Hipertensi pulmonal (HP) merupakan

dokumen-dokumen yang mirip
What should be evaluated by echocardiography in patients after Tetralogy Fallotsurgery

Transposisi arteri besar (TAB) adalah suatu. Transposisi Arteri Besar dan mutasi gen TBX1

Defek septum ventrikel (DSV) merupakan. Peran Mutasi Gen CRELD1 pada Defek Septum Ventrikel dan Hubungannya dengan Manifestasi Klinis

Defek septum ventrikel (DSV) merupakan. Status gizi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit jantung bawaan terjadi pada 8 bayi dari. setiap 1000 kelahiran. (Sommer, 2008) Penyakit jantung

BAB I PENDAHULUAN. individu. Pemberian antibiotik seperti penisilin pada streptococcal faringitis turut

What should be evaluated by echocardiography in patients after Tetralogy Fallotsurgery

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. banyak ditemukan dengan insiden antara 8-10 kejadian setiap 1000 kelahiran

BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah di bidang Ilmu Kardiologi dan

Dr. Prastowo Sidi Pramono, Sp.A

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sehingga aliran darah balik vena paru akan menuju ke atrium kanan serta

BAYI DENGAN RESIKO TINGGI: KELAINAN JANTUNG KONGENITAL. OLEH. FARIDA LINDA SARI SIREGAR, M.Kep

BAB IV METODE PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Pasien dewasa dengan penyakit jantung bawaan menunjukkan insidensi

BAB I PENDAHULUAN. struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung yang dibawa dari lahir. 1

Bunyi Jantung I (BJ I)

NKX2.5, GATA4 and TBX1 gene mutations on Tetralogy Fallot

Gambar 1. Anatomi jantung normal (A) dan jantung dengan ASD (B)

Gambar 1. Atresia Pulmonal Sumber : (

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT ATRIAL SEPTAL DEFECT DI RUMAH SAKIT HASAN SADIKIN BANDUNG, PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2009

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. disebabkan adanya penyempitan pada katup mitral (Rilantono, 2012). Kelainan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah suatu bentuk kelainan kardiovaskular

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

HASIL PENELITIAN PROFIL PASIEN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN PADA ANAK DI RSUP HAJI ADAM MALIK TAHUN Oleh: ANGGIA ANGGRAENI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stenosis mitral merupakan salah satu penyakit katup jantung. Pada kondisi

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah penyakit kardiovaskular yang terjadi

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i

PENDAHULUAN Sekitar 1% dari bayi lahir menderita kelainan jantung bawaan. Sebagian bayi lahir tanpa gejala dan gejala baru tampak pada masa kanak- kan

CARDIOMYOPATHY. dr. Riska Yulinta Viandini, MMR

GAMBARAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG BAWAAN PADA ANAK DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN. Oleh : BETTY ARNITASARI NABABAN

Transposisi arteri besar (TAB) merupakan

HUBUNGAN TEKANAN DARAH SISTOLIK PADA PENDERITA INFARK MIOKARD AKUT SEGMEN ST ELEVASI ONSET < 12 JAM SAAT MASUK DENGAN MORTALITAS DI RSUP H.

BAB I PENDAHULUAN. Penyebab stenosis mitral paling sering adalah demam rematik, kemudian dapat

SURGICAL CLOSURE PADA DEFEK SEKAT ATRIUM USIA DEWASA: SEBUAH LAPORAN KASUS. Pande Ayu Naya Kasih Permatananda Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Echocardiographic of double inlet ventricle: What is important for surgeon. Sri Endah Rahayuningsih MD, PhD

DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA PENYAKIT JANTUNG BAWAAN

Hubungan penyakit jantung bawaan pada anak dengan status pendidikan orang tua

BAB 1 PENDAHULUAN. pada pola penyakit. Beberapa penyakit non-infeksi, termasuk penyakit

HIPERTENSI ARTERI PULMONAL IDIOPATIK

DAFTAR ISI II.4.2. Mekanisme perbaikan HRQoL pasien HAP dengan terapi sildenafil... II.4.3. Interaksi obat dan efek samping sildenafil...

