II. KERANGKA TEORETIS. Metode didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru dalam menjalankan

dokumen-dokumen yang mirip
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pendekatan discovery adalah suatu prosedur mengajar yang dapat. mengalami sendiri bagaimana cara menemukan atau menyelidiki

TINJAUAN PUSTAKA. Learning Cycle (LC) adalah suatu kerangka konseptual yang digunakan sebagai

II. KERANGKA TEORETIS. 1. Pembelajaran berbasis masalah (Problem- Based Learning)

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR FISIKA MATERI BESARAN DAN SATUAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGASI KELAS X-1 SMAN 6 CIREBON TAHUN AJARAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. Konsep merupakan suatu pengetahuan terhadap sesuatu. Menurut Rosser

II. TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu alternatif pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan

II. TINJAUAN PUSTAKA. untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengacu pada

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) definisi efektivitas adalah

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. kearah yang lebih baik. Menurut Hamalik (2004:37) belajar merupakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa ahli mendefinisikan tentang pengertian belajar atau lerning, baik

II. TINJAUAN PUSTAKA. yang melibatkan siswa dalam kegiatan pengamatan dan percobaan dengan

BAB II KAJIAN TEORETIS DAN HIPOTESIS TINDAKAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. TTW merupakan model pembelajaran kooperatif dimana perencanaan dari

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. KERANGKA TEORETIS. Sesuatu yang telah dimiliki berupa pengertian-pengertian dan dalam batasan

FAKULTAS EKONOMI UNNES

TINJAUAN PUSTAKA. Learning Cycle adalah suatu kerangka konseptual yang digunakan sebagai

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. suatu proses pembelajaran. Perubahan yang terjadi pada siswa sejatinya

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan Classroom Action Research atau yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. hidup manusia sebagai makhluk sosial. Pembelajaran kooperatif merupakan. semua mencapai hasil belajar yang tinggi.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang Masalah. Pendidikan berperan dalam menghasilkan sumber daya manusia yang

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Negeri I Leuwimunding Kecamatan Leuwimunding Kabupaten Majalengka, Gambar 3.1. Alur Penelitian.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di SDN2 Labuhan Ratu Kecamatan Kedaton. Bandar lampung pada semester II tahun 2011.

II. TINJAUAN PUSTAKA. dalam proses pembelajaran selama ini. Prosedur-prosedur Penilaian konvensional

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB II KERANGKA TEORITIS. Perubahan tersebut mencakup aspek tingkah laku, keterampilan dan

Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako (JPFT) Vol. 1 No. 3 ISSN

III. METODE PENELITIAN. Metode penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

BAB II KERANGKA TEORITIS. 1. Belajar dan Pembelajaran Matematika. memenuhi kebutuhan hidupnya. Menurut Slameto (2003:

ISSN: Quagga Volume 9 No.2 Juli 2017

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Dunia pendidikan di Indonesia dewasa ini sedang mengalami krisis, yang harus dijawab oleh dunia pendidikan. Jika proses-proses

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Biologi berasal dari bahasa yunani, yaitu dari kata bios yang berarti

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru bidang studi kimia di

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning (CTL) 1. Pengertian Contextual Teaching And Learning (CTL)

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah dasar sebagai jenjang pendidikan formal pertama sistem pendidikan di

BAB II KAJIAN TEORITIS. Kemampuan berpikir tingkat tingi dapat dikembangkan dalam proses

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bertanya, mengajukan pendapat, dan menimbulkan diskusi dengan guru.

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Lampung Tahun Ajaran 2009/2010 dengan jumlah siswa 29 orang yang terdiri

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

BAB I PENDAHULUAN. suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menguasai kemahiran diskriminasi dan proses kognitif fundametal

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terbuka, artinya setiap orang akan lebih mudah dalam mengakses informasi

BAB II KAJIAN TEORETIS

BAB II KAJIAN PUSTAKA. oleh peneliti sebelumnya yang berkaitan dengan karangan argumentasi sebagai

I. PENDAHULUAN. Berdasarkan observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran kimia di

I. PENDAHULUAN. Ilmu kimia tidak hanya bertujuan menemukan zat-zat yang langsung bermanfaat

III. METODE PENELITIAN. Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas XI IPA1 SMA PGRI 1

II. TINJAUAN PUSTAKA. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku siswa akibat adanya

III. METODE PENELITIAN. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X-3 SMAN 2 Kalianda semester

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI. dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, yaitu sebagai berikut:

ISSN Jurnal Exacta, Vol. IX No. 1 Juni 2011

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Nasution (2008: 93) mengemukakan bahwa gaya belajar atau learning style

I. PENDAHULUAN. Kimia merupakan mata pelajaran yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan

I. PENDAHULUAN. Fisika adalah ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan penemuan dan

II. TINJAUAN PUSTAKA. mampu merangsang peserta didik untuk menggali potensi diri yang sebenarnya

II. TINJAUAN PUSTAKA. dapat membawa hasil atau berdaya guna. Efektif juga dapat diartikan dengan

BAB III METODE PENELITIAN. kelas (Classroom Action Research). Penelitian tindakan kelas adalah

Oleh: AGUS SUSILA NIP Guru SMP Negeri 1 Jalancagak

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan pengalaman peneliti mengajar mata pelajaran fisika di. kelas VIII salah satu SMP negeri di Bandung Utara pada semester

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan. Pendidikan merupakan wadah kegiatan sebagai pencetak

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Definisi operasional diperlukan agar tidak terjadi salah pengertian dan

BAB III METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilaksanakan di kelas VA SD N 07 Kota Bengkulu. Subyek

BAB I PENDAHULUAN. yaitu krisis terhadap masalah, sehingga peserta didik (mahasiswa) mampu merasakan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Masalah

II. TINJAUAN PUSTAKA. Learning Cycle (LC) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada

BAB IV HASIL PENELITIAN. Ada pun tahap-tahap yang dilakukan pada siklus I ini adalah sebagai berikut:

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam proses belajar disiplin belajar sangat penting dalam menunjang

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD merupakan model pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa dipisahkan. Belajar. menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar.

BAB III METODE PENELITIAN. dilakukan untuk meningkatkan dan menyempurnakan proses pembelajaran.

BAB I PENDAHULUAN. proses pembelajaran. Karena tanpa adanya minat belajar dari siswa proses

III. METODE PENELITIAN. Tahun Ajaran 2010/2011 dengan jumlah siswa 44 orang terdiri dari 22 siswa lakilaki

I. PENDAHULUAN. pada semua tingkat perlu terus-menerus dilakukan sebagai antisipasi

II. TINJAUAN PUSTAKA. juga mengalami sehingga akan menyebabkan proses perubahan tingkah laku pada

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan salah metode yang sering

BAB III METODE PENELITIAN. tindakan kelas. Dalam penelitian ini penelitian difokuskan pada situasi kelas, di

BAB II KAJIAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Keberhasilan belajar tidak akan tercapai begitu saja jika pembelajaran tidak

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS. Hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu teori belajar yang cukup dikenal dan banyak implementasinya dalam

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. belajar siswa pada mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan Pada

BAB II MODEL PEMBELAJARAN NOVICK DAN HASIL BELAJAR

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA

Transkripsi:

5 II. KERANGKA TEORETIS A. Tinjauan Pustaka 1. Metode Peta Konsep Metode didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru dalam menjalankan fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode mengajar yang digunakan harus dapat membangkitkan motivasi, minat dan gairah murid untuk belajar lebih lanjut dan dapat menjamin perkembangan kegiatan kepribadian murid. Metode pembelajaran peta konsep ini berkaitan dengan keinginan siswa untuk belajar serdiskusi, senang bertanya dan menjawab pertanyaan, dan juga senang menyelesaikan semua tugasnya. Salah satu cara untuk mengembangkan strategi belajar mengajar bermakna kepada siswa adalah menggunakan metode peta konsep (concept mapping). Asumsi yang digunakan dalam peta konsep ialah dari teori kognitif yang menyatakan bahwa keterkaitan erat antar satu konsep dengan konsep lain merupakan hal yang sangat penting dalam membangun sebuah pengetahuan. Keterkaitan antar sebuah konsep dengan konsep-konsep yang lain disebut dengan proposisi. Apabila sebuah proposisi dibangun dalam bentuk sebuah pengorganisasian antar konsep sesuai dengan arti hubungannya masing-masing maka disebut dengan peta konsep.

