LOSOFI PECUT ATAU CEMETI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 4 KESIMPULAN. Universitas Indonesia. Sistem nilai..., Mastiur Pharmata, FIB UI, 2009

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia Aspek-aspek religiusitas..., Dhanang 1 Pramudito, FIB UI, 2009

pernah dialami oleh sesepuh dalam kelompok kejawen dilakukan sebagai bentuk

Sebuah uraian singkat Konsep Manunggaling Kawula Gusti

BAB V KESIMPULAN. akan memaparkan beberapa pokok pemikiran penting yang merupakan inti

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA. yang ada di luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal

BAB 1 PENDAHULUAN. Aspek-aspek laku..., Lulus Listuhayu, FIB UI, Universitas Indonesia

Tarik Nafas Tahan Nafas Keluarkan Nafas Jumlah 10 Detik 10 Detik 10 Detik 30 Detik Minggu I : 3 kali

BAB IV PRAKTEK KEAGAMAAN YANG MEMILIKI SIKAP PLURALISME. praktek keagamaan dan aktifitasnya. Akan tetapi hanya ada satu praktek

BAB I PENDAHULUAN. Sebelum masuknya agama-agama besar dunia ke Indonesia, masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. Karya-karya Raden Ngabehi Ranggawarsita banyak dipengaruhi oleh kepustakaan. 1988: 40). Kebenaran bahwa SC dikarang oleh Raden

Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Mistik Nawaruci dan Mistik Bimasuci dalam Perjumpaannya dengan Yesus, Sang Air Kehidupan

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

BAB IV ANALISA DATA PERSAMAAN DAN PERBEDAAN ANTARA AJARAN AWATARA DALAM AGAMA HINDU DAN TASHAWUF ISLAM

Konsep Ketuhanan Jawa Menurut Eyang Ismaya (SEMAR) Diposting oleh admin pada tanggal 19 September 2014

UKDW BAB I PENDAHULUAN

Nilai-nilai Ajaran Kepercayaan terhadap Tuhan YME sebagai Rujukan Pembentukan Karakter Bangsa MAJELIS LUHUR

KEBERADAAN PAGUYUBAN NGESTI TUNGGAL (PANGESTU) DI KOTA SEMARANG (Studi Kasus Pangestu Cabang Semarang III) SKRIPSI

BAB V PENUTUP. Indonesia ini menghasilkan beberapa temuan sebagai berikut: Kanjeng Pangeran Harya Cakraningrat. Kitab ini merupakan jilid pertama

AKULTURASI BUDAYA INDONESIA DAN ISLAM

Kualitas Sumber Daya Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Pelestarian Nilai-Nilai Luhur

BAB I PENDAHULUAN. yaitu animisme dan dinamisme. Setelah itu barulah masuk agama Hindu ke

PENDAHULUAN. Kalau hidup sekedar hidup, kera di hutan juga hidup. Kalau kerja sekedar kerja, kerbau di sawah juga bekerja.

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan dasar identitas diri dan integrasi sosial masyarakat. hidup berdampingan merupakan kekayaan dalam khasanah budaya

Perbandingan Antara Ajaran Kejawen Dengan Ajaran Syekh Siti Jenar

PENGORBANAN Oleh Nurcholish Madjid

REVOLUSI MENTAL PERSPEKTIF KEPERCAYAAN THDP TUHAN YME

TALIM MADANI #12 IMAN KEPADA ALLAH (PERBEDAAN MALAIKAT DAN MANUSIA)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I Pendahuluan. Proses Usaha. Doa. Peluang

MEMAHAMI DIRI DAN ORGANISASI BERPRESTASI STIKOM - SURABAYA

Spiritualitas Islam Dalam Pandangan Muhammadiyah. Farah Meidita Firdaus

SERAT DEWA RUCI : KONSEP MANUNGGALING KAWULA GUSTI

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN. Dalam bab kelima ini akan disajikan dua hal, yaitu (1) simpulan, dan (2)

BAB I PENDAHULUAN. Mempelajari pendidikan Islam sangat penting bagi kehidupan setiap. muslim karena pendidikan merupakan suatu usaha yang membentuk

Ujian Dunia dan Ujian Akhirat

BAB I PENDAHULUAN. berjalan dengan baik. Sarana itu berupa bahasa. Dengan bahasa masyarakat

BAB V PENUTUP. mengenai konsep pendidikan akhlak dalam perspektif Abd al-wahha>b al-

Nasib dan Takdir Manusia, Apa Bedanya?

