BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan judul penelitian ini, Motivasi Individu Bergabung dalam

dokumen-dokumen yang mirip
MOTIVASI INDIVIDU BERGABUNG DALAM KOMUNITAS PENGGEMAR TIM SEPAKBOLA (STUDI KASUS: LIMA ANGGOTA FANSCLUB UNITED INDONESIA CHAPTER BALI)

BAB II TEORI TINDAKAN SOSIAL MAX WEBER. Pada bab dua ini akan membahas mengenai teori sosiologi yang relevan

BAB II TEORI TINDAKAN SOSIAL-MAX WEBER. Setiap manusia mempunyai naluri untuk berinteraksi dengan

BAB II KAJIAN TEORITIK

BAB II TINDAKAN SOSIAL DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL. paradigma yang ada yakni Fakta Sosial (Emile Durkheim) dan Perilaku

FANATISME KELOMPOK SUPORTER SEPAK BOLA BALI UNITED

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II KERANGKA TEORITIK. Dalam penelitian ini peneliti mengunakan paradigma definisi sosial sebagai

KOHESIVITAS TIM PENDUKUNG SEPAKBOLA PERSIJA

BAB I PENDAHULUAN. bagian dalam industri tersebut. Olahraga menjadi bagian penting dalam kehidupan

BAB II. Tindakan Sosial Max Weber dan Relevansinya dalam Memahami Perilaku. Peziarah di Makam Syekh Maulana Ishak

BAB 1 PENDAHULUAN. komunikasi sosial, peran ideal komunikasi sebagai media penyiaran publik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. faktor teknis dan non-teknis yang tidak bisa dipisahkan. Salah satu faktor yang

BAB I PENDAHULUAN. Televisi adalah media yang bersifat audio-visual, audio berarti

BAB II KAJIAN PUSTAKA Nilai Sosial tentang Kebersihan dan Sampah. Dalam sosiologi nilai adalah prinsip-prinsip, patokan-patokan, anggapan,

BAB I PENDAHULUAN. disebut sebagai pemain ke-12, sehingga suatu pertandingan tidak berarti tanpa

BAB II TINDAKAN SOSIAL MARX WEBER. ketuhanan). Ia dididik dengan tradisi idealisme Jerman dan perduli

PERTEMUAN KE 8 POKOK BAHASAN

BAB I. Pendahuluan. didapatkan baik melalui siaran televisi, internet maupun radio dimana melalui

BAB I PENDAHULUAN. konsumen dalam menentukan produk yang akan dibelinya. Konsumen akan memilih

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian deskriptif kualitatif. Isaac dan Michael

BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN. suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama, ritual

BAB V PENUTUP. Penggunaan teknologi sederhana telah diterapkan di desa-desa salah satunya Desa

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Aktivitas-aktivitas yang dilakukan penggemar boyband Korea

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN. dijalankan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Seorang individu


BAB II. a. Rasionalitas alat-tujuan

BAB I PENDAHULUAN. seorang volunteer di organisasi non-profit. Komitmen adalah penanda sikap seorang

BAB I PENDAHULUAN. Seperti yang dilansir oleh Nielsen Irawati Pratignyo, beliau mengatakan (kompas. com, 2010) :

BAB IV PENUTUP. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat diambil kesimpulan

BAB II GAMBARAN UMUM RESPONDEN HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON FTV BERTEMAKAN CINTA DAN INTENSITAS

BAB I PENDAHULUAN Konteks Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. yang padat dengan kemacetan lalu lintas sampai dengan jalanan kecil

BAB I PENDAHULUAN. menghasilkan suatu sistem nilai yang berlaku dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tanpa memandang kasta, usia, bahkan jenis kelamin sekalipun. Kemajuan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Di era globalisasi saat ini, berbagai industri berlomba untuk dapat

BAB I PENDAHULUAN. media yang mendukung komunikasi suatu kelompok pada abad ini menandai

BAB II TINDAKAN SOSIAL - MAX WEBER. Peneliti menggunakan pemikiran dari Max Weber tentang Teori tindakan.

