Hasil dan Pembahasan

dokumen-dokumen yang mirip
Trethewey, K.R., Chamberlain, J., 1991, Korosi untuk Mahasiswa Sains dan Rekayasa, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama Wibisono Y.

Penelitian ini akan menggunakan langkah-langkah seperti yang tercantum dalam Gambar III-1. Studi pustaka dan jurnal

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Korosi Baja Karbon dalam Lingkungan Elektrolit Jenuh Udara

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Elektroda Cu (katoda): o 2. o 2

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4 Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab II Tinjauan Pustaka

TESIS. Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung. Oleh

Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Reaksi Redoks

PEMANFAATAN OBAT SAKIT KEPALA SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA API 5L GRADE B DALAM MEDIA 3,5% NaCl DAN 0,1M HCl

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMANFAATAN SUPLEMEN VITAMIN C SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA API 5L GRADE B DALAM MEDIA 3.5% NaCl DAN 0.1 M HCl

BAB I PEDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pipa merupakan salah satu kebutuhan yang di gunakan untuk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. penyamakan kulit dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS Mini

Bab III Metodologi Penelitian

BAB 4 HASIL DAN ANALISA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Sidang TUGAS AKHIR. Dosen Pembimbing : Prof. Dr.Ir.Sulistijono,DEA

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2012 sampai Januari 2013 di

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN. juga menjadi bisnis yang cukup bersaing dalam perusahaan perbajaan.

I. PENDAHULUAN. Indonesia memiliki lahan tambang yang cukup luas di beberapa wilayahnya.

BAB II KOROSI dan MICHAELIS MENTEN

Bab III Pelaksanaan Penelitian

BAB IV PEMBAHASAN. -X52 sedangkan laju -X52. korosi tertinggi dimiliki oleh jaringan pipa 16 OD-Y 5

BAB III METODELOGI PENELITIAN. korosi pada baja karbon dalam media NaCl jenuh CO 2 dan dalam media NaCl

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Retno Kusumawati PENDAHULUAN. Standar Kompetensi : Memahami konsep kelistrikan dan penerapannya dalam kehidupan seharihari.

Sudaryatno Sudirham ing Utari. Mengenal. Sudaryatno S & Ning Utari, Mengenal Sifat-Sifat Material (1)

Elektrokimia. Sel Volta

Bab IV Hasil dan Pembahasan

PEMANFAATAN OBAT PARACETAMOL SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA BAJA API 5L GRADE B DALAM MEDIA 3.5% NaCl DAN 0.1M HCl

PENGHAMBATAN KOROSI BAJA BETON DALAM LARUTAN GARAM DAN ASAM DENGAN MENGGUNAKAN CAMPURAN SENYAWA BUTILAMINA DAN OKTILAMINA

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.2 DATA HASIL ARANG TEMPURUNG KELAPA SETELAH DILAKUKAN AKTIVASI

PENGARUH WAKTU PADA ELEKTROPLATING KROM DEKORATIF DENGAN LOGAM BASIS TEMBAGA TERHADAP LAJU KOROSI

LEMBAR AKTIVITAS SISWA

I. PENDAHULUAN. Teknologi pelapisan logam dewasa ini banyak dikembangkan, kebutuhan

PENGARUH LAJU KOROSI PELAT BAJA LUNAK PADA LINGKUNGAN AIR LAUT TERHADAP PERUBAHAN BERAT.

Sulistyani, M.Si.

Mengubah energi kimia menjadi energi listrik Mengubah energi listrik menjadi energi kimia Katoda sebagi kutub positif, anoda sebagai kutub negatif

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya perubahan metalurgi yaitu pada struktur mikro, sehingga. ketahanan terhadap laju korosi dari hasil pengelasan tersebut.

