SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA DI INDONESIA

dokumen-dokumen yang mirip
TUGAS ESSAY EKONOMI ENERGI TM-4021 POTENSI INDUSTRI CBM DI INDONESIA OLEH : PUTRI MERIYEN BUDI S

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tim Batubara Nasional

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap

IV. GAMBARAN UMUM. panas yang berlangsung sangat lama. Proses pembentukan (coalification)

BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Batu bara

BAB I PENDAHULUAN. batubara sebagai kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Pada saat

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2007 TENTANG ENERGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN :

BAB I PENDAHULUAN. faktor utama penyebab meningkatnya kebutuhan energi dunia. Berbagai jenis

BAB I PENDAHULUAN. dengan tambang mineral lainnya, menyumbang produk domestik bruto (PDB)

INSTRUMEN KELEMBAGAAN KONDISI SAAT INI POTENSI DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ENERGI INDIKASI PENYEBAB BELUM OPTIMALNYA PENGELOLAAN ENERGI

Penetapan kebijakan pengelolaan mineral, batubara, panas bumi dan air tanah nasional.

BAB I PENDAHULUAN. masih ditopang oleh impor energi, khususnya impor minyak mentah dan bahan

NERACA BAHAN BAKAR BATUBARA SAMPAI DENGAN TAHUN 2040

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia pun kena dampaknya. Cadangan bahan tambang yang ada di Indonesia

PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA 1. Mineral, Batu Bara, Panas Bumi, dan Air Tanah PEMERINTAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2007 TENTANG E N E R G I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

I. PENDAHULUAN. alam. Meskipun minyak bumi dan gas alam merupakan sumber daya alam

KEBIJAKAN UMUM SEKTOR PERTAMBANGAN

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PELUANG PANAS BUMI SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF DALAM PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK NASIONAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

I. PENDAHULUAN. optimal. Salah satu sumberdaya yang ada di Indonesia yaitu sumberdaya energi.

Boks.1 MODEL PENGELOLAAN PERTAMBANGAN BATUBARA YANG BERKELANJUTAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2009

BAB I PENDAHULUAN. Pentingnya peran energi dalam kebutuhan sehari-hari mulai dari zaman dahulu

ULANGAN HARIAN I. : Potensi SDA dan SDM

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki abad ke-21, bahan bakar fosil 1 masih menjadi sumber. energi yang dominan dalam permintaan energi dunia.

Kekayaan Energi Indonesia dan Pengembangannya Rabu, 28 November 2012

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

BAB I PENDAHULUAN. berbagai sektor. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi

ANALISIS STOK BATUBARA DALAM RANGKA MENJAMIN KEBUTUHAN ENERGI NASIONAL. Oleh :

BAB II DESKRIPSI INDUSTRI PERTAMBANGAN

BAB 3 PEMODELAN, ASUMSI DAN KASUS

KODE : F2.39. Pemanfaatan Batubara Peringkat Rendah Untuk Membuat Semi-Kokas Dengan Penambahan Bahan Hidrokarbon

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 1994 TENTANG SYARAT-SYARAT DAN PEDOMAN KERJA SAMA KONTRAK, BAGI HASIL MINYAK DAN GAS BUMI

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA

KEBIJAKAN PENYEDIAAN TENAGA LISTRIK DAN PEMANFAATAN ENERGI

POTENSI BATUBARA DI SUMATERA SELATAN

BAB I PENGANTAR A. LATAR BELAKANG 4. Indonesia Mt

Soal-soal Open Ended Bidang Kimia

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG PERTAMBANGAN MINERAL DAN BATUBARA

2 Di samping itu, terdapat pula sejumlah permasalahan yang dihadapi sektor Energi antara lain : 1. penggunaan Energi belum efisien; 2. subsidi Energi

I. PENDAHULUAN. Kemajuan dan perkembangan ekonomi Kota Bandar Lampung menunjukkan

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG WILAYAH PERTAMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PEMANFAATAN LOW RANK COAL UNTUK SEKTOR KETENAGA LISTRIKAN

II. TINJAUAN PUSTAKA. atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.

WILAYAH PERTAMBANGAN DALAM TATA RUANG NASIONAL. Oleh : Bambang Pardiarto Kelompok Program Penelitian Mineral, Pusat Sumberdaya Geologi, Badan Geologi

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG PEMBERIAN INSENTIF DAN PEMBERIAN KEMUDAHAN PENANAMAN MODAL DI DAERAH

SAMBUTAN MENTERI PERINDUSTRIAN RI PADA ACARA SEMINAR NASIONAL: THORIUM SEBAGAI SUMBER DAYA REVOLUSI INDUSTRI JAKARTA, 24 MEI 2016

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG MINYAK DAN GAS BUMI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PROSPEK EKONOMI WOOD PELLET (Untuk Bisnis Energi Terbarukan)

VI. SIMPULAN DAN SARAN

BOKS II : TELAAH KETERKAITAN EKONOMI PROPINSI DKI JAKARTA DAN BANTEN DENGAN PROPINSI LAIN PENDEKATAN INTERREGIONAL INPUT OUTPUT (IRIO)

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Kontribusi batubara terhadap kebutuhan total energi dunia berkisar 23%.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 1994 TENTANG SYARAT-SYARAT DAN PEDOMAN KERJASAMA KONTRAK BAGI HASIL MINYAK DAN GAS BUMI

Disampaikan pada Seminar Nasional Optimalisasi Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan Menuju Ketahanan Energi yang Berkelanjutan

ANALISIS KEBUTUHAN ENERGI KALOR PADA INDUSTRI TAHU

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MANUSIA. Pelimpahan Kewenangan. Dekonsentrasi.

