dari proses maupun hasil pendidikan (Trianto, 2010:7-8).

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan juga proses membimbing

I. PENDAHULUAN. pada semua tingkat perlu terus-menerus dilakukan sebagai antisipasi

I. PENDAHULUAN. mencapai tujuan tertentu (Sanjaya, 2008:26). Menurut Amri dan Ahmadi. (2010:89) bahwa dalam kegiatan pembelajaran guru harus memahami

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan IPA diharapkan menjadi wahana bagi peserta didik untuk

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nur Inayah, 2013

BAB I PENDAHULUAN. negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU No. 20, 2003, h. 4).

I. PENDAHULUAN. hidupnya. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pengajaran dan pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and

I. PENDAHULUAN. menguasai informasi dan pengetahuan. Dengan demikian diperlukan suatu. tersebut membutuhkan pemikiran yang kritis, sistematis, logis,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. Menurut Undang- Undang tentang sistem pendidikan nasional No. 20 Tahun

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. IPTEK. Pada kenyataannya dunia pendidikan di Indonesia masih belum

I. PENDAHULUAN. dianamis dan sarat perkembangan. Oleh karena itu, perubahan atau. dengan perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran fisika dengan pendekatan kontekstual,

BAB I PENDAHULUAN. Proses pembelajaran merupakan sebuah interaksi antara komponenkomponen

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i. DAFTAR ISI... iv. DAFTAR TABEL... vii. DAFTAR BAGAN... ix. DAFTAR GAMBAR... x. DAFTAR LAMPIRAN...

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. sehari-hari. Namun dengan kondisi kehidupan yang berubah dengan sangat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting dan tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Heri Sugianto, 2013

I. PENDAHULUAN. tugas dan kewajiban guru. Oleh karena itu, seorang guru memerlukan strategi

Jurnal Publikasi. Oleh: WINDARTI A FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2012

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

D035. Prodi Biologi Fak Saintek UIN Sunan Kalijaga ABSTRAK

EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN TGT (Team Games Tournament) YANG DILENGKAPI DENGAN MEDIA POWER POINT DAN DESTINASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. peningkatan keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai.

BAB I PENDAHULUAN. tercipta sumber daya manusia yang berkualitas. Seperti yang di ungkapkan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan. Menurut

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini merupakan penelitian penembangan yaitu suatu penelitian

I. PENDAHULUAN. Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis yang dilakukan orang-orang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. sangat pesat, dengan teknologi dan komunikasi yang canggih tanpa mengenal

I. PENDAHULUAN. Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang

I. PENDAHULUAN. duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Pada pusat bahasa departemen pendidikan nasional bahwa: pendidikan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB. I PENDAHULUAN. Hilman Latief,2014 PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah, dalam kaitannya dengan pendidikan sebaiknya dijadikan tempat

BAB I PENDAHULUAN. penggunaan alat-alat bantu mengajar di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya perkembangan teknologi saat ini membawa berbagai perubahan

PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN BERBASIS PENDIDIKAN KARAKTER OLEH MAHASISWA CALON GURU FISIKA

Meningkatkan Pemahaman Konsep Perubahan Wujud Benda Pada Siswa Kelas IV SDN 3 Siwalempu Melalui Pendekatan

NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Biologi

I. PENDAHULUAN. Belajar pada hakekatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL. contextual teaching and learning

BAB I PENDAHULUAN. Pada suatu proses pembelajaran guru dan murid terjadi suatu interaksi. Dimana

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terbuka, artinya setiap orang akan lebih mudah dalam mengakses informasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Pengalaman disini berupa pengalaman untuk melakukan proses belajar

BAB I PENDAHULUAN. Biologi merupakan suatu cabang ilmu yang banyak mengandung konsep

BAB I PENDAHULUAN. dalam pendekatan pengajaran, yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah

ARTIKEL ILMIAH PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN KIMIA MATERI HIDROKARBON ALKANA MENGGUNAKAN MACROMEDIA FLASH 8

BAB II KAJIAN TEORI. aplikasi dari konsep matematika. Pengenalan konsep-konsep matematika