Bab III Metodologi. III. 2 Rancangan Eksperimen

PENGARUH VARIASI RAPAT ARUS TERHADAP KETEBALAN LAPISAN ELEKTROPLATING SENG PADA BAJA KARBON RENDAH. Nizam Effendi *)

LAMPIRAN 1 DATA PENGAMATAN. mol NaCl

VARIASI RAPAT ARUS DALAM PROSES PELAPISAN KHROMIUM KERAS PADA CINCIN TORAK. Yusep Sukrawan 1

PENGARUH VARIASI ph DAN ASAM ASETAT TERHADAP KARAKTERISTIK KOROSI CO 2 BAJA BS 970

I. Tujuan. Dasar Teori

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Proses akhir logam (metal finishing) merupakan bidang yang sangat luas,

Peningkatan Kualitas Air Tanah Gambut dengan Menggunakan Metode Elektrokoagulasi Rasidah a, Boni P. Lapanporo* a, Nurhasanah a

MODUL SEL ELEKTROLISIS

TES AWAL II KIMIA DASAR II (KI-112)

ADLN Perpustakaan Universitas Airlangga BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kata korosi berasal dari bahasa latin Corrodere yang artinya perusakan

Laju Korosi Baja Dalam Larutan Asam Sulfat dan Dalam Larutan Natrium Klorida

Elektrokimia. Tim Kimia FTP

ELEKTROKIMIA DAN KOROSI (Continued) Ramadoni Syahputra

PENAMBAHAN EDTA SEBAGAI INHIBITOR PADA LAJU KOROSI LOGAM TEMBAGA. Abstrak

BAB IV HASIL PENGUJIAN DAN ANALISIS

BAB I PANDAHULUAN. Berbagai industri barang perhiasan, kerajinan, komponen sepeda. merupakan pelapisan logam pada benda padat yang mempunyai

BAB IV HASIL YANG DICAPAI PENELITIAN

BAB IV HASIL YANG DICAPAI DAN POTENSI KHUSUS

BAB I PENDAHULUAN. Dalam teknologi pengerjaan logam, proses electroplating. dikategorikan sebagai proses pengerjaan akhir (metal finishing).

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH KEHADIRAN TEMBAGA TERHADAP LAJU KOROSI BESI TUANG KELABU

LATIHAN-1 SEL ELEKTROLISIS

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Nama Kelompok : Adik kurniyawati putri Annisa halimatus syadi ah Alfie putri rachmasari Aprita silka harmi Arief isnanto.

Fe Fe e - (5.1) 2H + + 2e - H 2 (5.2) BAB V PEMBAHASAN

3. ELEKTROKIMIA. Contoh elektrolisis: a. Elektrolisis larutan HCl dengan elektroda Pt, reaksinya: 2HCl (aq)

LAPORAN PENELITIAN PROSES PENYEPUHAN EMAS

Redoks dan Elektrokimia Tim Kimia FTP

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk

Untuk mempermudah memahami materi ini, perhatikan peta konsep berikut ini. Sumber Arus Listrik. menjelaskan. Macam-macam Sumber Tegangan.

BAB 8. ELEKTROKIMIA 8.1 REAKSI REDUKSI OKSIDASI 8.2 SEL ELEKTROKIMIA 8.3 POTENSIAL SEL, ENERGI BEBAS, DAN KESETIMBANGAN 8.4 PERSAMAAN NERNST 8

9. Pembuatan Larutan Cr ppm Diambil larutan Cr ppm sebanyak 20 ml dengan pipet volumetri berukuran 20 ml, kemudian dilarutkan dengan

Bab IV Hasil dan Diskusi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset Kimia, Jurusan Pendidikan

Pengendalian Laju Korosi pada Baja API 5L Grade B N Menggunakan Ekstrak Daun Gambir (Uncaria gambir Roxb)

KIMIA ELEKTROLISIS

Vol.17 No.1. Februari 2015 Jurnal Momentum ISSN : X. PENGARUH PELAPISAN NIKEL (Ni) TERHADAP LAJU KOROSI PADA IMPELLER POMPA

TITRASI POTENSIOMETRI

Moch. Novian Dermantoro NRP Dosen Pembimbing Ir. Muchtar Karokaro, M.Sc. NIP

Bab II Tinjauan Pustaka

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

STUDI EKONOMIS PENGARUH POST WELD HEAT TREATMENT TERHADAP UMUR PIPA

Modul 3 Ujian Praktikum. KI2121 Dasar Dasar Kimia Analitik PENENTUAN KADAR TEMBAGA DALAM KAWAT TEMBAGA

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK VOLUM MOLAL PARSIAL. Nama : Ardian Lubis NIM : Kelompok : 6 Asisten : Yuda Anggi

