SUMARI SIDIK NIM a087

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan di RSUD Kabupaten Temanggung ini merupakan

PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT Vol. 4 No. 3 Agustus 2015 ISSN

Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Fakultas Farmasi. Oleh: LUSI DIANA ALBERTIN S K

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk

ARTIKEL. Oleh UMATUS SHOLIHAH NIM A090. Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi

INTISARI KESESUAIAN DOSIS CEFADROXIL SIRUP DAN AMOKSISILIN SIRUP PADA RESEP PASIEN ANAK DI DEPO UMUM RAWAT JALAN RSUD RATU ZALECHA MARTAPURA

Antibiotic Utilization Of Pneumonia In Children Of 0-59 Month s Old In Puskesmas Kemiling Bandar Lampung Period Januari-October 2013

EVALUASI KERASIONALAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN LANSIA DENGAN PNEUMONIA DI INSTALASI RAWAT INAP RSUP PROF. DR. R. D

BAB I PENDAHULUAN. yang rasional dimana pasien menerima pengobatan yang sesuai dengan

IJMS - Indonsian Journal on Medical Science Volume 1 No ijmsbm.org

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Sugiarti, et al, Studi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Penyakit ISPA Usia Bawah Lima Tahun...

INTISARI. Lisa Ariani 1 ; Erna Prihandiwati 2 ; Rachmawati 3

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian yang berjudul Evaluasi Ketepatan Penggunaan Antibiotik

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK ISPA NON-PNEUMONIA PADA PASIEN ANAK DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT X DEMAK TAHUN 2013 NASKAH PUBLIKASI

INTISARI. Kata Kunci : Antibiotik, ISPA, Anak. Muchson, dkk., Dosen Prodi DIII Farmasi STIKES Muhammadiyah Klaten 42

KETEPATAN DOSIS PERESEPAN ANTIBIOTIK AMOXICILLIN PADA BALITA PENDERITA ISPA DI PUSKESMAS KELAYAN TIMUR BANJARMASIN

Sikni Retno Karminigtyas, Rizka Nafi atuz Zahro, Ita Setya Wahyu Kusuma. with typhoid fever in inpatient room of Sultan Agung Hospital at Semarang was

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pneumonia, mendapatkan terapi antibiotik, dan dirawat inap). Data yang. memenuhi kriteria inklusi adalah 32 rekam medik.

ABSTRAK. Zurayidah 1 ;Erna Prihandiwati 2 ;Erwin Fakhrani 3

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK ISPA NON-PNEUMONIA PADA PASIEN ANAK DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD SUNAN KALIJAGA DEMAK TAHUN 2013 SKRIPSI

PHARMACY, Vol.13 No. 02 Desember 2016 ISSN

RASIONALITAS KRITERIA TEPAT DOSIS PERESEPAN COTRIMOXAZOLE PADA PENGOBATAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT PADA BALITA DI PUSKESMAS S

F. Originalitas Penelitian. Tabel 1.1 Originalitas Penelitian. Hasil. No Nama dan tahun 1. Cohen et al Variabel penelitian.

Peresepan Antibiotik pada Pasien Anak Rawat Jalan di BLUD RS Ratu Zalecha Martapura: Prevalensi dan Pola Peresepan Obat

DRUG RELATED PROBLEMS (DRP s) OF ANTIBIOTICS USE ON INPATIENTS CHILDREN IN SARI MEDIKA CLINIC AMBARAWA

BAB I PENDAHULUAN. masalah besar yang harus benar-benar diperhatikan oleh setiap orang tua. Upaya

KETEPATAN DOSIS PERESEPAN SIRUP KOTRIMOKSAZOL PADA BALITA PENDERITA DIARE SPESIFIK DI PUSKESMAS ALALAK TENGAH BANJARMASIN

INTISARI TINGKAT PENGETAHUAN ORANG TUA DALAM PENGGUNAAN AMOXICILLIN SIRUP KERING PADA PASIEN BALITA DI PUSKESMAS SUNGAI KAPIH SAMARINDA

BAB III METODE PENELITIAN. secara descriptive dengan metode cross sectional dan pengambilan data secara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun

GAMBARAN PENGOBATAN PADA PENDERITA ISPA (INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT) DI PUSKESMAS TRUCUK 1 KLATEN TAHUN 2010

RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA PENYAKIT ISPA DI PUSKESMAS KUAMANG KUNING I KABUPATEN BUNGO

PHARMACY, Vol 05 No 01 April 2007

BAB I PENDAHULUAN. menjadi dua yaitu, infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran napas bawah.