Skripsi OLEH: REDNO KARTIKASARI K

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Paradigma pendidikan mengalami perubahan yang disesuaikan dengan

BAB I PENDAHULUAN. dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2003). Belajar memiliki tujuan

I. PENDAHULUAN. perkembangan. Perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang

BAB I PENDAHULUAN. Ilmu pengetahuan alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang

BAB I PENDAHULUAN. Biologi merupakan bagian dari sains yang menekankan pembelajaran yang

SIMULASI IPAL MELALUI PENDEKATAN CTL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI SISWA SMA NEGERI II SUKOHARJO.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. belajar dengan berbagai metode, sehingga peserta didik dapat melakukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih berinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena miniatur dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing (Santika, 2008:14). Kenyataan di lapangan siswa hanya menghapal konsep dan kurang mampu menggunakan konsep tersebut jika menemui masalah dalam kehidupan nyata yang berhubungan dengan konsep yang dimiliki. Oleh karena itu, hendaknya dilakukan perubahan paradigma atau reorientasi terhadap proses pembelajaran. Salah satu perubahan paradigma tersebut adalah orientasi pembelajaran yang semula berpuat pada guru (teacher centered) beralih berpusat pada murid (student centered) metodologi yang semula lebih didominasi ekspositori beralih menjadi partisipatori dan pendekatan yang semula lebih banyak bersifat tekstual berubah menjadi konstektual. Semua perubahan tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki mutu pendidikan, baik dari proses maupun hasil pendidikan (Trianto, 2010:7-8).

2 Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan masalah dalam kehidupan jangka panjang. pendekatan kontekstual dalam pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) disingkat menjadi CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Johnson, 2011:17). Dalam proses pengajaran, unsur proses belajar memegang peranan yang penting. Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi karena siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi positif dengan lingkungannya yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan bersifat relatif konstan (Munir, 2008:2).

3 Mengajar adalah membimbing siswa melakukan kegiatan belajar. Aktivitas siswa sangat diperlukan dalam kegiatan belajar mengajar sebab siswa sebagai subjek didik adalah yang merencanakan dan ia sendiri yang melaksanakan belajar. Jadi, aktivitas belajar merupakan prinsip yang sangat penting di dalam interaksi belajar. Aktivitas perlu ada dalam belajar, sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat untuk mengubah tingkah laku. Tidak ada belajar karena tidak ada aktivitas. Aktivitas siswa dalam kegiatan belajar mengajar tidak hanya mengenai aktivitas fisik tetapi juga berkaitan dengan aktivitas mental siswa (Sudjana, 2005 : 35). Media pengajaran yang sedang berkembang untuk saat ini yaitu multimedia. Penggunaan multimedia merupakan kombinasi dari grafik, teks, suara, video, dan animasi. Objek dan keadaan yang sebenarnya, yang tidak dapat dilihat langsung, dapat digantikan dengan penggunaan mutimedia yang berupa penayangan teks, grafik, suara, video, dan animasi. Pembelajaran dengan menggunakan multimedia tidak hanya menggunakan kata-kata atau simbol-simbol verbal tetapi melibatkan teks, grafik, suara, video, dan animasi sehingga dapat kita harapkan hasil pengalaman belajar yang diperoleh lebih berarti bagi siswa. Multimedia sebagai media pengajaran dapat mempermudah guru dalam penyampaian materi. Multimedia sebagai inovasi pembelajaran dengan teknologi komputer dapat membuat materi yang disampaikan lebih menarik, sehingga siswa mudah memahami pelajaran (Arsyad, 2003 : 57).