Sumber : Perpustakaan Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan

BAB I PENDAHULUAN. memiliki adat istiadat (kebiasaan hidup) dan kebudayaan masing-masing,

Gal.6:1-5. Ev. Bakti Anugrah, M.A.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia memiliki beranekaragam kebudayaan dan kesenian tradisionalnya.

MENGGAPAI PUNCAK KEKUDUSAN

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. santri di Pondok Pesantren Al-Itqon Kota Semarang merupakan pendapat

SELAMA HIDUP DI DUNIA

TEORI BELAJAR KLASIK Oleh : Habibi FKIP Universitas Wiraraja Sumenep

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat,

SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT PANGRUWATING DIYU "

SARANA MENUJU INDONESIA ADIL & MAKMUR

MENGUNGKAP SANDI ROHANI ALAS KETONGGO

BAB I PENDAHULUAN. mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda-beda. Secara

3. Laklak Debata Bulan (Kitab Debata Bulan)

Th Tahun : : Bahasa Indonesia dalam Psikologi. Pendahuluan

UNDANG-UNDANG (UU) 1948 No. 19. (19/1948) Peraturan tentang susunan dan kekuasaan Badan-badan Kehakiman. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

BAB I PENDAHULUAN. Manusia menurut Islam pada hakekatnya adalah makhluk monopluralis

Yesus Itu Adalah Hakim Agung. ketika dunia ini berakhir, yaitu di akhir zaman, akhir segala sesuatu. " Tetapi

Mutiara Islahul Qulub 6

M I S T E R I. Publication : 1436 H_2015 M MISTERI SYEKH SITI JENAR

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. terhadap api dan segala bentuk benda tajam. Seni dan budaya debus kini menjadi

b. Hutang-hutang yang timbul selama perkawinan berlangsung kecuali yang merupakan harta pribadi masing-masing suami isteri; dan

B. Dasar C. Tujuan D. Tema

1 1 Dari Simon Petrus, hamba dan rasul

Sumber dan Tujuan Pendidikan yang Benar. Pengetahuan orang kudus adalah pengertian, Kenalilah akan Dia.

INSPIRATIF

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

Kebebasan Ruhani Oleh Nurcholish Madjid

BAB VI KESIMPULAN. Pada dasarnya Keraton Yogyakarta dibangun berdasarkan. kosmologi Jawa, yang meletakkan keseimbangan dan keselarasan

PANCASILA UNTUK INDONESIA

BAB V PENUTUP. anak pada keluarga akitivis islam di Kaliurang dapat ditarik kesimpulan. terhadap suatu kejadian yang menimpanya.

file://\\ \web\prokum\uu\2004\uu htm

BAB I PENDAHULUAN. tradisi di dalam masyarakat. Sebuah siklus kehidupan yang tidak akan pernah

RAMADAN Oleh Nurcholish Madjid

Bab VI Simpulan & Saran

Berpegang Teguh dengan Alquran dan Sunnah

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4

2 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah dua kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 (Lembaran Negar

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penciptaan

Lemahnya Kesadaran Masyarakat Indonesia Terhadap Nilai-nilai Pancasila

BAB I PENDAHULUAN. rangkaian kata-kata untuk mempertegas ritual yang dilakukan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Berdasarkan hasil temuan di lapangan mengenai perkembangan seni

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keanekaragaman suku bangsa dan

FILSAFAT RASA HIDUP. Hal. 1/5. Filsafat Rasa Hidup

F. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KHONGHUCU DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNANETRA

TAUHID AL-WUJUD SYEIKH SITI JENAR DAN UNIO MYSTICA BIMA (Sebuah Studi Komparasi) Oleh: Agus Himmawan Utomo 1. Abstract

Pembaharuan.

Gara-Gara Hantu Lingkaran. Hendra Gunawan

BAB VI PENUTUP. isinya. Beberapa pengkajian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa

Oleh: Alief Baharrudin G

PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN ORGANISASI PENGHAYAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA (Paguyuban Sumarah Purbo) Oleh :

Transkripsi:

LOSOFI PECUT ATAU CEMETI Ketika ritual sudah dilaksanakan maka terlihat anggota paguyuban seni Turonggo seto kinasih melakukan atraksi mengibaskan pecut atau cemeti dari berbagai arah, utara, selatan, barat dan timur. Pecut dalam bahasa Indonesia sangat populer dengan nama cemeti jika menurut bahasa jawa adalah cermat lan ati-ati. Ada istilah parikan yang berbunyi Pecut Diseblakno, Barang wis kecabut diapakno Parikan tersebut memberi nasehat bahwa janganlah menyesal dikelak kemudian hari, untuk itu memanglah segala langkah yang akan dijalani dari segala keputusan yang akan diambil haruslah dipelajari dahulu dengan sabar tidak tergesa-gesa, tidak terburu-buru harus dengan teliti,dengan cermat dan dengan hati-hati dari segala pandangan yang mungkin dapat terjadi tanpa mementingkan ego dan hawa nafsu.

