8. Mengirimkan stop sequence

dokumen-dokumen yang mirip
Real Time Clock Menggunakan I2C Bus pada Modul DST-52

Materi 5: Protokol I2C

AN2014 : Pembuatan Jam Digital dengan Development System DST -R8C

Menggunakan ADC 16-bit DST-R8C

Interfacing. Materi 8: I2C Communication. Disusun Oleh: I Nyoman Kusuma Wardana

Percobaan 3 PENGENALAN INTERFACE I 2 C

Emulasi Komunikasi Bus I 2 C Pada Mikrokontroler AT89C51. Oleh : Tedy Soeprapto (L2F ) Jurusan Teknik Elektro Universitas Diponegoro Semarang

BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Walet Penjelasan Walet

DT-SENSE. IR Proximity Detector

DT-SENSE. Temperature & Humidity Sensor

DT-SENSE. Humidity Sensor

Gambar 3.1 Blok Diagram Port Serial RXD (P3.0) D SHIFT REGISTER. Clk. SBUF Receive Buffer Register (read only)

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Sensor MLX 90614[5]

Smart Peripheral Controller ALPHANUMERIC DISPLAY

ALPHANUMERIC DISPLAY

BAB II DASAR TEORI 2.1. Mikrokontroler AVR ATmega32

DT-SENSE. Temperature Sensor

DT-SENSE. Barometric Pressure & Temperature Sensor

BABII TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

Rancang Bangun Master Slave Modbus Berbasis Mikrokontroler Untuk Mengendalikan Beberapa Subsistem

DT-SENSE Color Sensor Q uick S tart

TnEX ADC GPIO UART PWM I2C SPI GPIO

Konsep dan Cara Kerja Port I/O

Neo Stepper Motor 1.2A

DT-SENSE Gas Sensor Trademarks & Copyright

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III PERANCANGAN SISTEM

DT-SENSE. Photoreflector

Sistem Bus. (Pertemuan ke-10) Prodi S1 Teknik Informatika Fakultas Informatika Universitas Telkom. (INTERKONEKSI antar BAGIAN UTAMA KOMPUTER)

ANALOG TO DIGITAL CONVERTER

SERPIH-SERPIH (IC) INTERFACE DASAR PADA PC

Model Mikroprosesor Ideal Konsep Data Bus Ruang Memori Konsep Address Bus Konsep Control Bus Pemetaan Memori

BAB III PERANCANGAN SISTEM

Sistem Minimum Mikrokontroler. TTH2D3 Mikroprosesor

BAB II LANDASAN TEORI. Dalam merancang sebuah peralatan yang cerdas, diperlukan suatu

1 Pendahuluan Spesifikasi Sistem yang Dianjurkan... 3

DT-SENSE. UltraSonic and InfraRed Ranger (USIRR)

PPI Skema konektor dari IC PPI 8255 adalah sebagai berikut :

APLIKASI SENSOR KOMPAS UNTUK PENCATAT RUTE PERJALANAN ABSTRAK

BAB III PERANCANGAN SISTEM. 3.1 Pengantar Perancangan Sistem Pengendalian Lampu Pada Lapangan Bulu

Interfacing. Materi 7: SPI Communication. Disusun Oleh: I Nyoman Kusuma Wardana

de KITS Application Note AN29 Sistem Antrian dengan DT-51 MinSys & de KITS SPC Alphanumeric Display

III. METODE PENELITIAN. Penelitian tugas akhir ini akan dilakukan di Laboratorium Terpadu Teknik Elektro

DESAIN DAN IMPLEMENTASI SISTEM KOMUNIKASI PROSESOR PARALLEL PADA APLIKASI ROBOTIK BERBASIS BUS SERIAL I 2 C

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB II DASAR TEORI. AVR(Alf and Vegard s Risc processor) ATMega32 merupakan 8 bit mikrokontroler berteknologi RISC (Reduce Instruction Set Computer).

BAB III METODE PENELITIAN. oleh karenanya akan dibuat seperti pada Gambar 3.1.

