BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV METODE PENILITIAN. Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Penyakit Saraf, dan Ilmu Penyakit Jiwa.

HUBUNGAN ANTARA PEMAKAIAN EFAVIRENZ DENGAN EFEK SAMPING NEUROPSIKIATRI PADA PASIEN HIV/AIDS Studi Kasus di RSUP dr.

Pemberian ARV pada PMTCT. Dr. Janto G. Lingga,SpP

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan kriteria WHO, anemia merupakan suatu keadaan klinis

TINJAUAN TENTANG HIV/AIDS

BAB 2 PENGENALAN HIV/AIDS. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala

BAB II TINJAUAN PUSTAKAA. tertinggi dia Asia sejumlah kasus. Laporan UNAIDS, memperkirakan

BAB I. PENDAHULUAN. infeksi Human Immunodificiency Virus (HIV). HIV adalah suatu retrovirus yang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human immunodeficiency virus (HIV) merupakan salah satu. Penurunan imunitas seluler penderita HIV dikarenakan sasaran utama

BAB I PENDAHULUAN 1,2,3. 4 United Nations Programme on HIV/AIDS melaporkan

BAB I PENDAHULUAN. sistem kekebalan tubuh dan biasanya menyerang sel CD4 ( Cluster of

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (Ditjen P2PL) Kementerian Kesehatan RI (4),

BAB 1 PENDAHULUAN. merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit (sel T CD4+) yang tugasnya

ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME ZUHRIAL ZUBIR

Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang. Bagaimana HIV menular?

BAB II PENDAHULUANN. Syndromem (AIDS) merupakan masalah global yang terjadi di setiap negara di

BAB I PENDAHULUAN. Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan agen penyebab Acquired

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan penyakit epidemik di

BAB 1 PENDAHULUAN. mempengaruhi masyarakat dalam cara mendeteksi dini penyakit HIV.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Sakit perut berulang menurut kriteria Apley adalah sindroma sakit perut

BAB 1 PENDAHULUAN. menurunnya sistem kekebalan tubuh. AIDS yang merupakan singkatan dari Acquired

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) merupakan suatu sindroma/

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

CURRENT DIAGNOSIS & THERAPY HIV. Dhani Redhono Tim CST VCT RS dr. Moewardi

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

OBAT ANTIVIRUS GOLONGAN OBAT ANTI NONRETROVIRUS

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tahun 2013 menjelaskan. HIV atau Human Immunodefisiensi Virus merupakan virus

XII. Pertimbangan untuk bayi dan anak koinfeksi TB dan HIV

I. PENDAHULUAN. Penyakit AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah gejala atau

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

HIV AIDS, Penyakit yang Belum Teratasi Namun Bisa Dicegah

BAB I PENDAHULUAN. Psoriasis merupakan penyakit kulit yang penyebabnya sampai saat ini masih belum

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. imuno kompromis infeksius yang berbahaya, dikenal sejak tahun Pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Definisi Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune

HIV dan Anak. Prakata. Bagaimana bayi menjadi terinfeksi? Tes HIV untuk bayi. Tes antibodi

H.I.V DAN KANKER; PSIKOLOGI SEPANJANG PERJALANAN PENYAKIT. Oleh: dr. Moh. Danurwendo Sudomo, Sp.Ok

BAB I PENDAHULUAN. Sumber: Kemenkes, 2014

SKRIPSI diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan mencapai gelar Sarjana Farmasi ( S1 )

MODEL MATEMATIKA. Gambar 1 Proses Infeksi Virus HIV terhadap sel Darah Putih Sehat (Feng dan Rong 2006)

Gangguan Psikiatrik Pada Pasien Ginjal ANDRI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dibandingkan populasi anak sehat (Witt et al., 2003). Pasien dengan penyakit

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

Terapi antiretroviral untuk infeksi HIV pada bayi dan anak:

Leukemia. Leukemia / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

BAB I PENDAHULUAN. masalah HIV/AIDS. HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang

BAB III METODE PENELITIAN. mengetahui jenis-jenis efek samping pengobatan OAT dan ART di RSUP dr.

