BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
|
|
|
- Handoko Budiaman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Lingkungan yang dipelajari siswa berupa keadaan alam, benda-benda, hewan, tumbuh-tumbuhan, manusia, atau hal hal yang dijadikan bahan belajar. Tindakan belajar tentang suatu hal tersebut tampak sebagai perilaku belajar yang tampak dari luar (Dimyati dan Mudjono, 2009). Pada kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dan sebagai objek dari kegiatan pembelajaran. Karena itu, inti proses pengajaran tidak lain adalah kegiatan belajar anak didik dalam mencapai suatu tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran akan dapat tercapai jika anak didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan anak didik disini tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi pemikirannya. Bila hanya fisik anak yang aktif, tetapi pikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai. Ini sama halnya anak didik tidak belajar, karena anak didik tidak merasakan perubahan didalam dirinya (Syaiful Bahri dan Aswan, 2006). Kualitas pendidikan Indonesia masih tergolong rendah, hal ini dapat dilihat masih ditemukannya sejumlah siswa yang memperoleh prestasi belajar rendah, terutama untuk pelajaran eksakta. Nilai KKM yang mencapai 70 dalam bidang sains, diantaranya pelajaran kimia membuat siswa harus belajar secara tekun. Rendahnya prestasi dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) khususnya di sekolah menjadi masalah yang harus mendapat banyak perhatian dan pemecahan. Banyak faktor yang menyebabkan prestasi belajar rendah, di antaranya dapat berasal dari dalam diri siswa (faktor internal) maupun dari luar diri siswa (faktor eksternal). Salah satu faktor yang berasal dari dalam diri siswa adalah aktivitas siswa. Salah satu faktor eksternal yang bersumber dari guru 1
2 2 adalah penggunaan model pembelajaran yang kurang bervariasi dalam proses belajar mengajar. Permasalahan diatas tidak terlepas dari masih lemahnya proses pembelajaran. Pembelajaran yang selama ini khususnya pembelajaran kimia yang kurang mencerminkan suatu proses yang disebut dengan belajar bermakna. Guru masih cenderung memberikan pembelajaran kimia dengan ceramah, mengajak siswa untuk membaca bahan ajar, dan menghafal konsep konsep kimia. Hal ini membuat kemampuan berpikir dan keaktifan siswa untuk belajar sangat rendah, mereka cenderung pasif dan hanya mencatat keterangan yang diberikan oleh guru. Pembelajaran yang kurang menarik ini pada akhirnya membuat siswa menjadi bosan dan tidak berminat dalam belajar, sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi rendah. Kimia merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan alam (IPA). Mata pelajaran kimia sarat dengan konsep, dari konsep sederhana hingga konsep yang kompleks dan abstrak. Salah satu materi dalam pelajaran kimia di SMA adalah Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Materi kimia ini memiliki karakteristik yang sarat dengan konsep, hukum dan perhitungan (dalam Ema, 2012). Oleh karena itu, untuk mempelajari materi kimia diperlukan keterkaitan konsep. Untuk mengatasinya maka diperlukan suatu pembelajaran kimia yang bermakna yang menekankan pada keaktifan siswa secara langsung dan peningkatan motivasi siswa agar diperoleh hasil belajar yang lebih maksimal. Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap siswa dan guru SMA Negeri 1 Air Putih diperoleh informasi bahwa masih banyak siswa yang terlihat kurang berminat dengan mata pelajaran kimia, dikarenakan banyak siswa beranggapan bahwa materi kimia hanya bersifat abstrak. Hal ini dikarenakan guru tidak pernah atau jarang sekali melaksanakan metode eksperimen atau praktikum dan penggunaan media dalam pembelajaran. Oleh karena itu nilai kimia siswa rendah. Hal ini dapat di tunjukkan oleh nilai ulangan harian kimia yang relatif rendah dengan rentang lebih rendah dari nilai KKM sekolah yakni 69. Selain itu model pembelajaran yang digunakan di sekolah itu berupa model pembelajaran konvensional yaitu Direct Interaction. Seharusnya, pada pelaksanaan kurikulum
