ANALISIS PENGARUH WATER PRESSURE

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. PT. PACIFIC GLOBAL UTAMA (PT. PGU) bermaksud untuk. membuka tambang batubara baru di Desa Pulau Panggung dan Desa

Gambar 1. 1 Peta persebaran longsoran di dinding utara penambangan Batu Hijau PT. Newmont Nusa Tenggara (Dept. Geoteknik dan Hidrogeologi PT.

BAB I PENDAHULUAN. Propinsi Nusa Tenggara Barat, mulai berproduksi pada tahun 2000 dan masih

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Jurnal Teknologi Pertambangan Volume. 1 Nomor. 2 Periode: Sept Feb. 2016

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR...i. SARI...iv. ABSTRACT...v. DAFTAR ISI...vi. DAFTAR TABEL...ix. DAFTAR GAMBAR...x. DAFTAR LAMPIRAN...

Kestabilan Geometri Lereng Bukaan Tambang Batubara di PT. Pasifik Global Utama Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. PT. Berau Coal merupakan salah satu tambang batubara dengan sistim penambangan

RANCANGAN GEOMETRI LERENG AREA IV PIT D_51_1 DI PT. SINGLURUS PRATAMA BLOK SUNGAI MERDEKA KUTAI KARTANEGARA KALIMANTAN TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. dengan cara menggunakan pendekatan Rock Mass Rating (RMR). RMR dapat

ANALISIS KESTABILAN LERENG MENGGUNAKAN DATA VWP (VIBRATING WIRE PIEZOMETER) PADA PT.NEWMONT NUSA TENGGARA NUSA TENGGARA BARAT

ANALISIS TIPE LONGSOR DAN KESTABILAN LERENG BERDASARKAN ORIENTASI STRUKTUR GEOLOGI DI DINDING UTARA TAMBANG BATU HIJAU, SUMBAWA BARAT

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

BAB I PENDAHULUAN. lereng, hidrologi dan hidrogeologi perlu dilakukan untuk mendapatkan desain

APLIKASI PENDEKATAN PROBABILISTIK DALAM ANALISIS KESTABILAN LERENG PADA DAERAH KETIDAKSTABILAN DINDING UTARA DI PT. NEWMONT NUSA TENGGARA

BAB I PENDAHULUAN. di Kalimantan Timur yang melakukan penambangan dengan sistem penambangan

GEOTEKNIK TAMBANG DASAR DASAR ANALISIS GEOTEKNIK. September 2011 SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL (STTNAS) YOGYAKARTA.

BAB I PENDAHULUAN. Meilani Magdalena/

BAB V PEMBAHASAN. lereng tambang. Pada analisis ini, akan dipilih model lereng stabil dengan FK

DAFTAR ISI... RINGKASAN... ABSTRACT... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR LAMPIRAN... BAB I. PENDAHULUAN

STUDI KASUS ANALISA KESTABILAN LERENG DISPOSAL DI DAERAH KARUH, KEC. KINTAP, KAB. TANAH LAUT, KALIMANTAN SELATAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. PT Beringin Jaya Abadi merupakan salah satu tambang terbuka

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

ANALISIS KETIDAKSTABILAN LERENG PADA KUARI TANAH LIAT DI MLIWANG PT. SEMEN INDONESIA (PERSERO) TUBAN JAWA TIMUR

ANALISIS KESTABILAN LERENG DI PIT PAJAJARAN PT. TAMBANG TONDANO NUSAJAYA SULAWESI UTARA

UNIVERSITAS DIPONEGORO

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

SLOPE STABILITY ANALYSIS BASED ON ROCK MASS CHARACTERIZATION IN OPEN PIT MINE METHOD

BAB II TATANAN GEOLOGI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Maksud dan Tujuan

BAB V PEMBAHASAN. menentukan tingkat kemantapan suatu lereng dengan membuat model pada

Jl. Raya Palembang-Prabumulih Km.32 Inderalaya Sumatera Selatan, 30662, Indonesia Telp/fax. (0711) ;

PAPER GEOLOGI TEKNIK

1) Geometri : Lebar, kekasaran dinding, sketsa lapangan

KAJIAN TEKNIK STABILITAS LERENG PADA TAMBANG BATUGAMPING DI CV. KUSUMA ARGA MUKTI NGAWEN GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. Stability Radar (SSR) dan Peg Monitoring WITA, terjadi longsoran besar di low-wall

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

DAFTAR ISI. BAB III TEORI DASAR Lereng repository.unisba.ac.id. Halaman

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Studi Kestabilan Lereng Menggunakan Metode Rock Mass Rating (RMR) pada Lereng Bekas Penambangan di Kecamatan Lhoong, Aceh Besar

BAB I PENDAHULUAN. administratif termasuk ke dalam provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di Pulau

ANALISA KESTABILAN LERENG METODE SLICE (METODE JANBU) (Studi Kasus: Jalan Manado By Pass I)

