RANCANG BANGUN TERMOMETER SUHU TINGGI DENGAN TERMOKOPEL

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II DASAR TEORI Gambar 2.1. Diagram skematik termokopel Gambar 2.2. Pengukuran EMF

LAPORAN PRAKTIKUM INSTRUMENTASI DAN PENGUKURAN KONVERSI TEMPERATUR KE ARUS DAN TEGANGAN MENGGUNAKAN PERALATAN TIME MEASUREMENT

TERMOKOPEL (P3) NABIL AHMAD RIZALDI JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

PENGUKURAN SUHU, PENGUKURAN TEKANAN dan KALIBRASI INSTRUMENTASI

CHAPTER I PREFACE CHAPTER II BASE OF THEORY

BAB II LANDASAN TEORI

LAPORAN INDIVIDU PRAKTIKUM PENGUKURAN TERMOMETER

Analisis Elektromotansi Termal antara Pasangan Logam Aluminium, Nikrom dan Platina sebagai Termokopel

Gambar 2.20 Rangkaian antarmuka Hall-Effect

PENGUKURAN SUHU. 1. Termometer skala Celcius Merupakan termometer yang menggunakan skala Celcius (C).

Sistem Akuisisi Data Suhu Multipoint Dengan Mikrokontroler

BAB II LANDASAN TEORI

Oleh Marojahan Tampubolon,ST STMIK Potensi Utama

Pemuaian adalah bertambahnya volume suatu zat akibat meningkatnya suhu zat. Semua zat umumnya akan memuai jika dipanaskan.

BUKU SISWA (BS-01) SUHU DAN PEMUAIAN Pengertian Suhu. Pemuaian

4.5 THERMOKOPEL Efek Termoelektri

Programmable Logic Controller Sebagai Pengatur Kecepatan Motor AC Terhadap Perubahan Suhu Sensor Termokopel

SIMULASI DISPENSER HOT AND COOL UNIT

PENGUJIAN KINERJA COUPLE THERMOELEKTRIK SEBAGAI PENDINGIN PROSESOR

ALAT PENCATAT TEMPERATUR OTOMATIS MENGGUNAKAN TERMOKOPEL BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S51

BAB II LANDASAN TEORI

Oleh. SAEFUL KARIM and SUNARDI

RANCANG BANGUN SISTEM AKUISISI DATA TEMPERATUR BERBASIS PC DENGAN SENSOR THERMOPILE MODULE (METODE NON-CONTACT)

ANALISIS SIFAT THERMOELEKTRIK BAHAN DENGAN SISTEM KOPEL ABSTRACT

BAB II LANDASAN TEORI. membandingkan tersebut tiada lain adalah pekerjaan pengukuran atau mengukur.

BAB IV METODE PENGUJIAN CIGARETTE SMOKE FILTER

BAB IV HASIL DAN ANALISA PENGUJIAN THERMOELECTRIC GENERATOR

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. jalan Kolam No. 1 / jalan Gedung PBSI Telp , Universitas Medan

SMP kelas 7 - FISIKA BAB 6. SUHU & PEMUAIANLATIHAN SOAL BAB 6

BAB II DASAR THERMOELECTRIC GENERATOR

MAKALAH BENGKEL ELEKTRONIKA PENDETEKSI KEBAKARAN DENGAN MENGGUNAKAN SENSOR SUHU LM355. Oeh:

BAB III METODE PENELITIAN. karakterisasi tegangan keluaran detektor terhadap pergeseran cermin. Selanjutnya,

KOEFISIEN MUAI PANJANG

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III PENGUJIAN ALAT THERMOELECTRIC GENERATOR

ΔL = ΔT. α. L 1. ΔA = ΔT. β. A 1 PEMUAIAN

RANCANG BANGUN SISTEM PENGENDALIAN TINGGI PERMUKAAN AIR DAN SUHU CAIRAN BERBASIS PLC SCADA. Tugino, Yohanes Purwanto, Tri Handayani

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM ONLINE UNTUK MONITOR SUHU RUANGAN BERBASIS SERVER WEB DAN WEBCAM DENGAN PENYAMPAIAN DATA ASINKRON

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

SUHU DAN PERUBAHAN. A. Bagaimana Mengetahui Suhu Suatu Benda?

