BAB 6 ETIKA DAN METODA PENELITIAN DALAM PENDIDIKAN

dokumen-dokumen yang mirip
ETIKA KEPERAWATAN YUNIAR MANSYE SOELI

PROFESI. Pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian.

KODE ETIK PSIKOLOGI. Bab V. Kerahasiaan Rekam dan Hasil Pemeriksaan Psikologi (Pasal 23-27) Mistety Oktaviana, M.Psi., Psikolog.

SEKSI 100 A. PRINSIP-PRINSIP DASAR ETIKA PROFESI

PROFESIONALITAS UMUM DAN PROFESIONALITAS KERJA NAMA : HADI DENGGAN OKTO (M1A114001)

Kode Etik Profesi. Ade Sarah H., M.Kom

Kode Etik Insinyur (Etika Profesi)

Etika Profesional Komputer

KODE ETIK PSIKOLOGI MUKADIMAH

KODE ETIK GLOBAL PERFORMANCE OPTICS

KODE ETIK PSIKOLOGI. Bab IV. Hubungan Antar Manusia (Pasal 13-22) Mistety Oktaviana, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI

INDONESIAN HYPNOSIS ASSOCIATION (ASOSIASI HIPNOSIS INDONESIA)

KAMUS KOMPETENSI. 1. Mendengarkan ucapan orang lain Berupaya mendengarkan ucapan atau perkataan orang lain dengan seksama.

Menjalankan Nilai-Nilai Kami, Setiap Hari

Lbrands Pedoman Perilaku dan Ethics Hotline

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Perawat adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan kewenangan untuk memberikan asuhan keperawatan pada orang lain berdasarkan ilmu

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KODE ETIK PSIKOLOGI. Mistety Oktaviana, M.Psi., Psikolog. Modul ke: Fakultas PSIKOLOGI. Program Studi PSIKOLOGI.

Etika, etika profesi Dan kode etik perekam medis

PANITIA PEMILIHAN RAYA IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA

bagi kehidupan modern, khususnya bisnis.

PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM MAHASISWA UNIVERSITAS JEMBER NOMOR 1 TAHUN 2017 tentang KODE ETIK KOMISI PEMILIHAN UMUM MAHASISWA

PARTISIPAN dan ETIKA RISET. Disampaikan pada kuliah Metodologi Riset Sistem Informasi Oleh: Jefri Marzal

WALIKOTA MADIUN WALIKOTA MADIUN,

Negosiasi Bisnis. Minggu-11: Agen, Konstituen, dan Khalayak. By: Dra. Ai Lili Yuliati, MM, Mobail: ,

Pedoman Me review Paper Untuk Seminar dan Jurnal Ilmiah

2017, No Gubernur, Bupati, dan Wali Kota menjadi Undang- Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 23, Tambahan Lembaran Neg

ETIKA PENELITIAN. Metode Penelitian Kuantitatif Bidang Kesmavet

BAB V SIMPULAN DAN IMPLIKASI

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan dalam melakukan audit (Mulyadi dan Puradiredja, (1998)

PEMERINTAH KABUPATEN SUMENEP

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN,

KODE ETIK IKATAN AKUNTAN INDONESIA

Dewan Akreditasi Rekayasa dan Teknologi (Abet)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017

STANDAR PRAKTIK KEBIDANAN. IRMA NURIANTI, SKM. M.Kes

BAB VII KEBIJAKAN ANTI PENIPUAN, KORUPSI, DAN ANTI SUAP

TELAAH KOMPETENSI DIII KEPERAWATAN

Penerapan Pendekatan Inquiri untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran IPA di SDN Siumbatu

LAMPIRAN 3 NOTA KESEPAKATAN (MOU) UNTUK MERENCANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA. (Versi Ringkas)

Lihat untuk informasi lebih lanjut. LAMPIRAN 3

2 Mengingat e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, dan huruf d, perlu membentuk Undang-Undang tentang

KEBIJAKAN PENGUNGKAP FAKTA

Pertemuan ke-2. MK. Etika dan Profesi. Dr. I Wayan S. Wicaksana 02. Profesi (MK. Etika Profesi) 1

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati

KEPUTUSAN PENGURUS BESAR ASOSIASI BIMBINGAN DAN KONSELING INDONESIA (PB ABKIN) Nomor: 010 Tahun 2006 Tentang

KEBIJAKAN BERIKLAN GUALAPER.COM

PERATURAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG KODE ETIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEDOMAN PELAKSANAAN KODE ETIK PSIKOLOGI INDONESIA I. PENJELASAN MUKADIMAH

KODE ETIK PSIKOLOGI SANTI E. PURNAMASARI, M.SI., PSIKOLOG. Page 1

BAB III PERAN KODE ETIK PUSTAKAWAN PADA DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP PROVINSI SUMATERA UTARA

Piagam Unit Audit Internal ( Internal Audit Charter ) PT Catur Sentosa Adiprana, Tbk

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. BAB IV, dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.