Dr. Firman Muntaqo, SH, MHum Dr. Happy Warsito, SH, MSc Vegitya Ramadhani Putri, SH, S.Ant, MA, LLM Irsan Rusmawi, SH, MH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG WILAYAH PERTAMBANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

EXECUTIVE SUMMARY PEMUTAKHIRAN DATA DAN NERACA SUMBER DAYA ENERGI TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN. sehari-hari. Permasalahannya adalah, dengan tingkat konsumsi. masyarakat yang tinggi, bahan bakar tersebut lambat laun akan

KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL DIREKTORAT JENDERAL ENERGI BARU TERBARUKAN DAN KONSERVASI ENERGI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010

BAB I PENDAHULUAN. Dalam memenuhi kebutuhan listrik nasional, penyediaan tenaga listrik di

BARANG TAMBANG INDONESIA II. Tujuan Pembelajaran

V. PENGEMBANGAN ENERGI INDONESIA DAN PELUANG

STRATEGI KEN DALAM MEWUJUDKAN KETAHANAN ENERGI NASIONAL

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 59 TAHUN 2007 TENTANG KEGIATAN USAHA PANAS BUMI

BAB I PENDAHULUAN. belahan dunia, termasuk Amerika Serikat, China, Australia, India, Rusia, dan

2015 LAPORAN INDUSTRI PELUANG & TANTANGAN INDUSTRI BATUBARA

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Laporan Perkembangan Deregulasi 2015

LAPORAN INDUSTRI INDUSTRI BATUBARA DI INDONESIA

Infrastruktur Hijau : Perlu Upaya Bersama

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Di era yang serba modern seperti saat ini, energi merupakan salah satu hal penting

AKSELERASI INDUSTRIALISASI TAHUN Disampaikan oleh : Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian

Transkripsi:

BAB II SEKTOR PERTAMBANGAN BATUBARA DI INDONESIA II.1. SUMBERDAYA BATUBARA Batubara merupakan bahan bakar fosil yang terbentuk dari sisa tumbuhan pada jaman prasejarah yang berubah bentuk. Pada awalnya sisa tumbuhan berakumulasi di rawa dan lahan gambut yang terkubur di kedalaman tertentu dan mengalami suhu dan tekanan tinggi yang menyebabkan tumbuhan tersebut mengalami proses perubahan fisika dan kimia. Batubara yang terbentuk mempunyai beberpa kelas (rank) berdasarkan waktu pembentukannya. Kelas batubara dilihat dari pembentukannya berurutan dari mulai yang paling muda, antara lain : lignite sub bituminous bituminous antrachite. Sumberdaya batubara adalah keseluruhan endapan batubara yang terkandung di bawah permukaan bumi, sedangkan cadangan batubara adalah bagian dari sumberdaya batubara yang jumlah dan keberadaannya telah diketahui dengan pasti serta dapat diproduksi ke atas permukaan bumi dengan teknologi yang ada saat ini. Sumberdaya dan cadangan batubara volumenya bersifat dinamis yang selalu berubah dengan adanya kegiatan eksplorasi dan poduksi. Berdasarkan data diperkirakan bahwa ada lebih dari 984 milyar ton cadangan batu bara di seluruh dunia (sumber : World Coal Institute). Batu bara berada di seluruh dunia dapat ditemukan di setiap daratan di lebih dari 70 negara, dengan cadangan terbanyak di USA, Rusia, China dan India. Untuk batubara di Indonesia, berdasarkan data Statistik Batubara dan Mineral Ditjen Geologi dan Sumberdaya Mineral per 1 Januari 2004, jumlah sumberdaya batubara Indonesia yang mempunyai tingkat kepercayaan paling tinggi (measured) sebesar 12 milyar ton. Sedangkan cadangan batubara Indonesia dengan status terkira (estimated) 2,6 milyar ton dan status terukur 5 milyar ton. Sumberdaya dan cadangan batubara Indonesia secara lengkap dapat dilihat pada Tabel II.1. dan II.2. Sementara itu jika dilihat dari distribusi kualitasnya, sebagian besar (hampir 49%) batubara Indonesia mempunyai kualitas kurang dari 5.100 kkal/kg yang termasuk dalam batubara kualitas rendah. Sedangkan sisanya adalah batubara kualitas menengah (5.100 6.100 kkal/kg) dan batubara kualitas tinggi (lebih dari 6.100 kkal/kg). Distribusi kualitas batubara Indonesia dapat dilihat pada Gambar II.1. Saat ini batubara yang menjadi fokus II - 1

eksplorasi dan eksploitasi adalah batubara kualitas tinggi dan menengah. Batubara kualitas rendah belum banyak dikembangkan karena belum cukup ekonomis untuk diusahakan. Semua bahan bakar yang berasal dari fosil akhirnya akan habis. Oleh karena itu penting sekali untuk mengelola sumberdaya batubara secara efisien, sehingga memberikan manfaat yang sebesar-besarnya dalam jangka waktu yang lama. Pengelolaan yang baik dilakukan mulai tahapan eksplorasi sampai dengan pemanfaatan. Pada tahap eksplorasi adalah dengan meningkatkan penemuan cadangan-cadangan baru melalui kegiatan eksplorasi yang sudah berjalan. Pada tahap eksploitasi perlu dikembangkan pembaharuan dalam teknik-teknik penambangan, sehingga dapat memperoleh cadangan-cadangan yang sebelumnya tidak bisa dicapai. Sedangkan pada pemanfaatannya dilakukan pengembangan-pengembangan penting mengenai penggunaan batu bara secara efisien sehingga dapat diperoleh energi yang lebih banyak dari setiap ton batu bara yang diproduksi. Tabel II.1. Sumberdaya Batubara Indonesia Propinsi Sumberdaya (Juta Ton) Hipotetik Tereka Terindikasi Terukur Banten 0.00 13.75 0.00 0.00 Jawa Tengah 0.00 0.82 0.00 0.00 Jawa Timur 0.00 0.08 0.00 0.00 Nanggroe Aceh Darussalam 0.00 346.35 13.40 90.40 Sumatra Utara 0.00 7.00 0.00 19.97 Riau 0.00 1,720.60 0.00 336.62 Sumatra Barat 19.19 475.94 42.72 181.24 Bengkulu 15.15 113.09 7.95 62.18 Jambi 0.00 1,462.03 36.32 94.22 Sumatra Selatan 0.00 323.17 19,946.48 1,970.75 Lampung 0.00 106.95 0.00 0.00 Kalimantan Barat 42.12 482.60 1.32 1.48 Kalimantan Tengah 0.00 1,200.11 5.08 194.02 Kalimantan Selatan 0.00 5,410.27 155.08 3,109.21 Kalimantan Timur 456.34 12,401.11 325.21 6,385.13 Sulawesi Selatan 0.00 110.81 0.00 21.20 Sulawesi Tengah 0.00 1.98 0.00 0.00 Papua 0.00 138.30 0.00 0.00 TOTAL 532.80 24,314.96 20,533.56 12,466.42 Sumber : Statistik Batubara dan Mineral, DGSDM per 1 Januari 2004 II - 2