4 Media animasi yang merupakan kumpulan gambar yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan dan dilengkapi dengan audio sehingga berkesan hidup serta menyimpan pesan-pesan pembelajaran. Kehadiran media animasi dalam pembelajaran biologi sangat mendukung proses penyampaian berbagai informasi dari guru ke siswa (Wijaya, 2010:99). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Ratini, dilaksanakan di Purwokerto, Tahun 2011. Kesimpulan hasil penelitian penggunaan multimedia interaktif dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X SMA Muhammadiyah 1 Metro, peningkatan hasil belajar siswa ditunjukan oleh persentase jumlah siswa yang mencapai KKM diakhir siklus, sebesar 86,20 %, dan peningkatan persentase aktivitas belajar sebesar 31,55%. Dan Penelitian yang dilakukan oleh Sugiono dan Ahmad Naufal Fauzi, dilaksanakan di Surabaya Tahun 2008. Kesimpulan hasil penelitian pembelajaran yang didukung multimedia interaktif seperti aplikasi pembelajaran sistem reproduksi dapat meningkatkan daya serap dari nilai rerata pretest 58,34 menjadi nilai rerata posttest 94, dengan tingkat apersepsi sampai 90% ( dari 61 % setuju ditambah 21 % sangat setuju ) (Ratini, 2011:72).

5 Berdasarkan hasil survey/observasi yang dilakukan ke MAN Pangandaran di dapat hasil kesimpulan dari wawancara dengan Dra.Elah Nurlaelah selaku guru Mata Pelajaran Biologi pada tanggal 27 Maret 2013 menyatakan bahwa hasil belajar rata-rata siswa (Kelas XI IPA Tahun Ajaran 2011-2012) yakni 62,7 secara keseluruhan belum mencapai nilai KKM yaitu 70, serta fasilitas laboratorium di sekolah kurang memadai. Sedangkan menurut Mastur A,S.Pd.I. selaku guru TIK/Komputer menyatakan bahwa guru MIPA khususnya guru biologi jarang atau bahkan tidak sama sekali menggunakan multimedia di laboratorium komputer untuk dijadikan media pembelajaran. Dan hasil dari wawancara yang dilakukan dengan Resti ( XI IPA 1 ) dan Reni (XI IPA 2 ) selaku siswa menyatakan bahwa metode belajar yang sering digunakan adalah ceramah dan tanya jawab, guru biologi belum pernah menggunakan multimedia untuk media pembelajaran, dan jarang menggunakan fasilitas laboratorium IPA untuk kegiatan praktikum. Berdasarkan uraian diatas, maka dipandang perlu untuk melakukan penelitian tentang penggunaan multimedia dalam pembelajaran biologi di kelas XI MAN Pangandaran. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul penelitian Penerapan Model Pembelajaran CTL Berbasis Multimedia Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Sistem Reproduksi Manusia.

6 B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1. Bagaimana keterlaksanaan proses pembelajaran Contextual Teaching and Learning berbasis multimedia terhadap hasil belajar siswa pada materi sistem reproduksi manusia? 2. Bagaimana langkah-langkah evaluasi pembelajaran Contextual Teaching and Learning berbasis multimedia terhadap hasil belajar siswa pada materi sistem reproduksi manusia? 3. Bagaimana hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning berbasis multimedia terhadap hasil belajar siswa pada materi sistem reproduksi manusia? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah a. Untuk mengetahui keterlaksanaan proses pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran CTL berbasis multimedia. b. Untuk mengetahui langkah-langkah evaluasi pembelajaran contextual teaching and learning berbasis multimedia terhadap hasil belajar siswa pada materi sistem reproduksi manusia c. Untuk mengetahui hasil belajar siswa dengan menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning berbasis multimedia terhadap hasil belajar siswa pada materi sistem reproduksi manusia

7 D. Batasan Masalah Dalam penelitian ini dibatasi supaya penelitian lebih efektif, efisien, dan terarah. Adapun hal-hal yang membatasi penelitian ini sebagai berikut : a) Media pembelajaran multimedia yang digunakan adalah Ms.Office Power Point dan Media Animasi berbentuk SWF atau Flash serta Video. b) Model Pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning). c) Subjek yang diteliti adalah siswa kelas XI IPA MAN Pangandaran semester genap tahun ajaran 2012/2013. d) Materi Ajar yang yang digunakan adalah Sistem Reproduksi Manusia. e) Hasil Belajar yang dicapai oleh siswa adalah hasil belajar pada materi sistem reproduksi manusia. E. Manfaat/Kegunaan Hasil Penelitian Manfaat dari penelitian ini adalah : 1. Bagi Siswa diharapkan dapat memberikan motivasi dan suasana baru dalam pembelajaran biologi serta melatih keterampilan, bertanggung jawab pada setiap tugasnya, mengembangkan kemampuan berpikir dan berpendapat positif, dan memberikan bekal untuk dapat bekerjasama dengan orang lain baik dalam belajar maupun dalam masyarakat. 2. Bagi Guru diharapkan memperoleh gambaran dan informasi mengenai kemampuan siswa pada pembelajaran konsep sistem Reproduksi melalui Model Pembelajaran CTL berbasis Multimedia.

