BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III PROFIL PERUSAHAAN

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pada era globalisasi saat ini, pertumbuhan industri dunia yang mencapai

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. ekonomi nasional. Hasil analisis lingkungan industri menunjukkan bahwa industri

BAB I PENDAHULUAN. dari negara-negara maju, baik di kawasan regional maupun kawasan global.

BAB II DESKRIPSI PERUSAHAAN. ada baru mampu memproduksi 4 juta ton per tahun.

Konsumsi Baja per Kapita Tahun 2014

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014

BAB I PENDAHULUAN. terjadi karena adanya upaya untuk mengejar ketertinggalan pembangunan dari

I. PENDAHULUAN Latar Belakang. Baja merupakan bahan baku penting dalam proses industri sehingga

BAB I PENDAHULUAN. antara satu negara dengan negara lainnya. Salah satu usaha yang selalu dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. termaktub dalam alenia ke-4 pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yaitu: (1)

BAB I PENDAHULUAN. yang adil dan makmur, merata baik materil maupun spiritual. Negara yang

BAB I PENDAHULUAN. mengejar ketertinggalan pembangunan dari negara-negara maju, baik di kawasan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Menteri Perindustrian Republik Indonesia PENGARAHAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA FORUM DIALOG DENGAN PIMPINAN REDAKSI JAKARTA, 30 JUNI 2015

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses pembangunan yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam mewujudkan pembangunannya, suatu negara membutuhkan biaya yang

BAB I PENDAHULUAN. usaha dituntut untuk lebih meningkatkan kualitas pengelolaannya. Dalam hal

I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang

BAB I PENDAHULUAN. samping komponen konsumsi (C), investasi (I) dan pengeluaran pemerintah (G).

PENDAHULUAN TREN GLOBAL DALAM FDI MENGAPA PERUSAHAAN BERINVESTASI DI LUAR NEGERI? MERGER DAN AKUISISI LINTAS BATAS RISIKO POLITIK DAN FDI

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. industri adalah baja tahan karat (stainless steel). Bila kita lihat di sekeliling kita

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tim Batubara Nasional

KEBIJAKAN MANAGEMEN RESIKO

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan

BAB I PENDAHULUAN I - 1

BAB I PENDAHULUAN. yang menunjukkan besarnya peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam suatu. angkatan kerja. Terakhir yaitu kemajuan teknologi.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara berkembang yang sedang membangun, membutuhkan dana yang cukup besar untuk membiayai pembangunan.

ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

HILIRISASI PEMBANGUNAN INDUSTRI BERBASIS MINERAL TAMBANG

HILIRISASI PEMBANGUNAN INDUSTRI BERBASIS MINERAL TAMBANG

PT. KRAKATAU STEEL(PERSERO) TBK

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 8 TAHUN 2009 SERI : E NOMOR : 2

SATU DEKADE KERJASAMA EKONOMI UNI EROPA-INDONESIA EKSPOR-IMPOR PENDORONG INVESTASI UNI EROPA DI INDONESIA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 12 / PRT / M / 2010 TENTANG PEDOMAN KERJASAMA PENGUSAHAAN PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM

BAB I PENDAHULUAN. faktor, di Indonesia sendiri banyak yang mengemukakan bahwa faktor-faktor

BAB I PENDAHULUAN. yang harus dihadapi dan terlibat didalamnya termasuk negara-negara di kawasan

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Laporan Perkembangan Deregulasi 2015

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. boleh dikatakan stabil selama lebih kurang tiga puluh tahun tiba-tiba harus. langsung berdampak pada perekonomian dalam negeri.