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA BALITA DENGAN DIARE AKUT DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD Dr. MOEWARDI PERIODE SEPTEMBER-DESEMBER 2015 SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA DIARE AKUT PEDIATRI

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PNEUMONIA PEDIATRIK DI INSTALASI RAWAT INAP RSUP Dr. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN TAHUN 2011 SKRIPSI

EVALUASI KETEPATAN DOSIS ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID ANAK DI INSTALASI RAWAT INAP RSI SULTAN AGUNG SEMARANG BULAN AGUSTUS- DESEMBER TAHUN 2015

INTISARI KETEPATAN DOSIS PERESEPAN ANTIBIOTIK AMOXICILLIN

dalam terapi obat (Indrasanto, 2006). Sasaran terapi pada pneumonia adalah bakteri, dimana bakteri merupakan penyebab infeksi.

PHARMACY, Vol.08 No. 03 Desember 2011 ISSN

6.2. Alur Penelitian Selanjutnya

BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh virus atau bakteri dan berlangsung selama 14 hari.penyakit

BAB III METODE PENELITIAN. A. Rancangan Penelitian. B. Alat Dan Bahan

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI INSTALASI RAWAT INAP RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JULI JUNI

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU DENGAN PENGELOLAAN AWAL INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA ANAK

DRUG USAGE DESCRIPTION FOR OUTPATIENT IN PKU MUHAMMADIYAH UNIT II OF YOGYAKARTA IN 2013 BASED ON WHO PRESCRIBING INDICATOR

ANALISIS RASIONALITAS PENGGUNAAN KORTIKOSTEROID PADA PENYAKIT ASMA PASIEN RAWAT INAP DI RSUD X TAHUN 2012 NASKAH PUBLIKASI

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Community Acquired Pneumonia (CAP) adalah penyakit saluran

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK TERDIAGNOSA INFEKSI SALURAN PERNAPASAN ATAS AKUT

INTISARI. Ari Aulia Rahman 1 ; Yugo Susanto 2 ; Rachmawati 3

KARAKTERISTIK DAN POLA PENGOBATAN PADA PASIEN PEDIATRI PENDERITA ISPA DI PUSKESMAS REMAJA SAMARINDA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

ABSTRAK PERBANDINGAN POLA RESISTENSI KUMAN PADA PENDERITA PNEUMONIA DI RUANGAN ICU DAN NON ICU RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG TAHUN 2012

Truly Dian Anggraini, Ervin Awanda I Akademi Farmasi Nasional Surakarta Abstrak

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan bidang kesehatan menurut Undang-Undang Nomor 36

EVALUASI POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK PENDERITA DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RS SLAMET RIYADI SURAKARTA TAHUN SKRIPSI

DI PUSKESMAS KEDIRI II TAHUN 2013 SAMPAI DENGAN 2015

Oleh : NIM : M SURAKARTAA commit to user

PERBANDINGAN KETEPATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEWASA PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNAPASAN ATAS DI INSTALASI RAWAT JALAN RSUD

HUBUNGAN PEMBERIAN INFORMASI OBAT DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIBIOTIK PADA PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS REMAJA SAMARINDA

PROFIL PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ISPA DI BEBERAPA PUSKESMAS KOTA SAMARINDA

ABSTRAK TINGKAT KEPATUHAN ORANG TUA DALAM PEMBERIAN KOTRIMOKSAZOL SUSPENSI KEPADA BALITA YANG MENGALAMI ISPA DI PUSKESMAS TERMINAL BANJARMASIN

BAB I PENDAHULUAN. Balita. Pneumonia menyebabkan empat juta kematian pada anak balita di dunia,

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. diberikan antibiotik pada saat dirawat di rumah sakit. Dari jumlah rekam medik

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT ANTI TUBERKULOSIS PADA PASIEN ANAK DI INSTALASI RAWAT JALAN BALAI KESEHATAN PARU MASYARAKAT KLATEN TAHUN 2010

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

KESESUAIAN DOSIS PEMBERIAN AMOXICILLIN PADA PASIEN ANAK DI POLI KIA PUSKESMAS PANJATAN I PERIODE OKTOBER-DESEMBER 2014

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah survei deskriptif terhadap semua variabel yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. dan batuk baik kering ataupun berdahak. 2 Infeksi saluran pernapasan akut

INTISARI. Madaniah 1 ;Aditya Maulana PP 2 ; Maria Ulfah 3

BAB I PENDAHULUAN. daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Pencapaian tujuan

