POLA PEMILIHAN OBAT DAN OUTCOME

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH. perawatan medis. Penyakit diare akut atau Gastroenteritis Akut (GEA) masih

PEMILIHAN OBAT DAN OUTCOME TERAPI GASTROENTERITIS AKUT PADA PASIEN PEDIATRI DI INSTALASI RAWAT INAP RSUP Dr. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN TAHUN 2009

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

EVALUASI PENGOBATAN PASIEN DIARE PEDIATRI RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. MOEWARDI SURAKARTA PERIODE 2008 SKRIPSI

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dalam waktu yang singkat atau kurang dari dua minggu (Spruill and Wade,

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

DIARE AKUT. Berdasarkan Riskesdas 2007 : diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25,2% pada anak usia 1-4 tahun.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Farmakoterapi I Diar dan konstipasi. Ebta Narasukma A, M.Sc., Apt

Pelayanan Kesehatan bagi Anak. Bab 5 Diare. Catatan untuk instruktur

LAPORAN KASUS / RESUME DIARE

Pola buang air besar pada anak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit diare adalah salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada

Apa Penyebab Diare? Penyebab diare pada bayi/anak dan dewasa ada yang berbeda. Penulis akan menjelaskan penyebab bayi/anak dan dewasa tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bab I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Diare merupakan salah satu penyebab kematian utama pada anak balita

BAB 1 PENDAHULUAN. atau dapat pula bercampur lendir dan darah/lendir saja (Ngastiyah, 2005). Pada

PENANGANAN DIARE. B. Tujuan Mencegah dan mengobati dehidrasi, memperpendek lamanya sakit dan mencegah diare menjadi berat

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan anak terjadi pada masa balita. Masa balita merupakan masa

BAB I PENDAHULUAN. Diare merupakan masalah pada anak-anak di seluruh dunia. Dehidrasi dan

BAB I PENDAHULUAN. Menurut data World Health Organization (WHO), diare adalah penyebab. Sementara menurut United Nations Childrens Foundation (UNICEF)

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Diare pada anak masih merupakan masalah kesehatan dengan

BAB VI PEMBAHASAN. subyek penelitian di atas 1 tahun dilakukan berdasarkan rekomendasi untuk. pemberian madu sampai usia 12 bulan.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pelayanan Kesehatan bagi Anak. Bab 7 Gizi Buruk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. PENGUMPULAN/PENYAJIAN DATA DASAR SECARA LENGKAP

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Anak merupakan individu yang berada dalam suatu rentang

BAB 1 PENDAHULUAN. buang air besar (Dewi, 2011). Penatalaksaan diare sebenarnya dapat. dilakukan di rumah tangga bertujuan untuk mencegah dehidrasi.

BAB 1 PENDAHULUAN. saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dan beban global. terutama di negara berkembang seperti Indonesia adalah diare.

I. PENDAHULUAN. Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan. Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare Depkes RI 2011).

BAB I PENDAHULUAN. masalah kesehatan di indonesia terutama pada anak-anak. Diare harus

BAB I LATAR BELAKANG. bayi dan balita. Seorang bayi baru lahir umumnya akan buang air besar sampai

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data rekam medik yang sesuai

RENCANA TERAPI A PENANGANAN DIARE DI RUMAH (DIARE TANPA DEHIDRASI)

BAB I PENDAHULUAN. cair, dengan atau tanpa darah dan atau lendir, biasanya terjadi secara

HUBUNGAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DINI DENGAN INSIDEN DIARE PADA BAYI USIA 1-4 BULAN SKRIPSI

ASUHAN KEPERAWATAN DEMAM TIFOID

Pokok Bahasan: GASTROENTEROLOGI dan HEPATOLOGI Sakit perut berulang M. Juffrie

BAB 1 PENDAHULUAN. hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997). Hal ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. A. Tinjauan Pustaka. (Spruill dan Wade, 2008). Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan

EVALUASI TERAPI DIARE PADA PASIEN ANAK DI PUSKESMAS NGUTER KECAMATAN NGUTER KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN 2012 NASKAH PUBLIKASI