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT FRAGMENTASI

Yogyakarta, Januari 2018 Penulis

BAB I PENDAHULUAN. dengan udara terbuka. Salah satu metode pertambangan bawah tanah yang sering

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia. Kegiatan penambangan yang dilakukan menggunakan sistem. dilakukan dengan cara memotong bagian sisi bukit dari

Oleh: Yasmina Amalia Program Studi Teknik Pertambangan UPN Veteran Yogyakarta

REKAYASA LERENG STABIL DI KAWASAN TAMBANG TIMAH TERBUKA PEMALI, KABUPATEN BANGKA UTARA, KEPULAUAN BANGKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau menurunnya kekuatan geser suatu massa tanah. Dengan kata lain, kekuatan

PENGARUH BIDANG DISKONTINU TERHADAP KESTABILAN LERENG TAMBANG STUDI KASUS LERENG PB9S4 TAMBANG TERBUKA GRASBERG

5.1 PETA TOPOGRAFI. 5.2 GARIS KONTUR & KARAKTERISTIKNYA

BAB II KEADAAN UMUM LAOS MYANMAR (BURMA) THAILAND BRUNEI MALAYSIA SINGAP0RE SUMATRA I N D O N E S I A JAVA LOKASI PENELITIAN INDIAN OCEAN FLORES

5.1 Peta Topografi. 5.2 Garis kontur & karakteristiknya

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia, sebagai negara kepulauan tergabung kedalam rangkaian sirkum

Gambar 4.1 Kompas Geologi Brunton 5008

DAFTAR ISI. SARI... i. ABSTRACT... ii. KATA PENGANTAR... iii. DAFTAR ISI... vi. DAFTAR TABEL... x. DAFTAR GAMBAR... xii. DAFTAR LAMPIRAN...

BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Penelitian

KATA PENGANTAR. ( Untung Wachyudi ) vii

Prosiding Teknik Pertambangan ISSN:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tanah lempung adalah tanah yang memiliki partikel-partikel mineral tertentu

BAB I PENDAHULUAN. besar yang dibangun di atas suatu tempat yang luasnya terbatas dengan tujuan

PENGARUH KESTABILAN LERENG TERHADAP CADANGAN ENDAPAN BAUKSIT

PEMODELAN PARAMETER GEOTEKNIK DALAM MERESPON PERUBAHAN DESAIN TAMBANG BATUBARA DENGAN SISTEM TAMBANG TERBUKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV. KONDISI EKSISTING WILAYAH PENELITIAN

BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

LAPORAN PENELITIAN TESIS 2013 BAB I PENDAHULUAN

RESUME APLIKASI MEKANIKA TANAH DALAM PERTAMBANGAN

POTENSI BAHAN GALIAN GRANIT DAERAH KABUPATEN TOLITOLI PROVINSI SULAWESI TENGAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

DESAIN TAMBANG PERTEMUAN KE-3

Gambar 1.1 Jalur tektonik di Indonesia (Sumber: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, 2015)

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan batuan samping berpotensi jatuh. Keruntuhan (failure) pada batuan di

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA

JURNAL TEKNOLOGI TECHNOSCIENTIA ISSN: Vol. 9 No. 2 Februari 2017

MEKANIKA TANAH (CIV -205)

RENCANA TEKNIS PENIMBUNAN MINE OUT PIT C PADA TAMBANG BATUBARA DI PT. AMAN TOEBILLAH PUTRA SITE LAHAT SUMATERA SELATAN

BAB IV PENGAMATAN DAN PENGOLAHAN DATA

Tambang Terbuka (013)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

ESTIMASI GEOLOGICAL STRENGTH INDEX (GSI) SYSTEM PADA LAPISAN BATUGAMPING BERONGGA DI TAMBANG KUARI BLOK SAWIR TUBAN JAWA TIMUR

STUDI PENGARUH TEBAL TANAH LUNAK DAN GEOMETRI TIMBUNAN TERHADAP STABILITAS TIMBUNAN

ANALISIS KESTABILAN LUBANG BUKAAN DAN PILLAR DALAM RENCANA PEMBUATAN TAMBANG BAWAH TANAH BATUGAMPING DENGAN METODE ROOM AND PILLAR

Studi Geolistrik Untuk Mengidentifikasi Kedudukan Lumpur dan Air Dalam Rangka Optimalisasi Timbunan Lowwall

KAJIAN GEOTEKNIK KESTABILAN LERENG PADA PT. INDOASIA CEMERLANG SITE KINTAP KECAMATAN SUNGAI CUKA KABUPATEN TANAH LAUT PROFINSI KALIMANTAN SELATAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

Gambar 2. Lokasi Penelitian Bekas TPA Pasir Impun Secara Administratif (

APLIKASI SLIDE SOFTWARE UNTUK MENGANALISIS STABILITAS LERENG PADA TAMBANG BATUGAMPING DI DAERAH GUNUNG SUDO KABUPATEN GUNUNGKIDUL

DAFTAR ISI. Halaman RINGKASAN... iv KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vi DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... xi DAFTAR LAMPIRAN...