Penghambatan Korosi Baja Beton dalam Larutan Garam dan Asam dengan Menggunakan Campuran Senyawa Butilamina dan Oktilamina

Penentuan Laju Korosi pada Suatu Material

PERCOBAAN IV ANODASI ALUMINIUM

Transkripsi:

Bab IV Hasil dan Pembahasan Pengukuran laju korosi logam tembaga dilakukan dengan menggunakan tiga metode pengukuran dalam larutan aqua regia pada ph yaitu 1,79; 2,89; 4,72 dan 6,80. Pengukuran pada berbagai ph tersebut untuk melihat pengaruh keasaman suatu media terhadap laju korosi. Penggunaan metode pengukuran hambatan dan pengurangan berat dilakukan sebagai dasar untuk membuat praktikum sederhana tentang pengukuran laju korosi secara kualitatif sedangkan metode polarisasi dengan Tafel digunakan sebagai pembanding kedua metode tadi. Selain itu untuk menunjukkan dalam pembelajaran korosi, bahwa dengan teknik Tafel pengukuran laju korosi dapat diukur lebih kuantitatif. Teknik Tafel digunakan sebagai pembanding dengan alasan, diantaranya: Tafel menggunakan instrumentasi yang ketelitiannya telah dikalibrasi dan semua proses perhitungannya dilakukan oleh suatu software sehingga kesalahan perhitungan dapat diminimalkan. Semua pengukuran dilakukan pada suhu ruangan yaitu 24,5 o C-25,5 o C dengan keberadaan oksigen yang terlarut dalam larutan aqua regia. Pada penelitian ini juga dilakukan pengukuran laju korosi pada salah satu ph yaitu 2,89 dengan pengaruh penambahan suatu inhibitor. Inhibitor tanin digunakan dengan variasi konsentrasi 10 ppm, 25 ppm dan 40 ppm untuk melihat pengaruh tanin dalam menghambat laju korosi. IV.1 Analisis Laju Korosi Menggunakan Metode Pengukuran Hambatan Logam Ketika logam Cu kontak dengan lingkungan yang bersifat asam yaitu aqua regia maka akan timbul beda potensial antara logam dengan aqua regia. logam Cu akan teroksidasi oleh asam nitrat dari aqua regia dan melarut membentuk senyawa kompleks dengan Cl dari aqua regia. Sedangkan pada permukaan logamnya, tembaga akan teroksidasi oleh oksigen yang terlarut dalam larutan aqua regia membentuk CuO berupa lapisan tipis. Cara perhitungan laju korosi dengan metode pengukuran hambatan, dilakukan secara tidak langsung yaitu dengan mengukur pengurangan diameter kawat tembaga setiap 5 menit dan menggunakan 30

nilai kemiringan grafik dari hasil pengaluran nilai R -1/2 terhadap waktu, seperti tampak pada Gambar IV-1. Reaksi yang terjadi adalah: Cu (s) + 2NO 3 - (aq) + 4H + (aq) Cu +2 (aq) + 2NO 2 (g) + 2H 2 O (l) Cu +2 (aq) + 4Cl - (aq) Cu (s) + O 2 (g) -2 CuCl 4 (aq) CuO (s) Gambar IV-1.Perubahan nilai hambatan kawat tembaga berdiameter 0.1 mm terhadap waktu pada ph aqua regia 1,79 dan arus 0,37 Ampere Arus dan tegangan yang diperoleh pada penelitian ini, diukur menggunakan multimeter digital seperti pada Gambar IV-2. Gambar IV-2.Tampilan pada multimeter untuk pembacaan tegangan terukur dengan nilai arus yang dibuat relatif konstan sebesar 0,37 Ampere 31