BAB I. 1.1 Latar Belakang. Atrial fibrilasi (AF) didefinisikan sebagai irama jantung yang

Nurcholid Umam Kurniawan

BAB 2 TINJAUN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Kardiomiopati dilatasi adalah kelainan

ABSTRAK GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR RISIKO PADA PASIEN GAGAL JANTUNG DI RUMAH SAKIT SANTO BORROMEUS BANDUNG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2010

PERAN EKOKARDIOGRAFI DALAM PENEGAKAN DIAGNOSIS DAN PENILAIAN SEVERITAS STENOSIS MITRAL. Basuki Rahmat Fakultas Kedokteran Universitas Mataram

BAB 1 PENDAHULUAN. lebih dini pada usia bayi, atau bahkan saat masa neonatus, sedangkan

Tatalaksana Penyakit Jantung Bawaan

PERAN TINGKAT PENDIDIKAN TERAKHIR ORANG TUA TERHADAP PENYAKIT JANTUNG REMATIK PADA ANAK

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat dr. Kariadi. Penelitian dilakukan dari bulan Februari 2016 Juli 2016

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan patogenesisnya, Effendi (2006) dalam Neonatologi IDAI (2008) membedakan kelainan kongenital sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. Menurut American Heart Association (2015), Penyakit Jantung Bawaan

SOP ECHOCARDIOGRAPHY TINDAKAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Radiofrequency Ablation of Typical Atrial Flutter after Implantation of Amplatzer Septal Occluder: A Case Report

BAB 1 PENDAHULUAN. Jantung merupakan suatu organ yang berfungsi memompa darah ke

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Diabetes gestational terjadi karena kelainan yang dipicu oleh kehamilan,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang SMF Kardiologi dan Kedokteran

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit Jantung Bawaan adalah kelainan struktural jantung atau pembuluh

BAB IV METODE PENELITIAN. mengaitkan bidang Ilmu Penyakit Dalam, khususnya bidang infeksi tropis yaitu. Rumah Sakit Umum Pusat dr. Kariadi Semarang.

STRUKTUR JANTUNG RUANG JANTUNG KATUP JANTUNG tiga katup trikuspidalis dua katup bikuspidalis katup mitral Katup pulmonal Katup aorta Arteri Koroner

BAB I PENDAHULUAN. Stroke merupakan gangguan neurologis fokal maupun global yang terjadi

KARDIOMIOPATI TAKOTSUBO

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan

PENYAKIT JANTUNG BAWAAN (PJB) MERUPAKAN

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Hipertensi menurut World Health Organization (WHO) adalah suatu kondisi

Nurcholid Umam Kurniawan

Hubungan Karakteristik Pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Kejadian Dengue Syok Sindrom (DSS) pada Anak

The role of non-invasive modalities in diagnosis of Congenital Heart Disease Abstract

11/18/2008. Beberapa Tipe Penyakit Jantung Bawaan pada Anak. Katup-katup Jantung Terbuka

BAB I PENDAHULUAN. maupun fungsional dari pengisian atau pompa ventrikel (Yancy et al., 2013).

ABSTRAK... 1 ABSTRACT

PERBEDAAN CARDIOTHORACIC RATIO

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Tetapi berdasarkan data, 80-90% data menyatakan PPOK menjadi penyebab utama kor pulmonal.

MONITORING HEMODINAMIK TIM ICU INTERMEDIATE ANGKATAN I

ABSTRAK GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR RISIKO PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2009

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Defek Sekat Ventrikel (Ventricular Septal Defect/VSD) merupakan kelainan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. karsinoid, sistemik lupus erimatosus, reumatoid artritis, mukopolisakaridosis dan

Patofisiologi dan Patogenesis Kardiomiopati

PERBANDINGAN HASIL PENUTUPAN DEFEK SEPTUM ATRIUM SEKUNDUM ANTARA TRANSKATETER MENGGUNAKAN AMPLATZER SEPTAL OCCLUDER DENGAN PEMBEDAHAN TESIS

6. Siklus peredaran darah besar meliputi... a. ventrikel kiri - nadi - seluruh tubuh - atrium kanan

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian belah lintang (Cross Sectional) dimana

INTERPRETASI ELEKTROKARDIOGRAFI STRIP NORMAL HIMPUNAN PERAWAT GAWAT DARURAT DAN BENCANA INDONESIA SULAWESI UTARA

Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan ANATOMI FISIOLOGI

Cara Kerja Fungsi Anatomi Fisiologi Jantung Manusia

Hipertensi pulmonal merupakan suatu

Weight Gain after Transcatheter Patent Ductus Arteriosus Closure

ABSTRAK GAMBARAN FAKTOR RISIKO PENDERITA PENYAKIT JANTUNG KORONER DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER 2014