KONSTRUKSI DAN KALIBRASI TERMOKOPEL TIPE K

LAPORAN LENGKAP MODUL 4.2 PENGUKURAN TEMPERATUR : TERMOKOPEL (APLIKASI : KALORIMETER JOULE) & PENENTUAN PANAS PELARUTAN

Jurnal Pengajaran MIPA, Vol. 8 No. 2 Desember 2006

PENGUKURAN TEMPERATUR

T P = T C+10 = 8 10 T C +10 = 4 5 T C+10. Pembahasan Soal Suhu dan Kalor Fisika SMA Kelas X. Contoh soal kalibrasi termometer

ANTIREMED KELAS 10 FISIKA

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA

OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2010 BIDANG ILMU FISIKA

BAB III METODE PENELITIAN

DASAR PENGUKURAN LISTRIK

KARYA TULIS ILMIAH MENGUKLUR TEMPERATUR OTOMATIS MENGGUNAKAN TERMOKOPEL BERBASIS MIKROKONTROLER

BAB 5 PEMUAIAN. Pemuaian. Kompetensi Dasar: Standar Kompetensi: Melakukan percobaan yang berkaitan dengan pemuaian dalam kehidupan sehari-hari.

TEMPERATUR MAKALAH FISIKA DASAR 2

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan jumlah penduduk dan teknologi yang pesat, menjadikan

BAB I PENDAHULUAN C = (1) Panas jenis adalah kapasitas panas bahan tiap satuan massanya, yaitu : c = (2)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Gambar 11 Sistem kalibrasi dengan satu sensor.

BAB 4 HASIL UJI DAN ANALISA

PEMBUATAN ALAT UKUR KONDUKTIVITAS PANAS BAHAN PADAT UNTUK MEDIA PRAKTEK PEMBELAJARAN KEILMUAN FISIKA

PERCOBAAN e/m ELEKTRON

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II DASAR TEORI Sejarah Singkat Termoelektrik. mempunyai peranan penting dalam aplikasi praktik.

BAB 9 SUHU DAN PEMUAIAN

BAB II Dasar Teori BAB II DASAR TEORI

LISTRIK DINAMIS B A B B A B

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

PENGUKURAN DAN INSTRUMENTASI THERMINOLOGY TEMPERATURE / SUHU

BAB III METODE PENELITIAN. makanan menggunakan termoelektrik peltier TEC sebagai berikut :

Pengukuran Emisivitas Efektif rata-rata Suatu Material Padat (Solid Materials)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENELITIAN. Desain pengembangan ini menggunakan pendekatan penelitian pengembangan

Oleh : Mulyayanti Dosen Pembimbing : Suyanto,ST,MT

BAB III. METODE PENELITIAN

K13 Revisi Antiremed Kelas 11 Fisika

TEKNOLOGI PEMBELAJARAN FISIKA BAHAN AJAR FISIKA PEMUAIAN PANJANG

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Waktu penelitian ini direncanakan selama tiga bulan yang dimulai dari

MATERI POKOK. 1. Kalor Jenis dan Kapasitas Kalor 2. Kalorimeter 3. Kalor Serap dan Kalor Lepas 4. Asas Black TUJUAN PEMBELAJARAN

SMP kelas 7 - FISIKA BAB 3. Suhu dan PemuaianLatihan Soal 3.1. dapat mengukur suhu, tetapi tidak bisa mengetahui berapa derajat suhu benda tersebut

KALIBRASI TERMOKOPEL TIPE K DENGAN HEAD BERDASARKAN SUHU PANAS KE DINGIN

BAB III METODE PENELITIAN

1. Suhu dan Termometer. Suhu ukuran/derajat panas dinginnya suatu benda atau energi kinetik rata-rata yang dimiliki oleh molekul2 suatu benda.