KERANGKA ACUAN PROGRAM PEMBERANTASAN PENYAKIT DIARE

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

POLA TATALAKSANA DIARE CAIR AKUT DI RSUD WONOSOBO Ika Purnamasari, Ari Setyawati ABSTRAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja yang cair dengan frekuensi

Grafik 1.1 Frekuensi Incidence Rate (IR) berdasarkan survei morbiditas per1000 penduduk

BAB I Pendahuluan. I.1. Latar Belakang. Salah satu dari tujuan Millenium Development. Goal(MDGs) adalah menurunkan angka kematian balita

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Diare didefinisikan sebagai pengeluaran tinja yang cair dengan frekuensi

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. F DENGAN GANGGUAN GASTROENTERITIS DI BANGSAL MELATI II RSUD DR. MOEWARDI SURAKARTA

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Anak adalah anugrah yang diberikan Tuhan kepada keluarga, yang

dalam terapi obat (Indrasanto, 2006). Sasaran terapi pada pneumonia adalah bakteri, dimana bakteri merupakan penyebab infeksi.

BAB I PENDAHULUAN. Diare masih merupakan masalah kesehatan utama pada anak terutama balita

BAB I PENDAHULUAN. infeksi virus selain oleh bakteri, parasit, toksin dan obat- obatan. Penyakit

DRUG RELATED PROBLEMS KATEGORI DOSIS LEBIH, DOSIS KURANG DI INTENSIVE CARE UNIT RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR.MOEWARDI SURAKARTA PERIODE TAHUN 2007

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. oleh infeksi saluran napas disusul oleh infeksi saluran cerna. 1. Menurut World Health Organization (WHO) 2014, demam tifoid

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. masalah besar yang harus benar-benar diperhatikan oleh setiap orang tua. Upaya

BAB I PENDAHULUAN. Penggunaan obat didefinisikan oleh World Health Organization (WHO)

BAB I PENDAHULUAN. dan Angka Kematian Balita (AKABA/AKBAL). Angka kematian bayi dan balita

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam faeces (Ngastiah, 1999). Menurut Suriadi (2001) yang encer atau cair. Sedangkan menurut Arief Mansjoer (2008) diare

BAB I PENDAHULUAN. diperkirakan kasus per penduduk per tahun, atau kurang lebih

SOP PENCATATAN & PELAPORAN P2 DIARE

BAB I KONSEP DASAR. Gastroenteritis adalah peradangan dari lambung dan usus yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Diare berasal dari bahasa Yunani yaitu diarrea yang berarti mengalir melalui

SOP PENCATATAN & PELAPORAN P2 DIARE

BAB II LANDASAN TEORI A. TINJAUAN PUSTAKA. pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna dengan menyediakan pelayanan

BAB 1 PENDAHULUAN. sehari (Navaneethan et al., 2011). Secara global, terdapat 1,7 miliar kasus diare

PENANGANAN DIARE No Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit : Halaman :

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN

Setiap tahun, diperkirakan terdapat 2 miliar kasus diare di seluruh dunia. Pada tahun 2004, diare menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga di

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk

BAB I PENDAHULUAN. dimana sebagian besar kematian terjadi akibat komplikasi dehidrasi. Sejak tahun

BAB I PENDAHULUAN. negara berkembang termasuk Indonesia (Depkes RI, 2007). dan balita. Di negara berkembang termasuk Indonesia anak-anak menderita

BAB III METODE PENELITIAN

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 3 MENENTUKAN TINDAKAN DAN MEMBERI PENGOBATAN

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. yang paling sering dijumpai pada pasien-pasien rawat jalan, yaitu sebanyak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PEMILIHAN OBAT DAN OUTCOME

Transkripsi:

POLA PEMILIHAN OBAT DAN OUTCOME TERAPI GASTROENTERITIS AKUT (GEA) PADA PASIEN PEDIATRI DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH SURAKARTA JANUARI - JUNI TAHUN 2008 SKRIPSI Oleh: MEGA NURMASARI K100050027 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA SURAKARTA 2010