RASIONALITAS PENGOBATAN PNEUMONIA PADA BALITA DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD SULTAN SYARIF MOHAMAD ALKADRIE PONTIANAK

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

EVALUASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRP

POLA RESISTENSI BAKTERI TERHADAP ANTIBIOTIK PADA PENDERITA PNEUMONIA DI RSUP Dr. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN PERIODE AGUSTUS 2013 AGUSTUS 2015 SKRIPSI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Prevalensi penyakit infeksi memiliki kecenderungan yang masih cukup

KAJIAN DRUG RELATED PROBLEMs PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PEDIATRIK DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG TESIS

BAB 1 PENDAHULUAN. Di dalam bab ini akan dibahas tentang latar belakang penelitian, masalah

PREDIKSI KEBUTUHAN TEMPAT TIDUR BANGSAL KELAS III BERDASARKAN INDIKATOR BARBER JOHNSONTAHUN DI RSI SULTAN AGUNG SEMARANG

BAB I PENDAHULUAN. (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan menggunakan data

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif. Pada penelitian ini menggunakan data retrospektif dengan. Muhammadiyah Yogyakarta periode Januari-Juni 2015.

PEMAKAIAN ANTIBIOTIK PADA KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE ANAK DI RUMAH SAKIT ROEMANI SEMARANG TAHUN 2010

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEMAM TIFOID DEWASA DI INSTALASI RAWAT INAP RSUD SOEWONDO PATI PERIODE JANUARI-JUNI 2016 ARTIKEL

III. METODE PENELITIAN. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif non analitik

BAB 1 PENDAHULUAN. saluran pernapasan sehingga menimbulkan tanda-tanda infeksi dalam. diklasifikasikan menjadi dua yaitu pneumonia dan non pneumonia.

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Pneumonia adalah penyebab utama kematian anak di. seluruh dunia. Pneumonia menyebabkan 1,1 juta kematian

BAB I PENDAHULUAN. (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Saat ini, ISPA merupakan masalah. rongga telinga tengah dan pleura. Anak-anak merupakan kelompok

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang

Transkripsi:

EVALUASI RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA ANAK PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) BAGIAN ATAS DI INSTALASI RAWAT JALAN RSI SULTAN AGUNG SEMARANG PERIODE AGUSTUS 2015 JUNI 2016 ARTIKEL Oleh SUMARI SIDIK NIM. 050112a087 PROGRAM STUDI FARMASI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO UNGARAN AGUSTUS, 2016

EVALUASI RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA ANAK PENDERITA INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) BAGIAN ATAS DI INSTALASI RAWAT JALAN RSI SULTAN AGUNG SEMARANG PERIODE AGUSTUS 2015 JUNI 2016 ARTIKEL diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi Oleh SUMARI SIDIK NIM. 050112a087 PROGRAM STUDI FARMASI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO UNGARAN AGUSTUS, 2016

Evaluasi Rasionalitas Penggunaaan Antibiotik Pada Anak Penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) Bagian Atas di Instalasi Rawat Jalan RSI Sultan Agung Semarang Periode Agustus 2015-Juni 2016 Sumari Sidik Program Studi Farmasi STIKES Ngudi Waluyo Ungaran, Email : sidik_kinan99@yahoo.co.id ABSTRAK Latar Belakang : Peranan antibiotik pada ISPA bagian atas mempunyai peranan penting dalam penyembuhan. Antibiotik hendaknya digunakan secara rasional karena mempunyai dampak yang besar salah satunya yaitu terjadinya resistensi.tujuan :Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien anak penderita ISPA bagian atas. Metode :Rancangan penelitian adalah deskriptif dan pengambilan data secara retrospektif, dengan sampel sebanyak 50 diambil secara purposive sampling.analisis data yaitu univariat menggunakan program Statistic Package for the Social Science (SPSS). Hasil : Rasionalitas penggunaan antibiotik meliputi tepat jenis antibiotik 36 %, tepat dosis antibiotik 20 %, tepat frekuensi pemberian antibiotik 54 % dan kerasionalan terapi dari ketiga parameter 20 %. Simpulan : Kerasionalan penggunaan antibiotik pada pengobatan ISPA bagian atas di Instalasi Rawat Jalan RSI Sultan Agung Semarang berdasarkan tepat jenis antibiotik, tepat dosis antibiotik dan tepat frekuensi pemberian antibiotik yaitu sebesar 20 %. Saran : Diperlukan membuat pedoman khusus(clinical Pathway) untuk pengobatan ISPA bagian atas pada pasien rawat jalan. Kata Kunci : ISPA,antibiotik, rasionalitas Kepustakaan : 40 (2000-2015)