Tabel II.2. Cadangan Batubara Indonesia Propinsi Cadangan (Juta Ton) Terkira Terbukti Banten - - Bengkulu 43,891 51,389 Nanggro Aceh Darusalam - - Jambi - - Jawa Timur - - Kalimantan Barat - - Kalimantan Selatan 387,730 1.412,780 Kalimantan Tengah - - Kalimantan Timur 1.943,660 1.885,747 Papua - - Riau - - Sumatera Barat 37,500 107,052 Sumatera Selatan 266,030 1.511,450 Sumatera Utara - - Jumlah 2.678,811 4.968,418 Sumber : Statistik Batubara dan Mineral, DGSDM per 1 Januari 2004 Batubara peringkat rendah (< 5100 kcal/kg) Batubara peringkat menengah (5100-6100 kcal/kg) Batubara peringkat tinggi (> 6100 kcal/kg) 25% 49% 26% Sumber: DPMB, DJGSM, 2004 Gambar II.1. Distribusi Kualitas Batubara Indonesia II.2. Pertumbuhan Produksi dan Konsumsu Batubara Indonesia II.2.1. Produksi Batubara Indonesia Pada 10 tahun terakhir terjadi perkembangan produksi batubara yang luar biasa, mulai tahun 1995 sejumlah 40 juta ton menjadi 193 juta ton pada tahun 2006. Dalam kurun waktu tersebut, produksi batubara Indonesia mengalami kenaikan produksi hampir 5 kali II - 3

lipat. Kenaikan produksi batubara tersebut dipacu oleh keberadaan pembangkit listrik (PLTU) yang menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya serta mulai dilakukannya perdagangan batubara Indonesia ke pasar internasional sejak awal tahun 1990-an. Grafik dan tabel perkembangan produksi batubara Indonesia dari tahun 1981 2006 dapat dilihat pada Tabel II.3 dan Gambar II.2. Tabel II.3. Tabel Perkembangan Produksi Batubara (perlu diupdate) Produksi (Ribuan Ton) Produsen 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 BUMN 9.965 9.860 11.207 10.746 10.212 9.482 10.027 8.707 8.606 Kontraktor 39.829 45.855 56.390 60.503 75.516 86.309 96.300 113.171 133.695 193.000 KP - Swasta 4.084 4.734 4.592 4.331 5.767 6.682 7.951 9.507 9.902 KP - Koperasi - 107 57 52 15 17-967 - Total 53.878 60.556 72.246 75.632 91.510 102.490 114.278 132.352 152.204 193.000 Sumber : Statistik Batubara dan Mineral, DGSDM per 1 Januari 2005 dan www.esdm.go.id Produksi Batubara Indonesia 250.0 Produksi (Juta Ton) 200.0 150.0 100.0 50.0 0.0 1981 1983 1985 1987 1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 Sumber : Statistical Review 2005, BP Tahun Gambar II.2. Perkembangan Produksi Batubara Indonesia Tahun 1981-2006 Produksi batubara Indonesia dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, dan koperasi. Pada awalnya, PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) merupakan BUMN yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengelola produksi batubara nasional. Namun pada tahun 1995, pemerintah mengambil alih kembali tugas tersebut. II - 4

Pengusahaan batubara nasional dibagi menjadi beberapa periode berdasarkan waktu periodisasi kontrak, yaitu : Generasi I (1981 1993) Kontrak pengusahaan batubara generasi ke-1 merupakan Kontrak Kerjasama Batubara (KKS batubara) antara investor penambangan batubara dengan PN Batubara sebagai pemegang kuasa pertambangan. KKS batubara terdiri atas 11 kontraktor, dimana saat ini beroperasi 10 kontraktor dari generasi ke-1. Kontraktor KKS batubara generasi ke-1 memberikan kontribusi yang paling besar terhadap produksi batubara Indonesia saat ini. Generasi II (1994 1996) Pola kontrak pengusahaan batubara generasi ke-2 berubah menjadi Perjanjian Kerjasama Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). Dalam kontrak generasi ke-2 ini kuasa pertambangan masih dipegang oleh PTBA. Kontraktor PKP2B terdiri atas 18 perusahaan, yang merupakan perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Beberapa kontraktor PKP2B generasi ke-2 saat ini telah mulai berproduksi. Generasi III (1997-2000) Kontrak generasi ke-3 mulai berlaku tahun 1996 sampai 2000. Kontrak generasi ke-3 juga berbentuk PKP2B. Perbedaan dengan kontrak generasi ke-2 yaitu, pada kontrak generasi ke-3 ini kuasa pertambangan diambil alih oleh pemerintah dengan pelaksananya adalah Direktorat Jendral Pertambangan Umum. Kontrak generasi ke-3 ini telah menarik investor yang cukup besar untuk mengusahakan sektor batubara, yang terdiri atas PMDN dan PMA (Penanaman Modal Asing). Beberapa kontraktor PKP2B generasi ke-3 saat ini juga telah mulai berproduksi. Periode Otonomi Daerah (2001 sekarang) Pada periode otonomi daerah, kewenangan pengelolaan pada sektor pertambangan batubara dilimpahkan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Produksi batubara selama ini didominasi oleh kontraktor pemegang PKP2B. Lebih khusus lagi dari pemegang Kontrak Kerjasama batubara, produksi terbesar dilakukan oleh pemegang PKP2B generasi 1. II - 5

Perkembangan produksi batubara diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Dengan masih banyaknya kontraktor batubara yang belum berproduksi dan cadangan batubara yang masih besar, diperkirakan pertumbuhan produksi batubara pada tahun-tahun mendatang masih cukup tinggi. II.2.2. Konsumsi Batubara Indonesia Di Indonesia batubara digunakan untuk keperluan sumber energi, antara lain untuk pembangkit tenaga listrik, keperluan sektor industri seperti industri semen, industri pengolahan logam (metalurgi), industri kertas, dll. Penggunaan batubara kokas untuk keperluan industri baja di indonesia masih terbatas, sehingga batubara kokas yang dihasilkan sebagian besar dijual di pasar ekspor. Konsumsi batubara Indonesia selama tahun 1981 2006 dapat dilihat pada Gambar II.3. Konsumsi Domesik Batubara Indonesia 60.0 Konsumsi (Juta Ton) 50.0 40.0 30.0 20.0 10.0 0.0 1981 1983 1985 1987 1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 Tahun Sumber : Statistical Review 2005, BP Gambar II.3. Perkembangan Konsumsi Batubara Indonesia Tahun 1981 2006 Sektor pembangkit tenaga listrik merupakan pengguna batubara terbesar di Indonesia. Dengan ditetapkannya Keppres. no. 37 tahun 1992, usaha pembangkitan tidak hanya dilakukan oleh PT PLN (Persero) namun juga ditawarkan kepada swasta. Kemudian setelah diundangkannya UU no. 20 tahun 2002 ditetapkan pengusahaan listrik yang kompetitif pada daerah-daerah tertentu yang memungkinkan dilakukan kompetisi. Melalui UU ini, swasta dapat berpartisipasi secara penuh dalam pengusahaan ketenaga listrikan. II - 6