BAB I PENDAHULUAN. yang mempunyai kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA penjamu. imun, hal ini terjadi karena virus HIV menggunakan DNA dari CD4 + dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. HIV/AIDS. Penderita AIDS adalah individu yang terinfeksi HIV dengan jumlah

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, pustul, nodus dan kista dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III KERANGKA TEORI, KONSEP DAN HIPOTESIS

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV di Indonesia termasuk yang tercepat di Asia. (2) Meskipun ilmu. namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HEPATITIS FUNGSI HATI

LAMPIRAN 1 : Alur Penelitian. di Poli Napza

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Rongga mulut merupakan gambaran dari kesehatan seluruh tubuh, karena

57 2-TRIK: Tunas-Tunas Riset Kesehatan

BAB VI PEMBAHASAN. Analisis jumlah limfosit T CD4+ pada penelitian ini dijadikan baseline yang juga

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Skizofrenia merupakan sindroma klinis yang berubah-ubah dan sangat

INFORMASI TENTANG HIV/AIDS

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 5 PEMBAHASAN. penelitian terdiri atas pria sebanyak 21 (51,2%) dan wanita sebanyak 20

I. PENDAHULUAN. maupun pelarut dan reagensia (Syabatini, 2008). Dalam dunia kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama sel T CD-4

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian

ABSTRAK. Kata kunci : CD4, HIV, obat antiretroviral Kepustakaan : 15 ( )

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Joint United National Program on

BAB I PENDAHULUAN. penyakit, diantaranya Acquired Immuno Defeciency Syndrome. (AIDS) adalah kumpulan penyakit yang disebabkan oleh Virus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. virus DEN 1, 2, 3, dan 4 dan ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedesal

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. neuron dopaminergik ganglia basalis terutama pada substansia nigra pars kompakta

Di seluruh dunia dan Amerika, dihasilkan per kapita peningkatan konsumsi fruktosa bersamaan dengan kenaikan dramatis dalam prevalensi obesitas.

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. DM yaitu DM tipe-1 dan DM tipe-2. Diabetes tipe-1 terutama disebabkan

BAB I PENDAHULUAN. penyebab yang belum diketahui sampai saat ini, ditandai oleh adanya plak eritema

BAB I PENDAHULUAN. kedua di dunia setelah HIV/AIDS. Pada tahun 2012, terdapat 8.6 juta orang

BAB 1 PENDAHULUAN. Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Depresi adalah suatu gangguan suasana perasaan (mood) yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

INSIDENSI HEPATITIS B PADA PASIEN HIV- AIDS DI KLINIK VCT PUSYANSUS RSUP HAJI ADAM MALIK MEDAN DARI JANUARI TAHUN DESEMBER TAHUN 2012

BAB I PENDAHULUAN. dan 8 16% di dunia. Pada tahun 1999 berdasarkan data Global burden of

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Infeksi HIV dan AIDS 2.1.1 Patofisiologi infeksi HIV HIV merupakan virus golongan retrovirus yang dapat menginfeksi manusia, menyerang sistem imun tubuh, dan merupakan penyebab utama dari AIDS. Penularan utama infeksi HIV antara lain melalui hubungan seksual, pemakaian jarum suntik bersama, dan infeksi vertikal dari ibu yang terinfeksi HIV ke anaknya baik saat di dalam kandungan, saat persalinan, atau setelahnya saat menyusui. 1 Siklus replikasi HIV diawali dengan menempelnya protein kapsul gp120, protein yang terdapatpada permukaan luar virus HIV, dengan reseptor CD4 pada permukaan sel T. Kedua membran (virus HIV dan sel T) akan mengalami fusi dengan bantuan chemokine coreceptor 5 (CCR5) dan mengakibatkan inti partikel virus yang terdiri dari RNA virus dan tiga macam enzim virus masuk ke dalam sel T. 17 Di dalam sel T, enzim reverse transcriptase menginisiasi pembentukan rantai ganda DNA virus dengan menyalin rangkaian RNA virus. DNA virus yang terbentuk lalu masuk ke dalam nukleus sel T dan bergabung dengan DNA sel T melalui aktivitas enzim integrase. DNA virus yang menyatu dengan DNA sel T disebut dengan DNA provirus. DNA provirus kemudian mengalami proses transkripsi dan translasi menghasilkan komponen partikel virus baru berupa protein dan enzim.komponen partikel virus baru ini kemudian berpindah ke 7