STUDI AWAL PEMANFAATAN THERMOELECTRIC MODULE SEBAGAI ALAT PEMANEN ENERGI

Sensor dan Tranduser

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam Bab IV ini akan dipaparkan hasil penelitian aplikasi multimode fiber

Fisika Panas 2 SKS. Adhi Harmoko S, M.Kom

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2014 sampai November

BAB III METODE PENELITIAN

PERANCANGAN SISTEM PEWAKTUAN DAN PENGONTROLAN TEMPERATUR PADA APLIKASI KAMAR TEMPERATUR DENGAN SENSOR LM35DZ BERBASIS MIKROKONTROLER AT89S52

RANCANG BANGUN SENSOR SUHU TANAH DAN KELEMBABAN UDARA

SMP. Satuan SI / MKS. 1 Panjang meter m centimeter cm 2 Massa kilogram kg gram g 3 Waktu detik s detik s 4 Suhu kelvin K Kelvin K 5 Kuat arus listrik

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. oksidasi yang dilakukan dengan metode OM ( Optic Microscope) dan

Antiremed Fisika. Persiapan UAS 1 Fisika Kelas Berapakah volume batu yang ditunjukan pada gambar di bawah ini?

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Antiremed Kelas 10 Fisika

BAB I PENDAHULUAN. bermanfaat bagi kebutuhan teknologi maupun kebutuhan rumah. berpengaruh pada penurunan kualitas barang produksi seperti

PENERAAN TERMOMETER (K.I.1)

I. TUJUAN PERCOBAAN 1. Mempelajari cara kerja kalorimeter 2. Menentukan kalor lebur es 3. Menentukan kalor jenis berbagai logam

Transkripsi:

RANCANG BANGUN TERMOMETER SUHU TINGGI DENGAN TERMOKOPEL Oleh: Yusman Wiyatmo dan Budi Purwanto Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UNY ABSTRAK Tujuan yang akan dicapai melaui penelitian ini adalah: 1) membuat desain/rancang bangun piranti ukur suhu tinggi dengan termokopel, 2). mencari hubungan antara gradient suhu dengan tegangan termoelektrik pada sambungan tembaga-besi, tembaga alumunium, dan besialumunium, dan 3) menentukan jenis sambungan logam manakah di antara tembaga-besi, tembaga alumunium, dan besi-alumunium yang baik digunakan sebagai sensor suhu. Variabel-variabel penelitian ini adalah: (1) variabel bebas: jenis sambungan termokopel yakni tembaga-besi, tembaga alumunium, dan besi-alumunium, serta temperatur sambungan, (2) variabel terikat pada penelitian ini adalah tegangan termoelektrik yang muncul pada termokopel sebagai respon suhu dan (3) varibel kontrol. Variabel control pada penelitian ini adalah suhu referensi diatur pada suhu kamar, panjang logam, lebar logam, dan jenis zat cair yang digunakan pada sambungan termokopel. Data pada penelitian ini diperoleh dengan cara sebagai berikut:data suhu sambungan referensi, diukur dengan menggunakan thermometer alkohol, data suhu sambungan termokopel diukur dengan thermometer, data tegangan termoelektrik diukur dengan menggunakan voltmeter, dan data koefisien seebeck logam ditentukan dari literatur. Data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linear, yakni: Y = AX + B, dengan Y = tegangan termoelektrik yang muncul pada termokopel, X = gradient suhu sambungan pada termokopel terhadap suhu referensi, A = koefisien Seebeck/kemiringan garis, dan B = konstanta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Telah dibuat rancang bangun suhu tinggi dengan termokopel, 2) Hubungan antara gradien suhu dengan tegangan termoelektrik pada termokopel bersifat linear 3) jenis sambungan logam antara tembaga-besi, lebih peka terhadap respon dibandingkan jenis sambungan tembaga-alumunium, dan besi-alumunium umtuk sensor suhu. Kata-kata kunci: termometer suhu tinggi, termokopel, gradien suhu, dan ggl termoelektrik PENDAHULUAN Termokopel berasal dari kata thermo yang berarti energi panas dan Couple yang berarti pertemuan dari dua buah benda. Termokopel adalah transduser aktif suhu yang tersusun dari dua buah logam berbeda dengan titik pembacaan pada pertemuan kedua logam dan titik yang lain sebagai outputnya. 1