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Penyakit diare sering disebut Gastroenteritis masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Data survey tahun 2002 menunjukkan angka kesakitannya adalah sekitar 200-400 kejadian diare diantara 1000 penduduk setiap tahunnya. Dengan demikian di Indonesia dapat ditemukan penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya, sebagian besar (70-80%) dari penderita ini adalah anak dibawah 5 th (±40 juta kejadian). Kelompok ini setiap tahunnya mengalami lebih dari satu kejadian diare (Suharyono dkk., 1994). Di Indonesia, diare akut masih merupakan penyebab kesakitan dan kematian yang penting pada anak. Di seluruh dunia diperkirakan diare menyebabkan 1 billiun episode dengan angka kematian sekitar 3-5 miliyar setahunnya. Pada tahun 1995 Depkes RI memperkirakan terjadi episode diare sekitar 1,3 miliyar dan kematian pada anak balita sekitar 1,3 miliyar dan kematian pada anak balita sebanyak 3,2 juta setiap tahunnya (Soebagyo, 2008). Gastroenteritis menjadi lebih serius pada orang yang kurang gizi sebab dapat memperburuk keadaan kurang gizi yang telah ada. Selama diare zat gizi hilang dari tubuh, orang bisa tidak lapar dan ibu mungkin tidak memberi makan pada anak yang menderita diare. Beberapa ibu mungkin menunda pemberian makanan pada bayinya selama beberapa hari, walaupun diare telah membaik (Andrianto, 1995).

Kematian akibat gastroenteritis biasanya bukan karena adanya infeksi dari bakteri atau virus tetapi karena terjadi dehidrasi, dimana pada diare yang hebat anak akan mengalami buang air besar dalam bentuk cair beberapa kali dalam sehari dan sering disertai dengan muntah, panas, bahkan kejang. Oleh karena itu, tubuh akan kehilangan banyak air dan garam garam sehingga dapat mengakibatkan dehidrasi, asidosis, hipoglikemis, yang tidak jarang akan berakhir dengan shock dan kematian. Pada bayi dan anak- anak kondisi ini lebih berbahaya karena cadangan intrasel dalam tubuh mereka kecil dan cairan ekstra selnya lebih mudah dilepaskan jika dibandingkan oleh orang dewasa (Firdaus, 1997). Penggunaan obat terhadap suatu kasus penyakit misalnya diare akan lebih baik dan bermanfaat jika benar benar memenuhi kriteria rasionalnya. Proses pemilihannya dilakukan secara konsisten mengikuti standar baku akan menghasilkan penggunaan obat yang sesuai dengan kriteria kerasionalnya (Sastramihardja, 1997). Timbulnya endemik diare dipengaruhi musim-musim tertentu akibat peningkatan populasi maupun virulensi faktor agent (Soebagyo, 2008). Di daerah tropik terutama di Surakarta pada musim hujan diare karena bakteri cenderung meningkat. Data dari yang didapatkan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta pada bulan Januani-Juni terdapat 75 kasus pasien pediatri dengan diagnosa gastroenteritis akut. Peningkatan diare juga terjadi pada saat sumber air khususnya air minum terkontaminasi air kotor seperti daerah yang terkena dampak banjir di Surakarta dan sekitarnya.

Mengingat banyaknya angka kematian yang disebabkan karena diare, dan banyaknya penderita diare yang berkunjung di rumah sakit atau puskesmas mendorong dilakukannya penelitian tentang gambaran pola pemilihan obat dan outcome terapi. Pada penelitian sebelumnya kebanyakan hanya membahas tentang pemilihan obat gastroenteritis akut, sehingga penelitian ini dikembangkan bukan hanya membahas tentang pola pemilihan obat saja tetapi outcome terapi guna untuk melihat keberhasilan terapi dilihat dari data administratif berupa cara keluar, kondisi keluar dan keadaan keluar. Pemilihan tempat penelitian di instalasi rawat inap rumah sakit PKU Muhammadiyah karena merupakan salah satu rumah sakit swasta terbesar di wilayah Surakarta dengan banyaknya pelayanan unggulan sehingga dijadikan tujuan untuk pelayanan kesehatan pasien GEA dan data tahun 2004 di instalasi rawat inap rumah sakit PKU Muhammadiyah menyebutkan angka kesakitan yang ditimbulkan diare pada bayi dan anak masih tinggi sekitar 275 kasus. B. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut: 1. Seperti apakah gambaran pola pemilihan obat yang meliputi penggolongan obat, cara pemberian obat, penggunaan antibiotika yang meliputi jenis antibiotika dan lama penggunaan antibiotika, bentuk sediaan dan cara pemberian obat yang diterima pasien pediatri dengan diagnosa gastroenteritis