8 permukaan sel T menunggu protein virus lainnya sebelum melepaskan diri (release). Proses ini dinamakan pembentukan tunas (budding). 17 Selama dan setelah proses pembentukan tunas dan pelepasan, enzim proteaseakan memotong rantai polipeptida virus HIV menjadi partikel virus baru yang dewasa dan berpotensi menyebabkan infeksi. Satu sel yang terinfeksi dapat melepaskan banyak partikel virus baru yang akan berpindah tempat untuk menginfeksi sel lain di berbagai bagian tubuh menyebabkan siklus hidup virus terus berulang. Sel yang terinfeksi nantinya akan hancur dan ketika jumlah sel CD4 individu berada dibawah 200 sel/mm 3 maka dapat dikatakan individu tersebut menderita AIDS. 17 2.1.2 Terapi antiretroviral Pemberian terapi ARV pada pasien HIV/AIDS penting dilakukan untuk pengobatan dan mencegah penularan. ARV bekerja dengan cara menghambat replikasi virus yang secara bertahap akan menurunkan jumlah virus dalam darah. Kepatuhan terapi ARV yang tinggi diperlukan untuk mencapai supresi virologis yang optimal. 4 Terapi ARV diberikan dalam bentuk kombinasi untuk mencegah resistensi obat dan berlangsung seumur hidup pasien. 4 Obat yang digunakan dalam terapi ARV dibagi dalam 5 golongan: nucleoside or nucleotide reverse transcriptase inhibitor (NRTI), non nucleoside reverse transcriptase inhibitor (NNRTI), protease inhibitor (PI), integrase inhibitor, dan entry inhibitor (co-receptor antagonist and fusion inhibitor). 1,18

9 Tabel 2.Indikasi mulai terapi ARV 4 Indikasi Mulai Terapi ARV Populasi Target Pedoman Terapi ARV 2011 ODHA tanpa gejala klinis (stadium CD4<350sel/mm 3 klinis 1) dan belum pernah mendapat terapi ARV (ARV-naïve) ODHA dengan gejala klinis dan belum Stadium klinis 2, CD4 < 350 sel/mm 3 pernah mendapat terapi ARV (ARVnaïve) berapapun jumlah CD4 Stadiumklinis3atau4, Perempuan hamil dengan HIV Semuaibuhamil berapapun jumlah CD4 atau apapun stadium klinis ODHA dengan koinfeksi TB yang Mulaiterapiberapapun jumlah CD4 belum pernah mendapat terapi ARV ODHA dengan koinfeksi hepatitis B (HBV) yang belum pernah mendapat terapi ARV ODHA dengan koinfeksi hepatitis B (kronis aktif), berapapun jumlah CD4 2.2 Pemakaian efavirenz pada pasien HIV/AIDS 2.2.1 Farmakologi efavirenz Efavirenz merupakan obat ARV golongan NNRTI yang digunakan secara kombinasi dengan obat ARV golongan NRTI atau PI. Obat golongan NNRTI membentuk ikatan langsung dengan reverse transcriptase HIV-1 sehingga menghambat aktivitas enzim DNA polymerase. NNRTI tidak berkompetisi dengan nukleosida trifosfat untuk berikatan dan tidak membutuhkan fosforilasi untuk menjadi aktif. 18 Efavirenz memiliki waktu paruh yang panjang (40-55 jam) sehingga dapat diberikan sekali sehari. Konsentrasi tertinggi dalam plasma tercapai dalam waktu 3-5 jam dan konsentrasi yang stabil dalam plasma tercapai dalam waktu 6-10 hari. Konsumsi efavirenz dianjurkan saat akan tidur untuk memperkecil efek samping neuropsikiatri. Absorpsinya cukup baik dengan pemberian oral. 18

10 Efavirenz dimetabolisme oleh CYP3A4 dan CYP2B6 menjadi metabolit terhidoksilasi yang tidak aktif, sisanya dieliminasi melalui feses dalam bentuk tetap. Efavirenz sangat terikat pada albumin (>99%). Konsentrasinya dalam cairan serebrospinal berkisar dari 0,3% hingga 1,2% dari konsentrasinya dalam plasma. 18 Tabel 3.Karakteristik farmakologi efavirenz 18 Obat Golongan Obat Efavirenz NNRTI 2.2.2 Toksisitas efavirenz Dosis yang Dianjurkan untuk Dewasa 600mg tiap hari Efek Samping Khas Efek pada SSP, ruam, peningkatan konsentrasi enzim hati Keterangan Jangan digunakan bersama dengan astemizole, carbamazepine, turunan ergot, indinavir, itraconazole, ketoconazole, methadone, phenobarbital, phenytoin, triazolam, voriconazole. Bersifat teratogenik pada primate. Toksisitas utama efavirenz melibatkan sistem saraf pusat (SSP) berupa efek samping neuropsikiatri. Ruam kulit juga dapat terjadi di awal terapi. Potensi efek samping yang lain antara lain: mual, muntah, diare, kristaluria, peningkatan konsentrasi enzim hati, dan peningkatan kolesterol serum total. 18 Polimorfisme gen CYP2B6 dilaporkan berhubungan dengan metabolisme efavirenz yang berhubungan dengan peningkatan konsentrasi efavirenz dalam plasma. Konsentrasi efavirenz dalam plasma berhubungan dengan kejadian efek samping neuropsikiatri. Konsentrasi efavirenz dalam plasma yang tinggi akan meningkatkan kejadian efek samping neuropsikiatri. 10,13