Hasil pengukuran tidak dapat diolah lebih lanjut karena tidak diperoleh nilai penambahan tegangan terukur selama waktu reaksi. Dengan menggunakan arus yang relatif konstan selama reaksi seharusnya terjadi kenaikan nilai tegangan dan hambatan sebagai akibat dari pengurangan diameter kawat sesuai dengan rumusan R= ρl/a. IV.2 Analisis Laju Korosi Menggunakan Metode Uji Berkurangnya Berat (Corrosion Wheel Test) Hasil uji berkurangnya berat tembaga menunjukkan bahwa laju korosi terbesar terjadi pada ph sangat asam yaitu 1,79 dan paling kecil pada aquadest dengan ph 6,80. Gambar IV-3.Kupon tembaga sebelum terkorosi dan yang telah terkorosi pada beberapa ph Berdasarkan pengamatan langsung, terlihat adanya perbedaan antara logam tembaga sebelum dan sesudah mengalami korosi. Demikian juga tampak adanya perbedaan warna pada beberapa ph. Secara kualitatif ini dapat digunakan untuk menunjukkan adanya proses korosi. Sedangkan untuk pengukuran secara kuantitatif sederhana, digunakan penimbangan berat bahan sebelum dan sesudah terjadi korosi. Selanjutnya data pengurangan berat tersebut dikonversikan ke dalam satuan laju korosi yaitu μm.tahun -1 menggunakan perhitungan berikut: Misal, pada ph media 2,89 terjadi pengurangan berat ( m) sebesar 0,0126 gram Massa jenis logam Cu = 8,96 gram.cm -3 Lama pengkorosian = 18 jam atau 0,75 hari atau (0,75 / 365) tahun Dimensi kupon Cu = 2 cm x 1,05 cm x 0,04 cm maka Luas selimut kupon: L = 2.(2 cm x 1,05 cm) + 2.(1,05 cm x 0,04 cm) + 2.(2 cm x 0,04 cm) = 4,444 cm 2 32

Volume kupon yang hilang: V = m /ρ = (0,0126 gram) / (8,96 gram.cm -3 ) = 0,00141 cm 3 Ketebalan kupon yang hilang t = V / L = 0,00141 cm 3 / 4,444 cm 2 = 0,000316 cm Laju korosi (CR) dalam μm. tahun -1 adalah : CR = 0,000316 x 10 4 / 0.0021 = 1540,00 μm.tahun -1 Pengukuran dilakukan sebanyak 4 kali untuk setiap kondisi percobaan dan laju korosi merupakan nilai rata-ratanya. Hasil perhitungan selengkapnya laju korosi dengan menggunakan perhitungan yang sama untuk beberapa ph, tercantum dalam tabel IV-1. Tabel IV-1. Pengaruh peningkatan ph terhadap jumlah kupon tembaga yang hilang dan laju korosi ph media 1,79 2,89 4,72 6,80 Berat yang hilang (gram) laju korosi μm.tahun - 0,0195 2690,25 0,0190 2589,70 0,0161 1938,98 0,0183 2462,77 0,0126 1540,00 0,0115 1510,22 0,0128 1635,85 0,0117 1514,88 0,0015 197,03 0,0048 621,49 0,0018 210,34 0,0012 155,37 0,0002 28,35 0,0003 40,41 0,0002 25,06 33 1 laju korosi ratarata μm.tahun -1 2420,43 1550,24 296,06 40,04

0,0005 66,32 Bila data dari tabel IV-1 dialurkan dalam bentuk berat kupon yang hilang terhadap ph maka akan diperoleh grafik seperti pada Gambar IV-4. Gambar IV-4.Grafik berat rata-rata kupon tembaga yang hilang terhadap peningkatan ph untuk melihat pengaruh ph terhadap berat yang hilang Berkurangnya massa kupon tembaga yang hilang akibat kenaikan nilai ph juga akan mengurangi nilai laju korosi karena berkurangnya jumlah H + yang mendepolarisasi logam. Jika dibuat dalam bentuk grafik maka akan terlihat seperti pada gambar IV-5. Gambar IV-5. Grafik laju korosi tembaga terhadap peningkatan ph larutan aqua regia untuk melihat pengaruh ph terhadap laju korosi 34