KATA PENGANTAR. Yogyakarta, Februari 2012 Penulis. Yudha Prasetya. vii. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Transkripsi:

ANALISIS PENGARUH WATER PRESSURE TERHADAP KESTABILAN LERENG JENJANG DI SOUTHEAST WALL PHASE 6 AREA PENAMBANGAN BIJIH TEMBAGA BATU HIJAU PT. NEWMONT NUSA TENGGARA, KAB. SUMBAWA BARAT Suyono Priyo Widodo Staf Pengajar, Program Studi Teknik Pertambangan, UPN Veteran Yogyakarta Email : Suyonohs@yahoo.com Abstrak Kondisi lereng jenjang yang stabil menjadi pertimbangan teknis yang sangat penting karena dengan lereng jenjang yang stabil dapat menjadi suatu jaminan baik terhadap kelangsungan kegiatan penambangan, keselamatan dan kesehatan para pekerja, properti perusahaan, serta penghargaan terhadap perusahaan itu sendiri. Water pressure merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap kestabilan lereng jenjang. Water pressure merupakan tekanan dari kolom airtanah pada suatu lapisan tanah/batuan yang terjadi karena tinggi kolom air, densitas air dan gaya gravitasi bumi dimana airtanah tersebut berada. Besar kecilnya tekanan air pori akan berpengaruh terhadap sudut geser dalam dari lapisan tanah/batuan. Selanjutnya, sudut geser dalam akan menentukan kondisi hubungan antara gaya penahan dan gaya pendorong pada suatu blok jenjang, yang pada akhirnya akan menentukan apakah jenjang tersebut dalam kondisi stabil atau tidak stabil. Analisis pengaruh water pressure dimaksudkan untuk mengetahui besarnya nilai water pressure di Southeast wall phase 5 area penambangan bijih Tembaga di Batu Hijau PT. Newmont Nusa Tenggara. Data dan informasi water pressure yang didapat sangat penting mengingat kegiatan penambangan mulai memasuki phase 6. Data water pressure yang didapat pada phase 5 akan diaplikasikan pada phase 6 agar diketahui seberapa besar pengaruh water pressure pada daerah tersebut serta melakukan analisis ambang batas water pressure di area southeast wall phase 6 dengan tujuan mendapatkan kondisi lereng yang stabil. Di daerah penelitian terdapat 8 stasiun monitoring water pressure yang masing-masing telah dilengkapi dengan alat sensor VWP (Vibrating Wire Piezometer) pada kedalaman tertentu. Nilai water pressure setiap sensor diukur menggunakan 2 jenis alat, yaitu VWP readout manual dan data logger. Analisis kestabilan lereng jenjang dilakukan menggunakan metode kesetimbangan batas (limit equilibrium) dengan bantuan program Slide V 5.0. Hasil dari analisis diketahui bahwa nilai water pressure berpengaruh terhadap kestabilan lereng jenjang di southeast wall di area penambangan bijih Tembaga Batu Hijau. Kata Kunci : water pressure, kestabilan lereng A. Pendahuluan PT. Newmont Nusa Tenggara (PT.NNT), merupakan sebuah perusahaan tambang bijih tembaga dan emas yang berlokasi di Batu Hijau, Sumbawa Barat. Aktivitas penambangannya dilakukan dengan sistem tambang terbuka (open pit) sehingga membentuk jenjang untuk menjaga kestabilan batuan. Pada kenyataannya, jenjang yang dibentuk oleh kegiatan penambangan sangat sering mengalami longsor (failure) akibat kegiatan penambangan itu sendiri, seperti kegiatan peledakan (blasting), kegiatan pemuatan, pengangkutan, dan penimbunan demi mengejar target produksi. Disamping pengaruh kegiatan penambangan itu sendiri, keadaan alam sekitar juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi turunnya nilai kestabilan lereng, seperti adanya struktur kekar (joint), struktur sesar (fault), dan tekanan air tanah (ground water pressure). Hal tersebut dapat dilihat dari jenis longsoran yang membaji (wedge) yang terjadi akibat adanya perpotongan dua struktur pada lereng. Disamping itu, terdapat juga rembesan air (seepage) pada muka lereng yang 4-45