8 3. Bagi Sekolah diharapkan bisa jadi bukti empirik tentang potensi model pembelajaran CTL berbasis Multimedia dalam mengembangkan pemahaman konsep dan keterampilan memecahkan suatu masalah dalam pembelajaran, yang nantinya dapat memperkaya hasil-hasil penelitian dalam bidang kajian sejenis dan dapat digunakan oleh pihak lain yang berkepentingan dengan hasil studi ini, seperti guru-guru IPA dan sekolah yang tertarik untuk menerapkannya. 4. Bagi Peneliti diharapkan memberikan sumbangan pemikiran terhadap penggunaan model pembelajaran dalam proses pembelajaran biologi. 5. Bagi Instansi atau lembaga Pendidikan Pemerintah khususnya Dinas Pendidikan agar lebih memperhatikan pengadaan media pendidikan untuk menunjang lancarnya pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah yang belum memiliki fasilitas media pembelajaran seperti ruangan multimedia.

9 F. Kerangka Pemikiran Belajar merupakan suatu proses yang kompleks yang terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Salah satu pertanda bahwa seseorang itu telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada diri orang itu yang disebabkan oleh terjadinya perubahan pada tingkat pengetahuan, keterampilan, atau sikapnya (Ahmadi, 2008:27). Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari (Santyasa, 2007:13). Media pengajaran yang sedang berkembang untuk saat ini yaitu multimedia. Penggunaan multimedia merupakan kombinasi dari grafik, teks, suara, video, dan animasi. Multimedia sebagai media pengajaran dapat mempermudah guru dalam penyampaian materi. Multimedia sebagai inovasi pembelajaran dengan teknologi komputer dapat membuat materi yang disampaikan lebih menarik, sehingga siswa mudah memahami pelajaran yang disampaikan.interaksi yang terjadi selama proses belajar dipengaruhi oleh lingkungannya, yang antara lain terdiri atas murid, guru, sumber belajar dan fasilitas (proyektor overhead, radio, komputer, dan perpustakaan) (Haryatno, 2010:24).

10 Media pembelajaran adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar (Hamalik, 2007:16). Ranah kognitif (Cognitive domain) adalah yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berfikir (Sardiman, 2007:10). Mata Pelajaran Sistem reproduksi ialah salah satu materi yang harus di jelaskan secara konkrit dan dari topik-topik yang ada dalam mata pelajaran Biologi SMA sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dipilih topik sistem reproduksi. Sistem reproduksi merupakan salah satu pokok bahasan dari materi SMA Kelas XI semester genap. Alasan dipilihnya topik ini karena masalah sistem reproduksi banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa masih sulit memahami konsep ini karena sebagian konsepnya dibelajarkan secara abstrak, sementara konsep ini di belajarkan secara konkrit supaya siswa dapat memahami konsep-konsepnya. Salah satu upayanya adalah menggunakan Model Pembelajaran CTL Berbasis Multimedia, agar dapat membantu meningkatkan hasil belajar siswa. Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka rencana penelitian ini diarahkan pada sejauh mana peningkatan hasil belajar kognitif siswa dalam konsep sistem reproduksi antara yang menggunakan Model Pembelajaran CTL Berbasis Multimedia dan yang menggunakan Model Pembelajaran CTL Tanpa Berbasis Multimedia.