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. Adapun pembahasan mengenai Objek Penelitian dapat dilihat pada

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015

Copyright Rani Rumita

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara sedang berkembang di kawasan

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

Pertemuan 14 STRATEGI PEMASARAN INTERNASIONAL

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi suatu negara merupakan salah satu tolak ukur untuk

BAB I PENDAHULUAN. kedua negara berada pada tingkat yang bisa dibilang sangat baik. Hubungan

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN RUMUSAN HIPOTESIS. (pembelian barang-barang modal) meliputi penambahan stok modal atau barang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Setiap negara membutuhkan modal untuk membiayai proyek

PEMASARAN PRODUK INDUSTRI KONSTRUKSI PRACETAK PRATEGANG

V E R S I P U B L I K

BAB I PENDAHULUAN A. ALASAN PEMILIHAN JUDUL. Investasi merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi.

BAB I PENDAHULUAN. sektor properti dan infrastruktur, dengan pertumbuhan Compound Annual

MASALAH INTERNASIONAL DALAM AKUNTANSI MANAJEMEN. HARIRI, SE., M.Ak Universitas Islam Malang 2017

Strategi dan Kebijakan Investasi di Indonesia Selasa, 25 Maret 2008

Boks.1 MODEL PENGELOLAAN PERTAMBANGAN BATUBARA YANG BERKELANJUTAN

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan penanaman modal juga harus sejalan dengan perubahan perekonomian

BAB V KESIMPULAN. para pemimpin yang mampu membawa China hingga masa dimana sektor

I. PENDAHULUAN. Perdagangan internasional merupakan salah satu aspek penting dalam

BERITA PERS. Portofolio Investasi Saratoga Makin Meningkat Didorong Kinerja Positif Perusahaan Investasi

BAB I PENDAHULUAN. tahun 2008 pendapatan per kapita Indonesia sudah meliwati US$ 2.000,

Trenggono Sutioso. PT. Antam (Persero) Tbk. SARI

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG PEMBERIAN INSENTIF DAN PEMBERIAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DI DAERAH

BAB I PENDAHULUAN. peranan daripada modal atau investasi. Modal merupakan faktor yang sangat

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Analisis Perkembangan Industri

Pengantar Bisnis. Tujuan, Sumber Daya, dan Stakeholders Bisnis MODUL PERKULIAHAN. Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional tersebut agar terlaksananya tujuan dan cita-cita bangsa

I. PENDAHULUAN. Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan. terbesar di dunia yang mempunyai lebih kurang pulau.

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEMBATA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERSPEKTIF IKLIM INVESTASI DI INDONESIA