BALI Denpasar Mataram 8"50' S 9"00' S 9"04 S LOMBOK SUMBAWA 116 45' E SUMBA LABUHAN SEPAKAN FLORES TEPA TALIWANG JEREWEH SEJORONG MYANMAR (BURMA) ALAS 117"00' E LAOS THAILAND CAMBOJA MALAYSIA SINGAP0RE JAVA LOKASI PENELITIAN PROJECT AREA Kupang UTAN VIETNAM TIMOR BRUNEI PUNIK BATUROTOK SULAWESI LUNYUK BESAR PHILIPPINES 0 10 20 SUMBAWA BESAR BATUBULAN AIMUAL ROPPANG 117 30 E LAPE LITOHLOWERAN PAPUA NEW GUINEA PROSIDING SIMPOSIUM DAN SEMINAR mengindikasikan adanya tekanan air yang besar pada lereng tersebut. Terjadinya longsoran pada PT.Newmont Nusa Tenggara (PT.NNT) telah banyak mengakibatkan kerugian baik jiwa maupun properti perusahaan. Untuk menanggulangi longsoran tersebut, maka perlu dilakukan analisis kestabilan lereng agar kerugian dapat diminimalisir. B. Tinjauan Umum 1. Kesampaian Daerah Lokasi penambangan bijih tembaga dan emas Batu Hijau PT. NNT terletak di sebelah Barat Daya Pulau Sumbawa berjarak sekitar 15 km dari pantai barat dan 10 km dari pantai selatan, tepatnya di Kecamatan Jereweh Kabupaten Sumbawa Barat Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), di antara 116 o 24 0 E- 117 o 0 0 E dan 8 o 50 0 S-9 o 4 0 S. Kemudian untuk mencapai daerah penelitian dapat ditempuh dengan sarana sebagai berikut : a. Dari Kota Yogyakarta (Bandar Udara Adisucipto) dengan menggunakan pesawat terbang tujuan Kota Praya, NTB (Bandar Udara Internasional Lombok) untuk terlebih dahulu transit di Kota Surabaya (Bandar Udara Internasional Juanda) dengan menempuh waktu tempuh kurang lebihnya 45 menit, untuk kemudian dilanjutkan penerbangan menuju Kota Praya dengan waktu tempuh kurang lebihnya 50 menit. Total waktu tempuh yang dibutuhkan sekitar 1 jam 35 menit belum termasuk lamanya waktu transit di Bandar Udara Internasional Juanda, dimana lama waktu transit tergantung dengan kondisi yang ada terkait pada masalah penerbangan domestik Indonesia. b. Dari Bandar Udara di Kota Praya menuju PT. NNT Batu Hijau dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan roda empat hingga Pelabuhan Khayangan Lombok Timur yang memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Kemudian diteruskan dengan menggunakan perjalanan laut menggunakan speed boat menuju Benete Port Maluk yang memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Setelah itu dilanjutkan dengan perjalanan roda empat menuju lokasi pertambangan PT. NNT Batu Hijau berjarak 25 km yang memakan waktu sekitar 1jam melewati jalan khusus perusahaan. SAMUDERA PASIFIK SUMATRA SAMUDERA INDIAN INDIAN OCEAN I N D O N E S I A SUMBAWA BARAT INDEKS PETA SELAT ALAS LAUT FLORES UTHA N SUMBA WA KAB. LOMBOK TIMUR KAB. SUMBAWA SETELUK A L A S BATUL A N TEH MOYOHULU TA L IWA N G ROPPA N G KONTRAK KARYA BLOK 5 PT. NEWMONT NUSA TENGGARA JEREWEH L UN YUK BATU HIJAU SAMUDERA HINDIA KETERANGAN Batas Kontrak Karya Batas Kecamatan Lokasi Penelitian Endapan Batu Hijau BATU HIJAU Kecamatan Sungai Gambar 1 Peta lokasi daerah PT. NNT Batu Hijau 2. Iklim dan Curah Hujan Tambang Batu Hijau berada pada wilayah kontrak karya yang meliputi sebagian dari pulau sumbawa yang mempunyai iklim tropis dengan temperatur udara antara 28 o C 37 o C Berdasarkan data curah hujan selama 6 tahun (2005 2010) yang tercatat oleh PT. 4-46