Pecut disini di ibaratkan sebuah alat untuk mengendalikan ilmu dan ilmu sendiri bagaikan hewan liar yang tak terkendalikan dan disitulah timbul pertanyaan untuk fikiran, bagaimanakah mengendalikan hewan tersebut? Maka disitulah timbul yang namanya pengetahuan. Dengan pecut inilah kita bisa mengatur irama cepat lambatnya kita sampai tujuan dan jelas tujauan terakhir kita adalah Tuhan Yang Maha Esa. Di dalam ilmu kejawen, banyak sekali kitabkitab karangan pujangga terdahulu yang mengajarkan kita untuk mengejar ilmu setinggi tingginya. Banyak sekali wejangan wejangan yang tertulis didalam kitab kuno. Salah satunya adalah : Kitab Primbon Atassadhur Adammakna, merupakan salah satu kitab terpenting dalam ajaran Kejawen. Di dalamnya memuat ajaran-ajaran utamanya yakni Wirid Maklumat Jati di mana mencakup delapan wiridan sebagai berikut ; 2

1. Wirayat-Jati; ajaran yang mengungkap rahasia dan hakikatnya ilmu kasampurnan. Ilmu pangracutan sebagaimana yang ditempuh oleh Sinuhun Kanjeng Sultan Agung merupakan bentuk laku untuk menggapai ilmu kasampurnan ini. 2. Laksita-Jati; ajaran tentang langkahlangkah panglebur raga, agar supaya orang yang meninggal dunia, raganya dapat melebur ke dalam jiwa (warangka manjing curiga).kamuksan, mokswa, atau mosca, yakni mati secara sempurna, raga hilang bersama sukma, yang lazim dilakukan para leluhur zaman dahulu merupakan wujudwarangka manjing curiga. 3. Panunggal-Jati; ajaran tentang hakikat Tuhan dan manusia mahluk ciptaannya. Atau hakikat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Meretas hakekat ajaran tentang manunggaling kawula lan Gusti atau jumbuhing kawula-gusti. Panunggal-Jati berbeda dengan Aji Panunggal. Aji Panunggal membeberkan ke-ada-an jati diri manusia, yang meliputi adanya 3

pancaindera. Aji Panunggal juga mengajarkan tata cara atau teknik untuk melakukan semedi/maladihening/mesu budi/yoga sebagai upayajiwa dalam rangka menundukkan raga. 4. Karana-Jati; ajaran tentang hakikat dan asal muasalnya manusia, ajaran ini sebagai cikal bakal ilmu sangkan-paraning dumadi. Siapakah sejatinya manusia. Hendaknya apa yang dilakukan manusia. Akan kemana kah selanjutnya manusia. 5. Purba Jati; ajaran tentang hakikat Dzat, ke-ada-an Dzat yang sejati. Menjawab pertanyaan, Tuhan ada di mana? Dan membeberkan ilmu tentang sejatinya Tuhan. Seyogyanya Purba Jati dibaca oleh pembaca yang budiman dan bijaksana, dan bagi yang telah mencapai tingkatan pemahaman tasawuf agar supaya tidak terjadi kekeliruan pemahaman. 6. Saloka-Jati; ilmu tentang perlambang, sanepan, kiasan yang merupakan pengejawantahan dari bahasa alam, yang tidak lain adalah bahasa Tuhan. Supaya 4

manusia menjadi lebih bijaksana dan mampu nggayuh kawicaksananing Gusti; mampu membaca dan memaknai bahasa (kehendak) Tuhan. Sebagai petunjuk dasar bagi manusia dalam mengarungi samudra kehidupan. 7. Sasmita-Jati; ilmu yang mengajarkan ketajaman batin manusia supaya mengetahui kapan datangnya janji akan tiba. Semua manusia akan mati, tetapi tak pernah tahu kapan akan meninggal dunia. Sasmita Jati mengungkap tanda-tanda sebelum seseorang meninggal dunia. Tanda-tanda yang dapat dibaca apabila kurang tiga tahun hingga sehari seseorang akan meninggal dunia. Dan bagaimana manusia mempersiapkan diri untuk menyongsong hari kematiannya. 8. Wasana-Jati; ilmu yang menggambarkan apa yang terjadi pada waktu detik-detik terakhir seseorang meninggal dunia, dan apa yang terjadi dengan sukma atau ruh sesudah seseorang itu meninggal dunia. 5