3 3 Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) proses pembelajaran lebih menekankan pada paradigma konstruktivisme. Pembelajaran konstruktivisme merupakan pembelajaran dengan siswa menkosntruksi sendiri pengetahuan dan pemahamannya terkait dengan belajar sains, termasuk kimia. Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu perubahan paradigma pembelajaran dari yang cenderung bersifat behavioristik menuju pembelajaran konstruktivistik yang berpusat pada siswa. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pembelajaran konstruktivistik adalah model learning cycle. Learning cycle merupakan model pembelajaran sains yang berbasis konstruktivisik. Learning cycle merupakan model pembelajaran yang terdiri dari fase fase atau tahap tahap kegiatan yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif. Dengan kata lain pembelajaran dengan menggunakan model learning cycle berpusat pada siswa dan guru berperan sebagai fasilitator (Siti Nuryanti, 2012). Pembelajaran learning cycle sangat cocok digunakan untuk mengajarkan materi yang banyak melibatkan konsep, prinsip, aturan serta perhitungan secara matematis sehingga sesuai jika diterapkan pada pokok bahasan Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan yang sebagian besar berupa pemahaman konsep dan perhitungan matematis. Dalam proses pembelajaran learning cycle setiap fase dapat dilalui jika konsep pada fase sebelumnya sudah dipahami. Setiap fase yang baru dan sebelumnya saling berkaitan sehingga membuat siswa lebih mudah mengerti dan memahami materi. Hasil penelitian Ema Hariaty (2012) menunjukkan model pembelajaran learning cycle 7E berpengaruh pada aktivitas siswa sehingga diperoleh peningkatan hasil belajar siswa. Rata rata nilai pretest siswa pada kelas eksperimen sebesar 30,62 dan pos-test sebesar 79,50. Sedangkan pada kelas kontrol diperoleh rata-rata pretest 34 dan post-test 71,12, dimana rata-rata gain kelas eksperimen 70% sedangkan kelas kontrol 56%. Srie Maydar (2010) menunjukkan model pembelajaran learning cycle berpengaruh pada aktivitas
4 4 siswa sehingga diperoleh hasil belajar siswa yang diajarkan menggunakan daur belajar konstruktivisme lebih baik dari pada pembelajaran konvensional yaitu sebesar 69%. Perkembangan zaman yang semakin modern sekarang ini, banyak pilihan yang diberikan kepada pengajar dalam memilih, membuat atau mengkombinasikan media dengan model dalam pembelajaran. Perlunya model yang tepat untuk menggambarkan proses kejadian yang dapat dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata atau tiruannya merupakan hal yang menguatkan pemikiran peserta didik dan membantu mengurangi dan menghilangkan sifat abstrak dari materi yang disampaikan (dalam Kale, 2012). Dengan penggunaan media pembelajaran dalam konstruktivisme juga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rika Rusianum (2012) penerapan pembelajaran menggunakan model Learning Cycle dengan media Flash berpengaruh pada aktivitas dan motivasi siswa sehingga peningkatan hasil belajar siswa sebesar 58,2 %. Dalam hal ini, peneliti ingin menggunakan media windows movie maker sebagai media yang akan digunakan dalam pembelajaran. Berdasarkan uraian dan pemikiran di atas, penulis melakukan penelitian yang menerapkan model pembelajaran learning cycle dengan media windows movie maker ini dengan judul Pengaruh Model Pembelajaran Learning Cycle dengan Media Windows Movie Maker Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan di SMA Negeri 1 Air Putih Identifikasi Masalah Berfokus pada latar belakang masalah diatas, maka identifikasi masalah yang perlu diperhatikan dalam penelitian ini meliputi : 1. Mutu pendidikan di Indonesia masih rendah 2. Penggunaan model pembelajaran kurang bervariasi 3. Sebagian pelajaran kimia bersifat abstrak dianggap sulit oleh siswa
5 5 4. Sebagian siswa belum mencapai nilai KKM 5. Pelajaran kimia kurang disenangi dan dianggap sulit oleh siswa Batasan Masalah Agar penelitian ini lebih fokus dan terarah, maka pada penelitian ini dilakukan pembatasan sebagai berikut: 1. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran learning cycle. 2. Media yang digunakan adalah windows movie maker. 3. Hasil belajar kognitif yang diukur hanya aspek kognitif jenjang C 1 C Rumusan Masalah Untuk memperjelaskan permasalahan sebagai dasar penelitian ini, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apakah hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran learning cycle dengan media windows movie maker lebih tinggi secara signifikan dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional dengan media windows movie maker pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan di kelas XI SMA Negeri 1 Air Putih? 2. Berapa persen peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran learning cycle dengan media windows movie maker pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan? 1.5. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, tujuan dari penelitian ini adalah untuk : 1. Mengetahui hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran learning cycle dengan media windows movie maker dan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran konvensional dengan media windows movie maker pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan di kelas XI SMA Negeri 1 Air Putih.