NNT, curah hujan rata-rata perbulan berkisar 229,7 mm. 3. Topografi Keadaan topografi wilayah kegiatan penelitian dan sekitarnya merupakan perbukitan dengan elevasi antara 300 600 meter di atas rata-rata permukaan laut, sedangkan di bagian tepinya terdiri dari lembah dan sungai-sungai kecil. 4. Geologi Cebakan porfiri Batu Hijau terletak di tenggara Sumbawa di jalur Kepulauan Sunda Banda. Porfiri adalah tekstur batuan beku yang tersusun dari kristal-kristal halus bercampur kasar karena batuan ini mengalami proses pembekuan yang agak cepat berlangsung sehingga kristal-kristalnya juga halus sedang kristal-kristal yang kasar merupakan kristalkristal batuan plutonis yang terbawa ketika magma menyusup ke atas. Deskripsi detil daerah cebakan berupa batuan andesitik vulkanik yang diintrusi oleh batuan intrusi. Batuan vulkanik berupa andesit kristal, vulkanik breksi, vulkanik konglomerat, dan vulkanik butiran halus. Pre mineral intrusi berupa intrusi diorite, yaitu porphyritic quartz diorite dan equigranular quartz diorite. Intrusi selanjutnya adalah intrusi pembawa mineralisasi, yaitu tonalite. Batuan di Batu Hijau dikelompokkan menjadi empat satuan batuan utama yaitu volcanic, diorite, intermediate tonalite, dan young tonalite. Struktur geologi utama di wilayah Batu Hijau berupa sesar dengan trend umum Utara- Selatan, Timur-Barat, Utara-Timur, radial dan Utara-Barat. C. Kondisi Daerah Penelitian 1. Kondisi Lereng Material penyusun batuan di lokasi penelitian terdiri atas batuan Volcanic, Diorit, dan Intermediate Tonalite. Kondisi lereng pada Lithology 2. Kondisi Air Tanah Aliran air tanah pada daerah telitian banyak dikontrol oleh struktur pada batuan vulkanik yang membentuk sistem akuifer celah. Proses infiltrasi air hujan terjadi pada sisi punggungan bukit di sisi utara dan selatan pit. Kontrol struktur serta adanya isian (infill) dari lempung mengakibatkan adanya pola cebakan dalam sistem akuifer celah daerah telitian. Dari Gambar 2 Kondisi geologi Tambang batu Hijau Tabel 1 Rock Properties UCS mi (Mpa) daerah penelitian saat ini relatif kering, dengan kemiringan lereng tunggal (Bench Face Angle) sebesar 65-70, Inter Ramp Angle (IRA) bervariasi dari 38 o -55 o, dan tinggi jenjang 15 meter. Unit Weight (KN/m³) Volcanic 88.81 13 27 Diorit 48.47 32 27 Int. Tonalite 92.83 28 27 data horizontal drilling dan logging geoteknik yang sudah ada sebelumnya dapat diketahui elevasi ditemukannya muka air tanah sehingga dapat di interpretasikan model sebaran muka air tanah di daerah penambangan PT. Newmont Nusa Tenggara. Pola penyebaran air tanah ini tidak terlepas dari adanya struktur yang terdapat pada daerah penambangan tersebut, karena 4-47

struktur merupakan jalan masuknya air yang kemudian tercebak pada elevasi tertentu. Gambar 3 Model Penyebaran Airtanah 3. Kondisi Water Pressure Dalam menentukan tekanan airtanah (water pressure) dapat di tentukan dari pembacaan VWP (Vibrating Wire Piezometer) yang telah terinstalasi pada masing-masing VWP monitoring sector. VWP mengkonversi tekanan air menjadi signal frekwensi melalui alat diaphgram dan kawat baja pra-tekan (pretensioned steel wire). Alat ini di disain untuk mengetahui perubahan tekananan diaphgram yang menyebabkan perubahan tekanan di kawat-kawat yang terhubung. Lalu kawat ini akan bergetar sesuai dengan frekwensi naturalnya. Frekwensi getaran di kontrol oleh tekanan kawat. Alat untuk memperoleh data tekanan airtanah ini menggunakan VWP Monitoring Sector Tabel 2 Data VWP Pressure (Kpa) P1 P2 P3 P4 Readout manual dan Data logger yang juga dapat mengukur suhu pada kedalaman tertentu. VWP monitoring sector terdiri dari 8 sector, 5 sector merupakan lubang bor geoteknik yaitu BHMW-01, BHMW-04, SBD 554, SBD 557, dan SBD 567, sedangkan 3 diantaranya adalah horizontal drilling yaitu HD 705, HD 698, dan HD 720. Data VWP menunjukkan adanya perbedaan besar tekanan pada masing-masing sensor, dengan data tersebut dapat diinterpetasikan bahwa antara akuifer yang satu dengan yang lain memiliki beda tekanan yang tak jarang signifikan, sehingga tidak berlakunya hukum tekanan hidrostatis pada area telitian. Inklinasi BHMW 01 366,522 1063,9 1470 1509,4 90 BHMW 04 640,1 1279,9 1957,1 90 SBD 554 858,5 472,2 39,3 55 SBD 557 1428 800,1 518,1 70 SBD 567 2824,4 786,4 70 HD 705 288,7-5 HD 698 184,2-5 HD 720 604,92-5 4. Kondisis RMR (Rock Mass Rating) Batas RMR merupakan data masukan dalam menentukan permodelan lereng yang akan di analisis. Pada daerah telitian dibuat 2 sayatan (section) sebagai dasar penentuan kestabilan lereng, yaitu sayatan N117 0 E dan sayatan N163 0 E. Arah sayatan ini dibuat berdasarkan letak masing-masing VWP monitoting sector dimana sector BHMW-04, SBD 567, SBD 554, HD 705 serta HD 698 terletak pada sayatan N117 0 E sedangkan BHMW-01, SBD 557 dan HD 720 terletak pada sayatan N163 0 E. Pada masing-masing sayatan 4-48