II. TINJAUAN PUSTAKA. pembangunan yang terencana. Perencanaan wilayah adalah mengetahui dan

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bisnis global adalah merupakan kegiatan atau aktivitas pemenuhan kebutuhan dengan membeli dan menjual barang dan jasa dari atau ke Negara yang berbeda. Aktivitas global tersebut perlu adanya proses manajemen, sehingga yang dimaksud dengan manajemen global adalah manajemen organisasi yang melaksanakan bisnis di lebih dari satu Negara. Bisnis global adalah bisnis yang melakukan transaksi barang dan jasa melewati batas suatu Negara untuk tujuan memperoleh keuntungan. Dalam perekonomian global, segala bentuk dan ukuran bisnis internasional/multinational merupakan dasar dari perdagangan dunia serta perpindahan bahan baku, barang jadi dan jasa-jasa khusus dari satu Negara ke Negara lain Salah satu bentuk kerja sama internasioal itu adalah Joint Venture internasional. Joint venture merupakan sesuatu aliansi strategis yang membantu pihak-pihak terlibat untuk memperoleh manfaat yang akan diperoleh melalui cara bekerja sama, atau sulit untuk dicapai secara sendirian. Cara ini diwujudkan dalam bentuk pembelian saham dan atau investasi langsung dari suatu perusahaan asing dalam suatu wilayah lokal tertentu, cara lain dapat berupa pembentukan bentuk usaha yang baru sama sekali oleh perusahaan asing. Dalam makalah ini akan dibahas joint venture internasional antara Negara Indonesia dengan Korea Selatan dimana join venture PT Krakatau Steel dengan POSCO dari Korea Selatan yang bergerak dibidang pabrikan baja. PT Krakatau Steel (Persero) & POSCO Mendirikan Perusahaan Patungan Pabrik Baja Terpadu di Indonesia B. Tujuan Adapun tujuan dalam joint venture antara Indonesia dan Korea Selatan ini adalah antara PT Krakatau Steel dari Indonesia dan POSCO dari korea selatan akan didirikannya perusahaan pabrik baja yang akan di bangun di Indonesia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Dan Prinsip Joint Venture Joint Venture adalah suatu unit terpisah yang melibatkan dua atau lebih peserta aktif sebagai mitra. Joint venture merupakan kerja sama pemerintah dan swasta dimana tanggung jawab dan kepemilikan ditanggung bersama dalam hal penyediaan struktur. Menurut Peter Mahmud joint venture merupakan suatu kontrak antara dua perusahaan untuk membentuk satu perusahaan baru, perusahaan baru inilah yang disebut dengan perusahaan joint venture. Sedangkan pengertian menurut Erman Rajagukguk ialah suatu kerja sama antara pemilik modal asing dengan pemilik modal nasional berdasarkan perjanjian, jadi pengertian tersebut lebih condong pada joint venture yang bersifat internasional. Kedua pengertian tersebut mempunyai satu kesepakatan bahwasanya joint venture ialah suatu perjanjian, maka harus memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian menurut ketentuan dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Dalam kerja sama ini masing-masing pihak mempunya posisi yang seimbang. Dalam perusahaan. Kerja sama ini bertujuan untuk memadukan keunggulan sektor swasta seperti modal, teknologi, kemampuan manajemen, dengan keunggulan pemerintah yakni kewenangan dan kepercayaan masyarakat. Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat kita ketahui unsur-unsur yang terdapat dalam joint venture ialah : a. kerja sama antara pemilik modal asing ataupun swasta dan pemerintah b. membentuk perusahaan baru antara pengusaha asing dan nasional c. didasarkan pada kontraktual atau perjanjian d. bertujuan untuk memadukan keunggulan masing-masing pihak Dalam hal ini, perlu diperhatikan pemegang saham mayoritas dan minoritas karena hal ini berkaitan dengan kekuasaan dalam menjalankan perusahaan dan menentukan kebijakan perusahaan karena prinsip kerjasama ini satu saham satu suara. Dibawah joint venture pemerintah dan swasta harus bekerja sama dari tahap awal pembentukan lembaga sampai pada pembangunan proyek.

B. Struktur Pembiayaan Dalam kerja sama join venture ini, pihak swasta dan pemerintah harus berkontribusi dalam pembiayaan dari sejak awal, mulai dari pembiayaan studi kelayakan proyek sampai mempersiapkan investasi pada perusahaan baru ketika telah terbentuk. Modal bersama ini memerlukan kesepakatan sebelumnya untuk menanggung risiko dan membagi keuntungan sacara bersama-sama. Dengan kata lain, masing-masing pihak harus memiliki kontribusi melalui proyek pembanginan dan implementasinya. Secara optimal, perusahaan seharusnya membiayai secara independen. Tapi bagaimanapun tidak menutup kemungkinan pemerintah memberikan subidi pada perusahaan atau pada penggunaannya, namun hal ini dilakukan jika sangat mendesak dan diusahakan agar dihindari. C. Jenis Joint Venture Jenis perjanjian joint venture antara lain : a. Joint venture domestik Joint venture domestik didirikan antara perusahaan yang terdapat di dalam negeri. b. Joint venture Internasional Joint venture internasional ini didirikan di Indonesia oleh dua perusahaan dimana salah satunya perusahaan asing. D. Penanaman Modal Pengertian penanaman modal asing menurut Pasal 1 UU Nomor 1 Tahun 1967 Pengertian penanaman modal asing di dalam Undang-undang ini hanyalah meliputi modal asing secara langsung yang dilakukan menurut atau berdasarkan ketentuanketentuan Undang-undang ini dan yang digunakan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia. Kepemilikan atas investasi dalam joint venture dapat dilakukan secara bervariasi. Pada skala besar, perusahaan joint venture didirikan atas adanya perjanjian antara investor asing dan nasional. Perjanjian kerja sama ini memuat hak dan kewajiban para pihak. Kedudukan para pihak dalam pengurusan ditentukan berdasarkan prosentase pemilikan saham perusahaan. Presentase saham antara investor asing dan nasional biasanya tidaklah sama. Pada umumnya investor nasional adalah pemegang saham minoritas, sedangkan investor asing adalah mayoritas. Hal ini menyebabkan kelompok pemegang saham mayoritas cenderung menguasai pengelolaan perusahaan joint venture.