6 Peta konsep disusun berdasarkan hubungan antar konsep dalam sebuah pokok bahasan. Biasanya sebuah peta konsep dibuat per bab. Dalam sebuah peta konsep, keterkaitan antara sebuah konsep-dengan konsep lain disusun secara bermakna sehingga membentuk proposisi. Dalam proposisi, sebuah konsep yang memiliki makna yang lebih luas diletakan diatas. Dengan menggunakan peta konsep ini dalam pembelajaran maka dapat diperkirakan kedalaman dan keluasan konsep yang perlu diajarkan kepada siswa. Sesuai dengan teori asosiatif, kaitan konsep yang satu dengan konsep yang lain ini bagi siswa merupakan hal yang penting dalam belajar, sehingga apa yang dipelajari oleh siswa akan lebih bermakna, lebih mudah diingat dan lebih mudah dipahami, diolah serta dikeluarkan kembali bila diperlukan. (Saripudin, 2008) Untuk membuat peta konsep, menurut Rusmansyah ada beberapa langkah yang harus diikuti, yaitu : 1. Menentukan konsep-konsep yang relevan Mengurutkan konsep-konsep dari yang paling umum ke yang paling tidak umum (khusus) atau contoh-contoh. 2. Memilih referensi Referensi dicari yang sesuai dengan konsep-konsep yang telah ditentukan. 3. Menyusun/menuliskan konsep-konsep itu di atas kertas. Memetakan konsep-konsep itu berdasarkan kriteria: konsep yang paling umum di puncak, konsep-konsep yang berada pada tingkatan abstraksi yang sama diletakkan sejajar satu sama lain, konsep yang lebih khusus di bawah konsep yang lebih umum. 4. Menghubungkan konsep-konsep itu dengan kata penghubung tertentu untuk membentuk proposisi dan garis penghubung. 5. Jika peta sudah selesai, perhatikan kembali letak konsep-konsepnya dan kalau perlu diperbaiki atau disusun kembali agar dan berarti menjadi lebih baik Peta konsep menurut Novak dan Gowin dalam Rusmansyah (2003) menyatakan bahwa :

Pemetaan konsep akan membantu para siswa membangun kebermaknaan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang baru dan lebih kuat dalam bidang studi. Peta konsep (Concept Mapping) adalah metode yang digunakan guru untuk membantu siswa mengorganisasikan konsep pelajaran yang telah dipelajari berdasarkan arti dan hubungan antara komponennya. Hubungan antara satu konsep (informasi) dengan konsep yang lain dikenal sebagai proposisi. 7 Keuntungan-keuntungan menggunakan peta konsep menurut Ausubel dalam Holil (2009) adalah menyelidiki apa yang telah diketahui siswa, mempelajari cara belajar, mengungkapkan konsepsi salah dan alat evaluasi. Manfaat penggunaan peta konsep menurut Rusmansyah (2003): a. Bagi guru 1). Membantu untuk mengerjakan apa yang telah diketahui dalam bentuk yang lebih sederhana, rencanakan dan memulai suatu topik pembelajaran, serta mengolah kata kunci yang akan digunakan dalam pembelajaran. 2). Membantu untuk mengingat kembali dan merevisi konsep pembelajaran, membuat pola catatan kerja dan belajar yang sangat baik untuk keperluan presentasi. 3). Membantu untuk mendiaknosis apasaja yang diketahui oleh siswa dalam bentuk struktur yang mereka bangun dalam bentuk kata-kata. 4). Membantu untuk mengetahui adanya miskonsepsi dari para siswa, contohnya dalam ujian akan tergambar kemampuan siswa mengolah idenya dalam bentuk grafik ataupun penggunaan visual yang representatif. 5). Membantu untuk mengecek pemahaman siswa akan konsep yang dipelajari, dimana peta konsep yang dibuat siswa benar atau salah. 6). Membantu untuk memperbaiki kesalahan konsep yang diterima siswa sebagai dasar untuk pembelajaran selanjutnya sehingga akhirnya efektif untuk merubah kesalahan konsep yang diterima siswa. 7). Membantu untuk merencanakan instruksional pembelajaran dan evaluasinya ataupu untuk mengukur keberhasilan tujuan instruksional pembelajaran. b. Bagi siswa 1). Membantu untuk mengidentifikasi kunci konsep, menafsirkan atau memperkirakan hubungan pemahaman dan membantu pembelajaran lebih lanjut. 2). Membantu membuat susunan konsep pelajaran memjadi lebih baik sehingga mudah untuk keperluan ujian. 3). Membantu menyediakan sebuah pemikiran untuk menghubungkan konsep pembelajaran.