Imbasnya adalah berdirinya pembangkit tenaga listrik yang menggunakan tenaga batubara. Pembangkit listrik dengan bahan batubara yang sudah berdiri di Indonesia dapat dilihat pada Tabel II.4. Tabel II.4. Pembangkit Listrik Berbahan Bakar Batubara No. Pembangkit Listrik Kebutuhan Batubara (Ton) 2002 2003 2004 1 Asam asam 568.436 568.000 554.307 2 Bukit Asam 1.057.564 1.142.646 1.090.774 3 Freeport Indonesia 557.945 669.334 593.650 4 Newmont Nusa Tenggara 447.610 480.000 482.578 5 Newmont Minahasa 28.082 24.000 3.646 6 Paiton (Ind. Java Power) 8.300.753 9.060.889 9.310.008 7 Sijantang (Ombilin) 105.361 229.580 182.639 8 Suralaya 8.950.787 10.821.164 10.664.587 Sub Total 20.046.538 22.995.613 22.882.190 Untuk sektor industri, batubara digunakan untuk keperluan penghasil energi. Industri yang menggunakan batubara sebagai sumber energi dalam jumlah besar antara lain industri semen, industri metalurgi, dan industri kertas. Batubara digunakan sebagai sumber energi karena biaya pembangkitan energinya lebih murah daripada minyak bumi. Tabel II.5 menunjukkan penggunaan batubara sebagai sumber energi bagi industri mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dengan bertambah mahalnya BBM, menjadikan industri mulai beralih menggunakan batubara sebagai pengganti BBM. Contohnya adalah industri tekstil. Penggunaan batubara yang lain adalah sebagai briket. Kebijakan pemanfaatan briket batubara mulai diluncurkan pada awal tahun 1993, dengan target pemanfaatan briket batubara sebesar 2 juta ton pada tahun 2000. Perkembangannya pemakaian briket batubara tidak seperti yang diharapkan. Realisasinya pada tahun 2000 pemakaian briket hanya berjumlah 36 ribu ton dan mengalami penurunan untuk tahun berikutnya (lihat Tabel II.5). Kurang berkembangnya pemakaian briket batubara terutama disebabkan karena harga minyak tanah yang relatif murah karena disubsidi. Akibatnya briket batubara tidak dapat bersaing dengan minyak tanah. Di samping harganya lebih murah dan jalur distribusi lebih mapan, minyak tanah jauh lebih ramah lingkungan dibanding batubara. II - 7

Tabel II.5. Konsumsi Batubara Indonesia Berdasarkan Pengguna Industri Konsumsi (Ribuan Ton) 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Pembangkit Listrik 10.623 13.594 13.718 19.517 20.047 22.996 22.882 Semen 1.265 2.032 2.229 4.388 4.891 4.774 5.549 Metalurgi 145 194 31 221 209 202 119 Kertas 703 829 781 822 499 1.704 1.161 41.400 48.000 Briket 30 38 37 31 25 25 18 Lain-lain 2.600 2.573 5.545 2.408 3.586 957 6.348 Total 15.366 19.262 22.341 27.388 29.257 30.658 36.077 41.400 48.000 Sumber : Statistik Batubara dan Mineral, DGSDM per 1 Januari 2005 dan www.esdm.go.id II.3. Batubara Indonesia Dalam Perdagangan Internasional Perdagangan batubara internasional memulai fasa baru setelah terjadinya kenaikan harga minyak dunia tahun 1973, yaitu dengan bergantinya pembangkit listrik yang menggunakan minyak menjadi pembangkit listrik yang berbahan bakar batubara karena biaya operasi yang lebih murah. Dimana pada negara-negara yang tidak mempunyai sumberdaya batubara terpaksa mengimpor batubara. Kecenderungan tersebut diperkuat dengan kenaikan harga minyak tahun 1979. Sejak saat itu pasar internasional batubara berkembang sampai saat ini. Pasar internasional batubara terus menerus tumbuh dengan rata-rata pertumbuhan 4,3% per tahun mulai dari 221,3 Mt pada tahun 1979 menjadi 622,9 Mt pada tahun 2002. Perdagangan di pasar internasional kecil jika dibandingkan dengan total konsumsi. Jumlah perdagangan internasional terhitung hanya sekitar 8% dari total produksi pada tahun 1979 sampai 16% pada tahun 2002. Sampai sekarang, industri batubara dunia masih didominasi oleh produsen lokal kepada konsumen lokal. Namun pasar internasional diperkirakan akan terus tumbuh. Meluasnya perdagangan batubara internasional didorong oleh 3 faktor, antara lain : Berakhirnya kegiatan penambangan batubara di negara-negara yang banyak membutuhkan batubara, seperti negara di Eropa, Jepang, dan Korea Selatan. Lebih dari separuh total perdagangan batubara memenuhi pertumbuhan kebutuhan energi, terutama di daerah Asia. Pertumbuhan pemakaian batubara dengan kualitas tertentu, misal batubara kokas untuk industri baja atau batubara uap dengan kandungan sulfur yang rendah untuk memenuhi batasan emisi di pembangkit tenaga listrik. II - 8

