 9. GAMBARAN UMUM Osteoma adalah tumor tulang tengkorak primer jinak yang paling banyak di kalvaria. Lesi ini paling banyak terjadi pada wanita. Gambaran histologis osteoma terdiri dari matriks osteoid yang berada di dalam sel osteoblas yang dikelilingi oleh tulang yang reaktif. Diagnosis ditegakan berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang berupa pencitraan (imaging) dan radio nuklir. Tatalaksana kasus ini dapat berupa terapi bedah atau hanya follow-up jika tidak ada gejala. 10. CONTOH KASUS Contoh kasus dibuat sesuai dengan jenis penyakit pada submodul. 11. TUJUAN PEMBELAJARAN Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana kelainan osteoma susunan saraf. 12. METODE Metode Pembelajaran 1. Tinjauan Pustaka 2. Diskusi Kelompok 3. Bed side teaching 4. Tindakan Operasi Mandiri a. Peserta didik harus erlebih dahulu melakukan asistensi operasi (magang) sampai mencapai jumlah yang ditentukan, dan kemudian A Y A A N M A N D I R I 6
melakukan instruksi pada spesialis pembimbing. Setelah dinyatakan lulus instruksi, baru diijinkan melakukan operasi mandiri. b. Operasi mandiri oleh asisten harus selalu ada spesialis supervisor yang akan menilai keseluruhan aspek yang harus dilakukan oleh asisten terhadap pasien secara mandiri. c. Residen yang memiliki level tertinggi dalam suatu operasi harus membuat laporan operasi dengan berpedoman pada daftar tilik, selanjutnya konsulen/supervisor operasi ini akan memeriksa laporan operasi sesuai daftar tilik dan memberi nilai berdasarkan kelengkapan yang ditetapkan daam daftar tilik. Metode Diagnostik 1. Pemeriksaan klinis neurologik 2. Alat bantu diagnostik a. Pemeriksaan X-ray, b. EMG / EEG c. Alat neuroradiologi lain: CT-scan, MRI, MRS, Angiografi 3. Metode diagnostik yang diajarkan mencakup metode diagnostik konvensional sesuai ketersediaannya di daerah perifer, tidak semata-mata berorientasi pada alat-alat dianostik canggih. 13. RANGKUMAN Osteoma adalah tumor jinak yang mengandung sel-sel jaringan tulang yang berdiferensiasi, dapat berupa jaringan yang sklerotik, tulang padat, dan dapat terjadi di tulang tengkorak dan tulang wajah. Osteoma adalah tumor jinak dan tumbuh lambat yang tersusun atas lamelar tulang yang matur. Ada 2 karakteristik histologi osteoma, yaitu : 1. Osteoma tipe padat Tumor jenis ini adalah jenis yang paling sering ditemukan. Tumor ini tersusun dari lamelar tulang yang matur yang rapat dan padat dengan ruang sumsum tulang yang minimal 2. Osteoma tipe spongiosa Jenis ini tersusun dari struktur trabekular dengan batas perifernya adalah korteks tulang Osteoma adalah jenis tumor tulang primer yang terdapat di tulang tengkorak dan jarang menimbulkan gejala karena jarang invasi ke intrakranial. Osteoma adalah tumor tulang tengkorak primer jinak yang paling banyak di kalvaria. Lesi ini paling banyak terjadi pada wanita. Gambaran histologis osteoma terdiri dari matriks osteoid yang berada di dalam sel osteoblas yang dikelilingi oleh tulang yang reaktif. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan penunjang berupa imajing dan radio nuklir. Tatalaksana kasus ini dapat berupa terapi bedah atau hanya follow-up jika tidak ada gejala. 14.EVALUASI Organisasi Evaluasi 1. Evaluasi dilaksanakan di IPDS Bedah Saraf 2. Evaluasi dilakukan minimal oleh Pembimbing di IPDS Bedah Saraf 3. Evaluasi untuk peserta PPDS Bedah Saraf dilakukan sbb a. Untuk penguasaan ilmu dasar (pengayaan) dilakukan pada ahir setiap semester 7