akut di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta periode Januari-Juni tahun 2008. 2. Seperti apa outcome terapi yang meliputi cara keluar dan kondisi keluar pada pasien pediatri dengan diagnosa gastroenteritis akut di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta periode Januari-Juni tahun 2008. C. TUJUAN PENELITIAN Tujuan penelitian ini adalah : 1. Mengetahui gambaran pola pemilihan obat yang meliputi pemilihan obat yang meliputi penggolongan obat, cara pemberian obat, penggunaan antibiotika yang meliputi jenis antibiotika dan lama penggunaan antibiotika, bentuk sediaan dan cara pemberian obat yang diterima pasien pediatri dengan diagnosa gastroenteritis akut di instalasi rawat inap rumah sakit PKU Muhammadiyah Surakarta periode Januari-Juni tahun 2008. 2. Mengetahui outcome terapi yang meliputi cara keluar dan kondisi keluar pada pasien pediatri dengan diagnosa gastroenteritis akut di instalasi rawat inap rumah sakit PKU Muhammadiyah Surakarta periode Januari-Juni tahun 2008. D. TINJAUAN PUSTAKA 1. Pengertian Diare atau gastroenteritis (GE) adalah peningkatan frekuensi dan penurunan konsistensi pengeluaran tinja dibandingkan individu dengan

keadaan usus besar yang normal (Dipiro et.al., 2005). Gastroenteritis Akut (GEA) diartikan sebagai buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan/setengah cair (setengah padat) dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya berlangsung kurang dari 7 hari terjadi secara mendadak (Soebagyo, 2008). Kehilangan cairan dan garam dalam tubuh yang lebih besar dari normal menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi timbul bila pengeluaran cairan dan garam lebih besar dari pada masukan. Lebih banyak tinja cair dikeluarkan, lebih banyak cairan dan garam yang hilang. Dehidrasi dapat diperburuk oleh muntah, yang sering menyertai diare (Andrianto, 1995). 2. Penyebab Menurut Noerasid dkk (1988) 70-90% penyebab diare saat ini sudah dapat diketahui dengan pasti. Ditinjau dari sudut patofisiologisnya, maka penyebab gastroenteritis akut (diare akut) dibagi menjadi 2 golongan yaitu: a. Diare Sekresi (secretory diarrhoea), disebabkan oleh: 1) Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen: a) Infeksi bakteri misalnya Escherichia coli, Shigella dysentriae. b) Infeksi virus misalnya Rotavirus, Norwalk. c) Infeksi Parasit misalnya Entamoeba hystolitica, Giardiosis lambia. 2) Hiperperistaltik usus halus yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia, makanan, gangguan psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi.

b. Diare Osmotik (Osmotic diarrhoea), disebabkan oleh : 1) Malabsorbsi makanan (karbohidrat, lemah, protein, vitamin dan mineral). 2) KKP (Kekurangan Kalori Protein). 3) BBLR (Bayi Berat Badan Lahir Rendah) dan bayi baru lahir. (Suharyono dkk.,1994) Diare berdasarkan ada atau tidaknya infeksi dibagi menjadi 2 bagian: a. Diare infeksi spesifik: misalnya tifus abdomen dan paratifus, disentri basil (Shigella). b. Diare non spesifik: misalnya diare dietetik. (Suharyono,1991) 3. Tanda dan Gejala Diare Gejala gastroenteritis mula-mula anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan meningkat, nafsu makan berkurang, kemudian timbul diare (Suraatmaja, 2005). Tabel 1. Tanda-tanda dehidrasi menurut derajat dehidrasi (Muscari 2005). Tanda Ringan Sedang Berat Kehilangan Cairan < 5 % 5-9 % > 10 % Warna Kulit Pucat Abu Abu Bercak-bercak Turgor kulit Menurun Tidak elastic Sangat tidak elastic Membran Mukosa Kering Sangat Kering Pecah pecah Tekanan Darah Normal Normal/semakin rendah Semakin rendah Denyut Nadi Normal/meningkat Meningkat Cepat dan panjang Keluaran Urine Menurun Oliguria Oliguria nyata