ABSTRACT Background :The role of antibiotics forupper respiratory infection plays an important role in healing. Antibiotics should be used rationally because they have a huge impact, one of which is the occurrence of resistance. Objectives : This study aim to determine the rationality of antibiotic use in pediatric patients with upper respiratory infection. Method : The study design was descriptive and retrospective data collection, with the samples of 50 people taken by purposive sampling. The data analysis program of univariate usedstatistic Package for the Social Science (SPSS). Results :The rationality of the use of antibiotics included the right kind of antibiotic 36 %, appropriate doses of antibiotics 20 %, the exact frequency of antibiotics 54 % and rationalization of the treatment of the three parameters20 %. Conclusion :The rationality for the use of antibiotics in the treatment of upper respiratory infection in outpatient installation of Sultan Agungislamic hospital Semarangby the right kind of antibiotic, appropriate antibiotic treatment and the proper frequency of administration of antibiotics which is 20 %. Suggestion : It needs specific guidelines (Clinical Pathway) for the treatment of upper respiratory infection in outpatients. Keywords :ARI, antibiotics, rationality Biliographies : 40 (2000-2015)

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Menurut WHO (2003) Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit penyebab kematian anak di seluruh dunia. Salah satu contoh penyakit infeksi yaitu penggunaan antibiotik mempunyai peranan penting dalam proses penyembuhan. Penggunaan antibiotik hendaknya digunakan secara rasional karena mempunyai dampak yang besar salah satunya terjadinya resistensi. Di Indonesia penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak. Banyak pengobatan yang diterima anak tidak sesuai dengan kondisi anak tersebut, sehingga hal ini dapat mengakibatkan penggunaan obat yang tidak rasional. Pengobatan yang ideal untuk anak adalah sesuai dengan umur, kondisi psikologis dan berat badan anak agar efek terapi yang diinginkan dapat tercapai. Di Indonesia sekitar 10 juta kejadian ISPA pada anak terjadi setiap tahunnya. Dari semua kasus yang terjadi di masyarakat, 7-13 % merupakan kasus berat dan memerlukan perawatan di rumah sakit. Kejadian batuk dan pilek pada balita diperkirakan terjadi 2-3 kali per tahun (KemenKes R1, 2012). Resiko ISPA mengakibatkan kematian pada anak dalam jumlah kecil, akan tetapi menyebabkan kecacatan seperti otitis media akut (OMA) dan mastoiditis. Bahkan infeksi saluran nafas bagian atas bila tidak di atasi dengan baik dapat menyebabkan komplikasi fatal yakni pneumonia (Depkes RI, 2005). Berdasarkan Riskesdas 2013 karakteristik penduduk dengan ISPA yang tertinggi pada kelompok umur 1-4 tahun. Sedangkan menurut SIRS 2013 persentase pasien anak balita rawat inap berjenis kelamin laki-laki sebesar 54,18% (5.983 jiwa) dan berjenis kelamin perempuan sebesar 45,82% (5.060 jiwa) tidak jauh berbeda persentase dengan pasien anak balita rawat jalan berjenis kelamin laki-laki sebesar 51,89% (44.702 jiwa) dan berjenis kelamin perempuan sebesar 48,11% (41.448 jiwa) (KemenKes RI, 2015). Kota Semarang merupakan ibukota propinsi Jawa Tengah yang penduduknya sebagian besar adalah pendatang dari kota-kota lain di Jawa Tengah. Dengan demikian kota Semarang memiliki karakteristik penduduk yang dapat mewakili karakteristik penduduk seluruh propinsi Jawa Tengah. Banyaknya polusi udara di kota Semarang menyebabkan banyak penduduk Semarang terutama balita yang menderita ISPA. Hal ini dapat diketahui dengan tingginya angka kunjungan pasien ISPA di tempattempat pelayanan kesehatan di seluruh kota Semarang (Dinkes Semarang, 2008). Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi rasionalitas penggunaan antibiotik pada anak penderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) bagian atas. Evaluasi pada penelitian ini dilakukan dengan cara menilai rasionalitas penggunaan antibiotik berdasarkan tepat pemilihan jenis antibiotik, tepat dosis dan tepat frekuensi pemberian antibiotik.