yang telah dibuat terdapat pola penyebaran RMR yang bervariasi, dimana pada sayatan N117 0 E tersebar mulai dari nilai RMR 25 hingga nilai RMR 65, sedangkan pada sayatan N163 0 E tersebar mulai dari nilai RMR 25 hingga nilai RMR 75. Disamping batas nilai RMR, dilakukan juga penentuan batas disturbance factor (D) yang mengindikasikan faktor yang masih memberikan pengaruh pada bembentukan leeng berdasarkan kegiatan peledakan dan penggalian. Selain itu dilakukan juga kegiatan line mapping pada dinding lereng daeah penelitian yang digunakan sebagai data terbaru untuk mengetahui kondisi RMR pada daerah penelitian. 5. Analisis Kestabilan Lereng Jenjang Adapun data-data yang dimasukan untuk menganalisis kestabilan lereng adalah data-data geometri lereng, batas Rock Mass Rating, batas PROSIDING SIMPOSIUM DAN SEMINAR Tabel 3 Hasil analisis phase 5 dan phase 6 Sayatan Dari hasil analisis software slide v.05 ditemukan bahwa faktor keamanan masingmasing section pada phase 5 berada pada kondisi aman yaitu >1,2. Hal ini berbanding lurus dengan kenyataan dilapangan dimana kondisi lereng phase 5 saat ini berada dalam keadaan yang stabil. Sedangkan berdasarkan hasil analisis, nilai faktor keamanan pada phase 6 berada pada nilai dibawah faktor keamanan minimum yaitu 1,2 D. Kajian Kestabilan Lereng 1. Faktor Perubahan Water Pressure Disturbance Factor D0 dan D1 serta hasil pengujian laboratorium yang meliputi UCS (Uniaxial Compessive Strength), GSI (Geological Strength Index), serta data Intac Rock Constant (mi). Selain data-data tersebut data dari tiap-tiap water pressure di masukan sebagai data penyebaran water pressure. Datadata diatas sebelumnya diolah terlebih dahulu di perangkat lunak Autocad, kemudian di export kedalam perangkat lunak Slide v.05 untuk menganalisis kestabilan lereng tersebut. Dari hasil analisis perhitungan kestabilan lereng dengan menggunakan software slide v.05 didapatkan nilai faktor keamanan masingmasing sayatan. Nilai faktor keamanan yang didapat menunjukkan nilai faktor keamanan terkecil dari masing-masing sayatan. Dalam hal ini batasan untuk nilai faktor keamanan terkecil agar kondisi lereng stabil ialah 1,2. FK Minimal N117E Phase 5 2,214 N117E Phase 6 0,128 N163 E Phase 5 2,24 N163 E Phase 6 0,592 Pada kondisi nyata dilapangan, tidak jarang ditemukannya kondisi water pressure yang bersifat fluktuasi. Hal ini terjadi dalam keadaan dimana tekanan air berada dalam kondisi tidak konstan, dalam artian kadang terjadi kenaikan water pressure pada suatu daerah, tetapi tidak jarang juga terjadi penurunan water pressure seperti halnya yang terjadi didaerah telitian SouthEast Wall. Secara garis besar adanya peristiwa fluktuatif pada water pressure di daerah telitian dipengaruhi adanya zona masukan airtanah (recharge area) dan zona keluaran airtanah (discharge area). Gambar 4 Fluktuasi water pressure 4-49

Berikut penjabaran beberapa faktor yang mempengaruhi timbulnya kondisi fluktuasi tersebut dilapangan, antara lain : a. Infiltrasi Adanya peningkatan water pressure disebabkan oleh infiltrasi dari air permukaan dan atau air hujan kedalam tubuh batuan atau celah-celah struktur yang ada dalam batuan. Infiltrasi tersebut dapat terjadi akibat beberapa faktor antara lain : 1. Adanya retakan tarik (tension crack) Retakan tarik biasanya terdapat dibagian atas lereng dengan bentuk rekahan yang menjadi jalan masuknya air. Retakan tarik terjadi akibat adanya gaya tarik pada suatu massa yang menjauhi massa lainnya. 2. Efek peledakan (blasting) Aktifitas peledakan juga ikut menyumbang terbukanya joint-joint pada batuan, tetapi efeknya hanya beberapa puluh meter dari permukaan dinding tambang (sekitar maksimal 30 meter) sehingga pengaruh infiltrasi akibat Gambar 5 Retakan Tarik kegiatan peledakan tidak terlalu siknifikan. 3. Infiltrasi air permukaan dan atau air hujan yang paling besar yaitu kekar alami yang ada pada batuan tersebut. Dimana kekar-kekar tersebut sebagai aquifer sekunder dari batuan. Pada gambar diatas menunjukan adanya susunan jaringan kekar (joint network) yang ada pada dinding tambang. Susunan jaringan kekar-kekar ini juga sebenarnya terdapat diatas lereng (flat area) namun tidak kelihatan karena tertutup oleh fill material. Bagaimanapun, fill material tersebut sangat porous sehinga tidak menghalangi terjadinya infiltrasi. b. Kolam Penampungan Air Kolam yang dimaksud ialah kolam penampungan air asam tambang sementara yaitu Katala Pond. Semua air yang yang tergenag didalam pit penambangan, baik itu air Gambar 6 Kekar Alami hujan maupun air tanah dipompa naik keatas menuju Katala Pond. Lokasi Katala Pond terletak sekitar 200 meter dari SouthEast Wall juga memiliki peranan dalam peningkatan water pressure, karena merupakan area masuknya air (recharge zone) daerah telitian. c. Horizontal Drilling Penurunan water pressure dilapangan sangat dipengaruhi oleh kegiatan Horizontal Drilling, dimana kegiatan tersebut bertujuan untuk mengeluarkan air yang berada didalam batuan. Dengan harapan mengurangi volume air yang ada dapat juga mengurangi tingkat water pressure yang tinggi. 4-50