Ada 2 (dua) sifat khas penanaman modal asing, menurut Robert Gilpin, yaitu: a. Perusahaan multi/trans nasional (PMN/PTN) melakukan penanaman modal langsung di negara-negara asing (foreign direct investment, FDI ), melalui pendirian anak atau cabang perusahaan atau pengambilalihan sebuah perusahaan asing, dengan sasaran melakukan pengawasan manajemen terhadap suatu unit produksi di suatu negara asing, yang berbeda dengan penanaman modal fortofolio pembelian saham dalam suatu perusahaan. b. Suatu PMN ditandai dengan adanya perusahaan induk dan sekelompok anak perusahaan atau cabang perusahaan di berbagai negara dengan satu penampung bersama sumber-sumber manajemen, keuangan dan teknik dengan integrasi vertikal dan sentralisai pengambilan keputusan. Ditinjau dari negara yang terkait dalam PMN, maka ada 2 (dua) negara yang terkait yaitu negara asal investasi (home state) dengan negara tuan rumah (host state) atau negara yang merupakan pusat PMN (home country) dengan negara lain yang merupakan tempat perusahaan tersebut melakukan operasi atau kegiatanya (host country). Dalam rangka menarik penanaman modal asing ke Indonesia pada umumnya menyangkut tiga hal yaitu adanya peluang di bidang ekonomi, kepastian hukum, dan stabilitas politik. Adapun syarat-syarat untuk menarik modal asing adalah: a. Syarat keuntungan ekonomi (economic opportunity) Yaitu adanya kesempatan ekonomi bagi investor, seperti dekat dengan sumber daya alam, tersedianya bahan baku, tersedianya lokasi untuk mendirikan pabrik, tersedianya tenaga kerja dan pasar yang prospektif. b. Syarat Kepastian Hukum (legal certainity) Pemerintah harus mampu menegakkan hukum dan memberikan jaminan keamanan. Penerapan peraturan dan kebijakan, terutama konsistensi penegakan hukum dan keamanan serta memperbaiki sistem peradilan dan hukum merupakan suatu syarat yang sangat penting dalam rangka menarik investor. c. Syarat stabilitas politik (political stability) Penanaman modal asing pada suatu negara sangat dipengaruhi oleh faktor stabilitas politik (political stability). Konflik yang terjadi di antara elit politik atau dalam masyaratkat akan berpengaruh terhadap iklim penanaman modal. Selain itu, belum mantapnya kondisi sosial politik mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap arus penanaman modal.

