Riki Yuniagara: Jenis dan Hirarki Peraturan...

dokumen-dokumen yang mirip
DAFTAR PUSTAKA. Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, PT. Citra Aditya Bakti,


Riki Yuniagara: Hak Menguji Peraturan...

BAB SATU PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sistem norma hukum di Indonesia, norma-norma hukum yang

PERKEMBANGAN PENGATURAN SUMBER HUKUM DAN TATA URUTAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI INDONESIA Oleh: RETNO SARASWATI 1

Prof. Dr. Maria Farida Indrati, S.H., M.H.

KEDUDUKAN KETETAPAN MPR DALAM SISTEM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA Oleh: Muchamad Ali Safa at

R. Herlambang P. Wiratraman Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Airlangga 2014

DINAMIKA KEDUDUKAN TAP MPR DI DALAM HIERARKI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Kewenangan pembatalan peraturan daerah

BAB I PENDAHULUAN. A. Alasan Pemilihan Judul. Sebelum Amandemen Undang-Undang Dasar 1954, MPR merupakan

DAFTAR PUSTAKA. Pemilihan Presiden Secara Langsung. Jakarta: Sekertariat Jenderal MK RI. (2006). Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Jilid

KEWENANGAN MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM MENGUJI PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG DALAM SISTEM HUKUM DI INDONESIA. Oleh : DJOKO PURWANTO

DAFTAR PUSTAKA. Abdulkadir Muhammad Hukum dan Penelitian Hukum. Bandung: Citra Aditya Bhakti.

DAFTAR PUSTAKA. Amini, Aisyah, Pasang Surut Peran DPR-MPR , Yayasan Pancur Siwah, Jakarta: 2004, Hlm. 36

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum yuridis normatif ( normative legal reserch) yaitu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membuat UU. Sehubungan dengan judicial review, Maruarar Siahaan (2011:

PENDAHULUAN. Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar 1945 (UUD Tahun 1945) telah melahirkan sebuah

BAB III KONSEKUENSI HUKUM MASUKNYA TAP MPR RI KE DALAM HIERARKI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG P3

PROBLEMATIKA KETETAPAN MPR PASCA REFORMASI DAN SETELAH TERBITNYA UNDANG-UNDANG NO. 12 TAHUN 2011

DAFTAR PUSTAKA. Bagir manan, Dasar-Dasar Perundang-Undangan Indonesia, Jakarta: Indo Hill, 1992

EKSISTENSI KETETAPAN MPR RI DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN DI INDONESIA

IMPEACHMENT WAKIL PRESIDEN. Oleh : Dr. H. Nandang Alamsah Deliarnoor, S.H., M.Hum.

BAB I PENDAHULUAN. sebagaimana dituangkan secara eksplisit dalam Pasal 1 Ayat (3) Undang-Undang

BAB I PENDAHULUAN. bangsa sebagaimana penegasannya dalam penjelasan umum Undang-Undang

ANALISIS YURIDIS TERHADAP PRODUK HUKUM KETETAPAN MPR SETELAH PERUBAHAN UUD Drs Munif Rochmawanto, SH,MH,MM. Abstrak

Tata Urutan Peraturan Perundangan Indonesia / Hukum Undang-Undang Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Problematic MPR Decree Post Reform and After The Issuance of Law No. 12 of 2011

BAB I PENDAHULUAN. di dunia berkembang pesat melalui tahap-tahap pengalaman yang beragam disetiap

DAFTAR REFERENSI. . Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia; Pasca Reformasi. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer, 2007.

PROSPEK MAHKAMAH KONSTITUSI SEBAGAI PENGAWAL DAN PENAFSIR KONSTITUSI. Oleh: Achmad Edi Subiyanto, S. H., M. H.

BAB II MAHKAMAH KONSTITUSI SEBAGAI BAGIAN DARI KEKUASAAN KEHAKIMAN DI INDONESIA. A. Penyelenggaraan Kekuasaan Kehakiman Sebelum Perubahan UUD 1945

BAB III TINJAUAN TEORITIS KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT. A. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Negara Republik Indonesia sebagai negara hukum artinya meniscayakan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

TUGAS KEWARGANEGARAAN LATIHAN 4

BAB I PENDAHULUAN. adanya amandemen besar menuju penyelenggaraan negara yang lebih demokratis, transparan,

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Perkembangan Pasca UU MD3/2014. Herlambang P. Wiratraman Unair

Lex Administratum, Vol.I/No.1/Jan-Mrt/2013

Ketetapan MPRS No. XV/MPRS/1966 tentang Pemilihan/ penunjukan Wakil Presiden dan tata cara pengangkatan Pejabat Presiden

BAB I PENDAHULUAN. dasarnya konstitusi menurut K.C. Wheare, adalah resultante atau kesepakan. sosial,ekononi, dan budaya ketika dibuat.