11 2.3 Efek samping neuropsikiatri 2.3.1 Definisi efek samping neuropsikiatri Gangguan neuropsikiatri banyak terjadi pada pasien HIV/AIDS. Hal ini bisa terjadi akibat komplikasi infeksi HIV itu sendiri, efek samping terapi ARV, atau dampak sekunder dari infeksi oportunistik. Penelitian menunjukkan 14-50% pasien HIV/AIDS yang memakai efavirenz mengalami efek samping neuropsikiatri. 1 Kumpulan gejala neuropsikiatri yang disebabkan oleh karena toksisitas obat pada sistem saraf pusat disebut dengan efek samping neuropsikiatri. Gejala neuropsikiatri yang terjadi antara lain: pusing, insomnia, mimpi buruk, fluktuasi afektif,depresi, depersonalisasi, delusi paranoid, kebingungan hinggakeinginan bunuh diri. 1 Efek samping neuropsikiatri dapat dibagi menjadi 6 kategori, yaitu gangguan kognitif, gangguan afektif, gangguan kecemasan, gangguan psikosis, gangguan tidur, dan gangguan neurologi lain. 9 Pasien HIV/AIDS yang mengalami gangguan kognitif akan mengeluh berkurangnya konsentrasi, kemampuan mengingat, atau terganggunya fungsi eksekutif, sedangkan pasien HIV/AIDS yang mengalami gangguan afektif akan menunjukan gejala depresi atau gejala mania. Gangguan kecemasan akan ditandai dengan serangan panik, gugup, takut atau berupa gejala obsesif kompulsif. Adanya halusinasi, delusi, atau perilaku yang agresif menandakan adanya gangguan psikosis. Gejala yang terjadi pada gangguan tidur dapat berupa sulit tidur, mimpi buruk, hipersomnia, atau rasa mengantuk yang berlebihan. Gejala

12 neurologi lain terdiri dari pusing, vertigo, sakit kepala yang baru muncul atau memberat secara signifikan. 9 Efek samping neuropsikiatri dapat terlihat pada bulan pertama pemakaian efavirenz dan kemudian menghilang tetapi seringkali dapat menetap. Efek samping yang menjadi cukup berat memerlukan modifikasi terapi atau bahkan penghentian terapi. Sekitar 3% pasien HIV/AIDS berhenti terapi karena efek samping ini. 1,4,5 Efek samping neuropsikiatri telah dilaporkan dapat terjadi pada pasien HIV/AIDS yang memakai obat ARV golongan NNRTI dan PI. Efavirenz dikatakan paling sering menjadi penyebab efek samping ini. Frekuensi efek samping ini lebih rendah dan lebih ringan pada pemakaian etravirine dan rilpivirine. 1,16,19 Rekomendasi yang diberikan oleh pemerintah bila terjadi efek samping neuropsikiatri yang persisten dan berat adalah penggantian obat dari efavirenz menjadi nevirapin. Jika ada riwayat hepatotoksik atau hipersensitifitas berat pada pasien HIV/AIDS maka nevirapin tidak dapat diberikan dan dapat dipertimbangkan penggantian dengan obat ARV golongan PI. 4 2.3.2 Diagnosis efek samping neuropsikiatri Penentuan etiologi dari gejala neurologi (neuropati, perubahan kognitif, demensia) dan psikiatri (depresi, kecemasan, mania) sulit dilakukan. Gejala neuropsikiatri sebagai efek samping terapi ARV dan komplikasi infeksi HIV sering tumpang tindih. Efavirenz telah dihubungkan dengan efek samping