BAB 2 LANDASAN TEORI

MENILAI DAN MEMPREDIKSI ADANYA KELAINAN (JANTUNG BAWAAN) PADA JANIN DALAM KANDUNGAN DENGAN ANALYSIS TEKNOLOGY. Muaningsih NPM: Abstrak

Kata Pengantar dr. Hariadi Hariawan, SpJP(K), Dr. dr. Budi Yuli Setyanto, SpPD (K), SpJP (K) dr. Lucia Krisdinarti, SpPD, SpJP (K)

Transkripsi:

Artikel Asli Hubungan Antara Hipertensi Pulmonal pada Defek Septum Atrium Sekundum dan Mutasi Gen Sri Endah Rahayuningsih Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS Hasan Sadikin, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung Latar belakang. Defek septum atrium (DSA) adalah defek pada sekat yang memisahkan atrium kiri dan kanan, serta merupakan salah satu penyakit jantung bawaan (PJB). Defek septum atrium besar berhubungan dengan terjadinya hipertensi pulmonal. Sampai saat ini mekanisme terjadinya DSA dan hipertensi pulmonal masih belum diketahui dengan pasti. Beberapa gen diketahui berperan terhadap terjadinya DSA Tujuan. Mengetahui hubungan antara hipertensi pulmonal pada defek septum atrium sekundum dengan mutasi gen NKX2.5, TBX5, GATA4, dan MYH6. Metode. Subjek penelitian adalah pasien DSA sekundum yang memenuhi kriteria inklusi untuk penelitian epidemiologi genetika. Deteksi mutasi gen NKX2.5, TBX5, GATA4, dan MYH6 dilakukan dengan pemeriksaan sekuensing terhadap isolasi DNA. Diagnosis DSA sekundum dan hipertensi pulmonal dilakukan dengan ekokardiografi. Hasil. Tujuh diantara 110 anak dengan DSA sekundum mengalami mutasi gen NKX2.5, GATA4, dan MYH6 dan lima anak diantaranya mengalami hipertensi pulmonal. Tidak ditemukan mutasi gen TBX5. Terdapat hubungan hipertensi pulmonal pada defek septum atrium sekundum dan mutasi gen NKX2.5, GATA4, dan MYH6 (p=0,037). Rata-rata ukuran DSA sekundum pada kelompok dengan mutasi gen dan tanpa mutasi gen adalah 20,28 (+5,93) dan 14,29 (+3,96). Terdapat hubungan yang bermakna DSA sekundum sporadik yang mengalami mutasi gen NKX2.5, GATA4, dan MYH6 dengan hipertensi pulmonal (p=0,037). Kesimpulan. DSA sekundum dengan mutasi gen lebih sering mengalami hipertensi pulmonal. Disamping diameter, maka mutasi gen berperan terhadap terjadinya hipertensi pulmonal pada DSA. (Sari Pediatri 2009;11(2):113-7). Kata kunci: defek septum atrium (DSA), hipertensi pulmonal, gen NKX2.5, GATA4, dan MYH6 Alamat korespondensi DR. Dr. Sri Endah Rahayuningsih Sp.A(K). Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Jl. Pasteur 38 Bandung 40161. Tel/Fax. 022-2034426, E-mail: endah.perkani@gmail.com. Hipertensi pulmonal (HP) merupakan penyakit vaskular paru yang mengakibatkan peningkatan resistensi dan tekanan vaskular paru. Secara hemodinamik HP didefinisikan sebagai tekanan arteri pulmonalis lebih dari 25 mmhg pada kapiler pulmonalis atau atrium kiri yang normal (kurang dari 15 mmhg). 1-3 Defek 113