2. Tujuan Penelitian a. Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan antibiotik pada pasien anak penderita ISPA bagian atas di instalasi rawat jalan RSI Sultan Agung Semarang. b. Tujuan Khusus Mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien anak penderita ISPA bagian atas di instalasi rawat jalan RSI Sultan Agung Semarang yang meliputi meliputi tepat pemilihan jenis antibiotik, tepat dosis dan frekuensi pemberian antibiotik. B. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan desain (rancangan) penelitian deskriptif dan pengambilan data secara retrospektif. Retrospektif merupakan pengumpulan data dimulai dari efek atau akibat yang telah terjadi (Notoatmodjo, 2005). Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien anak yang menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) bagian atas dan tercatat pada rekam medis di Instalasi Rawat Jalan RSI Sultan Agung Semarang periode Agustus 2015-Juni 2016. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien anak yang berusia 2-12 tahun yang menderita ISPA bagian atas di Instalasi Rawat Jalan RSI Sultan Agung Semarang periode Agustus 2015-Juni 2016 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria dalam penelitian ini, antara lain: 1. Kriteria Inklusi a. Pasien anak yang berusia 2-12 tahun yang menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) bagian atas di Instalasi Rawat Jalan RSI Sultan Agung Semarang periode Agustus 2015-Juni 2016. b. Pasien yang mendapatkan terapi antibiotik. c. Pasien ISPA bagian atas yang memiliki data lengkap dan memuat data penting (nama pasien, umur, jenis kelamin, berat badan, diagnosis, gejala, dosis, frekuensi pemberian). 2. Kriteria Eksklusi a. Rekam medik yang tidak terbaca dengan jelas. b. Pasien Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) bagian atas dengan komplikasi. Dalam penelitian ini, cara pengambilan sampel adalah purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiono, 2012). Dalam hal ini peneliti menelusuri rekam medik pasien anak yang berusia 2-12 tahun yang menderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) bagian atas di Instalasi Rawat Jalan RSI Sultan Agung Semarang periode Agustus 2015-Juni 2016, kemudian diambil data rekam medik yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2016 di RSI Sultan Agung Semarang. Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah Lembar Pengumpul Data (LPD).

Analisis data penelitian ini yaitu analisis univariat tentang rasionalitas penggunaaan antibiotik pada anak penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) bagian atas dengan distribusi frekuensi dan persentase dari tiap variabel. C. HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Karakteristik Pasien a. Jenis Kelamin Tabel 4.1 Distribusi Karakteristik Pasien berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%) Laki - laki 29 58 Perempuan 21 42 Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui bahwa frekuensi pasien ISPA bagian atas terbanyak adalah pasien anak laki-laki sebesar 58 %. Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa penderita ISPA bagian atas mempunyai selisih yang tidak terlalu jauh antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan jenis kelamin bukan merupakan faktor yang dapat menyebabkan penyakit tersebut. b. Umur Tabel 4.2 Distribusi Karakteristik Pasien berdasarkan umur Umur Frekuensi Persentase (%) 2 6 tahun 38 76 6 12 tahun 12 24 Berdasarkan tabel 4.2, dapat diketahui bahwa frekuensi pasien ISPA bagian atas terbanyak adalah pada kelompok umur 2-6 tahun sebesar 76 %. Umur tersebut merupakan kelompok yang rentan terkena penyakit infeksi, terutama ISPA bagian atas. Hal ini dikarenakan daya tahan tubuhnya lebih rendah (WHO, 2007). c. Diagnosa Tabel 4.3 Distribusi Karakteristik Pasien berdasarkan diagnosa Diagnosa Frekuensi Persentase (%) Otitis Media Akut 2 4 Sinusitis 40 80 Faringitis 8 16 Berdasarkan tabel 4.3, dapat diketahui bahwa frekuensi diagnosa anak pasien ISPA bagian atas terbanyak adalah sinusitis sebesar 80 %. Karena sinusitis dapat terjadi sepanjang tahun oleh karena sebab selain virus, alergi maupun benda asing (Depkes RI, 2005).