6 6 2. Mengetahui persentase peningkatan hasil belajar siswa yang menggunakan model pembelajaran learning cycle dengan media windows movie maker pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan Manfaat Penelitian Diharapkan hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait diantaranya sebagai berikut : 1. Bagi Peneliti Peneliti ini dapat memberikan gambaran dan pengetahuan dalam penerapan model pembelajaran learning cycle 5 Fase dengan media windows movie maker pada pelajaran kimia SMA. Selain itu hasil penelitian diharapkan bisa dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya. 2. Bagi Siswa Siswa lebih termotivasi dalam pembelajaran dan menambah pemahaman siswa pada pokok bahasan kelarutan dan hasil kali kelarutan. 3. Bagi Guru Sebagai alternative dalam mengelola pembelajaran dan dapat menumbuhkan kreatifitas guru dalam pembelajaran 4. Bagi Sekolah Memberikan sumbangan pada sekolah dalam rangka perbaikan pembelajaran 1.7. Defenisi Operasional Untuk mengurangi perbedaan atau kekurang jelasan makna, maka defenisi operasional dalam penelitian ini adalah : 1. Kontstruktivisme adalah suatu pendekatan yang menekankan bahwa pengetahuan dikembangkan secara aktif oleh siswa itu sendiri. Karena penekanannya pada siswa yang aktif, maka strategi pembelajarannya sering disebut pengajaran yang berpusat pada siswa atau centered instruction (dalam Ema, 2012). 2. Learning cycle merupakan model pembelajaran sains yang berbasis konstruktivisik. Learning cycle merupakan model pembelajaran yang terdiri
7 7 dari fase fase atau tahap tahap kegiatan yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan jalan berperan aktif. Dengan kata lain pembelajaran dengan menggunakan model learning cycle berpusat pada siswa dan guru berperan sebagai fasilitator (Siti Nuryanti, 2012). 3. Windows movie maker adalah salah satu program dari aplikasi computer yang dapat dijadikan sebagai media pembelajaran. Program movie maker adalah software untuk menggabungkan dan mengedit video yang sangat mudah penggunaanya. Jadi, hasil dari program ini adalah berupa media video yang di dalamnya terdapat gambar, tulisan, dan suara. Oleh karena itu movie maker ini digolongkan sebagai media audio-visual (Febi Asriyati, 2012). 4. Hasil belajar adalah dari serangkaian proses kegiatan yang dialami siswa dalam melakukan berbagai kegiatan. Hasil belajar ini diukur melalui proses evaluasi yang dilakukan dengan cara pembagian tes kognitif pada siswa setelah proses pembelajaran selesai (Dimyati, 1994).
I. PENDAHULUAN. Ilmu kimia merupakan salah satu cabang dari IPA yang mempelajari struktur,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia merupakan salah satu cabang dari IPA yang mempelajari struktur, susunan, sifat, dan perubahan materi serta energi yang menyertai perubahan materi. Dalam pembelajaran
I. PENDAHULUAN. Pembelajaran merupakan suatu sistem atau proses membelajarkan siswa yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran merupakan suatu sistem atau proses membelajarkan siswa yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar siswa dapat mencapai
1. PENDAHULUAN. berdasarkan pada fenomena alam. Ada tiga hal yang berkaitan dengan kimia
1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), yang berkembang berdasarkan pada fenomena alam. Ada tiga hal yang berkaitan dengan kimia yaitu kimia sebagai
I. PENDAHULUAN. hidupnya. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang sepanjang hidupnya. Proses belajar terjadi karena adanya interaksi antara seseorang dengan
I. PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang gejala
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang gejala alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa
I. PENDAHULUAN. Ilmu kimia merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang berkaitan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang gejala alam secara sistematis, sehingga ilmu kimia bukan hanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu bentuk upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Semakin meningkat kualitas suatu pendidikan, maka kualitas
I. PENDAHULUAN. proses kognitif. Proses belajar yang dimaksud ditandai oleh adanya perubahanperubahan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar adalah tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.