Menurut (Hockberger et.al, 2002) denyut nadi dan laju pernafasan adalah tanda vital yang rutin diukur dalam kesehatan. Tanda-tanda vital tersebut tetap relatif konstan sepanjang kehidupan dewasa kita. Namun, seperti bayi dan anak-anak tumbuh dan usia, sering terjadi perubahan rentang normal. Tabel 2. Kecepatan respirasi dan kecepatan denyut nadi normal berdasar umur yang telah dikelompokkan. Umur Kecepatan Respirasi ( /menit) Kecepatan Denyut Nadi ( /menit) < 1 tahun 30 60 100-160 1 2 tahun 24 40 90 150 2 5 tahun 22 34 80 140 5 12 tahun 18 30 70 120 > 12 tahun 12 16 60 100 4. Diagnosis Diare Diagnosis gastroenteritis (diare) berdasarkan gejala klinik seharusnya sudah memadai dan sudah cukup untuk kepentingan terapi. Hal ini karena diare yang disebabkan oleh infeksi dan karena toleransi makanan mencakup sebagian besar kasus diare. Namun demikian diagnosis tetap perlu diupayakan demi kepentingan penelitian, pendidikan dan upaya pencegahan. Menurut Daldiyono (1990) langkah langkah diagnosis gastroenteritis adalah sebagai berikut: a. Anamnesis, meliputi: umur, jenis kelamin, frekuensi diare, lamanya diare, informasi tentang tinja maupun darah. b. Pemeriksaan fisik. c. Laboratorium, meliputi: tinja, kultur tinja maupun darah dan serologi. d. Endoskopi. 5. Penatalaksanaan Terapi

Panduan pengobatan menurut WHO (World Health Organization) diare akut dapat dilaksanakan secara sederhana yaitu dengan terapi cairan dan elektrolit per-oral dan melanjutkan pemberian makanan, sedangkan terapi non spesifik dengan anti diare tidak direkomendasikan dan terapi antibiotika hanya diberikan bila ada indikasi. Pemberian cairan dan elektrolit secara parenteral hanya untuk kasus dehidrasi berat (Soebagyo, 2008). Pemberian antibiotik secara rutin tidak diperlukan. Tetapi antibiotik diberikan sesuai dengan tatalaksana diare akut atau apabila ada infeksi non intestinal seperti pneunomia, infeksi saluran kencing atau sepsis. Terapi Zinc digunakan untuk mengobati diare persisten. Terapi zinc pada kasus diare akut tertentu ternyata dapat menurunkan kejadian berlanjutnya diare akut menjadi diare persisten. Indikasi yang dianjurkan adalah berat badan untuk umur saat diperiksa kurang dari 70%, diare telah berlangsung lebih dari lima hari, bayi berusia kurang dari satu tahun dengan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) dan jika terdapat tanda-tanda defisiensi zinc, yaitu satu atau lebih gejala. Pemberian antibiotika hanya terbatas karena pada umumnya diare dapat sembuh dengan sendirinya (self-limiting disease), yang perlu diperhatikan adalah penanganan terhadap dehidrasi yang terjadi (Soebagyo, 2008). 6. Pemilihan Obat Rasional

Drug therapy dapat berhasil jika dilakukan peresapan secara rasional. Resep dikatakan rasional jika dilakukan secara tepat. World Health Organization menyatakan bahwa penggunaan antibiotik yang rasional harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu: tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis dan waspada terhadap efek samping obat (Sastramihardja, 1997). Menurut (Sastramihardja, 1997) proses pengobatan rasional secara umum terdiri dari enam tahap, yaitu: a. Menentukan masalah yang dihadapi penderita (define the patient s problem). b. Menentukan tujuan terapi (specify the therapeutic objective). c. Mengevaluasi ketepatan (kenyamanan) pengobatan secara individual (verify the suitability of your personal treatment). d. Memulai pengobatan (start of the treatment). e. Memberikan informasi, instruksi dan kewaspadaan (give information, instruction, and warning). f. Memonitor atau menghentikan pengobatan (monitor or stop treatment). Menurut (Suharyono dkk.,1994) dalam garis besar pengobatan diare dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis yaitu: a. Pengobatan Cairan Untuk menentukan jumlah cairan yang perlu diberikan kepada penderita diare, harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut: Jumlah cairan yang harus diberikan sama dengan