BAB II LANDASAN TEORI. Listrik merupakan suatu muatan yang terdiri dari muatan positif dan muatan negatif,

Diktat Kuliah Memory Hardware

14.1. SYNCHRONOUS B US

BAB IV HASIL PENGUKURAN DAN PENGUJIAN ALAT SISTEM PENGONTROL BEBAN DAYA LISTRIK

Sistem Bus. Mata Kuliah Arsitektur Komputer Program Studi Sistem Informasi 2013/2014 STMIK Dumai -- Materi 06 --

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535

Komunikasi Data SPI pada Mikrokontroler MCS51

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. ruangan yang menggunakan led matrix dan sensor PING))). Led matrix berfungsi

DT-AVR Application Note

Mikrokontroler 89C51 Bagian II :

BAB 2 LANDASAN TEORI

TUGAS AKHIR APLIKASI I 2 C BUS UNTUK KOMUNIKASI TELEVISI DENGAN PC PADA PROSES BACA-TULIS EEPROM

ARSITEKTUR MIKROKONTROLER AT89C51/52/55

DT-SENSE Application Note

II.4 Keypad II.5 LCD II.6 Pengenalan Perangkat Lunak Visual Basic Pada PC (Server) II.6.1 Integrated Development Environment...

Teknik Akses I2C Serial EEPROM oleh Modul DST- 51/2 dan Modul SEE-24

SST-21 MOVING SIGN CONTROLLER SYSTEM

SERPIH-SERPIH (IC) INTERFACE DASAR PADA PC (URAIAN SINGKAT) By ATIT PERTIWI PROGRAMMABLE PERIPHERAL INTERFACE (PPI) 8255

Interfacing i8088 dengan Memori

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN

2. SPESIFIKASI EKSTERNAL SPC KEYMATIC

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

Blok sistem mikrokontroler MCS-51 adalah sebagai berikut.

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB II LANDASAN TEORI. ATMega 8535 adalah mikrokontroller kelas AVR (Alf and Vegard s Risc

TUGAS AKHIR. Komunikasi Antar IC dengan Teknik I 2 C Bus Menggunakan PCF8574 pada Sistem Mikrokontroller AT89C2051

Servo Motor Controller

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II. PENJELASAN MENGENAI System-on-a-Chip (SoC) C8051F Pengenalan Mikrokontroler

Pertemuan 10 DASAR ANTAR MUKA I/O

JENIS-JENIS REGISTER (Tugas Sistem Digital)

BAB III PERANCANGAN SISTEM

MICROCONTROLER AVR AT MEGA 8535

Struktur Komputer KOMPUTER. Central Processing Unit System Interconnection. Main Memory I/O

Wireless Infrared Printer dengan DST-51 (Komunikasi Infra Merah dengan DST-51)

Sistem Tertanam. Pengantar Atmega328 dan Arduino Uno. Dennis Christie - Universitas Gunadarma

Konsep dan Cara Kerja Port I/O

Perangkat Keras Masukan/Keluaran. Kelompok : Intan Sari H. H. Z Verra Mukty

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II DASAR TEORI Sistem Destilasi Menggunakan Tenaga Surya

ELEKTRONIKA DIGITAL PIC 8259

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI

PC-Link Application Note

BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PERANGKAT KERAS

Transkripsi:

I 2 C Protokol I2C merupakan singkatan dari Inter-Integrated Circuit, yang disebut dengan I-squared-C atau I-two-C. I 2 C merupakan protokol yang digunakan pada multi-master serial computer bus yang diciptakan oleh Philips yang digunakan untuk saling berkomunikasi dengan perangkat low-speed lainnya yang diaplikasikan pada motherboard, embedded system, atau cellphone. Jalur I 2 C bus hanya merupakan 2 jalur yang disebut dengan SDA line dan SCL line, dimana SCL line merupakan jalur untuk clock dan SDA line merupakan jalur untuk data. Semua peralatan yang akan digunakan dihubungkan seluruhnya pada jalur SDA line dan SCL line dari I 2 C bus tersebut. Jenis komunikasi yang dilakukan antar peralatan dengan menggunakan protokol I 2 C mempunyai sifat serial synchronuous half duplex bidirectional, dimana yang data ditransmisikan dan diterima hanya melalui satu jalur data SDA line (bersifat serial), setiap penggunaan jalur data bergantian antar perangkat (bersifat half duplex) dandata dapat ditransmisikan dari dan ke sebuah perangkat (bersifat bidirectional). Sumber clock yang digunakan pada I 2 C bus hanya berasal dari satu perangkat master melalui jalur clock SCL line (bersifat synchronuous). Kedua jalur SDA dan SCL merupakan dirver yang bersifat open drain, yang berarti bahwa IC yang digunakan dapat mendrive outputnya low, tetapi tidak dapat mendrive menjadi high. Untuk dapat mendapatkan data yang high maka kita harus menyediakan resistor pull-up pada tegangan power supply sebesar 5 volt terhadap jalur SDA dan SCL tersebut. Kita hanya membutuhkan satu set pull-up resistor untuk semua jalur I 2 C bus, tidak untuk semua perangkat yang kita gunakan, pemasangan resistor pull-up dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini: Jika resitor-resistor tersebut tidak ada, maka jalur SCL dan SDA akan selalu mendekati low mendekati 0 volt dan jalur-jalur I 2 C bus tidak dapat bekerja. Nilai resistor yang kita dapat gunakan berkisar dari 1K8Ω hingga 47KΩ. Biasanya nilai 1K8, 4K7 dan 10K merupakan nilai-nilai yang umum digunakan tetapi semua nilai yang berada dalam range nilai di atas dapat digunakan dan bekerja dengan baik. Semua perangkat yang terdapat dalam jalur I 2 C bus merupakan perangkat slave dan master, dimana master merupakan perangkat yang berfungsi sebagai pengatur (controller) dan sumber clock bagi perangkat-perangkat slave yang terdapat dalam jalur I 2 C bus.