Pengukuran laju korosi tembaga untuk melihat adanya pengaruh konsentrasi inhibitor tanin pada ph 2,89 dihitung menggunakan perhitungan yang sama seperti pengaruh ph terhadap laju korosi. Laju korosi tembaga dengan penambahan tanin pada beberapa konsentrasi, tercantum dalam tabel IV-2. Tabel IV-2. Pengaruh peningkatan konsentrasi tanin terhadap berat kupon yang hilang dan laju korosi pada ph larutan aqua regia 2,89 konsent. Berat yang laju korosi Tanin (ppm) 0 10 25 40 hilang (gram) (μm.tahun - 1 ) 0,0126 1540,00 0,0115 1510,22 0,0128 1635,85 0,0117 1514,88 0,0108 1318,81 0,0113 1452,35 0,0112 1470,83 0,0109 1445,76 0,0107 1439,98 0,0105 1394,41 0,0106 1338,94 0,0105 1378,90 0,0102 1374,05 0,0104 1434,80 0,0099 1300,10 0,0101 1359,23 laju korosi ratarata (μm.tahun -1 ) 1550,24 1421,94 1388,06 1367,05 Hasil pengukuran tersebut bila dialurkan dalam bentuk grafik berat kupon yang hilang terhadap variasi konsentrasi tanin akan terlihat seperti grafik IV-6. Terlihat pada grafik adanya pengurangan berat kupon yang hilang terhadap peningkatan konsentrasi tanin sampai konsentrasi tanin sebesar 40 ppm. 35

Gambar IV-6. Grafik berat kupon yang hilang terhadap kenaikan jumlah inhibitor pada ph 2,89 untuk melihat pengaruh konsentrasi tannin terhadap berat kupon tembaga yang hilang Dengan semakin berkurangya berat kupon tembaga yang hilang maka laju korosi nya juga semakin berkurang. Peningkatan konsentrasi tanin menyebabkan semakin banyaknya lapisan endapan senyawa kompleks Cu-tanin sehingga menghambat pelarutan tembaga. Jika dibuat dalam grafik aluran laju korosi terhadap peningkatan konsentrasi tanin maka akan terlihat nilai laju korosi akan semakin berkurang, seperti pada Gambar IV-7. Gambar IV-7. Grafik laju korosi dengan bertambahnya konsentrasi tanin pada ph 2,89 untuk melihat pengaruh konsentrasi tanin terhadap laju korosi 36

IV.3 Analisis Laju Korosi Menggunakan Metode Polarisasi Teknik Tafel Melalui teknik Tafel, dapat diperoleh beberapa parameter korosi tetapi yang diambil pada penelitian ini hanya nilai laju korosinya. Nilai laju korosi sebanding dengan besarnya I corr yang diperoleh dari ekstrapolasi grafik pengukuran rapat arus katoda dan anoda terhadap potensial. Berdasarkan pengukuran diperoleh, laju korosi tembaga semakin berkurang dengan bertambahnya ph, hal ini dapat terlihat dengan bergesernya nilai potensial ke arah lebih positif, seperti pada Gambar IV-8. Gambar IV-8. Hasil pengkuran Tafel untuk ph media 2,89 (atas) dan ph 6,80 (bawah) untuk melihat pengaruh ph terhadap nilai I corr dan E corr tembaga 37

Pengukuran ekstrapolasi Tafel untuk mengetahui pengaruh penambahan tanin dalam beberapa konsentrasi pada ph aqua regia 2,89 menunjukkan bahwa sampai konsentrasi tanin 40 ppm nilai Icorr semakin berkurang sedangkan Ecorr semakin bergeser ke arah positif, seperti tampak pada Gambar IV-9. GambarIV-9. Hasil pengukuran laju korosi pada ph 2,89 tanpa penambahan inhibitor (atas) dan dengan penambahan inhibitor tanin sebesar 10 ppm (bawah) untuk melihat pengaruh inhibisi tanin terhadap I corr dan E corr 38