Termokopel adalah sensor suhu yang banyak digunakan untuk mengubah perbedaan suhu dalam benda menjadi perubahan tegangan listrik (voltase). Termokopel yang sederhana dapat dipasang, dan memiliki jenis konektor standar yang sama, serta dapat mengukur temperatur dalam jangkauan suhu yang cukup antara -200 o C sampai 1800 o C dengan batas kesalahan pengukuran kurang dari 1 C. Prinsip kerja termokopel secara sederhana berupa dua buah kabel dari jenis logam yang berbeda ujungnya, hanya ujungnya saja, disatukan (dilas). Titik penyatuan ini disebut hot junction. Prinsip kerjanya memanfaatkan karakteristik hubungan antara tegangan (volt) dengan temperatur. Setiap jenis logam, pada temperatur tertentu memiliki tegangan tertentu pula. Pada temperatur yang sama, logam A memiliki tegangan yang berbeda dengan logam B, terjadilah perbedaan tegangan (kecil sekali, milivolt) yang dapat dideteksi. Jika sebuah batang logam dipanaskan pada salah satu ujungnya maka pada ujung tersebut elektron-elektron dalam logam akan bergerak semakin aktif dan akan menempati ruang yang semakin luas, elektron-elektron saling desak dan bergerak ke arah ujung batang yang tidak dipanaskan. Dengan demikian pada ujung batang yang dipanaskan akan terjadi muatan positif. Kerapatan electron untuk setiap bahan logam berbeda tergantung dari jenis logam. Jika dua batang logam disatukan salah satu ujungnya, dan kemudian dipanaskan, maka elektron dari batang logam yang memiliki kepadatan tinggi akan bergerak ke batang yang kepadatan elektronnya rendah, dengan demikian terjadilah perbedaan tegangan diantara ujung kedua batang logam yang tidak disatukan atau dipanaskan. Besarnya termolistrik atau gem ( gaya electromagnet ) mengalir dari titik hot-juction ke cold-junction atau sebaliknya. Setelah terdeteksi perbedaan tegangan (volt). Beda tegangan ini linear dengan perubahan arus, sehingga nilai arus ini bisa dikonversi kedalam bentuk tampilan display. Sebelum dikonversi, nilai arus di komparasi dengan nilai acuan dan nilai offset di bagian komparator, fungsinya untuk menerjemahkan setiap satuan amper ke dalam satuan volt kemudian dijadikan besaran temperatur yang ditampilkan melalui layar/monitor berupa seven segmen yang menunjukkan temperatur yang dideteksi oleh termokopel. 2

Sebuah termokopel terdiri dari dua buah kawat yang kedua ujungnya disambung sehingga menghasilkan suatu open-circuit voltage sebagai fungsi dari suhu, diketahui sebagai tegangan termolistrik atau disebut dengan seebeck voltage, yang ditemukan oleh Thomas Seebeck pada 1921. Hubungan antara tegangan dan pengaruhnya terhadap suhu masingmasing titik pertemuan dua buah kawat adalah linear. Walaupun begitu, untuk perubahan suhu yang sangat kecil, tegangan pun akan terpengaruh secara linear, atau dirumuskan sebagai berikut : (National Instrument, Application Note 043) V S T dengan ΔV adalah perubahan tegangan, S adalah koefisien seebeck, dan ΔT adalah perubahan suhu. Nilai S akan berubah dengan perubahan suhu, yang berdampak pada nilai keluaran berupa tegangan termokopel tersebut, dan nilai S akan bersifat non-linear di atas rentang tegangan dari termokopel tersebut. Berdasarkan kajian tersebut termokopel dapat dimanfaatkan untuk pengukuran suhu, khususnya sebagai sensor suhu tinggi. Termometer dengan bahan isian alkohol dan raksa memiliki keterbatasan pada jangkau ukur 150 o C, sehingga tidak dapat digunakan untuk pengukuran suhu tinggi seperti minyak yang mendidih, logam yang mencair, bara api dan sebagainya. Sebagai sensor suhu, termokopel memiliki keterbatasan antara lain tidak dapat memberikan sifat linearitas dan keakurasian yang baik pada interval suhu yang sempit.. Selain itu termokopel kurang peka untuk suhu rendah. Selain itu termokopel juga memiliki keunggulan sebagai berikut: 1) Range pengukuran suhu yang tinggi. Range ini pada umumnya yang diperlukan untuk furnace, oven, mesin pengering, boiler, dan sebagainya dimana suhu bisa mencapai 600 o C atau bahkan lebih. Bandingkan dengan LM35 yang maksimal hanya pada suhu 100 o C walaupun harganya bisa dikatakan relatif sama, 2) Murah, coba bandingkan harga termokopel yang dibawah Rp. 30.000,- dengan tipe RTD seperti PT100 atau PT1000 yang bisa lebih dari Rp. 250.000,-, 3) Linearitas dan keakurasian tidak terlalu penting, misalkan tidak masalah jika suhu yang diminta 200 o C 3