2. Faktor Ketidakstabilan Lereng Setelah dilakukan analisis kestabilan lereng pada phase 6, tenyata ditemukan bahwa baik pada sayatan N117E maupun pada sayatan N163 E mengalami kondisi yang tidak stabil. Tetapi hal ini hanya terdapat pada sebagian dari lereng keseluruhan, karena secara keseluruhan lereng (overall slope) baik pada sayatan N117E maupun pada sayatan N163 E mengalami kondisi yang stabil dimana nilai faktor keamanan dari masing-masing lereng lebih dari 1,2. Hal ini dikarenakan secara keseluruhan masing-masing section memiliki nilai RMR yang cukup baik yaitu pada nilai 55-75. Berdasarkan temuan dilapangan, terdapat 2 faktor penting yang mengakibatkan lereng phase 6 tersebut tidak stabil, antara lain : a. Jarak water pressure Sebelumnya pada analisis phase 5, masing-masing sayatan tidak mengalami kondisi ketidakstabilan lereng, meskipun terdapat water pressure dibelakang lereng, karena water pressure yang ada di phase 5 masih berada jauh dibelakang lereng. Tetapi ketika kegiatan penambangan mulai memasuki phase 6, setiap section mengalami ketidakstabilan. Faktor keamanan yang diperoleh berada dibawah batas nilai faktor keamanan yang diinginkan yaitu 1,2. Jarak tegak lurus kemajuan tambang dari section phase 5 ke section phase 6 itu sendiri sekitar 65-70 meter. Hal inilah yang menjadi faktor lereng phase 6 mengalami ketidakstabilan. Water pressure yang berada dibelakang muka lereng phase 6 terlampau tinggi, sehingga lereng phase 6 tidak mampu menopang tekanan yang diterima tersebut. b. Kondisi RMR RMR (Rock Mass Rating) lereng juga ikut peran serta dalam ketidakstabilan lereng phase 6. RMR sendiri merupakan metode yang digunakan untuk mengklasifikasi massa batuan. Semakin tinggi nilai RMR dari suatu batuan maka semakin baik juga massa batuan terebut. PROSIDING SIMPOSIUM DAN SEMINAR Tabel 4 Ambang batas pressure sayatan N117E phase 6 Pressure dibelakang dinding lereng maksimal phase 6 (Kpa) 25 m 50 m Pada hasil analisis lereng phase 6 sendiri ditemukan RMR batuan yang lemah pada bagian kaki lereng (toe), yaitu bernilai 35. Sedangkan pada bagian kepala lereng (crest) terdapat RMR batuan yang lebih baik yaitu bernilai 55-65. Dengan adanya kondisi seperti ini, lemahnya nilai RMR pada bagian kaki lereng mengakibatkan beban yang diterima cukup besar, sehingga dapat mengakibatkan kondisi ketidakstabilan pada lereng tersebut. 3. Analisis kestabilan lereng Dari hasil analisis kestabilan lereng ditemukan bahwa faktor keamanan masingmasing section pada Phase 6 berada pada nilai dibawah faktor keamanan minimum yaitu 1,2. Maka dari itu perlu dilakukan analisis serta tindakan konkrit dilapangan agar kondisi lereng phase 6 tetap stabil pada saat kegiatan tahapan penambangan memasuki phase 6. a. Analisis Kestabilan Sayatan N117ºE Untuk mendapatkan hasil faktor keamanan minimum 1,2 agar lereng tetap stabil, perlu dilakukan analisis penentuan ambang batas water pressure dengan menggunakan metode simulasi pengurangan water pressure yang tegak lurus terhadap muka lereng dimana penentuan ambang batas tersebut dilakukan seiring kedalaman dari muka lereng (slope surface). Untuk memudahkan dalam menganalis kestabilan lereng tersebut, maka penentuan ambang batas water pressure ditentukan setiap kelipatan kedalaman 25 meter dari muka lereng. Dimana nilai water pressure pada masingmasing kedalaman dari muka lereng yang menghasilkan nilai faktor keamanan paling mendekati 1,2 itu yang akan dijadikan ambang batas water pressure. Pada analisis ini akan dicoba memasukan nilai water pressure pada setiap kedalaman 25 meter, hingga nantinya akan ditentukan nilai water pressure yang menjadi ambang batas (treshold) untuk kestabilan lereng. Nilai FK 400 800 1,308 450 900 1,211 500 1000 1,001 4-51