13 neuropsikiatri yang sulit dibedakan dari gangguan mental, penyalahgunaan zat, dan gejala neuropsikiatri yang berhubungan dengan HIV. 8 Pasien HIV/AIDS yang mengalami gejala neuropsikiatri pada pemakaian efavirenz namun tidak ada riwayat depresi sebelumnya sebaiknya dirujuk ke spesialis penyakit saraf untuk menghilangkan kecurigaan penyakit otak oleh karena HIV. Pemeriksaan saraf, pemeriksaan neuropsikiatri, dan MRI sebaiknya dilakukan. Pasien HIV/AIDS yang tidak ada petunjuk adanya penyakit otak terkait HIV pada hasil pemeriksaan akan dikonsultasikan ke spesialis penyakit jiwa. Tidak adanya alasan lain untuk menjelaskan gejala depresi menunjukkan bahwa gejala neuropsikologi yang terjadi merupakan efek samping neuropsikiatri pada pemakaian efavirenz. 8 Kategori dan derajat efek samping neuropsikiatri dinilai dengan metode wawancara atau kuesioner. Kuesioner DASS (Depression, Anxiety, and Stress Scale) digunakan untuk menilai gejala depresi, kecemasan, dan stres. Gejala kognitif dinilai dengan CFQ (Cognitive Failure Questionnaire) atau SMMSE (Standardized Mini Mental State Examination) dan gangguan tidur dinilai dengan PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index). Skrining untuk gejala psikosis dengan menggunakan PQ (Prodromal Questionnaire). 9,11,15,20-24 2.3.3 Patofisiologi efek samping neuropsikiatri Patofisiologi efek samping neuropsikiatri pada pemakaian efavirenz masih belum dikatahui secara pasti. Konsentrasi obat dalam plasma serta polimorfisme gen CYP2B6 telah ditemukan sebagai prediktor efek samping neuropsikiatri pada pemakaian efavirenz pasien HIV/AIDS. 9

14 Neurotoksik pada pemakaian efavirenz dapat terjadi melalui mekanisme peningkatan sitokin proinflamasi, penghancuran duri dendritik, atau dengan mengganggu homeostasis kalsium.sebuah penelitian pada tikus menunjukan adanya penurunan fungsi kognitif dan semakin rentan mengalami stres pada tikus yang diberi efavirenz. Hal ini dapat terjadi oleh karena adanya peningkatan sitokin-sitokin proinflamasi seperti IL-1β dan TNF-α. 25,26 Penelitian terbaru menemukan bahwa metabolit efavirenz merusak sel saraf. Efavirenz diubah menjadi 8-hidroksi-efavirenz (8-OH-EFV) di dalam tubuh. Metabolit 8-OH-EFV bersifat sepuluh kali lebih beracun dibandingkan dengan efavirenz. Konsentrasiobat yang rendah menyebabkan sel saraf kehilangan duri dendritik, kabel input sel saraf,sehingga sel saraf menjadi kurang responsif terhadap sinyal. Konsentrasi obat yang tinggi akan menyebabkan kematian sel saraf.konsentrasi8-oh-efv dalam dosis harian efavirenz adalah sekitar tiga kali konsentrasi yang cukup untuk menghilangkan duri dendritik. Faktor genetik dari CYP2B6 dapat memperparah efek neurotoksik efavirenz oleh karena peningkatan metabolisme sehingga menyebabkan akumulasi 8-OH-EFV.Tingginya toksisitas 8-OH-EFV disebabkan oleh kemampuannya mengganggu homeostasis kalsium. Metabolit 8-OH-EFV dapat menginduksi masuknya kalsium dengan cepat ke dalam sel saraf sehingga menyebabkan kerusakan neuron. 26 Efavirenz Metabolit 8-OH-EFV Mengganggu homeostasis kalsium dan merusak duri dendritik Kerusakan sel saraf Gambar 1. Mekanisme efek samping neuropsikiatri terkait efavirenz