1) jumlah cairan yang telah hilang melalui diare dan/muntah muntah PWL (Previous Water Losses) ditambah dengan, 2) banyaknya cairan yang hilang melalui keringat, urin dan pernafasan NWL (Normal Water Losses) ditambah dengan, 3) banyaknya cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung CWL (Concomitant water losses). Ada 2 jenis pengobatan cairan yaitu: 1) Cairan Rehidrasi Oral (CRO) Cairan oralit yang dianjurkan oleh WHO-ORS, tiap 1 liter mengandung osmolalitas 333 mosm/l, glukosa 20 g/l, kalori 85 cal/l. Elektrolit yang dikandung meliputi sodium 90 meq/l, kalium 20 meq/l, klorida 80 meq/l, bikarbonat 30 meq/l (Dipiro et.al., 2005). Ada beberapa cairan rehidrasi oral: a) Cairan rehidrasi oral yang mengandung NaCl, KCL, NaHCO3 dan glukosa, yang dikenal dengan nama oralit. Tabel 3. Kebutuhan cairan yang spesifik per kelompok umur (muscari, 2005). Umur Jumlah kebutuhan cairan Bayi baru lahir Bayi 80-100 ml/kg/hari 120-130 ml/kg/hari 2 tahun 115-125 ml/kg/hari 6 tahun 90-100 ml/kg/hari 15 tahun 70-85 ml/kg/hari 18 tahun 40-50 ml/kg/hari

b) Cairan rehidrasi oral yang tidak mengandung komponen-komponen di tabel 3 misalnya: larutan gula, air tajin, cairan-cairan yang tersedia di rumah dan lain-lain, disebut CRO tidak lengkap. 2) Cairan Rehidrasi Parenteral (CRP) menurut (Suharyono dkk., 1994). Cairan Ringer Laktat sebagai cairan rehidrasi parenteral tunggal. Selama pemberian cairan parenteral ini, setiap jam perlu dilakukan evaluasi jumlah cairan yang keluar bersama tinja dan muntah dan Perubahan tanda-tanda dehidrasi. b. Pengobatan Kausal Pengobatan kausal adalah pengobatan yang tepat terhadap kausa diare, diberikan setelah diketahui penyebabnya yang pasti. Jika kausa diare ini penyakit parenteral, diberikan antibiotika sistemik. Antibiotika boleh diberikan, jika pada pemeriksaan laboratorium ditemukan bakteri patogen, darah pada tinja dan secara klinis terdapat tanda-tanda yang mendukung adanya infeksi enteral (Suharyono dkk., 1994). c. Pengobatan Simptomatik 1) Obat-obat antidiare: obat-obat yang berkhasiat menghentikan diare secara cepat. Antispasmodik/spasmolitik atau opium (papaverin, loperamid dan sebagainya) yang menyebabkan terkumpulnya cairan di lumen usus dan terjadi peningkatan (overgrowth) bakteri, gangguan digesti dan absorbsi. Obat-obat ini berkhasiat menghentikan peristaltik, akibatnya diarenya tidak terlihat tetapi perut akan bertambah kembung dan dehidrasi bertambah berat (Noerasid dkk., 1988).