BAB I PENDAHULUAN. Undang-Undang (UU) tehadap Undang-Undang Dasar (UUD). Kewenangan tersebut

I. PENDAHULUAN. Perubahan Undang-Undang Dasar tahun 1945 (UUD tahun 1945) tidak hanya

BAB II KOMISI YUDISIAL, MAHKAMAH KONSTITUSI, PENGAWASAN

UU JABATAN HAKIM; 70 TAHUN HUTANG KONSTITUSI

PENERAPAN HIERARKI PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN DALAM KETATANEGARAN INDONESIA

MENGUJI KONSTITUSIONALITAS PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG

Analisis Kewenangan Mahkamah Konstitusi Dalam Mengeluarkan Putusan Yang Bersifat Ultra Petita Berdasarkan Undang-Undangnomor 24 Tahun 2003

BAB I PENDAHULUAN. memerlukan perppu (peraturan pemerintah pengganti undang-undang). 1 Karena

I. PENDAHULUAN. praktik ketatanegaraan Indonesia. Setiap gagasan akan perubahan tersebut

Tugas dan Fungsi MPR Serta Hubungan Antar Lembaga Negara Dalam Sistem Ketatanegaraan

MPR Pasca Perubahan UUD NRI Tahun 1945 (Kedudukan MPR dalam Sistem Ketatanegaraan)

PENGUJIAN TAP MPR (Suatu Kajian Filsafat)

BAB I PENDAHULUAN. kehakiman diatur sangat terbatas dalam UUD Buku dalam pasal-pasal yang

MEMAHAMI UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN. OLEH : SRI HARININGSIH, SH.,MH

II. TINJAUAN PUSTAKA. kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

MAHKAMAH KONSTITUSI. R. Herlambang Perdana Wiratraman Departemen Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, 19 Juni 2008

Mengenal Mahkamah Agung Lebih Dalam

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Konstitusi dan Rule of Law

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI MAHKAMAH KONSTITUSI, MAHKAMAH AGUNG, PEMILIHAN KEPALA DAERAH

Kewenangan MPR Dalam Pemberhentian Presiden dan Wakil Presiden

BAB II GAMBARAN UMUM TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

DAFTAR PUSTAKA. Dahlan Thaib, dkk, 2013, Teori dan Hukum Konstitusi, Cetakan ke-11, Rajawali Perss, Jakarta.

BAB I PENDAHULUAN. Norma hukum yang berlaku di Indonesia berada dalam sistem berlapis dan

BAB I PENDAHULUAN. yang menjadi bagian dari proses peralihan Indonesia menuju cita demokrasi

Oleh: Totok Soeprijanto Widyaiswara Utama pada Pusdiklat Pengembangan Sumber Daya Manusia Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan

Prospek Mahkamah Konstitusi Sebagai Pengawal dan Penafsir Konstitusi - Achmad Edi Subiyanto, S. H., M. H.

URGENSI PARTISIPASI PUBLIK DALAM PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH (#4) Teori Perundang-undangan (Pembentukan Peraturan Perundangundangan)

HAN Sektoral Pertemuan Kedua HAN Sektoral dan Peraturan Perundang-Undangan SKEMA PEMERINTAH

Pemetaan Kedudukan dan Materi Muatan Peraturan Mahkamah Konstitusi. Rudy, dan Reisa Malida

BAB I PENDAHULUAN. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Negara hukum. 1 Konsekuensi

BAB I PENDAHULUAN. Negara dan Konstitusi merupakan dua lembaga yang tidak dapat dipisahkan.

PENUTUP. partai politik, sedangkan Dewan Perwakilan Daerah dipandang sebagai

DPD memberikan peran yang lebih maksimal sebagai perwakilan daerah yang. nantinya akan berpengaruh terhadap daerah-daerah yang mereka wakili.

Tajuk Entri Bahan Pustaka Karya Perundang-undangan. di Perpustakaan Nasional RI. oleh : Suwarsih, MSi.