septum atrium (DSA) adalah kelainan penyakit jantung bawaan karena terdapat defek pada sekat atrium yang menyebabkan pirau dari atrium kiri ke kanan. 4-5 Defek septum atrium dapat mengalami penutupan spontan pada 14%-66% bayi DSA berusia kurang dari tiga bulan. 6-8 Kejadian penutupan spontan berbanding terbalik dengan diameter DSA yang diukur dengan ekokardiografi. 4-5 Pada DSA berukuran besar dan tidak menutup spontan akan mengalami hipertensi pulmonal yang merupakan hipertensi pulmonal sekunder karena meningkatnya aliran darah pulmonal akibat adanya pirau kiri ke kanan yang besar (hyperkinetic pulmonary hypertension). 3-5 Mekanisme penutupan spontan pada DSA belum diketahui dengan pasti. Penelitian tentang peran mutasi gen NKX.5, 9 GATA4, 10 TBX5 11 dan MYH6 12 terhadap terjadinya DSA telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Konig dkk 13 dan Yamada dkk 14 melaporkan bahwa DSA dengan mutasi gen NKX2.5 dan GATA4 membutuhkan operasi penutupan defek, sesuai dengan ukuran besar defek DSA. Tampaknya mutasi gen NKX2.5 dan GATA4 pada DSA berhubungan dengan ukuran defek dan hipertensi pulmonal, namun belum ada penelitian tentang mutasi TBX5 dan MYH6 yang dihubungkan dengan ukuran defek atau hipertensi pulmonal. Tujuan penelitian kami untuk mengetahui hubungan antara hipertensi pulmonal pada DSA sekundum dengan mutasi gen NKX2.5, GATA4, TBX5 dan MYH6. Metode Subjek penelitian adalah pasien DSA sekundum yang datang ke Instalasi Rawat Jalan dan Instalasi Gawat Darurat, serta yang dirawat di Instalasi Rawat Inap Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS dr. Hasan Sadikin Bandung. Defek septum atrium (DSA) sekundum dan hipertensi pulmonal ditegakkan berdasarkan ekokardiografi yang dilakukan oleh konsultan kardiologi anak. Pemeriksaan dilakukan dengan alat ekokardiografi General Electric Type Logic 700 dan General Electric Type Vivid 3. Dilakukan pemeriksaan Doppler untuk menyingkirkan arus abnormal dan mendeteksi adanya regurgitasi katup trikuspid yang secara tidak langsung dapat dipakai untuk mengukur tekanan a. Pulmonalis. Digunakan transduser 5 atau 3,5 MHz yang disertai rekaman elektrokardiografi. Diagnosis DSA ditegakkan jika pada pandangan subkostal empat ruang terlihat garis yang terputus (dropout) di daerah tengah septum atrium. 15,16 Setelah defek septum atrium sekundum terlihat, dilakukan pengukuran diameter defek pada minimal delapan siklus jantung, kemudian diambil nilai maksimal. Semua hasil pengukuran disimpan di dalam CD. Untuk mengetahui regurgitasi trikuspid dilakukan dengan menempatkan sampel volume (diatur pada lebar 1,5 mm) di antara ujung daun katup trikuspid pada pandangan apikal empat ruang. Kesejajaran gelombang ultrasonik dengan arus darah diatur dengan memanipulasi transduser sampai diperoleh kecepatan spektral yang tertinggi dan suara yang jernih. Setelah regurgitasi trikuspid terlihat, diukur kecepatan aliran (V) dan perbedaan tekanan sistolik antara atrium dan ventrikel kanan dapat diperhitungkan dengan rumus P = 4 V 2. Selanjutnya tekanan ventrikel kanan dan arteri pulmonalis juga dapat diperkirakan dengan menambah hasil perhitungan di atas dengan perkiraan tekanan atrium kanan (10 mmhg). 16 Hasil pemeriksaan disimpan di dalam CD. Pasien DSA sekundum dengan kelainan kardiak lain atau dengan kelainan bawaan ekstrakardiak tidak diikutsertakan dalam penelitian. Sampel penelitian diambil berdasarkan urutan kedatangan pasien (consecutive sampling from admission) sampai jumlah terpenuhi, dihitung berdasarkan prevalensi mutasi gen NKX2.5, TBX5, GATA4, dan MYH6 pada DSA, didapatkan jumlah minimal adalah 97 orang anak. Penelitian cross sectional akan diuji melalui uji chi square untuk menguji hipertensi pulmonal pada DSA dengan mutasi gen NKX2.5, TBX5, GATA4, dan MYH6. Pada subjek diambil 6 ml darah vena, dan disimpan di dalam tabung EDTA. Lima mililiter sampel darah dilakukan isolasi DNA, sedangkan 1 ml disimpan pada suhu -80 0 C (sebagai bahan cadangan jika isolasi DNA rusak). Isolasi DNA dilakukan di Unit Penelitian Kedokteran FK UNPAD Bandung. Hasil isolasi DNA dibawa ke Department of Human Genetics, Yokohama City University Graduate School of Medicine Jepang untuk dilakukan sekuensing DNA pada semua ekson gen NKX2.5, TBX5, GATA4 dan MYH6. Penelitian dilakukan setelah mendapat persetujuan Komisi Etik UNPAD. Hasil Selama periode penelitian Juli 2006 sampai 30 Juli 2007, di Rumah Sakit Dr Hasan Sadikin Bandung 114