tetapi terukur 198 o C atau 220 o C, dan 4) Tidak untuk range temperatur yang terlalu dekat dengan suhu ruang, misalkan minta suhu 38 derajat dari kondisi suhu ruang yang 28 derajat. Selajutnya termokopel ini menarik untuk diteliti karena belum diketahui jenis sambungan logam apakah yang mampu digunakan sebagai sensor suhu tingggi. Dan juga belum diketahui pula pada rentang suhu berapakah tengangan termoelektrik memberikan respon linear terhadap perubahan suhu. Hal yang menarik lainnya adalah gejala fisis apa sajakah yang tampak pada termokopel terkait dengan sifat termoelektrik linear atau kuadratis? Berdasarkan permasalahan tersebut maka penelitian ini menarik untuk dilakukan. Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diungkap di depan, maka permasalahanpermasalahan pada penelitian ini dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1. Belum diketahui kharakteristik jenis sambungan termokopel yang cocok digunakan sebagai sensor suhu tinggi. 2. Belum diketahui pada rentang suhu berapakah hubungan antara gradient suhu dengan tegangan termoelektrik bersifat linear. 3. Belum diketahui pada rentang suhu berapakah hubungan antara gradient suhu dengan tegangan bersifat kuadratis. 4. Perlu dilakukan rancang bangun alut ukut suhu tinggi dengan memanfaatkan gejala termoelektrik. 5. Perlu diteliti bahan-bahan logam apakah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan termokopel yang tahan terhadap suhu tinggi. 6. Bagaimanakah proses klaibrasi alat ukur suhu tinggi dengan termokopel agar dihasilkan alat ukur yang valid. Permasalahan yang akan diteliti pada penelitian ini dibatasi pada: 1) sambungan logam yang diteliti dibatasi pada sambungan tembaga-besi, tembaga alumunium, dan besi-alumunium, 2) Karakteristik gejala termoelektrik yang diteliti dibatasi pada efek Seebeck, efek Peltier, dan efek Thompson dan 3) Rancang bangun piranti ukur suhu tinggi dibatasi pada pembuatan desain alat, kalibrasi dan ujicoba pengukuran suhu tinggi. 4

Permasalahan yang akan diteliti pada penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Bagaimanakah desain/rancang bangun piranti ukur suhu tinggi dengan termokopel? 2. Bagaimanakah hubungan antara gradient suhu dengan tegangan termoelektrik pada sambungan tembaga-besi, tembaga alumunium, dan besi-alumunium? 3. Jenis sambungan logam manakah di antara tembaga-besi, tembaga alumunium, dan besialumunium yang baik digunakan sebagai sensor suhu? METODE PENELITIAN Variabel Penelitian Variabel-variabel penelitian ini dapat dideskripsikan sebagai berikut: 1. Variabel bebas: jenis sambungan termokopel yakni tembaga-besi, tembaga alumunium, dan besi-alumunium. Variabel bebas lainnya adalah temperatur sambungan. Hal ini dilakukan dengan memvariasi suhu sambungan yang ditempatkan dalam bejana yang diisi cairan. 2. Variabel terikat. Variabel terikat pada penelitian ini adalah tegangan termoelektrik yang muncul pada termokopel sebagai respon suhu. 3. Varibel kontrol. Variabel control pada penelitian ini adalah suhu referensi diatur pada suhu kamar, panjang logam, lebar logam, dan jenis zat cair yang digunakan pada sambungan termokopel. Alat dan Bahan Penelitian Bahan peneletian yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Plat besi ukuran 20 x 10 cm digunakan sebagai bahan termokopel 2. Plat alumunium ukuran 20 x 10 cm digunakan sebagai bahan termokopel 3. Plat tembaga ukuran 20 x 10 cm digunakan sebagai bahan termokopel 4. Minyak goreng 2 liter sebagai media pemanas termokopel Adapun alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Solder dan patri digunakan untuk membuat sambungan termokopel 2. Gunting digunakan untuk memotong logam sesuai dengan ukuran termokopel 3. Bejana aluminium ukuran 20 x 10 x 5 cm sebagai tempat cairan 5