Hasil belajar biologi siswa ditinjau dari penggunaan berbagai metode mengajar dengan pendekatan discovery
Hasil belajar biologi siswa ditinjau dari penggunaan berbagai metode mengajar dengan pendekatan discovery terpimpin di SMP Oleh: Mia Yuniati NIM K 4302529 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah
I. PENDAHULUAN. Ilmu kimia adalah cabang dari IPA yang secara khusus mempelajari tentang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia adalah cabang dari IPA yang secara khusus mempelajari tentang struktur, susunan, sifat dan perubahan materi, serta energi yang menyertai perubahan materi. Ilmu
I. PENDAHULUAN. Ilmu kimia merupakan bagian dari ilmu IPA yang mempelajari tentang gejalagejala
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia merupakan bagian dari ilmu IPA yang mempelajari tentang gejalagejala alam yang berkaitan dengan komposisi, struktur, serta energi yang menyertai perubahan
XI mengenai minatnya terhadap pelajaran kimia. Diantara sebagian siswa berpendapat bahwa kimia merupakan pelajaran yang kurang diminati serta
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya ilmu kimia merupakan salah satu bidang ilmu pengetahuan alam (IPA) yang memegang peranan penting terhadap perkembangan dan kemajuan teknologi.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup (Mudyahardjo, 2008 : 3). Pendidikan merupakan faktor
I. PENDAHULUAN. Bicara tantangan dan permasalahan pendidikan di Indonesia berarti berbicara
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bicara tantangan dan permasalahan pendidikan di Indonesia berarti berbicara tentang pendidikan kita dewasa ini dalam perspektif masa depan. Dalam kenyataannya, pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Pengalaman disini berupa pengalaman untuk melakukan proses belajar
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengalaman disini berupa pengalaman untuk melakukan proses belajar dan berusaha mencari makna dari pengalaman tersebut. 1 Manusia pada dasarnya orang yang mempunyai
BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sesuatu yang diperlukan oleh semua orang. Dapat dikatakan bahwa pendidikan dialami oleh semua manusia dari semua golongan. Berdasarkan Undang-Undang
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN Pada bagian ini akan diuraikan mengenai latar belakang penelitian, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penjelasan istilah, dan struktur organisasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari bangun atau struktur materi, perubahan materi, serta energi yang menyertainya. Kimia merupakan ilmu yang diperoleh
BAB I PENDAHULUAN. Fisika merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang berkaitan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fisika merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis, sehingga proses pembelajarannya
I. PENDAHULUAN. Pembelajaran didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan siswa
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran didefinisikan sebagai suatu sistem atau proses membelajarkan siswa yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar siswa
I. PENDAHULUAN. kinerja dari proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar merupakan rangkaian
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh kinerja dari proses
BAB I PENDAHULUAN PES JLH LLS. Rata. Total Rata. % Nilai KIM. Kota Medan ,98 8,32 50,90 8,48
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan di era globalisasi bertujuan untuk mengembangkan kemampuan dan sikap dalam situasi dimana banyak nilai yang berubah tetapi banyak pula nilainilai yang perlu
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Dalam arti sederhana, pendidikan sering diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan.
I. PENDAHULUAN. Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang gejala
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang gejala alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang
I. PENDAHULUAN. Kimia merupakan ilmu yang termasuk dalam rumpun IPA (ilmu pengetahuan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kimia merupakan ilmu yang termasuk dalam rumpun IPA (ilmu pengetahuan alam) merupakan ilmu yang erat kaitannya dengan alam. Salah satu mata pelajaran yang
I. PENDAHULUAN. Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks melibatkan berbagai
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Dalam pembelajaran guru berhadapan dengan sejumlah siswa berbagai macam
II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009:7), belajar merupakan tindakan dan
7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009:7), belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa dampak secara global, seperti persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, salah satu diantaranya
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Dalam suatu pendidikan tentu tidak terlepas dengan pembelajaran di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam suatu pendidikan tentu tidak terlepas dengan pembelajaran di sekolah yang menginginkan pembelajaran yang bisa menumbuhkan semangat siswa untuk belajar.