didapatkan 110 anak DSA sekundum sporadik dan 110 anak bukan pasien PJB sebagai kontrol yang memenuhi kriteria inklusi. Ditemukan mutasi gen NKX2.5, GATA4, dan MYH6 pada tujuh anak DSA sekundum, mutasi tersebut tidak ditemukan pada kelompok kontrol. Tidak ditemukan mutasi gen TBX5 pada kelompok DSA maupun kontrol. Diameter DSA pada anak dengan DSA sekundum yang mengalami mutasi gen NKX2.5, GATA4 dan MYH6 tertera pada Tabel 1. Tabel 1. Mutasi gen NKX2.5, GATA4, dan MYH6 pada DSA sekundum sporadik dengan berbagai ukuran DSA dan hipertensi pulmonal No penelitian Mutasi gen Ukuran DSA (mm) Hipertensi pulmonal CHD98 NKX2.5 32 + CHD71 GATA4 18 - CHD129 MYH6 18 + CHD38 MYH6 24 + CHD45 MYH6 14 + CHD86 MYH6 18 + CHD89 MYH6 18 - Dari tujuh anak DSA sekundum sporadik dengan mutasi didapatkan lima anak mengalami hipertensi pulmonal (Tabel 1). Terdapat hubungan yang bermakna DSA sekundum sporadik yang mengalami mutasi gen NKX2.5, GATA4, dan MYH6 dengan hipertensi pulmonal (Tabel 2). Dijumpai hubungan bermakna antara DSA sekundum yang mengalami mutasi gen NKX2.5, GATA4, dan MYH6 dengan hipertensi pulmonal (Tabel 3). Diskusi Gen NKX2.5 dan GATA4 merupakan gen faktor transkripsi yaitu gen yang berperan pada sintesis protein Tabel 3. Hubungan DSA sekundum sporadik yang mengalami mutasi NKX2.5, GATA4, dan MYH6 dengan hipertensi pulmonal Hipertensi pulmonal Jumlah Positif Negatif DSA mutasi (+) 5 2 7 DSA mutasi (-) 31 72 104 Jumlah 36 74 110 p=0,037 faktor transkripsi. Mutasi pada gen faktor transkripsi akan mengganggu gen penyandi asam amino yang akan mensintesis protein pembentuk septum atrium. Gen MYH6 bukan merupakan faktor transkripsi, sedangkan mutasi terjadi pada ekson dan intron yang akan mensintesis protein pembentuk septum atrium. 17 Pada penelitian kami ditemukan, mutasi didapatkan pada kelompok kontrol dengan intrakardiak normal, maka dapat disimpulkan bahwa mutasi yang terjadi berhubungan dengan terjadinya DSA Pada 110 anak DSA sekundum sporadik dengan mutasi gen terdapat lima anak dengan hipertensi pulmonal. Tampak bahwa anak dengan mutasi gen lebih sering mengalami hipertensi pulmonal (p=0,037), dan terjadi pada DSA sekundum dengan diameter antara 14-32 mm (Tabel 2). Temuan tersebut mendukung teori bahwa disamping diameter maka mutasi gen berperan untuk terjadi hipertensi pulmonal. Berdasarkan patogenesis hipertensi pulmonal berhubungan dengan dua faktor, seperti tampak dalam rumus: P = F x R. (P: tekanan/pressure, F: flow, R: resistensi vaskular). Peningkatan aliran darah dalam sirkulasi, resistensi vaskular, atau keduanya dapat mengakibatkan hipertensi pulmonal, dan pada akhirnya akan menyebabkan vasokonstriksi arteriol paru sehingga terjadi peningkatan tahanan vaskular paru. Hipertensi pulmonal yang disebabkan peningkatan tahanan vaskular paru disebut sindrom Eissenmenger, penyakit Tabel 2. Ukuran DSA sekundum sporadik berdasarkan pada kelompok dengan mutasi gen DSA mutasi (+) DSA mutasi (-) n=7 n=103 Ukuran DSA(mm) 20,28(+5,93) 14,29(+3,96) Uji Mann Whitney p=0,006 115