BAB I PENDAHULUAN. manusia dalam dirinya memiliki esensi kebudayaan, saling berhubungan,

Gagasan dalam Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 2.2 Peran serta Masyarakat dalam mengelola Lingkungan hidup

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tindakan merupakan suatu perbuatan, perilaku, atau aksi yang

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas, dilihat dari konsumen yang menuntut produk dengan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV BERKEMBANGNYA TEMPAT WISATA PANTAI DALEGAN DAN PERILAKU SOSIAL REMAJA DI DESA DALEGAN KECAMATAN PANCENG KABUPATEN GRESIK

MOTIVASI INDIVIDU BERGABUNG DALAM KOMUNITAS PENGGEMAR TIM SEPAKBOLA (STUDI KASUS: LIMA ANGGOTA FANSCLUB UNITED INDONESIA CHAPTER BALI)

BAB II INTERAKSIONALISME SIMBOLIK-GEORGE HERBERT MEAD. interaksi. Sebagaimana interaksi social itu sendiri dipandang sebagai tindakan

BAB I PENDAHULUAN. Sepak bola adalah olahraga yang cukup populer dan digemari di. seluruh dunia. Peningkatan teknologi dan perkembangan zaman menambah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. besar masyarakat dunia. Penggemar olahraga yang satu ini sama sekali tidak

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENGEMBANGAN AFEKTIF ANAK USIA DINI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Sepakbola telah menjadi cabang olahraga yang paling multikultural. Syarif

KUESIONER PENELITIAN

BAB II TINDAKAN SOSIAL - MAX WEBER. yang menonjol, dan setiap gagasan yang mengancamnya akan disingkirkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. budaya dalam negeri. Dunia musik telah mengalami perkembangan, genre musik

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sejak era informasi seperti yang berkembang pada masyarakat pada saat ini,

BAB I PENDAHULUAN. Awal kehidupan setiap manusia tidaklah sendiri, manusia selalu. dengan cara berkomunikasi baik itu secara verbal maupun nonverbal.

PENTINGNYA MENCERMATI SELF-INSTRUCTION DAN SELF- ESTEEM DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ASING: STUDI KASUS PENGAJARAN MENYIMAK

ALASAN PEMILIHAN JURUSAN PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (STUDI KASUS DI SMK NEGERI 3 SUKOHARJO TAHUN 2012)

BAB I PENDAHULUAN. Primer Inggris yang syarat dengan permainan Kick and Rush. Ada perasaan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Persija (singkatan dari Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta) adalah sebuah

BAB 4 KESIMPULAN. Nonton bareng..., Rima Febriani, FIB UI, Universitas Indonesia

, 2015 FANATISME PENGGEMAR KOREAN IDOL GROUP PELAKU AGRESI VERBAL DI MEDIA SOSIAL

FAKTOR PENDORONG ORANGTUA MENGIZINKAN ANAKNYA MELAKUKAN PERKAWINAN PADA USIA REMAJA DI DESA AGUNG JAYA KECAMATAN AIR MANJUTO KABUPATEN MUKOMUKO

TINJAUAN PUSTAKA. mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu

BAB I PENDAHULUAN. beragam situasi dan kondisi. Dengan pengajaran IPS, diharapkan siswa dapat memiliki sikap

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Masalah

Kuliah ke-7 Amika Wardana, PhD. Teori Sosiologi Kontemporer

I. PENDAHULUAN. Secara umum, kebudayaan memiliki tiga wujud, yakni kebudayaan secara ideal

BAB I PENDAHULUAN. besar masyarakat dunia. Penggemar olahraga yang satu ini sama sekali tidak

BAB I PENDAHULUAN. yang diakses 19 Juni 2014 pukul 23.30

BAB II LANDASAN TEORI

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. Dunia Broadcasting (penyiaran) adalah dunia yang selalu menarik

I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam Pembangunan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Medan adalah kota yang memiliki pemerintahan sendiri di bawah

BAB II TEORI TINDAKAN MAX WEBER. Ayahnya adalah seorang birokrat yang menduduki posisi yang relatif penting

BAB IV PENUTUP. pengaruh interaksi dalam keberhasilan manajemen penyiaran program acara. Angkringan Gayam, dan saran untuk acara tersebut.