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI PENGUJIAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DAN KETETAPAN MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

EKSISTENSI PERPPU DALAM SISTEM PERUNDANG-UNDANGAN

HUKUM ACARA PEMBUBARAN PARTAI POLITIK

Pokok Bahasan. Sistem Norma Hukum Hierarki Peraturan dalam Sistem Norma Hukum di Indonesia

SMP. 1. Jaminan terhadap hak-hak asasi manusia dan warga negara 2. Susunan ketatanegaraan suatu negara 3. Pembagian & pembatasan tugas ketatanegaraan

CONTOH SOAL-SOAL LOMBA CERDAS CERMAT UUD NRI 1945 DAN TAP MPR TINGKAT PROVINSI MALUKU TAHUN 2009

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG UNDANG-UNDANG DAN PERPU DALAM HIRARKI PERUNDANG-UNDANGAN

BEBERAPA KETENTUAN DALAM UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DENGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN 1

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. kesimpulan dari permasalah yang penulis teliti, yaitu:

PANCASILA DALAM KONTEKS KETATANEGARAAN REPUBLIK INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum ( rechtsstaat), dengan

PENDAHULUAN. kendatipun disebut sebagai karya agung yang tidak dapat terhindar dari

Naskah ini telah diproses oleh Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia dan ditampilkan di

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Transkripsi:

Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 1

Buku Saku: Studi Perundang-undangan Edisi Ke-3 JENIS DAN HIRARKI PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA DALAM LINTAS SEJARAH (TAP MPR dari Masa ke Masa) Riki Yuniagara, S.HI Publisher Rikiyuniagara.wordpress.com Banda Aceh 2013 Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 2

PENDAHULUAN Sejarah pembentukan peraturan perundangundangan Indonesia tentang jenis dan susunan (hirarki) peraturan perundang-undangan mengalami pasang surut sesuai dengan perubahan dan perkembangan kostitusi serta peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Mengingat perlu adanya pembaharuan produk hukum agar sesuai dengan kebutuhan masyarakat sehingga hukum bukan hanya sebagai pelengkap administrasi negara saja akan tetapi juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam memajukan ketatanegaraan Indonesia serta meningkat pembangunan terhadap masyarakat agar menjadi lebih berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 3

1 Berdasarkan Surat Presiden No.3639/Hk/59 Tanggal 26 November 1959 Pada masa berlakunya Undang-Undang Dasar 1945 dalam kurun waktu 5 juli 1959 sampai dengan 1966 atau masa orde lama, Presiden Soekarno dalam suratnya kepada ketua DPR No. 2262/HK/59 Tanggal 20 Agustus 1959 yang selanjutnya dijelaskan dengan surat Presiden No.3639/HK/59 Tanggal 26 November 1959, menyebutkan bentuk-bentuk peraturan negara setelah Undang-Udang Dasar adalah Undang-Undang, Peraturan pemerintah, Peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu), Penetapan Presiden, Peraturan presiden, Peraturan pemerintah untuk melaksanakan peraturan presiden, Keputusan presiden, Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 4

Peraturan/keputusan Menteri. 1 Di sini tidak dicantumkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai bentuk peraturan perundang-undangan karena menganggap Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat merupakan perwujudan dari Undang-Undang Dasar. 2 Berdasarkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No. XX/MPRS/1966 Pada saat berakhirnya masa pemerintahan Orde lama dan memasuki masa Orde Baru, Presiden Soekarno menyurati Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) untuk perubahan tata urutan peraturan perundang-undangan. Kemudian, dikembangkan oleh DPR-GR dan hasilnya di awal Orde Baru dengan 1 Jimly Asshiddiqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, hlm. 212-213. Lihat juga Delvi Suganda, Mekanisme Judicial Review terhadap Qanun Aceh, hlm. 22. Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 5

dikeluarkannya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No.XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia disingkat TAP MPRS No.XX/MPRS/1966. Dalam lampiran II (pokok Pikiran IIA) TAP MPRS tersebut disebutkan Bentuk dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia menurut Undang-Undang Dasar 1945 : 1. Undang-undang Dasar 1945 2. Ketetapan MPR 3. Undang-undang/ Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang 4. Peraturan Pemerintah 5. Keputusan Presiden Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 6

6. Peraturan-peraturan pelaksana lainnya seperti: a. Peraturan Menteri; b. Instruksi Menteri; c. Dan lain-lain-nya. 2 Menurut Ass Tambunan dalam bukunya yang berjudul MPR, Perkembangan dan Pertumbuhannya, Suatu Pengamatan Dan Analisis, mengatakan bahwa bentuk/ jenis peraturan perundang-undangan yang dimuat dalam TAP MPRS No.XX/MPRS/1966 diilhami oleh tulisan Mohammad Yamin dalam bukunya yang berjudul : Naskah Persiapan Undang-undang Dasar, Mohammad Yamin mengatakan bahwa bentuk bentuk peraturan Negara adalah sebagai berikut: 2 Natabaya, Sistem Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia, (Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, 2006), hlm.112. Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 7

