III. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Padat Tebar (ekor/liter)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGGUNAAN NAUNGAN YANG BERBEDA PADA PENDEDERAN BENIH IKAN LELE DI BAK TERPAL MISHBAHUDDIN DHIYAA ULHAQ

HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN. yang sering diamati antara lain suhu, kecerahan, ph, DO, CO 2, alkalinitas, kesadahan,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 3 Data perubahan parameter kualitas air

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Tingkat Kelangsungan Hidup Benih Ikan Patin Siam

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DA PEMBAHASA

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Hasil Laju Pertumbuhan Spesifik Benih Ikan Mas (SGR)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 5. Grafik Pertambahan Bobot Rata-rata Benih Lele Dumbo pada Setiap Periode Pengamatan

BAB III BAHAN DAN METODE

EFEKTIFITAS SISTEM AKUAPONIK DALAM MEREDUKSI KONSENTRASI AMONIA PADA SISTEM BUDIDAYA IKAN ABSTRAK

Lampiran 1. Analisis pengaruh peningkatan kepadatan terhadap tingkat kelangsungan hidup (survival rate) benih ikan nilem

PENGGUNAAN AERASI AIR MANCUR (FOINTAIN) DI KOLAM UNTUK PERTUMBUHAN IKAN NILA GIFT(Oreochromis niloticus)

Gambar 4. Kelangsungan Hidup Nilem tiap Perlakuan

HASIL DAN PEMBAHASAN

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ikan Patin Siam ( Pangasius hypopthalmus 2.2. Transportasi Ikan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Tingkat Kelangsungan Hidup

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Januari April 2014 di Laboratarium Budidaya. Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

II. TINJAUAN PUSTAKA Ikan Gurami Osphronemus gouramy Lac.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2011 bertempat di. Balai Budidaya Ikan Hias, Natar, Lampung Selatan.

II. BAHAN DAN METODE

METODE PENELITIAN. M 1 V 1 = M 2 V 2 Keterangan : M 1 V 1 M 2 V 2

3. METODE Penelitian 1: Kecernaan pakan dan kecernaan protein pada pemeliharaan ikan lele.

Gambar 4. Grafik Peningkatan Bobot Rata-rata Benih Ikan Lele Sangkuriang

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Bahan Penelitian Jenis nutrien Kandungan (%) 2.2 Metode Penelitian Rancangan Penelitian

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari hasil pengukuran terhadap beberapa parameter kualitas pada

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

II. BAHAN DAN METODE

Bab V Hasil dan Pembahasan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae

II. BAHAN DAN METODE

PARAMETER KUALITAS AIR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelangsungan Hidup Ikan Nila Nirwana Selama Masa Pemeliharaan Perlakuan Kelangsungan Hidup (%)

PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN TERHADAP PRODUKSI PEMBESARAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) DI KERAMBA JARING APUNG WADUK CIRATA

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambar 2. Grafik Pertumbuhan benih ikan Tagih

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

282 Jurnal Perikanan (J. FISH. Sci) X (2) : ISSN:

PENGARUH KUALITAS AIR TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis sp.) DI KOLAM BETON DAN TERPAL

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Tahap Penelitian 2.2 Prosedur Kerja Penelitian Pendahuluan Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Selama Pemuasaan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN

PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN BETOK (Anabas testudineus) YANG DIPELIHARA PADA SALINITAS BERBEDA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

RINGKASAN LAPORAN KEAHLIAN TEKNIK PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI BAK TERPAL BAPPL STP SERANG, BANTEN

II. BAHAN DAN METODE

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENGARUH FOTOPERIODE TERHADAP PERTUMBUHAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) ABSTRAK

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

II. BAHAN DAN METODE

1) Staf Pengajar pada Prog. Studi. Budidaya Perairan, Fakultas

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Kelimpahan Nannochloropsis sp. pada penelitian pendahuluan pada kultivasi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Grafik pertumbuhan benih C. macropomum yang dihasilkan selama 40 hari

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 03 Februari sampai dengan 17

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Alat dan Bahan 2.2 Tahap Penelitian

PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP LOBSTER CAPIT MERAH Cherax quadricarinatus DIPELIHARA PADA SISTEM RESIRKULASI DENGAN KEPADATAN YANG BERBEDA

PENGARUH PADAT PENEBARAN 75, 100 DAN 125 EKOR/M2 DAN RASIO SHELTER

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada tanggal 26 Maret - 25 April 2012 di Laboratorium

MANAJEMEN KUALITAS AIR PADA BUDIDAYA IKAN NILA (Orechromis niloticus) DI KOLAM AIR DERAS

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga September 2013 bertempat di

II. BAHAN DAN METODE 2.1 Prosedur Penelitian Bahan dan Alat Persiapan Wadah Pemeliharaan Ikan Uji Rancangan Pakan Perlakuan

PEMANFAATAN TANAMAN AZOLLA SEBAGAI PAKAN TAMBAHAN (EKTRA FEEDING) Oleh : Ir. Indah Retnowati

Bab V Hasil dan Pembahasan. Gambar V.10 Konsentrasi Nitrat Pada Setiap Kedalaman

GROUPER FAPERIK ISSN

II. BAHAN DAN METODE

I. PENDAHULUAN. Gurami ( Osphronemus gouramy ) adalah salah satu ikan air tawar bernilai

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada Mei sampai Juli 2014, di Laboratorium Budidaya

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

MANAJEMEN KUALITAS AIR

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENOKOLAN UDANG WINDU, Penaeus monodon Fab. DALAM HAPA PADA TAMBAK INTENSIF DENGAN PADAT TEBAR BERBEDA

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juli hingga Agustus 2011 yang bertempat di

METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan bulan Agustus sampai September 2011 bertempat di

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III BAHAN DAN METODE

PENGARUH PADAT PENEBARAN TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN GURAMI Osphronemus gouramy Lac. UKURAN 2 CM

PEMANFAATAN BIOFLOK DARI LIMBAH BUDIDAYA LELE DUMBO (Clarias gariepinus) SEBAGAI PAKAN NILA (Oreochromis niloticus) ABSTRAK

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. kondisi kualitas perairan dalam system resirkulasi untuk pertumbuhan dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 8. FOTOSINTESISLatihan Soal ph (derajat keasaman) apabila tidak sesuai kondisi akan mempengaruhi kerja...

Transkripsi:

III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil 3.1.1. Tingkat Kelangsungan Hidup (SR) Benih Ikan Lele Rata-rata tingkat kelangsungan hidup (SR) tertinggi dicapai oleh perlakuan naungan plastik transparan sebesar 13,82±8,77%, sedangkan tingkat kelangsungan hidup terendah pada perlakuan plastik gelap sebesar 0,12±0,2%. Data SR dapat dilihat pada grafik di bawah ini (gambar 2). Setelah dilakuakan analisis ragam (lampiran 2), perlakuan pemberian naungan yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda terhadap ringkat kelangsungan hidup benih ikan lele (p<0,05). Keterangan: Huruf superscript di belakang nilai standar deviasi yang berbeda pada setiap baris menunjukkan pengaruh perlakuan yang berbeda nyata (P<0,05) Gambar 2. Tingkat kelangsungan hidup benih ikan lele setelah 28 hari pemeliharaan. (A: kontrol, B: plastik transparan, C: paranet, D: plastik gelap) 3.1.2. Laju Pertumbuhan Harian Laju pertumbuhan harian tertinggi dicapai oleh perlakuan naungan plastik transparan, yaitu sebesar 1,094±0,0186%. Sedangkan laju pertumbuhan harian terendah diperoleh pada kontrol, yaitu sebesar 1,079±0,0096%. Berdasarkan 8

hasil analisis ragam (lampiran 4), perlakuan pemberian naungan yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap laju pertumbuhan harian (p>0,05). Data laju pertumuhan harian pada semua perlakuan setelah 28 hari pemeliharaan dapat dilihat pada gambar 3 dibawah ini. Gambar 3. Laju pertumbuhan harian benih ikan lele selama 28 hari pemeliharaan. (A: kontrol, B: plastik transparan, C: paranet, D: plastik gelap) 3.1.3. Pertambahan Panjang Mutlak Pertambahan panjang mutlak tertinggi setelah 28 hari pemeliharaan diperoleh pada perlakuan naungan plastik transparan sebesar 3,53±0,602 cm, sedangkan terendah diperoleh pada kontrol sebesar 2,79±0,185 cm. Berdasarkan hasil analisis ragam (lampiran 6), perlakuan pemberian naungan yang berbeda tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertambahan panjang mutlak (p>0,05). Berikut ini adalah data pertambahan panjang mutlak benih ikan lele pada semua perlakuan setelah 28 hari pemeliharaan (gambar 4). 9

Gambar 4. Pertambahan panjang mutlak benih ikan lele setelah 28 hari pemeliharaan. (A: kontrol, B: plastik transparan, C: paranet, D: plastik gelap) 3.2. Kualitas Air Media Pemeliharaan 3.2.1. Suhu Suhu media air pemeliharaan pada perlakuan naungan plastik gelap dan paranet rata-rata lebih rendah dibandingkan perlakuan naungan plastik transparan dan kontrol. Suhu media air pemeliharaan pada perlakuan naungan plastik gelap di pagi hari rata-rata sebesar 24.15±1.17 o C, siang rata-rata sebesar 27.96±1.57 o C, dan sore rata-rata sebesar 26.75±1.35 o C. Suhu tertinggi dicapai di siang hari pada kontrol, yaitu rata-rata sebesar 30.94±2.00 o C. sedangkan suhu terendah dicapai pada pagi hari pada perlakuan naungan plastik gelap dengan suhu rata-rata sebesar 24.15±1.17 o C. Data fluktuasi suhu harian rata-rata selama pemeliharaan pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada gambar 5 di bawah ini. Gambar 5. Fluktuasi suhu harian rata-rata media air pemeliharaan. (A: kontrol, B:plastik transparan, C: paranet, D: plastik gelap) 3.2.2. Konsentrasi Amonia (NH 3 ) pagi siang sore Konsentrasi amonia (NH 3 ) tertinggi pada perlakuan naungan paranet dan plastik gelap di hari ke-14 pemeliharaan, masing-masing sebesar 0,357 mg/l dan 0,495 mg/l. Sedangkan pada perlakuan naungan plastik transparan, konsentrasi NH 3 tertinggi terjadi pada hari ke-28 pemeliharaan, yaitu sebesar 0,338 mg/l dan pada kontrol nilai konsentrasi NH 3 tertingginya terjadi pada hari ke-7 pemeliharaan sebesar 0,205 mg/l. Konsentrasi NH 3 di awal pemeliharaan pada 10

seluruh perlakuan memiliki nilai yang sangat rendah, masing-masing sebesar 0,011 mg/l pada kontrol, 0,006 mg/l pada perlakuan naungan plastik transparan, 0,014 mg/l pada perlakuan naungan paranet, dan 0,003 mg/l pada perlakuan naungan plastik gelap (gambar 6). A B C D Gambar 6. Konsentrasi NH 3 media air pemeliharaan. (A: kontrol, B: plastik transparan, C: paranet, D: plastik gelap) 3.2.3. Konsentrasi DO (Disolved Oxygen) Konsentrasi DO di awal pemeliharaan pada kontrol, perlakuan naungan plastik transparan, naungan paranet, dan perlakuan naungan plastik gelap, masing-masing sebesar 5,34 mg/l, 5,68 mg/l, 5,5 mg/l, dan 5,6 mg/l. Konsentrasi DO terendah terjadi pada kontrol pada hari ke-21 pemeliharaan, yaitu sebesar 3,57 mg/l. Sedangkan konsentrasi DO tertinggi terjadi pada perlakuan naungan plastik transparan, yaitu sebesar 8,96 mg/l (gambar 7). 11

Gambar 7. Konsentrasi DO media air pemeliharaan. (A: kontrol, B: plastik transparan, C: paranet, D: plastik gelap) 3.2.4. Konsentrasi CO 2 Bebas Konsentrasi CO 2 tertinggi terjadi pada perlakuan naungan plastik transparan di hari pertama penebaran, yaitu sebesar 10,22 mg/l. Sedangkan pada kontrol, perlakuan naungan paranet dan plastik gelap di hari pertama penebaran masing-masing adalah sebesar 2,92 mg/l, 2,92 mg/l, dan 7,3 mg/l. Konsentrasi CO 2 bebas terendah selama pemeliharaan pada semua perlakuan terjadi pada hari ke-14 pemeliharaan, masing-masing sebesar 1,096 mg/l pada kontrol, 1,814 mg/l pada perlakuan naungan plastik transparan, 1,176 mg/l pada perlakuan naungan paranet dan 1,478 mg/l pada perlakuan naungan plastik gelap (gambar 8). Gambar 8. Konsentrasi CO 2 bebas media air pemeliharaan. (A: kontrol, B: plastik transparan, C: paranet, D: plastik gelap) 3.2.5. Alkalinitas Alkalinitas media air pemeliharaan pada saat awal penebaran seluruh kolam perlakuan memiliki nilai yang sama, yaitu sebesar 27,63 mg/l CaCO 3. Kemudian di hari ke-7 pemeliharaan, pada semua perlakuan dan kontrol masingmasing mengalami kenaikan dengan nilai yang berbeda-beda, seperti dapat dilihat pada gambar 9 di bawah ini. Alkalinitas tertinggi terjadi pada hari ke-14, yaitu masing-masing sebesar 93,93 mg/l CaCO 3 pada kontrol, 66,30 mg/l CaCO 3 pada perlakuan naungan plastik transparan, 77,35 mg/l CaCO 3 pada perlakuan naungan paranet, dan 121,55 mg/l CaCO 3 pada perlakuan naungan plastik gelap (gambar 9). 12

Gambar 9. Alkalinitas media air pemeliharaan. (A: kontrol, B: plastik transparan, C: paranet, D: plastik gelap) 3.2.6. Nilai ph Nilai ph tertinggi adalah pada perlakuan naungan plastik transparan pada hari ke-21 pemeliharaan sebesar 7,11, sedangkan pada kontrol, perlakuan naungan paranet dan plastik gelap masing-masing bernilai 6,57; 6,84 dan 6,9. Nilai ph terendah terjadi pada perlakuan naungan plastik transparan sebesar 5,14 pada hari pertama penebaran. Perlakuan naungan plastik transparan memiliki nilai ph yang berkisar antara 5,14 sampai 7,11, sedangkan perlakuan naungan paranet dan perlakuan plastik gelap memiliki kisaran nilai ph masingmasing sebesar 6,15 sampai 6,84 dan 5,15 sampai 6,92, sedangkan pada kontrol nilai ph berkisar antara 6,22 sampai 6,66 (gambar 10). 13

Gambar 10. Nilai ph media air pemeliharaan. (A: kontrol, B: plastik transparan, C: paranet, D: plastik gelap) 3.3. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh bahwa tingkat kelangsungan hidup benih ikan lele cukup rendah (lampiran 1). Perbedaan jumlah kelangsungan hidup ikan lele sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal berupa kondisi lingkungan seperti suhu dan ketersediaan pakan (Goddard,1996). Tingkat kelangsungan hidup pada kontrol rat-rata sebesar 13.65±4,17% dan pada perlakuan naungan plastik transparan sebesar 13,82±8,77%. Sedangkan tingkat kelangsungan hidup pada perlakuan naungan paranet sebesar 1,08±1,87% dan pada perlakuan plastik gelap sebesar 0,12±0,2%. Jika dibandingkan dengan padat tebar yang disarankan Badan Standarisasi Nasional (2000), yaitu sebesar 50 ekor/m 2 pada kegiatan pendederan ikan lele pada pendederan III benih ikan lele ukuran 5-8 cm, maka hasil yang di dapatkan pada perlakuan naungan plastik transparan dan kontrol lebih baik, yaitu rata-rata sebesar 345 dan 341 ekor/m 2, sedangkan pada perlakuan naungan paranet dan plastik gelap rata-rata sebesar 27 dan 3 ekor/m 2. Hasil analisis ragam (lampiran 2) menunjukkan bahwa pemberian naungan yang berbeda berpengaruh nyata terhadap tingkat kelangsungan hidup benih ikan lele (p<0,05). Setelah diuji lanjut didapat hasil bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan lele yang diberi perlakuan dengan naungan plastik transparan sama dengan kontrol dan lebih baik dibandingkan dengan perlakuan naungan paranet dan plastik gelap. Jika dilihat dari data laju pertumbuhan harian (gambar 3), perlakuan naungan plastik transparan lebih baik dari kontrol dan semua perlakuan, yaitu sebesar 1,094±0,0186% (lampiran 3). Begitu juga dengan dengan pertambahan panjang mutlak, hasil tertinggi diperoleh pada perlakuan pemberian naungan plastik transparan yaitu sebesar 3.53±0.602 cm (lampiran 5). Hal tersebut dipengaruhi oleh suhu pada perlakuan naungan plastik transparan lebih hangat dibandingkan pada perlakuan naungan paranet dan naungan plastik gelap (lampiran 7). Kondisi tersebut disebabkan karena naungan yang terbuat dari plastik transparan dapat meneruskan sinar matahari lebih baik dibandingkan dengan paranet dan plastik gelap, sehingga jika terjadi penyinaran matahari yang sebentar saja di maka air yang diberikan perlakuan naungan plastik transparan akan lebih cepat hangat dibandingkan yang diberikan perlakuan naungan plastik gelap dan paranet. Sebagaimana diketahui bahwa semakin tinggi suhu maka laju metabolisme ikan akan semakin tinggi (Effendi, 2003), sehingga konsumsi pakan 14

juga akan meningkat dan laju pertumbuhan juga akan lebih cepat. Selain itu padat tebar juga berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan. Karena jika kepadatan ikan terlalu tinggi, maka kompetisi untuk mendapatkan ruang dan makanan akan jauh lebih ketat sehingga ikan lebih sulit mendapatkan pakan dan pertumbuhannya menjadi rendah (Nugroho et. al, 2009). Laju pertumbuhan harian dan pertambahan panjang mutlak merupakan gambaran kemampuan pencernaan dalam mencerna pakan dan mengubahnya menjadi jaringan. Hal ini berhubungan dengan kondisi lingkungan dan ketersediaan pakan. Laju pertumbuhan harian pada perlakuan naungan plastik gelap sedikit lebih tinggi dibandingkan perlakuan naungan paranet (gambar 3), begitu juga dengan pertambahan panjang mutlak pada perlakuan naungan plastik gelap lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan dengan naungan paranet (gambar 4). Hal ini disebabkan karena jika terjadi hujan maka air hujan masih dapat masuk dengan mudah melalui celah-celah paranet, karena air hujan memiliki suhu yang lebih dingin dibandingkan dengan suhu air media pemeliharaan. Sehingga jika terjadi hujan, suhu air mudah sekali turun. Hal tersebut tentu saja mengganggu pertumbuhan ikan, karena ikan akan mudah stres. Setelah dilakukan uji statistik menggunakan analisis ragam (lampiran 4 dan lampiran 6), ternyata perlakuan penggunaan naungan yang berbeda pada pendederan benih ikan lele di bak terpal tidakmemberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap laju pertumbuhan harian maupun pertambahan panjang mutlak benih ikan lele (p>0,05). Namun jika dibandingkan dengan data tingkat kelangsungan hidup (lampiran 1), maka perlakuan naungan plastik transparan memberikan hasil terbaik. Suhu pada penelitian ini menjadi faktor utama yang menyebabkan kematian. Seperti dapat dilihat pada gambar 2, terlihat bahwa tingkat kelangsungan hidup kontrol dan perlakuan naungan plastik transparan jauh lebih besar dibandingkan dengan perlakuan naungan paranet dan naungan plastik gelap (lampiran 1), grafik fluktuasi suhu perlakuan naungan plastik transparan dan kontrol tidak jauh berbeda dan lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan naungan paranet dan plastik gelap (gambar 5). Berdasarkan hasil analisis statistik ragam (lampiran 8) menunjukkan bahwa pemberian naungan yang berbeda berpengaruh nyata terhadap suhu air di bak (p<0,05). Setelah diuji lanjut didapat hasil bahwa perlakuan pemberian naungan plastik transparan memberikan pengaruh suhu yang sama dengan kontrol dan lebih hangat 15

dibandingkan dengan perlakuan naungan paranet dan naungan plastik gelap (lampiran 7). Saat dilakukan penelitian ini, terjadi hujan hampir setiap hari dan intensitas sinar matahari juga kurang. Oleh karena itu, jika terjadi penyinaran matahari sebentar saja, maka air pada bak kontrol dan perlakuan naungan plastik transparan lebih cepat hangat karena sinar matahari dapat langsung mengenai air. Naungan plastik transparan tersebut juga berguna untuk melindungi agar air yang digunakan sebagai media pemeliharaan di bak tidak langsung terkena air hujan ketika turun hujan. Menurut Huet (1971), suhu merupakan faktor yang sangat penting pengaruhnya terhadap aktivitas vital pada tubuh ikan, terutama bernafas, tumbuh dan bereproduksi. Britz dan Hetch (1987) menyatakan bahwa peningkatan suhu sebesar 1 o C akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 1%, karena laju metabolism juga akan meningkat (Effendi, 2003). Hogendoom et al. (1983) menyatakan, bahwa temperatur sangat berpengaruh pada pertumbuhan ikan. Pada penelitian ini, suhu rata-rata pada perlakuan naungan plastik transparan dan kontrol berkisar pada 25 o C pada pagi hari, sampai 30 o C pada siang hari, atau rata-rata 27,5 o C. Sedangkan pada perlakuan naungan paranet dan plastik gelap rata-rata suhunya sebesar 26 o C dan 25,1 o C. Suhu yang optimal untuk pertumbuhan ikan kecil adalah antara 27,5 o C sampai 32,5 o C, sedangkan pada suhu 35 o C pertumbuhan akan berlangsung lambat, dan akan terjadi deformasi pada suhu yang lebih tinggi (Hogendoom et al., 1983). Hargreaves dan Tucker (2004) menyatakan, bahwa pemeliharaan ikan di atas suhu 27,5 o C dapat mencegah terjadinya infeksi penyakit bakteri dan virus. Konsentrasi amonia (NH 3 ) yang cukup tinggi yaitu rata-rata di atas 0,1 mg/l pada seluruh perlakuan di hari ke-7 pemeliharaan juga menjadi salah satu pemicu kematian ikan (lampiran 9). Wedemeyer (1996), menyampaikan kadar amonia sebaiknya berkisar < 0,1 mg/l, Pillay (1993) menyebutkan ambang batas maksimum konsentrasi amonia untuk kegiatan budidaya adalah 0,02 mg/l Peningkatan amonia di atas konsentrasi 0,3 ppm akan mengurangi kandungan oksigen dan meningkatkan kandungan CO 2 dalam darah (Brockway dalam Gerbhards 1965). Kenaikan kadar NH 3 hingga 1 ppm dapat menurunkan kadar O 2 dalam darah hingga 1/7 kali konsentrasi normal dan CO 2 dalam darah naik 15 %. Sebaliknya jika kadar O 2 rendah maka daya racun NH 3 akan meningkat (Waterman 1960). Kepadatan yang cukup tinggi pada penelitian ini, menyebabkan buangan sisa metabolism cukup banyak di perairan. Selama 16

pemeliharaan, konsentrasi NH 3 pada semua perlakuan dan kontrol ata-rata di atas 0,1 mg/l. Hal ini tentu tidak baik pada ikan yang dipelihara. Parameter kualitas air lainnya, seperti oksigen terlarut (DO) dan alkalinitas selama pemeliharaan menunjukkan nilai yang cukup baik. Konsentrasi oksigen terlarut (DO) di hari pertama pemeliharaan pada semua kolam pemeliharaan lebih dari 5 mg/l, dan selama pemeliharaan tidak ada kolam yang konsentrasi oksigen terlarutnya kurang dari 3 mg/l (). Ini sesuai dengan Lawson (1995), yang menyatakan bahwa untuk pemeliharaan ikan kandungan oksigen terlarut dalam perairan minimal sebesar 3 mg/l. Lebih lanjut Lawson (1995), memaparkan konsentrasi oksigen terlarut peengaruhnya terhadap ikan menjadi 5 level seperti pada gambar 11 di bawah ini. Sumber : Swingle (1969) dalam Lawson (1995) Gambar 11. Akibat yang ditimbulkan oleh berbagai kosentrasi oksigen terlarut terhadap ikan. Nilai alkalinitas di hari pertama cukup baik, yaitu sebesar 27,63 mg/l CaCO 3 pada semua kolam di hari pertama penebaran (lampiran 9). Perairan yang mengandung alkalinitas 20 ppm menunjukkan bahwa perairan tersebut relatif stabil terhadap perubahan asam dan basa sehingga kapasitas buffer lebih stabil (Boyd, 1990). Menurut Pillay (1993), kadar alkalinitas dalam budidaya sekurang-kurangnya adalah 20 mg/l CaCO 3, bahkan Lawson (1995) memberikan batas antara 10-400 mg/l CaCO 3 nilai alkalinitas yang diizinkan pada kegiatan budidaya. Sedangkan menurut Effendi (2003), nilai alkalinitas yang baik berkisar antara 30-500 mg/l CaCO 3. Peningkatan alkalinitas pada hari ke-7 disebabkan karena ada penambahan kapur (CaCO 3 ) pada tempat penampungan air, ini dilakukan karena air yang digunakan adalah air yang berasal dari sumur. Air 17

yang produktif untuk budidaya adalah air yang sedikit basa karena dapat menyangga ph air akibat ekskresi CO 2 yang dikeluarkan ikan (Parker dan Davis 1981, dalam Ohoiulun, 2003). Konsentrasi CO 2 bebas selama pemeliharaan rata-rata berkisar antara 1,096 mg/l sampai 4,38 mg/l (). Kecuali pada perlakuan naungan plastik transparan dan plastik gelap di hari pertama pemeliharaan, serta perlakuan naungan paranet di hari ke-14 pemeliharaan, masing-masing sebesar 10,22 mg/l, 7,3 mg/l, dan 5,84 mg/l. Pillay (1993) menyebutkan, bahwa kadar CO 2 untuk budidaya tidak boleh lebih dari 3 mg/l, sedangkan menurut Lawson (1995), kadar CO 2 maksimum yang direkomendasikan untuk finfish adalah 10-15 mg/l. Meade (1989) dalam Lawson (1959) menyebutkan, bahwa ph untuk kegiatan budidaya berkisar antara 6,5-8, begitu juga dengan pendapat Pillay (1993). Kisaran nilai ph selama penelitian pada semua perlakuan antara 6,15 sampai 7,11, kecuali pada perlakuan naungan plastik transparan dan paranet di hari pertama pemeliharaan yaitu masing-masing sebesar 5,14 (lampiran 9). Ikan tumbuh cukup lambat pada kisaran ph antara 5 sampai 6,5 (Swingle, 1969) dalam Boyd, 1990). Kisaran ph yang baik untuk pertumbuhan ikan berdasarkan Meade (1989) dalam Lawson (1995) adalah antara 6,5 sampai 8, sedangkan menurut Swingle (1969) dalam Boyd (1990) adalah antara 6,5 sampai 9. Berdasarkan hasil yang di dapat, nilai ph di hari pertama penebarana nilai ph pada semua perlakuan berkisar antara 5,14 sampai 6,24, sehingga pertumbuhannya cukup lambat. 18