BAB 1V ANALISIS DATA. A. Pengaruh Regresi tentang Individu Bergelar Haji terhadap Interaksi. dikonsultasikan dengan r tabel dengan jumlah responden 96

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terkenal sebagai salah satu negeri terbesar penghasil kain tenun tradisional yang

BAB I PENDAHULUAN. warung kopi modern sekelas Starbucks. Kebiasaan minum kopi dan. pertandingan sepak bola dunia, ruang pertemuan, live music dan lain

BAB 1 PENDAHULUAN. cukup digemari dan diminati serta seringkali dipertandingkan antar kelas maupun

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Sastra secara nyata memang berbeda dengan psikologi. Psikologi

BAB VI PENUTUP. dengan JCI Chapter Yogyakarta dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sejarah rivalitas klub

BAB 1 PENDAHULUAN. Dengan menggunakan pemancar maka teleivisi dapat menerima input gambar bergerak

BAB I PENDAHULUAN. penggemar dan peminat di berbagai belahan bumi. Bahkan sepak bola. bukan hanya sekedar olahraga, akan tetapi juga mampu membawa

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. beragam situasi dan kondisi. Dengan pengajaran IPS, diharapkan siswa dapat memiliki sikap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sosial di lingkungan sekolah. Dalam melaksanakan fungsi interaksi sosial, remaja

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Fokus utama penelitian ini yaitu mengenai strategi kelangsungan industri kripik tempe yang ada di Desa Karangtengah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. bahasa bidang-bidang tertentu. Karakteristik masing-masing komunitas

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka Berdasarkan judul penelitian ini, Motivasi Individu Bergabung dalam Komunitas Penggemar Tim Sepakbola (studi kasus: Lima Anggota Fansclub United Indonesia chapter Bali), teramat penting untuk mempelajari kajian dari beberapa sumber yang dirasa memiliki keterkaitan dengan judul penelitian tersebut, karena hal ini berguna untuk memberi tambahan informasi dan sumber yang jelas bagi si peneliti. Adapun penelitian sebelumnya yang memiliki keterkaitan adalah sebagai berikut: Tesis Paundra Jhalugilang (2012) yang berjudul Makna Identitas Fans Tim Sepakbola (Studi Kasus: Juventus Club Indonesia), membahas bagaimana proses seseorang penggemar tim sepakbola Juventus di Indonesia membentuk identitas yang kemudian mendapat peneguhan lewat identitas sosial di komunitas JCI. Penelitian ini melihat bagaimana identitas yang terbentuk melalui proses eksplorasi keluarga, teman dan media massa. Serta level komitmen dengan memiliki atribut, setia mendukung Juventus meski dalam keadaan terpuruk, hingga mensejajarkan tim Juventus dengan pasangan bahkan keluarga penggemar yang bersangkutan. Penelitian Bayu Wicaksono (2007) yang berjudul Kohesivitas Supporter Tim Sepakbola Persija Jakarta (The Jak), membahas bagaimana kohesivitas (tingkat kekompakan atau keeratan) individu dalam kelompok kecil The Jakmania yang dapat dilihat dari: pertama, aktivitas kelompok dalam komunitas (bermain bola 7

8 bersama, berkumpul setiap hari, bakti sosial dan nonton bola bareng). Kedua, aktivitas kelompok kecil (pulang pergi bersama setelah menonton pertandingan). Ketiga, proses pengambilan keputusan (berdiskusi, solusi, pengambilan keputusan). Keempat, identitas kelompok (warna, tulisan, logo-logo, atribut Persija). Kelima, melalui kohesivitas kelompok di luar dan di dalam lapangan (proses menumbuhkan keterikatan, aktivitas sebelum atau sesudah pertandingan, bentuk dukungan, aktivitas ketika pertandingan, mencari Jak lain, dll). Skripsi Muhammad Iqbal Maulidia (2013) yang berjududul Makna Loyalitas Anggota Viking Persib Fansclub Basis Bandung, membahas mengenai makna loyalitas anggota Viking Persib Fansclub basis Bandung terutama motif, kesadaran, dan makna loyalitas. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana konstruksi makna loyalitas anggota Viking Persib Fansclub basis Bandung pada tim Persib. Metode yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif fengan menggunakan pendekatan fenomenologis, sedangan teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan dan wawancara mendalam bersama tujuh informan yang merupakan anggota Viking Persib Fansclub basis Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif anggota Viking Persib Fansclub basis Bandung terdiri dari motif masa lalu dan masa depan. Sementara kesadaran anggota mereka terdiri dari pengalaman, perasaan dan sumber informasi. Kesimpulan penelitian ini adalah pemaknaan loyalitas terbentuk dari motif kesadaran dan pandangan loyalitas dari para anggotanya. Penelitian Makna Identitas Fans Tim Sepakbola (Studi Kasus: Juventus Club Indonesia) oleh Paundra Jhalugilang (2012) dan Kohesivitas Supporter Tim