2. Penggunaan Obat a. Jenis Antibiotik Tabel 4.4 Penggunaan Antibiotik berdasarkan Jenis Antibiotik Antibiotik Frekuensi Persentase (%) Amoxicillin 15 30 Cefadroxil 15 30 Cefixime 20 40 Berdasarkan tabel 4.4, dapat diketahui bahwa frekuensi penggunaan antibiotik berdasarkan jenis antibiotik pada anak pasien ISPA bagian atas terbanyak adalah cefixim sebesar 40 %. Cefixim merupakan antibiotik generasi ketiga golongan sefalosporin yang termasuk antibiotik beta-laktam dengan struktur, khasiat, dan sifat yang banyak mirip penisilin. Pada umumnya mempunyai efek samping yang sama dengan kelompok penisilin tetapi lebih jarang dan lebih ringan (Tjay dan Kirana, 2007). b. Obat Penyerta Golongan Antipiretik Analgesik Antihistamin Dekongestan Kortikosteroid Mukolitik & Ekspektoran Antivirus Bronkodilator Antialergi Antiemetik Antifungi Barbiturat Vitamin Lain-lain Tabel 4.5 Obat Penyerta Obat Parasetamol Ibuprofen CTM Tremenza (Pseudoefedrin HCL, Tripolidin HCL) Dexamethason, Metilprednisolon, Kenacort (Triamcinolon) Ambroxol, Sanadryl (Difenhidramin HCL), Triaminic batuk pilek, GG Isprinol Salbutamol Cetirizine (Setirizin HCL), Celestamine (Betametason, Deksklorfeniramina maleat) Domperidon, Vometa Nistatin Luminal (Phenobarbital) Apyalis (Vitamin A, B1,B2,B6,B12, C, D), Curvit (Kurkumoid, Vit B1,B2, B6, B12, b-karoten), Zamel (Vit A, Tiamin, Riboflavin, Piridoxin), B complex, B6 Starmuno kids, Benozym (Pankretin, Bromelain, Ox-bile)

Berdasarkan tabel 4.5, menunjukkan bahwa tiap pasien mendapatkan obat penyerta atau terapi suportif untuk mengobati tanda dan gejala yang dialami pasien, sehingga memberikan kenyamanan khususnya pada anak. 3. Rasionalitas Penggunaan Antibiotik a. Ketepatan Penggunaan Antibiotik berdasarkan Jenis Antibiotik Tabel 4.6 Distribusi Ketepatan Penggunaan Antibiotik berdasarkan Jenis Antibiotik Jenis Antibiotik Frekuensi Persentase (%) Tidak Tepat 32 64 Tepat 18 36 Berdasarkan tabel 4.6, dapat diketahui bahwa penggunaan antibiotik berdasarkan jenis antibiotik yang sudah tepat (36 %). Pada diagnosa otitis media akut pasien diberi antibiotik cefadroxil dan amoxicillin dengan pemberian tunggal. Berdasarkan buku Depkes (2005) yang berjudul Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan antibiotik cefadroxil tidak termasuk dalam antibiotik yang digunakan dalam pengobatan otitis media akut, maka penggunaan cefadroxil dalam mengobati otitis media akut tidak tepat. Antibiotik cefadroxil dianjurkan penggunaannya untuk pengobatan radang hulu kerongkongan atau sakit tenggorokan, infeksi saluran kemih dan infeksi kulit (Tjay dan Kirana, 2002). Sedangkan amoxicillin merupakan antibiotik lini pertama pada pengobatan otitis media akut yang berdasarkan buku Depkes (2005) yang berjudul Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan antibiotik, maka penggunaan amoxicillin sudah tepat. Amoxicillin adalah antibiotik golongan penisilin yang merupakan derivat β-laktam yang memiliki aksi bakterisidal dengan mekanisme kerja menghambat sintesis dinding sel bakteri (Depkes RI, 2005). Untuk pengobatan sinusitis, antibiotik yang digunakan adalah amoxicillin, cefadroxil, dan cefixime dengan pemberian tunggal. Berdasarkan buku Depkes (2005) yang berjudul Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan amoxicillin merupakan antibiotik yang digunakan dalam pengobatan sinusitis, maka penggunaan antibiotik amoxicillin sudah tepat. Amoxicillin merupakan penisilin spektrum luas derifat β-laktam tertua yang memiliki aksi bakterisidal dengan mekanisme kerja menghambat sintesis dinding sel bakteri. Spektrumnya mencakup E. Coli, Streptococcus pyogenes, Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Neisseria gonorrhoeae. Dimana Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae adalah bakteri yang paling