vaskular paru, atau hipertensi pulmonal high resistance (Gambar 1). Pada DSA akibat dinding ventrikel kanan yang lebih tipis dan dapat menampung darah lebih banyak, maka hipertensi pulmonal yang terjadi bersifat kronik, mengakibatkan dilatasi dan hipertrofi ventrikel kanan secara perlahan-lahan. Kejadian tersebut akan menyebabkan penurunan curah jantung melalui dua mekanisme yaitu, 1) volume dan tekanan yang berlebih pada ventrikel kanan karena gangguan perfusi koroner dan penurunan fungsi ventrikel kiri akibat desakan ke kiri septum intraventrikular yang disebabkan peningkatan volume ventrikel kanan; 2) peningkatan tahanan vaskular yang mendadak menyebabkan penurunan aliran balik pulmonal (pulmonary venous return) ke atrium kanan. 4,5 Hipertensi pulmonal yang terjadi pada DSA berhubungan dengan usia dan jika tidak dilakukan penutupan DSA, baik secara operasi maupun intervensi kardiologi, maka akan menyebabkan hipertensi pulmonal tipe high resistance yang dikenal sebagai sindrom Eisenmenger. Pada sindrom Eissenmenger penutupan DSA tidak dapat dilakukan karena merupakan kontraindikasi. 18,19 Dalam penelitian kami tidak didapatkan DSA baik pada kelompok mutasi maupun nonmutasi yang telah mengalami sindrom Eisenmenger, karena usia maksimal yang diteliti 14 tahun, sedangkan sindrom Eisenmenger lebih sering terjadi pada dewasa. 18,19 Patogenesis hipertensi pulmonal pada DSA tidak diketahui dengan pasti, 18 dapat disebabkan oleh pirau kiri ke kanan pada tingkat atrium, atau oleh faktor lain yang dapat menyebabkan hipertensi pulmonal, seperti idiopatik, familial, disebabkan kelainan imunologis, kelainan paru, kelainan hematologis yang menyebabkan trombosis paru, kelainan lain seperti sarkoidosis, 19 dan faktor genetik mutasi gen sebagai penyebab hipertensi pulmonal. 20 Pada penelitian ini tidak dilakukan analisis untuk mengetahui penyebab terjadinya hipertensi pulmonal primer yang bukan disebabkan pirau pada defek (Gambar1). Kami dapatkan lima dari tujuh anak DSA dengan mutasi mengalami hipertensi pulmonal, dua anak diantaranya mengalami dilatasi ventrikel kanan tanpa regurgitasi trikuspid pada pemeriksaan ekokardiografi. Dilatasi ventrikel disebabkan pirau dari kiri ke kanan di tingkat atrium yang terjadi pada fase diastolik. Struktur ventrikel kanan mempunyai daya tampung terhadap peningkatan darah (akibat pirau), sehingga dapat menampung darah sampai pada suatu titik maksimal dan tidak dapat lagi menampung darah sehingga darah dialirkan ke a. pulmonalis. Akibatnya ventrikel kanan berdilatasi dan disertai gerakan interventrikular yang Gambar 1. Patomekanisme mutasi gen pada DSA sekundum yang menyebabkan hipertensi pulmonal 116