9 Sepakbola Persija Jakarta (The Jak) oleh Bayu Wicaksono (2007) memiliki keterkaitan dengan penelitian yang akan digali dalam penelitian ini, yaitu dalam hal hubungan antara penggemar (fan) dengan komunitas penggemar sepakbola (fansclub). Penelitian Makna Loyalitas Anggota Viking Persib Fansclub Basis Bandung oleh Muhammad Iqbal Maulidia (2013) memiliki keterkaitan dengan penelitian yang akan digali dalam penelitian ini, yaitu dalam hal pemahaman motif dari tindakan dan ikatan batin antara penggemar sebuah tim sepakbola dengan komunitas dan tim idolanya. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian-penelitian di atas adalah penelitian ini akan lebih mengeksplorasi tentang motivasi atau motif dari tindakan sosial (social action) penggemar tim sepakbola Manchester United tanah air dalam komunitas UI Bali menggunakan Social Action Theory dari Max Weber. 2.2 Kerangka Konseptual 2.2.1 Motivasi Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008: 486) kata motivasi merupakan dorongan (dengan sokongan moril) dan dapat juga didefinisikan sebagai alasan atau tujuan tindakan. Sedangkan menurut Oxford Dictionary of British and World English, motivasi (motivation) adalah a reason or reasons for acting or behaving in a particular way. Dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan alasan untuk melakukan tindakan tertentu. Max Weber dengan inti tesisnya yaitu tindakan yang penuh arti dari individu juga membahas tentang konsep motivasi, dimana Weber menggunakan kata rasionalitas sebagai pengganti kata motivasi. Konsep rasionalitas ini digunakan

10 Weber untuk mengklasifikasikan bentuk-bentuk dari tindakan sosial individu. Tindakan sosial yang dimaksudkan Weber bukan hanya berupa tindakan yang secara nyata ditujukan kepada orang lain tapi juga dapat berupa tindakan yang bersifat membatin atau bersifat subyektif yang bisa terjadi karena pengaruf positif dari situasi tertentu. Atau merupakan tindakan perulangan dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi serupa, bahkan bisa jadi berupa persetujuan secara pasif dalam situasi tertentu (Ritzer, 2011: 39). 2.2.2 Komunitas Menurut Koentjaraningrat (Jhalugilang, 2012: 31), komunitas adalah suatu kesatuan hidup manusia dalam suatu wilayah yang nyata dan berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat, serta terikat oleh suatu rasa identitas komunitas. Jadi dengan kata lain, dapat didefinisikan bahwa komunitas adalah suatu kumpulan individu yang saling berinteraksi satu sama lain yang disatukan karena adanya suatu ketertarikan dan kesamaan nilai-nilai dari hal tertentu. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa olahraga sepakbola saat ini menjadi olahraga yang sangat digandrungi oleh masyarakat Indonesia, sehingga tidak heran apabila komunitas penggemar tim-tim sepakbola juga menjamur mengikuti perkembangan olahraga ini. Tidak hanya menjadi penggemar tim sepakbola dalam negeri, banyak dari masyarakat Indonesia yang juga mencintai tim-tim luar negeri khususnya tim sepakbola Eropa. Fenomena ini dikarenakan banyak dari stasiun televisi indonesia yang turut serta dalam menyiarkan beberapa pertandingan liga-liga eropa. Terdapat tiga basis komunitas penggemar Manchester United di Bali yaitu, United Indonesia (UI) Bali, Indomanutd Bali dan United Army

11 Bali. Sebagai sebuah komunitas, UI Bali tentu tidak akan berjalan tanpa adanya para anggota (members) dan sudah menjadi kewajiban untuk sebuah komunitas untuk menjaring anggota sebanyak-banyaknya. 2.2.3 Penggemar Sepakbola Menurut Anderson kata penggemar (fan) berasal dari kata fanatic sehingga dapat didefinisikan sebagai penggemar fanatik olahraga atau sebagai individu yang memiliki rasa antusiasme berlebihan pada olahraga, sedangkan menurut Gibbons penggemar sepakbola adalah seseorang yang tertarik pada sepakbola dimana seseorang tersebut terdorong untuk memilih berinteraksi dengan orang lain untuk membahas mengenai isu-isu yang berhubungan dengan sepakbola. Kemudian menurut Jones, ada dua tipe penonton dalam olahraga sepakbola, pertama yaitu spectators yang berarti tipe penonton yang hanya menonton dan mengamati sepakbola kemudian setelah itu melupakannya. Kedua, yaitu fans atau penggemar yang berarti penonton sepakbola yang memiliki intensitas yang lebih tinggi dan mencurahkan sebagian waktu yang dimilikinya untuk tim sepakbola yang digemarinya (dalam Jhalugilang, 2012: 28). 2.3 Teori Tindakan Sosial Dalam bukunya Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda (2011: 39), George Ritzer menyebutkan bahwa Weber sebagai penggagas teori tindakan sosial mengklasifikasikan sebanyak lima ciri pokok tindakan sosial antar hubungan sosial yang menjadi sasaran penelitian sosiologi yaitu:

12 A. Tindakan Manusia yang menurut si aktor mengandung makna yang subyektif. Contohnya, seorang penggemar Manchester United bergabung dalam komunitas penggemar Manchester United. B. Tindakan nyata dan yang bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat subyektif. Contohnya, seorang penggemar Manchester United memiliki perasaan tidak suka atau benci kepada penggemar klub selain Manchester United tetapi perasaan benci tersebut tidak diungkapkan secara tindakan nyata atau hanya membatin atau secara emosional saja. C. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam. Contohnya, seorang anak dari sebuah keluarga yang menjadi penggemar Manchester United secara turun temurun atau karena pengaruh dari beberapa generasi keluarga sebelumnya. D. Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu. Contohnya, seorang penggemar Manchester United bergabung dalam komunitas penggemar untuk dapat menarik perhatian penggemar lainnya. E. Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah pada orang lain itu. Contohnya, seorang penggemar Manchester United yang bergabung dalam komunitas penggemar karena tertarik melihat teman sepermainannya bergabung dalam komunitas penggemar tersebut. Selain kelima ciri-ciri di atas, tindakan sosial yang menjadi sasaran penelitian sosiologi juga masih memiliki ciri-ciri lain. Tindakan sosial menurut Weber juga dapat dibedakan menggunakan sudut waktu, yaitu tindakan yang diarahkan pada

13 waktu sekarang, waktu lalu atau waktu yang akan datang yaitu pelaku melakukan tindakan dan ditujukan pada orang lain secara langsung pada saat yang sama atau juga melakukan tindakan yang direncanakan untuk orang lain pada waktu yang akan datang. Dilihat dari segi sasarannya, maka si target yang menjadi sasaran tindakan sosial si aktor dapat berupa individu ataupun sekumpulan orang. Dengan membatasi suatu perbuatan sebagai suatu tindakan sosial, maka perbuatan lainnya tidak termasuk ke dalam objek penelitian sosiologi. Contohnya, dua pengendara sepeda motor yang bertabrakan karena tidak hati-hati bukan merupakan tindakan sosial, atau orang yang pada saat yang bersamaan membuka payung ketika hujan juga bukan merupakan tindakan sosial karena tindakannya diarahkan kepada hujan bukan orang lain, serta massa atau kerumunan yang histeris juga dikeluaran dari obyek kajian sosiologi karena reaksi yang timbul itu tanpa sesuatu arti yang diarahkan kepada orang lain (George Ritzer, 2011: 39). Rasionalisasi atau rasionalitas Weber dalam Wrong (2003: 39) adalah sebuah proses yang melaluinya aturan-aturan dan prosedur yang eksplisit, abstrak, dan bisa dikalkulasi secara intelek makin menggantikan sentimen, tradisi, dan petunjuk praktis dalam semua bidang aktivitas. Di samping pengkajian Weber atas rasionalitas dan hubungannya dengan tindakan sosial lebih jauh ia menspesifikkan beragam bentuk dari rasionalitas lainnya. Menurutnya terdapat empat bentuk rasionalitas (Wirawan, 2013: 101) yang antara lain:

14 A. Rasionalitas Nilai (Zwerkrationalitat ) Tindakan sosial murni yang melihat alat-alat hanya sekedar sebagai pertimbangan dan perhitungan yang sadar, karena tujuan yang terkait dengan nilainilai telah ditentukan. B. Rasionalitas Instrumental (Wetrationalitat) Tindakan rasional yang didasarkan pada pertimbangan tujuan dan alat yang digunakan untuk mencapai tujuan. Sebuah tindakan yang mencerminkan efektivitas dan efisiensi. C. Rasionalitas Afektif (Affectual Action) Tindakan rasional yang didasarkan pada aspek emosi yang dimiliki oleh aktor yang bersangkutan. Tindakan dilakukan tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar. D. Rasionalitas Tradisional (Traditional Action) Tindakan rasional berdasarkan pada petunjuk dan kebiasaan masa lalu yang diberikan oleh nenek moyang secara turun temurun. Tindakan tradisional dilakukan berdasarkan kebiasaan tanpa adanya perencanaan atau refleksi yang sadar. Berbicara mengenai empat tindakan rasional yang disebutkan di atas, terkait dengan pemahaman nominalisme dari Weber, nominalisme adalah pemahaman yang menempatkan individu sebagai hal yang konkret yang juga sekaligus menjadi objek kajian sosiologi dari Weber. Keyakinan kuat ini yang kemudian menyebabkan Weber tidak mengakui keberadaan masyarakat. Bagi Weber, motivasi individu adalah yang utama dan menegaskan bahwa masyarakat terbentuk melalui kumpulan individu dengan kepentingannya masing-masing. Dengan