ETIKA SOSIAL.

SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PRASETYA BUNDA NOMOR : SK/KEH/RSPB/I/2014 TENTANG PEMBENTUKAN KOMITE ETIK DAN HUKUM RUMAH SAKIT PRASETYA BUNDA

ETIKA PROFESI PURWATI

Hasil Rapat Tim RIP 19 April 2016 mengenai Pelaksanaan RIP UMJ. MEMUTUSKAN

PROFESI dan POFESIONAL

kami. Apabila pekerjaan cetak tidak bersponsor, maka anda harus membayar biaya cetak langsung ke toko percetakan. KETENTUAN PENGGUNAAN

MODUL BAHAN AJAR TUGAS [ETIKA PROFESI] Modul 2. Dosen: Elyas Palantei, ST., M.Eng., Ph.D

2. Rencana pengembangan Insan IMC selalu didasari atas bakat dan kinerja.

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

Modul ke: ETIKA PROFESI. Prinsip-Prinsip Etika Humas. 07Fakultas KOMUNIKASI. Frenia Triasiholan A.D.S.Nababan. Program Studi Hubungan Masyarakat

BEBERAPA KASUS PELANGGARAN/MALPRAKTEK PENELITIAN & PUBLIKASI A) KASUS 1 David Reimer, lahir di Kanada pada 22 Agustus Ia adalah seorang anak

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia Tahun 2004 Nomor 117, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4432, Penjelasan umum.

KOMPETENSI NERS BERBASIS. KERANGKA KUALIFIKASI NASIONAL INDONESIA Indonesian Qualification Framework

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH HAJI MAKASSAR

Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia terdiri dari tiga bagian:

Standar Praktik Fisioterapi

2017, No Perilaku Pegawai Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Neg

PENGERTIAN DAN CONTOH PENERAPAN ASPEK LEGAL ETIK DALAM KEPERAWATAN ANESTESI. Disusun untuk Memenuhi Tugas Etika dan Aspek Legal

LAMPIRAN : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000

Standar Audit SA 620. Penggunaan Pekerjaan Pakar Auditor

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2 Menetapkan : 3. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik I

BAB II TINJAUAN TEORITIS

PROFESIONALISME KERJA BIDANG UMUM DAN BIDANG ENGINEER

GUBERNUR MALUKU PERATURAN GUBERNUR MALUKU NOMOR 31 TAHUN 2016 TENTANG

G. POLITIK DAN ETIKA DALAM PENELITIAN KUALITATIF

- 1 - LAMPIRAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 7 /SEOJK.03/2016 TENTANG STANDAR PELAKSANAAN FUNGSI AUDIT INTERN BANK PERKREDITAN RAKYAT

PERATURAN OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK INSAN OMBUDSMAN KETUA OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA,

KODE ETIK TENAGA KEPENDIDIKAN STIKOM DINAMIKA BANGSA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Dalam perkembangan dunia bisnis yang semakin meningkat dari tahun ke

LEMBAGA SANDI NEGARA PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 11 TAHUN 2010 UN TENTANG

U/ meningkatkan hak pasien di rs, harus dimulai dgn mendefinisikan hak tersebut, kemudian mendidik pasien dan staf tentang hak tersebut.

2017, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik In

KODE ETIK DAN PERATURAN DISIPLIN KARYAWAN IKIP VETERAN SEMARANG. BAB I Ketentuan Umum

PANDUAN PENJELASAN HAK PASIEN DALAM PELAYANAN LOGO RS X

Prinsip Dasar Peran Pengacara

Kode Etik Guru Indonesia

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 132/PMK.01/2012 TENTANG

Kode Etik. Etika Profesi dan Rekayasa #3 Dian Retno Sawitri

KATA PENGANTAR. Kami mengharapkan saran dari semua pihak untuk perbaikan buku ini pada edisi mendatang. Terima kasih. Jakarta, Juni 2010

A. Definisi Etika Penelitian B. Prinsip Prinsip Etika Penelitian

S P E E THE CODE OF M Y BUSINESS CONDUCT J E P A S S

PANDUAN KERJA 1 IMPLEMENTASI PROGRAM INDUKSI BAGI KEPALA SEKOLAH

Transkripsi:

BAB 6 ETIKA DAN METODA PENELITIAN DALAM PENDIDIKAN Permasalahan etika muncul dari metode-metode penelitian yang digunakan dalam konteks kependidikan. Refleksi pada artikel Bargess akan menunjukan bahwa permasalahan diangkat dari kompleksitas metode-metode penelitian di dalam institusi kependidikan dan konsekuensikosekuensi etikanya mungkin setidaknya diantisipasi, terutama pada peneliti yang tidak berpengalaman. Serangkaian permasalahan dari dari jenis ini bisa berkembang dalam metodemetode pengamatan atau penelitian-penelitian etnogrepis, contohnya, atau dalam penelitian tindakan atau evaluasi perkembangan. Sehingga, para peneliti akan sering menemukan bahwa permasalahan etika dan metodologikal tidak mungkin keluar dan jalin menjalin dalam penelitian yang kami sebut sebagi kualitatif atau interpretatif. Seperti yang dikatakan oleh Hitehcoch dan Hughes: Melakukan observasi partisipan atau mewawancarai salah sat teman akan menimbulkan permasalahan yang secara langsung berhubungan dengan wujud teknik penelitian yang dilakukan. Tingkat keterbukaan atau penutupan dari wujud penelitian dan tujuan-tujuannya adalah satu hal yang secara langsung mengadapi peneliti guru (Hithcock dan Hughes, 1989:199) Mereka melanjutkannya untuk menempatkan jenis-jenis pertanyaan yang mungkin muncul dalam situasi seperti itu: Dimana bagi para peneliti melakukan mengakhiri pengamatan formal dan memulai pengamatan informal?. Apakah bisa dibatasi dengan menjadi terbuka dengan beberapa guru dan dengan orang lain? Berapa banyak para peneliti dapat memberikan para siswa tentang suatu permasalahan legitimasi data tertentu dan dapatkah peneliti secara etika menggunakan materi yang pernah dijadikan bukti?, pertanyaan-pertanyaan ini tidak akan ada akhirnya. Kunci resolusi kesuksesan dari pertanyaan seperti itu berada pada pembentukan hubungan yang baik. Hal ini akan melibatkan perkembangan dalam hal hubungan antara para peneliti dan subyek-subyek mereka yang akan mengarah pada perasaan-perasaan tentang kepercayaan dan keyakinan

Karya tulis Kelly (1989 a) menyerankan bahwa dalam bidang penelitian kualitatif dimana antara etika seseorang harus menjadi sensitif terutapa terhadap penelitian tindakan, dan bahwa peneliti, sebagai guru mereka atau orang luar, harus menunjukankesadaran tertentu dan menjelaskannya dalam tambahan, cara yang tepat bekerja dengan partisipan lain di dalam organisasi sosial. Kemmis dan Mc Taggart (1981) dan dikutip Hopkins (1985) mengemukakan prinsip-prinsip etika sebagi pedoman bagi para peneliti, yaitu: Mengamati protokol: berhati-hatilah untuk memastikan bahwa orang-orang, komite, dan para pemegang kewenangan telah dikonsultasikan, diberitahukan, dan bahwa izin dan persetujuan yang diperlukan telah diperoleh. o Melibatkan partisipan: menyemangati orang lain yang berperan demi pentingnya perbaikan untuk membentuk pekerjaan o Menegosiasikan dengan orang-orang yang beroengaruh: tidak semua orang akan ingin secara langsung di libatkan: pekerjaan anda harus memperhitungkan tanggung jawab dan keinginan dari oarng lain. o Melaporkan kemajuan: jagalah pekerjaan untuk selalu dapat dilihat dan tetap terbuka terhadap saran-saran sehingga percabngan yang tidak terduga dan tidak terlihat dapat diatasi: reak-rekan kerja harus memiliki kesempatan untuk memberikan satu proteks kepada anda. o Mendapatkan kewenangan secara eksplisit: untuk menerapkan dimana anda ingin mengamati rekan profesional anda: dan dimana anda ingin menguji dokumentasi. o Menegosiasikan penjelasan tentang pekerjaan orang-orang. o Menegosisasikan pertimbangan terhadap pandangan orang lain. o Memperoses kewenangan secara eksplisif sebelum menggunakan kutipan-kutipan. o Menegosiasikan laporan-laporan untuk berbagai tingkatan peyebaran. o Menerima tanggung jawab untuk meningkatkan kerahasiaan. o Mendapatkan hak untuk melaporkan pekerjaan anda. o Buatlahn prinsip-prinsip prosedur anda terikat dan diketahui. Stike (1990), dalam karya tulisnya tentang etika evaluasi kependidikan, menawarkan dua prinsip yang luas yang mungkin berasal dari dasar pertimbangan yang lebih jauh dalam bidang evaluasi. Yaitu prinsip maksimalisasi keuntungan dan prinsip kesamaan kehormatan. Kita menghormati persamaan kepada semua orang. Hal ini menuntut kita untuk menganggap orang-orang sebagai