4. Heater digunakan untuk memanaskan cairan dalam bejana 5. Termometer digunakan untuk mengukur suhu referensi dan suhu sambungan termokopel 6. Volmeter dengan dengan ketelitian mikro volt digunakan untuk mengukur tegangan termoelektrk Desain Penelitian Desain penelitian ini adalah penelitian eksperimen dengan membuat rancang bangun piranti ukur suhu tinggi dengan memanfaatkan termokopel. Adapun desain alat secara singkat disajikan pada Gambar 1 berikut: Cu Fe Cu Tandon Panas Tandon Dingin Voltmeter Kabel penghubung Gambar 1. Desain Piranti Ukur Suhu Tinggi dengan Termokopel 6

Langkah-Langkah Penelitian Langkah-langkah peneliian ini secara singkat dapat dideskripsikan sebagai berikut: 1. Mengkaji secara teoritis sifat-sifat dan karakteristik logam tembaga, besi, dan alumunium ditinjau dari sisi termodinamika dan kelistrikan. 2. Membuat rancang bangun piranti ukur suhu tinggi dengan memanfaatkan gejala termoelektrik pada termokopel. 3. Membuat alat ukur suhu tinggi dengan bahan-bahan yang sudah disiapkan sesuai dengan desain yang telah dibuat. 4. Mengkalibrasi alat dengan titik acuan suhu es mencair dan suhu air mendidih. 5. Melakukan uji coba pengukuran suhu minyak. 6. Memperbaiki desain alat berdasarkan temuan pada hasil uji coba. Teknik Pengumpulan Data Data pada penelitian ini diperoleh dengan cara sebagai berikut: 1. Data suhu sambungan referensi, diukur dengan menggunakan thermometer alkohol. 2. Data suhu sambungan termokopel diukur dengan thermometer 3. Data tegangan termoelektrik diukur dengan menggunakan voltmeter 4. Data koefisien seebeck logam ditentukan dari literature Teknik Analisis Data Data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linear, yakni: Y = AX + B dengan Y = tegangan termoelektrik yang muncul pada termokopel X = gradient suhu sambungan pada termokopel terhadap suhu referensi A = koefisien Seebeck/kemiringan garis B = konstanta, yakni 7

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pada penelitian ini digunakan tiga jenis sambungan termokopel yakni tembagabesi, tembaga-alumunium, dan besi-alumunium. Untuk mendapatkan gradien suhu yang tinggi maka pada penelitian ini digunakan suhu referensi 0 o C yakni suhu es saat es mencair. Variasi suhu junction dilakukan dengan cara memanaskan junction pada tendon panas menggunakan heater. Suhu divariasi setiap kenaikan 10 o C sampai dengan suhu 100 o C. Adapun data penelitian untuk termokopel sambungan tembaga besi disajikan pada Tabel 1 sbb: Tabel 1. Data Tegangan Termoelektrik Untuk Sambungan Tembaga-Besi No Suhu Junction ( o C) Tegangan Termoelektrik (mv) 1 10 50,2 2 20 72,4 3 30 102,5 4 40 130,2 5 50 154,3 6 60 180,6 7 70 204,1 8 80 224,8 9 90 254,7 10 100 280,4 Selanjutnya pengukuran tegangan termoelektrik pada termokopel tembaga alumunium dilakukan dengan volmeter digital. Suhu junction juga divariasi setiap 10 o C. Secara singkat data tegangan termoelektrik untuk sambungan tembaga alumunium disajikan pada Tabel 2 sbb: Tabel 2. Data Tegangan Termoelektrik Untuk Sambungan Tembaga-Alumunium No Suhu Junction ( o C) Tegangan Termoelektrik (mv) 1 10 30,3 2 20 52,4 3 30 80,6 4 40 112,2 5 50 134,2 6 60 162,4 8