umum penyebab sinusitis (Depkes RI, 2005). Antibiotik cefadroxil dan cefixime tidak termasuk dalam antibiotik yang digunakan dalam pengobatan sinusitis, maka penggunaan cefadroxil dan cefixime dalam mengobati sinusitis tidak tepat. Meskipun begitu, antibiotik cefixime berdasarkan buku panduan dari Dipiro, dkk (2012) yang berjudul Pharmacotherapy Handbook 8 th edition dapat digunakan dalam pengobatan sinusitis. Untuk pengobatan faringitis, antibiotik yang digunakan adalah cefixime dan cefadroxil dengan pemberian tunggal. Berdasarkan dari buku pedoman Depkes (2005) yang berjudul Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan antibiotik cefixime bukan antibiotik yang di rekomendasikan dalam pengobatan faringitis, maka penggunaan cefixime tidak tepat. Pada buku acuan Depkes (2005) antibiotik golongan sefalosporin yang digunakan adalah generasi satu dan dua, sedangkan cefixim adalah antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga (Depkes RI, 2005). Sedangkan penggunaan cefadroxil dalam pengobatan faringitis sudah tepat, karena dalam buku Depkes (2005) cefadroxil merupakan antibiotik lini kedua dalam pengobatan faringitis. Meskipun begitu, terdapat penggunaan antibiotik yang tidak tepat berdasarkan jenis antibiotik sebesar 64 %. Dimana penggunaan antibiotik cefadroxil untuk penyakit otitis media akut dan sinusitis tidak tepat, begitu juga penggunaan antibiotik cefixime pada pengobatan faringitis tidak tepat. Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai dapat menyebabkan kegagalan terapi bahkan dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan (Anonim, 2010). b. Ketepatan Penggunaan Antibiotik berdasarkan Dosis Antibiotik Tabel 4.7 Distribusi Ketepatan Penggunaan Antibiotik berdasarkan Dosis Antibiotik Jenis Antibiotik Frekuensi Persentase (%) Tidak Tepat 40 80 Tepat 10 20 Berdasarkan tabel 4.7, dapat diketahui bahwa penggunaan antibiotik berdasarkan dosis antibiotik yang sudah tepat (20 %) dan tidak tepat dosis sebesar 80 %. Dosis antibiotik yang tidak tepat meliputi overdose (dosisnya kelebihan) sebesar 64 % dan yang underdose (dosisnya kurang) sebesar 16 %. Dosis yang diberikan kebanyakan sesuai dengan dosis yang ada pada bentuk sediaanya, misal pada sediaan sirup maka dosis yang diberikan sesuai dengan mililiter yang ada di sirup tersebut dan tidak sesuai dengan perhitungan berdasarkan berat badan anak. Dosis di hitung berdasarkan berat badan setiap pasien anak dikali dosis yang berasal dari buku pedoman Depkes (2005) yang berjudul Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran

Pernafasan. Dosis untuk antibiotik amoxicillin pada otitis media akut dan sinusitis dosisnya yaitu 20-40 mg/kg/hari terbagi dalam 3 dosis. Untuk cefadroxil pada pengobatan faringitis dosisnya yaitu 30 mg/kg/hari terbagi dalam 2 dosis. Sedangkan cefixime pada pengobatan sinusitis dosisnya 8 mg/kg/hari terbagi dalam 2 dosis. Penggunaan dosis antibiotik yang sesuai dapat memaksimalkan kerja obat, sehingga terapi yang diinginkan tercapai (Anonim. 2010). Pemberian dosis yang kurang akan mengakibatkan tidak berefeknya antibiotik dan dapat mengakibatkan resistensi bakteri yang tersisa dalam tubuh, namun jika dosis lebih akan mengakibatkan resiko efek samping yang tidak diinginkan pada pasien (Setiabudy, 2007). c. Ketepatan Penggunaan Antibiotik berdasarkan Frekuensi Pemberian Antibiotik Tabel 4.8 Distribusi Ketepatan Penggunaan Antibiotik berdasarkan Frekuensi Pemberian Antibiotik Jenis Antibiotik Frekuensi Persentase (%) Tidak Tepat 23 46 Tepat 27 54 Berdasarkan tabel 4.8, dapat diketahui bahwa penggunaan antibiotik berdasarkan frekuensi pemberian antibiotik yang sudah tepat (54 %). Frekuensi pemberian antibiotik amoxicillin adalah 3 x sehari (tiap 8 jam), sedangkan untuk antibiotik cefadroxil dan cefixim adalah 2 x sehari (tiap 12 jam). Hal ini sesuai dengan buku acuan yang digunakan yaitu berdasarkan dari buku pedoman Depkes (2005) yang berjudul Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan. Meskipun mayoritas sudah tepat dalam hal frekuensi pemberian antibiotik, tetapi masih terdapat frekuensi pemberian antibiotik yang tidak tepat sebanyak 46 %. Ketidaktepatan frekuensi pemberian antibiotik dikarenakan pada beberapa pasien antibiotik cefadroxil dan cefixime diberikan 3 x 1 (tiap 8 jam). Padahal berdasarkan buku pedoman Depkes (2005) yang berjudul Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan antibiotik cefadroxil dan cefixime harus diberikan 2 x 1 (tiap 12 jam), semakin sedikit frekuensi pemberian maka akan meningkatkan kenyamanan dan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi antibiotik. Ketidaktepatan frekuensi pemberian antibiotik akan mempengaruhi kadar obat di dalam tubuh. Obat yang metabolismenya cepat dan t 1/2 -nya pendek, perlu diberikan sampai 3-6 kali sehari agar kadar plasmanya tetap tinggi, sedangkan obat dengan half-life panjang, pada umumnya cukup diberikan satu kali sehari dan tidak perlu sampai 2 atau 3 kali. Kecuali bila obat sangat terikat pada