15 demikian dapat dipahami bahwa empat model rasionalitas merupakan titik tolak pemahaman Weber atas tindakan sosial dan dimaksudkan dalam ranah individu, bukan masyarakat. Kedua poin di atas mengisyaratkan premis bahwa segala tindakan individu adalah rasional (Surya, 2011: 12). Dalam Ritzer (2011: 41), kedua tipe tindakan yang terakhir (tindakan tradisional dan afektif) sering hanya merupakan tanggapan otomatis terhadap rangsangan yang datang dari luar. Oleh karena itu kedua jenis tindakan yang terakhir tidak termasuk ke dalam jenis tindakan penuh arti yang menjadi sasaran penelitian sosiologi. Namun pada waktu tertentu kedua tipe tindakan terakhir tersebut dapat berubah menjadi tindakan yang penuh arti sehingga dapat dipertanggungjawabkan untuk selanjutnya dipahami. Jadi dapat disimpulkan bahwa tindakan rasionalitas instrumental dan tujuan merupakan tindakan yang menjadi tipe ideal dari tindakan individu menurut Max Weber. Untuk memahami motivasi bergabungnya penggemar tim Manchester United tanah air dalam komunitas UI Bali ini, maka yang harus dilakukan adalah memetakan motivasi penggemar ke dalam empat model rasionalitas Weber. Pertama, peneliti beranggapan bahwa motivasi bergabungnya para penggemar tim Manchester United tanah air ini dilatarbelakangi oleh rasionalitas instrumental yaitu untuk mencapai tujuan seperti mendapatkan teman atau bahkan untuk mendapatkan pasangan. Kedua, bisa saja termasuk rasionalitas tujuan yang berarti motif si aktor bergabung hanya untuk pertimbangan atau optional tanpa terlalu mempengaruhi tujuan awal. Ketiga, rasionalitas afektif menjadi pendorong karena dipengaruhi aspek emosional dan psikologis dimana muncul kekhawatiran dalam diri bahwa

16 merasa kurang up to date jika tidak bergabung karena teman-teman lain yang telah lebih dulu bergabung ke dalam sebuah komunitas penggemar atau fansclub dalam hal ini UI Bali. Di sisi lain, kiranya sulit untuk menemukan aspek tindakan rasional tradisional yang terlibat dalam motivasi bergabungnya para penggemar tim Manchester United tanah air dalam UI Bali ini karena terkait dengan substansi rasionalitas tradisional yang merupakan tindakan rasional yang dilakukan secara turun temurun. 2.4 Kerangka Pemikiran Adapun peta kerangka pemikiran dalam penelitian ini dan penjelasan lebih lanjut mengenai teori Tindakan Sosial (social action theory) terkait dengan penelitian akan dibahas secara lebih rinci dalam bagan dibawah ini: Bagan 2.1 Kerangka Pemikiran Tindakan Rasionalitas Instrumental Motivasi Tindakan Teori Tindakan Sosial 1 2 (Social Action Theory) Tindakan Rasionalitas Tujuan Tindakan Rasionalitas Afektif Individu Penggemar sepakbola Tindakan Rasionalitas Tradisional 3 Komunitas Fansclub Pada penelitian ini motivasi tindakan dari para anggota akan dikaji peneliti dengan menggunakan teori tindakan sosial (social action theory) dari Max Weber.

17 Selanjutnya, motivasi tindakan dari para anggota tadi diklasifikasikan ke dalam beberapa kriteria menurut Weber, kriteria tersebut antara lain: tindakan rasionalitas instrumental, rasionalitas tujuan, rasionalitas afektif, dan rasionalitas tradisional. Sehingga peneliti akan mengetahui motivasi tindakan individu para anggota bergabung ke dalam sebuah komunitas fansclub sesuai dengan Teori Tindakan Sosial (social action theory) Max Weber.