Hasil pengukuran dengan teknik ekstrapolasi Tafel, untuk berbagai ph larutan aqua regia tercantum pada tabel IV-3. Tabel IV-3. Pengaruh peningkatan nilai ph terhadap laju korosi dengan pengukuran ekstrapolasi Tafel ph Laju Korosi, μm.th -1 1,790 55,22 10 39,92 25 11,77 40 1,45 Pada penambahan tanin di salah satu ph media yaitu 2,89 diperoleh hasil pengurangan nilai I corr sedangkan E corr bergeser ke arah yang lebih positif dibandingkan tanpa penambahan inhibitor tannin. Hasil pengukuran peningkatan konsentrasi tanin terhadap laju korosi tercantum pada tabel IV-4. Tabel IV-4. Pengaruh peningkatan konsentrasi tanin terhadap laju korosi dengan pengukuran ekstrapolasi Tafel Konsentrasi tanin, ppm Laju Korosi, μm.th -1 0 33,92 10 26,99 25 23,23 40 22,02 IV.4 Pengaruh ph dan Inhibitor Terhadap Laju Korosi IV.4.1 Pengaruh ph Dari ketiga metode yang dilakukan, metode pengurangan berat dan polarisasi Tafel menunjukkan pengurangan laju korosi dengan bertambahnya ph. Hal ini disebabkan berkurangnya polarisasi logam oleh ion H + karena adanya pembentukan lapisan tipis oksida yang melapisi permukaan logam dan bersifat isolator. Selaput ini akan menghasilkan hambatan terukur yang semakin besar 39

seiring dengan lamanya waktu reaksi. Hal ini dapat diukur dengan bertambahnya nilai potensial yang terukur menggunakan alat ukur tegangan (Voltmeter). Pengukuran dengan metode pengukuran hambatan logam terkorosi seharusnya menghasilkan bertambahnya nilai hambatan terhadap lamanya waktu reaksi. Menurut hasil penelitian Singh (1995), adanya lapisan penghalang pada permukaan logam akan mengakibatkan beda potensial antara logam/larutan semakin bertambah dengan menggunakan arus konstan karena nilai hambatannya (R) semakin besar. Tetapi, pada penelitian ini terjadi penurunan beda potensial logam/larutan dengan bertambahnya waktu reaksi. Adanya ion Cl - yang sangat agresif kemungkinan dapat merusak lapisan tipis oksida tersebut dengan terbentuknya suatu senyawa kompleks Cu yang larut. Kemungkinan lain adalah adanya diskontinuitas pembentukan lapisan endapan, mengingat lapisan oksida tersebut sangat tipis sehingga memungkinkan lepas yang disebabkan oleh penggunaan arus yang kurang kecil. Arus yang kurang kecil diduga merusak permukaan kawat logam sehingga permukaannya menjadi tidak beraturan atau menjadi lebih luas dan mengakibatkan hambatannya semakin berkurang. Hal ini sesuai persamaan R = ρl/a, bahwa jika permukaan semakin bertambah maka hambatan akan menurun. Berdasarkan pengukuran dengan metode uji berkurangnya berat, peningkatan ph ternyata mengurangi jumlah Cu yang terlarut. Hal ini dikarenakan berkurangnya jumlah H + sebagai depolarisator. sehingga selisih massanya juga berkurang. Berkurangnya selisih massa menyebabkan laju korosi semakin berkurang dengan bertambahnya ph. Berdasarkan pengukuran Tafel, diperoleh laju korosi tembaga semakin berkurang dengan bertambahnya ph, hal ini dapat terlihat dengan bergesernya nilai potensial logam ke arah lebih positif, seperti pada Gambar IV-8. Semakin positifnya nilai potensial logam maka semakin berkurang kecenderungannya untuk terkorosi atau teroksidasi. Bertambahnya ph larutan aqua regia menyebabkan berkurangnya jumlah ion H + dalam larutan sehingga mengurangi laju korosi tembaga. 40