Perdangan batubara internasional akan bergantung pada biaya pengangkutan. Dalam pengangkutan antar negara biasanya digunakan pengangkutan laut. Berdasarkan batasan geografis terdapat 2 wilayah pasar batubara, yaitu : Pasar Pasifik (Asia) Pasar Pasifik meliputi daerah Jepang, Asia Utara, dan Asia Selatan. Pasar Pacifik dipasok oleh negara Australia, Indonesia, dan China. Pasar Atlantik (Eropa) Pasar Atlantik meliputi daerah-daerah di Eropa, dengan negara pemasok adalah Afrika Selatan, Polandia, US, Kolombia, dan Venezuela. Negara pengekspor batubara terbesar di dunia adalah Australia, yang pada tahun 2003 mengekspor lebih dari 207 juta ton antrasit di tahun 2003, dari jumlah total produksinya sebesar 274 juta. Negara-negara lain yang termasuk dalam negara pengekspor batubara terbesar antara lain, China, Afrika Selatan, dan Indonesia. Khusus China, walaupun China merupakan produsen batubara terbesar di dunia namun hampir sebagian besar produksi batubaranya digunakan untuk konsumsi dalam negeri. Pada tahun 2002 terhitung 93,5% dari total produksinya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri. Pengurangan kapasitas ekspor batubara di China digantikan oleh batubara Australia di beberapa negara importir batubara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Indonesia merupakan negara yang mengalami perkembangan pesat di dalam perdagangan batubara internasional. Perkembagangan ekspor batubara yang berjalan seiring dengan bertambah besarnya produksi batubara Indonesia, tidak lepas dari meningkatnya peranan batubara sebagai sumber energi khususnya di darah Asia Pasifik. Ekspor batubara Indonesia meningkat menjadi 145 juta ton pada tahun 2006. Perkembangan ekspor batubara Indonesia pada tahun 1981 2006 dapat dilihat pada Gambar II.4. Negara-negara yang menjadi tujuan ekspor batubara Indonesia adalah negara-negara di Asia Pasific, seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dll. Dan juga negara-negara di Eropa. Faktor-faktor yang menyebabkan batubara indonesia dapat dengan mudah diterima di pasar internasional antara lain : Kualitas batubara ekspor Indonesia yang baik, dengan kandungan sulfur dan abu memenuhi standar. II - 9

Harga batubara yang relatif murah dibandingkan dengan negara lain disebabkan rendahnya biaya produksi. Ekspor Batubara Indonesia 160.0 140.0 Ekspor (Juta Ton) 120.0 100.0 80.0 60.0 40.0 20.0 0.0 1981 1983 1985 1987 1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2003 2005 Tahun Gambar II.4. Perkembangan Ekspor Batubara Indonesia Tahun 1981 2006 II.4. Kebijakan-Kebijakan Dalam Bidang Batubara II.4.1. Kebijakan Pengusahaan Pengusahaan batubara di Indonesia adalah menggunakan salah satu dari 2 skema berikut : Kuasa Pertambangan (KP) KP hanya dapat dimiliki oleh WNI atau perusahaan yang dimiliki oleh orang Indonesia. WNA tidak diijinkan untuk memiliki KP. Ada 5 tahap KP yang harus dilalui dan dimohonkan ijin untuk tiap-tiap tahapannya. Antara lain; KP penyelidikan umum, KP eksplorasi, KP eksplotasi, KP pengolahan dan pemurnian, dan KP pengangkutan dan penjualan. Perjanjian Karya Penambangan Batubara (PKP2B) PKP2B dapat dimiliki oleh perusahaan yang dimiliki oleh WNI atau oleh perusahaan yang dimiliki oleh WNI dan WNA. PKP2B tidak diberikan untuk wilayah operasi di Pulau Jawa. Kepemilikan asing di pertambangan batubara Indonesia sampai sekarang dilakukan melalui Perjanjian Kerjasama Batubara. Sejak November 1997, pertambangan batubara II - 10

dibawa lebih sejajar dengan pertambangan umum melalui struktur Kontak Karya (KK). Ada 2 generasi Kontrak Kerjasama Batubara dan 1 generasi PKP2B, yang mana mengarah sebagai PKP2B generasi ke-3. Perbedaan kunci antara sistem Kontrak Kerjasama Batubara dengan KK adalah dalam Perjanjian Kerjasama Batubara, perusahaan tambang asing bertindak sebagai kontraktor dari perusahaan tambang batubara milik negara yaitu PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA). Peraturan tersebut sudah diamandemen dan ditetapkan bahwa pemegang hak dan kewajiban terhadap pengelolaan Perjanjian Kerjasama Batubara adalah Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Kementrian Energi dan Sumberdaya Mineral. Selain itu, sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah, pemegang hak dan kewajiban pada pengelolaan Kuasa Pertambangan Batubara ada pada pemerintah daerah. Di bawah Perjanjian Kerjasama Batubara, kontraktor pengusahaan batubara menerima 86,5% bagian dari produksi batubara yang diusahakan dan kotraktor menanggung semua biaya yang dikeluarkan pada tahap eksplorasi, development, dan produksi. Pemerintah Indonesia (sebelumnya PTBA) menerima sisanya sebanyak 13,5% dari produksi. Akan tetapi pada beberapa kasus, kontraktor pengusahaan batubara dapat diminta untuk menjual semua atau sebagian batubara yang menjadi bagian pemerintah. Peralatan yang dibeli oleh kontraktor menjadi aset dari Pemerintah Indonesia (sebelumnya PTBA), walaupun kontraktor mempunyai hak khusus untuk menggunakan aset dan mendepresiasikannya. Bagian kepemilikan yang dimiliki oleh asing di bawah Perjanjian Kerjasama Batubara wajib untuk ditawarkan kepada WNI atau perusaaan milik WNI, sehingga setelah 10 tahun beroperasi kepemilikan asing pada perusahaan berkurang maksimal hanya 49%. Syarat dan kondisi di bawah PKP2B sekarang adalah sebanding dengan KK generasi ke-7. Di bawah PKP2B, perusahaan tambang memiliki 100% dari produksi batubara, akan tetapi royalty sebesar 13,5% dari pendapatan penjualan harus tetap dibayarkan kepada Pemerintah Indonesia. Beberapa kontrak terdahulu, temasuk Perjanjian Kerjasama Batubara, adalah berdasarkan pada sistem perpajakan dan peraturan di tempat dimana perjanjian disepakati (ditanda tangani). Pada keadaan tertentu, ini berarti bahwa peraturan yang mempengaruhi perusahaan tambang dalam beroperasi berbeda dari peraturan yang sedang berlaku, yang II - 11

terkadang menimbulkan kesulitan dalam interpretasi perjanjian dengan pelaku usaha yang sama dari perusahaan yang berbeda. Data-data mengenai sistematika Perjanjian Kerjasama Batubara dan PKP2B dapat dilihat pada Tabel II.6. Tabel II.6. Sistematika Perjanjian Kerjasama Batubara dan PKP2B Komponen Units Generasi I Generasi II Generasi III Dead rent USD/Ha 1,00 2,00 1,50 3,00 1,50 3,00 Production Royalties %-Prod 13,5% 13,5% 13,5% Eksport Tax - - - Inport Tax - - - Corporate Income Tax %-Profit Tahun 1-10 : 30% Tahun 11-.. : 35% 30% 30% Value Added Tax 10% 10% 10% Regional Tax Sesuai dengan Perda masing-masing II.4.2. Kebijakan Batubara Nasional Kebijakan Batubara Nasional diputuskan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral No. 1128K/40/MEM/2004 tanggal 23 Juni 2004. Kebijakan Batubara Nasional mempunyai sasaran untuk menjamin pasokan dan penyediaan batubara untuk domestik dan ekspor serta berkembangnya pemanfaatan batubara di dalam negeri. Untuk mewujudkan sasaran tersebut dengan memperhatikan permasalahan yang ada, maka dirumuskan serangkaian strategi pokok sebagai berikut: 1. Menyingkirkan semua faktor yang menghambat pencapaian sasaran. 2. Mempertahankan atau menguatkan hal-hal yang mempunyai pengaruh positif terhadap pencapaian sasaran. 3. Memunculkan berbagai faktor baru yang perlu dalam rangka pencapaian sasaran. Dalam upaya melaksanakan strategi tersebut, diperlukan serangkaian kebijakan yang perlu diadakan, meliputi hal-hal sebagai berikut : Kebijakan Pengelolaan, Kebijakan Pengusahaan, Kebijakan Pemanfaatan, Kebijakan Pengembangan. Tujuan dan pelaksanaan masing-masing lingkup kebijakan dapat dilihat pada Tabel II.7. II - 12

Tujuan : Mereposisikan batubara sebagai bahan galian strategis sehingga perlu dikelola dengan memperhatikan manfaatnya sebagai energi nasional, komoditi ekspor dan sebagai penggerak ekonomi, pengembangan masyarakat dan wilayah setempat. Pelaksanaan : 1. Mereposisikan kembali status batubara sebagai bahan galian strategis melalui Peraturan Pemerintah (PP). 2. Merinci secara tegas kewenangan dan kewajiban masing-masing antara Pemerintah Pusat dan Daerah dalam pengelolaan batubara. 3. Membangun bank data dan sistem inventarisasi sumberdaya batubara. 4. Membantu pembangunan sistem prasarana batubara nasional. 5. Mendukung upaya pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dalam pertambangan batubara. 6. Membentuk forum koordinasi dan komunikasi antarapemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Otonom, Produsen dan Konsumen dalam suatu Dewan Batubara Nasional. 7. Melakukan tindakan hukum pada Penambangan Batubara Tanpa Izin (PETI). Tabel II.7. Kebijakan Batubara Nasional 2004 Kebijakan Pengelolaan Kebijakan Pengusahaan Kebijakan Pemanfaatan Kebijakan Pengembangan Tujuan : Tujuan : Meningkatkan iklim investasi yang kondusif dan Meningkatkan penggunaan batubara dan pengawasan yang efektif dalam penambangan meningkatkan peran batubara dalam batubara. memenuhi kebutuhan energi nasional. Pelaksanaan : 1. Mengupayakan terciptanya iklim penanaman modal yang kondusif dan kompetitif. 2. Menciptakan sistem penambangan yang baik dan benar yang mewadahi pengembangan masyarakat sebagai bagian tak terpisahkan dari kegiatan. 3. Memberikan kepastian usaha secara adil kepada investor melalui : Memberikan perlakuan yang sama untuk semua pelaku. Memberikan hak usaha berkelanjutan dari eksplorasi sangat dengan pemasaran batubara. Mengupayakan jenis dan tarif perpajakan yang kondusif. 4. Mendorong mengintensifkan pencarian cadangan batubara. 5. Meningkatkan kualifikasi sumberdaya batubara menjadi cadangan tertambang. 6. Memberikan insentif dalam pengembangan batubara peringkat rendah, tambang bawah tanah, cadangan papas dan di daerah terpencil. 7. Menegaskan kepada pemerintah Daerah untuk menghormati kontrak PKP2B yang telah ada dan memberikan laporan atas pemberian izin Pelaksanaan : 1. Mengarahkan dan mendorong penganekaragaman pemanfaatan dan teknologi batubara bersih. 2. Mendorong upaya untuk membangun kemudahan akses dalam memperoleh batubara bagi industri domestik dengan membangun terminal/depo batubara di sentra-sentra industri. 3. Memberikan perhatian lebih khusus kepada litbang dan investasi di bidang pemanfaatan lignite dan Coal Bed Melthane. 4. Mendukung peran serta swasta yang ingin mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara Mulut Tambang. 5. Mendorong dan memberikan bimbingan kepada industri UKM yang akan memproduksi dan menggunakan briket batubara. 6. Membangun Pusat Teknologi Pemanfaatan Batubara yang berfungsi sebagai Sentra Pengembangan dan Peragaan Teknologi Batubara Bersih. Tujuan : Meningkatkan pengembangan batubara sehingga memenuhi kebutuhan energi dan bahan baku industri nasional baik secara teknik, ekonomi maupun ketentuan lingkungan. Pelaksanaan : 1. Meningkatkan teknologi pemanfaatan batubara bersih dan mengurangi dampak terhadap lingkungan. 2. Mengintensifkan kegiatan penelitian dan pengembangan batubara. 3. Meningkatkan sumberdaya manusia melalui pelatihan di tempat, di dalam dan di luar negeri atau melalui pendidikan formal. 4. Meningkatkan kemampuan kelembagaan yang menangani kebijakan batubara di Daerah/Pusat. 5. Mendorong pengembangan pemanfaatan batubara peringkat daerah (lignite), penambangan bawah tanah, pemanfaatan coal bed methane dan PLTU Mulut Tambang. II - 13

Kebijakan Pengelolaan Kebijakan Pengusahaan Kebijakan Pemanfaatan Kebijakan Pengembangan PKP2B dan KP baru yang mereka keluarkan kepada Pemerintah Pusat. 8. Menegaskan kembali kepada pelaku pertambangan batubara PKP2B untuk memenuhi kewajibannya memprioritaskan pasokan batubara dalam negeri berdasarkan kontraknya dengan Pemerintah. 9. Mendorong produksi dan pemasaran batubara secara berkelanjutan. 10. Mengembangkan standardisasi, sertifikasi dan akreditasi dalam pengusahaan batubara. 11. Mengendalikan produksi, pelaksanaan pengembangan masyarakat dan reklamasi melalui mekanisme persetujuan RKAB. 12. Mendorong usaha pembangunan cusom plant (blending plant) dalam upaya menghasilkan produksi yang memenuhi persyaratan dan keinginan pengguna. 7. Mengusulkan Penggunaan Dana Hasil Produksi Batubara yang 13,5% dari kontraktor PKP2B dan royalty dari pemegang KP terutama diprioritaskan untuk hal-hal yang berhubungan dengan pengembangan batubara. 8. Mendorong peningkatan nilai tambah dalam pemanfaatan batubara. II - 14

II.5. Peluang dan Tantangan Sektor Pertambangan Batubara Sektor pertambangan batubara di Indonesia akan terus berkembang pada waktu mendatang. Faktor-faktor yang menyebabkan berkembangnya sektor pertambangan batubara di Indonesia antara lain : Pertumbuhan konsumsi batubara di dalam negeri Batubara merupakan salah satu sumber energi yang digunakan sebagai faktor produksi barang dan jasa dalam perekonomian. Sementara itu perekonomian yang mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun diukur dari output yang dikeluarkan oleh para pelaku ekonomi. Akibatnya, peningkatan output ekonomi yang terjadi setiap tahunnya akan memerlukan tambahan input dari faktorfaktor produksi, yang salah satunya adalah batubara, dimana batubara digunakan sebagai salah satu faktor produksi. Kebijakan pemerintah masalah energi Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 5 Tahun 2005 pemerintah menetapkan Kebijakan Energi Nasional. Kebijakan Energi Nasional bertujuan untuk mengarahkan upaya-upaya dalam mewujudkan keamanan pasokan energi dalam negeri. Sasaran yang ingin dicapai dari Kebijakan Energi Nasional adalah tercapainya elastisitas energi lebih kecil dari 1 (satu) pada tahun 2025 dan mewujudkan energi mix yang optimal pada tahun 2025. Pada energi mix tersebut peranan minyak bumi dalam pemenuhan energi nasional akan dikurangi menjadi dibawah 20%. Sementara itu, peranan batubara akan dinaikkan menjadi lebih dari 33%. Penggantian peran minyak bumi dengan batubara dalam memenuhi kebutuhan energi nasional akan membawa konsekwensi terhadap pasokan batubara nasional. Produksi batubara nasional harus lebih banyak diarahkan pada pasar domestik. Atau jika ekspor batubara tetap dipertahankan tinggi, maka diperlukan peningkatan produksi batubara untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan baik di pasar dometik ataupun di pasar internasional sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang ingin dicapai. Pertumbuhan pasar di Asia Pasifik Penggunaan batubara di dunia khusnya di Asia Pasifik akan terus mengalami peningkatan, walaupun pada beberapa negara di dunia justru mengganti penggunaan batubara sebagai sumber energi dengan gas alam. Batubara akan II - 15

terus digunakan sebagian besar untuk pembangkit listrik dan bahan bakar untuk industri. Pasar batubara di Asia Pasifik didominasi oleh Jepang sebagai konsumen yang paling besar, diikuti oleh negara-negara industri seperti Asutralia, Taiwan, dan Korea Selatan. Tak ketinggalan juga China yang sedang membangun sektor industrinya. Negara-negara tersebut memanfaatkan batubara tidak hanya sebagai pembangkit listrik saja, namun juga menggunakannya untuk keperluan industri baja. China dan Jepang merupakan dua negara yang menjadi produsen baja terbesar. Berdasarkan peramalan yang dilakukan oleh IEA (International Energy Agency, 2005), disebutkan bahwa peningkatan penggunaan bahan bakar lain sebagai sumber energi (gas alam, nuklir, dll) ditambah dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif pelan dan penurunan pada jumlah populasi menghasilkan penambahan jumlah penggunaan batubara yang tidak signifikan di Jepang. Untuk Australia penggunaan batubara di tahun 2025 akan mengalami peningkatan hampir mencapai 30% dibandingkan penggunaan batubara pada tahun 2005. Sementara itu, penggunaan batubara di China akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan tersebut diindikasi karena pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan pada China. Sehingga memerlukan peningkatan konsumsi batubara yang besar terutama untuk keperluan industri dan pembangkit tenaga listrik. Berdasarkan hasil peramalan oleh IEA, sektor ketenaga listrikan di China akan mengalami pertumbuhan penggunaan mencapai 3,3% per tahun. Perhitungan peramalan konsumsi sektor ketenaga listrikan (berbasiskan Btu) dari tahun 2002 sebesar 14,8 quadrillion Btu menjadi 31,2 quadrillion Btu pada tahun 2025 (perubahannya mencapai lebih dari 100%). Sementara itu penggunaan batubara di China pada untuk sektor non ketenaga listrikan pada tahun 2002 mencapai 47% dengan pamakaian terbesar pada sektor industri. Selama periode peramalan, permintaan batubara di China untuk sektor non ketenaga listrikan diperkirakan mengalami peningkatan mencapai 19,4 qudrillion Btu (perubahan 148%) dengan prosentase bagian konsumsi batubara pada sektor ini mencapai 51% pada tahun 2025. II - 16

Selain peluang dalam pengembangan sektor penambangan batubara terdapat tantangan yang menghadang. Tantangan sektor pertambangan batubara untuk masa yang akan datang antara lain : Konservasi sumberdaya batubara Konservasi merupakan usaha penghematan saat ini demi pemakaian masa depan. Konservasi sering dikaitkan dengan moral tanggung jawab lembaga (negara) untuk melindungi sumberdaya alam demi kepentingan generasi mendatang. Pada dasarnya konservasi didorong oleh kekuatiran manusia akan semakin langkanya sumberdaya alam. Ketika sumberdaya alam dalam hal ini batubara dimanfaatkan, maka pemanfaatannya harus optimal sehingga rakyat dapat merasakan hasil yang maksimal sepanjang waktu (berkelanjutan). Pembangunan berkelanjutan Pengelolaan sumberdaya batubara harus dilakukan secara berkelanjutan, artinya harus bijaksana melestarikan persediaan sumberdaya tersebut sehingga generasi sekarang dan mendatang dapat menikmati hasil pemanfaatan sumberdaya tersebut. Konsep pengelolaan sumbedaya alam yang berkelanjutan berangkat pada fakta bahwa sumberdaya ini terbatas dalam memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Oleh karena itu, sumberdaya batubara perlu dikelola secara bertanggung jawab sedemikian rupa sehingga generasi kini dan mendatang dapat memanfaatkan hasil-hasil yang telah diperoleh dari pemanfaatan sumberdaya batubara tersebut. Untuk dapat mencapai hasil yang berkelanjutan terdapat pedoman-pedoman yang perlu dipertimbangkan antara lain : 1. Perlu penetapan standar minimal yang aman sehingga sumberdaya alam dalam hal ini batubara tidak terlanjur dimanfaatkan secara berlebihan dengan kerusakan lingkungan yang tidak bisa ditanggulangi. 2. Pengelolaan didasarkan pada ekonomi pasar bebas, ditunjang sistem perpajakan dan pengawasan yang efektif. 3. Perlu adanya rencana jangka panjang pengelolaan sumberdaya alam. 4. Usaha penelitian dan pengembangan teknologi di bidang batubara. Keselamatan kerja penambangan Keselamatan kerja merupakan salah satu issue yang berkembang pada sektor pertambangan. Faktor yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja tambang II - 17