11 Pembelajaran Materi Sistem Reproduksi Manusia Kelas Eksperimen Dengan Model CTL Berbasis Multimedia Model Pembelajaran CTL Berbasis Multimedia: 1.Konstruktivisme 2.Inquiri(penemuan) 3.Questioning (bertanya) 4.LearningComuniti(pengelompokanbelajar) 5.Modeling 6.Reflection(rangsangan) 7.Authentic assessment (penilaian nyata) atau penilaian langsung Langkah-langkah Pembelajaran: 1. Guru menyampaikan tujuan,memberikan apersepsi dan memotivasi siswa 2. Guru menyajikan informasi dengan orientasi masalah dan multimedia 3. Guru mengorganisasi siswa ke dalam kelompokkelompok belajar 4. Siswa melakukan presentasi hasil belajar 5. Guru melakukan evaluasi belajar Langkah-langkah Evaluasi: 1. Penilaian LKS a. Ketepatan menjawab soal b. Kerjasama c. Penampilan Presentasi d. Kerapihan 2. Penilaian Pembuatan Poster a. Kerjasama b. Kerapihan c. Materi poster d. Waktu penyerahan Tes Kognitif Siswa : 1. Pre-Test 2. Post-Test Hasil Belajar Gambar 1.1 Skema Kerangka Pemikiran

12 G. Definisi Operasional Kata kontekstual berasal dari kata Context yang berarti hubungan, konteks, suasana dan keadaan konteks. Sehingga pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. Secara umum contextual mengandung arti : yang berkenaan, relevan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks, yang membawa maksud, makna dan kepentingan (Johnson, 2011:82). Media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium atau medius yang secara harfiahnya berarti tengah, perantara atau pengantar. Media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh keterampilan, pengetahuan, dan sikap. Media pengajaran merupakan seperangkat alat bantu atau pelengkap yang digunakan oleh guru atau pendidik dalam rangka berkomunikasi dengan siswa atau peserta didik. Dapat pula diartikan bahwa media pembelajaran adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa (Ariani, 2010: 27). Ranah hasil belajar kognitif memegang peranan paling utama dalam hubungannya dengan satuan pelajaran. Yang menjadi tujuan utama pengajaran di SD, SMP dan SMA pada umumnya adalah peningkatan kemampuan siswa dalam aspek kognitif (Ahmadi, 2007:35).

13 Fungsi media yaitu terdapat 4 fungsi sebagai berikut: 1).Fungsi Atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran. 2). Fungsi Afektif, dapat dilihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (membaca) teks bergambar. 3).Fungsi Kognitif, terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. 4). Fungsi Kompensatoris, terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali (Rivai, 2009 : 124). Sistem Reproduksi adalah materi ajar untuk SMA/MA kelas XI IPA yang tersusun dalam standar kompetensi (SK) 3 yaitu menjelaskan struktur dan fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan/penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada salingtemas. Sistem Reproduksi masuk kedalam KD 3.7. yaitu, Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi dan proses yang meliputi pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, fertilisasi, pemberian ASI serta kelainan/penyakit yang terjadi pada sistem reproduksi manusia. Sistem reproduksi memiliki beberapa materi pokok yaitu, struktur dan fungsi alat reproduksi pada laki-laki dan wanita, proses

14 pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, fertilsasi, gestasi, persalinan, ASI,serta kelainan/penyakit pada sistem reproduksi, teknologi ilmu yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Materi-materi dalam sistem reproduksi ini terdiri dari beberapa sifat yaitu, faktual, konseptual, prinsipal, dan prosedural, serta konsep yang bersifat abstrak (BSNP-KTSP:2006). H. Hipotesis Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Penerapan Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) Berbasis Multimedia berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa pada materi sistem reproduksi di kelas XI IPA MAN Pangandaran. Adapun hipotesis statistikanya sebagai berikut : Ho : Penerapan model pembelajaran CTL berbasis Multimedia tidak dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa pada materi sistem reproduksi. Ha : Penerapan model pembelajaran CTL berbasis Multimedia dapat meningkatkan hasil belajar kognitif siswa pada materi sistem reproduksi.