Dalam sebuah jalur I 2 C bus selain memungkinkan adanya penggunaan banyak perangkat slave, juga bisa menggunakan beberapa perangkat master dalam sebuah jalur I 2 C bus yang sama. Jika menggunakan multiple perangkat master dalam sebuah jalur I 2 C bus maka penggunaan jalur bergantian antar tiap-tiap perangkat master, tetapi umumnya hanya digunakan satu master device dengan multiple perangkat slave pada sebuah jalur I 2 C bus. Kecepatan transfer data dari protocol I 2 C ditentukan oleh besar clock speed yang digunakan pada jalur SCL line. Kecepatan clock standar yang diberikan pada jalur SCL line pada I 2 C sebesar 100 KHz. Philips sebagai pencipta protocol I 2 C ini membuat standar kecepatan I 2 C lainnya yaitu Fast Mode yang mempunyai kecepatan clock sebesar 400 KHz dan High Speed Mode yang mempunyai kecepatan hingga sebesar 3.4 MHz. Untuk melakukan transmisi data pada sebuah jalur I 2 C bus, dimulai dengan mengirimkan sebuah start sequence dan diakhiri dengan mengirimkan stop sequence. Start sequence dan stop sequence menandakan awal dan akhir dari proses transmisi data dengan perangkat yang lainnya dalam sebuah jalur I 2 C bus. Berikut merupakan gambar dari start sequence dan stop sequence. Transmisi data antar perangkat terjadi setelah start sequence dan sebelum stop sequence. Data yang ditransmisikan sejumlah 8 bit dengan MSB (Most Significant Bit) yang dikirimkan terlebih dahulu hingga kepada LSB (Least Significant Bit) kemudian selalu terdapat tambahan satu bit yang merupakan Acknowledgement bit (ACK bit). ACK bit digunakan untuk mengetahui kondisi transmisi data, jika ACK bit berupa kondisi low maka perangkat yang ada sudah menerima data dan siap untuk menerima data yang selanjutnya, sedangkan ACK bit berupa kondisi high maka perangkat yang ada sudah tidak dapat melakukan transmisi data dan master harus mengirimkan stop sequence untuk menghentikan komunikasi yang sedang berlangsung. Pada saat berlangsung komunikasi antar perangkat dalam sebuah jalur I 2 C bus, bit data dikirimkan pada saat jalur SCL line dalam kondisi high dan pergantian bit data terjadi pada saat jalur SCL line dalam kondisi low, yang seperti dapat dilihat pada gambar berikut: Pada sebuah jalur I 2 C bus ditujukan untuk mengendalikan beberapa perangkat slave dengan menggunakan sebuah perangkat master. Setiap perangkat slave pada jalur I 2 C bus masing-masing mempunyai alamat I 2 C yang berbeda-beda. Jumlah pengalamatan yang umumnya digunakan pada sebuah protokol I 2 C sebesar 7 bit alamat, sehingga pada