b. Kemampuan menegakkan diagnosis c. Untuk penguasaan kasus dan teknis operasi dilakukan pada setiap akan dilakukan tindakan / operasi. 4. Untuk dokter spesialis bedah lain yang akan mengambil modul-modul bedah saraf tertentu untuk kepentingan penigkatan kompetensi dalam program CPD, waktu disesuaikan pada kodisi yang ada dari modul ini, dengan evaluasi dan tahap penguasaan materi yang dievaluasi sama ketentuan yang berlaku. Tahap Evaluasi 5. Evaluasi tahap pengayaan dilakukan setelah peseta didik menyelesaikan aspek kognitif di tahap pengayaan. 6. Evaluasi tahap magang dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi Sebagai Asisten I sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul 7. Evaluasi tahap mandiri dilakukan setelah peserta didik melakukan sejumlah tindakan operasi mandiri sebagai prasyarat evaluasi sesuai dengan jenis penyakit pada submodul Metode dan Materi Evaluasi 1. Ujian Tulis dan Lisan 2. Kemampuan menegakkan diagnosis di poliklinik maupun ruang rawat 3. Penilaian kemampuan melakukan tindakan 4. Penilaian kemampuan penanganan penderita secara menyeluruh Hasil Penilaian IPDS 1. Penyelesaian modul harus dapat dicapai dalam kurun waktu yang telah ditetapkan 2. Penilaian disesuaikan dengan kompetensi akhir yang harus dicapai pada setiap sum modul ( pengayaan, magang, mandiri ) 3. Kegagalan dalam 1 aspek harus diulang dalam masa selama stase di Bagian/Departemen Badah Saraf. 15. INSTRUMEN PENILAIAN 1 Kemampuan informed consent Instruksi & Bimbingan 2 Penilaian Ilmiah a. Teori & Penyakit Diskusi dan Ujian b. Instrument & Penyakit Diskusi dan Ujian 3 Penilaian Kecakapan Poliklinik, Bedside teaching & Kamar Operasi 4 Penilaian Rehabilitasi Instruksi & Bimbingan 16. PENUNTUN BELAJAR 1. Kisi-kisi materi dan buku referensi 2. Kisi-kisi materi Neoplasma susunan saraf : a. Insidens, patogenesis, dan sitogenesis osteoma susunan saraf b. Neuroanatomi, dan neurofisiologi susunan saraf dan pembungkusnya. c. Dasar-dasar pemeriksaan klinis maupun pemeriksaan tambahan (neuroradiologi)dan patologi anatomi dalam menegakkan osteoma susunan saraf pusat 8
d. Pengobatan berbagai jenis osteoma susunan saraf e. Perubahan neurofisiologikarena osteoma susunan saraf f. Lokasi osteoma susunan saraf g. Pemeriksaan klinis neurologik untuk menegakkan diagnosis osteoma susunan saraf h. Diagnosis banding osteoma susunan saraf i. Pemeriksaan tambahan (neuroradiologi) dalam menegakkan osteoma susunan saraf j. Pengobatan medikamentosa osteoma susunan saraf k. Tindakan operasi osteoma susunan saraf l. Penyulit tindakan bedah pada kasus osteoma susunan saraf m. Tindak lanjut yang diperlukan n. Informed consent 17. DAFTAR TIL RINCIAN DAFTAR TIL Menentukan indikasi bedah saraf 1 Uraian atau keluhan tentang gejala utama 2 Cara datang (sendiri/rujukan) Kelengkapan riwayat penyakit 1 2 Alasan pertama kali (bila pernah berobat) dan sekarang membawa ke dokter Edit Pengobatan dan tindakan yang pernah diberikan(tempat, waktu, oleh, siapa), serta hasilnya Deskripsi keadaan kulit 1 Bekas luka operasi (bila pernah operasi) dan lokalisasi 2 Daerah yang akan dioperasi Deskripsi kelainan saraf yang dijumpai Pemeriksaan penunjang 1 X-Ray, CT scan, MRI 2 Laboratorium darah Hasil konsultasi persiapan operasi Catatan status gizi Obat-obatan yang masih diberikan Inform consent 1 Kelainan yang dijumpai 2 Apa yang dilakukan, lama perawatan, biaya yang dibutuhkan 3 Peraturan rumah sakit untuk pasien maupun keluarga / penunggu 4 Prognose penyakit dan apa yang perlu dilakukan setelah pulang Surat pengantar rawat inap ADA TA TL L 9