4). Membantu untuk berfikir lebih dalam dengan ide siswa dan menjadikan para siswa mengerti benar akan arti pengetahuan yang diperolehnya. 5). Mengklarifikasi ide yang telah diperoleh siswa tentang sesuatu dalam bentuk kata-kata. 6). Membentuk suatu struktur pemahaman dari bagaimana semua faktafakta (yang baru dan eksis) dihubungkan dengan pengetahuan berikutnya. 7). Belajar bagaimana mengorganisasi sesuatu mulai dari informasi, fakta dan konsep kedalam suatu konteks pemahaman, sehingga terbentuk pemahaman yang baik dan menuliskannya yang benar. 8 Jenis-jenis peta konsep menurut Holil (2009), yaitu : a. Pohon Jaringan. Ide-ide pokok dibuat dalam persegi empat, sedangkan beberapa kata lain dihubungkan oleh garis penghubung. Kata-kata pada garis penghubung memberikan hubungan antara konsep-konsep. Pada saat mengkonstruksi suatu pohon jaringan, tulislah topik itu dan daftar konsep-konsep utama yang berkaitan dengan topik itu. Daftar dan mulailah dengan menempatkan ide-ide atau konsep-konsep dalam suatu susunan dari umum ke khusus. Cabangkan konsep-konsep yang berkaitan itu dari konsep utama dan berikan hubungannya pada garisgaris itu b. Peta Konsep Siklus Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir. Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya kejadian akhir itu menhubungkan kembali ke kejadian awal siklus itu berulang dengan sendirinya dan tidak ada akhirnya. 2. Minat Minat merupakan suatu hal yang sangat penting dalam ketercapaian tujuan dari suatu proses kegiatan belajar. Sebagai seorang pendidik sekaligus pengajar, penting bagi seorang guru untuk memperhatikan faktor minat ini. Minat dapat dibangkitkan dengan cara membangkitkan suatu kebutuhan, menghubungkan dengan pengalaman yang lampau, memberikan kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik, dan menggunakan bebagai macam bentuk (metode) mengajar. Pelajaran yang dapat merangsang timbulnya minat dan perhatian

9 siswa harus memberikan kesempatan bagi peran sertanya bahkan rasa keterlibatan bagi siswa. Menurut Slameto (2003): Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh, minat pada dasarnya adalah menerima akan suatu hubungan antara dirinya sendiri dengan suatu di luar diri. Minat besar pengaruhnya terhadap hasil belajar, karena bila pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat maka siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya karena tidak ada daya tarik baginya. Minat belajar merupakan pilihan kesenangan dalam melakukan kegiatan dan dapat membangkitkan gairah seseorang untuk memenuhi kesediaannya yang dapat diukur melalui beberapa indikator yaitu (1) perhatian misalnya hadir tepat waktu, memperhatikan penjelasan guru, dan mengemukakan pendapat. (2) rasa ingin tahu atau ketertarikan, misalnya keinginan untuk mencoba, menggali informasi, ingin mengetahui materi selanjutnya, dan bertanya. (3) usaha yang dilakukan atau keterlibatan misalnya mengulang kembali pelajaran, selalu mengerjakan tugas, berlatih mengerjakan tugas, dan berdiskusi dengan teman. (4) Perasaan senang misalnya merasa senang pada waktu mengikuti pelajaran, merasa tertantang dengan pelajaran fisika, dan ingin pandai fisika. Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar. Sebab, apabila bahan belajar yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, mereka tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya tarik bagi siswa. Maka digunakanlah metode pembelajaran peta konsep untuk meningkatkan minat dan hasil belajar siswa. Beberapa indikator yang dipakai pada pembelajaran ini yaitu (1)

10 diskusi misalnya keinginnan untuk belajar diskusi, dan senang melakukan diskusi serta mau mengemukakan pendapat. (2) tanya jawab misalnya keinginan untuk bertanya, dan menjawab pertanyaan. (3) tugas misalnya menyelesaikan tugas dikelas, dan mengerjakan tugas rumah. 3. Hasil Belajar Tercapainya suatu tujuan pembelajaran dapat dilihat dari hasil belajar yang telah diperoleh siswa. Pembelajaran dikatakan berhasil apabila hasil belajar yang diperoleh siswa mengalami peningkatan. Penilaian hasil belajar merupakan suatu kegiatan yang berupaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Dimyati dalam Dwi Ariyanti, 2006). Hasil belajar adalah hasil dari evaluasi atau penilaian yang dilakukan setelah sis-wa menyelesaikan pengalaman belajarnya dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Bagi siswa hasil belajar dapat memberikan informasi tentang sejauh mana mereka dapat menguasai bahan pelajaran yang disampaikan guru. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa penilaian hasil belajar bagi seseorang siswa merupakan sesuatu yang sangat penting karena nilai merupakan cermin keberhasilan belajar. Bagi guru hasil belajar dapat digunakan sebagai petunjuk efektif tidaknya metode mengajar yang digunakan, dengan demikian dapat dijadikan sebagai umpan balik pembelajaran. Penilaian berfungsi sebagai pengukur keberhasilan pelaksanaan suatu program atau ketercapaian tujuan pembelajaran. (Arikunto dalam Dwi Ariyanti, 2006).