IV.4.2 Pengaruh Inhibitor Pada pengukuran nilai hambatan, penambahan inhibitor menghasilkan pengukuran tegangan yang semakin berkurang atau sama seperti tanpa menggunakan inhibitor. Penyebabnya diduga sama yaitu masih kurang kecilnya arus yang digunakan sehingga merusak permukaan kawat logam. Kemungkinan lain, adanya pelarutan dari senyawa sepit antara tanin-cu oleh arus. Pada pengukuran dengan metode wheel test, terukur adanya pengurangan berat dari logam terkorosi yang lebih kecil dibandingkan tanpa inhibitor. Hal ini karena adanya pengikatan ion Cu 2+ yang terlarut oleh tanin dalam bentuk kompleks sepit yang tidak larut dan menempel pada permukaan logam sehingga laju pelarutan Cu semakin terhalangi. Dengan metode Tafel, adanya inhibitor tanin dalam larutan, menyebabkan berkurangnya nilai I corr sedangkan E corr bergeser ke arah yang lebih positif dibandingkan tanpa penambahan inhibitor tanin, seperti terlihat pada Gambar IV-8. Nilai I corr menurut Faraday sebanding dengan laju penetrasi terhadap logam atau semakin kecil nilai I corr maka laju korosi juga semakin berkurang. Menurut Riggs, jika dengan teradsorpsinya molekul-molekul inhibitor pada permukaan logam menyebabkan potensial korosi bergeser ke arah positif, maka hal ini menunjukkan bahwa inhibitor terutama menghambat proses anodik ( Bundjali, 2005). Adsorpsi kation Cu 2+ oleh tanin membuat potensial lebih positif pada permukaan logam terhadap lapisan ion-ion dalam larutan. Proses anodik, yaitu pelarutan Cu menjadi terhambat karena tanin akan bereaksi dengan ion Cu 2+ yang terlarut dalam aqua regia membentuk senyawa sepit yang tidak larut dan menempel pada permukaan logam sehingga menghambat pelarutan Cu selanjutnya. IV.5 Pembuatan Moodle Pembelajaran Korosi Moodle pembelajaran korosi dibuat di dalam situs http://courses.fmipa.itb.ac.id. Moodle korosi ini dapat dibuka menggunakan enrollment key: korosi. Melalui moodle diharapkan tampilan materi pembelajaran dapat dibuat lebih menarik dengan adanya penambahan gambar dan video. Gambar yang disisipkan berasal dari hasil foto di laboratorium dan internet dengan menggunakan fasilitas 41

upload dan membuat tautan antara file. Berdasarkan hasil ujicoba terbatas terhadap sesama guru, diperoleh komentar bahwa moodle mudah untuk digunakan, memberi tampilan yang menarik dan quiz untuk siswa dapat dilihat hasilnya dengan cepat. Modul praktikum yang akan ditambahkan ke dalam pembelajaran korosi melalui moodle adalah pengukuran laju korosi tembaga menggunakan metode pengurangan berat (weight loss). Percobaan ini dapat digunakan sebagai pelengkap dari praktikum mengenai korosi yang sudah ada sebelumnya di tingkat sekolah menengah yaitu faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya korosi. Praktikum pengukuran laju korosi menggunakan metode wheel test, menggunakan rancangan alat seperti terlihat pada Gambar IV-11 dan IV-12. Gear 1 Dinamo Ke sumber arus AC rak botol rantai rak botol Gear 2 Dudukan botol Pemegang tutup Botol tempat reaksi yang dilengkapi pegas dilengkapi dengan tutup Logam Gambar IV-10. Skema rancangan alat Corrosion Wheel Test 42

Gambar IV-11. Rancangan alat Corrosion Wheel test yang dimodifikasi Rancangan alat dapat disesuaikan dengan ketersediaan bahan yang dimiliki sekolah. Putaran tempat botol dapat diatur kecepatannya dengan menambahkan variabel condensator (varco) yang dihubungkan ke dinamo. Data yang diperoleh pada penelitian ini dengan metode uji berkurangnya berat menggunakan kecepatan putaran 20 rpm. IV.5.1 Modul Praktikum Metode Uji Berkurangnya Berat Bahan Sebelum melaksanakan praktikum, terlebih dahulu perlu dibuat alat seperti skema gambar IV-10, yang kecepatan putarannya di bawah 20 rpm dalam keadaan kosong tanpa beban botol. Alat tersebut dapat menampung 4 botol reaksi dengan posisi botol saling berlawanan sehingga putarannya seimbang. Untuk praktikum dengan metode ini, perlu dilakukan persiapan sehari sebelum praktikum (18 jam sebelum praktikum) sehingga dapat melihat hasilnya pada saat hari praktikum.. Rancangan modul praktikum dibuat dua macam yaitu untuk siswa (lampiran 1) dam untuk guru (lampiran2). Pada modul praktikum untuk guru, ditambah dengan panduan penggunaannya. Selain itu modul ini juga dilengkapi lembar pengamatan (lampiran 3) yang harus diisi oleh siswa setelah melaksanakan praktikum. 43