7 70 185,2 8 80 202,8 9 90 233,7 10 100 264,3 Selanjutnya pengukuran tegangan termoelektrik pada termokopel besialumunium dilakukan dengan volmeter digital. Suhu junction juga divariasi setiap 10 o C. Secara singkat data tegangan termoelektrik untuk sambungan besi-alumunium disajikan pada Tabel 3 sbb: Tabel 3. Data Tegangan Termoelektrik Untuk Sambungan Besi-Alumunium No Suhu Junction ( o C) Tegangan Termoelektrik (mv) 1 10 22,3 2 20 40,4 3 30 72,6 4 40 101,4 5 50 122,2 6 60 153,5 7 70 174,4 8 80 180,5 9 90 212,7 10 100 250,2 Pembahasan Pada penelitian ini diperoleh data tegangan termoelektrik sebagai fungsi suhu. Selanjutnya data hubungan antara tegangan termoelektrik dengan suhu untuk ketiga jenis termokopel dinalisis dengan grafik seperti disajikan pada Gambar 2 sbb Tegangan (mv) 9

300 250 200 150 100 50 Cu-Fe Fe-Al Cu-Al 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Suhu ( o C) Gambar 3. Grafik Hubungan Antara Tegangan Termoelektrik dengan Suhu Berdasakan grafik pada Gambar 5 tampak bahwa hubungan antara tegangan termoelektrik dengan suhu untuk ketiga jenis sambungan Cu-Fe, Cu-Al, dan Fe-Al adalah linear. Jenis sambungan Cu-Fe memiliki tegangan termoelektrik yang paling tinggi dibandingkan sambungan Cu-Al dan Fe-Al. Hal ini menunjukkan bahwa sambungan termokopel Cu-Fe memiliki respon suhu yang baik (peka terhadap perubahan suhu. Jenis sambungan Cu-Fe bila digunakan sebagai sensor suhu lebih baik dibandingan sambungan Cu-Al dan Fe-Al. Adapun sambungan Cu-Al memiliki respon suhu menengah, yakni lebih baik dibandingkan dengan sambungan Fe-Al, tetapi kalah peka terhadap suhu dibandingkan sambungan Cu-Fe. Namun demikian jenis sambungan Cu-Al juga memiliki hubungan antara tegangan termoelektrik dan suhu junction linear. Hal ini berarti bahwa sambungan Cu-Al dapat dimanfaatkan sebagai sensor suhu. Selajutnya sambungan Fe-Al memiliki tingkat kepekaan terhadap suhu paling rendah dibandingkan sambungan Cu-Fe, dan Cu-Al. Hubungan antara tegangan termoelektrik dengan suhu pada sambungan ini juga linear. Hal ini berarti bahwa jenis sambungan Fe-Al juga dapat dimanfaatkan sebagai sensor suhu. 10

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1. Desain/rancang bangun piranti ukur suhu tinggi dengan termokopel terdiri dari junction dua logam yang bebeda jenis sebagai sensor suhu 2. Hubungan antara gradien suhu dengan tegangan termoelektrik pada sambungan tembaga-besi, tembaga alumunium, dan besi-alumunium bersifat linear. 3. Jenis sambungan logam tembaga-besi lebih peka sebagai sensor suhu dibandingkan jenis sambungan tembaga alumunium, dan besi-alumunium. Saran-Saran Beberapa saran yang dapat dikemukakan dari hasil penelitian ini adalah sbb: 1. Suhu junction dapat divariasi pada suhu yang lebih tinggi dengan memanfaatkan suhu cairan yang memiliki titik didih tinggi. 2. Jenis sambungan termokopel dapat divariasi untuk jenis sambungan yang lain sehingga dapat diperoleh jenis sambungan yang paling murah, efisien, dan baik digunakan sebagai sensor suhu. DAFTAR PUSTAKA Aminanto. 2012. Prinsip Kerja Termokopel.Alamat Web: http://echocorner.blogspot.com/2012/03/termokopel-dalam-dunia-elektronika.html. Cooper W.D., 1985, Instrumentasi Elektronik dan Teknik Pengukuran, Jakarta : Erlangga. Duckworth. 2012. Electricity and Magnetism. Peltier Effect, Seebeck Effect, and Thompson Effect. Prentice Hall Ltd. Samadikun, S, dkk. 1988. Sistem Instrumentasi Elektronika. Bandung. Bandung: Institut Teknologi 11