adalah faktor manusia dan alam. Faktor manusia seperti kecelakaan dalam pengoperasian alat berat biasanya merupakan human error (kelalaian manusia). Sementara faktor karena alam disebabkan karena keberadaan bahan galian (batubara) itu sendiri. Untuk batubara yang ditambang dengan tambang terbuka, maka timbul potensi kelongsoran lereng penambangan. Sedangkan untuk batubara yang perlu ditambang dengan tambang bawah tanah, timbul potensi keruntuhan dan meledak (karena pada batubara terdapat gas metana). Sampai dengan tingkat produksi saat ini batubara di Indonesia banyak diproduksi dengan sistem tambang terbuka. Untuk ke depan, seiring dengan berkurangnya cadangan batubara yang terletak di permukaan, maka batubara Indonesia akan banyak diproduksi dengan sistem tambang bawah tanah. Sebagai contoh kasus di China kecelakaan kerja di tambang batubara terjadi terutama di tambang skala kecil. Diperkirakan sampai 20 ribu kecelakaan kerja terjadi dalam 1 tahun (China Labour Bulletin 2000). Sementara itu, berdasarkan Chinese Labour Bulletin 2001, 50% dari kematian di tambang batubara China terjadi karena gas metana (ledakan) yang disebabkan kurang baiknya ventilasi dan monitoring gas. Ini bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia untuk mengantisipasi kecelakaan kerja apabila tambang batubara bawah tanah sudah mulai banyak dikembangkan di Indonesia. Lingkungan Perekonomian di dunia khususnya negara-negara berkembang karena penggunaan karbon. Karbon yang digunakan melalui penggunaan minyak bumi, gas, dan batubara terhitung 88% dari konsumsi energi primer dunia. Kepercayaan yang besar pada bahan bakar fosil pada kenyataannya hampir sama dengan 2 abad terdahulu, yaitu pada woodburning deforestation era tahun 1600an 1800an. Kebergantungan pada bahan bakar fosil mengindikasikan bagaimana sulitnya untuk mengubah perekonomian atas dasar bahan bakar nonkarbon. Transisi yang revolusioner dari perekonomian yang berdasar atas bahan bakar karbon menjadi bahan bakar non-karbon membutuhkan komitmen dan tindakan oleh pemerintah dan industri di seluruh dunia. Adanya peningkatan emisi SO x, NO x, karbon, dan polutan yang lainnya melalui pembakaran dan pemanfaatan bahan bakar fosil menjadikan transisi menuju penggunaan energi non-karbon tidak dapat dihindari. Yang terjadi adalah II - 18

perdebatan kapan waktu yang tepat tiba. Yang kemudian mendorong debat menuju tingkat yang baru melalui komitmen yang dibuat oleh Eropa, Jepang, Rusia, dan negara pembuat kesepakatan pada Kyoto Protocol, yang menghendaki pengurangan emisi CO 2. Namun keinginan untuk mengurangi emisi disebabkan penggunaan bahan bakar karbon tidak dapat dengan cepat terlaksana, karena ketergantungan yang besar terhadap bahan bakar karbon. Jalan yang dapat ditempuh dalam usaha untuk mengurangi emisi adalah melalui peningkatan efisiensi dan konservasi dari bahan bakar karbon. Yang paling penting, diperlukan rencana jangka panjang dan kebijakan untuk memfasilitasi pengurangan emisi yang ditimbulkan oleh penggunaan bahan bakar karbon. Selain permasalahan lingkungan yang ditimbulkan karena pemanfaatan batubara sebagai sumber energi, juga timbul permasalah karena penambangan batubara itu sendiri. Permasalahan yang timbul karena penambangan batubara adalah gangguan pada lahan dan air asam tambang (AAT). Gangguan pada lahan timbul saat ini di Indonesia banyak sekali dilakukan penambangan dengan sistem tambang terbuka, yang memerlukan lahan luas untuk beroperasi. Gangguan tersebut antara lain disebabkan oleh kegiatan pembersihan lahan dan vegetasi, pemindahan material penutup, pemindahan batubara, dan backfilling (dalam beberapa kasus timbul masalah kebakaran pada waste batubara). Permasalahan utama berkaitan dengan gangguan lahan adalah erosi pada tanah, polusi debu, dan hilangnya vegetasi alami. Sementara itu, AAT adalah permasalahan lingkungan yang timbul dari timbunan material waste termasuk juga batubara tertambang. AAT adalah air yang kaya akan logam, terbentuk karena reaksi kimia antara air dan batuan yang mengandung sulfur. Asam yang berasal dari tambang melarutkan logam berat seperti tembaga, timah, dan mercury pada air tanah dan permukaan. Dampak lingkungan yang timbul adalah bisa terkontaminasi pada air minum, mengganggu pertumbuhan dan reproduksi tanaman dan binatang air. Otonomi daerah dalam pengelolaan sektor pertambangan batubara UU no. 22 dan 25 tahun 1999 serta UU no.32 dan 33 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah yang mengatur tentang pemindahan kewenangan pengaturan sumberdaya alam dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten telah menimbulkan ketidak pastian kepada industri II - 19

pertambangan. Ini disebabkan karena pengalaman yang kurang dari pemerintah di daerah. Contohnya adalah penetapan peraturan baru yang tidak lazim dalam pelaksanaan industri pertambangan, contoh pajak pada overburden atau pajak pada penggunaan air. Selanjutnya, euforia dari desentralisasi telah mendorong beberapa Pemerintah Daerah untuk berperan dalam produksi dengan memaksa perusahaan tambang untuk menjual kepemilikannya kepada Pemerintah Daerah. II - 20