sebuah jalur I2C bus dapat digunakan perangkat slave sebanyak 2 7 perangkat dengan alamat yang berkisar antara 0 sampai dengan 127. Pada saat mengirimkan 7 bit alamat sebuah perangkat slave kita selalu mengirimkan 8 bit data, yaitu 7 bit alamat + 1 bit R/W. Bit R/W (Read/Write) digunakan untuk memberitahukan kepada perangkat slave yang dipanggil tindakan yang akan dilakukan perangkat master pada perangkat slave tersebut, dimana Read perangkat master akan melakukan pembacaan data dari perangkat slave tersebut dan Write perangkat master akan melakukan pengiriman data pada perangkat slave tersebut. Untuk melakukan Read maka pada bit R/W diberikan kondisi logic high, sedangkan untuk melakukan Write maka pada bit R/W diberikan kondisi logic low. Pengiriman alamat perangkat slave pada sebuah sequence protocol I 2 C dapat dilihat pada gambar berikut: Sebuah perangkat master dapat melakukan dua tindakan pada perangkat slave yang terhubung dalam sebuah jalur I 2 C bus, yaitu melakukan read dari perangkat slave atau melakukan write ke perangkat slave. Penggunaan protocol untuk melakukan read atau write sedikit berbeda, namun untuk memulai komunikasi antara master dan slave sama untuk write atau read, yaitu dengan mengirimkan start sequence kemudian alamat perangkat slave yang dituju dan tindakan yang akan dilakukan write atau read, dan pada akhirnya mengirimkan stop sequence untuk menyelesaikan komunikasi yang sedang berlangsung. Komunikasi yang terjadi pada protokol I 2 C secara lengkap dapat dilihat pada gambar berikut: Pembahasan protokol yang digunakan oleh perangkat master untuk melakukan read data byte dan write data byte pada sebuah perangkat slave dibahas terpisah sebagai berikut:

o Untuk melakukan write pada sebuah perangkat slave maka langkah-langkah yang harus dilakukan oleh sebuah perangkat master sebagai berikut: 1. Mengirimkan start sequence 2. Mengirimkan alamat perangkat slave dengan bit R/W low 3. Mengirimkan (write) command register yang diinginkan 4. Mengirimkan (write) data byte ke perangkat slave 5. [Optional, mengirimkan (write) data bytes lainnya] 6. Mengirimkan stop sequence o Untuk melakukan read pada sebuah perangkat slave, pertama kali perangkat master harus memberitahukan internal address perangkat slave yang ingin dibaca. Jadi untuk melakukan read dari sebuah slave, sebenarnya dimulai dengan melakukan write pada perangkat slave tersebut. Untuk melakukan read pada sebuah perangkat slave maka langkah-langkah yang harus dilakukan oleh sebuah perangkat master sebagai berikut: 1. Mengirimkan start sequence 2. Mengirimkan alamat perangkat slave dengan bit R/W low 3. Mengirimkan (write) command register yang diinginkan 4. Mengirimkan start sequence kembali (repeated start) 5. Mengirimkan alamat perangkat slave dengan bit R/W high 6. Membaca (read) data byte dari perangkat slave 7. [Optional, membaca (read) data bytes lainnya] 8. Mengirimkan stop sequence

I 2 C mempunyai keterbatasan dalam hal pengalamatan perangkat slave yang digunakan. Kebanyakan vendor perangkat slave I 2 C tidak membebaskan kepada pengguna untuk merancang sendiri alamat slave yang diinginkan, kebanyakan vendor hanya memberikan 3 pin alamat yang bebas dikonfigurasi sendiri sedangkan 4 bit lainnya merupakan fixed yang merupakan identitas model dari perangkat tersebut ataupun identitas dari vendor pembuat perangkat tersebut. Hal ini diatasi dengan pengalamatan I 2 C dengan 10 bit alamat namun penggunaannya belum umum. Selain itu I 2 C mempunyai kecepatan yang terbatas sehingga implementasi protokol I 2 C pada kelas high end dapat menyebabkan terjadinya kekurangang bandwidth, sedangkan untuk mengimplemtasikan protokol I 2 C pada kelas low end membutuhkan dedicated hardware untuk mengatasi master berada dalam kondisi busy. Penggunaan kecepatan transfer clock sangat kritis karena I 2 C hanya dapat bekerja dengan kecepatan clock standar yang ada, jika tidak protokol I 2 C tersebut tidak dapat digunakan.