Penanaman modal memberikan keuntungan kepada semua pihak, tidak hanya bagi investor saja, tetapi juga bagi perekonomian negara tempat modal itu ditanamkan serta bagi negara asal para investor. Pemerintah menetapkan bidangbidang usaha yang memerlukan penanaman modal dengan berbagai peraturan. Selain itu, pemerintah juga menentukan besarnya modal dan perbandingan antara modal nasional dan modal asing. Hal ini dilakukan agar penanaman modal tersebut dapat diarahkan pada suatu tujuan yang hendak dicapai. Bukan haya itu seringkali suatu negara tidak dapat menentukan politik ekonominya secara bebas, karena adanya pengaruh serta campur tangan dari pemerintah asing. Hal ini mengingat karena terbatasnya modal, skill dan teknologi yang dimiliki negara kita, serta banyaknya negara yang memerlukan kehadiran investor asing untuk menanamkan modal di negaranya. Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan penerimaan pajak, hasil ekspor migas dan non migas, tabungan dalam negeri dan bantuan luar negeri. Apabila hanya mengandalkan sumber-sumber tersebut maka angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan meningkat, untuk itulah diperlukan adanya penanaman modal asing. Indonesia memerlukan modal asing karena: a. Untuk menyediakan lapangan kerja; b. Melaksanakan substitusi import untuk meningkatkan devisa; c. Mendorong ekspor untuk mendapatkan devisa; d. Membangun daerah-daerah tertinggal dan sarana prasarana; e. Untuk industrialisasi atau alih teknologi. Penanaman modal asing diharapkan sebagai salah satu sumber pembiayaan dalam pembangunan infrastruktur seperti pelabuhan, telekomunikasi, perhubungan udara, air minum, listrik, air bersih, jalan, rel kereta api. Penanaman modal asing diperlukan untuk mengembangkan teknologi dan peningkatan ilmu pengetahuan, oleh karena itu diperlukan dana yang cukup besar. E. Kebijakan Dalam Menentukan Kepemilikan Di Joint Venture Adapun kebijaksanaan untuk menentukan persentase kepemilikan tersebut diatas, sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti : Partisipasi dalam keuntungan dan pertumbuhan usahanya. Pembagian aset pada waktu pailit. Kapasitas usaha pemegang saham, yang menyangkut misalnya baik tentang pengangkatan direktur dan distribusi asset maupun mengenai perubahan objek perusahaan, serta perubahan struktur modal. Kepatuhan pada kebijaksanaan domestic tentang PMA dari Negara mitra local

F. Masalah yang kerap terjadi di Join Venture a. Umumnya joint venture dengan pihak Asia jarang berhasil dikarenakan perbedaan budaya. b. Adanya pembagian saham 49 % (nasional) -51% (asing) membuat perusahaan asing dapat mengambil keputusan penting karena sahamnya lebih dari setengah, sedangkan bagi perusahaan nasional walaupun sahamnya mendekati 50 % namun tetap saja tidak dihitung sebagai setengah pemilik saham sehingga umumnya tidak dapat mengambil kepuusan penting c. Begitu juga dengan joint venture yang merupakan gabungan lebih dari dua perusahaan, misalkan 5 perusahaan. Maka pembagian sahampun biasanya kecil kecil, kemungkinan masing-masing hanya punya 20 % saja. Kemudian masalahnya adalah dalam pengambilan suatu keputusan akan terjadi pengoperan saham ke pihak lain, karena ketidakpuasan d. Yang bermasalah lagi adalah bila joint venture dengan susunan 50%-50%, maka keputusan tak dapat diambil,apalagi kalau tak ada yang mau mengalah. Karena itu jangan pernah membuat jointventure dengan susunan sama seperti itu.

BAB III BISNIS PROFILE A. Nama Perusahaan Joint Venture Internasional 1. PT Krakatau Steel (Persero) dari Indonesia 2. POSCO dari Korea Selatan B. Jenis Unit Bisnis Produksi baja C. Kegiatan Usaha 1. Pengembangan, rekayasa, pembiayaan, konstruksi, kepemilikan, pengoperasian dan pemeliharaan pabrik baja terpadu dan struktur dan fasilitas yang terkait yang akan berlokasi di Cilegon dengan kapasitas tahunan mencapai 6 juta ton yang akan dibangun dalam 2 tahap. 2. Penjualan dan ekspor produk baja yang diproses dan diproduksi di pabrik 3. Pengadaan bahan baku mentah dan sub bahan baku baja yang diproduksi di pabrik 4. Penjualan dan ekspor produk turunan dan pengolahan limbah yang dihasilkan pabrik 5. Penandatanganan dan pelaksanaan perjanjian proyekdan perjanjian pembiayaan D. Bentuk Kerja Sama dan Tehnis Pelaksanaan Adapun perjanjian kerjasama dan perbandingan kepemilikan antar kedua perusahaan dimulai dengan 70% untuk POSCO dan 30% untuk PT Krakatau Steel, yang akan bertambah menjadi 45% satu tahun setelah Final Acceptance Certificate (FAC) dengan cara membeli 15% saham dari POSCO, sehinga kepemilikan saham menjadi 55 % : 45%. Kapasitas produksi pabrik baja terpadu adalah 6 juta ton per tahun yang dibagi dalam 2 tahap, masing-masing dengan kapasitas 3 juta ton. Konstruksi tahap pertama akan dimulai pada semester kedua tahun ini dan ditargetkan selesai pada Desember 2013. Lahan konstruksi adalah lahan kosong yang terletak di samping pabrik PT Krakatau Steel (Persero) di kota pelabuhan Cilegon, sebelah Barat Laut Pulau Jawa, Indonesia.