Dari hasil analisis yang dilakukan, nilai faktor keamanan yang diinginkan yaitu 1,211 dicapai dengan menjaga water pressure pada kedalaman 25 meter pertama dari muka lereng sebesar 450 Kpa, serta pada kedalaman 50 meter dari muka lereng sebesar 900 Kpa. Sedangkan analisis yang lain tidak memenuhi hasil yang diinginkan, karena nilai yang didapat terlampau jauh dari batas faktor keamanan yang diinginkan yaitu 1,308 dan 1,001. b. Analisis Kestabilan Sayatan N163ºE Analisis yang dilakukan pada section N163ºE sama seperti yang dilakukan sebelumnya pada section N117ºE yaitu dengan menentukan ambang batas (treshold) pada kelipatan kedalaman 25 meter dibelakang muka lereng untuk mendapatkan faktor keamanan minimal 1,2. Nilai faktor Keamanan yang diinginkan yaitu 1.206 dicapai dengan menjaga water pressure pada kedalaman 25 meter pertama dari muka lereng sebesar 350 Kpa, serta pada kedalaman 50 meter dari muka lereng sebesar 750 Kpa. Sedangkan analisis yang lain tidak memenuhi hasil yang diinginkan, karena nilai yang didapat terlampau jauh dari batas faktor keamanan yang diinginkan yaitu 1,387 dan 1,113. Tabel 5 Ambang batas pressure sayatan N163E phase 6 Pressure dibelakang dinding lereng maksimal Phase 6 (Kpa) 25 m 50 m Nilai FK 300 600 1.387 350 750 1.206 400 800 1.113 E. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Berdasarkan analisis yang diperoleh, bahwa kondisi water pressure pada daerah Telitian tidak terikat hukum hidrostatis. 2. Kondisi awal water pressure phase 5 apabila diaplikasikan pada kondisi phase 6 akan menyebabkan penurunan nilai safety factor yang drastis, dimana hal tersebut dapat menimbulkan longsor, karena disebabkan letak water surface yang sangat dekat dengan wall surface sehingga water pressure yang diterima dinding tambang cukup tinggi. 3. Untuk mendapatkan kondisi lereng SouthEast Wall phase 6 yang stabil, maka perlu dilakukan pengurangan water pressure dengan kriteria : - Menjaga tekanan di 25 meter pertama (jarak tegak lurus dinding) dibelakang dinding lereng maksimum phase 6 pada angka 350 450 Kpa. - Menjaga tekanan di 50 meter pertama (jarak tegak lurus dinding) dibelakang dinding lereng maksimum phase 6 pada angka 750 800 Kpa. 4. Aplikasi ambang batas water pressure terhadap kedalaman horizontal drilling (HD) phase 6 : - Menjaga tekanan di kedalaman horizontal drilling 50 meter pada tekanan 500 675 Kpa. - Menjaga tekanan di kedalaman horizontal drilling 100 meter pada tekanan 1100 1200 Kpa. - Menjaga tekanan di kedalaman horizontal drilling 150 meter pada tekanan 1550 1650 Kpa. F. Ucapan Terima Kasih Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Robby Rahmad Yonsaputra, ST atas bantuannya dalam memberikan data, informasi dan editing makalah hingga makalah ini dapat tersusun. G. Daftar Pustaka Giani, G.P., 1992, Rock Slope Stability Analysis, A.A Balkema, Rotterdam, Netherlands. Duncan, C. Wyllie and Christopher, W. Mah., 2005, Rock Slope Engineering, Civil and Mining, 4 th Ed, Based On The 3 th Ed by E Hoek and J Bray, Spon Press, Taylor and Francis Group, London. 4-52

Robby Rahmad Yonsaputra, 2012, Analisis Pengaruh Water Pressure Terhadap Kestabilan Lereng SouthEast Wall Pahse 6 Di Area Pertambangan PT. Newmont Nusa Tenggara, Kabupaten Sumbawa Barat, Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral, UPN Veteran Yogyakarta, 2012. Wiyono, Bagus., 1999, Geoteknik, Jurusan Teknik Pertambangan-FTM, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta. Zhao, J., 1966, Rock Mechanics For Civil Engineers, Swiss Federal Institute Of Technology, Lausanne, Switzerland., 2009, Stability Analysis Report Phase 5, Internal Memorandum, Geotechnical and Hydrogeological Department, PT. Newmont Nusa Tenggara, Batu Hijau., 2011, Pit Slope Monitoring Program (PSMP), Ground Water Model, Internal Slide Presentation, PT. Newmont Nusa Tenggara, Batu Hijau. Arif, Irwandi., 1999. Metoda Kesetimbangan Limit, Kursus Kemantapan Lereng, PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), Tanjung Enim. PROSIDING SIMPOSIUM DAN SEMINAR 4-53