protein, sedangkan kadar plasma tinggi diperlukan untuk efek terapeutiknya (Waldon, 2008). d. Kerasionalan Penggunaan Antibiotik Tabel 4.9 Distribusi Kerasionalan Penggunaan Antibiotik Jenis Antibiotik Frekuensi Persentase (%) Tidak Rasional 40 80 Rasional 10 20 Berdasarkan tabel 4.9, dapat diketahui bahwa penggunaan antibiotik untuk pengobatan ISPA bagian atas di Instalasi Rawat Jalan RSI Sultan Agung Semarang berdasarkan tepat jenis antibiotik, tepat dosis antibiotik dan tepat frekuensi pemberian antibiotik rasional sebesar 20 %. Kerasionalan penggunaan antibiotik dilihat dari parameter yang dipakai, antara lain tepat pemilihan jenis antibiotik, tepat dosis antibiotik dan tepat frekuensi pemberian antibiotik. Jika dalam pengobatan ketiga parameter tersebut tepat, maka dikatakan rasional. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menimbulkan dampak negatif, diantaranya timbulnya resistensi, terjadinya efek samping maupun toksisitas, terjadinya pemborosan biaya, dan tidak tercapainya manfaat klinik yang optimal dalam hal pencegahan maupun pengobatan penyakit infeksi (Kemenkes RI, 2011). D. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rasionalitas penggunaan antibiotik pada pasien anak penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) bagian atas di instalasi rawat jalan RSI Sultan Agung Semarang Periode Agustus 2015 Juni 2016 yang meliputi tepat pemilihan jenis antibiotik sudah tepat sebesar 36 %, tepat dosis antibiotik sudah tepat sebesar 20 %, tepat frekuensi pemberian antibiotik sudah tepat sebesar 54 % dan kerasionalan terapi penggunaan antibiotik pada pasien anak penderita Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) bagian atas dari ketiga parameter sudah rasional sebesar 20 %. E. UCAPAN TERIMA KASIH Seluruh civitas akademika STIKES Ngudi Waluyo Ungaran, Ketua Program Studi Farmasi STIKES Ngudi Waluyo Ungaran Drs. Jatmiko Susilo, Apt., M.Kes, Dosen Pembimbing I Richa Yuswantina S. Farm., Apt., M. Si., Dosen Pembimbing II Sikni Retno K, S.Farm., M.Sc., Apt., RSI Sultan Agung Semarang serta seluruh karyawan RSI Sultan Agung Semarang, Bapak Ibu saya tercinta serta kakak-kakak saya. F. DAFTAR PUSTAKA 1. WHO. 2003. Respiratory Acute Infections. Dalam Trimutiara. 2010. Infeksi Saluran Pernafasan Akut. (http://trimutiara. blogspot. com/2010/04/ispa.html). Diakses Pada Tanggal 7 Desember 2014

2. DepKes RI. 2005. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan, Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik. Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. 3. KemenKes RI, 2015, Situasi Kesehatan Anak Balita di Indonesia, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 4. DinKes Semarang. 2008. Profil Kesehatan Kota Semarang. Dinas Kesehatan Kota Semarang. Semarang. 5. Notoatmodjo, 2005. Metode Penelitian Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta. 6. Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&B. Alfabeta. Bandung. 7. WHO. 2007. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang Cenderung menjadi Epidemi dan Pandemi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. 8. Tjay, T. H., dan Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting; Edisi ke 6. PT Elex Media Komputindo. Jakarta. 9. Dipiro, dkk., 2012. Pharmacotherapy Handbook 8 th edition. The McGraw- Hill Companies Inc, New York 10. Anonim. 2010. Masalah Penggunaan Obat di Institusi Pelayanan Kesehatan. Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. 11. Setiabudy, R. 2007. Pengantar Antimikroba. Dalam Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 12. Waldon, D.J. (2008). Pharmacokinetics and Drug Metabolism. Cambridge : Amgen, Inc., One Kendall Square, Building 1000, USA. 13. KemenKes RI, 2011. Pedoman Pelayanan Kefarmasian Untuk Terapi Antibiotik. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta..