BAB III METODE PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODE PENELITIAN

3. Belum ada yang meneliti tentang kesadaran gender siswa kelas VIII SMP Negeri 15 Bandung tahun ajaran 2013/2014.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah kuantitatif karena

BAB III METODE PENELITIAN A.

BAB III METODE PENELITIAN A. PENDEKATAN DAN METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini kualitatif dan kuantitatif.

BAB III METODE PENELITIAN

Definisi keluarga broken home menurut Gerungan (2009:199) adalah:

BAB III METODE PENELITIAN. kuantitatif, yaitu pendekatan yang memungkinkan dilakukannya pencatatan data

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. A. Pendekatan, Metode dan Teknik Pengumpulan Data

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah kuantitatif, yaitu

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode korelasional yang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. A. Pendekatan, Metode, dan Desain Penelitian. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kuantitatif.

C. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini terdiri dari tiga variabel, dengan dua variabel X dan Y. Kedua variabel tersebut adalah sebagai berikut :

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Desain Penelitian dan Metode Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini diuraikan secara jelas mengenai pendekatan dan metode

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam bab ini akan diuraikan rancangan penelitian yang dianggap relevan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Setelah merumuskan hipotesis yang diturunkan secara deduktif dari landasan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian mengenai efektivitas program pelatihan dalam mengembangkan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam bab ini akan diuraikan rancangan penelitian yang dianggap relevan

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Bab ini membahas tentang pendekatan dan metode penelitian, definisi

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III Metode Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. kuantitatif sebagai pendekatan ilmiah yang didesain untuk menjawab

BAB III METODE PENELITIAN Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian Lokasi Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Pada Bab tiga ini, dibahas hal-hal yang berkaitan dengan metode

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Deskriptif Kuantitatif, dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis, diperlukan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bertempat di SDN Sukagalih Bandung yang berlokasi di Jalan Sukagalih No. 108, Bandung.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. kuantitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk meneliti populasi atau sampel

Transkripsi:

39 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Populasi/Sampel Penelitian Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 7 Baleendah Kab. Bandung Tahun Ajaran 2012/2013. Alasan pemilihan lokasi penelitian karena berdasarkan hasil wawancara dengan Wakasek kesiswaan dan guru Bimbingan dan Konseling di SMK Negeri 7 Baleendah Kab. Bandung banyak peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak utuh. Selain itu SMK Negeri 7 Baleendah Kab. Bandung merupakan sekolah yang baru berdiri pada Tahun 2005 sehingga program layanan Bimbingan dan Konseling belum utuh termasuk layanan bimbingan dan konseling yang secara khusus difokuskan untuk meningkatkan kemampuan interaksi sosial peserta didik yang berasal dari keluarga broken home. Menurut Sugiyono (2010: 117), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Menurut Sugiyono (2010:124) purposive sampling adalah teknik penentuan sample dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu yang dimaksud dalam penelitian difokuskan pada kasus peserta didik broken home. Pemilihan populasi dan sampel terhadap peserta didik kelas X adalah sebagai berikut. 1. Banyak peserta didik yang berasal dari keluarga tidak utuh pada jenjang kelas X. 2. Peserta didik memasuki lingkungan sekolah baru dan teman-teman baru, sehingga kemampuan berinteraksi sosial penting untuk menjaga keharmonisan pergaulan di sekolah. Populasi dalam penelitian adalah seluruh peserta didik broken home kelas X. Sampel dalam penelitian adalah seluruh populasi. Sampel penelitian yang dimaksud adalah seluruh peserta didik yang berasal dari keluarga broken home kelas X yang ditandai dengan peserta didik yang salah satu atau kedua

40 orangtuanya meninggal, orangtua sudah bercerai atau tinggal dengan wali, yang berjumlah 53 orang dengan rincian pada tabel 3.1 sebagai berikut. Tabel 3.1 Peserta Didik Broken Home Kelas X SMK Negeri 7 Baleendah Kab. Bandung Jumlah Peserta Didik No kelas Salah satu/ kedua orangtua meninggal Orangtua bercerai 1 X TKR I 1 Orang 2 Orang 3 Orang 2 X TKR II - 2 Orang 5 Orang 3 X TKR III 1 Orang 1 Orang 3 Orang 4 X TKR IV 3 Orang 1 Orang 4 Orang 5 X TAV I 1 Orang - 1 Orang 6 X TAV II 3 Orang 3 Orang 6 Orang 7 X TAV III 1 Orang 1 Orang 3 Orang 8 X TAV IV 4 Orang 1 Orang 3 Orang Tinggal bersama wali Jumlah 14 Orang 11 Orang 28 Orang Jumlah Total 53 Orang B. Pendekatan, Metode dan Desain Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengetahui gambaran interaksi sosial peserta didik broken home Kelas X SMK Negeri 7 Baleendah Kab. Bandung. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif. Metode dipilih karena bermaksud mendeskripsikan, menganalisis, dan mengambil suatu generalisasi mengenai interaksi sosial peserta didik broken home. Berdasarkan pendekatan dan metode penelitian, maka dibuat desain penelitian sebagai acuan dalam pelaksanaan penelitian sebagaimana digambarkan pada Bagan 3.1 berikut.

41 Tahap I : Identifikasi masalah Tahap II: Studi pustaka Tahap IV: Profil dan Implikasi Layanan Bimbingan dan Konseling terhadap interaksi sosial peserta didik broken home kelas X SMK Negeri 7 Baleendah Kab. Bandung Tahun ajaran 2012/2013 Tahap III: Menyusun instrumen penelitian, judgement ke pakar, pengambilan data, uji validitas, pengolahan data Bagan 3.1 Alur Penelitian Untuk Mengetahui Profil Interaksi Sosial Peserta didik Broken Home Tahap I identifikasi masalah dilakukan dengan melakukan studi pendahuluan dan wawancara kepada guru BK tentang adanya kasus interaksi sosial yang terjadi di sekolah. Tahap II kegiatan penelitian dilakukan dengan mengumpulkan berbagai literatur tentang konsep interaksi sosial dan keluarga broken home. Tahap III menyusun instrumen penelitian dengan mengacu kepada teori, melakukan penimbangan instrumen kepada tiga pakar, uji validitas kemudian mengolah data hasil penyebaran instrumen. Tahap IV implikasi BK terhadap profil interaksi sosial peserta didik broken home. C. Definisi Operasional Variabel Terdapat dua variabel penelitian, yaitu interaksi sosial dan peserta didik broken home. Kedua variabel tersebut dapat didefinisikan secara operasional sebagai berikut. 1. Interaksi Sosial Menurut Thibaut dan kelley (Ali & Asrori, 2009:87) interaksi sebagai peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama, mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain atau berkomunikasi satu

42 sama lain. Turner (1988: 13) mendefinisikan interaksi sosial sebagai a situation where the behaviors of one actor are consciously reorganized by, and influence the behaviors of, another actor, and vice versa. Interaksi sosial pada penelitian didefinisikan sebagai perilaku interpersonal yang dilakukan oleh peserta didik dalam menjalin hubungan dengan orang lain di lingkungan sekolah, yang ditandai dengan role (peran), purpose (tujuan) dan topography (keterlibatan/ partisipasi). Role (peran) tediri dari initiation (memulai) dan acknowledgement (merespon). Purpose (tujuan) merupakan tujuan seseorang berinteraksi dengan orang lain yang terdiri dari social (sosial) dan task related interaction (interaksi yang berhubungan dengan tugas). Topography (keterlibatan/ partisipasi) merupakan kategori perilaku yang memperhatikan apakah individu ikut berpartisipasi atau terlibat dalam interaksi sosial. topography (keterlibatan/ partisipasi) terdiri dari on task (berpartisipasi dalam kegiatan yang sedang berlangsung), no active task participation (tidak berpartisipasi dalam kegiatan yang sedang berlangsung, tetapi juga tidak memperlihatkan perilaku yang tepat), voluntary isolation (menarik diri dari lingkungan), aggresive to other (perilaku kasar terhadap orang lain), inappropriate to self (perilaku menjatuhkan citra diri), mild inappropriate (perilaku tidak pantas terhadap orang lain). Indikator dari setiap aspek yaitu sebagai berikut. a. Indikator perilaku initiation (memulai) ditandai dengan peserta didik mampu memulai terjadinya interaksi seperti menyapa, bertanya, bersalaman, tersenyum, dan kontak mata. b. Indikator perilaku acknowledgements (merespon) ditandai dengan peserta didik mampu merespon percakapan seperti menjawab sapaan, tersenyum balik, mau berjabat tangan. c. Indikator social (sosial) ditunjukkan oleh peserta didik dengan tujuan sosial yang berkenaan dengan rekreasi atau kesenangan, interaksi sosial yang dilakukan tidak berkaitan dengan tugas tetapi lebih kepada tujuan sosial seperti mengobrol, bermain, makan siang bersama, rekreasi.

43 d. Indikator task related interaction (interaksi berhubungan dengan tugas) ditandai oleh peserta didik karena memiliki kebutuhan yang berhubungan dengan tugas seperti diskusi tentang mata pelajaran, bertanya tentang tugas. e. Indikator on task (berpartisipasi dalam kegiatan yang sedang berlangsung) ditandai peserta didik dengan berpartisipasi secara tepat dalam aktivitas yang sedang berlangsung, terlepas dari sifat kegiatan. f. Indikator no active task participation (tidak berpartisipasi dalam kegiatan yang sedang berlangsung, tetapi juga tidak memperlihatkan perilaku yang tepat) ditandai peserta didik dengan tidak berpartisipasi dalam kegiatan yang sedang berlangsung tetapi juga tidak memperlihatkan perilaku yang tidak tepat. Misalnya ketika dikelas, temannya membaca, dia tidak membaca, tidak memperhatikan guru, tidak menulis. g. Indikator voluntary isolation (mengasingkan diri) ditandai peserta didik dengan sengaja menghilangkan diri dari kesempatan untuk menerima sapaan dengan berjalan menjauh dari orang lain, memutar kepalanya, berbalik badan, mengasingkan diri dari keramaian. h. Indikator aggression to other (kekerasan terhadap orang lain) ditunjukkan peserta didik dengan berperilaku yang tidak pantas dan lebih diarahkan kepada orang lain. perilaku agresif yang ditunjukkan peserta didik seperti meludah, memukul, menendang, menjerit. i. Indikator inappropriate to self (perilaku menjatuhkan citra diri) ditunjukkan oleh peserta didik dengan merusak diri atau menjatuhkan reputasi dirinya seperti bertingkahlaku bodoh, bersikap aneh. j. Indikator mild inappropriate (perilaku tidak pantas terhadap orang lain) ditunjukkan peserta didik dengan tidak pantas tetapi intensitasnya lebih rendah dibanding perilaku agresif. Perilaku mild inappropriate ditandai dengan berteriak, menghina, membuat lelucon untuk oranglain, mengambil barang yang bukan miliknya, menggoda orang lain.

44 2. Peserta Didik Broken Home Definisi keluarga broken home menurut Gerungan (2009:199) adalah: Tidak adanya ayah atau ibu atau keduanya tidak ada, maka struktur keluarga sudah tidak utuh lagi. Juga apabila ayah atau ibunya jarang pulang ke rumah atau berbulan-bulan meninggalkan rumah karena tugas-tugas atau hal-hal lain, dan hal ini terjadi secara berulang maka struktur keluarga itupun sebenarnya tidak utuh lagi (broken). Menurut Soelaeman (1994:12) Ketidakutuhan keluarga ialah: Keluarga yang karena bercerai atau meninggal salah satu pihak tidak ada, ayah atau ibu, karena kesatuannya atau unitnya pecah. Sekiranya jumlah anggota keluarga itu lengkap, akan tetapi ayah atau ibu tidak atau kurang dihayati kehadiran dan integrasinya dalam keluarga, maka keluarga tersebut dikatakan keluarga semu atau quasi broken home. Peserta didik broken home dalam penelitian adalah peserta didik yang tinggal bersama wali, orangtua bercerai, atau salah satu atau kedua orangtua sudah meninggal. D. Instrumen Penelitian Instrumen atau alat pengumpulan data penelitian, menggunakan data berupa angket atau kuesioner tentang interaksi sosial serta buku catatan pribadi peserta didik untuk mengetahui ketidakutuhan keluarga. Kisi-kisi instrumen untuk mengungkap tingkat interaksi sosial peserta didik broken home peserta didik dikembangkan dari definisi operasional variabel penelitian. Item-item pernyataan instrumen pengungkap interaksi sosial peserta didik broken home dikembangkan dari komponen atau variabel interaksi sosial peserta didik broken home yang telah ada, lalu dijabarkan melalui sub komponen yang akhirnya berbentuk indikatorindikator. 1. Jenis Instrumen Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah angket tertutup (angket berstruktur) tentang interaksi sosial, yang merupakan alat pengumpul data sekaligus alat ukur untuk mencapai tujuan penelitian. Responden hanya perlu

45 menjawab pernyataan dengan cara memilih alternatif respon yang telah disediakan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan penyebaran angket kepada seluruh peserta didik Broken Home Kelas X SMK Negeri 7 Baleendah Kab. Bandung yang menjadi sampel dalam penelitian. Angket yang digunakan menggunakan format rating scale (skala bertingkat) model Likert dengan lima alternatif jawaban Sangat sesuai (SS), Sesuai (S), Kurang Sesuai (KS), Tidak Sesuai (TS) dan Sangat Tidak Sesuai (STS) dengan skor berkisar antara 1 sampai dengan 5. 2. Pengembangan Kisi-kisi Instrumen Angket atau kuesioner dalam penelitian dipergunakan untuk memperoleh gambaran tentang interaksi sosial peserta didik broken home. Kisi-kisi instrumen ini dikembangkan menjadi tiga aspek interaksi sosial. Ketiga aspek tersebut dijabarkan menjadi sepuluh sub aspek dan masing-masing aspek terdiri dari satu indikator. Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Interaksi Sosial Peserta Didik (Sebelum Judgement) Aspek / Pernyataan Sub aspek Indikator Dimensi (+) (-) Role (peran) Initiation (memulai) Peserta didik mampu memulai interaksi 1,2 3,4 Purpose (tujuan) Acknowledgem ent (merespon) Social (sosial) Task related interaction Peserta didik mampu merespon percakapan Peserta didik melakukan interaksi dengan tujuan sosial yang berkenaan dengan rekreasi atau kesenangan Peserta didik melakukan interaksi yang berhubungan dengan pemenuhan tugas sekolah Topography On task Peserta didik ikut berpartisipasi dalam kegiatan 5,6,7 8,9,10 11,12,13 14,15,16 17,18,19. 20,21,22,2 3 24,25 26,27

46 No active task participation Voluntary isolation Aggression to other Inappropriate to self Mild inappropriate Peserta didik tidak berpartisipasi dalam kegiatan yang sedang berlangsung tetapi juga tidak memperlihatkan perilaku yang tepat Peserta didik menarik diri dari interaksi di sekolah Bertindak kasar terhadap orang lain Melakukan kegiatan yang merusak citra diri Berperilaku tidak pantas terhadap orang lain 28,29,30 31,32,33 34,35,36 37,38,39 40,41,42 43,44,45,4 6,47 48,49 50,51 52,53,54 55,56,57,5 8,59 3. Uji Keterbacaan Sebelum instrumen interaksi sosial diujikan kepada sampel penelitian, langkah selanjutnya dilakukan uji keterbacaan kepada peserta didik setara yaitu kepada lima orang peserta didik kelas X SMK. Setelah uji keterbacaan, pernyataan-pernyataan yang tidak dipahami di revisi sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat dimengerti oleh peserta didik Kelas X SMK Negeri 7 Baleendah Kab. Bandung. Hasilnya, seluruh item pernyataan dapat diberikan kepada peserta didik. 4. Pedoman Penyekoran (Scoring) Instrumen interaksi sosial menggunakan skala Likert sebagaimana tertera dalam tabel 3.3 berikut. Tabel 3.3 Pola Skor Opsi Alternatif Respons Model Summated Ratings (Likert) Pernyataan Skor Alternatif Respon SS S KS TS STS Positif (+) 5 4 3 2 1 Negatif (-) 1 2 3 4 5

47 Pada instrumen atau alat ukur, setiap item diasumsikan memiliki nilai 1-5 dengan bobot tertentu, sebagai berikut. a) Untuk pilihan jawaban sangat sesuai (SS) memiliki skor 5 pada pernyataan positif atau skor 1 pada pernyataan negatif. b) Untuk pilihan jawaban sesuai (S) memiliki skor 4 pada pernyataan positif atau skor 2 pada pernyataan negatif. c) Untuk pilihan jawaban kurang sesuai (KS) memiliki skor 3 pada pernyataan positif atau 3 pada pernyataan negatif. d) Untuk pilihan jawaban tidak sesuai (TS) memiliki skor 2 pada pernyataan positif dan skor 4 pada pernyataan negatif. e) Untuk pilihan jawaban sangat tidak sesuai (STS) memiliki skor 1 pada pernyataan positif dan skor 5 pada pernyataan negatif. 5. Uji Coba Alat Pengumpul Data a. Uji Kelayakan Instrumen Instrumen interaksi sosial peserta didik yang telah disusun terlebih dahulu dilakukan uji kelayakan instrumen (judgement). Penimbangan dilakukan oleh dosen ahli yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan instrumen dari segi bahasa, konstruk, dan isi, yakni kesesuaian item pernyataan yang telah disusun dengan landasan teoretis dan ketepatan bahasa yang digunakan, dilihat dari sudut bahasa baku dan subjek yang memberikan respon. Instrumen ditimbang oleh tiga orang dosen jurusan PPB FIP UPI, yaitu oleh Dr. Mubyar Agustin, M.Pd, Nandang Budiman, S.Pd, M.Psi dan Drs. Sudaryat Nurdin Akhmad. Penilaian oleh dosen ahli dilakukan dengan memberikan penilaian pada setiap item dengan kualifikasi Memadai (M) dan Tidak Memadai (TM). Item yang diberi nilai M menyatakan bahwa item tersebut bisa digunakan, dan item yang diberi nilai TM menyatakan dua kemungkinan yaitu item tersebut tidak bisa digunakan atau diperlukan revisi pada item tersebut. Hasil penimbangan dari ketiga dosen ahli dapat disimpulkan dalam tabel 3.4 sebagai berikut.

48 Tabel 3.4 Hasil Penimbangan Instrumen Interaksi Sosial Hasil Penimbangan Pakar Dipakai Direvisi Dibuang Nomor Item 2, 4, 5, 6, 7, 9, 11, 13, 19, 21, 24, 25, 28, 30, 35, 36, 38, 42, 43, 46, 49, 51, 52, 53, 56, 58 1, 3, 8, 14, 15, 17, 20, 26, 27, 31, 32, 37, 40, 48 10, 12, 16, 18, 22, 23, 29, 33, 34, 39, 41, 44, 45, 47, 50, 54, 55, 57, 59 Jumlah 26 item 14 item 19 item Hasil penimbangan menunjukkan terdapat 26 item yang dapat digunakan, 14 item yang perlu direvisi dan 19 item yang harus dibuang. b. Kisi- kisi setelah judgment Instrumen yang digunakan dalam penelitian yaitu setelah melalui tahap judgement dari ketiga pakar ahli. Adapun kisi-kisi instrumen interaksi sosial setelah judgement tersedia dalam tabel 3.5 berikut. Tabel 3.5 Kisi-Kisi Instrumen Interaksi Sosial Peserta Didik (Setelah Judgement) Aspek / Pernyataan Sub aspek Indikator Dimensi (+) (-) Role (peran) Initiation (memulai) Peserta didik mampu memulai interaksi 1,2 3,4 Purpose (tujuan) Acknowledgem ent (merespon) Social (sosial) Task related interaction Peserta didik mampu merespon percakapan Peserta didik melakukan interaksi dengan tujuan sosial yang berkenaan dengan rekreasi atau kesenangan Peserta didik melakukan interaksi yang berhubungan dengan pemenuhan tugas sekolah 5,6 7,8 9,10 11,12 13,14 15,16

49 Topography On task Peserta didik ikut berpartisipasi dalam kegiatan No active task participation Voluntary isolation Peserta didik tidak berpartisipasi dalam kegiatan yang sedang berlangsung tetapi juga tidak memperlihatkan perilaku yang tepat Peserta didik menarik diri dari interaksi di sekolah 17,18 19,20 21,22 23,24 25,26 27,28 Aggression to Bertindak kasar terhadap 29,30 31,32 other orang lain Inappropriate Melakukan kegiatan 33,34 35,36 to self yang merusak citra diri Mild inappropriate Berperilaku tidak pantas terhadap orang lain 37,38 39,40 Jumlah 20 20 6. Uji Validitas dan Reliabilitas a. Uji Validitas Pengujian validitas alat pengumpul data yang dilakukan dalam penelitian adalah seluruh item yang terdapat dalam instrumen yang mengungkap interaksi sosial peserta didik. Adapun data yang digunakan untuk mengukur validitas item, merupakan data hasil penyebaran instrumen. Dengan kata lain, penyebaran instrumen dilaksanakan sekaligus untuk menguji validitas item (built-in). Pengolahan data dalam penelitian dilakukan dengan menggunakan program SPSS for Windows Versi 16..0. Validitas item dilakukan dengan menganalisis daya pembeda menggunakan prosedur pengujian Spearman s rho. Berdasarkan pengolahan data, hasil uji validitas menunjukkan bahwa dari 40 butir item pernyataan dalam angket interaksi sosial peserta didik, hanya terdapat 39 item pernyataan valid. Item yang dinyatakan valid memiliki daya pembeda yang signifikan pada p > 0.01 dan p < 0.05. ini artinya terdapat 39 butir item pernyataan yang dapat digunakan dalam penelitian di lapangan. (Hasil perhitungan validitas terlampir). Berikut disajikan item-item pernyataan setelah validasi.

50 Tabel 3.6 Hasil Validitas Item Interaksi Sosial Signifikansi No.Item Jumlah Valid 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 18, 19, 20, 21, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 33, 34, 39 item 35, 36, 37,38, 39, 40 Tidak Valid 11 1 item b. Uji Reliabilitas Reliabilitas suatu instrumen penelitian menunjukkan instrumen penelitian dapat dipercaya sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut dikatakan sebagai instrumen yang baik. Instrumen yang baik adalah instrumen yang dapat dengan ajeg memberikan data sesuai dengan kenyataan. Suatu instrumen penelitian dikatakan mempunyai nilai reliabilitas yang tinggi, apabila tes yang dibuat mempunyai hasil yang konsisten dalam mengukur yang hendak diukur. Sebagai tolok ukur, digunakan klasifikasi rentang koefisien reliabilitas (Sugiono, 2010: 257) sebagai berikut: 0,00 0,199 derajat keterandalan sangat rendah 0,20 0,399 derajat keterandalan rendah 0,40 0,599 derajat keterandalan cukup 0,60 0,799 derajat keterandalan tinggi 0,80 1,00 derajat keterandalan sangat tinggi Perhitungan reliabilitas dilakukan dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach dengan memanfaatkan program SPSS for windows versi 16.0. Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan terhadap item terpakai sebanyak 39 butir item yang valid pada angket interaksi sosial. Hasil pengujian menggunakan SPSS for Windows Versi 16.0 adalah sebagai berikut.

51 Tabel 3.7 Tingkat reliabilitas instrumen Interaksi sosial Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items.838 39 c. Kisi-Kisi Instrumen Setelah Uji Coba Kisi-kisi instrumen interaksi sosial setelah dilakukan uji coba kepada seluruh peserta didik broken home kelas X SMK Negeri 7 Baleendah Kab. Bandung tersedia dalam tabel 3.8 berikut. Tabel 3.8 Kisi-Kisi Instrumen Interaksi Sosial Peserta Didik Broken Home (Setelah Uji Coba) Aspek / Pernyataan Sub aspek Indikator Dimensi (+) (-) Role (peran) Initiation (memulai) Peserta didik mampu memulai interaksi 1,2 3,4 Purpose (tujuan) Acknowledgem ent (merespon) Social (sosial) Task related interaction Peserta didik mampu merespon percakapan Peserta didik melakukan interaksi dengan tujuan sosial yang berkenaan dengan rekreasi atau kesenangan Peserta didik melakukan interaksi yang berhubungan dengan pemenuhan tugas sekolah Topography On task Peserta didik ikut berpartisipasi dalam kegiatan 5,6 7,8 9,10 12 13,14 15,16 17,18 19,20

52 No active task participation Voluntary isolation Aggression to other Inappropriate to self Mild inappropriate Peserta didik tidak berpartisipasi dalam kegiatan yang sedang berlangsung tetapi juga tidak memperlihatkan perilaku yang tepat 21,22 23,24 Peserta didik menarik 25,26 27,28 diri dari interaksi di sekolah Bertindak kasar terhadap 29,30 31,32 orang lain Melakukan kegiatan 33,34 35,36 yang merusak citra diri Berperilaku tidak pantas 37,38 39,40 terhadap orang lain Jumlah 20 19 E. Teknik Pengumpulan Data Data yang diperlukan dalam penelitian yaitu data ketidakutuhan keluarga peserta didik (yang diperoleh melalui buku pribadi peserta didik) dan data mengenai interaksi sosial peserta didik Kelas X SMK Negeri 7 Baleendah Kab. Bandung. Data mengenai interaksi sosial peserta didik diperoleh dari penyebaran angket, angket yang digunakan adalah angket terstruktur dengan bentuk jawaban tertutup. Responden hanya perlu menjawab pernyataan dengan cara memilih alternatif respon yang telah disediakan dengan alternatif jawaban sangat sesuai, sesuai, kurang sesuai, tidak sesuai, sangat tidak sesuai. Adapun langkah-langkah dalam pengumpulan data yaitu sebagai berikut. a. Mempersiapkan kelengkapan instrumen b. Mengecek kesiapan peserta didik c. Membacakan petunjuk pengerjaan d. Mengecek kelengkapan identitas peserta didik e. Mempersilahkan peserta didik mengisi angket f. Mengumpulkan kembali angket yang telah diisi F. Analisis Data

53 1. Verifikasi Data Verifikasi data memiliki tujuan untuk menyeleksi data yang dianggap layak untuk diolah. Tahapan verifikasi data yang dilakukan sebagai berikut. a. Melakukan pengecekan jumlah instrumen yang telah terkumpul. b. Melakukan tabulasi data yaitu perekapan data yang diperoleh dari peserta didik dengan melakukan penyekoran sesuai dengan tahapan penyekoran yang telah ditetapkan. c. Melakukan perhitungan statistik. 2. Pengelompokan dan Penafsiran Data Interaksi Sosial Kategorisasi jenjang pada instrumen interaksi sosial peserta didik akan mengelompokkan sampel penelitian ke dalam lima tingkatan, yaitu: sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan rendah sekali. Perhitungan kategorisasi jenjang dilakukan sebagai barikut. a. Menghitung skor maksimal ideal = skor maksimal x jumlah item valid = 5 x 39 = 195 b. menghitung skor minimal = skor minimal x jumlah item valid = 1 x 39 = 39 c. Menghitung rata-rata ideal = ½ x skor maksimal ideal + skor minimal = ½ x 195 + 39 = 117 d. Menghitung simpangan baku = 1/3 x rata-rata ideal = 1/3 x 117 = 39 e. Menghitung batas atas = rata-rata ideal +(1,5 x item valid) = 117 + (1,5 x 39) = 117 + 58,5 = 175,5 dibulatkan menjadi 176

54 f. Menghitung batas bawah = rata-rata ideal (1,5 x item valid) = 117 (1,5 x 39) = 117 58,5 = 58, 5 dibulatkan menjadi 59 g. Menghitung batas tengah atas = rata-rata ideal +(0,5 x item valid) = 117 + (0,5 x 39) = 117 + 19,5 = 136,5 dibulatkan menjadi 137 h. Menghitung batas tengah bawah = rata-rata ideal -(0,5 x item valid) sebagai berikut. = 117 - (0,5 x 39) = 111 19,5 = 97,5 dibulatkan menjadi 98 Berdasarkan hasil perhitungan, dapat dilakukan penentuan kategorisasi Tabel 3.9 Kategorisasi Interaksi Sosial Peserta Didik Broken Home Kelas X SMK Negeri 7 Baleendah Kab. Bandung No Interval Kategori 1. 176 Sangat tinggi 2. 138-175 Tinggi 3. 99 137 Sedang 4. 60 98 Rendah 5. 59 Rendah sekali Hasil perhitungan di atas menunjukkan kategorisasi untuk profil interaksi sosial peserta didik broken home. Adapun kategorisasi untuk profil interaksi sosial secara khusus seperti berdasarkan aspek dan sub aspek dari interaksi sosial, dihitung seperti rumus di atas. Hasil pengolahan data profil interaksi sosial peserta didik broken home yang dijadikan landasan dalam pembuatan layanan responsif, terlebih dahulu dilakukan pengelompokan data menjadi lima kategori yaitu sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan rendah sekali. Hasil pengelompokan data berdasarkan kategori dan interpretasinya dapat dilihat pada tabel 3.10 sebagai berikut.

55 Tabel 3.10 Interpretasi Skor Kategori Profil Interaksi Sosial Peserta Didik Broken Home Kategori Profil interaksi sosial Profil interaksi sosial sangat tinggi Profil interaksi sosial tinggi Profil interaksi sosial sedang Interpretasi Pada kategori sangat tinggi berarti peserta didik menampilkan interaksi sosial pada setiap aspeknya, yang ditampilkan oleh perilaku peserta didik di sekolah yang meliputi kemampuan dalam memulai interaksi, mampu merespon percakapan, mampu berinteraksi dengan tujuan rekreasi atau kesenangan dan berinteraksi dengan tujuan pemenuhan kebutuhan tugas sekolah, serta ikut terlibat dalam kegiatan positif yang sedang berlangsung di lingkungan sekolah. Pada kategori tinggi berarti peserta didik memiliki interaksi sosial pada hampir setiap aspeknya, yang ditampilkan oleh perilaku peserta didik di sekolah yang meliputi kemampuan dalam memulai interaksi hampir dalam setiap keadaan, mampu merespon percakapan hampir dalam setiap pertemuan, mampu berinteraksi dengan tujuan rekreasi atau kesenangan dan berinteraksi dengan tujuan pemenuhan kebutuhan tugas sekolah hampir dalam setiap keadaan, serta ikut terlibat dalam kegiatan positif yang sedang berlangsung di lingkungan sekolah hampir dalam setiap keadaan. Pada kategori sedang berarti peserta didik memiliki interaksi sosial yang sedang, yang artinya peserta didik menampilkan kemampuan interaksi sosial di sekolah yang meliputi kemampuan memulai interaksi dan merespon percakapan dengan pada

56 Profil interaksi sosial rendah Profil interaksi sosial rendah sekali beberapa keadaan, melakukan interaksi sosial dengan tujuan kesenangan atau rekreasi dan pemenuhan tugas sekolah pada beberapa keadaan dan ikut terlibat dalam kegiatan positif yang berlangsung di sekolah pada beberapa keadaan. Pada kategori rendah berarti peserta didik kurang memiliki interaksi sosial pada setiap aspeknya, yang ditampilkan oleh perilaku peserta didik di sekolah yang meliputi kurang mampu memulai interaksi dan merespon percakapan, kurang mampu berinteraksi dengan tujuan kesenangan atau rekreasi dan pemenuhan tugas sekolah serta kurang mampu terlibat dalam kegiatan positif yang berlangsung di sekolah. Pada kategori sangat rendah berarti peserta didik memiliki interaksi sosial yang sangat rendah pada setiap aspeknya, yang ditampilkan oleh perilaku peserta didik di sekolah yang meliputi kurangnya kemampuan dalam memulai interaksi dan merespon percakapan, tidak mampu berinteraksi dengan tujuan kesenangan atau rekreasi dan pemenuhan tugas sekolah serta tidak ikut terlibat dalam kegiatan positif yang berlangsung di sekolah. G. Prosedur dan Tahap Penelitian Beberapa tahapan dalam pelaksanaan penelitian dirinci sebagai berikut. 1. Penyusunan proposal penelitian. 2. Pengajuan permohonan pengangkatan dosen pembimbing skripsi. 3. Permohonan perizinan penelitian dari jurusan PPB yang merekomendasikan ke tingkat fakultas dan BAAK dan diserahkan kepada kepala sekolah yang dijadikan tempat penelitian yaitu SMK Negeri 7 Baleendah Kab. Bandung. 4. Menyusun alat pengumpul data yang terdiri dari instrumen interaksi sosial diperoleh melalui penyebaran angket kepada seluruh peserta didik kelas X

57 dan data ketidakutuhan keluarga yang diperoleh melalui data pribadi yang sudah tersedia di sekolah. 5. Melakukan uji validitas dan reliabilitas. 6. Pengolahan data. 7. Analisis profil interaksi peserta didik yang berasal dari keluarga yang tidak utuh. 8. Menyusun implikasi layanan BK berdasarkan profil interaksi sosial peserta didik broken home di SMK, kesimpulan dan membuat rekomendasi.