I. PENDAHULUAN. konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang gejala alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa faktafakta, konsep-konsep,
I. PENDAHULUAN. Menurut Undang- Undang tentang sistem pendidikan nasional No. 20 Tahun
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut Undang- Undang tentang sistem pendidikan nasional No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
I. PENDAHULUAN. pertanyaan apa, mengapa dan bagaimana gejala-gejala alam yang berkaitan dengan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu Pengetahuan alam adalah ilmu yang memiliki beberapa cabang ilmu, salah satunya adalah ilmu kimia. Ilmu kimia adalah ilmu yang mencari jawaban atas pertanyaan apa,
I. PENDAHULUAN. pada semua tingkat perlu terus-menerus dilakukan sebagai antisipasi
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan diharapkan dapat membekali seseorang dengan pengetahuan yang memungkinkan baginya untuk mengatasi permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah hal pokok yang akan menopang kemajuan suatu bangsa. Kemajuan suatu bangsa dapat diukur dari kualitas dan sistem pendidikan yang ada. Tanpa
I. PENDAHULUAN. kepada siswa agar mengerti dan membimbing mereka untuk menggunakan. proses dan produk. Salah satu bidang sains yaitu ilmu kimia.
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sains merupakan ilmu yang berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami tentang alam. Belajar sains merupakan suatu proses memberikan sejumlah pengalaman kepada siswa
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi, seluruh negara di dunia berusaha melakukan pembenahan di segala bidang, termasuk bidang pendidikan. Kemajuan suatu negara salah satunya
G. Lian Y. Nababan. NIM ABSTRAK. antara hasil belajar siswa menggunakan model konvensional dengan model
1 PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL KONVENSIONAL DAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA MATERI BIOSFER KELAS XI IPS SMA NEGERI 1 PANCUR BATU G. Lian Y. Nababan. NIM. 06110005
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu usaha untuk membantu pengembangan potensi dan kemampuan subjek didik sehingga bermanfaat bagi diri sendiri dan masyarakat pada
dari proses maupun hasil pendidikan (Trianto, 2010:7-8).
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama,
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi semakin pesat dari
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi semakin pesat dari waktu ke waktu. Dengan berkembangnya sains dan teknologi tersebut menyebabkan perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan berpikir tentang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran IPA (Sains) berupaya meningkatkan minat siswa untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuan berpikir tentang alam seisinya yang penuh dengan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses dimana seseorang memperoleh
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan proses dimana seseorang memperoleh pengetahuan (Knowledge acquisition), mengembangkan kemampuan/ keterampilan (Skills development), sikap
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dalam pelaksanaan pembelajaran peran guru tidak hanya
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam pelaksanaan pembelajaran peran guru tidak hanya membantu proses pembelajaran atau sebagai seorang pengambil keputusan instruksional tetapi lebih dari
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Paradigma pendidikan mengalami perubahan yang disesuaikan dengan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Paradigma pendidikan mengalami perubahan yang disesuaikan dengan kemajuan teknologi. Perubahan paradigma dalam dunia pendidikan menuntut adanya perubahan pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pengembangan bahan ajar kimia inovatif berbasis multimedia perlu mendapatkan perhatian karena penyediaan bahan ajar yang berkualitas baik sesuai kurikulum
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
1 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu faktor pendukung yang sangat penting dalam menghasilkan Sumber Daya Manusia yang berkualitas tinggi baik sebagai individu
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA KONSEP KALOR DI KELAS X SMA N 2 PEUSANGAN
15-21 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA KONSEP KALOR DI KELAS X SMA N 2 PEUSANGAN M. Taufiq 1, Zahara 2 1 Dosen Program Studi Pendidikan
I. PENDAHULUAN. dibangun melalui pengembangan keterampilan-keterampilan proses sains seperti
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia merupakan cabang dari IPA yang mempelajari struktur, susunan, sifat, dan perubahan materi, serta energi yang menyertai perubahan materi. Ilmu kimia dibangun
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tingkat kemajuan suatu negara dapat dilihat dari kualitas pendidikannya. Pendidikan yang berkualitas akan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dan
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Proses pembelajaran merupakan salah satu tahap yang sangat menentukan terhadap keberhasilan belajar siswa. Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan aspek yang sangat penting bagi kehidupan manusia karena dengan pendidikan akan membentuk manusia yang berkualitas dan berpotensi tinggi. Pendidikan
BAB I PENDAHULUAN. banyak dituntut dalam menghafal rumus rumus fisika dan menyelesaiakan soal
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam pembelajaran fisika, yang sering menjadi permasalahan adalah lemahnya proses pembelajaran di kelas. Dimana dalam pembelajaran siswa lebih banyak dituntut dalam