1 Lampiran daftar tilik 2 Instruksi untuk perawat 3 Nama konsulen dan asisten Admission 1 Kelengkapan administrasi 2 Kelengkapan dokumen sesuai daftar tilik poliklinik * Status poliklinik * Hasil pemeriksaan neuroradiologi * Hasil pemeriksaan laboratorium * Hasil konsultasi persiapan operasi Buat status rekam medis Cek ulang hasil pemeriksaan di poliklinik 1 Riwayat penyakit 2 Deskripsi keadaan kulit 3 Hasil pemeriksaan klinis neurologis 4 Status gizi Buat rencana perawatan 1 Instruksi perawatan dan pengobatan Persiapan Operasi 1 Assesment rencana tindakan, operator dan asisten 2 Persiapan alat 3 Konsul toleransi operasi 4 Buat daftar operasi Pra bedah 1 Konsul anestesi 2 Asisten lapor pada operator 3 Persiapan menjelang operasi * Pasang infuse * Cukur gundul * Cuci daerah yang akan dioperasi dengan sabun * Puasa * Klisma menjelang ke kamar operasi * Cek kelengkapan status * Cek dokumen pendukung * Sediakan alat Kamar operasi 1 Dokumen yang disertakan bersama pasien 10
2 Keadaan pasien * Terpasang infuse * Cukur gundul 3 Persiapan pasien 4 Dilakukan narkose umum 5 Dipasang kateter 6 Posisi pasien diatur sesuai standard 7 Persiapan daerah operasi * Cuci ulang dengan sabun * Dibuat marking * Dilakukan tindakan a dan antiseptik * Dilakukan penyuntikan anestesi lokal 8 Dipasang plat diatermi 9 Persiapan alat Tindakan operasi 1 Memasang Head Frame Dan Navigasi Intra Operatif 2 Insisi kulit kepala 3 Kraniotomi dan drilling tulang 4 Gantung duramater 5 Membuka Duramater 6 Identifikasi tumor 7 Removal Tumor secara makroskopis dan mikroskopis 8 Ambil spesimen tumor untuk pemeriksaan histopatologis 9 Hemostasis 10 Tutup Dura, duraraph, duraplasy 11 Pasang drain bila perlu 12 Fiksasi tulang 13 Jahit otot, Fasia dan kulit 14 Dressing luka 12 Jumlah perdarahan tercatat 13 Jumlah urin tercatat 14 Jumlah kassa yang dipakai tercatat 15 Jumlah dan jenis instrumen sesuai prosedur Pasca Bedah 1 Dokumentasi 11
* Status dan hasil pemeriksaan penunjang dari OK diterima lengkap * Laporan operasi * Laporan Anestesi 2 Catatan perawatan Pemulangan * Pemantauan luka operasi * Pemantauan efek samping * Pemantauan KU rutin * Catatan pengobatan 1 Catatan keadaan pasien 2 Inform concernt pada yang merawat 3 Jadwal kontrol dan konsultasi 4 Kelengkapan status dan diagnosis 5 Catatan administrasi & keuangan 12
18. MATERI BAKU Definisi Osteoma adalah tumor tulang jinak. Tumor ini banyak ditemukan pada tulang tengkorak dan wajah. Insiden Osteoma umumnya terjadi pada usia dekade ke enam. Tumorini lebih sering mengenai wanita daripada pria dengan perbandingan 3:1. Etiologi dari tumor ini tidak jelas, namun mungkin dapat berasal dari osteoblastoma atau kelainan perkembangan lain. Osteoma yang multiple mungkin terkait dengan sindrom Gardner. Osteoma dapat tumbuh di klavikula, pelvis dan tulang panjang, namun lebih sering terdapat pada tulang wajah dan tengkorak. Gejala klinis Osteoma adalah lesi tumor jinak dan tumbuh lambat. Lesi ini biasanya tidak menimbukan gejala. Gejala klinis umumnya disebbakan karena lokasinya yang mengganggu pernafasan, penglihatan atau pendengaran. Diagnosis Diagnosis osteoma berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain foto polos kepala. Foto polos dapat menunjukan lesi sklerotik berbatas tegas tanpa destruksi tulang dan lesi satelit. Selain foto polos kepala, juga dapat dilakukan pemeriksaan bone scannyang dapat menunjukan peningkatan serapan. Pemeriksaan histopatologi dapat dilakukan untuk menentukan tipe histologi. Tatalaksana Pengobatan osteoma hanya diperlukan jika osteoma tersebut sudah menimbulkan gejala. Tatalaksana yang dapat dilakukan berupa tindakan operatif. 19. ALGORITME 13
20. Kepustakaan a.osborn AG, Blasser SI, Salzman KL, Katzman GL, Provenzale J, Castillo M, et all. Osborn Diagnostic Imaging. Canada : Amirsys/Elsevier. 1 st ed. 2004 b.wilkins RH, Rengachary SS. Neurosurgery. USA : Mc Graw-Hill. 2 nd Ed. 1996 c. Rengachary SS, Wilkins RH. Principles of Neurosurgery. London : Mosby. 1994 d.winn HR. Youman s Neurological Surgery. 5 th ed. USA : Saunders. 1994 21. PRESENTASI Materi presentasi menggunakan materi dalam bentuk Power Point sesuai dengan materi modul osteoma. 22. MODEL Model pembelajaran dapat menggunakan diseksi kadaver. 14