paradoks, sesuai dengan penelitian yang menyatakan bahwa dilatasi ventrikel kanan terjadi pada DSA dengan ukuran besar 18,19 Disimpulkan bahwa Defek septum atrium sekundum dengan mutasi gen lebih sering mengalami hipertensi pulmonal. Disamping diameter, dibuktikan bahwa mutasi gen berperan terhadap terjadinya hipertensi pulmonal pada DSA. Ucapan terima kasih Penelitian kami mendapat dukungan dana dari Research Grant from the Ministry of Health, Labour and Welfare dan Grant-in-Aid for Scientific Research on Priority Areas from the Ministry of Education, Culture, Sports, Science and Technology of Japan. Ucapan terimakasih ditujukan kepada Profesor Naomichi Matsumoto, MD, PhD dan Haruka Hamanoue, MD dari Departments of Human Genetics Yokohama City University Graduate School of Medicine, Yokohama, Jepang yang telah membantu melaksanakan sekuensing DNA. Daftar Pustaka 1. Park MK. Pediatric cardiology for practitioners. Edisi ke-5. Philadelphia: Mosby; 2007. 2. Kinsella JP, Neish SR, Abman S, Wolfe RR: Therapy for pulmonary hypertension. Dalam: Garson A, Bricker JT, Fisher DJ, Neish SR, penyunting. The science and practice of pediatric cardiology. Edisi ke-2. Baltimore, Williams & Wilkins, 1998, 2345-66. 3. Rabinovitch M. Pathophysiology of pulmonary hypertension. Dalam: Allen HD, Gutgesell HP, Clark EB, Driscoll DJ, penyunting. Moss and Adam s heart disease in infants, children, and adolescents. Edisi ke-6. Philadelphia: William & Wilkins; 2001. h.1311-46. 4. ASD Porter CJ, Feldt RH, Edwards WD, Seward JB, Schaff HV. Atrial septal defects. Dalam: Allen HD, Gutgesell HP, Clark EB, Driscoll DJ, penyunting. Moss and Adam s heart disease in infants, children, and adolescents. Edisi ke-6. Philadelphia: William & Wilkins; 2001.h.603-17. 5. Vick GW. Defects of the atrial septum including atrioventricular septal defects. Dalam: Garson A, Bricker JT, Fisher DJ, Neish SR, penyunting. The science and practice of pediatric cardiology. Edisi ke-2. Baltimore: Williams & Wilkins; 1998.h. 1141-80. 6. Hanslick A, Pospisil U, Muhar US, Platzer SG, Male C. Predictors of spontaneous closure of isolated secundum atrial septal defect in children: a longitudinal study. Pediatrics 2006;118:1560-5. 7. McMahon JC, Feltes TF, Fraley JK. Natural history of growth of secundum atrial septal defects and implications for transcatheter closure. Heart 2002;87:256-9. 8. Saxena A, Divekar A, Soni NR. Natural history of secundum atrial septal defect revisited in the era of transcatheter closure. Indian Heart J. 2005;57:35-8. 9. Sarkozy A, Canti E, Neri C. Spectrum of atrial septal defects associated with mutations of NKX2.5 and GATA4 transcription factors. J Med Genet 2005;42:16-21. 10. Okubo A, Miyoshi O, Baba K. A novel GATA4 mutation completely segregated with atrial septal defect in a large Japanese family. J Med Genet 2004;41:97-102. 11. Reamon-Buettner SM, Borlak J. TBX5 mutations in non-holt-oram syndrome (HOS) malformed hearts. Hum Mutat 2004;24:218-22. 12. Ching YH, Ghosh TK, Cross SJ. Mutation in myosin heavy chain 6 causes atrial septal defect. Nat Genet 2005;37:423-8. 13. König K, Will JC, Berger F. Familial congenital heart disease, progressive atrioventricular block and the cardiac homeobox transcription factor gene NKX2.5: identification of a novel mutation. Clin Res Cardiol 2006;95:1-5. 14. Hirayama-Yamada K, Kamisago M, Akimoto K, Aotsuka H, Nakamura Y, Tomita H, dkk. Phenotypes with GATA4 or NKX2.5 mutations in familial atrial septal defect. Am J Med Genet 2005;135A:47-52. 15. Bierman FZ, Williams RG. Subxiphoid two-dimensional imaging of the interatrial septum in infants and neonates with congenital heart disease. Circulation 1979;60:80-90. 16. Snider AR, Ritter SB, Serwer GA. Echocardiography in pediatric heart disease. Edisi ke-2. Philadelphia: Mosby;1997. 17. Strachan T, Read AP. Human molecular genetics. Edisi ke-3. New York: Garland Science; 2004. 18. Webb G, Gatzoulis MA. Atrial septal defects in the adult: recent progress and overview. Circulation 2006;114:1645-53. 19. Therrien J, Rambihar S, Newman B, Siminovitch K, Langleben D, Webb G, dkk. Eisenmenger syndrome and atrial septal defect: nature or nurture? Can J Cardiol 2006;22:1133-6. 20. Rashid A, Ivy D. Severe paediatric pulmonary hypertension: new management strategies. Arch Dis Child 2005;90:92-8 117