2) Adsorbens: obat-obat adsorben seperti kaolin, pektin, charcoal (norit, Tabonal ) dan sebagainya, telah dibuktikan tidak ada manfaatnya. 3) Stimulans: obat-obat stimulan seperti adrenalin, nikotinamide dan sebagainya tidak akan memperbaiki dehidrasi (hipovolemic shock) sehingga pengobatan yang paling tepat pemberian cairan secepatnya (Noerasid dkk., 1988). 4) Antiemetic: obat antiemetik seperti chlorpromazine dan prochlorperazine mempunyai efek sedatif, menyebabkan anak tidak mau mengkonsumsi cairan. Oleh karena itu antiemetik tidak digunakan pada anak yang diare (Soebagyo, 2008). 7. SPM (Standart Pelayanan Medis) Standart pelayanan medis RS PKU Muhammadiyah Surakarta tahun 2008 biasa digunakan oleh para tenaga kesehatan misal dokter umum dan dokter spesialis. Data yang tertera di SPM yaitu: a. Nama penyakit: Gastroenteritis Akut. b. Kriteria diagnosis: Mencret, ubun-ubun cekung, mulut/bibir kering, turgor menurun, nadi cepat, mata cekung, nafas cepat dan dalam, Oliguri. c. Diagnosis pembanding: Mencret psikologi, Shigella, V.Cholera, Salmonela, E.Coli, Rotavirus, Campylobacter. d. Pemeriksaan penunjang: Pemeriksaaan rutin tinja, bila perlu analisis gas darah elektrolit dan Tes Malabsorbsi. e. Konsultasi: Spesialis Anak

f. Perawatan Rumah Sakit: Rawat Inap, bila terdapat dehidrasi berat. g. Terapi: Rehidrasi Oral/Parenteral, Antibiotik atas indikasi, diet. h. Penyulit: asidosis, hipokalemi, rejatan, hipernatremi, kejang. i. Informed Consent (tertulis): Tertulis, diperlukan pada tindakan lumbal j. Standart tenaga: Dokter Umum, Spesialis Ilmu Kesehatan Anak. k. Lama Perawatan: 3 5 hari. l. Masa Pemulihan: 2-3 minggu. m. Output: Sembuh total. 8. Penentuan Outcome Terapi Outcome terapi gastroenteritis diarahkan ke arah gejala, tanda, dan hasil laboratorium. Gejala lanjutan biasanya meningkat dalam waktu 24 sampai 72 jam. Monitoring untuk perubahan karakter dan frekwensi gerakan usus besar sehari-hari berhubungan dengan tanda penting dan peningkatan outcome terapi, selain itu kebutuhan klinik juga diperlukan untuk memonitor berat badan, osmolalitas, elektrolit, sel darah, urinalis dan hasil culture (Dipiro et.al., 2005). 9. Rumah Sakit Rumah sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan tempat menyelenggarakan upaya kesehatan. Setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dapat disebut juga dengan upaya kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.

Pada masa sekarang ini Rumah Sakit PKU Muhammadiyah telah memiliki unit-unit pelayanan kesehatan seperti Poliklinik, penunjang Medik, unit-unit pelayanan non Medik. Kapasitas yang tersedia di Rumah Sakit sebanyak 157 tempat tidur. Izin menyelenggarakan RS PKU Muhammadiyah Surakarta tanggal 7 Februari 1986 dengan no: 023/Tan/Med/RS.KS/PA/1992. Tahun 1998 RS PKU Muhammadiyah mendapatkan Akreditasi untuk 5 pelayanan meliputi pelayanan medis, administrasi manajemen, Instalasi Gawat Darurat (IGD), keperawatan, dan rekam medis (Anonim d, 2009). 10. Rekam Medik Rekam medik adalah sejarah ringkas, jelas, dan akurat dari kehidupan dan kesakitan penderita, ditulis dari sudut pandang medik. Data identifikasi dalam rekaman medik pada umumnya terdapat dalam lembar penerimaan rumah sakit. Lembaran ini pada umumnya mengandung informasi berkaitan seperti nomor rekam medik, nama, alamat, penderita, nama suami/istri, no telepon rumah/kantor, jenis kelamin, tempat tanggal lahir, status perkawinan, pekerjaan, nama dan alamat dokter keluarga, diagnosis pada waktu penerimaan, tanggal dan waktu masuk rumah sakit dan tempat dirumah sakit. Pada lembar penerimaan itu umumnya terlampir formulir persetujuan untuk memberi kewenangan (otorisasi) bagi penanganan medik dan bedah (Siregar, 2003).