11 Pada umumnya hasil belajar dikelompokkan menjadi tiga ranah, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Mata pelajaran yang mengandung tiga ranah tersebut tidak dapat dievaluasi secara terpisah-pisah, namun penekanannya saja yang berbeda-beda. Penilaian ranah kognitif berkaitan dengan kemampuan berpikir, memperoleh pengetahuan konsep, pemahaman, penalaran dan pengenalan. Penilaian ranah afektif mencakup perasaan, minat, emosi, sikap atau nilai. B. Kerangka Pemikiran Pembelajaran dengan menggunakan peta konsep merupakan metode yang dapat membantu para siswa membangun kebermaknaan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang baru dan lebih kuat dalam bidang studi. Peta konsep (Concept Mapping) adalah metode yang digunakan guru untuk membantu siswa mengorganisasikan konsep pelajaran yang telah dipelajari berdasarkan arti dan hubungan antara komponennya. Hubungan antara satu konsep (informasi) dengan konsep yang lain dikenal sebagai proposisi. Peta konsep memiliki ciri yaitu memperlihatkan proposisi konsep-konsep serta menunjukkan adanya heararki atau urutan konsep-konsep. Keadaan ideal dalam proses pembelajaran adalah siswa belajar dengan sungguh-sungguh, bersemangat, dan penuh perhatian. Bila keadaan seperti itu terwujud, dapat dikatakan bahwa proses belajar mengajar berjalan efektif. Keadaan yang demikian dapat diciptakan dengan menggunakan metode atau strategi pembelajaran yang dapat menarik perhatian siswa untuk terlibat secara penuh selama proses belajar mengajar berlangsung. Metode yang dimaksud adalah peta konsep dengan asumsi-asumsi dasar sebagai berikut: suasana

12 kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menarik, apa yang dipelajari oleh siswa akan lebih bermakna, lebih mudah diingat, lebih mudah dipahami, dan dapat diolah serta dikeluarkan kembali bila diperlukan. Sehingga dengan demikian, minat dan hasil belajar siswa akan meningkat. Berdasarkan hasil nilai yang sudah ada penempatan siswa dikelompokkan secara heterogen, masing-masing kelompok terdiri dari siswa yang mempunyai kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Dalam kelompok ini siswa mengerjakan LKS, diharapkan akan terjadi kerja sama yang baik antar anggota kelompok. Pemahaman tiap anggota kelompok dalam memahami materi pembelajaran menjadi tanggung jawab anggota kelompok. Persentasi dilaksanakan setelah diskusi, persentasi ini berupa tanya jawab atas masalah yang telah didiskusikan berfungsi sebagai penguat setelah melaksanakan diskusi yang telah dilakukan. Guru memberikan pembelajaran yang bersifat secara langsung kepada semua siswa. Kegiatan ini bertujuan untuk menuntaskan semua materi pembelajaran sekaligus menjajaki kemungkinan adanya kesalahan konsep dan menyamakan persepsi siswa dalam tim heterogen. Setelah semua siswa memahami materi pembelajaran maka diadakan tes formatif, tes formatif ini dikerjakan oleh masing-masing anggota tim. Berdasarkan uraian di atas pembelajaran menggunakan metode peta konsep diharapkan dapat meningkatkan minat siswa, sehingga akan berdampak pada peningkatan hasil belajar fisika siswa. Alur kerangka pikir dari penelitian yang akan dilakukan adalah sebagai berikut: Pembelajaran menggunakan peta konsep Siswa dibagi menjadi kelompok heterogen yang berjumlah 5 orang per kelompok Siswa dalam Siswa mengidentifikasi

13 Gambar 1. Bagan alur kerangka pikir penelitian C. Rumusan Hipotesis Berdasarkan kerangka teoritis yang telah diungkapkan maka rumusan hipotesisnya adalah sebagai berikut: dengan menerapkan metode peta konsep dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa kelas XI SMAN 1 Labuhan Ratu Lampung Timur.