hasil penelitian bukan alat penelitian; menganggap mereka sebagai mahkluk yang bebas dan berakal; dan untuk menerima bahwa mereka memiliki hak dasar yang sama seperti yang lainnya. Strike melanjutkan pada dasar prinsip-prinsip etika berikut yang dia anggap sebagai hal yang penting bagi evaluasi guru: 1. prose yang hati-hati. Prosedur-prosedur evaliatif harus memastikan bahwa penilaianpenilaiannya masuk akal: diketahui dan diterima standar-standar yang secara konsisten diterapkan dari kasus ke kasus, bahwa pembuktiannya masuk akal dan bahwa ada prosedurprosedur yang sistematis dan masuk akal untuk mengumpulkan dan menguji pembuktian. 2. privasi ini melibatkan suatu kah untuk mengontrol informasi tentang orang itu sendiri dan melindungi orang-orang dari campur tangan yang tidak diinginkan. 3. persaman. Di dalam konteks evaluasi, hal ini dapat dimengerti sebagai suatularangan terhadap pembuatan keputusan pada dasar-dasar yang tidak heleran, seperti tas, agama, jenis kelamin, etnis atau orientasi seksual. 4. pandangan publik. Prinsip ini memerlukan keretbukaan terhadap publik berkenaan dengan prosedur-prosedur evaluatif, tujuan-tujuan mereka dan hasil-hasilnya. 5. keramah tamahan. 6. keuntungan klien. Prinsip ini menuntut bahwa keputusan-keputusan evaluatif dibuat dengan menghargai kepentingan-kepentingan siswa, orang tua dan publik, dan juga institusi kependidikan dan stufnya. 7. kebebasan akademis. Hal ini memerlukan keterbukaan intelektual antara guru dan siswa di dalam kelas. 8. menghargai otonomi. Berhak atas kebijaksanaan yang masuk akal, dan untuk melatih penilaian yang masuk akal tentang pekerjaanmereka. Strike telah mengembangkan prinsip-prinsip ini dalam bentuk yang lebih luas dan sistematis dalam artikelnya. Akhirnya kami mencatat ketiga prinsip yangstrike aplikasikan pada tugas resolusi konflik, untuk memecahkan perbedaan antara guru dan institusi dimana mereka bekerja sebagai hasil dari proses evaluasi.

KESIMPULAN Buku ini berkenaan dengan metode-metode yang digunakan di dalam penelitian pendidikan dan didalam bab ini kita telah mencoba untuk mengenalkan pembaca dengan permasalahan etika yang sepertinya dialami didalam pelaksanaan penelitian. Diakhir buku ini, kita telah menarik konsep-konsep dan gagasan-gagasan dari pertimbangan-perimbangan dan penyelidikanpenyelidikan didalam bidang-bidang kependidikan, psikologi, psikologi sosial, dan sosiologi. Diharapkan bahwa beberapa halaman buku ini akan menyebabkan kecenderungan tertentu dalam diri pembaca yang akan memungkinkan mereka untuk mendekati proyek-proyek milik mereka sendiri dengan suatu kesadaran yang besar dan pemahaman yang penuh dilema-dilema etika dan permasalahan moral dari proses penelitian. Suatu ilustrasi code etik, yaitu: 1. penting bagi para peneliti untuk mengungkap sepenuhnya identitas dan latar belakang mereka. 2. tujuan dan prosedur penelitian harus di jelaskan sepenuhnya kepada subyek pada tahap persiapan. 3. penelitian dan konsekuensi etikanya harus dilihat dari sudut pandang subyek dan institusi 4. memastikan apakah penelitian menguntungkan subyek dalam hal apapun. 5. dimana perlu, pastikan penelitian tidak membahayakan subyek dalam hal apapun. 6. penemuan-penemuan kontroversial yang memungkinkan perlu untu diantisipasi. 7. penelitian harus dijadikan seobyektif mungkin. Hal ini akan membutuhkan pemikiran yang hati-hati yang di berikan untuk mendesain, melaksanakan dan melaporkan penelitian. 8. izin pemberitahuan harus didapatkan dari semua partisipan. Semua persetujuan yang dicapai pada tingkat ini harus dihargai. 9. terkadang diperlukan izin tertulis. 10. subyek haru mempunyai pilihan untuk menolak berperan serta dan mengetahui ini; dan hak untuk mengakhiri keterlibatan mereka kapanpun dan mengetahui hal ini juga. 11. penyusunan harus dibuat selama awas kontak untuk memberikan umpan balik bagi yang memintanya. Bisa dalam bentuk resume pengetahuan secara tertulis. 12. martabat, privasi dan kepentingan-kepentingan dari partisipan harus dihargai. Tahapan privasi dari subyek setelah penelitian diselesaikan harus dijamin. 13. kebohongan harus di gunakan hanya apabila bener-bener perlu.

14. saat dilema etika muncul, peneliti mungkin perlu untuk mengkonsultasikan para peneliti. Lain atau guru lain.