15 2.4 Faktor-faktor penyebab gangguan neuropsikiatri pada pasien HIV/AIDS Gangguan neuropsikiatri pada pasien HIV/AIDS dapat disebabkan oleh berbagai hal, antara lain: 1)HIV SSP merupakan lokasi predileksi dimana virus HIV dapat bereplikasi secara bebas, khususnya pada tahap penyakit lanjut. Neurotoksin yang dilepaskan oleh makrofag dan mikroglia memacu pelepasan sitokin dan kemokin yang akan menyebabkan modifikasi sinaps di korteks. Apoptosis atau kematian sel diperkirakan menjadi mekanisme paling umum yang menyebabkan hilangnya sel saraf. Karakteristik dari demensia terkait HIV adalah terjadinya degenerasi neurologi yang menyebabkan gangguan kognitif dan motorik secara progresif. 6 2) Infeksi Toxoplasma di SSP Infeksi toxoplasma merupakan penyebab terbanyak dari masa intraserebral fokal pada pasien HIV/AIDS. Letak lesi biasanya di korteks dan basal ganglia. Kista Toxoplasma mungkin muncul sebagai inflamasi granuloma padat atau kistik sekunder yang menyebabkan vaskulitis fokal. Gejala yang timbul dapat berupa gangguan mental. sakit kepala, dan demam. 27 3) Pemakaian obat ARV Gangguan neuropsikiatri dapat disebabkan oleh obat-obat ARV. Efavirenz merupakan penyebab gangguan neuropsikiatri yang paling sering. Obat ARV lain yang juga bisa menyebabkan gangguan neuropsikiatri adalah etravirine dan rilpivirine. 1,16,19

16 4) Stresor Stresor biologi, stresor fisik, dan stresor psikososial dapat menyebabkan gangguan psikiatri apabila seseorang tidak dapat menanggulanginya. Gangguan psikiatri yang dapat terjadi yaitu gangguan afektif, gangguan kecemasan, atau gangguan psikosis. 28 2.5 Faktor-faktor yang memengaruhi gangguan neuropsikiatri terkait efavirenz pada pasien HIV/AIDS Gangguan neuropsikiatri pada pemakaian efavirenz pasien HIV/AIDS dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain: 1) Umur Ada hubungan antara umur dengan prevalensi gangguan neurokognitif. Penelitian menunjukkan umur rata-rata pasien dengan gangguan neurokognitif leih tua bila dibandingkan dengan umur rata-rata pasien tanpa gangguan neurokognitif. 7 2) Jenis Kelamin Jenis kelamin berhubungan dengan kejadian depresi. Pasien HIV/AIDS perempuan memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami depresi dibandingkan pasien laki-laki. 29 3) Durasi Terapi Efek samping neuropsikiatri terjadi paling tinggi pada bulan pertama pemakaian efavirenz dan kejadian terus menurun dari waktu ke waktu. Pada bulan pertama 41,2% pasien mengalami efek samping ini dan setelah 12 bulan hanya tersisa 5,9% pasien. 30

17 4) Jumlah CD4 Riwayat imunosupresi (jumlah CD4 <200 sel/mm 3 ) dikaitkan dengan peningkatan gangguan neurokognitif. Setiap penurunan jumlah sel CD4 sebanyak 50 terkait dengan penurunan fungsi neurokognitif. 7 5) Polimorfisme gen CYP2B6 Metabolisme utama efavirenz dilakukan oleh CYP2B6. Penelitian menunjukan variasi alel 516G>T pada gen CYP2B6 berhubungan dengan penurunan aktivitas isoenzim CYP2B6, peningkatan kadar efavirenz dalam plasma, dan peningkatan insidensi efek samping neuropsikiatri terkait efavirenz. 10 6) Ras Perbedaan ras terbukti menimbulkan paparan efavirenz yang berbeda pula. Polimorfisme gen CYP2B6 lebih sering terjadi pada orang Afrika-Amerika daripada orang Eropa-Amerika sehingga orang Afrika-Amerika lebih besar kemungkinan terpapar efavirenz dan mengalami efek samping neuropsikiatri. 13 7) Konsentrasi Efavirenz dalam Plasma Konsentrasi efavirenz dalam plasma memengaruhi kejadian efek samping neuropsikiatri. Pasien HIV/AIDS dengan konsentrasi efavirenz dalam plasma yang tinggi lebih berisiko mengalami efek samping neuropsikiatri. 9,12,19 8) Riwayat gangguan neuropsikiatri Riwayat gangguan neuropsikiatri dapat memprediksi terjadinya efek samping neuropsikiatri. Pasien yang memiliki riwayat neuropsikiatri lebih rentan mengalami efek samping bila dibandingkan dengan pasien HIV/AIDS yang tidak ada riwayat gangguan neuropsikiatri sebelumnya. 19