BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Selama satu hingga dua dasawarsa belakang ini, terdapat suatu perkembangan yang signifikan dalam penggunaan kode dua dimensi. Misalnya Pdf147, Datamatrix, Maxicode, dan QR Code. QR Code adalah simbol matriks yang terdiri dari sebuah untaian kotak persegi yang disusun dalam sebuah pola persegi yang lebih besar. Kotak persegi ini kemudian disebut sebagai modul. Luasnya pola persegi ini akan menentukan versi dari QR Code. QR Code diciptakan pada tahun 1994 oleh Denso, salah satu grup perusahaan Toyota. Mulanya QR Code dibuat untuk menandai hasil produksi perusahaan otomotif. Namun sekarang telah disetujui sebagai sebuah standar internasional (ISO/IEC18004) pada bulan Juni 2000. Pada saat ini, penggunaan QR Code telah meluas dalam banyak bidang dan telah mengalami peningkatan yang signifikan. Contoh penggunaan QR Code adalah : i. Badan transportasi udara internasional (IATA) menggunakan kode dua dimensi untuk tanda masuk penumpang pesawat mulai tahun 2010. ii. Penggunaan QR Code untuk identifikasi pasien di rumah sakit terkemuka di Singapura dan seluruh rumah sakit di Hongkong. iii. Penggunaan kode 2 dimensi berukuran mikro untuk sektor pembuatan chip. iv. Telepon seluler yang menggunakan QR Code di Jepang dan Korea v. dan berbagai macam kegunaan lainnya di berbagai negara maju.
2 Penggunaannya secara luas pada telepon seluler yang dapat memindai QR Code untuk mengambil informasi di dalamnya, seperti : alamat perusahaan, website perusahaan dan lain sebagainya juga tak lepas dari sorotan. Sedangkan QR Code pada pengemasan buah dan sayuran sehingga dengan memindai kode tersebut kita dapat mengetahui lokasi penanaman, pupuk dan insektisida yang digunakan. Di jepang QR Code ditempatkan pada peta stasiun bawah tanah dan pusat stasiun bus sehingga penumpang dengan telepon seluler mereka dapat menemukan waktu tiba bus berikutnya. E-Payment menggunakan telepon seluler dan QR Code dicetak pada kertas tagihan. QR Code untuk mengetahui program televisi dengan membacanya di telepon seluler. Ada beberapa kelebihan QR Code yang tidak dimiliki oleh kode dua dimensi sejenis, yaitu : i. Dapat menampung data lebih besar dari kode 2 dimensi lain. ii. Dapat mengkodekan huruf Kanji Jepang iii. Denso telah mengeluarkan hak patennya untuk masyarakat luas. iv. Aplikasi pembaca QR Code telah banyak ditanam di telepon seluler Banyak orang yang sudah pernah melihat QR Code, tetapi hanya sedikit yang mengetahui bagaimana sebuah text dapat diubah menjadi QR Code sehingga akhirnya dapat diubah kembali menjadi sebuah text dengan bantuan sensor CCD dari sebuah kamera telepon seluler. Mencermati hal tersebut maka penulis berniat merancang sebuah aplikasi yang dapat mengubah gabungan teks; angka dan huruf menjadi sebuah QR Code. 1.2 Rumusan Masalah Masalah yang dibahas dalam tugas akhir ini adalah bagaimana menganalisis dan merancang QR Code generator dengan menggunakan bahasa pemprograman php.
3 1.3 Batasan Masalah Batasan masalah dalam Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut: 1. Perancangan QR Code hanya menerima inputan berupa gabungan huruf, gabungan angka ataupun gabungan huruf dan angka (alfanumerik). 2. Penulis tidak melakukan proses dekoding yaitu menerjemahkan sebuah QR Code menjadi sebuah teks alfanumerik. 1.4 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk merancang sebuah aplikasi QR Code Generator dengan menggunakan bahasa pemrograman php dan meneliti pengaruh besar data yang di-encode terhadap versi dari QR Code. 1.5 Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah untuk dijadikan salah satu tools alternatif dari QR Code Generator yang sudah ada. 1.6 Metodologi Penelitian Dalam menyusun skripsi ini, penulis melakukan beberapa metode untuk memperoleh data atau informasi dalam menyelesaikan permasalahan. Adapun metode tersebut adalah : 1. Studi Literatur Penulisan ini dimulai dengan studi kepustakaan yaitu mengumpulkan bahanbahan referensi baik dari buku, artikel, paper, jurnal, makalah, maupun situs internet mengenai QR Code dan beberapa referensi lainnya untuk menunjang pencapaian tujuan tugas akhir.
4 2. Analisis Pada tahap ini akan dilakukan analisis terhadap versi dari QR Code, koreksi error-nya menggunakan beberapa algoritma dan juga pengalokasian modul menjadi sebuah QR Code. 3. Perancangan Pada tahap ini dilakukan perancangan image modul QR Code versi 1 hingga 40 beserta kerangka finding pattern dan timing pattern-nya. 4. Perbandingan Pada tahap ini dilakukan perbandingan antara QR Code yang dibuat dengan pembangkit QR Code generator. Setelah itu QR Code akan dibaca kembali dengan QR Code reader untuk mengetahui apakah data yang QR Code yang dibuat adalah bersesuaian. 5. Penyusunan laporan dan kesimpulan akhir Menyusun laporan hasil analisis dan perancangan ke dalam format penulisan tugas akhir dengan disertai kesimpulan akhir. 1.7 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan dari skripsi ini terdiri dari beberapa bagian utama sebagai berikut: BAB 1. PENDAHULUAN Bab ini akan menjelaskan mengenai latar belakang masalah yang dibahas, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
5 BAB 2. LANDASAN TEORI Bab ini merupakan tinjauan teoritis yang berkaitan dengan QR Code, struktur QR Code, karaketeristik QR Code, spesifikasi QR Code, beserta dengan versi matriks di dalamnya, dan penjelasan mengenai Algoritma BCH, Reed-Solomon correction error. BAB 3. PERANCANGAN SISTEM Dalam bab ini akan dibahas tentang perancangan QR Code dengan algoritma Reed- Solomon Error Correction dan bagaimana pengalokasian bit data atau codeword-nya. BAB 4. IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN SISTEM Dalam bab ini dibahas pengujian terhadap program yang sudah diimplementasikan, lalu dilakukan analisa perbandingan dengan menggunakan Zxing generator ataupun di-decode dengan menggunakan aplikasi QR Code reader pada telepon seluler tertentu. BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN Bab terakhir akan memuat kesimpulan isi dari keseluruhan uraian bab - bab sebelumnya dan saran-saran dari hasil yang diperoleh yang diharapkan dapat bermanfaat dalam pengembangan selanjutnya.