1. UUD 1945 2. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 3. Putusan MPR 4. Penetapan Presiden untuk melaksanakan Dekrit 5 Juli1959 5. Peraturan Presiden, peraturan tertulis untuk mengatur kekuasaan presiden berdasarkan pasal 4 ayat (1) UUD 1945 6. Keputusan Presiden, peraturan tertulis untuk menjalankan Peraturan Presiden atau Undang- Undang di bidang pengangkatan/ pemberhentian personalia 7. Surat keputusan presiden, penentuan tugas pegawai 8. Undang-Undang Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 8

9. Peraturan pemerintah untuk melaksanakan Penetapan Presiden 10. Peraturan pemerintah untuk pengganti Undang- Undang 11. Peraturan pemerintah untuk menjalankan Undang-Undang 12. Peraturan dan keputusan penguasa Perang 13. Peraturan dan keputusan Pemerintah Daerah 14. Peraturan tata tertib dewan dan peraturan/ keputusan dewan. Yang di maksud dengan Dewan misalnya MPR, DPR, Dewan Menteri, DPA, dan Dewan Perancang Nasional Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 9

15. Peraturan dan keputusan Menteri, yang di terbitkan atas tanggungan seorang atau bersama Menteri. 3 Dari hal tersebut di atas, seperti yang disebutkan oleh Muhammad Yamin, menempatkan Putusan Majelis Permusyawaratan Rakyat (Ketetapan MPR) berada diurutan ketiga setelah UUD 1945 dan Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dari inilah awal mulanya Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat dimasukkan kedalam peraturan perundang-undangan di Indonesia yang kemudian dicantumkan kedalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No.XX/MPRS/1966. 3 Berdasarkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No.III/MPR/ 2000 3 Ibid., hlm. 113. Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 10

Dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat No III/MPR/2000 yang menyebutkan tata urutan peraturan perundang-undangan menempatkan kedudukan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat berada diurutan kedua setelah UUD 1945. Ketetapan tersebut merupakan perubahan dari Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara No.XX/MPRS/1966. 4 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan tidak lagi menempatkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat dalam jenis dan hierarki Peraturan Perundang-Undangan. Memang betul pada Pasal 7 dinyatakan bahwa Jenis Peraturan Perundang- Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 11

undangan selain sebagaimana dimaksud ayat (1) diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, serta kemudian juga dijelaskan lagi dalam Penjelasan Pasal 7 ayat (4), tetapi harus dikatakan bahwa status hukum tetaplah tidak jelas. Adanya ketidakpastian terhadap eksistensi ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang masih berlaku tersebut keberadaannya tidak lagi diakui pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat. Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat cenderung mengabaikan ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang masih berlaku tersebut baik dalam proses pembentukan undang- Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 12

undang maupun dalam perumusan kebijakan negara. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 telah mengandung kesalahan yang sangat mendasar. Akibat kesalahan ini maka Ketetapan MPR RI No I/MPR/2003 menjadi tidak jelas statusnya. Di masa dulu, pelanggaran terhadap ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat bisa mengakibatkan jatuhnya memorandum DPR yang berujung pada impeachment, tetapi pasca amandemen UUD 1945 langkah politik semacam itu tidak bisa lagi digunakan. Sebab, Pasal 7A UUD 1945 menyatakan bahwa impeachment terhadap Presiden dan/atau Wakil Presiden hanya bisa dilakukan apabila Presiden dan/atau Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 13

berat lainnya, atau melakukan perbuatan tercela, dan atau apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden. Padahal ada 11 (sebelas) Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang sangat penting dan krusial jika diabaikan, apalagi dilanggar. Disana ada TAP MPRS No XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran PKI, TAP MPR No XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah, Pengaturan, Pembagian, dan Pemamfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan, Serta Perimbangan Keungan Pusat dan Daerah dalam Kerangka NKRI, TAP MPR No VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan, TAP MPR No IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam, TAP MPR No VI/MPR/2001 tentang Etika Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 14

