Bakso ikan SNI 7266:2014

dokumen-dokumen yang mirip
Sosis ikan SNI 7755:2013

Siomay ikan SNI 7756:2013

Sarden dan makerel dalam kemasan kaleng

Kepiting (Scylla Serrata) kulit lunak beku Bagian 1: Spesifikasi

Ikan beku Bagian 1: Spesifikasi

Tuna dalam kemasan kaleng

Tuna loin segar Bagian 1: Spesifikasi

SNI Standar Nasional Indonesia. Filet kakap beku Bagian 1: Spesifikasi

Tugas Manajemen Mutu Terpadu. 3. Penanganan dan pengolahan Penanganan dan pengolahan cumi-cumi beku sesuai SNI :2010.

SNI Standar Nasional Indonesia. Ikan tuna dalam kaleng Bagian 1: Spesifikasi

Filet kakap beku Bagian 3: Penanganan dan pengolahan

SNI Standar Nasional Indonesia. Udang beku Bagian 3: Penanganan dan pengolahan

Ikan tuna dalam kaleng Bagian 3: Penanganan dan pengolahan

Terasi udang SNI 2716:2016

Udang beku Bagian 1: Spesifikasi

Ikan beku SNI 4110:2014

Ikan segar - Bagian 3: Penanganan dan pengolahan

Air demineral SNI 6241:2015

SNI 4482:2013 Standar Nasional Indonesia Durian ICS Badan Standardisasi Nasional

Susu segar-bagian 1: Sapi

Es untuk penanganan ikan - Bagian 1: Spesifikasi

Air mineral SNI 3553:2015

Air mineral alami SNI 6242:2015

SNI 3165:2009. Standar Nasional Indonesia. Copy SNI ini dibuat oleh BSN untuk Panitia Teknis Perumusan SNI Pertanian.

SNI 4230:2009. Standar Nasional Indonesia. Pepaya

Cara uji fisika Bagian 2: Penentuan bobot tuntas pada produk perikanan

BAB III BAHAN DAN METODE

MODUL 1 BAKSO IKAN. A. Deskripsi Bakso Ikan

Cara uji kimia- Bagian 2: Penentuan kadar air pada produk perikanan

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR KEP.61/MEN/2009 TENTANG PEMBERLAKUAN WAJIB STANDAR NASIONAL INDONESIA BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN

Tuna loin segar Bagian 2: Persyaratan bahan baku

MODUL 3 PENGOLAHAN IKAN TERI ASIN

Biji kakao AMANDEMEN 1

SNI Standar Nasional Indonesia. Sari buah tomat. Badan Standardisasi Nasional ICS

TINJAUAN PUSTAKA. Susu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. aroma spesifik dan mempunyai nilai gizi cukup tinggi. Bagian kepala beratnya

II. TINJAUAN PUSTAKA. disertai dengan proses penggilingan dan penjemuran terasi. Pada umumnya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Jahe untuk bahan baku obat

Bambu lamina penggunaan umum

Bibit rumput laut kotoni (Eucheuma cottonii )

Kulit masohi SNI 7941:2013

Cara uji kimia - Bagian 1: Penentuan kadar abu pada produk perikanan

Bibit induk (parent stock) umur sehari/kuri (day old chick) Bagian 1: Ayam ras tipe pedaging

Semen portland komposit

Ikan lele dumbo (Clarias sp.) Bagian 3 : Produksi induk

SNI Standar Nasional Indonesia. Saus tomat ICS Badan Standardisasi Nasional

SNI Standar Nasional Indonesia. Saus cabe

BAB III BAHAN DAN METODE

Bibit niaga (final stock) umur sehari/kuri (day old chick) Bagian 2: Ayam ras tipe petelur

Lampiran 1 Lembar penilaian uji organoleptik ikan segar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Beras bahan makanan yang dihasilkan oleh padi. Meskipun sebagai bahan

STANDAR NASIONAL INDONESIA SNI SNI UDC =========================================== SAUERKRAUT DALAM KEMASAN

Spesifikasi aspal emulsi kationik

Kawat baja tanpa lapisan untuk konstruksi beton pratekan (PC wire / KBjP )

PRAKTIKUM LAPANGAN TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN DAN KELAUTAN

Lampiran 1. Syarat Mutu Sosis Daging Menurut SNI

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia (archipelagic state).tiga perempat dari luas wilayah

Mutu karkas dan daging ayam

Cara uji kemampuan penyelimutan dan ketahanan aspal emulsi terhadap air

I. PENDAHULUAN. juga mengandung beberapa jenis vitamin dan mineral. Soeparno (2009)

2 TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1 Ikan Selais (O. hypophthalmus). Sumber : Fishbase (2011)

Cara uji kadar air total agregat dengan pengeringan

Minuman sari buah SNI

Gambar 1. Ikan Tongkol (Ethynnus affinis) (Sumber: Anonim b 2010 )

BAB III BAHAN DAN METODE

Analisis kadar abu contoh batubara

SNI Standar Nasional Indonesia. Minyak goreng. Badan Standardisasi Nasional ICS

Gaharu SNI 7631:2011. Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di website dan tidak untuk dikomersialkan

Lampiran 1. Kuisioner Uji Organoleptik (Uji skoring) Produk yang Diuji : Baso Kerang Darah Nama Panelis : Tanggal Uji :

PEMBUATAN TEPUNG JAGUNG

Mesin pemecah biji dan pemisah kulit kakao - Syarat mutu dan metode uji

BAB V PRAKTEK PRODUKSI YANG BAIK

BERITA NEGARA. BPOM. Pangan Campuran. Bahan Tambahan. Persyaratan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

Cara uji kimia - Bagian 3: Penentuan kadar lemak total pada produk perikanan

Telur ayam konsumsi SNI 3926:2008

ABSTRAK. Kata kunci: Penaeus sp, stick, limbah kulit udang PENDAHULUAN

Metode uji residu aspal emulsi dengan penguapan (ASTM D , IDT)

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PERSYARATAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN CAMPURAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4. Deskripsi Produk cakalang precooked loin beku di PT.GEM

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

MODUL 4 PRESTO IKAN. Standar Unit Kompetensi: Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu membuat presto ikan yang bercita rasa enak.

Cara uji titik lembek aspal dengan alat cincin dan bola (ring and ball)

Kayu lapis indah jenis jati Bagian 1: Klasifikasi, persyaratan dan penandaan

LAMPIRAN B1 E2 A3 E3 B3

Metode uji penentuan campuran semen pada aspal emulsi (ASTM D , IDT)

Yoghurt Sinbiotik - Minuman Fungsional Kaya Serat Berbasis Tepung Pisang

Lampiran 1. Sertifikat HACCP Frozen Cooked Tuna

CONTOH SSOP PADA PROSES PENGOLAHAN SOSIS AYAM. Potensi Hazard Tujuan Petunjuk SSOP-nya

MODUL 2 NUGGET IKAN. Indikator Keberhasilan: Mutu nugget ikan yang dihasilkan memiliki tekstur yang kenyal dan rasa khas ikan.

Cara uji penetrasi aspal

2017, No Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 227, Tambahan Lembaran Negar

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. batok sabut kelapa (lunggabongo). Sebelum dilakukan pengasapan terlebih dahulu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

ZULISTIA Air dan air limbah Bagian 80: Cara uji warna secara spektrofotometri SNI :2011

Kayu gergajian Bagian 3: Pemeriksaan

Ikan lele dumbo (Clarias sp.) Bagian 2 : Benih

Cara uji berat jenis aspal keras

2 ekspor Hasil Perikanan Indonesia. Meskipun sebenarnya telah diterapkan suatu program manajemen mutu terpadu berdasarkan prinsip hazard analysis crit

Transkripsi:

Standar Nasional Indonesia Bakso ikan ICS 67.120.30 Badan Standardisasi Nasional

BSN 2014 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini dengan cara dan dalam bentuk apapun serta dilarang mendistribusikan dokumen ini baik secara elektronik maupun tercetak tanpa izin tertulis dari BSN BSN Gd. Manggala Wanabakti Blok IV, Lt. 3,4,7,10. Telp. +6221-5747043 Fax. +6221-5747045 Email: dokinfo@bsn.go.id www.bsn.go.id Diterbitkan di Jakarta

Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi... 2 4 Syarat bahan baku, bahan penolong dan bahan lainnya... 2 5 Persyaratan mutu dan keamanan produk... 3 6 Pengambilan contoh... 4 7 Cara uji... 4 8 Teknik sanitasi dan higiene... 5 9 Peralatan... 5 10 Penanganan dan pengolahan... 5 11 Syarat pengemasan... 9 12 Pelabelan... 9 Lampiran A (normatif) Lembar penilaian sensori bakso ikan... 10 Lampiran B (informatif) Diagram alir proses pengolahan bakso ikan... 11 Bibliografi... 12 Tabel 1 - Persyaratan mutu dan keamanan bakso ikan... 3 Tabel A.1 - Lembar penilaian sensori bakso ikan... 10 Gambar B.1 - Diagram alir proses pengolahan bakso ikan... 11 BSN 2014 i

Prakata Dalam rangka memberikan jaminan mutu dan keamanan pangan komoditas bakso ikan yang akan dipasarkan di dalam dan luar negeri, maka perlu disusun suatu Standar Nasional Indonesia (SNI) sebagai upaya untuk meningkatkan jaminan mutu dan keamanan pangan. Standar ini merupakan revisi dari: SNI 01-7266.1-2006, Bakso ikan beku - Bagian 1: Spesifikasi, SNI 01-7266.2-2006, Bakso ikan beku - Bagian 2: Persyaratan bahan baku, SNI 01-7266.3-2006, Bakso ikan beku - Bagian 3: Penanganan dan pengolahan Standar ini disusun oleh Panitia Teknis 65-05 Produk Perikanan, yang telah dirumuskan melalui rapat teknis, dan terakhir disepakati dalam rapat konsensus pada tanggal 3 September 2013 di Bandung dihadiri oleh wakil dari produsen, konsumen, asosiasi, lembaga penelitian, perguruan tinggi serta instansi terkait sebagai upaya untuk meningkatkan jaminan mutu dan keamanan pangan. Berkaitan dengan penyusunan Standar Nasional Indonesia ini, maka aturan-aturan yang dijadikan dasar atau pedoman adalah: 1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. 2. Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. 3. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. 6. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan. 7. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor KEP.06/MEN/2002 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemeriksaan Mutu Hasil Perikanan yang Masuk ke Wilayah Republik Indonesia. 8. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor KEP.01/MEN/2007 tentang Persyaratan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan pada Proses Produksi, Pengolahan dan Distribusi. 9. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan, 10. Peraturan Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI Nomor HK.00.06.1.52.4011 Tahun 2009 tentang Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba dan Kimia dalam Makanan. 11. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor PER.19/MEN/2010 tentang Pengendalian Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan. 12. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor PER.15/MEN/2011 tentang Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan yang Masuk ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia. 13. Keputusan Direktur Jenderal Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Nomor 61/KRP-DJPB/2013 tentang Batas Maksimum Residu Pada ikan. Standar ini telah melalui proses jajak pendapat pada tanggal 8 November 2013 sampai dengan 6 Januari 2014 dengan hasil akhir RASNI. BSN 2014 ii

1 Ruang lingkup Bakso ikan Standar ini menetapkan syarat mutu dan keamanan pangan bakso ikan, bahan baku, bahan penolong, dan bahan lainnya serta penanganan dan pengolahan bakso ikan. Standar ini berlaku untuk bakso ikan yang diolah dengan atau tanpa pembekuan dan tidak berlaku untuk produk yang mengalami pengolahan lebih lanjut. 2 Acuan normatif Acuan ini merupakan dokumen yang digunakan dalam standar ini. Untuk acuan bertanggal, edisi yang berlaku sesuai yang tertulis. Sedangkan untuk acuan yang tidak bertanggal, berlaku edisi yang terakhir (termasuk amandemen). SNI 2326:2010, Metode pengambilan contoh pada produk perikanan. SNI 01-2332.1-2006, Cara uji Mikrobiologi Bagian 1: Penentuan Coliform dan Escherichia coli pada produk perikanan. SNI 01-2332.2-2006, Cara uji Mikrobiologi - Bagian 2: Penentuan Salmonella pada produk perikanan. SNI 01-2332.3-2006, Cara uji Mikrobiologi Bagian 3: Penentuan Angka Lempeng Total (ALT) pada produk perikanan. SNI 01-2332.4-2006, Cara uji Mikrobiologi Bagian 4: Penentuan Vibrio cholerae pada produk perikanan. SNI 01-2332.5-2006, Cara uji Mikrobiologi Bagian 5: Penentuan Vibrio parahaemolyticus pada produk perikanan. SNI 2332.9:2011, Cara uji mikrobiologi - Bagian 9: Penentuan Staphylococcus aureus pada produk perikanan. SNI 2346:2011, Petunjuk pengujian organoleptik dan atau sensori pada produk perikanan. SNI 01-2354.1:2010, Cara uji kimia - Bagian 4: Penentuan kadar abu dan abu tak larut dalam asam pada produk perikanan. SNI 01-2354.2-2006, Cara uji kimia - Bagian 2: Penentuan kadar air pada produk perikanan. SNI 01-2354.4-2006, Cara uji kimia - Bagian 4: Penentuan kadar protein dengan metode total nitrogen pada produk perikanan SNI 2354.5:2011, Cara uji kimia Bagian 5: Penentuan kadar logam berat timbal (Pb) dan kadmium (Cd) pada produk perikanan. SNI 2354.6-2006, Cara uji kimia- Bagian 6: Penentuan kadar logam berat merkuri (Hg) pada produk perikanan. SNI 2354.10:2009, Cara uji kimia - Bagian 10: Penentuan kadar histamin dengan spektroflorometri dan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) pada produk perikanan. SNI 2357, Penentuan kadar arsen (As) pada produk perikanan. SNI 2367, Penentuan kadar timah putih (Sn) pada produk perikanan. SNI 2372.7-2011, Cara uji fisika - Bagian 7: Pengujian filth pada produk perikanan. BSN 2014 1 dari 12

SNI 2694:2013, Surimi. SNI 2729:2013, Ikan segar. SNI 4110, Ikan beku. SNI 4872, Es untuk penanganan ikan. 3 Istilah dan definisi 3.1 bakso ikan produk olahan hasil perikanan yang menggunakan lumatan daging ikan atau surimi minimum 40% dicampur tepung, dan bahan-bahan lainnya bila diperlukan, yang mengalami pembentukan dan pemasakan 3.2 tetelan ikan sisa daging yang merupakan hasil samping proses pengolahan ikan 3.3 pemasakan proses pematangan produk dengan cara memasukkan ke dalam air panas dengan dua tahap pemanasan bertingkat sesuai suhu dan waktu yang ditentukan 3.4 potensi bahaya potensi kemungkinan terjadinya bahaya di dalam suatu proses atau pengolahan produk yaitu bahaya yang akan mengakibatkan gangguan terhadap keamanan pangan (food safety) 3.5 potensi cacat mutu potensi kemungkinan terjadinya ketidaksesuaian spesifikasi mutu produk (wholesomeness) 4 Syarat bahan baku, bahan penolong dan bahan lainnya 4.1 Bahan baku 4.1.1 Jenis Semua jenis ikan dari kelompok pisces hasil penangkapan atau budidaya. 4.1.2 Bentuk Ikan segar; ikan beku; tetelan ikan; lumatan daging ikan dan surimi dengan mutu sesuai spesifikasi. 4.1.3 Asal Bahan baku berasal dari perairan yang tidak tercemar. BSN 2014 2 dari 12

4.1.4 Mutu Ikan segar sesuai SNI 2729:2013. Ikan beku sesuai SNI 4110. Tetelan ikan dan lumatan daging ikan mempunyai karakteristik: - Kenampakan : warna cerah spesifik jenis, bersih, bebas dari sisik, tulang dan duri - Bau : segar spesifik jenis - Tekstur : kompak Surimi sesuai SNI 2694. 4.2 Bahan penolong 4.2.1 Air Air yang dipakai sebagai bahan penolong untuk kegiatan di unit pengolahan memenuhi persyaratan kualitas air minum sesuai dengan ketentuan yang berlaku 4.2.2 Es Es sesuai SNI 4872. 4.3 Bahan lainnya Bahan lain yang digunakan harus food grade dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 4.4 Bahan tambahan pangan Bahan tambahan pangan yang digunakan harus food grade dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 5 Persyaratan mutu dan keamanan produk Persyaratan mutu dan keamanan bakso ikan sesuai Tabel 1. Tabel 1 - Persyaratan mutu dan keamanan bakso ikan Parameter uji Satuan Persyaratan a Sensori Min 7 (skor 1-9) b Kimia - Kadar air % Maks 65 - Kadar abu % Maks 2,0 - Kadar protein % Min 7 - Histamin* mg/kg Maks 100 c Cemaran mikroba - ALT - Escherichia coli - Salmonella - Staphylococcus aureus - Vibrio cholera** - Vibrio parahaemolyticus** koloni/g APM/g per 25 g koloni/g per 25 g per 25 g Maks 1,0 x 10 5 < 3 Negatif Maks 1,0 x 10 2 Negatif Negatif BSN 2014 3 dari 12

d e Tabel 1 - Persyaratan mutu dan keamanan bakso ikan (lanjutan) Parameter uji Satuan Persyaratan Cemaran logam** - Kadmium (Cd) - Merkuri (Hg) - Timbal (Pb) - Arsen (As) - Timah (Sn) mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg mg/kg Maks 0,1 Maks 0,5 Maks 0,3 Maks 1,0 Maks 40,0 Cemaran fisik** - Filth 0 CATATAN * Untuk bahan baku yang berasal dari jenis scombroidae ** Bila diperlukan 6 Pengambilan contoh Cara pengambilan contoh sesuai SNI 2326:2010. 7 Cara uji 7.1 Sensori Sensori sesuai SNI 2346:2011. Penilaian sensori sesuai lampiran A. 7.2 Cemaran mikroba - ALT sesuai SNI 01-2332.3-2006. - Escherichia coli sesuai SNI 01-2332.1-2006. - Salmonella sesuai SNI 01-2332.2-2006. - Vibrio cholerae sesuai SNI 01-2332.4-2006. - Vibrio parahaemolyticus sesuai SNI 01-2332.5-2006. - Staphylococcos aureus sesuai SNI 2332.9:2011. 7.3 Kimia - Kadar air sesuai SNI 01-2354.2-2006. - Kadar abu dan sesuai SNI 01-2354.1:2010. - Kadar protein sesuai SNI 01. 2354.4-2006. - Kadar histamin sesuai SNI 2354.10:2009. 7.4 Cemaran logam - Timbal dan kadmium sesuai SNI 2354.5:2011. - Merkuri sesuai SNI 01-2354.6-2006. - Arsen sesuai SNI 2357. - Timah putih sesuai SNI 2367. 7.5 Cemaran fisik - Filth sesuai SNI 2372.7:2011. BSN 2014 4 dari 12

8 Teknik sanitasi dan higiene Penanganan, pengolahan, pengemasan, penyimpanan, pendistribusian dan pemasaran bakso ikan menggunakan wadah, cara dan alat yang sesuai dengan persyaratan sanitasi dan higiene dalam unit pengolahan hasil perikanan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Produk akhir harus bebas dari benda asing yang mengganggu kesehatan manusia. 9 Peralatan 9.1 Jenis peralatan a) alat pemasakan; b) alat pemisah daging dan tulang; c) alat pemotong; d) alat pencetak; e) alat pengaduk; f) alat pengemas; g) alat penirisan; h) alat penyimpanan beku; i) meja proses; j) timbangan; k) wadah. 9.2 Persyaratan peralatan Semua peralatan yang digunakan dalam penanganan dan pengolahan bakso ikan mempunyai permukaan yang halus dan rata, tidak mengelupas, tidak berkarat, tidak merupakan sumber cemaran mikroba, tidak retak, tidak menyerap air, tidak mempengaruhi mutu produk dan mudah dibersihkan. Semua peralatan dalam keadaan bersih, sebelum, selama dan sesudah digunakan. 10 Penanganan dan pengolahan 10.1 Penerimaan 10.1.1 Kemasan a) Potensi bahaya: kemasan rusak dan kemasan non food grade yang akan mengakibatkan terjadinya kontaminasi produk. b) Potensi cacat mutu: dehidrasi, perubahan warna produk karena kerusakan kemasan. c) Tujuan: mendapatkan kemasan yang sesuai spesifikasi kemasan untuk pangan. d) Petunjuk: kemasan yang diterima di unit pengolahan diverifikasi terkait keamanan pangan, dan terlindung dari sumber kontaminasi kemudian disimpan pada gudang penyimpanan yang saniter. 10.1.2 Label a) Potensi bahaya: non food grade, kotor karena kesalahan penanganan. b) Potensi cacat mutu : - c) Tujuan: mendapatkan label yang sesuai spesifikasi label untuk pangan. BSN 2014 5 dari 12

d) Petunjuk: label yang diterima di unit pengolahan diverifikasi terkait keamanan pangan dan kesesuaian terhadap produknya, kemudian disimpan pada gudang penyimpanan yang saniter. 10.1.3 Bahan baku dan bahan lainnya a) Potensi bahaya: kontaminasi kimia, mikroba patogen dan benda asing. b) Potensi cacat mutu: kemunduran mutu dan denaturasi protein karena kesalahan penanganan. c) Tujuan: mendapatkan bahan baku dan bahan lainnya sesuai spesifikasi mutu dan keamanan bahan pangan. d) Petunjuk: bahan baku dan bahan lainnya diuji secara uji sensori dan ditangani secara cepat, cermat, saniter sesuai dengan prinsip teknik penanganan yang baik dan benar dalam kondisi suhu dingin. Untuk bahan baku dari jenis scombroidae diterima dan selama proses penanganan dipertahankan pada suhu maksimal 4,4 C. 10.2 Teknik penanganan dan pengolahan 10.2.1 Bahan baku 10.2.1.1 Bahan baku ikan utuh segar a) Potensi bahaya: kontaminasi kimia, mikroba patogen dan benda asing. b) Potensi cacat mutu: kemunduran mutu karena kesalahan penanganan. c) Tujuan: mempertahankan mutu bahan baku sesuai spesifikasi. d) Petunjuk: ikan utuh segar ditangani secara cepat, cermat dan saniter dalam kondisi suhu dingin. 10.2.1.2 Bahan baku ikan utuh beku a) Potensi bahaya: kontaminasi kimia dan mikroba patogen. b) Potensi cacat mutu: kemunduran mutu karena kesalahan penanganan. c) Tujuan: mempertahankan mutu bahan baku sesuai spesifikasi. d) Petunjuk: ikan utuh beku ditangani secara cepat, cermat dan saniter dengan suhu pusat maksimal -18 C. 10.2.1.3 Bahan baku tetelan ikan, lumatan daging dan atau surimi a) Potensi bahaya: kontaminasi kimia, mikroba patogen dan benda asing. b) Potensi cacat mutu: kemunduran mutu karena kesalahan penanganan. c) Tujuan: mempertahankan mutu bahan baku sesuai spesifikasi. d) Petunjuk: tetelan ikan, lumatan daging dan atau surimi yang diterima di ditangani secara cepat, cermat dan saniter dalam kondisi suhu beku. 10.2.2 Pelelehan a) Potensi bahaya: kontaminasi kimia, mikroba patogen dan benda asing karena kurangnya sanitasi dan higiene. b) Potensi cacat mutu: kemunduran mutu karena kesalahan penanganan. c) Tujuan: mendapatkan bahan baku sesuai spesifikasi. d) Petunjuk: bahan baku beku yang masih dalam kemasan dilelehkan (thawing) secara cermat dan saniter dengan mempertahankan suhu dingin. BSN 2014 6 dari 12

10.2.3 Penyiangan a) Potensi bahaya: kontaminasi mikroba patogen karena kurangnya sanitasi dan higiene. b) Potensi cacat mutu: benda asing karena kesalahan penanganan. c) Tujuan: mendapatkan ikan yang bersih, tanpa kepala dan isi perut serta mereduksi kontaminasi mikroba patogen. d) Petunjuk: ikan disiangi dengan cara membuang kepala dan isi perut. Penyiangan dilakukan secara cepat, cermat dan saniter dalam kondisi dingin. 10.2.4 Pencucian a) Potensi bahaya: kontaminasi mikroba patogen karena kurangnya sanitasi dan higiene. b) Potensi cacat mutu: ikan tidak bersih. c) Tujuan: mendapatkan bahan baku yang bersih sesuai spesifikasi. d) Petunjuk: bahan baku dicuci menggunakan air mengalir secara cepat, cermat dan saniter dalam kondisi dingin. 10.2.5 Pemisahan daging dari tulang, duri dan kulit a) Potensi bahaya: kontaminasi mikroba patogen karena kurangnya sanitasi dan higiene. b) Potensi cacat mutu: kemunduran mutu karena kesalahan penanganan dan terdapatnya benda asing pada daging ikan. c) Tujuan: mendapatkan daging ikan yang bersih dari duri, tulang dan kulit. d) Petunjuk: daging ikan dipisahkan secara mekanis dari duri, tulang dan kulit dengan cepat, cermat dan saniter dalam kondisi dingin. 10.2.6 Pelumatan a) Potensi bahaya: kontaminasi mikroba patogen karena kurangnya sanitasi dan higiene. b) Potensi cacat mutu: lumatan daging ikan tidak sesuai spesifikasi. c) Tujuan: mendapatkan lumatan daging ikan sesuai spesifikasi. d) Petunjuk: daging ikan dilumatkan secara mekanis dengan cepat, cermat dan saniter dalam kondisi dingin. 10.2.7 Pencampuran a) Potensi bahaya: kontaminasi mikroba patogen, benda asing, b) Potensi cacat mutu: kesalahan komposisi, kemunduran mutu karena kesalahan penanganan, tekstur tidak sesuai dengan spesifikasi, tidak homogen. c) Tujuan: mendapatkan adonan yang homogen dan bebas kontaminasi. d) Petunjuk: lumatan daging ikan dimasukkan ke dalam alat pencampur, ditambahkan garam dan dicampur hingga didapatkan adonan yang lengket. Selanjutnya dilakukan penambahan bumbu lainnya, dicampur sampai homogen. Proses dilakukan secara cepat, cermat dan saniter dengan mempertahankan suhu maksimum 10 C. 10.2.8 Pembentukan a) Potensi bahaya: kontaminasi mikroba patogen karena kurangnya sanitasi dan higiene. b) Potensi cacat mutu: kemunduran mutu karena kesalahan penanganan. c) Tujuan: mencetak adonan sesuai spesifikasi d) Petunjuk: adonan dicetak dengan bentuk dan ukuran sesuai spesifikasi BSN 2014 7 dari 12

10.2.9 Pemasakan a) Potensi bahaya: terdapatnya mikroba patogen karena suhu tidak tercapai. b) Potensi cacat mutu: tekstur tidak sesuai spesifikasi. c) Tujuan: mendapatkan tekstur bakso ikan yang baik. d) Petunjuk: adonan yang sudah dicetak direbus pada suhu 40 C 70 C selama 10-20 menit kemudian dilanjutkan perebusan pada suhu 90 C 100 C sampai mengapung. 10.2.10 Pendinginan a) Potensi bahaya: kontaminasi mikroba patogen karena kurangnya sanitasi dan higiene. b) Potensi cacat mutu: kemunduran mutu karena kesalahan. c) Tujuan: untuk menurunkan suhu bakso ikan setelah tahap perebusan dan bebas kontaminasi mikroba patogen. d) Petunjuk: bakso ikan didinginkan dengan cara ditiriskan atau dibantu dengan blower atau kipas angin, secara cepat, cermat dan saniter. 10.2.11 Sortasi a) Potensi bahaya: Kemunduran mutu karena kesalahan penanganan dan kontaminasi mikroba patogen. b) Potensi cacat mutu: Ketidakseragaman bentuk dan ukuran. c) Tujuan: mendapatkan bakso ikan dengan bentuk dan ukuran yang seragam serta bebas dari kontaminasi mikroba patogen. d) Petunjuk: bakso ikan yang tidak seragam bentuk dan ukurannya dipisahkan. Sortasi dilakukan secara cepat, cermat dan saniter. 10.2.12 Pengemasan dan penimbangan a) Potensi bahaya: kontaminasi mikroba patogen. b) Potensi cacat mutu: Kemunduran mutu karena kesalahan penanganan. c) Tujuan: memasukkan bakso ikan ke dalam pengemas, sesuai dengan berat yang ditentukan serta bebas dari kontaminasi mikroba patogen. d) Petunjuk: bakso ikan dimasukkan ke dalam pengemas plastik dan ditimbang sesuai dengan berat yang ditentukan. Kemasan ditutup menggunakan alat penutup sealer atau vacuum sealer. Penimbangan dan pengemasan dilakukan secara cepat, cermat dan saniter. 10.2.13 Pembekuan (untuk bakso ikan beku) a) Potensi bahaya: - b) Potensi cacat mutu: suhu pusat tidak tercapai 18 C karena pembekuan yang tidak sempurna (partial freezing). c) Tujuan: mendapatkan mutu bakso ikan sesuai dengan spesifikasi. d) Petunjuk: bakso ikan disusun dalam pan pembekuan, dibekukan dalam alat pembeku (freezer) dengan metode pembekuan cepat hingga mencapai suhu pusat maksimum -18 C. 10.2.14 Penyimpanan Beku a) Potensi bahaya: - b) Potensi cacat mutu: terjadinya driploss karena fluktuasi suhu penyimpanan. c) Tujuan: mempertahankan mutu bakso ikan sesuai spesifikasi BSN 2014 8 dari 12

d) Petunjuk: produk disusun secara rapi di dalam tempat penyimpanan beku dan suhu penyimpanan dipertahankan stabil dengan sistem penyimpanan First In First Out (FIFO). 11 Syarat pengemasan 11.1 Bahan kemasan Bahan kemasan untuk bakso ikan harus bersih, tidak mencemari produk yang dikemas, terbuat dari bahan yang baik dan memenuhi persyaratan bagi produk pangan. 11.2 Teknik pengemasan Produk dikemas dengan cepat, cermat, saniter dan higienis. Pengemasan dilakukan dalam kondisi yang dapat mencegah terjadinya kontaminasi. 12 Pelabelan Setiap kemasan produk yang akan diperdagangkan diberi label sesuai dengan ketentuan yang berlaku. BSN 2014 9 dari 12

Lampiran A (normatif) Lembar penilaian sensori bakso ikan Tabel A.1 - Lembar penilaian sensori bakso ikan Nama panelis :.. Tanggal :... Cantumkan kode contoh pada kolom yang tersedia sebelum melakukan pengujian. Berilah tanda pada nilai yang dipilih sesuai kode contoh yang diuji. Spesifikasi Nilai 1. Kenampakan - Permukaan halus, tidak berongga, cerah 9 - Permukaan kurang halus, sedikit berongga, kurang cerah 7 - Permukaan kasar, berongga, kusam 5 - Permukaan sedikit retakan, berongga agak banyak, kusam 3 - Permukaan banyak retakan, banyak rongga, sangat kusam 1 2. Bau - Spesifik produk 9 - Spesifik produk kurang 7 - Netral 5 - Agak busuk, tengik 3 - Busuk dan sangat tengik 1 3. Rasa - Spesifik produk 9 - Spesifik produk kurang 7 - Hambar 5 - Agak masam 3 - Masam 1 3. Tekstur - Padat, kompak, kenyal 9 - Padat, kompak, agak kenyal 7 - Tidak padat, tidak kompak, tidak kenyal 5 - Mudah pecah 3 - Sangat mudah pecah 1 Kode contoh 1 2 3 4 5 BSN 2014 10 dari 12

Lampiran B (informatif) Diagram alir proses pengolahan bakso ikan Penerimaan Penerimaan Penerimaan Bahan lainnya Bahan baku Bahan kemasan dan label Penyimpanan Tetelan ikan Utuh segar Utuh beku lumatan daging ikan/surimi Pelelehan Penyiangan Pencucian Pemisahan daging dari tulang, duri dan kulit Pelumatan Pencampuran Pembentukan Pemasakan Pendinginan Sortasi Pengemasan dan penimbangan Pembekuan (untuk bakso ikan beku) Penyimpanan beku Gambar B.1 - Diagram alir proses pengolahan bakso ikan BSN 2014 11 dari 12

Bibliografi Code of Practice of Fish and Fishery Products Adopted 2003, revision 2012. CAC/ RCP 52-2003. Commission Regulation (EC) No 188/2006, Amending Regulation (EC) No 466/2001 as Regards Heavy Metals-Official Journal of the European Union. Council Regulation (EC) No 104/2000 (o) L 17.21.1.2000.p.22- Office for Official Publications of the European Communities. Recommended Code of Practice Food Standar Programme Codex Alimentarius Commission (CODEX STAN 165-1989, REV.1-1995) for Quick Frozen Blocks of Fish Fillets, Minced Fish Flesh and Mixture of Fillets and Minced Fish Flesh. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia Nomor: HK 00.05.55.6497 tentang Bahan Kemasan Pangan, Tahun 2007. Permenkes No. 492/MENKES/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. BSN 2014 12 dari 12