CEO POSCO, Chung, Joon secara khusus meminta dukungan aktif dari Pemerintah Indonesia atas kerjasama ini. "Kami juga akan mengkaji beraneka bentuk kerjasama lainnya di berbagai bidang seperti infrastruktur, energi, dan lain-lain. Dari segi pembangunan pabrik baja terpadu, proyek investasi ini adalah proyek Greenfield yang harus didukung dengan penambahan kapasitas terpasang dan infrastruktur yang sudah dimiliki PT Krakatau Steel saat ini, seperti pelabuhan, pengolahan air untuk industri, pembangkit listrik, berikut jaringan distribusinya. Proyek investasi ini akan memberikan dampak ekonomi yang luas terhadap Indonesia, antara lain: peningkatan pendapatan dari sektor penerimaan pajak, penghematan devisa, peningkatan kebutuhan tenaga kerja, serta menciptakan peluang tumbuhnya industri pendukung. Rencana investasi tersebut di atas akan didukung oleh sumber daya nasional mengingat Indonesia memiliki cadangan bijih besi sebesar kurang lebih 2,4 miliar ton dan batu bara sebesar kurang lebih 13 miliar ton. Melalui pengembangan bersama bahan baku baja, Perusahaan Patungan ini diharapkan dapat menghasilkan produksi dengan harga kompetitif sehingga menciptakan keunggulan bersaing dan keuntungan bagi kedua perusahaan. Di masa yang akan datang, pada saat permintaan produk baja semakin meningkat, diharapkan hasil produk Perusahaan Patungan yang kompetitif tersebut dapat disalurkan tidak hanya di pasar domestik Indonesia namun juga diekspor ke berbagai pasar regional, antara lain India, daerah Asia Tenggara dan sekitarnya D. Profile PT Krakatau Steel 1. PT Krakatau Steel adalah perusahaan baja terbesar di Indonesia. BUMN yang berlokasi di Cilegon, Banten ini berdiri pada tanggal 31 Agustus 1970. Produk yang dihasilkan adalah baja lembaran panas, baja lembaran dingin, dan baja batang kawat. Hasil produk ini pada umumnya merupakan bahan baku untuk industri lanjutannya. 2. PT Krakatau Steel saat ini kapasitas produksi mencapai 2,5 juta ton per tahun dan merupakan industri baja terpadu terbesar di Asia Tenggara. 3. PT Krakatau Steel memiliki enam pabrik berbasis baja yang terdiri atas Pabrik Besi Pons, Pabrik Billet Baja, Pabrik Batang Kawat, Pabrik Slab Baja, Pabrik Pengerolan Baja Canai Panas (HSM), dan Pabrik Pengerolan Baja Canai Dingin (CRM).