Kehidupan Berbangsa, dan TAP-TAP MPR lainnya yang sangat penting dan strategis. Tapi semuanya tidak ada sanksi dan konsekuensi apapun baik secara hukum, politik, maupun manakala dilanggar. Seperti halnya Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi yang tidak jadi dibentuk sehingga pelanggaran HAM seperti Kasus 1965, Tanjung Priok, Lampung, Kasus Orang Hilang, dan sebagainya kehilangan modus dan instrumennya untuk menyelesaikannya. Sebab, modus dan instrument yang sangat bijak seperti yang diamanatkan oleh TAP MPR No V/MPR/2000 diabaikan. 4 4 Hajriyanto Y. Thohari, Eksistensi Ketetapan MPR Pasca UU No 12 Tahun 2011, diakses pada tanggal 18 April 2012 melalui situs www.mpr.go.id, hlm. 3. Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 15

Pasca terbitnya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan, keberadaan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat menjadi tidak jelas. Karena dalam undang-undang ini posisi Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat dikeluarkan dari hirarki peraturan perundang-undangan di Indonesia. Nasib Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang berjumlah 139 buah menjadi tidak jelas status hukumnya. Namun, kondisi ini berakhir setelah DPR dan Pemerintah telah sepakat memasukkan kembali Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat ke dalam hirarki peraturan perundang-undangan. Hal ini Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 16

terungkap dalam Rapat Panitia Khusus revisi Undang- Undang Nomor 10 Tahun 2004. Sehingga dari rapat tersebut, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 dibahas kembali dalam sidang DPR sehingga direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Dalam undang-undang terbaru hasil revisi ini Ketetapan MPR (S) kembali dicantumkan dalam tata urut peraturan perundangan Indonesia. 5 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 memuat tentang ketentuan baru, yakni masuknya kembali Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat dalam hierarki dalam peraturan perundang-undangan. Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 17

Dalam pasal 7 ayat (1) disebutkan bahwa hirarki peraturan perundang-undangan terdiri dari: a. UUD 1945 b. Ketetapan MPR c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) d. Peraturan pemerintah e. Peraturan Presiden f. Peraturan Daerah Propinsi dan g. Peraturan Daerah Kabupaten. Dari pasal di atas, Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat menduduki posisinya yang benar dalam sistem hukum di Indonesia dan kembali menjadi sumber hukum formal dan material. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat harus kembali menjadi Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 18

rujukan atau salah satu rujukan selain UUD 1945 bukan hanya dalam pembentukan perundang-undangan di Indonesia, melainkan juga dalam pembentukan kebijakan-kebijakan publik lainnya. DPR dan Pemerintah (Presiden) mutlak harus memperhatikan ketetapanketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang masih berlaku, bahkan merujuk kepadanya dalam pembentukan undang-undang dan peraturan perundang-undangan di bawahnya. 5 Sistem hukum Indonesia menganut sistem hukum hirarki. Jadi, peraturan perundang-undangan yang berada di bawah tidak boleh bertentangan dengan yang berada di atasnya. Sehingga segala bentuk peraturan perundang-undangan tidak boleh bertentangan dengan 5 Hajriyanto Y. Thohari, Eksistensi Ketetapan MPR Pasca UU No 12 Tahun 2011, hlm. 4. Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 19

Undang-Undang Dasar sebagai peraturan perundangundangan yang paling tinggi. Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 20

DAFTAR PUSTAKA Fatmawati, Hak Menguji (Toetsingsrecht) Yang Dimiliki Hakim Dalam Sistem Hukum Indonesia, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2006. H.R. Sri Soemantri M, Prosedur dan Sistem Perubahan Konstitusi, Bandung: PT. Alumni, 2006. Jimly Asshiddiqie, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara Jilid 2, Jakarta: Sekretariat Jenderal dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, 2006., Perihal Undang-Undang, Jakarta: Konstitusi Press, 2006., Pokok Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, Jakarta: Bhuana Ilmu Populer, 2007. Leonard W. Levy, Judicial review: Sejarah kelahiran, wewenang dan fungsinya dalam negara demokrasi (terj. Eni Purwaningsi), Bandung: Penerbit Nusamedia, 2005. Maria Farida Indrati Soeprapto, Ilmu Perundangundangan: Dasar-dasar dan Pembentukannya, cet. XI, Yogyakarta : Kanisius, 2006. Muhammad Siddiq Armia, Studi Epistimologi Perundang- Undangan, Jakarta: CV. Teratai Plubisher, 2011. Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 21

Muhammad Siddiq Armia, M. Ya kub AK, Epistimologi Perundang-Undangan Studi Legislasi Hukum Nasional Dan Hukum Internasional,Edisi Revisi, Banda Aceh: Yayasan PeNA, 2009. Titik Triwulan Tutik, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2006. Buku Saku: Studi Perundang-Undangan, Edisi Ke-3 22