E. Profile Tentang POSCO 1. Pohang Iron and Steel Company atau POSCO adalah perusahaan pembuat baja terbesar ketiga di dunia. Perusahaan ini berlokasi dipohang, Korea Selatan. POSCO memiliki dua pabrik baja yaitu di Pohang dan Gwangyang. POSCO dinilai penting dalam perkembangan industri Korea Selatan terutama karena pembangunan yang terus meningkat dalam bidang industri perkapalan dan otomotif di Korea Selatan. 2. Didirikan tahun 1968, POSCO telah tumbuh menjadi perusahaan papan atas dalam industri baja dunia dalam tempo tiga dekade. 3. POSCO memproduksi sekitar 28 juta ton baja setiap tahunnya, dan digunakan di lebih dari 60 negara. POSCO telah menggunakan teknologi otomasi pada pabrikpabrik bajanya yang berlokasi di kota pelabuhan Pohang dan Gwangyang di Korea sebagai jaringan produksi sinergis yang mendukung nilai kompetitif di tatanan internasional. 4. POSCO memproduksi berbagai jenis produk termasuk hot rolled coil dan cold rolled sheet, plate, wire rod, electrical steel, dan stainless steel.

BAB IV ANALISA Hubungan kerja sama internasional atau Joint Venture antar dua Negara yaitu Indonesia dan Malaysia ini bergerak dalam bidang baja, dimana akan diadakan pendirian pabrik baja di Indonesia. Joint venture ini tentu sangatlah baik dan menguntungkan. Adapun analisa alasan perseroan mendirikan perusahaan patungan yaitu sebagai berikut : 1. Menangkap peluang usaha pasar pelat baja yang pada saat ini belum dipenuhi dan akan terus tumbuh dimasa yang akan datang Hal ini mengingat sumber daya alam Indonesia memiliki cadangan bijih besi sebesar kurang lebih 2,4 miliar ton dan batu bara sebesar kurang lebih 13 miliar ton Mempertahankan posisi perusahaan sebagai produsen utama untuk baja lembaran 2. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui investasi yang kompetitif Dengan adanya joint venture ini diharapkan perusahaan diantara kedua nya saling meningkatan kinerja perusahaan sehingga investasi ini lebih sehat dan kompetitif. 3. Meningkatkan pertumbuhan usaha Krakatau Steel Grup mengingat peran anak perusahaan yang sangat besar dalam pembangunan fasilitas produksi perusahaan patungan 4. Mempertahakan posisi perusahaan sebagai produsen utama baja lembaran PT Krakatau steel merupakan perusahaan baja terbesar di Indonesia yang memproduksi baja lembaran. 5. Mendapatkan transfer of knowledge dari partner yang merupakan salah satu perusahaan baja terbaik di dunia Dengan adanya joint venture dengan POSCO ini, akan di dapat transfer of knowledge dari partner, hal ini dikarenakan POSCO merupakan perusahaan produksi baja terbesar ketiga di dunia.

Demikian analisa alasan mengapa PT Krakatau Steel mau mengadakan joint venture dengan POSCO dari Negara Korea Selatan yang merupaka pabrik baja terbesar ketiga di dunia.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 1. Akan diadakan kerjasama internasional antara 2 negara yaitu PT Krakatau Steel yang merupakan pabrik baja terbesar di Indonesia dengan POSCO dari Korea Selatan yang merupakan pabrik produksi baja terbesar ketiga di dunia. 2. Adapun persentase kepemilikan kerjasama ini adalah antar kedua perusahaan dimulai dengan 70% untuk POSCO dan 30% untuk PT Krakatau Steel, yang akan bertambah menjadi 45% satu tahun setelah Final Acceptance Certificate (FAC) dengan cara membeli 15% saham dari POSCO, sehinga kepemilikan saham menjadi 55 % : 45%. B. Saran 1. Salah satu masalah yang sering terjadi dalam joint venture ini adalah perbedaan budaya. Mengingat antara Indonesia dan Korea Selatan memiliki perbadaan budaya yang cukup significan 2. Apabila terjadi ketidakpuasan antara kedua belah pihak diharapkan penyelesaian masalah yang memberikan kepuasan pada masing-masing pihak walaupun terjadi pengoperan saham kepada pihak lain